SUMMARY
Menjadi putri seorang pelacur adalah takdir yang membuat Baekhyun hancur dan membenci ayahnya. Begitu pula ia tak ingin menggantungkan hidupnya pada pria manapun. Lalu takdir juga selalu mempertemukannya dengan Park Chanyeol, putra pengusaha kaya raya yang angkuh dan menyebalkan. Bagaimana Baekhyun menanggapi semua ini ?
SEBELUMNYA..
"Wah.. Kau baik sekali, Baekhyun-ssi. Jika aku jadi dirimu, aku sendiri akan sakit hati saat Chanyeol mengataiku yang tidak-tidak. Tapi baguslah karena itu kau. Terima kasih sudah memahami temanku Chanyeol."
"Sama-sama, Jongin-ssi. Aku juga berterima kasih karena sudah membantuku tadi. Oiya, aku berjanji akan mengganti ponselmu, Jongin-ssi. Tapi tentunya tidak untuk saat ini karena aku belum mendapatkan gajiku untuk bulan ini. Dan kelihatannya itu ponsel mahal, kan? Berapa harganya?"
"Tidak perlu seperti itu, Baekhyun-ssi. Aku masih punya banyak dirumah. Dan yang rusak tadi, itu ponsel murah. Jadi kau santai saja ya.."
"Ah tidak, tidak tidak. Aku pasti akan menggantinya sekalipun itu tidak ada harganya bagimu. Aku yang sudah membuatnya rusak dan aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku itu. Tolong mengertilah." Ujar Baekhyun semakin tidak enak hati.
"Baiklah, terserah kau saja. Atau.. Kau bisa menggantinya dengan hal lain."
"Maksudmu?" Baekhyun mulai bingung sekarang. Apa yang sebenarnya ingin Jongin katakan padanya? Hal lain seperti apa?
"Iya, hal yang lain. Kau bisa menebus ponselku dengan hal lain jadi kau tak perlu menebsnya dengan uang atau ponsel yang baru."
"Memangnya hal lain apa itu?"
.
.
BETWEEN US
.
.
CHAPTER 4
Di depan club, tampak Chanyeol sedang berdiri didepan mobilnya menunggu Jongin. Ia masih saja terngiang kejadian yang baru saja terjadi dan akhirnya membuat Chanyeol menggerutu. Ia bersumpah tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Mulai muncul kebencian pada diri Chanyeol. Ia merasa dipermalukan tadi. Meski hanya Jongin yang melihatnya tetap saja ia tidak terima. Jongin pasti akan menganggap dirinya lemah setelah ini.
Rintik-rintik hujan sudah berhenti sejak tadi. Tapi langit masih terlihat kelabu. Tidak tampak bintang-bintang disana. Langit seakan mengerti betapa buruknya suasana hati Chanyeol sekarang. Chanyeol paling tidak suka dianggap lemah. Apalagi jika lawannya itu adalah perempuan. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak sekarang. Jangan sebut namanya Park Chanyeol jika tidak bisa melakukan apapun demi harga diri dan untuk mempertahankan posisinya. Mereka yang mencari masalah dengannya dipastikan akan menanggung akibatnya.
Sementara itu, Jongin masih berada didalam club bersama Baekhyun. Dirinya membuat Baekhyun jadi semakin penasaran sekarang. Tampak dari wajahnya, Jongin agak ragu mengatakan keinginannya. Ia masih saja bungkam saat Baekhyun bertanya padanya.
"Hey, ayolah. Katakan padaku apa yang kau minta sebagai gantinya? Kau tidak perlu ragu, aku akan mengabulkannya jika aku mampu."
"Hmm.. A-aku takut kau marah, Baekhyun-ssi."
"Memangnya apa yang kau minta sampai-sampai bisa membuatku marah hmm?"
"Aku ingin minta no.. Aku ingin minta nomor ponselmu."
"Ha? Apa? Yak! Kenapa begitu saja kau lama sekali mengatakannya? Hahaha tentu saja aku bisa memberikannya." Baekhyun semakin tertawa melihat wajah Jongin mulai merah sekarang karena menahan malu. Tentu saja itu terdengar lucu bagi Baekhyun. Dan disebrang sana, Kris memperhatikan Baekhyun yang kini sedang tertawa-tawa. Baekhyun sudah tidak murung lagi, syukurlah. Tapi melihat Baekhyun ceria dan itu karena Jongin, Kris 'sedikit' iri.
"Apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya?" Gerutu Kris.
Lima belas menit kemudian Jongin berjalan keluar dari club menuju parkiran. Chanyeol pasti akan memarahinya lagi karena menunggu lama. Lama mengenal Chanyeol, membuat Jongin sudah biasa memprediksi reaksi Chanyeol terhadapnya di setiap kesempatan. Chanyeol sudah didepannya sekarang, tapi ternyata dugaannya salah. Chanyeol hanya diam, melihatnya sebentar dan langsung masuk ke dalam mobil. Biasanya Chanyeol selalu duduk di belakang meski temannya itu yang menyetir mobil. Meski sudah berteman lama, tapi keangkuhan Chanyeol membuatnya masih merasa berbeda status dengan Jongin.
Tapi kali ini Chanyeol memilih duduk disamping Jongin. Entah ada apa dengannya. Tanpa banyak bertanya Jongin pun segera masuk dan melaju pulang. Diperjalanan Chanyeol masih saja diam. Ia tidak telihat marah atau murung. Ekspresinya datar dan itu membuat Jongin merasa bersalah.
"Apa kau marah padaku? Kenapa dari tadi kau diam saja?"
"..."
"Katakan sesuatu?"
"..."
"Hey, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengerjaimu tadi, sungguh."
"Bisakah kau berhenti bertanya? Fokuslah menyetir."
"Kau marah padaku atau gadis itu? Sudahlah Chanyeol, lupakan saja. Dia tidak bermaksud mempermainkanmu. Dia hanya mengajakmu bersenang-senang. Dan apa kau memperhatikannya, Chanyeol? Wajah dan tubuhnya? Fiiiuuu.. Bukankah dia sangat cantik? "
"Hmm"
"Yak! Aku serius. Bukankah dia tidak kalah cantiknya dengan wanita-wanita terkenal yang pernah kau tiduri?"
"Apa hubunganmu dengannya barusan membuatmu seketika buta? Dia tidak lebih dari seorang wanita penghibur yang bekerja di club. Dia tidak cukup cantik dan apa kau tidak lihat postur tubuhnya yang kecil itu? Tingginya bahkan hanya sampai sekitar dadaku." Ujar Chanyeol mulai berkomentar. Kenapa temannya itu jadi membangga-banggakan gadis itu sekarang? Dia baru beberapa jam yang lalu mengenal gadis itu.
"Justru itu, dia terlihat imut dan mungil."
"Apa kau menyukainya?"
"Ha? A.. A-apa?
"Aku bertanya apa kau menyukai gadis itu? Kau terus saja membicarakannya sejak tadi."
"Ah.. Entahlah. Aku baru mengenalnya dan menurutku dia gadis yang baik. Dia cukup menarik. Apa kau tidak tertarik dengannya?"
"Tentu saja gadis sialan itu bukan tipeku."
"Eeeii.. Berhati-hatilah dengan ucapanmu itu. Bisa saja suatu hari nanti kau malah jatuh cinta padanya."
"Jatuh cinta? Cinta bukanlah kebutuhan, Jongin. Wanita diciptakan untuk melayani pria, dan itu memang sudah seharusnya. Nafsulah yang merupakan kebutuhan. Tanpa nafsu kau tidak akan bisa lahir ke dunia ini. Lagi pula dia bukan seleraku, jadi jika kau berminat silahkan saja."
"Hahahahaha, pegang kata-katamu itu ya. Oiya, hidangan penutupmu sudah sampai di apartment. Apa kau ingin aku langsung mengantarmu kesana?"
"Tidak. Batalkan saja. Aku ingin pulang kerumah sekarang."
"Haissh.. Kau mulai lagi."
Pagi menelan malam. Hari ini cuaca di Seoul terlihat cerah. Begitupula Chanyeol yang sudah bersiap berangkat ke kantor berharap hari ini akan jadi lebih baik dari kemarin. Hari ini hari yang sibuk karena seharian penuh Chanyeol harus menemui banyak klien dan mengajak mereka bekerja sama. Tentunya dia tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun saat ini.
