SEBELUMNYA...
"Ini dia Mocca Ice Cream-mu." Ujar Baekhyun memberikannya pada Chanyeol.
"Eitss..." Baekhyun mulai menggoda Chanyeol dengan menarik kembali es krimnya.
"Apa yang kau lakukan? Berikan es krimku!" Bentak Chanyeol merasa dipermainkan.
"Tunggu dulu. Jika kau ingin es krimmu. Syaratnya, kau harus memakannya sekali telan. Bagaimana?"
"APA? APA MAKSUDMU BRENGSEK? JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!"
"Maksudku? Maksudku seperti ini!" Baekhyun lalu menyiramkan es krim ke wajah Chanyeol. Belum sempat Chanyeol bereaksi apa-apa, Jongin pun langsung menarik tangan Baekhyun untuk segera lari. Setelah ini kafe bisa dipastikan akan ambruk karena teriakan Chanyeol.
Melihat Jongin panik dan ketakutan, Baekhyun hanya tertawa terbahak-bahak mengingat wajah Chanyeol penuh dengan es krim. Ia sungguh puas mengerjai Chanyeol. Jika saja Jongin tidak menariknya, sudah pasti Baekhyun akan lebih senang karena dia pasti akan lebih lama lagi memberikan Chanyeol pelajaran. Pria sombong itu memang harus diberikan sedikit sentuhan kecil agar sikapnya itu tidak kelewat batas.
"BRENGSSEEEKKKK!"
.
.
BETWEEN US
.
Main Cast : PARK CHANYEOL, BYUN BAEKHYUN
.
.
Sudah cukup bersenang-senangnya. Saatnya Jongin mengantar Baekhyun kembali pulang. Meski tidak lama, Jongin merasa cukup senang bisa mengajak Baekhyun keluar. Hampir saja dia tidak fokus menyetir karena sebentar-sebentar memperhatikan Baekhyun. Sedang yang diperhatikan sibuk memainkan ponselnya. Bosan dengan kecanggungan di dalam mobil, Jongin pun akhirnya membuka pembicaraan.
"Yang tadi itu menurutku terlalu berani."
"Ha? Apanya?"
"Kenapa kau lakukan itu? Apa kau masih kesal dengan Chanyeol?"
"Ahh.. Itu. Tidak juga. Kau lihat sendiri bukan, temanmu itu suka sekali memerintah orang. Aku bukan kau yang mau dijadikan budak olehnya. Hmm.. Boleh saja sih kalau dia membayarku. Ah, tapi. Aku akan menolak dengan keras jika dia ingin memperkerjakanku. Aku bisa gila. Hehehehe.."
"Aku? Budak Chanyeol?"
"Bukankah sudah jelas?"
"Aku hanya membantunya sebagai teman, Baek. Aku tulus membantu Chanyeol."
"Dan apakah dia memperlakukanmu sebagai temannya?"
Jongin sedikit tersentak. Pertanyaan Baekhyun pun menjadi pertanyaan yang sama untuk dirinya. Apakah selama ini Chanyeol menganggapnya sebagai seorang teman atau seperti budak yang Baekhyun katakan? Selama ini Chanyeol yang ia kenal memang selalu memerintah dirinya, dan jika Jongin membuat kesalahan Chanyeol akan berteriak memakinya.
Baekhyun menunggu jawaban. Dilihatnya raut wajah Jongin terlihat bingung. Apa pertanyaannya salah? Apa pertanyaannya menyinggung? Baekhyun pun akhirnya mengganti topik pembicaraan.
"Aku hanya bercanda, Jongin. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Hahahaha.. Oiya, tolong berhenti sebentar di depan toko bunga yang itu ya?" Pinta Baekhyun menunjuk sebuah toko bunga pinggir jalan dengan nuansa biru langit.
"Kau ingin membeli bunga?" Tanya Jongin sambil memarkirkan mobilnya
"Hmm. Untuk ruang tamu dan kamarku. Bunga yang dirumah sudah layu. Kau mau ikut turun atau..."
"Aku ikut denganmu."
Soo's Flowers Cafe
Seorang wanita berparas cantik berperawakan lemah lembut tampak sedang sibuk merapikan bunga-bunga dalam pot. Kedatangan Baekhyun dan Jongin bahkan sampai tidak disadarinya.
"Kyungsoo-ssi. Wah..Sepertinya kau sangat sibuk hari ini sampai tidak menyambutku." Ujar Baekhyun menggoda sang pemilik toko.
"Aah.. Baekhyun-ssi ternyata kau. Maafkan aku, hari ini aku memang sedikit sibuk karena mendapat pesanan besar untuk acara pernikahan."
"Aigoo.. Sedikit sibuk? Ckckckck.. Sepertinya kedatanganku sekarang tidak tepat. Apa aku kembali nanti saja?"
"Ti-tidak, bukan begitu. Silahkan masuk, kau ingin beli bunga apa?"
"Seperti biasanya saja"
"Baiklah, akan aku rangkaikan untukmu. Ngomong-ngomong, yang di belakangmu itu.. Apa dia kekasihmu? Sepertinya aku baru melihatnya."
"Ah iya, aku sampai lupa. Kyungsoo-ssi perkenalkan ini temanku Jongin, Jongin ini Kyungsoo. Jangan salah sangka, kami hanya teman hahaha.." Jongin yang hanya dianggap teman oleh Baekhyun pun langsung menyalami Kyungsoo sambil melotot ke arah Baekhyun karena tidak terima dianggap sebagai 'hanya teman'. Baekhyun hanya cekikikan memberi isyarat pada Jongin 'Memangnya kau ini ingin dianggap apa?'. Jongin cemberut setelahnya.
