"Minguk jangan lari-lari, sayang!"
Jungkook hanya menghela nafas menyaksikan Jimin yang sedari tadi tidak bisa berhenti memanggil-manggil Minguk agar tidak berlari-lari. Putranya yang satu itu punya rasa antusias yang sangat tinggi. Oleh karena itu, setiap ada hal yang sangat menarik bagi Minguknya, baik Jungkook dan Jimin harus siap untuk dibuat kewalahan karena anaknya itu tak pantang berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau. Benar-benar sifatnya, pikir Jungkook.
Wajah menggemaskan Minguk yang tengah berlari ke arah tengah taman bermain membuat Jungkook jadi terkikik geli. Pasalnya, raut wajah anaknya yang menggemaskan itu sangat persis dengan wajah Jimin yang gembul dan berisi. Pipi anaknya itu punya rona merah alami yang apabila saat ia dalam suasana hati senang—seperti saat ini—akan muncul dengan sendirinya. Dan, yah, Jungkook sedikit sedih karena lagi-lagi apa yang ada dalam diri anaknya itu merupakan duplikat Jimin seratus persen. Tapi tak apalah. Toh, anak Jimin juga anaknya juga. Malah Jungkook juga yang mengambil peran utama dalam proses pembuatan Minguk sebelum ada seperti saat ini.
"Minguk-ie! Ya Tuhan!"
Belum sempat Jimin berlari, Jungkook menahan istrinya itu. "Kau lebih baik duduk, sayang. Biar aku yang mengejar Minguk." Ucap Jungkook sembari memapah Jimin agar menduduki kembali kursi taman yang sedari tadi mereka duduki. Dan belum sempat Jimin hendak menyemprotinya dengan berbagai protesan, Jungkook cepat-cepat mengusap perut Jimin dengan telapak tangannya yang lebar lalu menyela, "Sssttt! Aku tidak ingin kau dan aegya kelelahan."
Jimin mengulum bibirnya ragu. Tapi setelah menyaksikan manik hitam suaminya yang menatapnya dengan begitu serius, akhirnya Jimin menyerah.
Melarikan tangannya untuk menggenggam tangan Jungkook yang meraba perutnya, Jimin akhirnya bersua, "Oke. Cepat bawa Minguk kemari. Dia belum makan siang, Kook."
Dan satu kecupan di bibir mendarat tepat pada milik Jimin yang merah dan gemuk.
...
Minguk itu kalau berlari cepat sekali. Jungkook harus menguras tenaga ekstra mengejar putra pertamanya itu agar dapat sampai dalam genggamannya. Bocah cilik lima tahun itu kini berlari di tengah lapangan luas taman yang terdapat banyak bocah-bocah lain yang sama dengannya sedang asyik bermain wahana yang ada.
"Minguk-ah!" Jungkook memanggil-manggil putranya berkali-kali, namun yang ia dapatkan adalah tawa jahil sang anak yang sialnya malah buat pria Jeon itu tak dapat menahan tawa jengkelnya. Benar-benar anaknya ini. Menggemaskan namun juga jahil pada orang tua.
Jungkook mengusap peluh yang mampir hingga pipinya. Mengejar Minguk adalah hal yang paling melelahkan, dan Jungkook tak dapat mengakuinya bahwa dari waktu ke waktu ia semakin tua saja.
Jungkook melihat anaknya sedang berlari kencang seperti hendak mengejar sebuah bola sepak yang tergeletak di tengah lapangan. Dan Jungkook semakin dibuat cemas saat bocah lain sedang berlari ke arah yang sama: bola yang Minguk kejar. Dan bagai secepat kedipan mata, Jungkook menggeram karena putranya jatuh terduduk karena bertabrakan dengan bocah tadi, yang juga jatuh seperti Minguk.
