"hah ... hah ... Nii-chan." Gadis berhelaian Vermillion itu menatap Sang kakak di depannya dengan wajah yang berkaca-kaca. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menatap rumah mereka yang kini terlalap api.
"Jangan menoleh ke belakang, Kagura!" Hardik Sang kakak seraya terus menarik tangan adiknya. Pemuda berhelaian Vermillion itu tak menunjukkan ekspresi berarti. Tatapannya fokus ke depan.
"Tapi, Nii-chan, Papi ... Mami ... Hiks ..." Kagura kembali terisak.
Pemuda tersebut berhenti sejenak ketika mereka berada di sebuah hutan yang terletak di belakang rumahnya, dengan suara bergetar dan memegang kedua bahu adiknya, dia berkata, "Dengarkan Nii-chan, Kagura. Bersembunyilah di balik pohon itu."
"Tapi, bagaimana dengan Nii-chan aru?"
"Kita pasti akan bertemu lagi, Kagura."Ucap Sang kakak mencoba menyakinkan adiknya.
"Tidak mau aru! Aku tak mau berpisah dengan Nii-chan aru!" Kagura menggelengkan kepala pertanda tak setuju dengan ide kakaknya.
"Dengar, Kagura! Jangan sia-siakan pergorbanan Papi dan Mami. Kau harapan kami, teruslah hidup."
"Nii-chan ..."Kagura hendak kembali protes ketika mereka mendengar suara sayatan benda tajam yang menumbangkan beberapa pohon di belakang mereka.
Panik, Sang Kakak kembali berseru, "Sekarang cepat ikutin kata Nii-chan, Kagura!"
Gadis bermahkotakan Vermellion itu nampak menimang keputusannya ketika tangan besar kakaknya mendorong tubuhnya untuk segera berlari mengikuti Instruksi darinya tadi.
'Ku mohon, tolong selamatkan Onii-chan, Kami-Sama!' batinnya terus merapalkan harapan-harapan yang dia sendiri tak tahu akan terkabul atau tidak.
-The Soul of the Abyss-
An Okikagu Fanfiction
.
Gintama Disclaimer By Sorachi-Sensei
-Story By Yuki Yahiko-
Warnings:
AU, Typo sedikit bertebaran, OOC demi kepentingan cerita, Rated T+, ada Slight OkiSoyo di beberapa chapter awal.
Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah kecil gorden berwarna Violet yang menghiasi sebuah kamar yang terbilang cukup luas. Di tengahnya terdapat sebuah tempat tidur berukuran Queen-size, tempat seorang gadis berhelaian Vermellion itu tengah tidur dengan wajah gelisah.
"Ngghh." Lenguhan kecil lolos dari bibir gadis tersebut. Manik biru lautnya yang baru muncul nampak mengecil.
Gadis itu melirik ke kanan dan kiri tubuhnya, tempat ini begitu asing untuknya.
Asing?
Dengan cepat, gadis itu merubah posisi menjadi duduk ketika menyadari tentang keberadaan dirinya saat ini. Rasa sakit kembali menyerang kepalanya akibat tindakannya tadi.
"Aku dimana aru?" gumannya. Tangan putih pucatnya memijit pelepisnya yang masih berdenyut sakit.
Sapphire yang indah itu mengerjap beberapa kali seraya kembali mengamati sekelilingnya. Tak ada sesuatu yang menarik di ruangan tersebut, di tengah ruangan itu ada kasur tempat dia berada sekarang, sebuah meja rias dan lemari besar yang berada di sisi kirinya, sebuah meja kecil di sisi kanannya dan sebuah Sofa yang berada di bawah rak buku yang menggantung di dekat jendela.
Krieet ...
Suara pintu yang terbuka membuat atensi gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Dari balik pintu tersebut, munculah seorang Pria dewasa bersurai silver dengan gaya rambut Tennen Paama diikuti dengan sosok Kacamata yang dikenakan oleh seorang pemuda bersurai hitam.
"Kau sudah bangun, Kagura?" ucap Sang Tenpaa. Pria itu menghampiri ranjang Kagura diikuti kacamata tadi.
"Gin-chan, Shinpachi?" gumannya.
Sang pria tersenyum tipis seraya berdiri di sisi kanan Kagura.
"Yokatta, Kagura-chan," Kacamata bermanusia itu tersenyum lega ketika melihat Kagura yang telah terbangun seraya meletakkan segelas Ocha hangat di atas meja kecil.