Melihat tingkah kedua orang di hadapannya Kyungsoo tertawa kecil. Menyenangkan sekali rasanya jika saja Ia bisa berteman baik dengan mereka. Selama ini Ia bisa dibilang kesepian karena tinggal sendirian. Orang tuanya sudah tiada sejak Ia duduk dibangku SMP. Ia lalu dirawat oleh paman bibinya yang memang membuka usaha bunga di tempat Ia bekerja sekarang. Tapi tak lama keduanya pun ikut menyusul kedua orang tuanya karena kecelakaan. Ia akhirnya yang meneruskan usaha bunga milik paman bibinya itu sendirian karena paman bibinya tidak memiliki anak dan Kyungsoo tidak kenal kerabat lain selain mereka.
"Kalian ini lucu sekali, sepertinya kalian sudah berteman lama ya.. Yasudah, aku akan merangkai pesananmu terlebih dulu, Baekhyun-ssi. Kalian bisa menunggu sambil duduk disana." Ujar Kyungsoo ramah.
"Hmm.. Baiklah. Oiya, bisakah mulai sekarang kau memanggilku Baekhyun saja? Kita sudah kenal lama, bukan? Tapi entah kenapa kita masih saling formal satu sama lain. Anggap saja aku ini temanmu, begitupun sebaliknya. Dan lagi kita ini seumuran. Kau juga bisa memanggilnya 'Jongin' saja. Bukan begitu, Jongin? Kita berteman mulai hari ini sampai seterusnya. Setuju?"
"Aku tidak keberatan. Bagaimana denganmu, Kyung?" Jongin mengulang kembali pertanyaan Baekhyun untuk Kyungsoo, meminta pendapatnya.
"Kyung?" Tanya Baekhyun dengan nada heran.
"Kau ini bagaimana, Baek? Kau bilang kita ini sekarang teman. Aku tidak perlu lagi bicara formal lagi padamu atau pada Kyungsoo, kan?" Jawab Jongin sedikit emosi. Gadis menyebalkan bantinnya.
"Aa-ah.. Iya iya kau memang benar. Maaf maaf.. Hahaha.." Jawab Baekhyun gugup dengan nada tidak terima Jongin. Aku hanya merasa ia terlalu cepat berubah ujar Baekhyun dalam hati sambil mengelus dada.
"Kenapa kalian jadi bertengkar? Aku juga tidak keberatan 'kok." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum.
"Oiya, ini bunganya sudah selesai." Lanjut Kyungsoo.
Baekhyun menerimanya dengan puas. Seperti yang diharapkan, Kyungsoo memang tidak pernah gagal dalam merangkai bunga-bunganya. Selalu indah dan sangat rapi. Tak lama Ia dan Jongin berpamitan pulang pada Kyungsoo.
"Terima Kasih Jongin, kau membuatku bersenang-senang hari ini." Ucap Baekhyun setelah Jongin mengantarnya dengan selamat sampai rumah.
"Kenapa jadi kau yang berterima kasih? Akulah yang seharusnya mengatakan hal itu karena aku yang mengajakmu keluar. Terima kasih banyak, Baek. Oiya, apa aku perlu menunggumu? Bukankah setelah ini kau berangkat bekerja? Kita bisa berangkat bersama-sama."
"Sama-sama, Jongin. Ah tidak perlu, aku akan berangkat bersama Jongdae saja. Dia bilang hendak menjemputku nanti. Tidak perlu Jongin, kita bertemu saja disana jika kau mau."
"Begitu ya? Baiklah.. Sampai jumpa disana."
Jongin yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun langsung maju selangkah dan mencium kening Baekyun. Spontan mata Baekhyun terbelalak karena terkejut. Ia belum lama mengenal Jongin, kenapa Jongin bisa begitu padanya? Dan.. Kenapa badannya mematung sekarang? Ini bukan yang pertama kali Ia dikecup oleh seseorang kan?
Tak lama Jongin merenggang. Sepertinya Ia tidak menyadari apa yang barusan Ia lakukan.
"Oh, maafkan aku, Baek. Sepertinya aku jadi terbawa suasana. Aku hanya sedang senang sekali. Maafkan aku.. Tolong jangan membenciku."
"Hmm.. A-ah I-I.. iya baiklah.. T-ttak apa. Kau.. Kau pulanglah. Aku harus bersiap." Ujar Baekhyun gugup. Pipinya memerah sekarang. Begitu juga Jongin. Ia merasa begitu malu menatap Baekhyun sekarang.
Jongin dengan salah tingkah berjalan mundur dan masuk ke mobil. Sementara Baekhyun tersenyum canggung sambil melambai pada Jongin. Ya Tuhan.. Ada apa ini sebenarnya? Perasaanku jadi tak karuan. Batin Baekhyun.
Seperti biasa, Club malam tempat Baekhyun bekerja tidak pernah sepi pelanggan. Ada yang ingin bersenang-senang, mabuk, dan ada juga yang datang hanya ingin melihat 'keseksian' para pelayan club.
Hari ini dresscode untuk para pelayan Club adalah seragam merah hitam. Kemeja lengan panjang merah super ketat dan rok hitam span super pendek untuk pelayan wanita. Kemeja merah panjang yang dilipat ¾ dan celana hitam panjang untuk pelayan pria. Sedangkan pekerja lain seperti bartender, DJ, dan lain-lain menggunakan pakaian santai.
Meski tetap saja dianggap 'seksi' oleh para pelanggan, Baekhyun merasa pakaian ini membuatnya gerah dan terlalu tertutup. Maka tak jarang Ia nekat mengganti kemejanya dengan pakaian yang lebih terbuka namun masih dengan warna yang senada. Dan.. setelahnya Baekhyun sudah bisa menerka nasib hidupnya. Bosnya akan memakinya tiada habis dan mengancam akan memecatnya karena bekerja tidak sesuai dengan prosedur. Persetan dengan prosedur. Bukankah dengan begitu club akan selalu ramai pengunjung? Ada-ada saja.