"Tok.. Tokk.. Tok..."
"Masuk saja."
"Tuan, sarapan anda sudah siap."
"Baiklah, aku akan segera turun."
"Ah.. maaf Tuan. Baru saja Tuan Jongin menelpon, dia ingin aku menyampaikan padamu bahwa dia tidak bisa menjemputmu pagi ini. Jadi.."
"Sialan! Apa-apaan ini? Dia bahkan tidak langsung menelponku. Si hitam itu pasti... Hasshh." Terlihat Chanyeol mulai menggerutu sendirian.
"Kau boleh pergi, Minri."
Seketika pelayan itu membungkukkan badannya lalu pergi. Chanyeol sudah kehilangan selera makannya. Ia kemudian meraih kunci mobilnya dan menuju ke garasi. Jika hari ini Jongin tidak bisa mengantarnya maka dia akan berangkat sendiri tanpa supir. Ia harus segera berangkat jika tidak ibunya akan memaksa supir mengantarnya dan Chanyeol tidak suka itu.
Supir-supir Chanyeol selama ini tidak pernah bisa merahasiakan apa saja dari ibunya itu. Entah merahasiakan Chanyeol yang suka pergi ke club malam, mengajak seoarang wanita jalang ke apartment-nya, dan aktifitas buruknya yang lain. Bahkan meski Chanyeol sering memberikan tip tutup mulut, tetap saja mulut-mulut supirnya itu lebih tunduk pada Ibunya. Dan saat mengetahui itu semua sudah bisa dipastikan keesokan hari Chanyeol tidak akan keluar rumah seharian karena sakit telinga.
"Aku sangat mengenalmu Jongin. Kau pasti akan pergi membeli bunga atau hadiah untuk gadis sialan itu dan mengunjungi rumahnya. BRAK!" Celoteh Chanyeol memasuki mobil lalu menutup pintu mobil keras-keras. Sudah cukup terlambat untuk meeting dan ini semua karena lama menunggu Jongin.
BETWEEN US
Ting Tong.. Ting Tong..
"Baekhyuunn... Baekhyun cepat buka pintunya ada tamu. Jika sampai aku yang buka kau akan tau akibatnya. BAEKHYUUUNN!"
"KAU SAJA YANG BUKA BYUN HEECUL! AKU SEDANG MANDI!"
"Dasar anak tidak tau diri. Bisa-bisanya dia menyuruh orang tua seenaknya."
Heecul dengan malas berjalan menuju pintu dan membukanya. Matanya yang sayu setelah bangun tidur seketika terbelalak melihat seorang pemuda tampan berdiri dihadapannya membawa bunga dan banyak bingkisan. Siapa pemuda ini? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya? Batin Heecul.
"Hmm.. Maaf nyonya, apa benar ini rumah Baekhyun-ssi?" Tanya pemuda itu membuyarkan lamunan singkat Heecul.
"A.. A-ah.. Itu benar. Baekhyun adalah putriku. Anda siapa? Dan kenapa anda membawa banyak bingkisan?"
Pemuda itu tersenyum lalu mencium tangan ibu baekhyun. Ia kemudian memberikan bunga itu kepada Heecul dan mulai memperkenalkan diri,
"Perkenalkan nyonya, namaku Kim Jongin. Aku adalah teman Baekhyun. Senang bertemu dengan anda." Jawab Jongin ramah lalu membungkuk pada Heecul.
"Aku datang kemari ingin menemui Baekhyun. Apa Baekhyun ada dirumah?" Sambung Jongin.
"Oh.. Tentu saja ada. Putriku itu sangat malas. Tidak mungkin dia beranjak dari rumah sepagi ini. Dia itu seperti burung hantu yang beraktifitas di malam hari. Mari, silahkan masuk. Baekhyun sedang mandi." Ujar Heecul sambil mempersilahkan Jongin untuk masuk.
