90 DAYS chap 2
Pair : Chanbaek, Hunbaek,slight Hunhan,ChenXiu
Genre : Boys Love, Romance, Hurt/Comfort
Rated : T+
Warning : terdapat banyak typo bertebaran, dan alur tak masuk akal.
Hari ini tepat dua minggu sejak kepulangan Baekhyun, dan dia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya ke dunia luar. Baekhyun hanya tak ingin membuat Hyungnya semakin risau dia tau bahwa di depan pagar rumah mereka puluhan wartawan menunggunya untuk mengelurkan informasi mengenai pesawat yang dia tumpangi.
Beberapa hari yang lalu Baekhyun sering pingsan saat ingatannya mulai bermunculan dan itu membuat Luhan khawatir setengah mati, namun sekarang Baekhyun tidak mengalami hal itu lagi hanya saja rasa nyeri dikepala yang tak bisa dia hilangkan.
Baekhyun berada di dapur saat dia mendengar bel rumahnya berbunyi, pria manis tersebut cukup kaget mengingat penjagaan ketat yang telah Hyungnya gunakan di rumah mereka jadi seseorang tidak bisa dengan mudah masuk bahkan untuk memencet bel rumah.
"Suho-si bukankah aku sudah bilang aku tak mau melakukannya." Baekhyun mendengar suara kakaknya dari ruang tamu.
Pria mungil itu berjalan menuju belakang tembok mengintip siapa tamu tersebut. Kemudian netranya melihat seorang pria berpakaian lengkap dengan jas hitam yang sangat rapi.
"Luhan, kau tak bisa terus menyembunyikannya mereka butuh kepastian dan yang bisa memberikannya adalah adimu." Ucap Suho.
"lalu menurutmu apa yang kau lakukan padaku? kau tak pernah memberiku kepastian, aku kadang merasa sangat lega saat mendengar berita jika pesawat sialan itu tidak pernah menghilang tapi terkadang aku hampir gila saat mendengar jika pesawat itu menghilang dan tak ada yang selamat." Baekhyun melihat kedua bahu hyungnya yang bergetar, dia yakin bahwa hyungnya tengah menagis.
"Maafkan aku Luhan, saat itu aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan, pihak agensi terus menekanku dari atas dan para penggemar menekanku dari bawah aku tak bisa melakukan apapun. Kumohon hanya adikmu yang bisa meredam segala rumor yang beredar." Ujar Suho, dia berdiri dari duduknya dan mengelus pundak Luhan.
"tapi adikku tidak bisa mengingat apapun selama 90 hari dia menghilang." Ucap Luhan dengan suara serak.
"tenang saja aku mengenal seorang Psikiater yang bisa mengobati Baekhyun, lagipula dia juga perlu tau siapa ayah dari bayi yang dia kandungkan?"
"Baiklah, aku akan meberi taukan hal ini pada Baekhyun. Tapi kurasa ayah dari bayi yang dikandung Baekhyun adalah Sehun." Ujar Luhan kemudian tersenyum lirih.
"Ah, terimakasih Luhan, dan berhentilah berfikiran dan Sehun tidak mungkin berlaku sejahat itu." Ucap Suho dia mengelus rambut luhan sayang.
Baekhyun menyandarkan tubuhnya dibelakang tembok, dia tersenyum miris. Selama ini dia menutup mata akan kesalahannya dan terus bersenang senang dengan fatamorgananya tanpa memikirkan siapa yang dia lukai selama ini.
'Kau salah Suho hyung, aku dan Sehun adalah orang jahat, orang yang sangat jahat yang telah melukai hati seorang malaikat.
.
.
.
" Jadi, Baekhyun-si maksud anda pesawat tersebut jatuh dipulau terpencil?"
"hmm"
"lalu apa anda kenal dengan penumpang lain? Apa anda mengenal Kim Min Seok? Kim Jong Dae?"
"Kim-Min-Seok? Kim Jong Dae?" Baekhyun meremas kedua tangannya yang telah dibanjiri keringat, dan lagi sebuah percakapan berdengung di telinganya.
'perkenalkan namaku Kim Jong Dae kau bisa memanggilku Chen dan dia adalah Kim Min Seok .'
'Ya!tidak boleh, yang bisa memanggilmu Chen hanya aku.'
'Xiu, namaku terlalu panjang untuk disebut.'
