Sougo terpaku pada tempatnya. Gerakan pemuda itu seakan terkunci saat sosok yang tak dikenal, memeluknya dan menjadikan pundaknya sebagai tumpuan.
"Nee ... Kau akan menyelamatkanku, bukan?" suara sosok berlumuran darah itu menggema di indera pendengarannya.
"Aku akan menunggumu ... seratus tahun lagi ..."
"Karena itu ... jangan lupakan aku ... Sadist ..."
Manik merah itu melebar. Belum sempat pertanyaan yang ingin dia ucapkan itu keluar dari mulutnya, tubuh gadis itu mengurai menjadi serpihan kelopak bunga kinmokusei.
"Orange ...," guman sougo saat sebuah kelopak bunga jatuh ke telapak tangannya.
"Tolong aku ..." guman gadis itu sebelum tubuhnya benar-benar menghilang.
-The Soul of the Abyss-
An Okikagu Fanfiction
.
Gintama Disclaimer By Sorachi-Sensei
-Story By Yuki Yahiko-
Warnings:
AU, Typo sedikit bertebaran, OOC demi kepentingan cerita, Rated T+, ada Slight OkiSoyo di beberapa chapter awal.
.
.
.
"Sougo ... Sougo ... Oy, Sougo!" Hijikata berseru tepat di depan wajah pemuda bersurai pasir yang kini terdiam menatap sebuah buku di genggaman tangannya. Pemuda bersurai dark green dengan model poni 'V' itu, mengguncang-guncang pundak Sougo.
"Kau dengar aku, kan? Sougo!" panggilnya lagi.
Manik Ruby itu kembali menampakkan cahayanya.
"Hijikata-san?" Sougo berguman, "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya heran.
Hijikata menghembuskan napasnya pelan, "Haaah, harusnya aku yang bertanya kepadamu, Kuso gaki. Apa yang kau lakukan di tempat ini, lagi?" Hijikata bertanya sambil menatap penuh selidik ke arah Sougo.
'jangan katakan dia mengingatnya ... jangan katakan dia mengingatnya ...'batin Hijikata berulang kali.
"Aku juga tidak tahu, Hijikata-san. Ntah lah, ada sesuatu yang selalu menarikku ke tempat ini dan aku merasa itu berkaitan dengan dirinya." Sougo menjawab seraya mengangkat kedua pundaknya, sedangkan Hijikata menjawab dengan hembusan napas lega.
Dalam benak Sougo, dia masih memikirkan siapa gadis dalam pikirannya tadi? Soyo, kah? Pemuda itu sendiri masih bingung. Pemuda itu yakin, jika gadisnya adalah Soyo. Tetapi, ntah kenapa rasa ragu itu akan semakin besar setiap dia berada di ruangan ini.
"Kau kenapa, Hijikata-san? Kenapa wajahmu berkeringat seperti itu?" tanya Sougo curiga.
"ha-ah, a-ku." Hijikata menunjuk dirinya sendiri, sementara Sougo menajamkan matanya.
"hahaha ... Aku hanya lega ternyata kau baik-baik saja." Sambungnya diiringi tawa yang sangat terdengar terpaksa.
Sougo semakin menyipitkan matanya. Dia tahu kalau Hijikata tengah berbohong saat ini.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Mayora?" pertanyaan dengan nada mengintimidasi keluar dari bibir Sougo.
"Sudah kubilang, aku hanya lega karna kau baik-baik saja, Kuso yarou!" balas cepat hijikata dengan geramannya. Bocah satu ini selalu memanggilnya 'Mayora', jika dia merasa Hijikata berbohong padanya.
"Kau berbohong, Mayora." Ucapnya seraya menatap iris navy itu semakin tajam, sehingga membuat Hijikata termundur beberapa langkah.
"Sudah Kubilang-."
"Ma ii ka, aku tak ingin berdebat konyol denganmu." Sougo memotong kalimat Hijikata seraya mengembalikkan buku itu pada tempatnya dan beranjak keluar dari sana.
"Oy, Matte, Kuso Gaki!" seru Hijikata seraya menyusul Sougo keluar dari ruangan tersebut.
.
.
.
"Kagura-chan, Kumohon makanlah sedikit saja. Kau belum makan sedari pagi, Kagura-chan." Bujuk Shinpachi seraya menyendokkan makanan ke arah Kagura. Namun sayangnya, gadis tak menanggapi setiap bujukan yang Shinpachi berikan.
