"Sasuke, lepas,"
Sakura berusaha menjajari Sasuke yang masih setia mencengkram tangannya. Sebisa mungkin dekat dengan laki-laki itu agar nyeri di sana tak terlalu terasa. "Sasuke, lepaskan," ucapnya sekali lagi. Beharap sedikit dikasihani.
Sasuke masih tak bergeming.
"Aku tidak tahu kau kenapa, tapi jangan bersikap kekanakan seperti ini." dengusnya jengkel. Sasuke tiba-tiba menariknya begitu saja setelah insiden tatapan maut bersama Neji beberapa saat lalu. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia yakin mereka punya dendam lama yang belum terselesaikan. Ekspresi super dingin Sasuke, tatapan meremehkan Neji, bukti apa lagi yang ia butuhkan untuk membenarkan asumsinya.
"Ough." pekiknya pelan saat Sasuke melemparnya cepat ke arah depan. Membuatnya nyaris terjerembab kalau saja tidak segera memasang kuda-kuda. Terimakasih Anko-san, guru privat untuk beladirinya.
Sasuke masih menatapnya, tajam penuh amarah.
"Apa?" ucap Sakura dengan wajah cemberut. Tangannya mengusap pergelangan bekas cengkaraman Sasuke yang masih meninggalkan hawa panas. Dia tidak merasa bersalah untu apapun. Kenapa pula harus menerima semua ini.
"Jangan berhubungan dengannya." gumam Sasuke pelan. Tatapannya tak berhenti mengintimidasi. Berharap Sakura mengerti, betapa terlarangnya Neji bagi tim mereka.
"Kenapa?"
Sasuke mengerutkan alisnya mendengar compliment Sakura. Tidak bisakah gadis itu cukup meng-iyakan keinginannya?
"Karena aku tidak suka."
Sakura tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Ia dididik dengan penuh demokrasi oleh kedua orangtuanya, membenci seseorang dengan alasan tidak jelas adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar.
"Aku tidak mau,"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar kalimat tegas Sakura. Ini adalah kali pertama ada perempuan yang berani menolak keinginannya selain Ino.
"Kecuali kau memberitahuku alasan yang lebih masuk akal selain hormon ababilmu itu."
"Karena dia adalah Hyuuga. Semua Hyuuga adalah musuh bagi Uchiha."
Sakura mendengus mendengar itu, "Kalau begitu masalah ada pada dirimu, Sasuke. Aku bukan Uchiha, dan aku..."
Cup.
Mata Sakura melebar merasakan bibir Sasuke menyentuh bibirnya lembut. Tak ada lumatan, tapi cukup dalam untuk membuat kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Sass..."
Sasuke menahan tengkuk Sakura. Membatalkan niat gadis itu untuk menyudahi ciuman mereka. Terimakasih pada pilar yang berdiri kokoh di belakang Sakura. Karena keberadaannya, ruang gerak Sakura menjadi terbatas. Perlahan sasuke mulai menggerakkan bibirnya.
"Mulai hari ini, kau adalah Uchiha."
"Aku tidak tahu koridor kampus sudah beralih fungsi menjadi kamar hotel."
Sasuke dan Sakura menoleh bersamaan, otomatis melepas ciuman basah orang yang paling tidak ingin Sakura lihat berdiri membanjar dari arah selatan.
"Ssa-sakura." Mata bening Naruto melotot tak percaya. Bagaimana mungkin pemandangan yang paling tak ingin dilihatnya bisa tersaji live di pagi buta.
"Mondukusoi."
"Sial. Sial. Sial," maki Sakura sambil memukul kepalanya berkali-kali. Ia sudah bersumpah tidak akan terlibat dengan hormon Sasuke setelah insiden di vegas, tapi saat ini posisinya terlihat lebih menjijikkan. "Argh, bagaimana aku berhadapan dengan mereka?"
Ekspresi para pewaris muncul dengan cepat dalam ingatannya. Menguliti kepercayaan dirinya dengan cepat.
"Sakura," suara Ino terdengar dari luar, disertai ketukan keras di pintu toilet. "Kau baik-baik saja? Sakura."
"Y-ya." Sakura berdiri gugup dari duduknya. Berkali-kali berniat membuka pintu tapi buru-buru dibatalkannya.
