"Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu," ujar Sehun perlahan. Tuan Kim telah meninggal beberpa tahun yang lalu. Sebenarnya kematiannya tidak ketahuan dan yang pasti tak diratapi.
Kai tertawa mengejek. "Kalau begitu kau satu-satunya yang berduka."
"Bagaiman kabar ibumu?" tanya Sehun, Tiba-tiba Kai berdiri dengan tubuh tegap.
"Kurasa ia baik-baik saja".
88 Indigo Place
.
Pair: Kaihun
.
Warning ff ini barungsur GS!
.
Disini saya hanya meremake cerita ini, dan cerita saya
Angkat dari novel karangan 'Sandra Brown'
Happy Reading
~oOOo~
Chapter 2
Sehun terperangah melihat ketidak acuhan itu. Ketika kai mulai beranjak besar, nyonya kim melakukan pekerjaan tak terhitung jumlah untuk menghidupi putra dan suaminya. Karena sering tak hadir dan jatuh sakit, ia terkenal sebagai pekerja yang tidak dapat diandalkan. Tak lama setelah kematian suaminya, ia pindah dari gubuk dipinggir rel kereta api ke sebuah rumah kecil dan bersih dilingkungan yang cukup baik. Sehun jarang melihat nyonya kim lagi. Wanita itu hidup menyendiri. Kabar baru nya berkata bahwa kai meninggalkan ibunya. Itulah sebabnya Sehun terkejut melihat lelaki itu mengangkat bahu tak peduli, menolak membicarakan ibunya.
Kai berjalan berkeliling ruangan, menganbil suatu benda dan mengamati hati-hati sebelum meletakan kembali dan berjalan menghampiri benda lain.
"Mengapa menjual tempat ini?" tanya kai
Sehun ikut berdiri karena tak suka merasakan Kai bagaikan jaksa penuntut yang sedang melakukan pemeriksaan ulang. Sehun berjalan kearah jendel berharap akan melihat mobil Suho nona muncul dijalan.
"Bulan febuari lalu ayah ku meninggal, jadi aku tinggal disini seorang diri. Konyol rasa tinggal dirumah sebesar ini dan hanya ditempati oleh satu orang." Jawab Sehun
Kai memperhatikan Sehun dengan bersungguh-sungguh. Sehun menjaga agar raut wajahnya tetap tak dapat ditebak.
"Sebelum ayahmu meninggal, hanya kau dan ayahmu yang tinggal dirumah ini?" tanya Kai sambil menatap Sehun sungguh-sungguh, Lalu Sehun mengalihkan tatapannya.
" Ya, Ibu meninggal beberapa tahun lalu." Jawab Sehun lalu mengalihkan tatapannya.
"tentu saja ada Ajhusi Bo dan Ajhuma Gladys disini" Tambah sehun, mereka adalah pasangan yang pekerja dirumah itu sebagai pelayan keluarganya sejak Sehun masih bayi.
"Mereka tidak tinggal disini lahi?"
"Tidak, kubiarkan mereka pergi."
"Kenapa?"
"Aku tak membutuhkannya mereka lagi."
"Kau tak membutuhkan pembatu ru,ah tangga untuk membaantumu merawat rumah besar ini? Dan bukannya ajhusi Bo melakukan pekerjaan kasar dan pekerjaan dikebun?" tanya Kai panjang lebar
"Aku senang mengerjakan semuanya sendiri."
Lewat obsevasinya yang tanpa kata-kata itu Sehun tahu pasti Kai mempercayainya. Keraguan lelaki itu sangat menjengkelkan.
"Dengar, Tuan Kim-"
"Oh, ayolah, Sehun. Aku tahu sudah lama kita tak bertemu, tapi kau masih boleh memanggil ku Kai, bahkan kalaupun kau meneriaki dengan keras namaku."
"Baiklah, Kai. Kelihatannya antara kau dan Suho nona berselisih waktu. Bagaimana kalau kau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya disini besok?"
"Aku ingin melihat rumah inni malam ini."
"Maaf, kelihatannya ia tak akan datang."