Sang gadis masih asyik berdiam diri. Manik Sapphire itu kehilangan cahayanya dan liquid bening terus mengalir dikedua pipinya.
Batinnya terus bertanya, Kenapa Gin-chan yang sangat dia sayangi itu membantai habis keluarganya? Kenapa hanya dirinya yang tersisa? Mengapa mereka tak membunuhnya juga? Dan sekarang, Shinpachi malah membujuknya makan.
Memori gadis itu kembali melayang pada kejadian semalam. Seingatnya, dia hendak mengakhirinya hidupnya dengan menerjunkan diri dari balkon kamar ini, sesaat Pemuda bermata merah itu menangkap tubuhnya. Pemuda bersurai pasir dengan seringai sadis yang selalu tercetak di wajah menyebalkannya. Terakhir yang gadis itu ingat ialah, dia sedang beradu mulut dengan salah satu pembunuh keluarganya hingga akhirnya dia mengetahui kalau pemuda itu merangkap sebagai anggota kepolisian Edo dan setelahnya, gadis itu tak mengingat apapun lagi.
Apa yang terjadi padanya semalam? Apa yang dilakukan manusia sadis itu hingga dirinya bisa kembali ke tempat ini dengan salah satu tangan yang terborgol di sisi tempat tidur? Gadis itu sama sekali tak dapat mengingat apapun.
"Ra ... Kagura-chan ... Kagura-chan!" seruan dari Shinpachi akhirnya mampu mengembalikan kesadaran Kagura.
Kagura menatap Shinpachi dengan pandangan kosong.
Melihat tatapan tanpa arti dari gadis bersurai Vermillion itu, membuat Shinpachi mau tak mau kembali menghembuskan napas lelah. Kagura terlihat begitu rapuh saat ini. Senyuman ceria yang selalu menghiasi wajah imut gadis itu lenyap tanpa sisa tergantikan dengan tatapan kosong dengan wajah tanpa ekspresi.
'Ini bukan Kagura-chan yang aku kenal. Kami-sama, kembalikan kecerian adikku' mohon Shinpachi kepada Kami-sama dalam benaknya.
Pandangan Shinpachi ikut menyendu. Diletakkannya makanan tadi ke atas meja di sampingnya, tangannya menggenggam lembut tangan kanan Kagura.
"Maafkan Kami, Kagura-chan. Kami melakukan ini, Semua demi dirimu. Kami ingin menyelamatkanmu." Ucapnya.
"Menyelematkan?" akhirnya Kagura menanggapi Shinpachi, namun Iris Sapphire itu kembali menjadi Violet terang.
"Kagura-chan?" Shinpachi melepaskan tangan Kagura dan memasang sinyal waspada pada dirinya saat melihat perubahan Kagura.
"Apa yang kalian selamatkan aru? Kenapa kalian tak membunuhku juga? Apa yang kalian selamatkan? Kalian yang membunuh keluargaku aru!" Kagura kembali murka. Mata gadis itu kembali menggelap dan tanpa dia sadari beberapa benda di sekitarnya terangkat.
"Kagura-chan." Guman Shinpachi panik. Pemuda itu menatap Kagura dengan pandangan takut. Sebenarnya, Shinpachi bukanlah pemuda lemah yang tak dapat melakukan apa-apa, mengingat dia juga terlibat dalam insiden malam itu. tetapi percayalah, saat ini gadis di depannya ini bukanlah hal yang dapat dia lawan sendiri.
Aura dari dalam tubuh Kagura semakin menggelap, benda-benda di sekitarnya mulai berputar mengelilinginya.
Shinpachi mengambil langkah mundur.
Dan tepat saat sebuah meja akan menghantam Shinpachi, benda-benda tersebut kembali terjatuh.
Shinpachi yang semula telah siap untuk menangkis serangan benda tersebut, terdiam di tempatnya.
"Gin-san?" guman pemuda berkacamata dengan surai hitam itu, ketika melihat Gintoki telah berada di samping Kagura seraya memeluk erat tubuh Gadis itu.
"Na-ni?" guman Kagura saat Gintoki mengatakan sesuatu kepadanya.
"Apa maksudmu, Gin-chan?" tanyanya tak percaya.
.
.
.
