"SADIST, TOLONG AKU!"

"Grrhhh ... Arrggghhh!"

"Eh?"

"Aah ... Kau mengacaukannya."

"Eh ...?"

.

-The Soul of the Abyss-

An Okikagu Fanfiction

.

Gintama Disclaimer By Sorachi-Sensei

-Story By Yuki Yahiko-

Warnings:

AU, Typo sedikit bertebaran, OOC demi kepentingan cerita, Rated T+, ada Slight OkiSoyo di beberapa chapter awal.

.

.

Ciit ... ciit ...

Lagi, nyanyian para burung gereja kembali terdengar mengalun merdu menyabut matahari yang kembali menampakan dirinya. Alunan lembut itu mampu membangunkan sesosok gadis yang tengah terlelap di tempanya.

"Ngghh."

Lenguhan kecil terdengar dari getaran bibir mungil itu. manik biru laut yang tadi tersembunyi, perlahan-lahan kini mulai menampakan diri. Irish bulat itu mengerjap beberapa kali guna menyesesuaikan diri dengan cahaya yang menerpa wajahnya.

"Are? Aku kembali ke sini?" gumannya bertanya-tanya.

Diliriknya Jam digital yang berada di atas meja.

XX-XX-XXXX, 08.00 A.M

Manik birunya yang sayu kini melebar.

"Eh? Sejak kapan aku tertidur? Apa yang terjadi padaku?" gadis itu menggumankan pertanyaan-pertayaan yang muncul dipikirannya pada kehampaan.

Kriet ...

Pintu kamar itu terbuka pelan sambil menampakan sesosok gadis berhelaian biru. Mata merah gadis itu nampak sedikit terkejut saat manik biru itu menatapnya. Tanpa bicara, kaki jenjang gadis itu melangkah cepat dan menabrakan dirinya tempat ke gadis itu.

"Kau sudah bangun. Yokatta, Kagura." Ucapnya dengan intonasi datar khasnya. Tetapi, jika lebih diperjelas, terdapat nada kelegaan yang mendalam.

"Imai-san?" manik biru itu mengerjap beberapa kali saat tubuhnya ditabrak begitu saja.

Nobume melepaskan pelukannya dan menatap Kagura datar.

"Gomen, Imai-san. Kemarin aku melupakan perintahmu." Ucap Kagura dengan nada bersalah.

"Ia, Daijoubu. Itu juga bagian dari kesalahanku karena meninggalkanmu waktu itu." jawab Nobume.

Kagura menatap mata merah Nobume dengan tak enak hati. Bagaimanapun, dia tetap merasa bersalah karena tidak mengindahkan perintah Nobume dan malah pergi mengejar sosok gadis bersurai hitam yang berpapasan dengannya.

Are, Matte, Bukankah, waktu itu dia tengah berada di rumah tua dan dikejar dengan sosok makhluk aneh menyerupai ulat?

Kagura kembali berpikir.

"Anoo, Imai-san ...,"

"Nobume."

"Eh?"

"Panggil Nobume saja. Mendengarmu memanggilku Imai, ntah kenapa terasa aneh."

Kagura mengangguk paham.

"Anoo, Nobume-san, Apa kau yang membawaku pulang?" tanya Kagura dengan suara pelan dan keraguan dalam suaranya.

"Ia," Nobume menggelengkan kepalanya pelan dan kembali berkata, "Hito- maksudku Okita-san yang menemukanmu dan membawamu pulang, tiga hari yang lalu." Jelasnya.

Manik biru itu kembali melebar seraya mengangguk paham.

'dia datang. Dia yang menyelematkanku?' batin kagura tak percaya.

"Doshitta, Kagura?" Nobume yang melihat gerakan aneh dari Kagura bertanya.

"Hmm ...," Kagura menggelengkan kepalanya, "Tidak apa. Terima kasih, Nobume-san." Lanjut gadis itu seraya tersenyum tulus.

"Terima kasih buat apa?"

"Terima kasih karena telah memaafkan perbuatan cerobohku kemarin." Balas Kagura masih dengan senyuman tulusnya.

Nobume melebarkan matanya. Tangan gadis bersurai biru itu menyentuh pipi kiri Kagura dan mengelusnya pelan.

"Nobume-san?" Kagura kembali bertanya-tanya atas tindakan tak terduga gadis bersurai biru di depannya.

"Nee ... Kenapa kau bisa tersenyum seperti itu secepat ini?" tanya Nobume pelan.

"Eh?" Kagura menatap Nobume penuh tanya.