"Kami sangat khawatir saat melihatmu tak kunjung bangun sedari kemarin." Sambungnya.
"Apa yang terjadi padaku aru? Nii-chan ...," Manik Kagura mengecil ketika dia teringat akan kakaknya.
Potongan-potongan kejadian malam itu kembali masuk kebenaknya, kedua tubuh orang tuanya yang berlumur darah di ruang tamu, rumahnya yang terbakar, orang-orang bermata merah yang mengincar mereka, putih, coklat dan hitam, serta kakaknya yang menjadi umpan demi menyelamatkannya.
Tunggu, bagaimana dengan nasib kakaknya saat ini?
Selamat, kah?
Terbunuh, kah?
Atau dia juga berada bersama Kagura saat ini?
Dan mengingat warna putih malam itu, muka Kagura langsung menyalang marah dengan tubuh yang gemetar. Api dendam nampak terlihat jelas di kedua Iris Sapphire-nya yang berubah menjadi Violet tanpa dia sadari.
Gintoki yang melihatnya memasang status waspada sedangkan, Shinpachi nampak mundur ke belakang beberapa langkah.
"Dimana Aniki, Gin-chan?" tanyanya dengan nada yang terdengar putus asa.
Gintoki menunduk dan begitupun Shinpachi. Raut keduanya menampakkan mimik penyesalan mendalam.
Tak mendapati jawaban berarti dari kedua lelaki yang selama ini telah dia anggap keluarga, Kagura kembali bertanya,
"Dimana Baka Aniki-ku aru? Gin-chan, Shinpachi?" Gadis itu menghampiri mereka dan menjangkau Gintoki yang berada paling dekat dengannya.
"Jawab aku, Gin-Chan!" serunya seraya menggoyang-goyangkan pundak Gintoki.
Sang Tennen Pamaa tersebut terdiam sejenak sambil menarik napas singkat dan kini pandangan matanya menatap lurus iris Violet itu.
"Maafkan aku, Kagura." Jawabnya singkat namun dapat mengarti semua pertanyaan yang muncul di benak Kagura.
Manik violet itu semakin terang menyala, liquid bening kini telah mengalir dari kedua irisnya.
"Kenapa?" tanya ambigu Kagura. Cengkraman tangannya pada baju Gintoki semakin mengerat.
"Kenapa kalian melakukan semua ini kepada keluargaku aru!" murkanya.
Gadis itu mengingatnya, manik merah itu, surai mereka yang berbeda dan ... tatapan sadis mereka semua pada malam itu.
Semuanya ... mayat kedua orang tuanya, para maid mereka, rumah mereka yang terbakar dan yang membuat hatinya hancur adalah kakaknya, Baka Aniki tersayangnya, juga turut menjadi korban.
Tanpa bisa dibendung lagi, tangis Kagura pecah seketika. Manik Violet kini semakin menggelap.
Kagura mendorong tubuh Gintoki dengan kasar dan menyebabkan pria tersebut terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Pergi menjauh dariku aru! Aku benci kalian!" jerit histeris Kagura seraya melemparkan bantal yang berada di dekatnya.
"Kagura-chan?" Shinpachi terlihat panik melihat mata Kagura yang semakin berubah warna. Dengan mengumpulkan keberanian, pemuda itu hendak mendekati Kagura tepat sebelum sebuah plastik yang berisi minuman tadi terlempar ke arahnya.
"Kenapa kalian membunuh keluargaku aru? Apa salah kami aru? Hiks ..." teriak Kagura histeris seraya mencoba mencari benda pa saja yang dapat dia lemparkan ke arah mereka berdua,
"Kagu-." Langkah Shinpachi terhenti ketika Gintoki menghadang langkahnya.
"Sudah kubilang menjauh dariku, pembunuh!"
"Gin-san?" tanya Shinpachi panik.
"Sudahlah, Shinpachi. Lebih baik kita biarkan dia tenang dahulu." Titah Gintoki seraya berjalan menuju pintu kamar tersebut.
"Demo, Gin-san?" Shinpachi hendak protes tetapi, tangannya kini telah ditarik oleh Gintoki menuju pintu.
"Ayo." Titah Gintoki.
Kedua pria berbeda usia tersebut akhirnya meninggalkan Kagura yang nampak masih menangis sesegukkan di dalam sana.
.
.
.
Tak jauh dari kamar Kagura tadi, tepatnya di sebuah ruangan besar di lantai dasar dengan sebuah perapian yang menyala, dua orang pria dengan paras Bishounen dan surai yang saling bertabrakan tengah duduk di depannya.