Seperti yang diharapkan pengunjung, Baekhyun mengganti pakaiannya (lagi). Ia menggunakan tube dress merah super ketat dan pendek. Benar-benar cari mati. Saat ini Baekhyun terlihat sangat 'sexy' luar biasa. Rambutnya yang kini telah berganti warna menjadi hitam tergerai indah. Baekhyun yang terbilang mudah bosan dengan warna rambut kini berkomitmen untuk berhenti mewarnainya lagi. Ini Ia lakukan karena keseringan mewarnai rambut membuat rambutnya mudah rontok. Dan semoga saja kali ini Ia merasa 'betah' dengan rambut hitamnya.
Tube dress merah, check. Rambut hitam bergelombang dan teruai, check. Hoop earring, check. High heels hitam 11 cm, check. Wah.. Baekhyun bukan lagi terlihat seperti pelayan saat ini, tapi seperti pengunjung.
"Nugu saeyo?" Tiba-tiba seseorang datang bertanya dari belakang Baekhyun. Baekhyun berbalik dan membuat seseorang itu tercengang.
"Haa.. Eonni? Apa itu kau?" Minnie yang tadinya tercengang, semakin terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Eotte?"
"Hya! Kenapa kau memakai pakaian itu bukannya seragam? Dan apa yang kau lakukan dengan rambut merahmu itu? Kemana perginya?"
"Sstt.. Kenapa kau begitu tekejut? Ini bukan yang pertama kalinya, kan? Kenapa kau selalu terkejut ketika aku merubah penampilanku? Oiya, apa kau melihat Kris? Aku ingin menemuinya sebentar." Belum sempat Xiumin menjawab, Baekhyun langsung saja pergi meninggalkannya tanpa menunggu. Hmm.. Selalu saja begitu.
"Hisshh.. YAK! EONNI! TUNGGU!"
Dari jauh, mata Kris sudah menangkap sosok Baekhyun. Ia lagi-lagi dibuatnya geleng-geleng melihat penampilannya. Gadis nakal pikir Kris. Ia lalu melambaikan tangannya pada Baekhyun yang telah berhasil menemukannya.
"Hey my sexy girl.. " Kris langsung saja merengkuh pinggang Baekhyun dan mencumbunya mulai bibir sampai leher. Di depan umum. Seperti biasa. Namun entah kenapa tak ada penolakan sama sekali diawal. Seketika Kris melepaskan tautan bibirnya dan memandang aneh pada gadis kecil dihadapannya ini.
"Ada apa ini?" Tanya Kris merasa aneh.
"Apanya?"
"Apa kau menikmatinya?"
"Oh. Wae?"
"Hmm.. Boleh aku melakukan hal lebih?"
"Kenapa harus bertanya?"
"Wah.. Sungguh ada yang tidak beres dengan otakmu hari ini."
Kris lalu menarik tangan Baekhyun menuju ruang pegawai dan mengajaknya bicara. Ia sangat mengenal Baekhyun. Baekhyun mungkin sangat handal menjadi penggoda, namun ia sangat benci menjadi pemuas laki-laki. Ia mungkin sering bercumbu dengan Kris, namun selalu ada penolakan di awal dan Kris harus memaksanya terlebih dulu. Sebatas berciuman dan tidak pernah lebih. Kali ini berbeda, Baekhyun menerimanya. Bukannya senang, Kris malah jadi merinding.
"Apa aku harus membuka pakaianku sekarang?"
"Ho ho ho.. Tunggu. Apa kau gila? Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba..."
"Bisa kau cium keningku dulu, Kris?"
"Ha?"
"Iya, keningku."
Kris hanya mematung. Ada apa sebenarnya ini? Tapi kemudian Kris maju beberapa langkah dan mencapai kening Baekhyun. Ia mengecupnya lembut dan mengelus rambutnya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran Baekhyun.
Alasan mengapa Baekhyun melakukannya adalah kenapa saat Kris melakukannya Ia hanya merasa hangat dan nyaman? Aku tidak gugup, jantungku berdetak normal-normal saja. Tapi dengan Jongin.. Kenapa sesuatu ini rasanya berbeda? Apa aku mulai menyukainya?
"Ada apa Baek?"
"Ah, tidak ada apa-apa, Kris. Mungkin suasana hatiku sedang buruk dan hanya kau yang bisa membuatku tenang."
Baekhyun lalu memeluk kris sebentar lalu pergi. Jangankan Kris, Baekhyun saja bingung dengan dirinya hari ini.
Waktu berlalu dengan cepat. Semua pekerjaan sudah beres, saatnya Club tutup. Hari ini berjalan sama seperti biasanya. Jongin juga tidak datang ke Club. Mungkin Ia masih merasa malu dengan kejadian tadi sore. Baekhyun yang tanpa Ia sadari menunggu kedatangan Jongin, merasa sedih kala tau sampai Club tutup Jongin tak datang. Ia sungguh ingin memastikan apakah perasaannya sekarang adalah karena suka tau terbawa perasaan saja.
Baekhyun yang tidak biasanya minum sebanyak itu, jadi bisa menghabiskan 3 botol minuman yang berakhir dengan muntah-muntah. Jongdae yang merasa kasihan dengan Baekhyun bermaksud untuk mengantarkannya pulang, namun Baekhyun menolaknya. Ia ingin jalan kaki saja, ia tidak ingin sampai rumah dengan cepat.