"Kau baru saja kehilangan keluargamu, orang yang membunuh keluargamu ternyata keluargamu juga, dan tak butuh waktu lama, kau bisa kembali tersenyum seperti ini." Jelas Nobume.

Sapphire Kagura yang semula bertanya-tanya kini nampak menyendu. Senyuman tipis yang nyaris tak terlihat palsunya, kembali menghiasi gadis yang memiliki surai mirip bunga Kinkomusei itu.

"Sa Nee-Kagura mengangkat kedua bahunya. "Sebenarnya, aku sudah memikirkanya. Sejak awal aku datang kesini, aku selalu memikirkannya. Jadi, kupikir sekarang semua akan baik-baik saja. Aku hanya harus menerima semuanya." Kagura tersenyum miring.

"hanya menerimanya." Kagura mengakhiri kalimatnya dengan pandangan kosong dan senyuman miring.

Dan, Jawaban Kagura tadi membuat Nobume tak mampu berkata apapun lagi.

.

.

.

Sougo tengah berdiri di hadapan kolam ikan yang terletak di belakang halaman Mansionnya. Manik merah itu menatap kosong air di depannya. Sesekali akan terdengar helaan napas pelan yang keluar dari mulut pemuda Sadist itu.

"Siapa sebenarnya Si China itu?" Benak Sougo bertanya-tanya.

Kilasan balik tentang kejadian-kejadian yang menyangkut gadis bersurai Vermillion itu kembali berputar di memorinya.

"Dia adalah sosok yang berharga, Sangat berharga."

Perkataan si Akuto-julukan Kamui dari Sougo-sialan itu, kembali terngiang-ngiang di kepalanya.

"Sial!" Sougo kembali mengumpat seraya meninju batang pohon di sampingnya. Dipijitnya pelipisnya yang berdenyut sakit setiap mngingat tentang si gadis cina itu. manik mera itu berkilat kesal, namun ekspresi wajahnya tetap datar.

Ah, sepertinya dia akan mengambil izin hari ini dan membiarkan Hijikata yang menyelesaikan semua tugas miliknya. Sungguh bawahan yang sangat 'bijaksana dan rajin bekerja'.

Sougo kembali ke dalam dunianya sendiri. Dan semua pemikirannya tadi membuat Si Sadis tak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan mendekatinya secara perlahan dan ...

Pukk

Sebuah tepukan yang mendarat di pundak Sougo membuat pemuda itu berjengit kaget. Beruntung di sana sedang tidak ada siapapun dan pemuda itu bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.

"Sadist!(Nii-chan!)"

Manik merah Sougo melebar ketika indera pendengarannya menangkap suara seseorang yang dicarinya selama ini.

Dalam benak Sougo, saat ini dihadapannya tengah berdiri sesosok gadis berperawakan mungil dengan senyuman ceria yang begitu Sougo rindukan, namun sayangnya, Sougo tak dapat mengingat jelas wajah sosok itu.

"Sadist ... oy, Sadist no Ouji-sama ... Sadist!"

Tubuh Sougo sedikit tersentak, ketika seseorang yang memanggil sedari tadi menjerit tepat di depan wajahnya.

"China?" gumannya, masih dengan tampang kikuk.

"Oy, Baka Sadist, Indera pendengaranmu sedang terganggu aru ka?" Kagura-sosok tadi- bertanya dengan suara mengejek dan pipi yang dikembungkan kesal karena sedari tadi pangeran Sadist di depannya ini tak menyahuti panggilannya.

Kesadaran Sougo kembali dan langsung mendelik tajam ke arah gadis yang membuat hari-harinya penuh dengan tanda tanya itu.

Dengan melipat kedua tangan di depan dada, Sougo bertanya dengan intonasi malasnya, "Apa maumu, Baka onna?"

"Cih, kau menyebalkan, Kuso Sadist." Cibir Kagura kesal karena Sougo memanggilnya 'Baka onna'.

"Jadi, kau sebut apa orang yang ceroboh dan sering menyebabkan masalah bagi orang lain, kalau namanya bukan baka, hah?" tanya Sougo sarkastik.

Kagura terdiam dengan pipi merah menahan marah.

'dasar alien Sadist menyebalkan aru!' batinnya berapi-api.

Sougo mengeryitkan alisnya ketika melihat cewek di depannya ini mulai memasuki tahap yang dinamakan dengan 'ngambek'.

"Jadi, apa maumu, China?" tanya Sougo to the point dan masih melipat kedua tangannya.

Kagura sedikit mencibir sebelum berkata, ""Aku ingin berterima kasih padamu aru."

