SUMMARY

Menjadi putri seorang pelacur adalah takdir yang membuat Baekhyun hancur dan membenci ayahnya. Begitu pula ia tak ingin menggantungkan hidupnya pada pria manapun. Lalu takdir juga selalu mempertemukannya dengan Park Chanyeol, putra pengusaha kaya raya yang angkuh dan menyebalkan. Bagaimana Baekhyun menanggapi semua ini ?

SEBELUMNYA...

Pletak ! Oops.. Tiba-tiba sebuah benda melayang, mendarat sempurna mengenai dahi mulus Chanyeol dan meninggalkan bekas merah disana. Adakah yang seberani itu melukai dahi Chanyeol dengan kaleng kosong? Tamat riwayatnya. Batin Jongin melihat Chanyeol meringis kesakitan sambil memegang dahinya.

"SIAPA YANG BERANI-BERANINYA MELAKUKAN INI PADAKU!" Murka Chanyeol sembari memungut kaleng yang mengenai dahinya tadi dan meremasnya kuat-kuat. Ia kemudian mencari sosok atas insiden ini.

Ada. Sudah jelas ada yang seberani itu. Baekhyun contohnya. Tapi bukan karena Baekhyun sengaja. Dia menendang kaleng itu sambil melamun. Sontak melihat hal ini Baekhyun berlari kabur. Ia benar-benar tidak menyangka kaleng itu akan mengenai seseorang karena sudah jelas ia melamun tadi dan tidak melihat orang-orang disekitarnya. Baekhyun menambah kecepatan larinya karena ternyata orang itu mengejarnya. Ya.. Chanyeol mengejarnya.

"Dasar gadis tidak tau diri ! Berhenti kau!" Chanyeol sudah tidak kuat berlari, napasnya sudah tersengal-sengal. Ia berhenti dan DUG ! Lemparannya tepat asaran.

Yang terkena lemparan langsung jatuh tersungkur. Bagaimana tidak, tubuh Baekhyun bisa dibilang mungil dan benda yang dilemparkan Chanyeol adalah sepatunya. Sepatu pantofel berukuran 45 dengan berat sekitar kurang lebih 1 kg.

"Yak ! Pria itu benar-benar.." Baekhyun merasa tulang punggungnya akan keropos setelah ini. Sakit bukan main. Karena gemas, Baekhyun pun segera bangun dan membawa sepatu itu lari bersamanya. Aku melukaimu dengan kaleng dan kau dengan sepatu ? Sepertinya kau tidak membutuhkan benda ini lagi, bukan begitu ? Guman Baekhyun dalam hati sambil tersenyum penuh kepuasan. Walau begitu, ia tak bisa membohongi dirinya bahwa ia sudah tidak sanggup berlari karena punggungnya terasa nyeri akibat sepatu 'raksasa' itu.

"YAK ! MAU KAU BAWA KEMANA SEPATUKU ? HEI KEPARAT BERHENTI ! KEMBALIKAN SEPATUKU !"

Chanyeol sudah tidak kuat. Tidak kuat berlari ataupun berteriak. Yang dia teriaki juga sudah berlalu jauh. Sepertinya hari ini merupakan hari tersial bagi Chanyeol. Bisa-bisanya gadis itu membawa sepatuku. Umpat Chanyeol seolah tak percaya dengan kejadian ini.

.

.


BETWEEN US


.

.

CHAPTER 2

"Gwenchana?" Tanya Jongin sambil menepuk pundak Chanyeol. Ia menyusul Chanyeol yang mengejar gadis itu. Napasnya pun ikut tersengal-sengal.

"Hm.. Gwenchana. Tapi gadis sialan itu membawa kabur sepatuku saat aku melempar dan mengenainya."

"Apa? Sepatumu? Jeongmal? Wahahaha.."

"Kenapa kau tertawa? Kau seharusnya membantuku mengejar gadis itu." Chanyeol merasa tersinggung karena Jongin bukan membela malah menertawakannya.