"Sebelum kau mucul. Aku sudah menunggu lama dikegelapan disana. Aku benar-benar tak memerlukan makelar rumah itu karena kau ada disini. Dapat mengajakku berkeliling untukmelihat-melihat."
"Kurasa itu tak pantas."
Satu alis Kai terangangkat kedahi hingga membentuk busur panah penasaran diatas matanya.
"Wah, Oh Sehun. Apakah kau punya sesuatu yang pantas dalam pemikiranmu?"
"Tentu saja aku punya," Bentak Sehun.
"Aku hanya bermaksud mengatakan bahwa rumah ini ada dalam daftar Suho nona. Hari ini dia bertanya kepadaku apakah malam ini ia boleh memperlihatkan rumah ini kepada kliennya. Aku mengizinkannya dan berjaji akan pergi. Satu-satunya alasan aku tadi pulang karena kupikir kalian sudah selesai melihat-lihat. Aku yakin Suho nona tidak suka aku campur tangan." jawab Sehun dengan panjang lebar.
"Suka atau tidak suka, bagiku tidak ada bedanya. Aku kliennya. Pelanggan selalu benar, dan aku menyambut baik campur tanganmu. Siapa yang dapat memperlihatkan rumah ini lebih baik daripada seseorang yang pernah menempati rumah ini sejak lahir?"
Kata-kata itu masuk ketelinga Sehun bagaikan serpihan beling tajam. Tetu saja, siapa lagi? Siapa yang mengetahui dan mencintai setiap sudut, celah, dan derak lantai kayu rumah yang dibangun kakek buyutnya? Siapa yang mengoles benda-benda perak, jauh sebelum hal itu diperlukam, hanya karena senang saja melakukannya? Siapa yang menggosok perabotan amtik hingga bersinar dalam cahaya matahari yang menerobos lewat panel-panel jendela? Siapa yang mengetahui cerita dibalik hampir setiap benda didalam rumah? Hati siapa yang hancur karena terpaksa menjualnya?
Oh Sehun
Sepanjang yang ia ingat, rumah dan sejarahnya telah memikatnya. Neneknya pernah mengisahkan cerita-cerita berulang kali diminta oleh Sehun kecil agar diulang tapi ia tidak merasa bosan mendengarkannya. Sekaran Sehun berharap dirinya tak menangis sewaktu teringat bahwa ia harus segara berpisah rumah itu karena ia butuh uang.
"Mungkin aku lebih tau banyak tentang rumah ini dibanding Suho nona, tetapi aku tetap berpendapat bukan ide yang bagus jika aku mengambil alih tugasnya."
"Atau kliennya yang menurutmu bukan ide yang bagus?" jawab Kai
Sehun menatap lelaki itu dengan cepat.
"Aku tak mengerti apa maksudmu itu," sahut Sehun tertegun.
Kai maju hingga berdiri dekat sekali dengan Sehun. Ia harus mendongakkan kepala agar bisa menatap wajah lelaki itu.
"Menurutmu aku tak cukup baik untuk membeli rumahmu."
Sehun terkejut karena Kai memukul sasaran dengan tepat.
"Aku tak memikir hal seperti itu." bantah Sehun
"Ya, itulah yang ada dibenakmu. Tapi apa pun yang kaupikirkan tentang diriku, uangku masih baru dan aku mampu membeli rumah."
Karena merasa terperangkap. Sehun bergerak manjauh dari Kai,
"Aku sudah mendengar tentang keberhasilanmu menjalankan...menjalankan..."
"Toko onderdil mobil." Potong Kai
"Aku senag mendengarnya."
Kai tertawa pendek bernada menghina "Yah, aku yakin semua orang dikota ini telah bersulang atas kesuksesanku. Ketika aku meninggalkan kota ini sepuluh tahun yang lalu, mereka begitu yakin bahwa saat ini berada didalam penjara."
"Well, kau berharap orang berpikiran bagaimana? Kau- Sudahlah."
"Tidak, Teruskan." Sahut Kai sambil berjalan kedepan Sehun lagi.