'apa susahnya memanggilmu Jongdae atau apapun yang mereka mau asal bukan chen.'
'hentikan, jongdae-si aku akan memanggilnya begitu. Perkenalkan namaku Byun Baekhyun ah senang bekenalan denganmu juga Xiu-si.'
'Jangan memanggilku Xiu, yang boleh memanggilku begitu hanya chen.'
'ok, senang bekenalan denganmu Minseok-si.'
"Hmm, kurasa aku juga bersama mereka tapi aku tak mengingat apa-apa."
"Aku mengerti Baekhyun-si kau tak perlu memaksakan diri, lalu bagaimana dengan Kim Tae Hyun?"
"Tae Hyun?" pekik Baekhyun. Dia begitu terkejut mendengar nama junior kesayangannya itu.
"ya, Kim Tae Hyun dia juga ikut dalam pesawat tersebut." Jelas Psikiater.
Baekhyun menutup mulutnya terkejut. Dia meremas rambutnya frustasi. Dia harus mengingat hal yang terjadi 90 hari yang lalu, bisa saja junior yang telah ia anggap sebagai seorang adik-anak lebih tepatnya- masih hidup dan menunggu untuk di selamatkan.
"Arghhh,,," Jerit Baekhyun Frustasi.
Sekeras apapun dia berusaha dia tidak bisa mengingat apa-apa, tapi jika boleh jujur Baekhyun mulai memiliki kembali potongan-potongan ingatannya secara random, tapi dia belum berani berspekulasi sembarangan kerena diluar sana ribuan orang menunggu keterangan darinya dan dia tidak ingin menjadi orang yang lebih jahat dengan membohongi banyak orang.
"Baekhyun-si, kau tak apa-apa." Tanya Psikiater tersebut dengan mengguncang kedua pundak pasiennya guna membawa kembali atensi pada pemiliknya.
Namun Baekhyun tetap bergeming dia ,masih meremas rambutnya frustasi, dia sangat menghawatirkan juniornya itu dan sekarang Baekhyun mengerti bagaimana perasaan Hyungnya selama ini.
"Bisakah kita menghentikan pemeriksaan hari ini seongsang-nim." Baekhyun mengangkat wajahnya. Dia berdiri dari tempat duduknya tanpa persetujuan Psikiater dan berjalan keluar.
Dia melangkah perlahan mengelus cincin platiana yang melingkar di jari manisnya kemudian beralih mengelus permukaan perutnya. Kepalanya terlalu berat untuk dimintai keterangan dan dia terlalu takut untuk mengetahui hal yang lebih mengerikan lagi. Perlahan-lahan Baekhyun menangis dalam diam.
.
.
.
Mobil yang Baekhyun tumpangi berjalan pelan membelah trotoar jalan, Pria mungil itu memakukan pandangannya keluar jendela mobil, hingga mobil yang ia tumpangi melewati toko buah. Tiba-tiba kelenjar ludahnya memproduksi saliva lebih banyak dan dengan terpaksa Pria manis itu menelannya dengan rasa ingin.
" Pak, bisakah anda memutar balik? Aku sangat ingin membeli buah di toko yang kita lewati tadi." Tanya Baekhyun dengan semangat.
"Ah,tentu tuan." Jawab Sopir tersebut. Dengan cepat supir tersebut membanting kemudinya dan memutar balik ke toko yang diinginkan tuannya.
Saat melihat siluet toko Baekhyun memanjangkan lehernya dengan antusias. Ketika mobil itu berhenti Baekhyun dengan cepat melompat dari dalam mobil dan berlari menuju pintu masuk toko.
Entah mengapa Baekhyun sangat mengingikan buah berwarna orange itu, sebelumnya dia tidak pernah memiliki niatan untuk mengkonsumsi buah pepaya tapi entah kenapa dia sangat menginginkannya sekarang bahkan air liurnya tak pernah berhenti untuk diproduksi saat melihat buah berwarna orange itu.
Baekhyun kembali kedalam mobil setelah membeli sekantong penuh buah pepaya,hanya pepaya. Didalam mobil Baekhyun kembali memperhatian pepaya yang dia beli namun tiba-tiba kejadian melintas dihadapannya.
'eomma, aku sangat lapar.'
'kalau begitu makanlah pepaya ini.'
'jangan memanjakannya Baek, dia sudah besar.'