"Hahahaha.. Mianhae. Aku hanya heran, kenapa ayahmu bisa mempercayakan perusahaannya kepadamu? Kenapa bukan yixing atau sehun? Kau benar-benar terlihat bodoh sekarang. Untuk apa kau lempar sepatumu padanya?"

"Aku ingin memberinya pelajaran. Bahkan dia sempat tersungkur tadi. Aku benar-benar tidak percaya dia akan membawa lari sepatuku juga. Apa dia tidak tau betapa mahalnya sepatu itu? Membunuhnya saja tidak cukup untuk menebusnya." Jawab Chanyeol kesal.

Baekhyun benar-benar berhasil membuat Chanyeol kehilangan suasana hati yang baik dan tentu saja nafsu makannya. Jika saja insiden tadi tidak terjadi, Chanyeol pasti sudah merasa kenyang setelah menyantap makanan lezat di restoran favoritnya itu.

"Sepertinya kau sudah kehilangan nafsu makanmu, bung. Bagaimana jika aku memberimu 'sedikit' hiburan?" Jongin mengedipkan sebelah matanya. Ia seperti memberi isyarat pada Chanyeol untuk melakukan sesuatu. Ia paham sekali sahabatnya itu saat sedang kesal. Dan Chanyeol pun mengiyakan tawaran Jongin meski ia bingung apa yang hendak Jongin lakukan padanya.

"Tapi sebelum itu, antar aku ke toko sepatu terlebih dulu."

"Hahaha, ya ya baiklah tuan muda.."

Mereka berdua berjalan kembali menuju mobil dan pergi ke toko sepatu bersama. Tentu saja, sepanjang perjalanan Jongin tak hentinya menggoda Chanyeol dan itu membuat Chanyeol semakin panas. Chanyeol harap ia takkan bertemu dengan gadis 'pencuri sepatu' itu lagi.


Cukup lama waktu yang harus Baekhyun tempuh ke tempat kerjanya mengingat ia harus mencari jalan alternatif lain. Jika saja ia tidak bertemu dengan pria itu, ia pasti sudah sampai 20 menit yang lalu. Baekhyun mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia harus seceroboh itu? Dan pandangannya sekarang terpusat pada sepatu di tangannya. Hah.. Bodoh sekali. Kenapa aku harus membawanya? Kenapa tidak aku tinggalkan saja? Sekarang, pria itu pasti sedang mencariku. Bagaimana jika suatu hari nanti aku harus bertemu dengan pria itu lagi? Baekhyun terlihat mengomel sendiri di depan pintu samping tempat ia bekerja.

Banyak hal menakutkan yang Baekhyun bayangkan. Mulai dari ketakutannya dipenjara sampai dibunuh. Badannya mulai merinding mengingat tatapan murka Chanyeol akibat ulahnya tadi. Ah.. Tidak! Tentu tidak. Sepertinya dia orang kaya. Hahaha, dia pasti akan membeli sepatu yang baru dan mengikhlaskannya. Aku yakin itu. Semoga saja begitu. Batin Baekhyun menghibur diri. Ia lalu memasukkan sepatu itu kedalam ranselnya dan segera masuk.

"Oh.. Baekhyun annyeong." Sapa seseorang yang sedang beres-beres terkejut melihat kedatangan Baekhyun. Bagaimana tidak? Baekhyun sering kali terlambat datang saat waktu bekerjanya tiba. Teman-temannya sudah hafal betul kebiasaan Baekhyun ini. Tak jarang ia harus menerima omelan temannya karena temannya itu baru bisa pulang setelah ia datang. Yap.. Baekhyun mendapat bagian shift kedua, shift malam.

"Hmm.. Jongdae annyeong." Balas Baekhyun lemas.

"Ya ! Ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa cemberut?" Tanya Jongdae terlihat khawatir.

"Huft.. Aku.."

Belum sempat Baekhyun melanjutkan kalimatnya, seseorang lain datang menghampirinya.

"Baekhyun eonni? Apa itu kau? Atau mataku mulai rabun?"

"Bukan, aku hantu. Hissh.. Yang benar saja minnie! Ini benar aku." Jawab Baekhyun kesal sambil memukulkan tasnya yang berisi sepatu 'raksasa' pada seseorang bernama minnie itu.