"Kau sudah dua jam di dalam," teriakan Ino kembali terdengar. Membuatnya semakin bergidik. Gadis pirang itu pasti akan menganggu atau memelototinya begitu ia membuka pintu. "Kuhitung sampai tiga, kalau kau tetap di dalam akan kudobrak pintunya."
Tak ada suara. Sakura masih bergetar dalam diamnya. Ia tahu, kemampuan Ino lebih dari cukup untuk membuat seisi toilet kampus rata dengan tanah. Ia pernah menyaksikannya sendiri.
"Satu,"
Suara Ino mulai lantang terdengar. "Dua."
Masih tak ada jawaban, "Ti..."
"Aku keluar,"
Sakura membuka pintu dengan cepat. Sosok Ino yang bersandar di meja westafel dengan tangan bersedekap langsung menyergapnya.
"A-ayo ke kelas." ucapnya gugup.
Ino mengangkat sebelah lengannya tegak lurus dengan wajahnya. Memberi kode agar Sakura melihat jarum jam di tangannya dengan lebih teliti.
"Jam kedua sudah berakhir," ucapnya sambil menurunkan lengan kembali bersedekap. "Kau terlihat sangat bodoh, kau tahu."
"Y-ya?"
"Kau di depan Sasuke," ketus Ino sambil menyambar tas tangannya lalu bergegas pergi, meningalkan Sakura yang masih berdiri bingung di tempatnya, "Kau tidak berniat menjadi patung di toilet menjijikkan ini kan?"
"Eh?"
"Ino," Sakura berjalan mengekori Ino menuju apartemen miliknya. Sepanjang jalan dari kampus Ino tak mengucapkan sepatahkatapun. Wajahnya terlihat tenang. Meski tentu saja itu sudah cukup mengerikan. Ino yang ia kenal adalah Ino yang ceria dalam segala situasi. dan Ino yang bersamanya saat ini adalah Ino yang sama dengan yang ditemuinya di vegas.
"Kau harus mengatakan sesuatu agar aku tahu apa yang kau pikirkan." ketus Sakura kesal. Kesabarannya tidak tersisa banyak.
"Aku lapar."
Klik.
pintu apartemen terbuka. Sakura sedikit terperanjat dengan itu. bukan hanya jawaban Ino atas permintaannya yang terlampau sederhana, tapi juga tentang pintu yang kini terbuka. Memberi akses pada keduanya.
"Darimana kau tahu kodenya?" tanya Sakura sambil menunjuk pintunya tak mengerti.
Ino membuang tubuhnya begitu saja ke sofa. Sofa yang sama dengan yang biasa Sasuke gunakan.
"Kau memberitahuku."
"Benarkah? Aku tidak ingat." gumam Sakura dengan wajah bingungnya. Ia mengganti password pintu setelah insiden penerobosan Sasuke pertama kali.
"Apa ada yang bisa di makan? Aku menunggumu hampir dua jam di pintu toilet, kau harus merasa bersalah untuk itu,"
Sakura memonyongkan bibirnya mendengar ucapan asal Ino. Tapi setelahnya ia beranjak ke dapur dan membuka lemari pendingin. Matanya langsung tertuju pada butiran jeruk segar kiriman Otou-san kemarin.
"Jadi, kau dan Sasuke...?"
Ino menoleh padanya yang tengah memeras jeruk. Memberinya tatapan penuh selidik.
"Apa?"
"Kau jatuh cinta padanya."
"Dia bukan tipeku."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku, Sakura."
Sakura menunduk sejenak, mengaduk jusnya dengan pikiran melayang-layang.
"Aku tidak tahu." gumamnya tanpa meninggalkan jus yang mulai membentuk pusaran. Ini terlalu cepat. Ia bahkan merasa, ia hanya sekadar kagum pada Sasuke. Ayolah, tidak ada satu perempuan normalpun yang tidak tertarik padanya. Sasuke adalah tipe orang yang tahu diri -tahu kalau dia sialan tampan, sesuatu yang segera Sakura sadari. Dan meski ia mencibir untuk itu, pesona Uchiha tetaplah menyilaukan.
"Kita sudah pernah membicarakannya, Sakura," Ino berucap sepelan mungkin, berusaha menahan ledakan yang ia rasakan. "Kau tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia tidak..."
"Kenapa semua orang harus mencampuri urusanku?"
"Ya?"
Sakura mengangkat kepalanya, menantang tatapan tajam Ino yang terlihat mengerikan dengan sebelah alis terangkat.