Jongin pun segera masuk dengan membawa pula bingkisan-bingkisan miliknya untuk Baekhyun. Jongin sedikit terperangah. Dari luar rumah Baekhyun terlihat kecil, namun setelah masuk ternyata ia salah duga. Interior rumah Baekhyun sangat indah dan tidak terlihat sekecil itu. Mungkin itu karena rumah Baekhyun tidak memiliki banyak perabotan. Ditambah lagi, sepertinya Baekhyun dan ibunya sangat rajin membersihkan dan menghias rumahnya. Jadi meskipun sederhana rumah ini terasa begitu nyaman.
Kemudian mata Jongin tertuju pada foto-foto yang memenuhi dinding ruang tamu. Foto-foto itu adalah foto-foto Baekhyun dari kecil sampai sekarang. Wajah Baekhyun terlihat masih sama sejak kecil, tetap cantik dan tentu saja mungil. Tapi kebanyakan dari foto itu adalah foto Baekhyun bersama ibunya. Jongin sedikit mengernyikan dahinya heran. Kenapa mereka tidak memajang foto ayahnya juga? Tanya Jongin dalam hati.
Jongin kemudian duduk di sofa setelah dipersilahkan duduk lalu memperhatikan sekeliling. Kemudian matanya kembali tertuju pada sesuatu, yaitu kulkas. Tidak ada yang spesial dari kulkas itu hanya saja terdapat banyak catatan-catatan kecil di atasnya. Mulai dari kertas kuning bertuliskan "Ibu, aku mungkin baru akan pulang di pagi hari. Jangan lupa kau sudah berjanji membuatkanku Spaghetti lagi untuk sarapan. Dan tolong jangan terlalu manis seperti kemarin, sungguh aku sedang dalam proses diet bu. –Baekhyun, putri ibu yang cantik-". Lalu beralih ke catatan di kertas berwarna hijau "Ibu, aku membelikanmu krim pagi dan malam untukmu. Ku letakkan didalam kulkas. Dengar, krim itu kubeli sangat mahal. Bayangkan, separuh gajiku bu! Tentu saja agar kulitmu cantik dan bersinar seperti kulitku ini. Aku tau bu, aku memang lebih cantik dari ibu. Jadi karena itulah aku berbagi resep kecantikan. Jika berhasil, gantian ibu ya yang belikan. –Baekhyun, putri ibu yang menawan- dan masih banyak lagi catatan-catan kecil disana.
Jongin kemudian tertawa kecil. Tampak sekali Baekhyun adalah gadis yang sangat menyayangi ibunya. Tapi, Jongin masih penasaran dimana ayah Baekhyun. Apa ayah Baekhyun sudah meninggal? Jika iya, mungkin karena itulah Baekhyun bekerja di club dan tinggal di rumah yang kecil ini.
"Jongin-ssi. Maaf hanya ini yang bisa kusajikan untukmu." Ujar Heecul datang membawa jus jeruk di atas nampan.
"Ah.. Tidak perlu repot-repot nyonya aku hanya ingin menemui Baekhyun. Dan jika boleh, aku ingin meminta izinmu untuk mengajak Baekhyun keluar sebentar."
"Tentu saja boleh, asal kau tidak macam-macam dengan putriku itu aku mengizinkanmu. Dan tolong jaga dia selama kalian keluar."
Tap.. Tap.. Tap.. Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Baekhyun sudah selesai mandi. Ia ingin melihat siapa tamunya.
Kim Jongin? Mau apa dia kesini? Baekhyun segera menuju ruang tamu dan bergabung dengan Jongin dan ibunya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi mereka terlihat sudah akrab.
"Jongin-ssi"
"Oh hai, Baekhyun. Maaf aku datang kesini pagi-pagi. Apa aku mengganggumu?"
"Sesungguhnya tidak. Tapi, apa yang kau lakukan disini? Dan darimana kau tau tempat tinggalku? Kau bahkan belum menghubungiku, bukan?"
"Ahh.. Iya maaf. Aku kesini ingin mengajakmu jalan-jalan. Sebenarnya aku hanya ingin menemuimu tapi ibumu bilang di pagi hari kau tidak ada aktifitas selain tidur. Jadi aku pikir ingin mengajakmu keluar agar kau tidak bosan dirumah. Dan.. aku tau rumahmu dari Kris." Terang Jongin dengan jelas.
