Hai! Ini adalah fanfiksi pertama saya dalam fandom Gintama. Oh, dan fanfiksi pertama saya setelah... 5 tahun? 6 tahun? Yah, begitulah.

Well, tanpa banyak bacot, enjoy!


Disclaimer

Gintama (c) Hideaki Sorachi

Warning: AU themed

Rated T because of our main casts' foul mouth

Semua karakter yang ada dalam fanfiksi ini bukan milik saya dan saya tidak mengambil keuntungan material sedikit pun dalam pembuatan fanfiksi ini.


"OI SADIS BAU! BANTU AKU TURUN!"

Gadis remaja itu terus menerus mengeluarkan sumpah serapah ke pada lelaki, Sougo, yang kini ada di bawah pohon sambil menyeringai. Ia ingin sekali mencakar wajah sadis menyebalkan itu dan menjambak rambut coklat pasir si laki-laki tetapi apa daya, ia hanya bisa memeluk erat batang pohon dan hanya berharap kalau ia tidak akan jatuh.

Sougo mencoba tidak memedulikan segala serapahan gadis itu. Ia sudah biasa. Justru iai menikmati teriakan si gadis yang ia tahu sebenarnya tengah ketakutan setengah mati. Ah, ia benar-benar tak ada bosannya memandangi wajah setengah marah dan setengah takut gadis berambut Vermillion itu.

"Oi, Gadis Cina," panggil Sougo ke gadis di atas pohon, Kagura.

"APA, BOCAH SIALAN?!"

Sougo mengangkat sebelah alisnya. Bocah, katanya? Hei, bahkan Kagura tak lebih tua darinya. Tidak, Kagura lebih muda 4 tahun darinya! Benar-benar kurang ajar anak ini…. Tapi, ia merasa kasian juga melihat si gadis remaja itu memeluk batang pohon tanpa bisa ke mana-mana. Hari juga sudah semakin malam. Angin musim gugur benar-benar menusuk di malam hari. Melihat anak itu hanya memakai jaket tipis... berani taruhan. Pasti dia kedinginan di atas sana.

Berhubung jiwa sadisnya tidak sedang tinggi-tingginya, akan kubantu dia, pikirnya.

"Kalau kau ingin turun, lompat saja. Nanti akan kutangkap."

"OGAH! AKU TAK PERCAYA! KAU PASTI AKAN MENJATUHKANKU!"

Sougo menghela napas. Niat baiknya malah diragukan begini.

"Ya sudah, kalau begitu kau akan terus di atas sana sampai, paling tidak, tengah malam saat Boss pulang dari Pachinko. Dan kau tak bisa mengandalkan Kondou-san maupun Hijikata sialan karena mereka tidak akan pulang malam ini. Jadi, selamat kedinginan~ " Lalu ia segera berbalik badan dan angkat kaki. Namun baru beberapa langkah-

"Hei, tunggu!"

Sougo berbalik badan dan tersenyum menang melihat gadis itu yang kini sedang memasang wajah kecut.

Kagura merasa setengah menyesal memanggil Sougo kembali setelah melihat senyum kemenangan di wajah itu. Ia tidak sudi jadi babu cowok sadis itu tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin ia menunggu Gin-chan pulang dari Pachinko dan membantunya turun dari sini. Ini sudah 3 jam dia ada di atas sini dan ia sudah kedinginan. Hidungnya mulai terasa membeku. Kalau terus begini, bisa-bisa ia akan masuk angin besok.

Serius, terkutuklah seseorang yang mencuri tangga yang ia pakai untuk memanjat pohon di rumahnya saat ia tertidur di atas sana! Padahal tangga itu adalah tangga yang ia pinjam (tanpa izin) dari kakek botak yang tinggal di blok sebelah! Ini namanya pencarian, eh, pencurian! Kalau yang dilakukan Kagura bukan mencuri, loh ya. Kagura tadi meminjam. Meskipun tanpa izin, sih. (Yang Kagura tidak tahu, sebenarnya yang mengambil tangga yang ia pinjam coretcuricoret adalah kakek-kakek botak yang mencari tangganya)

"Awas kalau kau sampai menjatuhkanku! Kubunuh kau!" Ancam Kagura sambil memberikan tatapan tajam ke Sougo.

"Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Yang penting, cepat turun! Aku mulai kedinginan!"

Kagura memberikan tatapan tak percaya ke Sougo selama beberapa detik sebelum akhirnya mempersiapkan ancang-ancang untuk lompat. Akan tetapi, seketika angin yang lumayan kencang berhembus dan ia kehilangan keseimbangannya dan mulai terjatuh-

"WUAH!"

"Oi! Hati-hati!"

BRUK!

"Aduduh… " Kagura merasakan pantatnya agak nyeri. Tapi... Loh? Rasanya tidak seburuk yang ia bayangkan.