"Kalian," gumamnya, pelan namun penuh tekanan, "Kalian semua berbicara seolah Sasuke adalah bajingan. Aku bahkan ragu, apakah kalian...," Sakura menghentikan kalimatnya, tenggorokannya terasa mencekat. Dicengkramnya sisi meja dengan kuat hingga buku tangganya memutih, "...Layak disebut teman."
Ino hanya menggerakkan wajahnya pelan mendengar kalimat yang susah payah ia ucapkan. Reaksi ini bahkan terasa sangat menyebalkan bagi Sakura. Padahal ia berharap Ino akan berteriak dramatis atau mengangkat alisnya semakin tinggi agar ia tahu apa yang ia katakan salah. Ia juga siap jika Ino melemparinya dengan bantal sofa atau vas bunga kecil di atas meja, apapun asal bukan wajah yang kini dilihatnya.
Ino tertawa kecil sebelum akhirnya menyambar tas tangannya, lalu berdiri dengan angkuh. Hak lancipnya terdengar tegas mengetuk lantai apartemen. Meninggalkannya tetap dalam kebisuan.
Mata mereka bertemu. Ino dan perempuan berambut pendek itu. Ino baru akan mengumpatinya saat Sasuke muncul dari dapur dengan rambut basah bertetesan penuh gairah. refleks gadis pirang itu kembali memandang perempuan cantik di depannya, kali ini sedikit lebih jeli. Dua kancing perempuan itu terbuka.
Perempuan itu sedikit membuang pandang saat Ino memelototinya. Meski tentu saja Ino tahu, dia pasti bukan orang biasa. Kalau dia bukan seorang yang terlatih, bisa dipastikan akan lari tebirit-birit saat melihat betapa mengerikannya wajah Ino sekarang.
"Kau berselingkuh lagi, sayang?" gumam Ino dengan suara bergetar, ekspresi wajahnya sudah berubah sendu dengan airmata menggantung, "Padahal, a-aku sedang mengandung anakmu."
Sebelah alis Sasuke terangkat mendengar itu, sandiwara macam apa ini?
Perempuan itu memandang tajam Sasuke, seolah meminta penjelasan dari prodigy Uchiha itu. Sasuke hanya mengedikkan bahu tak mengerti. Memangnya dia pernah menikah dengan Ino?
"Oh, anakku yang malang."
Ino meremas perutnya dengan tetesan airmata di pipi. Membuat seolah rasa sakit benar-benar dimilikinya.
"Ino."
"Kau bilang Terumi adalah yang terakhir, Sasuke," sambar Ino cepat. Pandangannya beralih ke perempuan yang mulai terlihat bingung dengan situasi yang menjebaknya, "Tapi kau membawa perempuan lain, bahkan di hari ulang tahunku."
"M-maaf Uchiha san," perempuan itu melangkah mendekati sofa, mengambil tasnya dengan cepat lalu mendekati Ino. "Dia bilang dia masih single, lagipula, kami memang hanya teman."
"Huh. laki-laki memang selalu mengatakan itu."
Sasuke memijit dahinya pelan. Ini bahkan lebih menggelikan dari tarian aneh yang selalu dilakukan Naruto bersama apel dan nanasnya.
Sasuke sempat melihat Ino tertawa miring saat Mikasa, komandan elit angkatan darat itu menutup pintu apartemennya dengan kesal.
"Murahan sekali."
"Dia bukan selingkuhanku, kalau itu yang kau pikirkan," gumam Sasuke sambil duduk di sofa, "Lagipula, sejak kapan ide mengandung ada di kepalamu? itu menjijikkan."
Ino mengedikkan bahu lalu duduk di sofa panjang di samping Sasuke.
"Aku mau menginap."
"Ada apa?"
"Tidak ada, hanya mau saja."
"Terserah," ucap Sasuke sambil membuka majalah di tangannya, "Kau bertemu Sai?"
Ino menoleh mendengar itu, jeda sejenak sebelum ia menyandarkan bahunya di sofa, "Belum kurencanakan."
"Itu bagus."
"Aku bertemu Sakura."
Sasuke menghentikan gerakan tangannya membalik majalah saat Ino menyebut nama Sakura. Ia menoleh dengan alis tertaut.
"Kau tidak menghasutnya kan?"
Ino tertawa kecil mendengar itu. Sasuke adalah seseorang yang tidak pernah peduli pendapat orang lain, mendapati laki-laki itu mencurigainya rasanya sangat menggelikan.