Suara tangis pun pecah. Semua orang yang ada di sekitar saling memfokuskan pandangan mereka pada dua orang bocah yang tengah menangis bersama karena terjatuh hendak berebut bola. Jungkook yang melihatnya semakin berlari sebelum seorang pemuda lain tengah menenangkan Minguk dengan bocah itu begitu telaten.
Jungkook yang awalnya merasa ilfeel dengan orang itu, cepat-cepat menjauhkan prasangka buruknya setelah menyaksikan bagaimana pemuda itu nampak begitu baik dengan mengusap kepala Minguknya. Jungkook ingin sekali melihat wajah pemuda itu, namun ia tidak bisa mendapat apa yang ia mau karean kini orang itu sedang menunduk.
Segala skenario ingin memprotes orang itu agar menjaga anaknya dengan baik juga menyemprotinya dengan berbagai hal memalukan sudah tersusun rapi di kepala Jungkook dan hendak terlontarkan saat ini juga sebelum pemuda di depan sana mengangkat wajah untuk menenangkan bocah terduduk di samping Minguk.
Nafas Jungkook seakan direnggut saat itu juga, dan jantungnya mendadak berhenti sebab yang tengah menenangkan kedua bocah itu adalah orang yang pernah mengisi kisah hidupnya, yang membuat Jungkook hancur dalam keterdiaman dalam rumah tangganya, dan yang mampu membuat Jungkook harus pergi ke gereja setiap saat guna penebusan dosanya.
"T-Taehyung?"
Dan Jungkook merasa dunia berhenti berputar detik ini juga.
...
...
...
...
...
...
...
WEDDING INVITATION, Ch 3 (End?)
By Sasayan-chan
T+
| HURT/COMFORT | ANGST+++++ | FAMILY |
Beware with typos, non-EYD, dan beberapa kata tak sinkron. :")
...
...
...
...
...
Terimakasih untuk ucapan serta doa kalian untuk Sasa. Semoga kebaikan kalian dibalas Tuhan dengan kebaikan yang berlipat.
Aamiin.
...
...
...
HAPPY READING
...
...
...
...
"Ssshh..." Taehyung mendesis pelan. Mencoba melembutkan suaranya guna menenangkan bocah imut yang baru saja bertabrakan dengan Seojun. Ia mengusap kepala Minguk yang sepertinya sakit karena terantuk dengan kepala putranya sendiri. "Adik tidak apa-apa, kok. Berhenti menangis, ne?" Taehyung tersenyum manakala bocah berpipi gembil itu kini mencebik penuh lara sembari memegangi dahinya yang merah dengan kedua tangan mungilnya. "Sakit pergi ya. Lekas pergi! Jangan sakiti adik ini lagi ya sakit!" kata Taehyung sembari meniup-niup dahi bocah itu dengan pelan.
Lalu suara tangisan lain terdengar tak lama kemudian. Itu Seojun sedang menangis karena tak dihiraukan oleh ibunya. "Aigoo, Seojun-ie sakit juga, ya?" Taehyung merengkuh Seojun ke dalam pelukannya dan itu mendapat tatapan polos dari bocah berpipi gembil di sebelahnya. "Kau juga ingin dipeluk? Kemarilah."
Dan Taehyung berakhir memeluk Seojun juga bocah berpipi gembil tak berdosa ke dalam rangkulan hangatnya. Ia kembali mengusap kepala dua bocah ini dengan sayang, lalu mengucapkan kata-kata seperti sakit hilanglah, sakit pergilah. Jangan ganggu lagi, jangan ganggu lagi, pada dua bocah yang kini memeluknya manja.
"Maaf,"
Taehyung menghentikan kegiatannya, lantas menjawab suara orang yang terasa tertuju padanya, "Ne? Ada ap—"
Dan dunia Taehyung serasa hancur begitu melihat salah satu manusia yang paling Taehyung hindari tujuh tahun terakhir kini berdiri tepat di hadapannya. Rambut kelam juga matanya yang tajam itu masih sama seperti saat lelaki itu pernah memeluknya dulu. Hidung mancung juga bibir ranumnya masih tetap seperti saat Taehyung memujanya setengah mati seperti dulu. Namun sorot mata yang seakan nelangsa itu membuat Taehyung gundah entah mengapa.