"Beritahu aku. Aku kenapa?" tambah Kai
"Bagaimana kau minum-minum dalam mobil yang sedang kauperbaiki."
"Aku bekerja dibengkel, memperbaiki mobil adalah caraku mendapat penghasilan."
"kalian juga senang menakut-nakuti pengemudi lain dengan meyalip-nyalip pengemudi lain dengan ngebut dan menyalip-nyalip dengan sepeda motor. Kau menyukai sensai semacam itu seperti malam ini saja!" sahut Sehut sambil menunjuk kearah perkarangan melalui jendela lebar dan tinggi.
"Mengapa kau bersembunyi disemak-semak sana hanya untuk menunggu kesempatan membuatku ketakutan satengah mati?" tanya Sehun
Kai tersenyum lebar. "Aku tak menunggumu. Aku menunggu Suho nona."
"Well, kau juga akan membuatnya ketakutan. Muncul dari balik kegelapan diatas benda mengerikan yang bising itu. ia bisa pingsan. Harusnya kau malu terhadap dirimu sendiri." Bentak Sehun.
Kai membukuk sambil tertawa pelan. "Kau masih bisa marah-marah ya, Sehun?"
Sehun berdiri tegak. "Aku luar biasa temperamental."
Kai tertawa lagi. "Aku ingat ketika kau memarahi Chanyeol ditempat penjualan soda diapotek karena menabrakmu sampai coke cerimu jatuh. Rombongan kami kami pergi kesana untuk membeli... Ah... tak penting apa yang kami beli. Aku tak akan pernah lupa bagaimana ketakutannya Chanyeol dan ia mengendap-endap keluar karena keramahan hatimu. Kau menyebutnya orang tolol besar yang ceroboh."
Gerakan Kai membuat Sehun terdesak kekusen jendela, lalu lelaki itu menjulurkan tubuhnya kearah wanita itu. diankat tangannya dan dengan sikap bermain-main ditarik sehelai rambut cokelat yang jatuh kepipi Sehun. Lalu, disentuhkannya tangannya kepipi wanita itu. "Aku ingat, aku memikirkan alangkah menggairahkannya kau sedang marah." Suaranya bertambah pelan "Kau masih tetap menggairahkan." Dibelai pipi Sehun.
"Jangan," ujar Sehun tajam sambil memalingkan kepala.
Senyum sensual yang mengembang dibibir Kai menyempit menjadi segaris kegentiran. Ditariknya tangannya. "Kau tak mu kusentuh? Mengapa? Apa tangan-tangan ini tak cukup bersih?" Kai mengulurkan kedua tangannya beberapa senti dihadapan wajah Sehun. Jari-jari terentang lebar.
"Dengar, Sehun. Aku tak lagi bekerja dibengkel memperbaiki mobil orang kaya. Mengerti sekarang tidak ada kotoran hitam dibah kuku-kuku ku."
"Aku tak bermaksud-"
"Persetan dengan itu. Tapi aku akan memberi tahu sesuatu. Sekarang aku cukup bersih untuk menerobos pintu Indigo Place 88 dan cukup bersih untuk menyentuhmu."
Embusan keras napas Kai menerpa bibir Sehun dan terasa panas. Sehun mengadah, memandang lelaki itu dengan mata cokelatnya yang ketakutan. Kai melangkah lebih dekat.
Tiba-tiba sinar lampu besar berbentuk setemgah lingkaran menerangi mereka. Sinar itu berasal dari mobil yang berhenti didepan rumah. Insting Sehun mengatakan agar ia merunduk berlindung dan sedapat mungkin menjauh dari Kim Kai. Tetapi ia tidak bisa bergerak sebelum Kai menyingkir dari hadapannya, padahal selama beberapa waktu yang terasa lama lelaki itu tak bergerak. Dan sepanjang waktu yang diperlukan Kai untuk meluruskan hingga tegap kembali dan menyingkir, mata lelaki itu tetap menatap pada wajah Sehun.
Dengan bingung Sehun merapikan rambut dan mengusap tangannya yang lembab ke roknya. Setelah itu ia bergerak kepintu depan untukmembukakan pintu bagi Suho nona.
