Chapter 5
Breakdown
Di Markas Angkatan Laut Kure, Viltus akhirnya berdiri dari kursinya dan kemudian ia berkata kepada Marcos,
"Baiklah... Sisanya kuserahkan pada dirimu."
"Baik..." ujar Marcos
"Hayate, perhatikan dirinya." ujar Viltus
"Siap !" balas Hayate
Tidak berapa lama, pintu terbuka dan di sana berdiri Taihou yang sudah mengenakan pakaian untuk ke kota sembari membawakan Viltus sebuah jaket untuk dikenakan olehnya. Viltus langsung menerimanya dan kemudian berkata,
"Terima kasih banyak, Taihou."
"Sama-sama." balas Taihou
"Baiklah. Kami pergi dahulu ya."
"Hati-hati di jalan." ujar Hayate
Taihou dan Viltus berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dan pada saat mereka di depan pintu dari gedung administrasi, mereka melihat Zara yang terlihat melihat ke arah luar dari gedung. Viltus langsung menyapa Zara,
"Selamat sore, Zara."
"Ah... Selamat sore, Laksamana." balas Zara
"Tumben sekali dirimu di sini." ujar Viltus
"Itu..."
"Viltus berkata demikian karena dirimu pasti sudah menunggu di depan kedai Houshou setiap hari sabtu." ujar Taihou sembari tertawa
"Begitukah ? Ahahahaha..." ujar Zara
Setelah tertawa, ia kemudian melihat ke arah Taihou dan Viltus yang mengenakan pakaian kasual. Sontak Zara langsung berkata,
"Kalian berdua akan berkencan ?"
"Sekali-kali istrinya mengajak suaminya keluar ke kota." ujar Taihou
"Hooohhh..."
"Sebuah makan malam yang sangat romantis, benar ?" ujar Viltus
"Iya. Eh... Kau sudah memberitahu semuanya kalau dirimu tidak dapat membantu hari ini, benar ?"
"Sudah. Tenang saja." ujar Viltus
"Aku sama sekali tidak ingin ada yang menganggu kita pada saat itu."
"Tenang saja."
Zara yang melihat hal tersebut kemudian menunduk dan berkata,
"Aku sangat berharap... Pola dan Frederich dapat seperti kalian."
"Huh ?" ujar Taihou dan Viltus dengan wajah terkejut
"..."
"Tunggu sebentar... Jangan bilang Pola dan Frederich sudah..." tanya Taihou
"Belum." jawab Zara
"Jadi... Itu sebuah harapan, benar ?" tanya Viltus
"Iya."
Viltus langsung menghela nafas dan kemudian berjalan lebih dahulu. Taihou yang melihat Viltus berjalan langsung berkata,
"Viltus... Kau sudah mengetahui mengenai ini semua ?!"
"..."
"Hei, Viltus..."
"Sebaiknya kita tidak usah terlalu terlibat dengan kehidupan orang lain. Ada baiknya kita membiarkan mereka membereskan masalah mereka sendiri."
Zara dan Taihou sangat terkejut mendengar hal tersebut. Zara langsung menunduk dan Taihou langsung mengikuti Viltus begitu saja. Tidak berapa lama, Viltus berkata dalam bahasa Italia,
"Sebaiknya dirimu menunggu di kamarmu saja. Kau bukan Fusou yang dapat bertahan lama di luar seperti ini. Pada saat kau di kamarmu, tunggulah Pola. Hiburlah dirinya jika dia sedih. Dan beri dia ucapan selamat jika dia senang. Itu saja yang dapat kukatakan pada dirimu. Karena, hanya dirimu sajalah yang mengerti gadis itu."
"Eh ?!" ujar Zara sangat terkejut mendengar Viltus yang berkata demikian
"Lakukan saja. Aku sama sekali tidak ingin membuka sesi curhat selama beberapa hari ke depan karena jadwalku cukup padat."
"Si... Siap."
Viltus tersenyum dan kemudian memegang tangan Taihou. Mereka berdua pun mulai berjalan ke arah kota untuk menikmati santapan malam mereka.