"Hmm.. Begitu ya? Baiklah, aku ganti pakaian dulu. Ah tunggu! Apa semua bingkisan ini untukku? Terima kasih Jongin-ssi kau baik sekali.." Baekhyun sangat senang. Jongin membawakannya banyak bingkisan. Mulai dari peralatan kosmetik, tas, pakaian, sepatu dan masih banyak lagi. Baru kali ini ada seseorang yang mau memberikannya hadiah sebanyak itu dan semuanya merupakan kebutuhannya. Baekhyun pun lalu bergelayut manja pada Jongin dan mengucapkan terima kasih lagi.
Jongin tak kalah senangnya karena Baekhyun senang dengan pemberiannya. Jongin benar-benar bisa melihat itu dari cara Baekhyun antusias membuka semua bingkisan pemberiannya dan membawa lari mereka semua ke kamar. Baekhyun tampak seperti gadis kecil yang kegirangan setelah mendapatkan hadiah ulang tahunnya. Apa Baekhyun selalu seperti itu? Jongin hanya geleng-geleng sambil tersenyum sendiri.
Sementara itu di kantor, Chanyeol benar-benar sibuk. Banyak hal yang harus dikerjakannya. Sejak perusahaan Park Unit Enterprise dipercayakan ayahnya kepadanya, sejak itulah Chanyeol memiliki hak dan kewajiban penuh atasnya. Perusahaan itu besar bukan tanpa kerja keras. Kakeknya memulai semua ini dari nol dan menjadikan semua ini bisa ayah dan dirinya nikmati dengan mudah. Mereka hanya tinggal meneruskan atau jika bisa menjadikannnya lebih baik.
Chanyeol adalah anak bungsu di keluarganya tapi entah kenapa ayahnya malah mempercayakan tugas ini kepadanya bukan pada Yixing atau Sehun. Mungkin karena Yixing adalah perempuan jadi tidak mungkin ayah memberikannya tugas mengelola perusahaan. Ayahnya pasti berpikir Yixing lebih baik mengurus Jumyeon dan keluarganya.
Lalu, Sehun. Sehun juga kakaknya. Sehun sangat cerdas. Sehun bahkan masuk kategori lulusan terbaik universitas ekonomi di Kanada. Apa yang kurang dari otak Sehun dibandingkan dengannya yang hanya lulusan universitas Korea? Itupun dia bukan termasuk yang terbaik. Sampai sekarang Chanyeol masih mempertanyakannya. Entahlah.. Saat ini Chanyeol tidak ingin memusingkan hal itu. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk membuat bangga ayahnya dan tentu saja keluarga besarnya. Ia juga tidak ingin mengecewakan kakeknya. Ia benar-benar ingin memajukan bisnis ini dan membuat nama perusahaan semakin besar.
"Tok.. Tokk.. Tok.. Permisi Tuan Park. Ada berkas-berkas yang harus kau tanda tangani segera."
"Masuklah hana, bawa kemari berkasnya."
Lee Hana adalah sekretaris pribadi Chanyeol. Ia termasuk bagian dari perusahaan hanya saja ia diutus pribadi oleh Chanyeol untuk mengurus, meneliti dan memperbaiki revisi berkas-berkas yang datang dari sekretaris umum perusahaan. Hanya itu. Hana dipilih karena cerdas, cekatan dan terampil. Hana juga sangat teliti dan disiplin terhadap pekerjaannya. Disamping itu, Hana juga dipilih Chanyeol karena tubuhnya yang proposional dan seksi tentu saja.
"Letakkan saja disitu dan mendekatlah." Pinta Chanyeol sambil memperhatikan Hana dari atas hingga bawah.
Sempurna. Begitulah pandangan Chanyeol terhadap Hana. Karena menurutnya, Hana tidak hanya berbekal tubuh indah namun juga otak yang cemerlang. Chanyeol merasa Hana cukup ideal dan termasuk dalam kriteria kekasih idamannya. Chanyeol sebelumnya pernah menaruh hati pada Hana saat pertama kali Hana bekerja padanya. Hanya saja tak lama setelah mengenal Hana, Chanyeol cukup menyesal. Hana tak hanya bersanding pada Chanyeol namun juga pengusaha-pengusaha lainnya. Bahkan ia pernah memergoki Hana sedang bersama Sehun di club malam.