"Hali, Sehun." Agen real astate bertubuh pendek, periang, dan bersahabat itu bebicara keras.
"Maaf aku terlambat, Aku mendapat halang yang tidak aku dapat hindar. Aku coba menghubungi... Oh, halo! Anda pasti tuan kim ." Ia menghapiri Kai bagaikan tank sherman, dengan tangan terulur. Ia menjabat tangan Kai sepenuh hati.
"Aku minta mmaaf atas keterlambatanku. Beruntung sekali anda menjumpai Sehun sedang dirumah. Seharusnya aku ada disini memprkenalkan anda. Tapi tadi waktu bicara lewat telepon anda bilang sudah mengenalnya bukan begitu?"
"Ya," sahut Kai dengan suara rendah dan menndengung.
"Kami sudah saling mengenal sejak bertahun-tahun lalu." Sehun menghindari tatapan Kai.
"Dan anda sudah melihat-lihat rumah?" tanya Suho
"Kami sedang menunggumu." Jawab Kai
"Well, kalau begitu aku tak akan menunda-nunda lebih lama lagi. Rumah ini indah sekalli. Sehun, kau punya banyak pengetahuan mengenai rumah ini. Kumohon, maukah kau menemani kami?"
"D-Dengan senang hati," Jawab Sehun, tak memperdulikan ekspresi "apa kataku" pada wajah Kai.
Selama setengah jam berikutnya, mereka berkeliling melihat ruangan-ruangan di Indigo Place 88. Walaupun sudah dotempati beberapa generasi keluarga Sehun, rumah ini terawat baik dan apik. Ada beberapa yang memerlukan perhatikan, tapi pada umumnya rumah ini rapih sekali. Keseluruhan ada empat belas kamar, tidak termasuk ruangan depan dan ruangan tengah dilanta atas. Tiap ruangan dilengkapi perabotan yang indah yang sesuai dengan jebangkitan arsitektur Yunani.
Sewaktu menerapkan, Sehun berusahan agar ceritanya terdengar obyektif. Tetapi seperti yang selalu terjadi pada saat berbicara Indio Place , dengan semangat ia membicarakan. Pemirsanya mendengar dengan penuh perhatian. Kai bersikap luwes dan sopan terhadap makelar rumah, yang merasa senang atas perhatian lelaki ini. Sehun tiap kali mengertakkan gigi tiap kali Suho nona tersenyum simpul mendengarkan sesuatu yang dikatakan Kai.
Mereka menakhiri perjalan mereka diruangan depan. Suho nona tersenyum kepada Kai.
"mengagumkan bukan, Tuan Kim? Apa ditelfon aku berlebihan-lebihan?"
"Tidak. Suho nona, tapi aku sudah mengenal rumah ini. Aku selalu mengaguminya dari kejauhan." Sehun menerima ejakan tajam itu, namun tak memedulikan tatap penuh arti yang dilayangkan Kai kepadanya.
"Malam ini aku akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh."
"Baik. Tolong hubungi aku jika ada pertanyaan."
Makelar rumah menoleh pada Sehun,
"Terima Kasih telah mengizinkan kami melihat rumah malam ini. Begitu mendapat kabar dari tuan Kim, aku akan segera menghubungi."
"Terima kasih Suho nona."
"Selamat malam, Sehun." Sehun menundukkan kepalannya dan melihat tangan yang terulur kearahnya. Tagan itu memang bersih. Warna kulit yang seputih susu. Dan ramping. Tangan berbentuk bagus dan feminim yang menurut Sehun mungkin mampu mengerahkan kekuatan besar dan memberikan kenikmatan yang hebat bagi para lelaki.
"Selamat malam, Kai." Sehun menjabat tangan sebentar tangan Kai yang memikat itu sebelum melepaskannya. "dan, selamat datang kembali digangnam."
Lelaki itu tertawa kepadanya, tawa yang menyiratkan bahwa ia tahu kedatangan digangnam disambut bagaikan seekor musang yang datang kepameran bunga.