"Haaah ..." Hembusan napas lelah kembali keluar dari mulut Sougo.
Pemuda itu berjalan dengan langkah malas tengah dikeramaian Kota Edo diikuti dengan seorang pria bersurai hitam di belakangnya.
"Taichou, kau kelihatannya sedang dalam mood yang jelek?" Pria tadi bertanya seraya mensejajarkan langkahnya dengan Sang Taichou muda mereka.
"Diamlah, Zaki!" Sungut pemuda itu kesal. Pria yang dipanggil Zaki itu hanya tersenyum canggung seraya kembali berjalan di belakang Taichou-nya itu.
Keduanya berjalan dalam keheningan. Sougo sedikit merutuki perintah dari Hijikata, yang sialannya adalah Fukuchou mereka, yang menugaskan mereka untuk patroli dengan berjalan kaki. Sougo merasa bahwa Si maniak mayounaise itu telah ketinggalan Zaman. Apa salahnya berpatroli menggunakan mobil atau motor? Toh dengan begitu, pekerjaan membosankan ini akan cepat selesai.
Jauh dari pemikirannya barusan, Pemuda sadis itu kembali teringat tentang gadis yang katanya adalah saudara jauh dari Gintoki. Gadis itu memiliki aura yang sama dengan dirinya dan terlebih lagi gadis itu jelas bukan manusia, sama dengan dirinya juga.
"Half-breed?" guman Sougo pada dirinya sendiri.
"Anoo, Okita-Taichou, anda mengatakan sesuatu?" Yamazaki bertanya dengan raut heran, ketika Sougo berguman sendiri tadi.
"Tak ada hubungannya denganmu, Jimmy! Sebaiknya cepat selesaikan patroli ini. Aku sudah lelah dan ingin pulang ke rumah." Ucapnya malas seraya mempercepat langkahnya.
"ah ... Matte ... Okita-Taichou!" Yamazaki berseru seraya mengejar langkah Sougo yang terpaut jauh darinya.
Mereka berdua kembali melanjutkan Patroli mereka dengan langkah yang dipercepat. Karena cepatnya langkah kaki Sougo, pemuda itu tanpa sengaja menabrak pundak seseorang.
"Ah ... maafkan saya." Ucap Sosok yang ditabrak Sougo tadi seraya memperbaiki topinya.
"Saya juga minta maaf karena telah menabrak anda." Ucap Sougo dengan nada malas seperti biasa, Walaupun pemuda itu mengakui dirinya salah.
Mereka berdua saling membungkuk meminta maaf dan kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
Belum sempat Sougo beranjak dari sana, manik Ruby menangkap sebuah benda berbentuk liontin berwarna biru yang dia yakini sebagai milik dari orang yang ditabraknya tadi.
Sougo memungut benda itu dan kemudian berbalik mencoba mencari orang tadi.
Manik merahnya mengerjap beberapa kali saat melihat sosok tadi sudah menghilang dari pandangannya.
"S*it." Umpatnya kesal karena kehilangan sosok tadi.
"Oy, Zaki, Cepat cari orang yang kutabrak tadi." Perintah Sougo yang langsung dipatuhi oleh Yamazaki.
Yamazaki segera berlari meninggalkan Taichou-nya dengan harapan dapat segera menemukan orang tadi, tanpa menyadari jika Sougo sedari tadi meneriakan namanya.
Sougo kembali menghela napasnya ketika melihat sosok Yamazaki yang hilang ditelan keramaian.
"Yamazaki bodoh itu. benda ini malah dia tinggalkan." Gumannya seraya menatap liontin berwarna biru itu.
Tepat ketika Sougo menyentuh liontin tersebut, dirinya seakan tertarik kesuatu tempat yang tidak dia ketahui.
.
Sougo menatap aneh pada tempat dimana saat ini dia berada. Ruangan itu terlihat kosong dengan lantai polkadot merah. Ruby-nya menajam tak kala melihat sesosok gadis keluar dari tirai berwarna merah di depannya.
"Kau kembali! Akhirnya kau kembali!" sesosok gadis misterius mengenakan gaun ala era victorian menerjang sosok Sougo dan menembus tubuhnya, sehingga membuat Sougo terdiam menatapnya.
"Kau Siapa?" tanya Sougo seraya memandang sosok itu tak mengerti.