"Apa kau lelah, Tuan? Hari ini jadwalmu sangat padat. Aku kasihan melihatmu bekerja begitu keras." Tanya Hana berjalan menghampiri kursi Chanyeol lalu duduk diatas pangkuan Chanyeol. Itu sudah menjadi kebiasaan Hana jika Chanyeol meminta ia untuk menemaninya di sela-sela pekerjaannya. Hana kemudian meraih kotak tissue di meja Chanyeol dan mengusap keringat yang membasahi kening Chanyeol.
"Tentu saja aku lelah. Kenapa kau bertanya saat kau sudah tau? Tapi berkat kau, setidaknya aku bisa mengatasinya." Jawab Chanyeol seketika mencium tengkuk Hana dan membuat Hana kegelian. Disaat yang bersamaan Chanyeol mengelus paha Hana lembut. Paha mulus yang terpampang jelas karena saat ini hana menggunakan pakaian terusan ketat berwarna hitam yang panjangnya bahkan tidak sampai menutupi pahanya.
"Jangan disini, Tuan. Kita sedang di kantor." Ujar Hana tersenyum pada Chanyeol dan menghentikan tangan Chanyeol yang berada di atas pahanya sekarang.
"Bukankah untuk ini juga kau ku pekerjakan? Hmm?" Tanya Chanyeol dengan nada mulai ketus. Ia sangat benci ditolak saat hasratnya sudah menggebu-gebu. Akhirnya Chanyeol pun membuka paksa baju hana dengan menurunkan resleting pakaiannya. Tinggalah Hana dengan bra dan celana dalam saja. Tapi itu tidaklah lama karena setelah itu Chanyeol juga membuka keduanya. Tinggalah Hana tanpa seutas benang pun.
Awalnya Hana melakukan sedikit pemberontakan mengingat ia belum mengunci pintu ruangan Chanyeol tapi kemudian ia sudah tidak memperdulikan itu karena sekarang tubuhnya sudah terhimpit oleh Chanyeol. Chanyeol mendesak tubuh Hana menempel pada kaca ruangan. Hana bisa melihat pemandangan Seoul di hadapannya. Jika saja Perusahaan Chanyeol tidak menggunakan kaca film Oneway sudah bisa dipastikan tubuh Hana terekspos dari luar.
Dengan posisi berdiri, Chanyeol membuka kaki kanan Hana lalu menyandarkannya pada kursi kerjanya dan jari tengahnya langsung menelusuri lubang Hana dan mengoralnya.
"Aahh.. Tuaan Park.."
Hana mendesah tak karuan. Chanyeol terlihat senang. Hal yang paling ia sukai adalah membuat wanita tunduk padanya. Tapi sayangnya Chanyeol bukan seorang pria yang hanya suka in dan out tapi juga menyenangkan para wanita. Baginya, dengan memberikan apa yang wanita inginkan terlebih dulu, wanita itu akan melayaninya dengan sepenuh hati. Dan dengan begitulah akan mudah bagi Chanyeol bercinta dengan seorang wanita hingga banyak ronde tanpa merasa lelah.
Chanyeol terus mengoral vagina hana hingga basah. Setelah lelah mengoral akhirnya Chanyeol pun berhenti sejenak untuk membuka lacinya dan meraih vibrator yang ada di dalamnya.
"Ada apa tuan? Kenapa kau berhenti?" Tanya Hana saat Chanyeol tiba-tiba berhenti. Ia bahkan belum orgasme.
"Aku ingin memasangkan ini pada lubangmu." Jawab Chanyeol memasukan vibrator ke dalam vagina hana.
"Akhh.. Tuan sakit. Masukkan itu pelan-pelan."
"Oh, maafkan aku. Tahan sebentar." Chanyeol terus memaksa vibratornya masuk kedalam lubang dan setelah masuk ia segera membuat benda itu bergetar-getar. Hana yang masih menempel pada kaca bergerak tidak karuan. Sesuatu bergetar hebat di dalam miliknya dan rasanya sangat geli tapi nikmat. Chanyeol kemudian beranjak menuju sofa dan melihat pemandangan itu dari kejauhan. Tapi sebelum itu ia berjalan menuju pintu terlebih dulu untuk mengunci pintu.
