Chapter 6

Love


Pola akhirnya berhenti berlari karena ia kehabisan nafas. Ia kemudian mengusap air matanya yang tumpah karena apa yang ia lihat satu hari ini. Ia sudah di kota semenjak pagi karena ingin melihat seperti apa kota dan mengetahui di mana tempat dirinya akan bertemu dengan Frederich sore itu.

Dan pada saat itulah, ia melihat Frederich yang turun dari bus. Pada awalnya, ia mengira Frederich mengetahui dirinya ada di kota. Namun, itu semua tinggal harapan. Ia melihat Frederich yang mengambil sesuatu dari Yuuya dan Haruto dan kemudian membeli bunga.

Ia mengikuti Frederich pada saat itu dan melihat dirinya yang memberikan bunga tersebut kepada Furutaka. Ia melihat Frederich yang terlihat bahagia pada saat berbincang-bincang dengan Furutaka. Setelah itu, ia melihat mereka berdua yang makan bersama di sebuah cafe.

Ia sempat berkata dalam hati,

"Apakah Frederich-san... Ah... Tidak... Tidak... Frederich-san tidak mungkin seperti itu."

Kemudian, ia melihat Frederich yang berlari ke satu arah dan membeli bunga kembali. Kali ini, ia melihat Frederich yang bersama dengan Yamashiro dan akhirnya bersama dengan Yuudachi. Ia kemudian melihat dirinya yang terlihat sangat bersemangat setiap kali bersama dengan dirinya.

Pada akhirnya, Pola sempat menelepon Zara,

"Zara-nee..."

"Eh ? Ada apa, Pola ? Mengapa kau menghubungi diriku ?" tanya Zara

"Aku... Aku tidak tahan..."

"Eh ?" ujar Zara dengan nada terkejut

"Aku sama sekali tidak tahan melihat ini semua."

"Pola... Pola... Ada apa ?"

"Zara-nee..." ujar Pola yang mulai sedikit menangis

Pola kemudian menceritakan apa yang ia lihat hari itu dan Zara sangat terkejut pada saat mendengarnya. Zara sama sekali tidak dapat mengatakan apapun mengenai hal tersebut, hingga akhirnya Pola berkata,

"Aku... Tidak tahan... Zara-ne..."

"Pola..."

"Apa yang harus kulakukan ?"

"Itu... Tergantung pada pilihanmu..."

Pola terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Zara. Setelah itu, Pola menutup pembicaraan mereka dan kemudian melihat Frederich yang kembali berlari ke sana kemari. Ia kembali mengikuti dirinya. Dan semakin lama dirinya mengikuti dirinya, dia semakin merasakan sakit di dadanya. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan perasaan tersebut, namun sedikit demi sedikit mulai ia rasakan kembali. Rasa marah, kecewa dan sedih terhadap Frederich, yang akhirnya ia lontarkan pada saat Frederich menyadarinya.

Pola langsung terdiam dan kemudian duduk di kursi yang tersedia di dekatnya. Ia kemudian mengusap air matanya dan kemudian berkata,

"Diriku memang salah... Salah untuk menyukai pria tersebut..."

Pola kemudian melihat ke langit dan terdiam. Ia kemudian berkata,

"Tidak... Dirikulah yang idiot... Pria seperti dia memang disukai oleh banyak wanita. Itu merupakan hal yang lumrah."

Ia langsung tertunduk kembali dan kemudian mengingat semua wanita yang bersama dengan Frederich tadi. Furutaka. Yamashiro. Yuudachi. Ia kemudian berkata,

"Mereka itu... Wanita-wanita yang hebat... Jauh lebih baik dari diriku... Furutaka sangat baik... Yamashiro... Dia terlihat sangat dewasa... Dan Yuudachi sangat energetik."

Ia kemudian melihat ke arah tangannya sendiri dan kemudian berkata,

"Namun... Dibandingkan dengan diriku... Yang pemabuk... Tidak pernah memperhatikan diri sendiri... Tidak pernah mendengar orang lain... Mereka... Jauh lebih baik... Dariku..."