Sambil terhuyung-huyung, Baekhyun berjalan sendirian menuju rumah. Meski sebenarnya tidak benar-benar sendirian karena Kris, Jongdae, dan Minnie tetap mengikutinya dari belakang. Sesekali mereka tertawa cekikikan karena tingkah Baekhyun. Dalam keadaan mabuknya, Baekhyun memaki-maki tiang listrik dan menendangnya hingga kakinya sendiri sakit. Ia juga mencium lampu taman dengan sangat agresif seakan-akan itu adalah pria. Benar-benar memalukan.
Between Us
Sementara itu..
"Hey.. Mobil brengsek! Kenapa kau harus mogok disini? Menyusahkan sekali." Terdengar seseorang memaki-maki mobil mewahnya yang mogok di tempat sepi. Ia lalu mengambil ponsel dari sakunya dan bicara pada seseorang untuk membawakan mobil yang lain dan memperbaiki mobil yang rusak.
Tak lama mobil lain datang dan seseorang keluar dari sana.
"Tuan Park, maaf telah membuatmu menunggu. Ini dia kuncinya." Seorang pria berusia 50-an menunduk pada tuannya dan memberikan kunci mobil yang dibawanya tadi.
"Kau tidak perlu menunduk seperti, paman. Kau sudah kuanggap sebagai pamanku sendiri. Sudah kukatakan untuk tidak melakukan itu padaku. Dan juga untuk tidak memanggilku tua. Panggil saja aku Chanyeol. Chan..."
PLETAK!
Oh tidak. Apa lagi sekarang? Kaleng kosong? Yap! Lagi-lagi sebuah kaleng kosong telah terjun bebas mendarat ke kepala Chanyeol yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya pada Tuan Lee, pelayannya sejak kecil. Tuan Lee yang semula tersenyum ramah mendadak pucat karena takut tuannya murka. Siapa dia yang berani-beraninya begitu pada tuannya?
"BERANI-BERANINYA KAU MELEMP..." Chanyeol yang mudah sekali marah sektika berhenti mengumpat setelah melihat siapa yang melemparkan kaleng padanya.
"K-kau.. KAU LAGI?" Sepertinya Chanyeol masih mengingat betul kejadian yang sama sebelumnya dimana Baekhyun tidak sengaja menendang kaleng kosong kearahnya. Wah.. Gadis sialan ini sepertinya sangat tau caranya membuat orang emosi. Batin Chanyeol. Chanyeol pun langsung berjalan menuju tempat Baekhyun berdiri. Dari jauh, Chanyeol merasa aneh. Baekhyun bahkan tidak lari saat Ia mendatanginya. Sementara Kris, Jongdae, dan Minnie sudah ketakutan setengah mati memikirkan nasib Baekhyun. Mereka tidak mungkin langsung keluar begitu saja dari balik tempat persembunyiannya.
Chanyeol sudah berada selangkah didepan Baekhyun. Chanyeol memperhatikan gadis kecil didepannya sekarang. Ada apa dengan gadis ini? Baekhyun, yang dalam keadaan mabuk sekarang, sepertinya tidak mengenali wajah Chanyeol dengan baik. Ia malah tersenyum tidak jelas dan tiba-tiba memeluk Chanyeol begitu saja. Chanyeol yang awalnya kikuk spontan melepaskan pelukan Baekhyun.
"Hei! Apa kau gila! Kenapa kau tiba-tiba mem..."
Tidak ada yang menduga bahwa Baekhyun dengan ketidaksadarannya mencium Chanyeol tanpa ampun. Entah apa yang sedang dalam imajinasi Baekhyun, tetap saja hal itu membuat Chanyeol sangat terkejut. Tentunya bagi mereka yang melihat juga. Aneh, tubuh Chanyeol rasanya kaku. Meski matanya terbuka, tatapannya terasa kosong. Ia bahkan tidak melepaskan Baekhyun darinya. Tapi tak lama kedian ciuman agresif itu mulai melemas dan...
Brukk! Baekhyun jatuh kedalam pelukan Chanyeol. Ia pingsan.
Kris, Jongdae dan Minnie yang melihatnya langsung berlari keluar dan mendatangi Baekhyun dengan raut khawatir.
"Hei.. Bangun.. Hei jalang bangunlah, kenapa kau tiba-tiba tertidur?" Chanyeol yang bingung dengan keadaan ini tidak tau harus bagaimana. Gadis ini datang entah dari mana, melemparnya dengan kaleng kosong, memeluknya, menciumnya, dan pingsan. Ada apa ini sebenarnya? Jangan-jangan..
"Hei kalian! Apa kalian temannya? Kenapa berdiri saja disitu ayo bantu aku."
Sepertinya usaha mereka membuat Baekhyun sadar sia-sia saja. Baekhyun kelewat mabuk saat ini. Dan ketiga temannya itu hanya memandangnya penuh penyesalan.
"Apa kalian sudah gila? Apa kau juga sudah tidak waras, Kris? Bagaimana bisa kau membiarkan gadis ini pulang sendiri dalam keadaan mabuk?"
"..."
"Apakah sangat menyenangkan, melihat gadis gila ini bertingkah aneh dijalan saat mabuk? JAWAB AKU!"
"Kau sungguh salah paham, Park. Aku sudah mengajaknya pulang bersamaku tapi dia menolak dan meneriakiku. Karena itulah aku membiarkannya pulang sendiri. Meski begitu aku mengawasinya. Aku juga tidak segila itu meninggalkannya." Jawab Kris membela diri.
"Kau bilang kau tidak gila? Kau telah bernegosiasi dengan orang mabuk, Kris. Tidakkah kau benar-benar sudah habis akal? Jika Ia tidak mau kau bisa menggendongnya secara paksa! Masukkan gadis ini kedalam mobil. Selesai!"