"Apa?"
Ino mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. Ia baru akan melangkah pergi saat kaki Sasuke terulur untuk menghalanginya.
"Apa-apaan ini?" ketus Ino sebal, dia butuh merilekskan badan sekarang, dan Sasuke membuat mimpi tidur siangnya terancam gagal.
"Beritahu aku apa yang kalian bicarakan." ucap Sasuke dengan wajah dingin.
"Itu adalah rahasia para gadis, Sasuke," Ino mengibaskan rambut ekor kudanya jumawa, "Dan kau tidak berhak tahu seujung kukupun." Ia menunjuk Sasuke dua kali lalu melompati kaki Sasuke dan melenggang menuju kamar. Meninggalkan Sasuke dalam kekesalan.
"Sasuke?"
Sasuke menatap Sakura sesaat sebelum melangkah masuk. Menabrak sisi pundak Sakura dengan sengaja. Membuat gadis itu sedikit memonyongkan bibir untuk protes.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
Sakura duduk di sisi lain sofa yang selalu jadi area kekuasaannya.
"Aku tahu kau tidak akan datang jika tidak berharap apa-apa."
Sasuke menoleh, wajah menantang Sakura terlihat sangat menarik di matanya.
Sedikit telat, Sasuke mengedikkan bahu lalu berbaring seperti biasa.
"Kau ke gereja?"
Sakura menoleh mendengar suara tertahan Sasuke. Besok hari minggu, ia bahkan hampir lupa kalau Sasuke tak menyebutnya.
"Kenapa?"
"Aku ingin membuat pengakuan dosa."
"Yang benar saja."
Sasuke mendongak mendengar decakan Sakura. Gadis itu tengah mencibir padanya. Ia tahu itu, meski kini Sakura sibuk mengutak atik ponselnya.
"Kau tidak percaya?"
"Aku tidak bilang begitu," gumam Sakura santai. Tak ingin larut dalam percakapan berat, "Aku akan membangunkanmu kalau begitu."
Sakura bangkit dari duduknya, perlahan melangkah menuju kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura dengan wajah cemberut. Ia tidak tahu bagaimana bisa, tapi saat ia menyadari, nafas Sasuke sudah membelai hangat tengkuknya. Laki-laki itu bahkan kelewat rapat -meski terjaga- di belakangnya.
"Tidur." balas Sasuke sambil mendorong pintu karena Sakura terlihat enggan melakukannya.
Wajah kesal Sakura semakin terlihat saat dengan santainya Sasuke berbaring di sisi yang sama dengan tempatnya tempo hari.
"Aku tidak mau tidur denganmu, Sasukeeee..." Sakura berteriak dari dalam kamar mandi untuk menyuarakan protesnya. Berharap Sasuke tersentuh dan membatalkan niat konyolnya tidur di sana.
"Sasuke?"
Tak ada suara.
"Sasukeee..."
Sunyi.
Sakura mengerutkan dahi. Mungkinkah sasuke tertidur begitu cepat? Ini tidak bagus untuknya, Sasuke yang terbangun saja sudah sangat mengerikan, ia tidak bisa memikirkan yang lebih buruk lagi saat laki-laki itu dalam mode tidak sadarnya.
Kepala Sakura menyembul keluar setelah beberapa saat menyelesaikan ritual jelang tidurnya. Ruang kamarnya sudah berubah gelap. Hanya bias cahaya luar yang membuatnya sedikit terbantu menghindari perabotan dan tumbukan buku yang berserakan. Sasuke yang berbaring telentang dengan sebelah tangan menutup mata langsung mengganggu penglihatannya.
"Benar-benar tidak sopan." gerutunya sembari melangkah kesal menuju ranjang. Ia segera membanting tubuhnya sekeras mungkin agar Sasuke terganggu dan menyingkir dari tempatnya. Tapi yang di dapatnya hanya kesunyian.
Jam bandul di ruang depan berbunyi dua kali saat hitungan domba Sakura hampir mencapai seribu. Mengacaukan ingatannya tentang deretan angka ang seharusnya bisa membuatnya tertidur. Ia mengumpat pelan sembari mengusak rambut frustasi saat rasa kantuk tak juga mengunjunginya. Ia kembali berguling untuk menunjukkan kegelisahannya.
"Ada apa?"