Kedua orang tersebut melirik sekilas ketika melihat Gintoki dan Shinpachi yang menghampiri mereka seraya berdebat mulut.
"Sudah kubilang, Gin-san, harusnya kau memastikan keadaannya dulu." Omel sang kacamata.
"Diamlah, Pattsuan! Kau membuat telingaku sakit!" balas Sang Shiroyasha.
Melihat perdebatan mereka, Si surai hitam turut angkat suara, "Kalian berdebat seperti orang bodoh." Komentarnya.
Gintoki menghadiahi komentar tersebut dengan delikan tajam.
"Diam kau, Fetish mayounaise! Kau pikir ini semua salah siapa, hah!" sungutnya kesal.
"Kau menyalahkanku?" tanya prka tersebut yang kini telah berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Si Tenpaa.
"Kau pikir salah siapa lagi? Aku sudah bilangkan, Pastikan putri mereka tertidur dan ... lihat sekarang jadinya!" protes Gintoki seraya menunjuk wajah pria tersebut.
"Apa katamu? Kau pikir, kau tidak salah juga, hah! Salah siapa yang tak cepat tanggap? Bukankah, itu sudah menjadi tugasmu untuk mengalihkan non-target!"
Kedua pria tersebut saling bertatapan sengit dan berdebat saling menyalahkan. Shinpachi yang berada di antara mereka mencoba melerai namun dibalas dengan tatapan tajam dan aura menusuk yang membuat Sang C-boy itu takut seketika.
Melihat perdebatan konyol rekan-rival mereka, pria bersurai pasir tersebut berdiri dan mencoba menengahi.
"Maa ... Maa ... Danna, Hijikata-san, tidak ada yang salah, bukan? Yang salah itu 'bocah idiot itu' yang seenaknya sendiri mengambil peran." Lerainya.
Bingo, kata-kata tadi sukses membuat kedua pria tersebut berhenti berdebat dan mengacak surai masing-masing.
"'Bocah idiot itu'." guman mereka kasar.
Sinpachi tersenyum lega ketika melihat dua pria dewasa di depannya telah berhenti berdebat. Sedangkan, sang surai pasir langsung melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
"Okita-san, kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Shinpachi heran.
"Bertemu Soyo." Jawabnya singkat dan segera berlalu dari sana.
Tanpa pemuda itu sadari, ketiga oran yang tersisa menatap kepergiannya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Kau belum memberitahunya?" Tanya Gintoki seraya menunjuk ke arah Okita menghilang tadi.
"Belum," Hijikata menyalakan rokoknya dan menghisap zat beracun tersebut lalu menghembuskan asapnya, "Aku tak ingin dibunuh oleh 'bocah itu'. Biarkan dia menyadarinya sendiri." Jawabnya.
Gintoki mengangguk paham.
"Aku juga," angguk Gintoki menyutujui perkataan Hijikata. "Aku tak ingin dicincang oleh 'bocah itu'." gumannya dengan tangan kanan yang tertempel di dagu.
"Anoo ... Bocah 'itu' maksudnya yang mana?" tanya Shinpachi yang terlupakan. Pemuda itu nampak tak mengerti ke arah bocah mana yang dirunjuk oleh Hijikata dan Gintoki karena kedua pria dewasa itu memiliki referensi yang berbeda tentang 'bocah itu'.
.
.
.
Okita Sougo, pemuda berhelaian pasir tadi, nampak memasukkan tangannya kedalam saku blazer hitam panjangnya. Pemuda itu nampak merutuki setiap ulah dari gadis yang selama ini menjadi pusat perhatiannya selain, Sang Aneue.
Seorang gadis yang telah lama dia tunggu kehadirannya, sekaligus gadis yang berulang kali terbunuh di depannya.
Dan kali ini, pemuda itu berjanji akan menjaga gadisnya itu lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya. Pemuda itu takkan membiarkan gadisnya kembali terengut tepat di depan matanya. Takkan pernah lagi!
Ketika Pemuda Bishounen itu hampir melewati kamar Kagura, manik Ruby-nya membulat tak kala melihat sosok gadis berhelaian Vermillion itu jatuh mengikuti arus gravitasi.
Dan ntah dorongan dari mana, pemuda sadis yang terkenal tak pernah peduli dengan keluarga targetnya itu, berlari menangkap sosok itu sebelum tubuhnya bersentuhan dengan tanah.
Dengan sigap, pemuda itu menangkap sosok tadi kedalam tangannya.
