Getaran konstan pada saku celananya, membuat Jungkook berhenti melangkahkan kaki menuju lift. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengambil ponsel pintarnya dari sana, kemudian mengangkat panggilan yang masuk setelah membaca sekilas nama pemanggil di seberang sana.
"Halo...,"
Suara orang yang bercakap-cakap terdengar sebelum suara lembut menyapanya dengan hangat."Kookie, kau di mana?" Jungkook menyipit senang mendengarnya. Calon istrinya ini benar-benar menggemaskan.
"Mengantar undangan. Ada apa, sayang?" Ucapnya sembari menunggu pintu lift yang masih beroperasi terbuka. Ada orang yang naik ke lantai ini, gumamnya dalam hati.
Jungkook dapat mendengar helaan nafas pelan di seberang sana. Jiminnya mungkin sedang kesal. "Caroline sudah datang. Ia membawa banyak sekali buku menu untuk catering resepsi kita nanti. Cepat, ya? Ia ada urusan di Jepang lima jam lagi."
Mengangguk afirmatif, Jungkook menjawab dengan begitu lembut, "Iya, sayang. Aku akan sampai lima belas menit lagi."
TING!
"Okay. See you soon, honey."
Belum sempat Jungkook menjawab, suara dentingan lift membuatnya mengangkat wajah sebelum masuk ke dalam sana, yang ternyata berisi gerombolan orang berbusana putih khas tim medis dari sebuah rumah sakit yang ia kenal. Mereka membawa sebuah tandu lipat beroda dan sebuah tabung oksigen, juga beberapa peralatan kegawatdaruratan yang mereka jinjing. Dan satu hal yang sangat mengejutkan bagi Jungkook adalah, di sana, dokter yang berdiri di barisan terdepan itu adalah orang yang ia kenal baik. Wajahnya memang tenang, namun gerak matanya begitu ketakutan. Belum lagi orang di sampingnya itu, yang Jungkook tahu adalah kekasih dari si dokter tadi.
Namjoon, itu adalah Kim Namjoon. Kekasih dari Kim Seokjin, kakak kandung Kim Taehyung.
Jungkook masih berdiam diri di tempatnya, namun kemudian mundur beberapa langkah guna memberi jalan bagi mereka yang terlihat sedang bergegas menjalankan tugas. Ia menatap lekat pada Namjoon yang menginstruksikan pada para perawat menuju kamar nomer dua ratus tiga puluh satu dengan suaranya yang berat dan terkesan memerintah.
Jungkook tak sempat berpikir mengapa ia seakan tak diindahkan eksistensinya, padahal sedari dirinya berdiri menatap mereka dengan wajah bingung. Mungkin aura mencekam menegangkan yang menguar di antara gerombolan itu membuat mereka tak sempat menyadari kehadiran Jungkook saat ini.
Namjoon, ia ingin bertanya pada Namjoon ada apa sebenarnya, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan, tercekik seketika saat salah satu dari mereka yang tak mengenakan seragam medis menyadari eksistensinya. Jungkook bergedik ngeri saat orang itu beberapa detik sempat menatapnya garang, ganas, dan murka.
Jungkook mengerutkan kening saat Seokjin berhenti berlari, membiarkan diri ditinggal berlari menuju sebuah pintu bernomor dua ratus tiga puluh satu untuk kemudian dimasuki. Bulu roma Jungkook meremang ketika Seokjin menatapnya tajam sekali. Wajah pria itu tampan itu sangat kaku dengan rahang yang mengeras kuat. Seokjin yang menggeritkan gigi membuat Jungkook tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan itu menyangkut dirinya.
DUAGH!
Jungkook mundur beberapa langkah, ia kemudian meludah ke lantai untuk membuang darah yang sempat tercecap. Rahangnya terasa ngilu setelah mendapat bogeman mentah dari kakak kandung mantan kekasihnya yang masih menatap penuh amarah padanya.
"Bangsat, sialan." Geraman itu membuat Jungkook menatapnya tak mengerti. Pria di depannya ini benar-benar membuatnya kebingungan. Apa salahnya?
"Kau akan menyesalinya, Jeon. Camkan itu sampai mati."
Lalu suara roda yang berisik membuat Seokjin yang tadinya mengamuk padanya segera menghampiri sebuah brankar yang telah digunakan oleh seseorang yang tak sadarkan diri. Jungkook dapat melihat Seokjin yang langsung menangis setelah menggenggam tangan pucat yang lemas tak berdaya. Jungkook hanya bisa berkedip ketika Seokjin menyebut-nyebut nama orang yang terbaring tak sadarkan diri itu berulang kali. Ia hanya bisa terdiam sembari menyaksikan brankar itu dibawa pergi menuju ke dalam lift yang tadinya ingin ia gunakan.