Jantungnya nyaris copot mendengar suara asing dari sebelah tempatnya berbaring. Ia menoleh dengan tatapan jengkel pada pemilik suara. Bukankah seharusnya tuan muda sialan tampan itu sudah tahu apa masalahnya sekarang? Memangnya gadis mana yang bisa tidur saat ada laki-laki dewasa seksi bisa memperkosamu kapan saja.
"Aku tidak bisa tidur." gumamnya saat Sasuke terus menatapnya, menuntut jawaban. Keberaniannya tiba-tiba menciut dan lari entah kemana saat tatapan itu tak kunjung berakhir.
Sasuke masih menatapnya untuk sesaat lalu menjulurkan lengan kirinya, menelusup ke bawah leher Sakura. Perlahan sebelah lengannya menarik pundak gadis merah muda itu dan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan. Semua terjadi begitu saja, begitu alami seolah mereka biasa melakukannya.
Sakura yang masih belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi hanya menahan nafas. Membuat jarak tubuh mereka dengan kedua lengan yang ia taruh di dada Sasuke.
"Ssa-suke."
"Tidurlah," gumam Sasuke dengan mata terpejam, Tangannya melingkar erat di pundak Sakura. "Kau harus terlihat bersemangat saat menghadap Tuhan."
Kalau saja mereka tidak dalam posisi riskan begini, rasanya Sakura ingin tertawa mendengar lelucon garing Sasuke. Tapi ini, keadaan ini sangat jauh dari apa yang sempat di bayangkannya. Ia mulai sesak nafas karena debaran jantungnya yang sedikit berlebihan. Lagipula, bukankah apa yang mereka lakukan ini tampak manis dan cute seperti di drama-drama? Ia bahkan membayangkan tengah melakukan adegan seperti dalam drama favoritnya hingga realita segera menghantamnya. Lagipula, ia sudah mempelajarinya, bahwa hormon, bisa bekerja lebih mengerikan dari yang ia pikirkan
"Sasuke, lepaskan." gumam Sakura dengan sedikit gerakan untuk melepaskan diri. Meski nyatanya pelukan Sasuke semakin mengerat.
"Tidak bisakah kau cukup diam dan tidur?"
Sakura menghentikan geliatannya mendengar itu.
"Aku lelah, Sakura. Diamlah dan kau akan selamat sampai besok pagi."
Sakura mengutuk dirinya sendiri karena tersentuh oleh perlakuan manis Uchiha Sasuke. Ia lupa, Sasuke, sampai kapanpun akan tetap menjadi Sasuke.
"Dasar bajingan tengik." umpat Sakura dalam hati.
Sakura menggerakkan kepalanya pelan, menyamankan posisi pada objek hangat yang mengelilinginya. Ia seperti bermimpi, tidur nyaman di bawah pohon dengan Bunga yang berguguran. Ini seperti aroma awal musim semi yang menyenangkan. Tunggu, bukankah awal musim semi harusnya sedikit terasa dingin? Lalu kenapa ia bahkan tidak merasakan terpaan angin di sekujur tubuhnya?
Sekali lagi kepalanya bergerak-gerak, mengendus aroma lembut yang menggelitik penciumannya. Arom yang sangat khas. Ah, ia yakin sekarang, ini bukan aroma musim semi. Tapi sesuatu yang lebih kuat dari itu.
Perlahan kumparan hangat mengelus punggungnya lembut. Menyalurkan semakin banyak kehangatan di tubuhnya. Memberinya ketenangan juga rasa aman. Terakhir kali ia merasakan usapan di punggung adalah saat di sekolah dasar. Itu karena Tousan tidak ingin ia tumbuh dan bergntung padanya.
"Hm..."
Sakura bergumam pelan saat sentuhan di punggungnya membawa kembali kenangan masa kecilnya. Sentuhan itu semakin kemana-mana, melebar ke seluruh area punggung. Membuatnya tiba-tiba merasa aneh.
Tunggu, bukankah semalam...
"Yakk! Sasuke!"
Sakura refleks mendorong Sasuke yang masih tidur melingkari tubuhnya. Sesuatu yang sepertinya sudah diantisipasi oleh Uchiha muda, karena meski Sakura cukup keras mendorongnya, posisi mereka tak banyak berubah. Satu-satunya yang Sasuke lakukankan hanyalah memalingkan wajah agar tak jadi sasaran amuk tangan Sakura.
"Kau benar-benar tidak sopan, lepaskan aku, Teriak SaKura sebal. Tangannya masih terus memukul Sasuke hingga laki laki itu meraih dan menenangkannya di antara mereka. "Lepaskan aku atau kubunuh kau."