"Aww.. EONNI SAKIT!" Teriak Minnie tidak terima sambil mengelus pundak kirinya yang kesakitan karena tas Baekhyun.

"Ah, mianhae."

"Gwenchana. Ya, eonni.. Mimpi apa aku semalam oh? Asal kau tau saja. Sekarang masih pukul 6 lewat dan kau sudah disini? Apa kau salah melihat jam atau bagaimana? Tanya 'Minnie' penasaran. Ia pikir tidak biasanya gadis yang dipanggilnya eonnie itu datang lebih awal bahkan sebelum shift pertama berakhir.

"Aigoo.. Xiuminnie.. Harusnya kau senang melihatnya datang lebih awal, bukan mengintrogasinya seperti itu. Yaa.. Walaupun sebenarnya aku juga heran dan ingin menanyakannya." Ucap Jongdae menasehati Xiumin

"Tapi aku senang sekali melihatmu tidak terlambat, Baek. Boss pasti juga senang dan tidak akan mengancam untuk memecatmu lagi." Sambung Jongdae

"Hoo.. Baiklah. Karena waktuku masih kurang 2 jam lagi, biarkan aku istirahat dulu. Aku sangat lelah setelah berlari cukup jauh. Jangan lupa setengah jam sebelum shift kedua bangunkan aku. Aku ingin memberi sedikit kejutan pada yang lain juga." Ujar Baekhyun hendak beranjak dari tempat ia duduki.

"Woo.. woo.. woo.. Eonni, kau kemari dengan berlari? Apa kau sekarang sedang program diet?"

"Nah.. iya. Kenapa kau bilang lelah setelah berlari cukup jauh? Bukankah rumahmu cukup dekat dengan club?"

Baekhyun yang kelelahan langsung pergi begitu saja sambil melambaikan tangannya. Meninggalkan dua insan yang sekarang sedang dipenuh rasa ingin tau. Baekhyun sudah kehabisan energi rupanya, bahkan untuk bicara sekalipun. Ia pun langsung masuk ke sebuah ruangan khusus pegawai club dan merebahkan diri disana. Bisakah hari ini cepat berlalu? Gumamnya dalam hati lalu terlelap.


Sdup.. Sdup.. Sdup.. Terdengar hingar bingar club malam dari luar. Jongin dan Chanyeol sudah sampai. Melihat hal ini, ekspresi Chanyeol langsung berubah. Dari raut kesal menjadi bingung. Ia belum pernah ke tempat itu sebelumnya.

"Kau menghiburku dengan ini?" Tanya Chanyeol mengernyitkan dahi.

Tampak sekali Chanyeol merasa asing dengan tempat yang akan ia masuki sebentar lagi. Jongin memang sering mengajaknya ke club malam, tapi kali ini berbeda. Club malam yang berada di hadapannya sekarang bisa dibilang tidak sebesar dan semewah club yang biasa ia kunjungi. Ia memikirkan satu kata yang cocok untuk tempat itu "kumuh". Sebenarnya tidak seburuk yang ia pikirkan, hanya saja Chanyeol tidak biasa berada di sekitar orang-orang 'kelas rendahan' menurutnya.

"Iya. Inilah hiburan yang aku bicarakan tadi. Ayo masuk." Jawab Jongin santai.

"Tunggu. Apa kau bercanda? Apa kau sengaja membuatku bertambah marah sekarang?"

"Hey ayolah.. Tempat ini tidak buruk. Masuk saja dulu. Apa kau tidak rindu dengan Kris?"

"Kris? Kris siapa?"

"Astaga.. Wu Yifan. Kita sering memanggilnya Kris, dulu. Dia adalah rivalmu dalam pemilihan kapten tim basket saat SMA, kau ingat? Kris yang terpilih bukannya kau. Tapi mengetahui kau keluar dari tim setelah pemilihan, dia memutuskan untuk menyerahkan jabatannya pada orang lain dan ikut keluar. Kris berpikir permainan jadi tidak seru lagi tanpamu. Dan seingatku, kalian mulai dekat dan akrab setelahnya. Kris pindah ke China setelah lulus dan bekerja disana. Dan sekarang dia kembali ke Korea dan bekerja di club ini. Aku mengajakmu kesini untuk menemuinya."