Jungkook melihatnya: Kim Taehyung terbaring lemah dengan masker oksigen yang terpasang erat di jalur nafasnya. Taehyung terlihat begitu mengenaskan dengan wajah pucat berpeluh di mana-mana, juga nafasnya yang sangat lemah.
Dan satu hal lagi yang membuat Jungkook dibuat sakit kepala saat itu juga.
Taehyung hamil?
Anak siapa?
...
...
...
...
WEDDING INVITATION, Ch 2
By Sasayan-chan
| Oneshoot (become two shoot) |
T+
| HURT/COMFORT | ANGST+++++ | FAMILY |
Beware with typos, non-EYD, dan beberapa kata tak sinkron. :")
.
.
.
.
.
.
Thank's for Mommy Clou3elf ,it's because of you this fic done!
And this is for firefliess , who fuckin love with salt everywhere wkwk.
.
.
.
HAPPY READING, sweets~
...
...
...
...
Suara sirine yang menggema di dalam mobil ambulans yang melaju cepat membuat suasana semakin menegangkan. Dia dalam mobil yang berbunyi nyaring, Namjoon berusaha keras membuat pasiennya—setidaknya untuk saat ini—kembali menunjukkan kembang kempis dada diiringi detak jantung yang kembali mengetuk. Dibantu oleh Seokjin yang kini menahan posisi Taehyung miring tiga puluh derajat ke kiri, Namjoon segera menekan dahi Taehyung ke belakang dan membuka jalur nafasnya. Dokter Kim itu kemudian dengan sangat cekatan melihat dada yang tak bergerak sama sekali, lalu mendekatkan telinga untuk mendengar suara napas yang selirih apapun tak terdengar, dan merasakan tidak adanya sensasi hangat yang menerpa kulit tannya.
"CEPAT! CEPAT! TEROBOS LAMPU MERAH! BUNYIKAN KLAKSON!"
Namjoon kalap. Taehyung tak menunjukkan tanda-tanda bernafas sama sekali, dan ini sungguh menakutkan. Ditambah lagi Seokjinnya yang kini mulai sesenggukan menyaksikan adiknya yang tak berdaya membuat ia semakin mempercepat prosedur yang harus dilakukan.
Berdoa dalam hati pada Tuhan, Namjoon segera memeriksa pulsasi karotis Taehyung dengan cepat. Nol. Tidak ada denyut nadi sama sekali. Namjoon mengerang tanpa sadar, ia segera bangkit dan melakukan resusitasi kardiopulmoner di pertengahan sternum adik iparnya. Dengan cepat dan mantap ia lakukan kompresi, lagi dan lagi, tak menghiraukan keringat mengalir meluncuri pelipisnya. Yang ia pikirkan saat ini adalah Taehyung kembali bernafas, dan jantungnya berdetak normal.
Pada kompresi ketiga puluh Namjoon berhenti. Ia kembali menekan dahi Taehyung dan membuka mulutnya. Ia dengan cekatan mengalasi mulut Taehyung yang terbuka dengan kasa, dan segera membekap mulut adik iparnya, memberi nafas buatan satu kali hingga dada Taehyung mengembang, namun tak menunjukkan respon sama sekali. Ia kembali melakukan ventilasi untuk kedua kalinya, dan Taehyung seakan enggan menerima uluran tangannya yang tak kasat.
"Taehyung! Taehyung! Bertahanlah Taehyung!" Namjoon kembali menindih tangannya, lalu menekan sternum Taehyung berkali-kali. Membantu adik iparnya agar kembali hidup, kembali menatap dunia, dan kembali untuk bersama dirinya dan Seokjin.
Panas, menegangkan, dan menyeramkan. Semua suasana itu menggumpal jadi satu di dalam ambulans yang masih harus melewati jembatan sungai Han untuk mencapai rumah sakit. Para perawat sedari tadi terus menghawatirkan Namjoon, sebab dokter itu masih memaksakan diri menangani adik ipar kesayangannya walau ia sudah mulai kelelahan.
Sirine masih melengking nyaring membelah jalanan yang memang sengaja dilengangkan karena beberapa kendaraan menepi memberi jalan. Kepala Namjoon mulai terasa pening sebab Taehyung belum juga memberikan respon sama sekali. "Taehyung! Bayimu butuh kau! Bertahanlah, brengsek! Jangan buat anakmu mati sia-sia hanya karena ibunya tak mau bangkit lagi!"
Seokjin menangis, ia tak kuasa menatap adiknya yang enggan kembali membuka mata dan bernafas dengan normal. Seokjin merasa gagal menjadi kakak, ia merasa tidak berguna. Yang dapat ia lakukan hanya menggengam jemari Taehyung yang dingin kuat-kuat, sembari merapal doa berharap adik tersayangnya ini merespon walaupun sedikit.