"Ga, gadis Cina, sampai kapan kau mau menduduki perutku… Kau lumayan berat, tau."

Kagura memandang ke bawahnya. Gadis itu ternyata mendarat di perut Sougo yang tadi berusaha menangkapnya namun tak berjalan mulus.

Kagura segera beranjak dari perut Sougo dan menatap laki-laki itu dengan muka cemberut. Sougo bernapas lega merasakan beban di perutnya terangkat. Hah… Ia pikir ia akan mati tadi. Loh, kakinya rasanya sedikit nyeri.

"Sa, sadis bodoh! Seharusnya kau menangkapku dengan benar tadi! Lihat! Bajuku jadi kotor, kan!" Kagura menunjuk sedikit noda di bagian bawa roknya yang terkena tanah.

Sougo melongo tak habis pikir dengan ucapan gadis mata biru barusan. Padahal kalau soal baju, kondisi seragamnya sekarang ini lebih parah. Bagian belakang seragamnya sekarang berbercak coklat tanah. Oh, jangan lupa juga rasa nyeri di kakinya. Sepertinya pergelangan kakinya sedikit terkilir saat mencoba menangkap bocah itu.

"Kau ini…." geram Sougo. Kemudian ia mencubit kedua pipi Kagura kencang. "Bukannya terima kasih sudah ditolong, malah komplain!"

"Awww! Hyakhiihh! Lefhasykaaann, dwasyay swadwisshh!" (Aww! Sakiit! Lepaskaan, dasar sadiiiiss!)

DUAK!

"ADAW!"

Sougo melepaskan cubitannya dan segera memegangi kaki naasnya yang ditendang Kagura. Sudah terkilir, kena tendang pula. Nasibnya memang tidak pernah baik jika berurusan dengan Gadis Cina itu.

Kagura dengan sudah tidak peduli dengan keadaan Sougo dan segera berlari masuk ke apartemennya. Sedangkan Sougo dengan kaki terkilirnya mencoba untuk berjalan pelan-pelan dan tertatih untuk pulang ke rumahnya sendiri yang berada tepat di samping rumah Kagura.


Sougo dan Kagura adalah tetangga sejak 4 tahun yang lalu. Kagura bukan orang Jepang. Kagura pindah dari Tiongkok, negaranya, ke Tokyo dan tinggal bersama Sakata Gintoki, yang sering ia sebut Gin-chan, yang merupakan paman jauhnya (Gin-chan adalah anak dari sepupu jauhnya sepupu dari istri adik mantunya kakak kakeknya. Benar-benar jauh sekali) sejak ia berumur 11 tahun. Ia pindah karena ibunya meninggal dan ayah botaknya yang kurang bertanggung jawab itu menitipkannya pada Gin-chan yang merupakan orang Jepang dengan alasan tidak mau anaknya harus hidup sendiri. Pekerjaan ayahnya yang merupakan pelaut memang tak memungkinkan sang ayah untuk berada di rumah. Karena tak bisa meninggalkan pekerjaannya, ia akhirnya menitipkan Kagura ke Gintoki. Oh, iya, ia juga memiliki seorang kakak laki-laki. Namun kakaknya menghilang sejak ibunya meninggal. Ia bilang ingin membalaskan dendam ibunya ke ayahnya. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan kakak bodohnya itu, sungguh.

Kini Kagura hidup dengan Gin-chan dan Sadaharu, anjing yang mereka pelihara, dan tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran Tokyo. Sejak pertama kali ia pindah, ia sudah "akrab" dengan Okita Sougo, laki-laki yang lebih tua 4 tahun darinya yang tinggal di rumah sebelah bangunan apartemen kecilnya tersebut. Rumah itu terdiri dari Okita Sougo, Hijikata Mitsuba (kakak perempuan Sougo), Hijikata Toushiro (suami Mitsuba), dan Kondo Isao (wali dari Sougo dan Mitsuba, serta secara mengejutkan adalah atasan Hijikata). Kagura dan Sougo bisa "dekat" karena sewaktu mereka pertama kali bertemu, Sougo dengan "baik"nya memberikan Kagura "hadiah" yang berisi kecoa. Tentu saja melihat itu Kagura kecil menangis "bahagia", kalau menurut Sougo. Sejak saat itulah, mereka berdua tidak bisa terpisahkan. Kagura selalu memperhatikan Sougo (hati-hati jika kesadisan Sougo kumat) dan Sougo selalu mengajak Kagura bermain (mengerjai Kagura tiap waktu). Mereka sangat akrab, bagaikan kucing dan anjing.

"Aaahhh! Hari ini benar-benar buruk! Ini semua pasti semua gara-gara Sadis sialan!"