Sougo mengeryitkan alisnya heran, manik Ruby-nya kini menatap tajam Sapphire milik Kagura. "Hn, untuk apa?" tanyanya.

"Aku ingin berterima kasih Karena kau membiarkanku tetap hidup." Jawab Kagura lantang seraya balik menatap Ruby Sougo.

Sougo menarik napas pelan. Tangannya yang semula terlipat di depan dada kini beralih masuk ke saku celananya.

"Aku hanya menuruti perintah dari Danna desa." Jelas Sougo.

"Aku tahu itu, Sadist. Tapi tetap saja, aku ingin berterima kasih padamu." Ucap Kagura seraya membuang muka ke sisi kanannya.

"Itu tidak-."

"Aku juga berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku waktu itu." potong Kagura cepat. Kedua tangan gadis itu nampak meremat kuat bagian bawah cheongsam merahnya.

Manik Ruby Sougo nampak mengerjap beberapa kali setelah mendengar penuturan Kagura. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi niatan itu ia urungkan.

Akhirnya, Sougo hanya mengangguk sebagai balasan dari ucapan terima kasih Kagura tadi.

Melihat Sougo menganggukan kepalanya, Kagura tersenyum cerah.

"Ah Sadist, aku ingin minta bantuanmu aru." Kagura kembali berucap dengan nada ceria.

"Apa?"

"Sadist, latih aku aru! Aku ingin bertambah kuat aru!" ucap Kagura dengan penuh semangat, namun dapat membuat tubuh Sougo menegang.

Pemuda itu terdiam tanpa memberi jawaban atas permintaan Kagura tadi.

"Sadist?" senyuman Kagura tadi luntur, saat Si Sadis tak menanggapi permintaannya. Hatinya gelisah, takut jika Sougo menolak permintaannya tadi.

Atmosfer diantara mereka mendadak menjadi dingin karena kebisuan Sougo. Kagura sendiri menatap Sougo dengan harap-harap cemas.

Sebenarnya, Kagura bisa saja meminta tolong kepada orang lain selain Sougo. Tetapi Kagura takut, jika orang-orang yang dia minta tak mempercayai tentang kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu. Hanya Sougo-lah harapannya. Sebab, pemuda itu yang telah menolongnya.

"Oy, Apa alasanmu untuk menjadi kuat, Baka China?" akhirnya setelah lama terdiam, Sougo kembali angkat suara.

"Alasan?" Kagura berguman bingung.

"Ya, Alasan apa yang ingin membuatmu untuk menjadi kuat, China?" Sougo mengulangi pertanyaannya.

"Itu ...," Kagura nampak terdiam sejenak. Kemudian gadis itu kembali berkata, "Aku ingin menjadi kuat agar bisa melindungi diriku sendiri dan orang-orang yang berharga untukku."

"Aku ... tak ingin kehilangan siapapun lagi." Lanjutnya seraya tertunduk. Perasaan sedih dan bersalah karena tak bisa amelindungi keluarganya kembali muncul.

Deg.

Sougo memegangi sebelah kepalanya yang berdenyut nyeri seketika mendengar jawaban yang Kagura berikan. Entah kenapa rasanya seperti ... De javu?

Sougo dapat merasakan jantungnya berdenyut sakit akibat luapan emosi yang tak dapat dia artikan secara jelas. Perasan itu seperti campuran antara sedih, takut dan kebencian?

Entahlah, Sougo juga tak dapat mengartikan perasaan terakhirnya itu.

"Sadist, kau baik-baik saja?" tanya Kagura khawatir.

Ketika tangan kanan gadis itu hendak menyentuhnya, Sougo dengan cepat menepisnya.

"Jangan sentuh aku." Ucapnya datar dengan kilatan campuran emosi di manik Ruby-nya.

"Sa ... dist?" Kagura berguman dengan sedikit takut.

"Berhentilah berandai-andai untuk menjadi lebih kuat, China musume-Sougo menatap tajam Sapphire redup itu. "apa yang bisa dilakukan oleh gadis cengeng dan tak berguna sepertimu?" ucapnya tepat di telinga kiri gadis itu.

"Kau takkan bisa melakukan apapun." Tandasnya seraya meninggalkan Kagura yang terdiam dengan irish Sapphire yang melebar kaget.

Kagura memandang punggung Sougo yang menjauh darinya dengan perasaan sedih.

"Doshite?" gumannya pada angin yang berhembus.

.

.

.