"Papa!"
Taehyung terkesiap ketika bocah yang ada dalam rangkulannya ini melepas pelukannya, lalu melompat cepat menuju Jungkook yang meraihnya dengan cepat dan menggendongnya dengan pas. Apa tadi? Papa?
"Minguk-ie baik-baik saja?" Tanya Jungkook sembari memerhatikan wajah putranya lamat-lamat. Taehyung terdiam melihatnya, terlebih saat mantan kekasihnya—ayah dari anak-anaknya—memicing ketika melihat ruam merah yang bersarang di dahi Minguk. "Ya Tuhan, ada apa dengan dahimu, Minguk?"
Oh, anaknya ternyata.
Taehyung meringis melihat interaksi dua orang di depannya. Sepertinya suara Jungkook yang tiba-tiba menyeramkan itu membuat yang digendong mendeguk menahan tangis. "Mi-Mianhae, Papa." Ucap Minguk sambil mewek dan meluncurkan air mata dari mata sipitnya. Anak itu kini mengatupkan bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah jika tidak ingin Papanya semakin marah padanya.
Taehyung menghela nafas. Kemudian membantu Seojun yang sudah berheti menangis untuk berdiri, lalu mengajaknya membungkuk hormat pada Jungkook yang sedang mengkhawatirkan bocah dalam gendongannya. "Maafkan, Seojun." Taehyung menjilat biirnya cepat, lalu melanjutkan lagi, "Ini salah kami. Mohon maafkan kami."
Kemudian Taehyung mengusap bahu Seojun dengan lembut, "Seojun ucapkan maaf pada adik tadi juga pada ahj—"
pada Appa, Seojun, dia Appamu.
"—ahjussi, ya?"
Kemudian Taehyung tersenyum melihat putranya meminta maaf sembari membungkuk hormat pada dua orang yang tengah menatap baik Taehyung dan Seojun bergantian.
Taehyung kemudian bergumam anak pintar pada Seojun, lalu menggandeng tangan mungil putranya pada genggamannya yang menguatkan. Ia kemudian menegakkan tubuh lalu mendapat tatapan minta kejelasan yang begitu kentara dari pria yang ada di depannya ini.
Taehyung tersenyum tipis lalu menunduk sedikit saat Jungkook menatapnya begitu tajam dan begitu mengharapkan. Entahlah, tatapan pria Jeon itu tak tertebak saat ini. Yang Taehyung tahu apa yang Jungkook lakukan sekarang seakan melubangi akal sehatnya hingga tak berfungsi dan membuatnya salah tingkah sekarang.
Tidak, Taehyung tidak harus kuat. Taehyung harus melupakan sebersit rasa cintanya pada Ayah dari anak-anaknya.
...
...
...
"Taehyung—"
"Hai, Jungkook-ssi," Dan Jungkook benci mendengar panggilan formal itu. "Maaf sudah membuat errrr—putramu menangis." Taehyung tersenyum menyesal padanya, dan Jungkook semakin menatap Taehyung dan ingin melahap pria Kim itu bulat-bulat.
"Siapa anak itu, Taehyung?" Jungkook langsung bertanya, to the point. "Anakmu?"
Taehyung yang berkedip cepat lalu matanya yang bergerak liar membuat Jungkook curiga dan merasa tak tenang. Pasalnya pemuda Kim itu kini tergagap saat hendak mengeluarkan suaranya saat ini.
"Ini Seojun. D-dia—"
"Eomma!"
Jungkook mengernyit manakala seorang anak laki-laki yang ia rasa kembar identik dengan Seojun berlari menuju ke arah Taehyung dengan semangat. Jungkook juga melihat Seokjin tengah berjalan di belakangnya, dan sialnya Jungkook ditatap begitu mematikan dari kejauhan sana.