Kris tidak berkutik dengan penjelasan Chanyeol. Dia sangat benar. Seharusnya Kris melakukan itu. Jongdae dan Minnie pun merasa perkataan Chanyeol sangat benar. Dan mereka merasa bersalah telah begini pada Baekhyun. Chanyeol yang kehabisan kata-kata langsung menggendong Baekhyun dan masukkannya dalam mobil.
"Mau kau bawa kemana Baekhyun?" Tanya Jongdae khawatir.
"Tentu saja ke apartemenku."
"Antarkan saja dia langsung kerumah." Pinta Minnie yang takut Chanyeol akan berbuat sesuatu yang buruk pada eonninya.
"Dan mengatakan pada orang tuanya bahwa kalian telah meninggalkannya di jalan dalam keadaan mabuk? Baiklah.. Asal kau tau saja, aku tidak selera tidur dengan mayat."
Chanyeol dengan wajahnya yang memanas menutup pintu keras-keras dan pergi meninggalkan empat orang tercengang disana. Benar-benar hari yang panjang sekali lagi. Entah kenapa gadis ini selalu saja menyusahkannya dengan hal-hal aneh yang dibuatnya. Chanyeol butuh istirahat sekarang. Pekerjaannya saja sudah membuatnya lelah. Ditambah Ia masih harus mengurus gadis ini besok. Mengantarnya pulang? Yang benar saja! Aku bahkan tak tau dimana rumahnya.
Kilatan cahaya pagi menembus masuk melewati jendela dan tirai. Kicauan burung juga terdengar senang menyambut pagi hari ini. Seketika suara air gemericik dari kamar mandi juga membangunkan Baekhyun yang dengan perlahan-lahan berusaha membuka matanya. Ia kembali mengusap-usap matanya karena asing dengan atapnya. Dimana ini? Apa aku sudah mati? Baekhyun langsung bangun begitu mendapati dirinya tidak sedang dikamarnya. Dimana ini? Dimana sebenarnya aku sekarang? Rumah siapa ini? Sial! Aku tidak mengingat apapun.
"Kau sudah bangun? Aku kira kau akan bangun terlambat." Suara itu semakin menyadarkan Baekhyun. Apalagi setelah melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kk-kau.. Kk..Kau! Ap-A..Aapa yang kkau lakukan disini? Ah.. Maksudku, dimana ini?"
"Di apartemenku" Jawab Chanyeol sembari mengusapkan handuk pada rambutnya yang basah. Ia sungguh tidak bisa berpura-pura lagi menahan tawanya melihat gadis kecil dihadapnnya tampak kikuk.
"Apa?! Bab.. bba-bagaimana bisa?"
"Anggap saja sesuatu yang baik telah terjadi. Kau sungguh membuatku takjub semalam."
"Apa maksudmu? Takjub apa? Apa yang terjadi semalam?" Sungguh ingin rasanya Baekhyun mengutuk dirinya menjadi katak karena tak bisa mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Kemudian Chanyeol dengan raut wajahnya yang masih saja dingin menunjuk Baekhyun tanpa beban.
"Itu.."
Baekhyun langsung melihat kearah jari telunjuk Chanyeol mengarah, yakni tempat sampah yang dipenuhi tissue. Baekhyun awalnya tidak mengerti apa maksudnya, namun setelah Ia melihat apa yang ada di balik selimutnya Ia benar-benar terkejut setengah mati.
"K-Kkau? Kenapa in..ii? Kau kemanakan pakaianku, Park Chanyeol?" Baekhyun yang spontan mendapati dirinya sudah tanpa busana dan hanya terlindungi oleh selimut, menaikkan selimutnya. Ia benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi semalam. Yang Ia ingat hanya saat Ia masih berada di Club, dan sedang meminum beberapa botol bir. Setelah itu.. semuanya hilang.
"Kenapa kau bertanya padaku? Entah kemana perginya pakaianmu, gadis jalang. Kau sendirilah yang membukanya dihadapanku dan memohon agar aku melakukannya bersamamu. Apa kau tidak ingat? Tapi sungguh, aku sangat kagum padamu. Kau benar-benar pandai merawat dirimu dan.."
"Dan apa?"
"Kau benar-benar liar"
Aku? Membuka pakaianku? Melakukannya? Melakukan apa? Liar? Ya Tuhan, atau siapa saja.. Apa yang sebenarnya terjadi? Pria sombong ini pasti hanya .. Pakaianku? Dan tissue? Aaaarrrggghhhh...
Sungguh Chanyeol suka pemandangan ini. Gadis kecil itu pasti sedang bertanya-tanya tentang pa yang sedang terjadi dan membayangkan yang aneh-aneh. Jika saja Ia bisa pergi keluar sebentar, sungguh Chanyeol akan tertawa terpingkal-pingkal seperti orang gila sekarang. Gadis ini bodoh atau lugu sebenarnya? Pikir Chanyeol.
Chanyeol pun langsung mendekati Baekhyun dan duduk disampingnya. Ia menggengam sandaran ranjang dan membuat Baekhyun terpojok. Mungkin jarak wajah Chanyeol dengannya hanya terpaut 5 cm, sekarang. Jantung Baekhyun rasanya ingin berhenti. Apa yang orang gila ini lakukan? Mau apa kau?
"Apa kau.. benar-benar tidak ingat? Atau.. Kau pura-pura tidak ingat, Baekhyun..-ssi" Ujar Chanyeol sedikit berbisik.
"Hei brengsek. Jika aku ingat, mungkin kau sudah babak belur disini."
"Melihat wajahmu memerah, kau sungguh terlihat.."
"..."