Jongin tampak antusias saat bicara tentang masa lalu Chanyeol dan Kris sedangkan Chanyeol berusaha memutar kembali memori lama. Perlahan Chanyeol mengingat satu persatu kenangannya bersama Kris. Chanyeol mulai ingat. Ya, sekarang Chanyeol ingat semuanya.

"Oh.. ya baiklah aku ingat sekarang. Dan apa kau bilang? Dia bekerja disini? Hmm.. Sungguh tidak layak." Ejek Chanyeol sembari mengamati lingkungan sekitar club. Yang benar saja. Umpat Chanyeol berbisik.

"Aissh.. kau ini. Sudah, ayo masuk."


Dentuman musik DJ dan sorot lampu warna-warni adalah favorit Jongin. Terlihat ia sangat antusias begitu memasuki club dan berjalan sambil menggoyangkan badannya dengan semangat. Tak lupa ia menggoda setiap wanita yang lewat dengan pesonanya. Jongin merasa tak kalah tampan dengan Chanyeol. Sedangkan Chanyeol sibuk menjaga jarak dengan orang-orang disamping tempat ia berdiri sekarang. Mereka tampak begitu mabuk. Mereka minum sekali teguk, bercumbu dengan wanita-wanita penghibur, lalu minum lagi. Dunia ini serasa milik mereka sendiri yang memiliki dan mengabaikan pandangan sinis Chanyeol.

"Bagaimana? Tidak buruk kan?" Tanya Jongin mengejutkannya.

Dari ekspresi Chanyeol, Jongin sudah tau bahwa Chanyeol sangat tidak menyukainya. Tapi biar saja. Sesekali Jongin memang harus mengenalkan seluruh pelosok dunia bahkan yang paling sudut sekalipun, yang tidak pernah dilihat Chanyeol, meski sahabatnya itu tak jarang menolak atau berujung dengan marah. Chanyeol dibesarkan di keluarga kaya raya yang turun temurun. Chanyeol tidak pernah merasa sedikitpun kekurangan. Oleh karena itu, perilakunya sangat angkuh dan suka merendahkan orang lain.

Berbeda dengan Jongin. Ia pernah merasakan kesulitan dalam hidup semasa kecilnya. Kekayaan yang sekarang ia memiliki adalah hasil kerja keras ayahnya yang merintis usaha dari bawah. Itu sebabnya Jongin sangat menghargai setiap uang yang ada dan hidup sesederhana mungkin. Chanyeol mengetahui semua itu, dan ia bisa memakluminya.

Menurut Chanyeol, Jongin adalah satu-satunya teman yang bisa mengerti dan tahan atas perilakunya yang kadang temperamen dan kekanak-kanakan. Chanyeol juga banyak belajar dari Jongin, bahwa ia tidak boleh terlalu bergantung pada kekayaan keluarga karena suatu saat takdir bisa saja berputar. 'Hiduplah dengan penuh rasa syukur dan melihat kebawah ' kata-kata itu yang selalu ia dengar dari Jongin. Jongin tidak seperti teman-teman lainnya yang hanya menyukainya karena ia kaya dan punya banyak uang.

"Tidak buruk katamu? Kau lihat saja mereka, menggelikan sekali. Apa mereka tidak bisa mencari tempat lain untuk bercinta?"

"Wahahaha.. Jika mereka sekaya kau tentu saja mereka akan melakukannya di apartment bukannya disini. Sudahlah, ayo sebaiknya kita langsung menemui kris. Itu dia disana." Jongin tidak hentinya menertawai Chanyeol. Ia merasa Chanyeol sebenarnya sangat lugu. Terbukti dari caranya menanyakan hal-hal kecil seperti tadi. Dan yang ditertawai hanya mendengus kesal dan berjalan mengabaikan Jongin.

"Kris.."