Jungkook melihat Taehyung yang tersenyum cantik sekali pada kembaran Seojun yang memeluk kakinya begitu erat. Tak dapat dipungkiri, Taehyung semakin cantik saat ini. Pria manis itu terlihat sangat ahli dalam menggenggam tangan dua orang anak lima tahun di tiap sisi tubuhnya. Jungkook tak hentinya memuja mata Taehyung yang terlihat begitu bercahaya saat melihat kedua anak itu dengan tatapan yang sangat bahagia. Tak seperti tatapan saat Jungkook memutuskan untuk meninggalkan pria manis ini setelah ia menghajarnya hingga Taehyung hilang kesadaran. Lengkungan bibirnya yang tertarik apik, bagi Jungkook terkesan sungguh tulus dan membuat jantungnya berdebar. Dan rambut karamelnya yang panjang sebahu semakin menambah kesan anggun dan cantik pada Taehyung.
Ya Tuhan, sadarkan Jungkook agar berhenti terpesona saat ini.
...
"Oh, Jungkook."
Jungkook kemudian membungkuk kecil dan membalas sapaan Seokjin yang ramah—namun sebenarnya sangat dingin. Ia kemudian mengeratkan pelukannya pada Minguk entah mengapa.
"Bagaimana kabarmu?" Jelas, ini basa-basi. "Oh, kau baik-baik saja tentu saja. Lihat, kau semakin segar." Lalu suara tawa bahak Seokjin membuat Jungkook merasa tak nyaman saat ini.
Taehyung mengeratkan genggamannya pada si kembar. Ia tahu, Seokjin akan berulah sebentar lagi. Kakaknya itu mungkin akan menghajar Jungkook saat ini juga. Maka dari itu, Taehyung memilih untuk segera pamit undur diri, lalu cepat-cepat membawa kedua putranya jauh-jauh dari tempat ini.
Melihat Taehyung yang melangkah pergi, Jungkook kemudian memanggil namanya dan hendak mengejar Taehyung sebelum Seokjin berhenti menghadang di depannya, hingga buat Jungkook berhenti saat itu juga.
"Jangan ganggu Taehyung lagi." Jungkook tahu, Seokjin yang mengatakannya dengan senyuman lebar tak sama dengan isi dalam hatinya yang menggerit murka. "Sudah cukup kau rusak ia di masa lalu. Jadi, jauh-jauhlah kau dari hidupnya, Jeon."
Jungkook mendengus sebal. Ia kini menatap balik Seokjin dengan mata yang nyalang setelah membawa kepala Minguk untuk menghadap kebelakang tubuhnya, agar anak tak berdosa ini tak melihat bagaimana ganasnya pertengkaran antara dua orang dewasa yang murka.
"Sebenarnya apa sih salahku, Hyung?" Jungkook menggeleng tak mengerti. "Aku memutuskan berpisah dari Taehyung dengan baik-baik, tapi—apa ini? Kenapa kalian seolah menyalahkanku?"
Seokjin yang menyeringai membuat Jungkook gelisah. "Aku tidak ingin mengatakan hal ini adalah sebuah kesalahan, Jeon!" Seokjin lalu menunjuk wajahnya, garang sekali. "Aku tidak ingin mengatakan ini adalah sebuah kesalahan, karena Seoeon dan Seojun hanyalah malaikat tak berdosa yang lahir sebab kecerobohan orang tuanya di masa lalu. Dan mereka harus lahir tanpa ada Ayah yang menemani ibunya!"
Tidak...
Jangan katakan jika apa yang Jungkook duga benar.