"Indah"
"Apa kau sungguh suka menggodaku seperti ini?" Tanya Baekhyun sambil mendorong Chanyeol menjauh darinya.
"Jika kau tidak mau mengatakannya, tak masalah. Aku ingin pergi dari sini sekarang."
"Baiklah, aku akan membuatmu mengingatnya."
Chanyeol langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh tanpa busana milik Baekhyun. Baekhyun yang terkejut langsung menarik selimutnya kembali namun dihentikan oleh Chanyeol. Chanyeol langsung memperhatikan tubuh mungil itu dari atas hingga ke bawah. Jujur saja, bagi Chanyeol tubuh mungil itu memang Indah. Kulit Baekhyun yang putih, bersih dan mulus menandakan Baekhyun sangat baik dalam merawat tubuhnya. Belum lagi payudara sintal itu. Ya.. Itu karena Chanyeol sempat mengira Baekhyun masih remaja jadi dia sedikit 'shock' setelah melihatnya.
Chanyeol yang hanya menggunakan bawahan saja setelah mandi langsung menindih tubuh mungil Baekhyun. Ia mendekatkan bibirnya tepat disamping telinga Baekhyun dan sedikit berbisik.
"Kenapa kau gugup, sayang? Kita sudah melakukannya 5 kali semalam."
Tanpa menunggu jawaban, Chanyeol langsung melumat bibir Baekhyun dengan sangat agresif. Baekyun yang memberontak ingin melepaskan diri, berusaha mendorong dada Chanyeol untuk menjauh namun gagal. Chanyeol terlalu kuat untuk tubuh kecilnya. Chanyeol yang merasa terganggu dengan tangan Baekhyun langsung mengarahkan keduanya keatas sambil menahannya disana agar Baekhyun tidak banyak bergerak. Cukup lama bercumbu, Chanyeol langsung mendaratkan bibirnya pada leher Baekhyun. Sementara Baekhyun sepertinya sudah lelah memberontak dan menerimanya.
"Ngghh.. To.. Longghh.. Berhentiihhh.. Engghh.."
Sia-sia saja jika Baekhyun ingin Chanyeol berhenti. Desahan kuat Baekhyun malah membuat Chanyeol ketagihan dan semakin turun kebawah. Chanyeol turun lagi sampai ke payudara. Payudara Baekyun yang kencang dengan putingnya yang memerah membuat bentuknya semakin terlihat indah. Chanyeol yang tak tahan melihatnya langsung melahapnya dengan rakus. Ia bahkan menggigit keras-keras puting Baekhyun hingga membuat Baekhyun semakin tak bisa menahan diri. Tangannya yang semula diatas kini sudah turun ke kepala Chanyeol dan meremas rambutnya.
"Jj-Jangaannhh.. Uhh.. Ngghh.. Ssaakkiitt.."
Chanyeol yang ketagihan dengan desahan Baekhyun menurunkan tangannya dan memasukkan jari tengahnya kedalam milik Baekhyun. Ia mengoral milik Baekhyun sambil terus bermain dengan payudara Baekhyun. Entah kenapa, baru kali ini permainannya begitu terasa menyenangkan. Baekhyun terus saja mengeluh dan mendesah tanpa habis. Dan Chanyeol pun masih terus saja mengoral vagina Baekhyun hingga basah. Ia pun sempat memperhatikan Baekhyun meneteskan air mata sambil memejamkan matanya rapat. Entah itu karena sedih atau nikmat, persetan dengan itu. Toh, itu bukan urusan Chanyeol.
"Chaann... yeeoll.. Aaahh.. Achh.. Ngghh"
"Apa kau ingin aku berhenti, sayang?"
"Baahhh.. Jinggann... Enggghh.."
"Hahahaha.. Kau akan suka yang satu ini jalang."
Chanyeol memindahkan jarinya keluar dan bermain dengan biji kacang milik Baekhyun. Chanyeol sangat tau bahwa wanita akan sangat berterima kasih padanya karena telah memainkan klitoris milik mereka. Dan seperti yang diharapkan, Baekhyun bahkan sampai menggeliat saat bagian kecil itu digesek dengan cepat.
"Ngghh.. Ahh.. Achhh... Kkkauu.. Nggghh... Brengghhhsekkk.."
"Bukankah kau ingin mengingat apa yang terjadi semalam? Hahahaha, aku hanya membantumu mengingatnya"
"Enggghhh.. Akkk..-Uuhh.. Inngghh.. in.. Kenchiinggghh.. Acchhhh"
Baekhyun sampai pada waktunya. Ia benar-benar dibuat klimaks. Cairan cintanya pun mengalir cukup banyak di sprei. Bagitu juga di tangan Chanyeol. Chanyeol yang awalnya senang melihat Baekhyun kelelahan langsung terkejut melihat tangannya penuh dengan cairan kental bening baekhyun. Apa? Tunggu dulu? Cairan kental bening? Itu artinya..
"Hei, Jalang. Bolehkah aku bertanya? Tanya Chanyeol sambil terus memandangi tangannya dengan raut tidak percaya.
"Ap-ppa.." Jawab Baekhyun dengan nafas tak beraturan karena lelah.
"Apakah ini pertama kalinya bagimu? Apa akulah yang pertama kali melakukan ini padamu?"
"Hmm.. Tentu saja, Park Chanyeol. Kau lahhh.. yangh.. Hff.. Pertama kali melakukan ini padaku."
"Kau lah yang pertama kali.. menyentuhku, melihatku dan melakukannya padaku" Sambung Baekhyun dengan nada hendak menangis.