"Chanyeol, apa itu kau? Hey what's up dude? Kau terlihat masih sama dengan dulu. Aku bahkan masih mengenalimu." Kris tampak senang atas kehadiran Chanyeol. Ia beranjak dari tempatnya dan langsung memeluk teman lamanya itu. Chanyeol pun membalas pelukan itu dengan sama hangatnya. Ia juga merindukan teman lamanya itu.

"Kau juga masih sama, Kris. Jadi.. Kau bekerja sebagai bartender disini?"

"Ya.. Seperti yang kau lihat. Hahaha.. Oiya, kau ingin minum apa? Dan dimana Jongin?"

"Jongin? Tadi dia dibel..." Kata-katanya berhenti saat ia menoleh dan mendapati Jongin tidak ada di belakangnya. Matanya lalu mulai mencari dan akhirnya terpusat pada sosok yang sangat dikenalnya itu sedang bersenda gurau dengan seorang wanita penghibur dan merayunya hingga wanita itu tampak malu-malu.

"Hissh.. Bocah itu benar-benar." Chanyeol tampak geram lalu mengalihkan pandangannya pada Kris lagi.

"Hahahaha. Sudah, biarkan saja dia. Jadi, kau mau minum apa?"

"Hmm.. Give me my Jack." Tunjuk Chanyeol pada sebuah botol yang sangat dikenalnya itu.

"Jack Daniels? Alright then." Kris mengangguk paham dan langsung menyiapkan pesanan Chanyeol.

Chanyeol kemudian meneguk minuman yang ada di gelasnya sedikit demi sedikit sambil mengamati sekitar. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan tempat ini dan menikmatinya. Ia terlihat sedikit menggoyangkan badannya mengikuti alunan musik Dj yang saat ini di putar.

"Sudah berapa lama kau bekerja disini?" Tanya Chanyeol pada Kris tiba-tiba

"Ha? Apa?"

"SUDAH BERAPA LAMA KAU BEKERJA DISINI?" Chanyeol mengulangi pertanyaannya dengan sedikit berteriak. Alunan musik yang semakin keras membuat Kris kurang jelas mendengar suara Chanyeol tadi.

"BARU SETAHUN YANG LALU." Jawab Kris dengan nada yang sama kerasnya dengan Chanyeol kemudian tertawa.

"Sepertinya pamanku juga sedang mencari bartender pengganti, apa kau berminat? Jika iya, aku akan merekomendasikanmu padanya. Kau bisa mendapat upah 3x lipat dari yang kau dapatkan disini." Chanyeol memberi penawaran. Ia hanya sayang melihat teman lamanya itu bekerja di tempat sekecil ini walau sepertinya Kris tampak tidak keberatan.

"Ah, begitukah? Thanks, dude. Aku akan menghubungimu setelah aku memikirkannya terlebih dulu. Lagi pula, disini juga tidak terlalu buruk. Tapi, sekali lagi terima kasih." Kris tersenyum tulus.

Kris ternyata salah duga. Chanyeol tidak seperti dulu lagi yang dingin dan kasar. Chanyeol yang sekarang sedikit lebih ramah. Setidaknya itu lebih baik karena dulu jangankan mengobrol, saat diajak bicara bahkan Chanyeol tidak melihatnya dan menjawab sekenanya.

"Hey Kris, apakah club ini punya ruangan VIP?"


Pukul 21.00. Sial ! Umpat Baekhyun. Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Baekhyun mengomel sendirian di dalam ruang khusus pegawai dan buru-buru mengganti pakaiannya. Ia membuka lemari dan mendapati pakaian kerjanya disana. Pakaian favorit Baekhyun di hari Selasa. Pakaian berwarna putih tanpa lengan itu tampak terbuka. Ia hanya menutupi bagian depan saja dari bawah leher sampai perut. Sedangkan bagian leher menggunakan model huruf V jika dilihat dari depan. Lalu untuk bagian belakang atau punggung hanya sebatas tali-tali saja yang menghubungkan bagian samping kanan dan kiri seperti dua huruf X atas bawah. Kemudian untuk bagian bawah, Baekhyun menggunakan rok span hitam ketat yang panjangnya hanya sampai separuh pahanya. Tidak lupa ia juga memakai sepatu highheels yang tingginya 10cm.