"Aahh.. Tuann.. Nikmaatt... Ouuhh.."
"Bagaimana? Nikmat bukan? Aku akan memberikannya untukmu secara percuma jika kau bisa orgasme setelah ini. Itu bukan vibrator murahan. Aku membelinya sangat mahal. Atau kau ingin aku menaikkan frekuensi getarannya? Vibrator itu bahkan bisa membuatmu orgasme hanya dalam hitungan detik."
"Tuaan.. Akkuuh ingiin milik... muuuhh"
Hana sudah diluar kendali. Ia bahkan sudah tidak kuat menahan vibratornya dengan berdiri. Tak lama Hana tersungkur tapi benda itu masih saja bergetar. Hana akan mencapai klimaksnya. Ia benar-benar akan keluar. Sedangkan Chanyeol masih pada posisi yang sama. Ia cukup terhibur melihat Hana sekarang sudah seperti cacing kepanasan. Tapi tak lama ponselnya berdering. Tertera nama Jongin disana. Jongin menelponnya.
"Hei brengsek ada apa? Kau sedang mengganggu kesenanganku." Tanya Chanyeol terganggu dengan panggilan Jongin.
"Ah maaf. Aku hanya ingin memastikan kau tidak kesal padaku karena tidak menjemputmu pagi tadi." Jawab Jongin di sebrang.
"Sudahlah, matikan telponnya. Aku benar-benar sedang sibuk."
"Kau sedang bermain? Ini masih pukul 11 Chanyeol, kau benar-benar hebat. Oh biar kudengar desahannya. Ow.. ow.. ow.. Apa itu suara Hana? Wah, sekrertarismu itu benar-benar hebat."
"Sudahlah, aku akan tutup ponselnya."
"Ah baiklah. Oiya, sekarang aku sedang mengajak Baekhyun ke kafe es krim. Apa kau ingin bergabung setelah ini? Tadi aku sudah bertanya pada Baekhyun dan dia tidak keberatan jika kau ikut serta bersama kami. Kafenya sedang sepi jadi sangat nyaman disini. Datanglah kesini dan aku akan menraktirmu."
"Mwo? Hah, sudah kuduga kau datang mengunjungi gadis itu. Tenang saja, kali ini aku menerima ajakanmu. Tanganku rasanya gatal ingin memberinya pelajaran atas insiden kemarin." Pip!
Chanyeol pun segera beranjak dari tempatnya lalu mengambil jas. Hana sepertinya kelelahan. Dan dia sudah orgasme. Cairan putih dan bening berceceran di lantai. Chanyeol langsung mematikan alat itu dan menariknya keluar.
"Aku harus pergi. Apa kau sudah puas bermain-main dengan ini? Karena kau sudah mencapai klimaksmu. Aku menghadiahkan alat ini untukmu, ambilah."
"Tuan.. Kau bahkan belum memasukiku?" Tanya Hana dengan nada kelelahan.
"Maaf, aku sudah tidak tertarik. Jongin menelponku, dan aku harus pergi. Mungkin lain kali kita bisa meluangkan waktu untuk ini lagi. Aku akan meniggalkan kunci serepnya disini dan aku akan menguncimu dari luar. Segera keluar jika kau sudah berbenah." Jawab Chanyeol lalu beranjak meninggalkan Hana yang masih terkapar.
"Oiya, jangan lupa bersihkan itu. Dan pastikan tidak ada yang tertinggal bahkan baunya sekalipun. Aku tidak ingin orang berpikir macam-macam saat masuk ke ruanganku." Blam!
Hana merasa lelah dan kesal. Jika saja teman bosnya itu tidak menelpon, sudah pasti bosnya sudah memuaskannya.
Sweet Snow Cafe.
Ini pasti tempatnya. Chanyeol sudah tiba di depan kafe es krim yang Jongin katakan. Ia pun segera masuk dan mencari sosok temannya itu terlebih dulu.