Memang ini baru pertama kalinya Baekhyun melakukannya. Ketika Ia seringkali menggoda pria, ketika Ia selalu saja disamakan oleh ibunya sebagai pelacur, ketika ia bahkan tak sungkan bercumbu dengan orang lain, sebenarnya.. Tidak ada satupun pria yang pernah berhasil menyentuhnya. Ia mungkin akan tahan mendengar hinaan orang lain, tapi.. Ia akan menjaga miliknya hanya untuk seseorang yang benar-benar dicintainya nanti. Ia ingin merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan saat mereka menikah. Hanya saat setelah menikah. Mungkin itu terdengar kuno namun Baekhyun selalu percaya bahwa bercinta sebelum menikah adalah yang terburuk. Dan sekarang impian untuk menjaga miliknya untuk seseorang yang pantas, musnah karena pria sombong dihadapannya itu.
Chanyeol yang berpikir hanya ingin menggoda Baekhyun benar-benar tidak habis pikir. Memang benar, dia tidak berbuat apa-apa semalam. Bahkan sampai sekarang Baekhyun masih perawan karena Ia tidak berpikir bahwa ini adalah yang pertama kalinya untuk Baekhyun. Tapi.. Bagaimana bisa gadis ini mampu menjaga miliknya ditengah lingkungannya yang bisa dibilang sangat buruk? Jangankan untuk bercinta, gadis ini juga membuktikan padanya bahwa Ia tak pernah tersentuh. Wanita yang tidak pernah bercinta atau masturbasi, akan mendapati cairan beningnya begitu kental. Dan inilah yang membuat Chanyeol terkejut dan sedikit menyesal melakukannya. Ia tidak pernah tidur ataupun bercinta dengan gadis perawan sebelumnya. Ralat. Pernah. Sekali. Dan itupun sungguh sudah sangat lama.
Chanyeol masih membeku menatap gadis kecil disampingnya. Ia tak berhenti menangis karenanya. Itu karena Baekhyun berpikir bahwa ia sudah kehilangan keperawanannya karena Chanyeol. Dan itu semakin membuat Chanyeol buruk. Namun Ia tetap tak boleh terlihat lemah dihadapan gadis itu. Ia harus terus berpura-pura telah melakukannya. Setidaknya agar gadis itu berhenti bersikap menyebalkan. Sungguh, Chanyeol benar-benar merasa iba pada pemikiran kuno gadis ini.
"Sudah, hentikan tangisanmu itu. Apa dengan menangis kau akan kembali perawan? Sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dulu."
"..."
"Kita mandi bersama. Aku akan membersihkannya untukmu. Toh kita sudah melakukannya. Dan yang harus kau ingat adalah, kita sama-sama menikmatinya. Jadi ini bukan hanya dosaku tapi juga dosamu."
"..."
Gemas melihat Baekhyun tidak bergeming, Chanyeol langsung mengangkat tubuh bugil Baekhyun ke kamar mandi. Chanyeol membersihkan setiap inci tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati. Sedangkan, Baekhyun, padangannya kosong dan matanya memerah karena menangis. Gadis ini harusnya merasa beruntung mendapatkan pelayanan istimewah dariku celoteh Chanyeol dalam hati sambil terus menggosok.
Between Us
Di meja makan..
Baekhyun hanya memutar-putar garpu miliknya. Sedangkan Chanyeol sibuk menghubungi orang kantor dan kliennya. Ia benar-benar tidak bisa masuk bekerja hari ini. Ia harus mengurus gadis menyebalkan ini terlebih dulu. Baekhyun jadi pemurung, dan Chanyeol jadi merasa risih karenanya. Dia terlihat seperti mayat hidup.
"Hya! Apa kau akan terus memutar garpumu seperti itu? CEPAT MAKAN ITU JAL..."
Tingg..
Garpu yang jatuh dari tangan Baekhyun beserta orangnya. Baekhyun jatuh pingsan. Dan tubuhnya benar-benar panas sekarang. Dia demam. Melihat itu Chanyeol langsung membawanya ke kamar dan menelpon dokter. Ia benar-benar panik sekarang.
"Kekasihm.."
"Tolong jangan salah paham dok, dia bukan kekasihku. A-aku.. Aku menemukannya pingsan dijalan semalam dan saat selesai makan dia pingsan lagi." Terang Chanyeol yang terlihat amatiran berpura-pura.
Dokter hanya tersenyum mendengar itu.
"Iya, baiklah. Gadis ini hanya demam biasa. Sepertinya Ia kedinginan semalam. Apa kau menyalakan pendingin dengan suhu tinggi? Keadaan tubuhnya sangat rendah jadi seharusnya kau menyalakan penghangat ruangan saja setelah ini."
"Itu benar. Aku sungguh tak bisa tidur dengan penghangat ruangan, dok. Jadi saat aku tidur dengannya.. Ah, maksudku saat tidur sekamar beda ranjang dengannya aku menyalakan pendingin karna kupikir itu tidak masalah." Chanyeol benci keadaan ini. Kenapa ia jadi sulit berbohong dalam situasi seperti ini? Dokter ini pasti akan memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.
"Hmm.. Begitu rupanya. Baiklah, aku akan menuliskan resep obatnya padamu. Jangan lupa, obat ini diminum setelah makan 3 kali sehari. Jika demamnya sudah turun kau bisa hentikan obatnya, jika demamnya tak kunjung turun atau dia belum siuman juga kau harus membawanya ke rumah sakit."
"Baik dok, terima kasih banyak"
Sweet Snow Cafe
"Apa kau sudah menghubungi Chanyeol, Kris?" Tanya Jongdae cemas
"Belum. Aku tak punya kontaknya, bodoh."