Sementara itu, kita akan mundur sedikit sebelum kejadian di atas terjadi. Lebih tepatnya pada saat tokoh utama cerita kali ini di kota. Ia sudah berlari ke sana kemari untuk membuat semua Gadis Kapal yang bersama dengan dirinya senang.
Ia sudah menemui Furutaka beberapa kali di dalam tempat konser yang terlihat menikmati lagu di tempat tersebut, Yamashiro yang masih memperhatikan ikan-ikan yang berenang di depannya bersama dengan Yahagi dan Sakawa, dan terakhir Yuudachi yang terlihat sedikit teralihkan karena bantuan dari Hibiki dan saudarinya.
Walaupun demikian, semua itu bukan tanpa halangan. Pada saat bertemu Furutaka kembali, ia menanyakan di mana jaket miliknya. Lalu, pada saat bertemu dengan Yamashiro kembali, ia bertanya mengenai di mana barang yang dijanjikan dan semacamnya.
Terkadang ia membawa barang tersebut ke tempat yang salah di mana langsung ditanyakan kembali mengapa ia melakukan itu semua.
Namun, akhirnya ia akhirnya merasa cukup lelah karena terus berlari. Saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Furutaka. Dan pada saat itu, ia berkata,
"Akhirnya... Semua ini tanpa halangan sama sekali... Ini sukses besar. Kau benar Amami-san. Aku dapat melakukan hal ini."
Ia kemudian kembali berlari ke tempat konser dan pada saat itulah ia menyadari seseorang yang memperhatikan dirinya dari jauh. Ia melihat ke kiri, kanan, dan belakang dirinya. Namun, ia tidak dapat melihat siapapun di antara lautan manusia di sekitarnya.
Dan pada saat itulah, ia merasakan sedikit rasa sakit di dadanya dan juga rasa khawatir. Ia langsung bergumam,
"Apa... Apa yang kulupakan ?"
Ia langsung berhenti sebentar dan kemudian melihat ke sekitarnya. Hingga akhirnya, ia melihat seorang wanita dengan pakaian hitam yang memiliki renda dan mengenakan rok berwarna merah. Frederich sangat mengenal pakaian tersebut karena itu adalah pakaian yang ia berikan kepada seseorang dengan bantuan dari Viltus dahulu.
Gadis dengan rambut perak yang berantakan tersebut terlihat marah kepada dirinya akan sesuatu. Frederich menyadari sesuatu dan kemudian langsung tertegun. Entah mengapa, ia melupakan tujuan utamanya saat ini. Bertemu dengan Furutaka.
Itu semua karena wanita tersebut. Ia langsung berjalan ke arah wanita tersebut dan berkata,
"Pola..."
"Jadi seperti itu, ya..." jawab Pola pada saat Frederich sudah cukup dekat
"Eh..."
"Jadi... Kau sebenarnya... Seperti ini..." ujar Pola
Frederich langsung menyadari apa yang terjadi saat ini. Wanita di hadapannya, Pola, mengetahui Frederich yang berjalan ke sana kemari untuk membuat semuanya senang. Frederich kemudian mendengar,
"Aku kira... Hari... Ini... Akan spesial..."
"Pola..." ujar Frederich
"Ternyata tidak... Tidak sama sekali."
"Hei... Pola..."
"Diam !" teriak Pola
Semua orang yang ada di dekat mereka berdua langsung berhenti dan kemudian melihat ke arah mereka berdua. Pola melihat ke arah Frederich dan kemudian menampar dirinya. Setelah itu, Pola langsung berlari menjauh dari Frederich.
Frederich masih terdiam di tempat dan memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Pola. Ia sama sekali tidak dapat berpikir dengan jernih karena hal tersebut. Hingga akhirnya, ia sadar situasi ini sangat gawat. Ia menggelengkan kepalanya dan kemudian langsung berkata,
"Aku... Harus... Menentukan... Pilihan..."
Ia melihat ke arah tempat konser di mana Furutaka berada dan juga ke arah Pola berlari. Dan tanpa bepikir panjang dirinya ia langsung berlari ke satu arah. Ke arah larinya Pola. Dan pada saat itulah, ia sudah memantapkan pilihannya.
Dan ia percaya, itu adalah pilihan terbaik bagi dirinya. Tidak. Tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi Pola.