Kai keluar bersama suho, setelah itu Sehun menutup pintu. Dari balik pintu tebal itu, Sehun dapat mendengar si makelar memuji-muji rumah itu. ia memperlakukan pembeli prospektif ini dengan lemah lembut. Rumah berharga setinggi Indigo Place 88 diperuntukan melihat rumah itu secara serius. Kim Kai merupakan kandidat pertama pemilik baru yang bersungguh-sungguh, dan Suho tak ingin kehilangan pembeli potensial seperti itu.
Sehun tak bergerak dari pintu depan sampai didengarnya suara sepeda motor mengikuti mobil Suho keluar dari pekarangan. Ketika berjalan melewati ruangan-ruangan untuk mematikan lampu, ia mengecam diri sendiri karena tidak menannyakan siapa klien Suho ketika makelar itu menghubunginya tadi sore. Satu-satunya hal yang dikatakan Suho kepadanya adalah lelaki miliuner Seoul yang sedang mencari rumah untuk melewatkan masa pensiun dininya.
Sehun menyangka calon pembelinya sudah agak tua, yang ia tak kenal. Jadi, ia sama sekali tidak mengira saat Kim Kai yang mucul dihadapannya.
Beberapa tahun terakhir ini banyak cerita tentang Kai yang terpencar-pencar dikoran lokal. Hanya beberapa tahun terakhir setelah kepergiannya dari gangnam, nama Kai terkenal dalam arena balap mobil. Bagi penggemar olahraga tersebut, ia dianggap selebriti karena telah mencetak rekor kecepatan dan keberanian yang mengesakan, padahal usiannya masih dua puluhan. Sebuah surat kabar Seoul pernah menurunkan tulisan panjang yang mengenai pengunduran diri Kai dari sirkuit. Beberapa bulan kemudian Sehun membaca bahwa lelaki itu membuka toko onderdil mobil.
Sejak saat itu, penduduk gangnam dengan antusias mengamati bocah asal kota , mereka mengembangkan toko pertama itu menjadi jaringan yang luar bisa sukses. Kabat terbaru dari Kim Kai adalah ia telah menjual jaringan tokonya kepada seorang konglomerat dengan harga yang sangat menggiurkan-dan semua penduduk gangnam tak menyaksikan hal itu.
Sehun tak peduli, berapa banyak uang yang dihasilkan Kai atau seberapa besar kesuksesan yang dicapai lelaki itu. Kai tetap tak tahu adat dan tak punya sopan santun. Lelaki itu memliki ciri khas dikalangan bawah, yang memamerkan kesuksesan dimuka kota yang terang-terangan pernah mencemohkan.
Siapa yang peduli?
Yang pasti Sehun tidak. Mengapa Kai tak puas dengan memutarkan miliaran uang diseoul? Orang-orang gangnam tak memerlukan uang.
Sayangnya hal itu tak sepenuhnnya benar Sehun memerluka kan uang itu setengah mati. Masalah yang dihadapinnya membenahinya bagaikan surat berantai.
Masalah itu itu mengikutinya ketika ia menaiki anak tangga dan memasuki kamar tidur. Ia bersyukur karna ketika sedang melihat-lihat rumah, Kai hanya melempar pandangan sebentar kekamarnya.
Sambil membuka pakaian, dengan gentir ia teringat hari ketika wali rumah dan harta benda ayahnhya meminta Sehun agar menemuinnya. Dikantor yang penuh dengan deretan buku yanng mengesankan itu, lelaki tua itu mengatakan kabar buruk bahwa Sehun tak mewarisi apapun selain daftar kreditur yang berang.
sehun terperanjat mendengar fakta bahwa ayahnya adalah manager keuangan yang mengerikan. Ia telah menghabiskan kekayaan keluarga untuk investasi buruk dan spekulasi tak masuk akal. Jaksa itu mngatakan secara baik-baik, tetapi blak-blakan. Sehun bangkrut, sama sekali tak mempunyai apa-apa untuk melunasi tumpukan tagihan.