Pola langsung menutup wajahnya sendiri dan kembali berkata,

"Ya... Diriku sama sekali tidak pantas bagi Frederich... Mereka jauh lebih pantas... Daripada diriku... Jadi... Itu hal lumrah untuknya mencintai orang lain..."

"Siapa yang mengatakan demikian ?"

Pola sangat terkejut dan melihat ke arah samping. Ia melihat Frederich yang sudah sampai di dekatnya. Ia terlihat sangat kelelahan, namun ia terlihat yakin akan sesuatu. Pola sontak berdiri kembali, namun kali ini Frederich berhasil menahannya. Dan kemudian, ia mendengar Frederich berkata,

"Maafkan aku... Pola"

"Mengapa... harus meminta maaf ?" tanya Pola tanpa melihat ke arah Frederich

Pola kemudian merasakan tangan Frederich yang semakin kencang di tangan Pola. Dan setelah itu, Pola kembali mulai menitikkan air matanya karena ia sama sekali tidak dapat menahannya kembali. Frederich sendiri langsung menariknya dan kemudian memeluk Pola untuk membuatnya sedikit lebih tenang.


Setelah cukup tenang, mereka berdua duduk di bangku yang berada di dekat mereka. Mereka berdua sama-sama terdiam karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Mereka berdua sama-sama melihat ke atas, hingga akhirnya Pola bertanya kepada Frederich,

"Mengapa dirimu... Pergi bersama... Mereka ?"

"Itu kesalahan diriku karena menerima itu semua..." ujar Frederich

"Apakah... Aku yang memintamu paling akhir ?" tanya Pola

"Iya."

"Lalu, mengapa kau tidak menolaknya ?"

Frederich melihat ke arah Pola yang terlihat sudah lelah karena semua ini. Ia langsung mengelus pipi Pola dan itu membuat Pola sangat terkejut. Frederich langsung berkata,

"Bagaimana caranya diriku dapat menolak wajah seperti ini ?"

"Eh ?"

"Pada saat dirimu mengajak diriku... Aku benar-benar tidak dapat berpikir sedikit pun." lanjut Frederich

"..."

"Mungkin ini... Sebuah pertanda... Memang benar sebaiknya diriku tidak mengikuti saran dari Marcos." ujar Frederich

Frederich kemudian tertawa pada saat berkata seperti itu. Ia kembali melihat ke arah Pola yang terlihat sedikit senang karena satu hal. Frederich kemudian berkata,

"Tadi... Aku mendengarnya..."

"Mendengar apa ?" tanya Pola

"Tidak pantas... Dirimu bersama diriku." ujar Frederich

"Ah..."

Pola menunduk dan ia terlihat tidak ingin berbicara mengenai hal tersebut. Frederich tahu dan langsung mengelus kepalanya. Ia kemudian berkata,

"Menurutku... Tidak demikian..."

"Eh ?"

"Menurutku... Kau dapat saja bersama diriku." ujar Frederich

"Mengapa kau berkata seperti itu ? Padahal diriku ini... Tidak berguna..." ujar Pola

"Kata siapa tidak berguna ? Tidak ada yang berkata demikian."

"Tapi... Aku ini pemabuk... Tidak dapat melakukan apapun... Membereskan pakaian... Membuat makanan... Semuanya. Jika itu tidak berguna, lalu apa ?"

"Jika demikian... Aku akan membantumu... Aku akan mengajari dirimu." ujar Frederich mendadak.

"Eh ?!"

"Aku akan mengajarimu semuanya... Aku akan membantumu..." ujar Frederich kembali

Frederich langsung berdiri dan kemudian melihat ke arah Pola. Ia terdiam sebentar dan kemudian ia mengangguk. Ia akhirnya berkata,

"Itu semua... Karena diriku mencintai dirimu, Pola. Maka dari itu aku akan membantumu. Sama seperti Viltus yang membantu Taihou."

"Eh ?!"

"Kau tahu... Aku sedikit demi sedikit mulai menyukaimu karena kita sering sekali bersama-sama dalam satu misi. Dan itu merupakan hal paling menyenangkan yang pernah kurasakan. Tertawa bersama. Menangis bersama. Marah satu sama lain. Dan sebagaimanya. Itu sangat menyenangkan."