"Akhirnya kau datang. Aku sangat senang ... !" ucap sosok itu seraya kembali menatap Sougo. Senyum mengerikan tercetak jelas di wajah putih pucatnya.
"Kau tahu, aku sudah lama menunggu kehadiranmu." Sosok gadis itu kini berdiri beberapa meter dari tempatnya.
Sougo mengeryitkan tatapannya heran, "Apa maksudmu? Siapa kau dan dimana ini?" Sougo kembali bertanya dengan nada dingin.
"Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau pernah berjanji untuk menjemputku kembali?" gadis itu merentangkan kedua tangannya, helaian Vermillion itu ikut tersibak.
Sougo menatap penuh tanya kepada sosok Vermillion di depannya. Gadis itu masih menunjukkan senyum mengerikannya dengan kedua Irish yang tertutup poni panjangnya.
"Jangan bercanda denganku! Kau sebenarnya Siapa?" Sougo mulai kehabisan kesabarannya sedari tadi sosok di depannya itu membicarakan hal aneh yang bahkan dia sendiri tidak mengerti.
Sougo dapat menangkap perubahan ekspresi gadis itu. senyumannya yang tadi memudar diiringi dengan pandangan yang tertunduk.
"Aku ..." guman gadis itu.
Tiba-tiba sosok itu menghilang dan bergantikan dengan lingkaran api yang mengelilingi Sougo.
Menyadari hal ini tak beres, Sougo memasang mode siaga. Rubynya mengamati sekitarnya dengan tatapan tajam dan kewaspadaan tinggi. Tangan kanannya telah bersiap memegang Katananya.
Tepat Saat Sougo berbalik, sosok itu kembali muncul dan dengan cepat mencengkram leher Sougo. Kedua kaki gadis itu menahan tangannya sehingga dia tak dapat menarik Katananya.
"Sial." Umpat Sougo seraya terbatuk. Ruby-nya semakin menatap tajam sosok yang tengah mencekiknya sekarang.
"Aku adalah orang yang akan membunuhmu." Ucap gadis itu seraya mengencangkan cengkramannya pada leher Sougo.
"Lepaskan!" Teriak Sougo memberontak.
"Hahaha ... Nikmatilah kesakitanmu." Sosok itu menyeringai lebar, "Pada akhirnya, kau akan mati di tanganku." Lanjutnya seraya mengeluarkan sebilah pisau dan mengarahkannya tepat ke arah Sougo.
Sougo terdiam di tempatnya.
.
"Okita-san."
Kesadaran Sougo kembali ke raganya saat pundaknya ditepuk oleh seseorang.
Dengan cepat, pemuda itu menoleh ke sampingnya.
"Soyo?"
"Apa yang kau lakukan disini, Okita-san?" tanya gadis itu.
"ha-ah." Sougo terdiam sejenak seraya mengamati sekelilingnya. Hembusan napas lega tanpa sadar keluar darinya tak kala menyadari bahwa dirinya telah kembali ke dunianya.
"Okita-san?" Soyo kembali bertanya seraya memiringkan kepanya dan menatap Sougo aneh.
"Ha-ah, aku sedang mendapat tugas patroli. Kau sendiri, apa yang kau lakukan?" Sougo balik bertanya.
"Aku?-Soyo menunjuk dirinya sendiri. "Aku ada keperluan di wilayah sini." Jawabnya.
"Keperluan?"
"He-em." Gadis itu mengangguk, "Kalau begitu, sampai jumpa lagi, O-ki-ta-san." Sambungnya seraya berlalu dari hadapan Sougo.
Belum sempat Sougo menawarkan diri untuk mengantar gadis itu, sosoknya telah hilang di persimpangan gang.
Sougo menatap tempat dimana sosok tadi menghilang.
"Apa yang kau sembuyikan dariku, Soyo." Gumannya pada angin malam.
.
.
.
Pemuda bersurai pasir itu berjalan malas ke arah Basement rumahnya. Badannya sudah sangat lelah dan begitupun pikirannya. Ada banyak hal yang dia pikirkan sejak misi terakhirnya kemarin. Soyo, Gadis yang berstatus saudara jauh Gintoki, dan Gadis yang muncul dalam benaknya tadi.
"Sou-chan, Kali ini, kau harus bisa menghentikannya. Demi kerajaan kita, dan demi dirimu juga."