Seminggu pasca penolakan Sougo untuk melatih dirinya, Kagura memulai melatih dirinya sendiri dengan sesekali meminta bantuan terhadap Gintoki, Nobume dan Shinpachi. Kadang pula, gadis itu akan datang ke markas kepolisian Shinsengumi untuk menarik Hijikata sepaya melatih teknik berpedangnya.

Walaupun kadang khawatir, baik Gintoki maupun yang lainnya merasa senang akan perubahan gadis itu. Kagura tidak lagi sering menangis ketika mengingat peristiwa berdarah itu. bahkan, yang lebih baiknya-bagi Gintoki-, Kagura sudah mulai menerimanya dirinya sebagai ayah gadis Vermillion itu.

Seperti sekarang, Gintoki dan Kagura tengah menikmati makan pagi mereka bersama.

"Aku selesai, terima kasih atas makanannya." Ucap Kagura seraya berdoa.

Gintoki hanya tersenyum melihatnya.

"Kau akan pergi jogging pagi ini?" tanya Gintoki ketika melihat Kagura memasang sepatu kets-nya.

"heem, Gin-maksudku Tousan." Jawab Kagura seraya tersenyum.

"Gin-chan seperti dulu juga tidak apa-apa, Kagura." Gintoki mengelus pucuk kepala Kagura yang rambutnya kini dicepol dua.

Kagura hanya tersenyum lebar.

"Kau yakin akan tetap pergi jogging? Di luar sedang hujan sekarang. Kau tahu, awal musim semi itu waktunya hujan sering datang." Ucap Gintoki cemas.

"Tenang saja, Tousan. Aku hanya akan berlari di sekitar sini dan pulang sebelum jam sembilan." Jawab Kagura seraya membentuk tanda 'peace' dan membuka pintu rumah.

"Ittekimasu!" Kagura melambaikan tangannya ke arah Gintoki yang berada di depan pintu.

"Itterasshai." Balas Gintoki seraya menutup pintu, dirumahnya kini hanya ada dirinya dan Si pangeran Sadis yang masih terlelap.

.

.

.

Kagura berlari mengitari distrik perumahan di wilayah yang disebut sebagai Kabukicho. Kabukicho sendiri merupakan distrik perumahan elit karena beberapa orang penting di Edo tinggal di sana.

Manik Sapphire Kagura mengamati sekitarnya. Tak banyak aktivitas di distrik tersebut di karena hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sedari pagi.

Senyum gadis itu sedikit terkembang ketika melihat sekelompok anak kecil yang tengah bermain bola seraya hujan-hujanan di dekat sungai yang menjadi pembatas antara distrik Kabukicho dengan hutan lindung di seberangnya.

Duagh ... Syut ...

"Hora ... Kei! Lihat kau membuat bolanya terbang ke seberang sungai!" seru anak kecil berambut coklat ke pada temannya yang berambut hijau.

"Ah ... Kita harus bagaiman sekarang?" tanya anak yang lainnya.

"Tanggung jawab, Kei!" seru bocah tadi dan disetujui dengan anak-anak yang lain.

Bocah berambut hitam itu menatap tajam teman-temannya sebelum akhirnya mendekati bibir sungai. Bocah itu nampak kebingungan memikirkan cara untuk menyebrangi sungai tersebut.

Dan, ketika dia hendak melompat ke arah batu yang berada di tengah sungai, sebuah tangan menghentikannya.

"Biar Nee-chan yang ambilkan." Ucap Kagura menghentikan anak itu.

Dengan lincah, Kagura meloncati batu-batu pijakan tersebut dan begitu dia mendapatkan bolanya, manik biru cerahnya kembali bertemu dengan sosok gadis berhelaian hitam waktu itu.

Kagura terpaku mengamati sosok berhelaian hitam yang kini tengah tersenyum kepadanya dan kemudian berjalan memasuki hutan tersebut.

"Matte!" teriak Kagura seraya menendang bola tadi ke tempat anak-anak tadi di seberang sungai dan berlari menyusul gadis tadi.

.

.

.

"Matte!" teriak Kagura kepada gadis yang jauh berada di depannya.

Sosok itu tak mendengarkan dan masih tetap berjalan jauh ke depan.

Kagura sedikit berlari ketika jaraknya dengan sosok itu semakin menjauh. Gadis itu terus berlari dan tanpa sadar dirinya telah berada di bagian tengah hutan tanpa tahu jalan keluar, dan sialnya sosok yang dia kejar tadi berhasil menghilang.

"Sial!" guman Kagura ketika mendapati dirinya kehilangan sosok tersebut.