"Lalu bagaimana ini? Nyonya Heecul meneponku pagi tadi menanyakan putrinya yang tak kunjung pulang. Aku bilang padanya Baekhyun menginap dirumah Minnie semalam. Bagaimana jika Chanyeol berbuat sesuatu yang tidak-tidak pada Baekhyun, Kris? Lakukan sesuatu."
"Hisshh.. Kau ini berisik sekali! Aku juga cemas kenapa kau memperkeruh keadaan. Tenanglah."
"Maaf Kris, aku hanya panik. Ah, bagaimana jika kau menelpon temannya itu? Jongin-ssi."
"Ckk. Tepat sekali. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?"
Baekhyun belum juga siuman. Panasnya juga makin tinggi. Bagaimana cara membangunkannya? Ia harus minum obat agar panasnya turun. Chanyeol benar-benar kesal saat ini. Ia tak mungkin menelpon pembantunya dirumah untuk bertanya. Ia juga tak mungkin membawanya ke luar apartemen karena mata-mata ibunya pasti berkeliaran. Ia mungkin saja berani jika itu wanita lain, tetapi kasusnya saat ini lain.
Chanyeol terus saja mengompres dahi Baekhyun agar panasnya segera turun. Ia berharap gadis ini tidak mati di apartemennya karena itu berarti Chanyeol-lah yang akan dituduh membunuhnya.
Ting tong... Ting tong..
"Siapa keparat yang datang pagi-pagi begini?"
Bel terus saja berbunyi. Dan mau tidak mau Chanyeol harus beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu. Siapa seseorang yang datang pagi-pagi seperti ini mengingat ini hari aktif? Jangan sampai itu ibunya karena semua bisa kacau. Saat membuka pintu, Chanyeol disambut oleh sebuah hantaman di wajahnya.
Buukk..
"Dasar keparat! Dimana Baekhyun? Apa yang kau lakukan dengannya, brengsek?" Jongin dengan puncak kemarahan tertinggi menghantam Chanyeol tanpa ampun. Sedangkan yang dipukuli merasa begitu terkejut dan tidak bisa membalas.
"Jawab aku! DIMANA BAEKHY.."
"Jongin.."
"Bb-baekhyun. Baek, apa kau baik-baik saja?" Jongin yang terkejut saat Baekhyun memanggilnya langsung lari ke arahnya dan memeluknya. Sedangkan Chanyeol masih membeku melihat Baekhyun sudah siuman.
"Baek.. Apa kau baik-baik saja? Apa Chanyeol menyakitimu? Maaf, seharusnya kemarin aku datang menemuimu. Sungguh maafkan aku, Baek."
"Kau kira apa yang akan aku lakukan padanya? Kau datang kesini memukulku tanpa sebab. Tanya saja dia, apa yang telah aku lakukan padanya. Hei jalang, jawab dia!"
"Aku tak apa, Jongin. Semalam aku mabuk dan Chanyeol membawaku kemari karna tak tau rumahku." Jawab Baekhyun dengan senyum dipaksakan.
"Puas kau sekarang? Harusnya sekarang aku mendapatkan permintaan maaf darimu, Jongin. Dasar sampah!"
"Maafkan aku, Chanyeol. Aku sungguh tidak bermaksud menyaktimu. Aku terlalu khawatir saat tau.."
"Saat tau jalang ini ada di apartemenku? Seburuk itukah aku dimatamu?"
"Bukan be.."
"Pergi. PERGI DARI SINI KIM JONGIN!"
Chanyeol merasa sakit sekarang. Jongin, teman dekatnya bahkan tak percaya lagi padanya. Ia memang melakukan sesuatu pada Baekhyun, tapi.. Seburuk itukah dirinya untuk Jongin? Ia bahkan datang langsung memukulnya tanpa bertanya.
Jongin sendiri langsung merasa bersalah pada Chanyeol. Tak seharusnya Ia langsung memukulnya tanpa mendengar penjelasan Chanyeol lebih dulu. Ia benar-benar khawatir pada baekhyun tadi. Ia sudah habis akal apa dia itu Chanyeol temannya atau orang lain. Ia akhirnya mengajak Baekhyun pergi dari sana setelah diusir. Akan lebih baik membiarkan Chanyeol tenang sesaat.
"Tunggu.."
"Bukankah aku mengusirmu, Kim Jongin?"
"Tentu, aku akan pergi dari sini, Chan."
"Lalu, kenapa kau membawa gadis ini pergi bersamamu?"
"Apa maksudmu?"
"Dia akan tetap disini, Tuan Kim. Denganku. Baekhyun tidak akan pergi kemana-mana."
.
.
TBC
.
.
NB : Long time no see.. Setengah Abad sudah kita tidak berjumpa wkwkwkwk.. Tolong jangan kutuk aku setelah ini. Ini bener-bener 'accident' guys... Really. Laptop ane RIP jadilah menunggu yang baru. Oiya, gimana kabar kalian? Sampek busuk ff ini kelamaan nggak di jamah. Ada banyak banget yang pengen aku sampein nih disini. Satu, Maaf ya readers, lama banget gak update.. Maaafff.. banget. Nggak papa deh nggak di review, yang penting dimaapin. Dua, aku ingkar janji bikin humor part di chapter ini karena file lama ada di laptop lama dan saat buat baru aku lupa alur yang sudah aku buat. Aneh kan? Saking lamanya, yang bikin cerita aja sampek lupa. Gimana kalian ya? Baca aja lagi dari chap 1 kalau masih minat hahahahaha.. Tiga, aku buka Q&A di chap selanjutnya. Yang mau tanya" silahkan, pasti aku jawab. Nanti aku post setelah akhir cerita chap 6. Asal jangan tanya aku udah pacar apa belum aja ya.. Nanti diri ini meriang bacanya. Empat, maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Sekian chingu..