"..."

"Dan sepertinya... Itu sama sekali tidak dapat kutahan lagi. Aku mencintai dirimu... Maka dari itu... Maukah kau menjadi kekasihku, Pola ?"

Pola sama sekali tidak menyangka dengan kejadian ini. Ia hanya mengajak Frederich karena ia ingin memiliki waktu berdua saja dengan dirinya untuk membicarakan banyak hal. Namun, situasi ini benar-benar di luar perkiraannya.

Pola terdiam sebentar dan kemudian tertawa. Frederich sangat terkejut pada saat Pola tertawa seperti itu. Ia kemudian berkata,

"Kau berkata demikian... Setelah pergi bersama wanita lain ?"

"Ugh..."

"Tapi... Mau bagaimana lagi... Dirimu memang tampan dan cukup baik. Aku maklum jika ada wanita lain yang pergi bersama dirimu."

"..."

"Namun... Setelah ini... Jangan melakukan itu lagi... Kecuali kau mengatakannya kepada diriku."

"Eh ?"

"Dan jawabanku adalah..."

Pola menunduk sebentar dan dapat dilihat dirinya sangat malu untuk menjawab pertanyaan dari Frederich. Hingga akhirnya, ia berdiri di depan Frederich dan melihat ke arah dirinya. Ia kemudian berkata,

"Aku... pun mencintai dirimu. Maka dari itu... Aku... Mau menjadi kekasihmu..."

Frederich sangat terkejut dan senang pada saat Pola berkata demikian. Ia langsung memeluk Pola karena hal tersebut. Pola pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Frederich terhadap dirinya. Namun, mereka berdua langsung melihat wajah satu sama lain dan tersenyum. Setelah itu, Frederich langsung mencium Pola.


Yamashiro memperhatikan Frederich yang mencium Pola dari jauh dan langsung tersenyum tipis. Sakawa dan Yahagi memperhatikan Yamashiro sebentar dan kemudian berusaha memberi semangat kepada Yamashiro. Yamashiro mengetahui hal ini dan kemudian berkata,

"Aku sudah tahu... Hari ini merupakan sebuah kemalangan."

"Yamashiro..." ujar Sakawa dengan nada sedih

"Aku tahu... Dirinya mencintai Pola dari dulu. Pada saat melihat dirinya melatih Pola dan sering bersama dengan Pola..." ujar Yamashiro

"..."

"Walaupun demikian... Aku sudah cukup senang dapat pergi bersama dengan dirinya hari ini. Jadi, dapat kukatakan ini adalah sebuah keberuntungan di balik kemalangan."

"Yamashiro." ujar Yahagi yang langsung menepuk pundak Yamashiro

"Sebaiknya kita kembali sekarang. Dan sepertinya diriku harus meminta maaf kepada Laksamana itu. Sudah membuat dirinya kesusahan untuk sesuatu yang sia-sia seperti ini." ujar Yamashiro sembari tersenyum.

"Menurutku ini tidak sia-sia." ujar Sakawa

"Eh ?"

"Kau terlihat sangat menikmati pada saat bersama dengan Frederich. Kau pun juga menikmati pada saat melihat ikan-ikan itu. Pada saat menonton acara di sana. Itu sesuatu yang jarang kulihat, pya~"

"Sakawa..." ujar Yahagi

"Maka dari itu... Jangan berkata ini sia-sia. Menurutku... Jika dirimu terus membuka diri seperti itu, aku yakin dirimu dapat..." ujar Sakawa yang langsung disela oleh Yamashiro

"Aku mengerti, Sakawa. Aku mengerti. Aku yang salah berkata bahwa ini sia-sia."

"..."

"Kau benar... Aku harusnya menikmati ini. Walaupun pada akhirnya akan sesakit ini." ujar Yamashiro

"..."