"Tujuh tahun yang lalu. Saat kau hanya diam terpaku di depan lift dan aku yang menghajarmu. Dan aku telah mengatakannya padamu saat itu, Jungkook. Kau akan menyesalinya. Sangat menyesalinya sampai kau bawa mati." Seokjin menghembuskan nafas bergetar. Pria itu terlihat sangat marah padanya, namun suaranya tetap tenang. "Kau bahkan hanya bisa diam dan melihat adikku yang sekarat, Jeon. Kau statis, tak bergerak sedikit pun. Tak berucap sedikit pun. Berdiri seperti orang yang tak bodoh yang tak pernah melakukan dosa dalam hidupmu."
Terdapat jeda yang tercipta. Kini dua pasang mata itu saling bertatapan sengit. Jungkook kemudian membawa tangannya untuk semakin memeluk Minguk yang kini memeluknya ketakutan.
Seokjin tersenyum remeh menyaksikan dirinya yang melakukan hal demikian pada anaknya sendiri. Istri dari dokter itu pun melanjutkan ucapannya yang tetap tenang namun mengandung racun sekaligus ditiap untaian katanya. "Dan aku semakin ingin membunuhmu saat tahu bahwa adikku sekarat dengan undangan pernikahan dalam dekapannya."
Lihat, siapa di sini yang jahat.
Ya, Jungkook merasa dirinya begitu kejam telah membuat Taehyung terluka sebegitu sakitnya.
"Aku hanya mengantarkan undangan, Hyung!" Kilah Jungkook. "Tidak ada yang salah dari itu semua. Aku hanya mengantarkan undangan dan pergi saat itu juga. Dan aku tidak tahu jika Taehyung sebe—"
"Tidak ada yang salah katamu?"
Jungkook terdiam.
"Bajingan sekali kau, Jeon." Seokjin tertawa remeh, kemudian menatap tajam pada Jungkook yang menatapnya penuh marah. "Aku tidak pernah ingin mengatakan hal ini adalah sebuah kesalahan, tapi—Fuck! Seoeon dan Seojun adalah kesalahan yang telah kau perbuat, Jeon!"
Nafas Jungkook tercekat. "Tidak. tidak, Hyung." Jungkook menggeleng sembari tersenyum remeh pada kakak kandung mantan kekasihnya. "Jaga perkataanmu, Hyung."
"Terserah," Seokjin mengedikkan bahu. Ia lelah berargumen. "Aku harap kau menyesalinya, Jeon. Aku harap kau mati karena penyesalanmu. Aku ingin menyaksikanmu sekarat sama seperti yang adikku rasakan saat kau sedang asyik bercumbu dengan orang lain di luar sana sedangkan Taehyung sedang berusaha dalam hidup dan matinya melahirkan darah dagingmu, BANGSAT!"
Belum sempat Jungkook menyela, Seokjin mendahuluinya. "Sudah, aku lelah mengatakan realita pada pria bodoh yang tak kunjung paham realita sepertimu."
Jungkook menggeritkan gigi menatap Seokjin yang entah mengapa menyeringai padanya. Seokjin kemudian berkata lagi, namun kali ini lebih santai dari sebelumnya. "Kuingatkan sekali lagi, Jungkook: Jangan pernah berpikir untuk kembali lagi. Karena Taehyung sudah muak denganmu." Lalu pria itu menatapnya dengan pandangan jenaka. Seokjin menunjuk arah belakang Jungkook dengan dagunya. "Dan sepertinya kau akan hancur setelah ini."
...
...
...
Jungkook tertawa dalam hati.
...
...
Bangsat sekali dirinya ini.
...
...
Tidak tahu Jimin tengah berdiri menatapnya dengan wajah yang telah berurai air mata.
...
...
...
...
...
TBC / END?
Oke, gimana yang ini? Masih pembukaan penderitaan soalnya. Alskfjalekfajoiwfj sepertinya sasa akan menghilang lagi. Sasa bakalan fokus sbmptn. Nanti kalau sudah tanggal 16 sasa bakal apdet lagi (tapi engga janji)
OKEDEH, MAKASIH BUAT KALIAANN~
REVIEW, YA!