Namjoon kembali memberi prosedur ventilasi, membekap mulut Taehyung dengan miliknya, dan memerhatikan pergerakan dada Taehyung karena nafas buatannya. Ia kembali memberi nafas buatan untuk yang keempat kalinya, dan ketika ia melepas nafasnya, seperti mendapat sebuah keajaiban yang menakjubkan, Taehyung terbatuk kuat pada akhirnya. Maka dengan cepat perawat di sampingnya memberi oksigen pada Taehyung, dan beberapa yang lain mulai menusukkan kanul intravena yang dihubungkan dengan cairan pada punggung tangan Taehyung.
Seokjin mengeratkan genggamannya, lalu mengusap kepala Taehyung dengan hati-hati. Ia masih membiarkan matanya tergenang, bahkan semakin menjadi saat Taehyung menyebut sebuah nama yang membuat hatinya teriris karena turut merasakan rasa sakit di hati adiknya yang sedang berjuang hidup dan mati.
"J-Jungkook..."
...
...
...
"Sayang?"
Jungkook terkesiap, lalu ia berkedip cepat. Jimin menatapnya lamat-lamat, penuh kasih dan sayang.
"Ada apa denganmu?" Jungkook memejamkan matanya, merasakan kelembutan telapak Jimin yang membelai kepalanya begitu sayang. Ia kemudian meraih tangan itu, dan mengecup punggung tangannya lama. "Apa ada masalah?"
Jungkook menangkup tangan mungil Jimin untuk dibawa menuju pipinya. Pemuda Jeon itu tersenyum manis saat ibu jari Jimin membelai pipinya lembut sekali. "Aku tidak apa-apa. Mungkin kelelahan karena seharian mengantar undangan?"
Satu kecupan mendarat di bibir Jungkook, dan Jungkook semakin melebarkan senyumnya. Kali ini Jimin menangkup kedua pipi Jungkook dan menghadapkan wajah itu tepat di depan wajahnya begitu dekat, dekat sekali.
"Jangan bersembunyi jika kau akan terlihat sebegitu transparannya." Ucap Jimin sembari mengusak hidungnya dengan milik Jungkook main-main. Hal itu membuat Jungkook terkekeh geli dan mengecup cepat bibir Jimin yang ranum memerah. Jimin akhirnya sedikit bangkit, lalu mendudukkan diri pada pangkuan calon suaminya ini. "Katakan padaku, ada apa?"
Tangan yang terulur memeluk punggungnya, dan dada yang saling bersinggungan, membuat Jungkook semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Jimin yang ramping. Ia kemudian membawa wajahnya untuk mengendusi aroma Jimin di perpotongan lehernya yang putih bersih, dan membenamkan dahinya di sana. Nyaman sekali.
Jimin mengerang tertahan. Jungkook menggigit lehernya dan menyesap lukanya di sana. Ia segera menarik kepala Jungkook agar tak kembali membuat tanda di sana, atau ayah ibunya akan marah karena Jungkook telah menyentuhnya sebelum hari pernikahan mereka.
"Aku tidak apa-apa, sayang."
"Taehyung?"
Dan Jungkook berhenti mengulum jakun Jimin. Namun, sedetik kemudian ia kembali menyesap leher calon istrinya, dan bergumam tentang itu tidak ada hubungannya dengan Taehyung.
Jimin menghela nafas, frustasi. "Lalu apa?"
Dan sentakan kuat Jimin dapatkan hingga tubuhnya terlentang pasrah di atas sofa tempatnya sedari tadi bercuddling ria bersama sang calon suami di sore hari. Ia memuja takjub pada lengan kekar Jungkook yang memerangkapnya begitu kuat, terkesan seksi dan manly.
"Ini yang aku inginkan."
Dan desahan serta erangan memulai permainan surga dunia yang Jungkook berikan pada Jimin sekarang hingga tengah malam nanti.
...
...
...
Taehyung mengerjap pelan. Melirik dengan gerakan lambat manakala dokter yang menangani operasi caesarnya memanggilnya sembari membawa sesosok bayi mungil yang baru saja diseka setelah lahir dari rahimnya. Taehyung menggigit bibirnya yang bergetar, hatinya terasa meletup-letup bahagia, sebab ia telah menjadi seorang ibu mulai detik ini.
Dokter kemudian memberitahu Taehyung untuk melonggarkan pakaian operasinya, dan membiarkan dadanya terbuka. Taehyung tahu, ini adalah tahap inisiasi menyusui dini. Ia telah mempelajari itu selama sembilan bulan masa kehamilannnya, dan ini merupakan momen yang paling Taehyung nanti selama dua puluh dua tahun masa hidupnya.