"Tapi kami hidup-"
"Benar sekali, tuan oh tak akan pernah mengakui dirinya terlibat utang. Paling tidak ia tak akan membiarkan kau atau ibumu tahu bahwa bencana keungan akan segera menghadang."
Sehun mengamati lembara-lembaran lebar itu hingga kesulitan-kesulitan yang besar yang membajiri dirinya. "Aku bahkan tak mampu membeli makannan."
"Aku prihatin, Sehun. Inilah warisan untukmu."
"Setidaknya aku memiliki Indigo Place." Sahut Sehun. Ia terpekur sambil membolak-balik setumpuk tagihan. Hellan berat napas pengacara ayahnya membuat Sehun mengankat kepala dan ia memandang lelaki itu dengan rasa takut semakkin meningkat.
"Aku masih memiliki Indigo Place, kan." Orang tua itu menggenggam tangan Sehun.
"Rumah itu dihipotekan, sayangku. Bank telah memberi tahuku, jika mereka tak dapat menutupi kerugian dalam jangka waktu enam bulan, mereka tak punya pilihan lain kecuali mnyita rumah itu. kuserahkan kepadamu agar menjualnya."
Itulah pukulan terakhir. Sehun membaringkan kepala diatas meja sang pengacara dan terisak-isak. Namun perlahan-lahan ia menghadapi kenyataan itu. memang benar ia tak memiliki uang sepeser pun, namun ia tak dapat begitu terus.
Setenang mungkin, ia menawarkan Indigo Place 88 untuk dijual. Ketika kabar itu beredar, sebagai mana yang sudah ia perkirakan, ia membukam gosip negatif dengan mengatakan bahwa ia telah mengurus pemeliharaan rumah. Ia tak suka terbelenggu oleh rumah itu, dan menginginkan kebebasan berpergian tanpa dibebani tanggung jawab merawat rumah.
Begitu rumah terjual ia akan berpergian, langsung keluar dari kota itu, untuk mencari pekerjaan. Sehun naik ketempat tidur dan mematikan lampu, lalu seperti biasa, ia menatap pohon magolia diluar jebdela lantai dua. Waktu sudah hampir habis. Tak sabulan lagi sebelum tanggal waktu dari bank. Tak terbayang olehnya jika semua orang dikota tahu mengenai kebangkrutan dan kejatuihan ayahnya. Ia tak ingin reputasi luhur keluarganya dipermalukan. Ia harus menjual rumahg ini.
Tapi terkutuklah ia membiarkan bajingan seperti Kim Kai pindah kerumah ini!
.
.
.
.
.
Sehun bangun telambat dengan kepala yang pening karena tak dapat tidur nyenyak, padahal ia memerlukan waktu berjam-jam agar dapat terlelap. Ia juga merasakan mimpi yang tak enak, tetapi tidak ingin mengingat-ingatnya. Ia menyadari bahwa dirinya tak ingin mengetahui apa—atau lebih tepatnya siapa-mimipinya itu.
Terjaga dengan perasaan lesu dan pesimisbukan lah hal baru baginya. Ketika melewati masa sakit ayahnya yang panjang, disusul kematiannya, masalah uang yang harus ditangani, Sehun terus-menurus berpura-pura bersikap tegar. Namun ia hampir tidak menggingat seperti apa rasanya menantikan saat bangun pagi. Belakangan ini, hari-hari barunya hanya menjikan masalah-masalah baru.
Dengan susah payah ia berjalan kekamar mandi yang menyatu dengan kamar tidurnya. Pertama-tama ia mengguyur tubuhnya denngan air hangat, kemudian air yang sedingin yang ia tahan sebagai upaya agar terlihat ceria. Kesedihan membuat ia lesu, tetapi mandi agak menyamarkan hal tersebut.
Dikenakannya celana pendek denim usang dan kau yang bertuliskan "begitu banyak lelaki, Begitu sedikit waktu". Kaus tersebut merukan hadiah olok-olok dari seorang temannya yang membelinya dalam perjalan ke pulau jeju. Sambil bertelanjang kaki dan rambut masih terbungkus handuk, Sehun pergi kelantai bawah untuk membuat seteko kopi.