"Oy, apa yang kau pikirkan, hah!" sungut emosi Sougo.
Gadis dalam dekapannya tak menjawab. Manik Sapphire yang tadi tertutup rapat kini terbuka perlahan ketika sang empu tak merasakan sakit apapun.
Sapphire dan Ruby itu bertemu.
Ruby Sougo sedikit membulat terkejut ketika melihat manik biru yang nampak dia kenali itu.
"Kau!" Kagura menunjuk wajah Sougo.
Sougo mendelik tajam ke arah gadis yang baru saja ditolongnya ini.
"Lepaskan aku aru!" teriak Kagura ketika melihat manik Ruby dan surai pasir itu.
"Aru?"
"Aku akan melaporkan kalian semua ke polisi aru! Kalian pembunuh!" Kagura menatap tajam Sougo sedangkan Sougo hanya menatapnya datar dan tak lama kepalanya tertunduk.
"Pembunuh? Polisi?" guman Sougo yang tengah menunduk. tak lama pemuda itu tertawa dan menampilkan seringai sadisnya.
Kagura memandang aneh Sougo seraya berkata, "Tertawalah selagi kau bisa aru! Aku akan benar-benar melaporkan kalian ke polisi aru!"
"Kau lucu sekali, China musume." Ucapnya dengan seringai sadis.
Kagura semakin mengeryitkan alisnya bingung. Lucu? Dimana letak perkataannya yang lucu? Pemuda ini pasti gila! batin Kagura.
"Nee ... Laporkanlah jika kau memang berani, China." Ejeknya pemuda pasir itu.
"Kau pikir aku takut aru! Aku pasti ..." perkataan Kagura terhenti ketika melihat lambang satuan kepolisian yang pemuda itu tunjukkan padanya.
Okita Sougo
Shinsengumi, Ichiban tai Taichou.
"Uso ..." gumannya dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
"Kau ingin melaporkanku, bukan? Silahkan, China musume." Tantangnya.
Iris Sapphire itu nampak berkaca-kaca. Pembunuh di depannya ini adalah seorang polisi, bagaimana bisa?
Melihat manik lawannya yang hampir menangis, Sougo menampilkan seringai jahatnya.
"Kau kena-." Perkataan Sougo terpotong ketika sebuah benda tajam hampir menebas tubuhnya.
Pemuda itu dengan sigap menarik tubuhnya ke belakang guna menghindari tebasan benda tersebut. Manik Ruby itu melebar tak kala melihat iris Sapphire tadi telang hilang dan berganti dengan iris Violet gelap tanpa cahaya. Kedua tangan gadis itu nampak menggenggam sebuah pedang bermata dua yang terbuat dari es.
"Kau," Sougo segera menarik Katana yang tersampir di samping tubuhnya ketika Kagura kembali mengayunkan pedang tersebut.
Tepat ketika Sougo akan balas menyerang, suara yang begitu familiar masuk ke indera pendengarannya.
"Okita-san." Sapa gadis bersurai hitam panjang-Soyo- yang muncul dari arah belakang Kagura.
Sougo menatap horror ke Soyo saat manik violet gelap itu turut mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu.
"So-."
Bruukk
Tubuh Kagura terjatuh ketika tatapan violet dan brown itu bertemu. Pedang pada genggamannya tadi turut mencair dan sebuah tanda aneh berwarna hitam terbentuk di belakang lehernya.
Melihat Kagura yang terjatuh, sontak membuat Soyo dan Sougo mendekati gadis tersebut. Sougo menatap datar gadis itu dengan berbagai macam pertanyaan dalam dirinya. Pemuda itu mendudukan tubuh Kagura yang sedang tak sadar.
"Tanda ini?" gumannya ketika menyadari tanda membentuk rune aneh di bagian belakang tengkuk gadis itu.
"KAGURA!/KAGURA-CHAN!" Seru Gintoki dan Shinpachi yang berlari ke arah mereka.
Sougo berdecih sejenak kemudian, menatap Soyo yang nampak bingung.
"Okita-san, apa yang terjadi?" tanya Shinpachi dengan napas ngos-ngosan.
Pemuda bersurai pasir itu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Gin-san, gawat!" seru Shinpachi ketika melihat segel aneh tersebut.
"Cih!" Gintoki berdecih kesal, "Segelnya terbuka." Gumannya dengan suara nyaris tak terdengar.
Dan Ruby Sougo melebar mendengar.
"Jangan bilang ..."
.
.
.
t.b.c