Setelah kulitnya dibiarkan terbuka, dokter segera memindahkan sang bayi untuk tengkurap tepat bersentuhan dengan kulit Taehyung. Membiarkan bayi pertama yang baru lahir itu bersinggungan dengan kulitnya, menambah ikatan kasih seorang ibu dan anak pada keduanya. Dokter tersenyum jenaka manakala Taehyung ingin membantu bayinya dengan memberikan putingnya pada anaknya, lantas dokter itu mencegah Taehyung melakukan itu dengan berasalan bahwa bayi yang baru lahir pasti dapat menemukan sendiri puting ibunya untuk disusui.
Taehyung mengangguk beberapa kali, lantas memerhatikan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki mulai merangkak sembari mengusap wajahnya di dadanya yang hangat. Sungguh, rasanya luar biasa bahagia. Taehyung merasa bangga telah mampu menjaga kandungannya, dan akhirnya ia dapat bertemu sang buah hati sebagai peneman di sisa hidupnya.
Bayinya kini telah sampai pada dada Taehyung, dan mulai menyentuh puting Taehyung dengan tangan mungilnya yang rapuh. Taehyung tak kuasa menahan tangis harunya saat sang bayi mulai menyusu padanya, begitu membutuhkan, dan begitu mendebarkan. Taehyung dengan hati-hati mengusap punggung bayinya yang lembab, lalu memeluknya begitu hangat.
"Sayang, ini eomma...," Taehyung berkata, mengajak bayinya bicara walau yang ia dapat hanyalah hisapan semangat pada putingnya. Taehyung tersenyum bahagia mendapati sang kakak yang kini memasuki ruang operasi dan menyaksikan sang adik yang telah menyusui anak pertamanya.
"Hyung, namanya Seo Eon. Kim Seoeon." Kata Taehyung sembari tetap mengusap punggung bayinya dengan sayang. "Seoeon-ie, nanti jadi dokter, ya. Biar seperti Namjoon-ahjussi!" Kata Taehyung terkekeh, sembari menatap lamat-lamat bayinya yang asyik menyusu padanya.
"Taehyung-ssi, sebentar lagi kembaran putra Anda akan lahir. Mohon bersabar, ya."
Taehyung melongo, begitu pun Seokjin.
"K-Kembar?"
Dan tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang memekakkan telinga, dan Taehyung terkejut mendengarnya. Matanya bergerak cepat mencari sosok suster atau dokter yang membawa bayi itu, dan akhirnya ia menemukannya. Dokter yang tadi membawa anak pertamanya menuju dirinya, kini tengah menyeka kulit bayi kedua yang baru lahir itu sebelum diberikan pada Taehyung untuk diletakkan pada dadanya.
Dokter itu meletakkan bayi keduanya di sisi dadanya yang kosong. Taehyung jadi sedikit kerepotan menyangga tubuh kedua bayinya di atas dadanya. "Pelan-pelan, ne. Hati-hati, nah, seperti itu." Dokter itu tersenyum puas saat Taehyung sudah lihai menggendong kedua putranya.
"Ya Tuhan, Tae." Seokjin berdecak kagum, namun matanya berair parah sekali. Kakak kandungnya itu tidak meraung, tapi air matanya mengalir deras. "Tuhan begitu sayang padamu. Astaga, aku punya dua keponakan laki-laki kembar identik!"
Taehyung tersenyum menanggapi. Ia kemudian mengusap tubuh bayi keduanya, dan membiarkannya mencari puting susunya, merangkak dengan pasti, dan dengan cepat menemukan apa yang bayi itu cari. Gesit sekali, pikir Taehyung.
"Seoeon-ie, ini kembaranmu. Namanya Seo Jun. Kim Seojun." Ucap Taehyung sembari mengusap tubuh kedua putranya dengan sayang, mengahangatkan tubuh mereka dengan pelukannya yang menenangkan. Taehyung tersenyum bahagia, ia benar-benar beruntung rasanya memiliki kedua anak kembar ini. "Seoeon nanti jaga Seojun, ya. Jadi hyung yang baik buat Seojun, oke?"
"Oke!"
Dan Taehyung akhirnya tertawa karena beberapa suster dan dokter, juga Seokjin lah yang menjawab nasihatnya.
...
...
...
Walau Taehyung tahu bahwa dirinya baru saja kehilangan Jungkook untuk selamanya,
Taehyung yakin,
Dengan adanya Seoeon dan Seojun akan meramaikan hari-harinya hingga berwarna dan penuh akan nyanyian kehidupan yang luar biasa merdu.
...
...
...
Ya,
Taehyung percaya itu.
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
TBC