Dering bel membuat Sehun berjaga dari keadaannya yang seperti terhipnotis oleh tetesan pembuat kopi. Langkah kaki nya nyaris tak bersuara pada lantai kayu dan karpet pesia antik saat ia bergerak kepintu depan. Ia mengintip melalui tirai ruang makan untuk melihat siapa yang datang berkunjung pagi-pagi begitu. Kemudian dipejamkan mata rapat-rapat dengan tangan terkepa, dan ia mngumpat pelan.
Sehun mencoba melayangkan pandangan sekilas kecermin ruang depan, lalu mengerang. Coba ia melihat kecermin. Ia belum berdandan, bertenlanjang kaki, dan rambutnya yang basah terbungkus handuk. Bagus. Hebat.
Celakanya, tamunya tampak tampan.
Sehun menarik pintu agar terbuka. Ia tak berkjata-kata, hanya menyambut pria itu dengan wajah semasam suasannya hatinya.
Pria itu menatap pakain sehun dan tertawa terbahak –bahak.
"Pagi"
"Halo"
Sehun terpaksa berdiri disana dan melihat Kai membaca slogan dikausnya. Dan ia juga hari menerima seringai lelaki itu, yang menciptaka sikap skeptis. Sehun sebenarnya ingin menampar wajah tampan yang tersenyum itu. tetapi nyatanya ia tetap manampilkan roman muka bosan dan jemu
Sehun memandang kebelakang bahu tamunya yang mengesankan dan melihat lelaki itu telah menukar sepeda motornya dengan mobil sport perak yang bahkan mereknya tidak ia kenal. Bentuknya amat rendah dan manis, membuatnya penasaran bagaiman Kai melipat tubuhnya yang panjang kedalam benda itu.
"Kau akan mempersilahkan aku masuk?" Tanya Kai
"Tidak."
"boleh kah aku masuk"
"untuk apa?"
"Tidak."
Ketika Sehun mengucapkan kata-katanya dengan lantang, telepon berdering. Kai mengedipkan mata, "Taruhan itu pasti dia" Sehun hanya melototinnya sementara tubuhnya berfungsi sebagai penghalang dipintu. "sebaiknya kaujawab telepon itu" saran Kai setelah beberapa kali deringan telepon itu yang meleking itu gagal mengalihkan perhatian Sehun.
Sambil menjaga sikap tenang, walaupun cara berpakaiannya sembarangan, Sehun berbalik mempunggungi Kai. Ia berjalan menuju telepon yang terletak dia sebuah sudut bawah tangga.
"Halo... oh, selamat pagi, Suho nona." Sehun menatap Kai yang melangkah masuk tanpa diundang. Sambil menutup pintu, lelaki itu membalas tatapan Sehun dan tersenyum puas.
"dia telah disini" ucap Sehun jengkel . "kuharap anda sudah... oh benarkah? Kurasa aku sedang mandi... well... aku benar-benar..." ia menghelang napas dalam-dalam lalu berkata, "Baiklah... ya, aku tak apa. Bye."
Diletakan gagang telepon ditempatnya dan dengan perlahan ia menoleh pada tamunya. "katanya kau ingin melihat-lihat rumah ini lagi. Kenapa? Tadi malam kau sudah melihatnya."
"Jika aku memutuskan untuk membelinya, berarti aku benar-benar menananm investasi. Tidakkah menurutmu seharusnya aku melihatnya ketika masih terang?"
"Kurasa begitu." Ya tuhan, Sehun berharap kalau saja ia tidak tampak begitu malang. Seandainya saja kausnya tidak begitu usang, tipis, dan menempel ditubuhnya. Seandainya saja pagi ini ia mengenakan bra. Dan, karena mata Kai menjalar kesekujur tubuhnya, seandainya saja pagi ini ia menegenakan pakaian panjang dan gelap yang membungkusnya mulai dari dagu sampai ujung kaki. Kakinya terasa lebih telanjang daripada yang pernah ia rasakan, dan terasa mudah diserang ketika mata Kai tertuju kesan.