Baekhyun benar-benar seksi sekarang. Tubuhnya yang mungil dan elok, dengan payudara dan pantat yang berisi cukup membuat para pria yang melihatnya akan ternganga penuh gairah. Belum lagi lipstik merahnya itu, benar-benar membuatnya berubah drastis dari seorang gadis menjadi wanita dewasa. Itu sebabnya, Boss yang mempekerjakan Baekhyun tidak pernah bisa memecatnya walau ia berkali-kali berbuat kesalahan.

Pernah suatu ketika, Boss sangat marah pada Baekhyun hingga teriakannya terdengar sampai ke tempat para pengunjung. Dan saat Boss-nya hendak pulang, seorang pengunjung memukulinya hingga babak belur karena ia telah berani membentak-bentak Baekhyun dan membuat Bekhyun sedih. Ya.. Baekhyun punya banyak penggemar di club. Meski begitu, Baekhyun tidak pernah tertarik untuk bergaul atau memuaskan para pria hidung belang itu. Ia hanya menggoda dan mengundang nafsu mereka saja. Semua laki-laki itu sama, mereka semua seperti binatang.

"Oh, eonni, kau sudah bangun? Mian, aku tidak membangunkanmu karena Boss melarangku. Kau tidur sangat nyenyak tadi." Ujar seorang gadis yang bernama lengkap Kim Minseok atau yang biasa dipanggil Xiumin oleh para pengunjung itu.

"Gwenchana, Minnie. Aku bisa mengerti. Oiya, apa hari ini Kris masuk? Aku ingin memberinya pelajaran karena sudah membuatku mabuk berat kemarin."

"Kris-ge? Ah.. Iya dia masuk. Tadi aku melihatnya sedang mengantar seseorang ke ruang VIP. Dan ya, aku hampir lupa. Boss berpesan padaku jika kau sudah bangun, segera temui tamu VIP itu dan layanilah dengan sangat baik."

Baekhyun kembali menghelas nafasnya kasar. Lagi-lagi teman Baekhyun yang khusus melayani tamu VIP itu tidak masuk bekerja dan pada akhirnya dia yang menggantikan. Baekhyun paling benci jika harus menemui tamu-tamu kelas atas seperti itu. Ia akan berada sebuah ruangan bersama pria-pria kaya dan melayaninya sambil bergelayut manja. Belum lagi jika mereka bersikap kurang ajar dengan meraba dan mencumbunya. Atau jika mereka memintanya memuaskan nafsu mereka. Sepertinya Boss lupa saat Baekhyun menghajar para tamu VIP dengan seni bela diri yang ia kuasai karena berusaha memperkosanya.

"Luhan tidak masuk lagi? Kenapa dia selalu menyusahkanku dengan ketidakhadirannya? Kemana dia sebenarnya?" Tanya Baekhyun kesal.

"Luhan eonni hanya mengirimiku pesan berisi dia sedang menyelesaikan suatu urusan. Saat aku balas urusan apa ia tidak membalas lagi." Jawab Minnie.

"Ya ya, baiklah. Aku akan segera kesana. Dan.. Bisakah kau bantu aku mengikatkan ini dengan sangat rapat? Ikatlah ini dua kali agar para binatang itu tidak dengan mudah melepasnya dengan sekali tarik. Bila perlu kau tali mati saja." Pinta Baekhyun pada Minnie untuk mengikatkan tali baju bagian belakangnya itu. Dan langsung saja Minnie melakukan apa yang eonni-nya itu minta.

"Oiya eonni, Boss menyuruhmu melayani tamu VIP yang berada di ruang 2. Ingat, ruang 2. Karena ruang 1..."

"Eonni? Apa kau mendengarku? YA ! EONNI !"