Sepenggal kalimat yang Aneue-nya berikan kepadanya sebelum dia datang ke dunia atas kembali menghantui pikirannya.
Siapa?
Siapa yang dibicarakan oleh Aneue-nya?
Siapa gadis yang ada di dalam mimpi dan benaknya?
Sebenarnya, benarkah Soyo yang selama ini dia cari?
Sougo memijit pelipisnya yang berdenyut sakit. Memikirkan masalah ini dan itu membuat kepalanya seakan ingin meledak.
Pemuda pasir itu melemparkan Seragam Shinsengumi-nya ke arah sofa dengan asal-asalan, kemudian menggulung lengan kemeja sebatas siku dan membuka tiga kancing atas kemejanya.
Manik Ruby mengeryit tak kala melihat sesosok bayangan yang berada di ruang perpustakaan.
Dengan langkah hati-hati dan kewaspadaan tinggi, Sougo berjalan mendekati bayangan tersebut. Seingatnya, di rumah ini hanya ada dirinya, Shinpachi, dan Gadis Cina itu. Gintoki baru saja mendapat misi bersama Hijikata untuk menangkap 'Clone' di wilayah Bushuu.
Gadis itu dan Shinpachi pasti sudah tertidur mengingat waktu telah menunjukkan dinihari, pikirnya. Para maid mereka juga sudah kembali ke rumah pegawai di belakang Mansion ini. Sougo juga sudah memasang pelindung d sekitar Mansion ini guna menjaga dari serangan 'Clone'.
Dengan pelan, Sougo membuka sedikit pintu tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini?" suara dengan intonasi dingin yang Sougo berikan, membuat Sapphire gadis itu membulat.
Dengan tubuh yang gemetar, Kagura menoleh ke arah Sougo. Manik Sapphire-nya nampak berkaca-kaca dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
Sougo memandang Kagura heran. "Kau kenapa, China?" tanyanya seraya mendekati gadis itu.
"Jangan ..."
"Eh?"
"Kumohon lepaskan!"
Sougo menaikan sebelah alisnya heran seraya mendengarkan setiap rancauan yang keluar dari bibir kecil gadis itu.
"Aku mohon ... ini menyakitkan!" rancaunya lagi seraya kedua tangannya memegangi kepalanya seperti orang frustasi.
"Oy, China, Kau kenapa?" Sougo kembali bertanya dengan ekspresi heran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Tidak ... Tidak ... Tolong aku!" rancau Kagura seraya menabrak tubuh Sougo, bermaksud pergi dari ruangan tersebut dan dengan cepat, Sougo menarik salah satu tangan gadis itu untuk menariknya mendekat.
"Kau kenapa, China?" ucapnya seraya mengoncangkan tubuh Kagura.
Kagura masih menatap Sougo dengan pandangan takut. Manik Sapphire-nya kembali menjadi violet yang menggelap. Tepat saat Sougo menyerukan kepada gadis itu untuk segera sadar, Kagura kembali berteriak ketakutan.
"China, Sadarlah ..." Sougo tetap mengguncangkan tubuh gadis Vermillion itu dengan harapan gadis itu akan kembali sadar.
"Aku tidak mau aru!" bertepatan dengan teriakan Kagura, suara gemuruh terdengar menggelegar di sana diiringi dengan guncangan hebat.
"Sial!" umpat Sougo.
Pemuda bersurai pasir itu berniat menggunakan kekuatannya untuk mencoba menyegel Kagura, ketika Ruby-nya menangkap sebuah cahaya biru yang menyala terang dari balik saku celananya membuat fokusnya teralih.
Sougo merogoh cahaya tersebut dan mendapati kalau sinar itu bersumber dari liontin yang dia temukan tadi.
Ntah inisiatif darimana, Sougo memakaikan liontin tersebut ke Kagura.
Detik selanjutnya, suara gemuruh dan guncangan tadi menghilang. Manik Violet gadis itu juga telah kembali berubah warna menjadi biru cerah tanpa cahaya.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Sougo tersenyum tipis seraya mengusap pelan pucuk Vermillion itu.
Manik biru itu menatap sayu wajah Sougo. Tangan kanannya yang terkulai lemas, terangkat perlahan menyentuh wajah pemuda bersurai pasir itu.
"Kau kembali ... Sadist?" gumannya sebelum kesadarannya kembali tertelan kegelapan.
.
.
.
t.b.c