"Baiklah," ujar Sehun sambil berjalan miring dengan tubuh merapat di dinding menuju ruang makan, "Anggap saja rumah sendiri. Aku sedang membuat kopi-"
"Terima Kasih, aku mau juga"
Sehun menatap Kai dengan mulut agak melongo. Ia tak mengajak lelaki itu minum kopi bersamanya Kim Kai sama sekali tak punya tata krama. Pria lain akan menyadari perasaan malu yang melanda Sehun dan sebisa mungkin pergi mengerjakan urusanya. Seharusnya Sehun sudah tahu bahwa ia tak bisa mengharapkan hal itu dari Kai.
"Di dapur." Sahut Sehun kasar
"Boleh. Lagi pula aku ingin melihat dapurnya lagi."
Kai mengikuti Sehun melintasi ruang makan formal dan masuk kedalam dapur yang bermandikan sinar matahari. Keharuman kopi segar menyabut mereka. "Kau tak mau duduk dulu?" senyum kaku mengembang dibibir Sehun, ajak annya pun terdengar terpaksa.
"Nanti saja" jawab Kai acuh tak acuh. Ia sedang menilai dapur itu dengan cermat, bagaikan kepala koki.
"Semua peralatan masak akan kau tinggal?" tanya Kai
"Belum ku pikirkan" Sehun mengulurkan tangan keatas untuk mengambil cangkir dan tatakanya sari dalam lemari. Saat itu ia menjadi sadar akan beberapa hal sekaligus, betapa berakan mengangkat tangan itu membuat buah dadanya semaki tercetak pada kausnya, betapa pendek dan sempitnya celana pendeknya, dan betapa enaknya harum Kim Kai. Kulit lelaki itu sabun dan aftershave beraroma rempah-rempah. Mulutnya pasti terasa seperti papermint.
Melarangmya untuk merasakannya, tapi -
"Apanya bagaimana?" Sehun mengisi dua cangkir kopi sebaik-baiknya, walaupun kedua tangannya bergetaran. Sebelumnya ia selalu memaki dapur ini karna terlalu besar sehingga memerlukan waktu saat mengambil sesuatu. Dalam beberpa menit terakhir, kelihatannya dapur itu telah menyusut derastis.
"peralatan masaknya. Terima kasih," sahut Kai. Diambilnya salah satu cangkir berikut tanganya dari tangan Sehun.
"Oh, well, kurasa akan kutinggal. Barang-barang ini sudah ada sejak dapur ini direnovasi dan dimodernisasi. Aku pasti tak akan banyak menggunakannyadan jika dijual mungkin tak akan banyak menghasilkan. Krim atau gula?"
"Tidak, Terima kasih." Kai meminum kopinya
"kau akan pergi kemana?"
Pandangan Sehun mengikuti uap yang mengepul dari cangkir kopi nya. Dan akhirnya bertemu cdengan tatapan Kai. "Pergi? Kapan?."
"Setelah Rumahmu dijual."
"Ke tempat lain," jawab Sehun.
Selama beberapa detik mereka saling bertatapan. Sehun-lah yang berpaling lebih dulu.
"seperti yang kulihat, semua peralatan masak dalam kondisi yang baik dan sempurna untuk dipergunakan."
Kai meneliti semuanya dengan sangat cermat. Memang sehun jauh lebih suka lelaki itu mengamati rumah dan perabotannya daripada mengati dirinya, tetapi ketelitian Kai terasa mengerikan dan menjengkelkan. Kai menemukan serpihan pada sambungan ubin untuk mengambilnya dengan kuku jari telunjuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC OR NOT
Anyeong semua.. maaf baru sempet update disela2 mau ujian maklum kelas 9 tetep berusan untuk terus update tapi kemungkinan nih ff ga bakal aku update selama 2 bulan deh….. mianhae ya TT TT tapi aku bakal terus update kok…. Mohon reviewnya ya... thanks untuk yang kemaren udah review dichap sebelumnya…. Udah deh sampai ketemu lagi dichap selanjutnya J SEE YOU