'bilang saja kau iri dasar tiang.'
'Ya!aku ini seniormu setidaknya panggil aku Hyung.'
'tidak mau,aku adalah anak eomma dan kau adalah milik eomma untuk apa aku menghormatimu.'
'dasar bocah kurang ajar, kemari kau.'
'huaaa,eomma ada tiang yang mengejarku selamatkan aku eomma.'
'Tae berhenti jika seperti ini kau akan cepat haus dan, Ya! Park Chanyeol berhenti menguci lehernya kau bisa membunuhnya.'
Baekhyun kembali memegangi kepalanya yang pening, kemudian menyederkan punggunya di kursi. Dia memijat pelipisnya pelan.
'Tae, jadi kau juga disana? Lalu sebenarnya apa yang telah terjadi pada kita? Apa yang telah terjadi padaku selama 90 hari?'
.
.
.
HARI KEBERANGKATAN
Baekyun mengenpelkan poselnya di legia kirinya, dia tengah menelpon hyungnya yang sampai sekarang belum datang kebandara. Suasana bandara hari ini sangat sesak baberapa kru tengah mondar mandir mengurusi properti yang harus mereka bawa dan beberap manager yang kewalahat menuruti permintaan artisnya.
'hyung kau diamana? Pesawat akan segera berangkat.'
'bagaimana bisa, jadi aku harus pergi duluan? Apa aku harus pulang dan kita berangkat bersama saja?"
'baiklah hyung, cepat sembuh.'
Baekhyun kembali memasukan poselnya kedalam saku celanya, dia memalingkan pandangannya kepada seorang pria yang tengah memeluk wanita dengan perut yang besal.
"Jondae, kau harus berjanji untuk cepat pulang dan melihat anak kita lahir." Ucap wanita tersebut dia perlu meninggikan lehernya untuk melihat suaminya.
"tentu saja, kau jaga dirimu dan bayi kita baik-baik aku akan segera pulang." Jawab Jongdea di mengelus rambut istrinya lembut.
Jongdae berlutut di depan perut besar sang istri dan mendekatkan telinganya disana, dia tersenyum lebar ketika mendengar pergerakan dari dalam sana.
"Jaga eommamu saat appa sedang pergi ya jagoan. Appa akan segera pulang jadi tunggu Appa." Ucap Jongdae kemudian mengelus lembut perut istrinya.
"Chen pesawatnya sudah mau berangkat, cepatlah." Suara pria manis bermata mirip kucing mengintrupsi kegiatan mereka.
Cehen berdiri dari menunduknya dan mengecup kening istrinya cepat.
"Aku pergi dulu." Bisik Chen ditelinga istrinya. Dan sang istri mengangguk
"Ayo xiu, kau juga perlu memeriksa ulang barang bawaanmu." Chen berbalik dan menatap pria yang dia panggil Xiu.
"maka dari itu kau harus menemaniku,kenapa harus membuat drama picisan seperti itu,kau kan hanya pergi selama 3 hari." Gerutu Xiumin, dia menarik lengan Chen dan berjalan dengan cepat menuju tumpukan barang bawaannya.
"ya,ya,ya, nona manis aku hanya ingin menyapa calon anakku." Bela Chen, yang mendatangkan decihan dari Xiumin.
Baekhyun mengalikan pandanganya saat merasakan Handphonya bergetar di dalam sakunya.
'Brengsek 2 calling'
Baekhyun dengan cepat menggeser layar handphonya dengan cepat dan mendekatkannya ketelingannya.
'Babe,aku menunggumu di pesawat aku membatalkan jadwalku dan aku akan pergi bersamamu.'
'Apa? Chanyeol kau sudah gila.'
'ya, aku tergila-gila padamu babe.'
'Fuck you.'
'yes, i will Fuck you later.'
'Brengsek'
Baekhyun menutup sambungan telephonenya dengan kesal kemudian berjalan menuju pesawat.
TBC
...
N.B : di chap lalu gue salah nulis kalo sehun calon adik iparnya si Baek padahalkan luhan kakaknya baek*mohon maafkan saya*,gue juga nggak nyangka banyak yang suka aman fic abal gue. Atas fav,foll,dan review saya ucapkan banyak terimakasih. Dan yang terakhir review sangat mempengaruhi kelangsungan fic ini*plak,nggak tau diri*.
Review?