"Chanyeol! Kemari." Teriak Jongin pada Chanyeol saat melihat Chanyeol memasuki kafe. Chanyeol yang dipanggil langsung menghampiri Jongin. Dan benar. Gadis itu bersamanya. Duduk menikmati es krim hingga cemomot di mulut bahkan sampai hidungnya. Sungguh kekanakkan. Batin Chanyeol.
"Hei, pelayan pesankan aku Mocca Ice Cream." Perintah Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun mulai terperangah. Apa ia tidak salah dengar? Yang Chanyeol panggil pelayan adalah dirinya bukan pegawai kafe.
"Hei tiang listrik! Kau ini sedang bicara dengan siapa? Sepertinya kaca mata hitammu itu tidak tembus pandang. Apa kau tidak bisa lihat bukan aku pegawainya?"
"Bukankah di club kau adalah seorang pelayan? Dimanapun kau berada, statusmu dimataku tetaplah sama!"
"Oh? Begitu? Baiklah duduk disini ya Tuan Muda. Mocca Ice Cream-mu akan segera datang." Ujar Baekhyun dengan senyum tidak meyakinkan. Sepertinya ada sesuatu yang hendak ia lakukan pada Chanyeol (lagi). Sementara Chanyeol tersenyum puas melihat Baekhyun patuh padanya. Entah itu terpaksa atau karena Baekhyun ingin mengalah, Chanyeol tidak peduli. Jongin hanya menatap Chanyeol kesal. Ia sungguh menyesal mengundang Chanyeol ikut bergabung. Tidak seharusnya Chanyeol memperlakukan Baekhyun seperti pembantunya.
Tak lama, Baekhyun datang membawa pesanan Chanyeol. Mocca Ice Cream. Dengan hati-hati Baekhyun membawakannya.
"Ini dia Mocca Ice Cream-mu." Ujar Baekhyun memberikannya pada Chanyeol.
"Eitss..." Baekhyun mulai menggoda Chanyeol dengan menarik kembali es krimnya saat Chanyeol hendak menerima es krim itu.
"Apa yang kau lakukan? Berikan es krimku!" Bentak Chanyeol merasa dipermainkan.
"Tunggu dulu. Jika kau ingin es krimmu. Syaratnya, kau harus memakannya sekali telan. Bagaimana?"
"APA? APA MAKSUDMU BRENGSEK? JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!"
"Maksudku? Maksudku seperti ini!" Baekhyun lalu menyiramkan es krim itu ke wajah Chanyeol. Belum sempat Chanyeol bereaksi apa-apa, Jongin pun langsung menarik tangan Baekhyun untuk segera lari. Setelah ini kafe bisa dipastikan akan ambruk karena teriakan Chanyeol.
Melihat Jongin panik dan ketakutan, Baekhyun hanya tertawa terbahak-bahak mengingat wajah Chanyeol penuh dengan es krim. Ia sungguh puas mengerjai Chanyeol. Jika saja Jongin tidak menariknya, sudah pasti Baekhyun akan lebih senang karena dia pasti akan lebih lama lagi memberikan Chanyeol pelajaran. Pria sombong itu memang harus diberikan sedikit sentuhan kecil agar sikapnya itu tidak kelewat batas.
"BRENGSSEEEKKKK!"
.
.
TBC
.
.
Nb : Annyeong ! Mianhe cingu, lama ya update-nya? Ampuunn..1 bulan ini aku bener-bener sibuk. :'( Tapi tenang, dalam seminggu ini aku bakal update lagi Chapter 5. Jadi stay read Between Us ya. Untuk kritik dan saran, seperti biasa REVIEW JUSEYO.. ^v^ Hayoo.. Banyak pembaca gelap niyee.. Ohokk.. Review dong, biar aku tau kalian suka atau gak, atau mau request" jalan cerita juga boleh. Gak papa lagi. Kali aja bisa aku sempil"in nanti. Wkwkwk.. Oiya makasih banyak buat yang udah review. Tetep support aku ya biar akunya semangat dan termotivasi untuk bikin cerita yang bagus buat kalian. Dan maaf untuk Chapter ini emang sedikit Chanbaeknya tapi nanti di Chapter 5 bakalan banyak dan seru abis. Nggak jamin sih soalnya tingkat humor kita beda-beda. Tapi diusahain menghibur kalian lah. Kiss Kiss :*