Setelah selesai berganti pakaian, Baekhyun pun langsung bergegas menuju ruang VIP yang berada diatas dengan membawa nampan dan buku pesanan di tangannya. Begitu selesai dengan pakaiannya ia langsung keluar tanpa memperdulikan Minnie yang masih berada disana. Ia tidak ingin membuat Boss-nya semakin marah setelah insiden ia terlambat bekerja karena tertidur tadi. Tapi ini juga bukan salahnya kan? Boss-nya itulah yang salah karena melarang Minnie membangunkannya saat shift kedua dimulai.


"My sweetheart. Hey.. Look at you, Baek. You look so gorgeus as always." Kris yang baru keluar dari ruang VIP langsung menyambut riang Baekhyun yang hendak masuk ke dalam dengan sebuah pelukan kemudian mencumbu leher Baekhyun yang indah.

"Bagaimana kabarmu hari ini? Dan maaf telah membuatmu mabuk berat kemarin." Sambung Kris masih menggelayut pada Baekhyun tapi kali ini memeluknya dari belakang.

"Persetan kau, Kris. Aku pasti akan memberimu pelajaran setelah ini." Ujar Baekhyun kesal melepas pelukan Kris.

"Oh.. Oh.. Santailah sedikit gadis kecilku, jangan marah. Kau bisa menemuiku nanti." Jawab Kris sambil mengusik rambut merah Baekhyun dan membuat rambutnya sedikit berantakan. Tapi kemudian Baekhyun merapikannya lagi dengan tangannya.

"Oiya, apakah kau yang menggantikan Luhan?"

"Hmm.. Wae?"

"Kuperingatkan kau jangan coba-coba menggoda atau merayu tamu yang ada di dalam sini, jangan. Jangan pernah ! Kau bukan seleranya. Jadi jangan main-main atau kau akan menyesal. Cukup tundukkan kepalamu dan bersikaplah sopan. Jika dia butuh sesuatu cepat bereskan atau dia akan menceramahimu panjang lebar yang bisa membuat telingamu serasa terbakar." Ujar Kris menunjuk ruangan yang barusan ia masuki sambil 'sedikit' menakuti Baekhyun.

"Memangnya kenapa aku tidak bisa jadi seleranya? Apa aku ini kurang cantik? Atau jangan-jangan.. dia seorang Gay?"

"Ssstt.. Sudahlah jangan banyak bicara. Segeralah masuk dan ingat kata-kataku barusan."

"Hmm.. Bikin penasaran saja" Baekhyun lalu membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya dia saat membuka pintu karena tamu itu ternyata...

"KRIIIIIISSSSSSSSSS..."

.

.

TBC

.

.

NB : HAI HAI APA KABAR ? AKU MAU NGUCAPIN TERIMA KASIH LAGI NIH UNTUK READERS YANG SUDAH BERSEDIA MEMBACA FF PERTAMAKU DAN MENINGGALKAN REVIEW. AKU SENENG BANGET, ASLI. HEHEHE.. OIYA, AKU MAU CURHAT SEDIKIT, BOLEH YA ? KEMARIN AKU NGGAK SENGAJA NGE-REMOVE 1 REVIEW DI FFKU. HUAAAA.. SALAH PENCET. T.T

MIANHE CHINGU. DUH SIAPA SIH KEMARIN NAMANYA, LUPA. MAAF BANGET YA.. AKU NYESEL LHO SUMPAH, GAK BISA TIDUR MIKIRIN ITU DOANG. HARAP DIMAKLUMI YA KARNA AKU BELUM PERNAH PUBLISH SEBELUMNYA. DAN UNTUK YANG BILANG CERITAKU SAMA DENGAN CINDERELLA VERSI COW. MAAF JUGA KARENA AKU BELUM PERNAH BACA FF ITU JADI AKU NGGAK TAU. DAN SEBENERNYA, AKU BAHKAN NGGAK KEPIKIRAN CERITA CINDERELLA SAMA SEKALI. KAMU MASIH BERSEDIA BACA FFKU KAN ? AKU SIH NGERASANYA BAKAL BEDA BANGET NANTI CERITANYA, PERCAYA DEH. YAUDAHLAH PERCAYA AJA, HAHAHAHA. ^v^

PLEASE REVIEW MY STORY EVERYONE