"Sudahlah... Tidak ada gunanya meratapi ini. Mari kita kembali, Yahagi-san, Sakawa-chan." ujar Yamashiro

Sakawa dan Yahagi melihat ke arah Yamashiro yang tersenyum ke arah mereka dan kemudian langsung mengangguk dan mengikuti Yamashiro. Mereka bertiga kemudian bercerita beberapa hal kembali, terutama mengenai apa yang akan dilakukan oleh Yahagi untuk seseorang.

Sementara itu, tidak jauh dari kelompok Yamashiro. Furutaka memperhatikan Pola dan Frederich dengan wajah yang cukup kecewa. Namun, ia langsung menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata,

"Jadi ini... Alasan kenapa dirinya seperti itu... Hatinya tidak di sini... Tetapi di wanita lain."

Ia kemudian bersandar sebentar di pohon dan langsung menyeka air matanya. Ia sangat kecewa karena mengetahui hal tersebut. Ia kemudian langsung sadar kembali akan sesuatu dan langsung mengangguk. Ia kemudian berkata,

"Aku... Tidak boleh kecewa karena hanya ini saja. Aku harus bahagia untuk kebahagiaan Frederich-san. Aku yakin, aku suatu hari nanti diriku akan sebahagia Pola."

Furutaka mengangguk kembali dan kemudian berjalan menjauh. Dan pada saat itu, ia melihat ke arah Frederich dan berkata,

"Semoga kalian bahagia, ya. Dan sebaiknya aku kembali sekarang. Aku tidak ingin Aoba membuat berita aneh-aneh seperti kasus Shiro-san dan Yuuya-san."

Furutaka pun bersiul dan mulai berjalan kembali ke markas Angkatan Laut Kure. Ia sudah melepas Frederich dari jangkauannya karena ia sudah milik orang lain. Dan ia yakin, suatu hari nanti dirinya akan menemukan orang yang dapat membuatnya bahagia juga.

Dan terakhir, Yuudachi melihat ke arah Frederich dari jauh dan langsung membalikkan badannya. Ia berkata kepada Hibiki, Inazuma, Ikazuchi, dan Akatsuki,

"Kita kembali ke markas angkatan laut sekarang."

"Eh ? Yuudachi-chan ?" ujar Inazuma

Ikazuchi memperhatikan Yuudachi dan kemudian langsung menarik Yuudachi sekaligus memeluknya. Yuudachi sangat terkejut dengan hal tersebut. Ikazuchi kemudian berkata,

"Aku tahu apa yang kau pikirkan..."

"..."

"Jika kau kesal... Mungkin aku dapat mendengarkannya."

"Aku... Tidak boleh... kesal... atau... menangis..." ujar Yuudachi

"Mengapa demikian ?"

"Aku tidak... Ingin membuat... Shigure... Mama... dan... Papa... khawatir." ujar Yuudachi mulai sedikit menangis

"Sudah... Sudah..." ujar Ikazuchi sembari mengelus kepala Yuudachi

Yuudachi mulai menangis sedikit di pelukan Ikazuchi. Akatsuki dan Inazuma langsung mengusap kepala Yuudachi, sementara Hibiki tersenyum melihat hal tersebut. Ia bergumam pelan,

"Aku yakin... Kau pasti kuat, Yuudachi."

Setelah itu, Hibiki langsung mengelus kepala Yuudachi untuk membantu ketiga saudarinya menenangkan Yuudachi. Setelah cukup tenang, Yuudachi mengangguk dan kemudian berkata,

"Terima kasih banyak, poi~"

"Sama-sama." ujar Ikazuchi

"Jadi... Mari kita pulang sekarang." ujar Yuudachi

Keempat orang di sekitarnya pun mengangguk dan langsung berjalan ke halte bus. Yuudachi melihat sebentar ke arah Frederich dan kemudian berkata,

"Semoga kau bahagia, poi~"


Sementara itu, Frederich selesai mencium Pola dan melihat wajah Pola yang merah karena malu. Ia pun juga merasakan darah yang mengalir ke kepalanya saat ini. Pola mendadak tertawa dan kemudian berkata,

"Kau benar-benar belum ahli untuk urusan ini, ya..."