Kembali ke Kagura, gadis itu tengah mencak-mencak sambil mengeringkan dirinya yang baru saja mandi. Dalam logika Kagura, semua kesialan yang menimpanya disebabkan oleh Sougo.

"Benar-benar…"

PING

Fokus Kagura terdistraksi oleh bunyi notifikasi ponselnya. Ia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengechat. Mungkin saja itu Souyo-chan, sahabatnya di sekolah. Souyo-chan memang sering mengirim chat jam segini...

'Okita Sougo'

Bibir Kagura menekuk ke bawah. Ia menekan tombol notifikasi untuk melihat untuk apa si sadis itu mengirim chat. Kalau isinya menyebalkan, ia bersumpah akan menjejalinya dengan tai Sadaharu.

Okita Sougo: Kau harus berterima kasih dan meminta maaf padaku.

Okita Sougo: Lihat, setelah aku menolongmu, kau malah mendedangku dan membuat kakiku begini.

Okita Sougo sent a picture

Detik itu juga Kagura langsung merasa bersalah. Mau ia kesal dengan Sougo seperti apapun, ia tidak tega melihat apa yang terjadi di kaki laki-laki itu. Di gambar itu terdapat foto pergelangan kaki si Sadis yang membengkak dan mengungu. Melihatnya saja sudah membuat Kagura ngilu. Pasti bakal lama sembuhnya itu...

Kagura-chan: Uh-oh, Sadis , pasti sakit, ya.

Okita Sougo: Oh, ya. Sakit sekali sampai-sampai aku tak bisa jalan. Sebagai hukuman, kau harus jadi babuku sampai kakiku sembuh.

Kagura mengucek matanya, berharap ia salah baca.

Kagura-chan: A, apa?! Babumu?! Ogah!

Okita Sougo: Aw, kakiku rasanya sakit sekali, Cina. Kau tau, ketika aku menangkapmu tadi, kakiku sebenarnya sudah terkilir. Lalu kau menendangku. Dan kau bisa lihat sendiri hasilnya.

Oke, rasa salah meningkat dua kali lipat.

Okita Sougo: Rasanya sakit sekali, Cina.

Kagura-chan: ...

Okita Sougo: Sepertinya aku tidak akan bisa jalan dalam waktu yang lama gara-gara ini.

Kagura-chan: Uhh...

Okita Sougo: Bagaimana bisa aku ke sekolah? Lalu, bagaimana aku akan menjalankan kegiatan klub? Bahkan orang yang membuatku begini tak mau bertanggu jawab.

Kagura-chan: ...UGH! BAIKLAH! BAIKLAH! AKU MENGERTI!

Okita Sougo: Hmm? Kau mengerti apa?

Kagura-chan: Uhh… Kau tau, lah maksudku. Masa aku harus mengatakannya?

Okita Sougo: Tentu saja.

Kagura-chan: Aku tidak mau!

Okita Sougo: Aw, kakiku.

Kagura-chan: Kau memang sadis sialan yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain terkutuklah kau.

Kagura-chan: Aku akan jadi pesuruhmu sampai kau sembuh

Kagura-chan: Oh, kurasa aku harus menjernihkan pikiranku. Tak bisa dipercaya aku mengetikkan kata-kata nista itu.

Okita Sougo: Bukan pesuruh, babu.

Kagura-chan: Ah, masa bodoh! Sama saja!

Okita Sougo: Oke, aku memegang janjimu. Aku sudah menscreenshootnya agar kau tak bisa mengelak.

Okita Sougo sent a picture

Kagura bisa melihat screenshoot chatnya dengan Sougo. Ingin sekali rasanya ia menghapus itu semua.

Kagura-chan: Sadis sialan, mati dan pergi ke neraka, sana.

Okita Sougo: Aku tau kau akan kesepian tanpaku, Cina.

Kagura-chan: Kau menjijikkan. Enyah, sana!

Kagura mengehela napas panjang. Ah! Dia benar-benar sial hari ini!

PING!

'Okita Sougo'

"Ada apa lagi, sih, si Sadis itu…"

Okita Sougo: Kau seharusnya memakai celana kalau ingin memanjat pohon.

Okita Sougo: Motif kelinci. Seleramu memang selera anak-anak, ya.

Okita Sougo: Oh, iya. Aku lupa. Kau memang anak-anak.

Kagura bisa merasakan darah mengalir ke wajahnya. Beberapa karena malu, sebagian besar karena marah.

"OKITA SOUGO KAU SADIS MESUM SIALAAAAAANNNN!"

Di kamarnya, Sougo hanya terkekeh mendengar teriakan frustasi tetangganya. Ia benar-benar menantikan hari-hari di mana ia bisa bersenang-senang dengan Gadis Cina itu.


How was it? Did you enjoy it? Or no? Mana pun itu, tolong review, ya! Review anda dapat menyelamatkan hidup(?)!