"Kau terlihat lucu saat bangun tidur," goda Sasuke dengan wajah tenangnya, "Sangat menarik."
"Apa maksudmu?" Sakura menghentikan aksinya dan membeku di tempat. Ia yakin lututnya menyenggol sesuatu tadi.
"Sial," maki Sakura sambil kembali meronta semakin keras. "Lepaskan aku."
"Kau membuatnya semakin buruk Sakura," bisik Sasuke sambil memegang kedua tangan Sakura yang terus berusaha memukulnya. "Kalau kau terus bergerak, dia akan semakin meminta untuk...,"
Sakura membeku mendengar betapa seduktifnya Sasuke membisikkan itu. Dilihatnya laki-laki itu tersenyum miring sebelum akhirnya melepaskan tangannya dan mengubah posisi. Ia menaruh kepalan tangannya di atas dahi, seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Sepertinya aku benar-benar menginginkanmu."
Sakura sontak melotot, "Jangan main-main Sasuke."
Sasuke masih pada posisinya, Membuat Sakura semakin dilanda kepanikan. Ia adalah calon dokter, ia tahu pasti. Ereksi di pagi hari adalah hal yang wajar bagi laki-laki. Hanya saja, keberadaan dirinya -yang dilingkari kaki Sasuke- membuat semuanya terasa sedikit buruk. Pagi hari adalah saat yang sangat tepat untuk hormon menjalankan aksinya. Akan sangat konyol kalau kemudian mereka harus sama-sama lupa diri. Ia masih normal tentu saja, dan bercinta dengan seorang Uchiha Sasuke terdengar sangat menjanjikan sekarang.
"Apa yang kau pikirkan."
Sakura mendongak kaget, tidak menyadari bahwa Sasuke memperhatikannya sejak tadi.
"K-kau perlu ke kamar mandi, kurasa."
Sasuke menatapnya penuh arti setelah mendengar kalimat terbatanya.
"Apa kau tidak penasaran, Sakura?"
Sakura melotot mendengar itu, tahu apa yang Sasuke maksud. "A-apa?"
"Pasti menyenangkan."
"Jangan berbicara sesuatu yang membingungkan," gerutu Sakura sambil memundurkan tubuhnya agar kembali berjarak dengan Sasuke, "Aku harus ke kamar mandi. Lepaskan,"
Sasuke menatapnya penuh arti setelah ia menyelesaikan kalimatnya.
Pletakk!
"Kendalian imajinasimu. Dasar Sasuke baka."
"Aoughhh."
Sasuke refleks melepas pelukannya saat Sakura menjitak dahinya dengan sangat keras. Sasuke bahkan yakin, Sakura mengunakan batu untuk itu. Ia mengusap bekas jitakan itu dengan wajah kesal.
"Itu belum seberapa," ucap Sakura dengan senyum penuh kemenangan. Ia sudah berhasil melompat dari ranjang dan berdiri jumawa di sisinya. "Lain kali kupastikan untuk menyimpan cyproterone sebagai senjata. Kau tahu, kadang dokter lebih mengerikan daripada penjagal berbulu dada."
Sasuke tersenyum sinis mendengar ocehan Sakura. Melihat gerak-geriknya dengan kekaguman penuh. Semua yang dilakukan Sakura terlihat menarik di matanya.
"Bersiaplah, kita tidak boleh terlambat sampai di gereja." teriak Sakura dari dalam kamar mandi. Membuat kesadarannya, sekali lagi tergelitik senang. Ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan seorang perempuan. Ia dekat dengan Ino, tentu saja. Tapi itu karena seumur hidup mereka memang selalu bersama-sama. Dan sakura terasa berbeda.
"Jangan coba-coba memejamkan matamu lagi, Sasuke," teriakan Sakura kembali terdengar. Membuat sang pemiik mata hanya memutarnya jengah. "Atau kusiram kau."
"Cerewet sekali."
TBC
Muncul kembali setelah ratusan tahun menghilang. Maafkan saya teman-teman. TT
Chapter ini masih tidak mengandung apa-apa. hehehe saya hanya ingin membangun ikatan yang kuat antara Sasuke-Sakura sebelum konflik batin dimulai.
terimakasih yang sudah menunggu, kedepan saya akan berusaha lebih keras untuk membuat Lotto lebih baik.
salam sayang - Beb