"Diam kau..." ujar Frederich

Pola tersenyum dan kemudian melepas pelukannya ke Frederich. Setelah itu, ia langsung menarik Frederich dan kemudian berkata,

"Bagaimana jika kita ke restoran itu sekarang ?"

"Boleh saja. Tapi, dari mana kau mengetahui restoran itu cukup enak ?" tanya Frederich mendadak

"Rahasia." ujar Pola

"Jika demikian... Aku akan mentraktir dirimu minuman di sana."

"Eh, begitukah ?!"

"Iya. Dan aku akan membantumu jika dimarahi oleh Zara."

"Terima kasih banyak."

Frederich tersenyum dan kemudian mengikuti Pola yang menarik dirinya. Saat ini, ia merasa seperti orang paling beruntung karena hal ini.


"Jadi... Bagaimana kencannya ? Sukses ? Sepertinya sih iya pada saat diriku dan Taihou melihat dirimu di restoran itu kemarin."

Itulah yang didengar dari Frederich keesokan harinya pada saat bertemu Viltus. Ia sama sekali tidak menyangka bertemu dengan Viltus dan Taihou di restoran tersebut. Viltus sendiri langsung tertawa pada saat membicarakan itu kembali.

Setelah selesai tertawa, Viltus langsung berkata,

"Jadi... Bagaimana menurutmu ?"

"Huh ?"

"Pada akhirnya kau sudah menentukan pilihanmu, benar ? Jadi bagaimana rasanya menjadi pasangan ?" tanya Viltus

"Aoba... Dia menyebalkan." ujar Frederich

"Sekarang kau mengerti perasaanku, kan ? Ahahahahaha."

"Iya."

Viltus langsung diam sebentar dan kemudian berkata,

"Aku tahu kejadian kemarin itu sangat berat bagi dirimu. Namun, aku cukup senang akhirnya dirimu mendengarkan kata hatimu sendiri."

"Iya."

"Dan diriku benar-benar tidak menyangka dirimu akan menyatakan perasaannya pada saat itu." ujar Viltus

Frederich tersenyum pada saat mendengar itu. Ia pun mendengar Viltus kembali berkata,

"Dua anggur ini sudah hampir matang. Aku cukup senang mendengarnya."

"Eh ?"

"Sudahlah..."

Viltus kemudian melihat ke arah luar ruangan dan melihat beberapa Gadis Kapal yang mengelilingi satu Gadis Kapal. Viltus tersenyum dan kemudian berkata,

"Aku harap... Kalian akan tetap akur..."

"Aku pun berharap demikian." ujar Frederich

"Baguslah. Jika dirimu ingin meminta bantuan, temui saja diriku atau Taihou. Jangan Marcos." ujar Viltus sembari tertawa

"Iya." ujar Frederich sembari tertawa juga

Mereka berdua tertawa bersama dan kemudian langsung melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Sungguh sebuah hari yang indah di Kure. Huh ? Kabar Marcos bagaimana ? Oh tentu saja saat ini dia di satu ruangan di bawah pengawasan dari Hayate sembari menikmati coklat yang diberikan oleh Shigure dengan satu tangan dirantai. Maka dari itu, saya mengatakan. Sungguh hari yang indah di Kure, benar ?


HakunoShibou di sini !

Cerita ini khusus untuk Valentine ! Ya, Valentine !

Sebenarnya, ini menggunakan ide 'Viltus' Deadly Date', tetapi sedikit diubah karena ada perubahan di Viltus dalam cerita Great Phoenix. Dan dengan ini, cerita Viltus' Deadly Date pun dihentikan karena cerita ini. Ahahahaha.

Dan ide utama dari cerita ini adalah... Kekacauan dari Carnival Phantasm ! Sungguh inspirasi yang luar biasa bagi diriku ini. Ahahahahaha

Dan Romance bukanlah bagian terkuatku ! Maafkan hamba jika kalian semua melihat ada yang aneh atau sesuatu yang cliche.

Daripada diriku terus berkata yang aneh-aneh lagi.

Sampai jumpa di kesempatan berikutnya !