Detak jantung kagura kini berpacu cepat ketuka menyadari bahwa dirinya tersesat di tengah hutan tanpa alat komunikasi atau benda apapun yang bisa dia gunakan untuk meminta tolong.

Gadis itu kembali merutuki kebodohannya seraya memegang kepalanya, layaknya orang frustasi.

Iris biru gadis itu melebar ketika mendapati sesosok anjing raksasa berwarna putih berdiri di depannya. Mata kagura mengerjap pelan. Sungguh, dia benar-benar merasa familiar dengan anjing tersebut.

Anjing putih itu menjulurkan lidahnya, kemudian berlari ke sisi kanan hutan.

"oy, Matte, Shiro Inu!" teriaknya seraya mengejar anjing tersebut.

'apa ini? Kenapa aku merasa mengenal anjing tadi?' benaknya bertanya-tanya.

Langkah kaki Kagura terhenti ketika sosok anjing putih itu turut menghilang seperti gadis tadi.

Gadis Vermillion itu menatap kosong ke arah dimana anjing tadi menghilang.

Tanpa gadis itu sadari dan komando, air matanya kembali turun.

Tangan Kagura terangkat menengadah air matanya yang terjatuh.

"Are ... kenapa aku menangis aru? Ada apa dengan perasaan aneh ini? Kenapa aku merasa sedih aru?" gumannya pada diri sendiri sambil menyeka air matanya. Dan sepintas, bayangan yang menyerupai dirinya yang tengah tersenyum cerah seraya memeluk anjing putih, masuk kedalam pikirannya.

"Sou ... ka ... Anjing itu ... adalah temanku yang berharga." Gumannya lagi.

Grek.

Grek.

Grek.

Kagura kembali ke alam sadarnya ketika dirinya mendengar suara langkah yag bergeser. Mana gadis itu langsung berubah waspada sambil mengawasi sekitarnya.

'jangan lagi!' batinnya berteriak takut.

Sayangnya, harapan gadis itu tak menjadi kenyataan.

.

.

.

Gintoki berjalan mondar-mandir dengan muka gelisah di depan tungku perapian. Pria paruh baya bergaya tenpaa itu sesekali mengigiti kuku jarinya-kebiasaan saat dia tengah gelisah.

"Danna, kau merusak suasana." Ucap datar pemuda Sadis yang tengah menonton televisi.

"Hah? Apa katamu tadi Soichirou-kun!" gintoki mendelikan matanya ke arah pangeran sadis itu.

"Danna, berhentilah mengubah namaku desaa. Jelas-jelas namaku adalah Sougo. Dan jika kau mengkhawatirkan anak perempuanmu itu, maka tenanglah. Tak ada yang tertarik dengan gadis berdada rata sepertinya." Jawab Sougo dengan nada yang masih malas-malasan.

"Ho-oh ... Baguslah kalau tak ada yang tertarik dengannya." Gintoki berujar dengan senyuman miring di wajahnya dan nada yang menyindir.

Sougo melirik Gintoki sejenak, mengangkat kedua bahu, kemudian fokusnya kembali ke arah televisi.

"Baguslah kalau begitu. Artinya, aku tak perlu terlibat dengan pencuri pajak seperti kalian di lingkaran seratus tahunku kemudian." Gumannya.

"Apa yang kau katakan, Dan-."

.

.

.

Kagura menyenderkan tubuhnya di balik pohon besar guna bersembunyi dari monster aneh tadi.

'Makhluk apa itu sebenarnya?' batin Kagura ketakutan.

Grek.

Grek.

Kagura mengintip keberadaan monster berbentuk tubuh pohon tua itu dari samping tempatnya bersembunyi.

Grek.

Monster itu berjalan lurus menjauhi pohon tempat Kagura bersembunyi.

Melihat tubuh monster itu yang menjauh, Kagura hendak menarik napas lega ketika suara lain berbunyi beberapa langkah di belakangnya.

"Jiwa Abyss." Suara serak itu menggema memasuki indera pendengaran Kagura. Sontak gadis itu menoleh ke belakang dan membeku di tempat saat monster yang serupa, berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Grek.

"Akhirnya, aku menemukannya." Ucap monters tersebut.

Grek.

Kagura semakin terdiam. Manik Sapphire-nya menatap takut dua monster yang kini mengempungnya. Harusnya dia membawa Katana atau pisau kecil guna berjaga-jaga tadi. Kini, Kagura hanya merutuki nasib sialnya. Kenapa dia harus kembali bertemu dengan makhluk seperti ini?

Tubuh Kagura semakin bergetar ketakutan, ketika dua monster itu semakin mendekat ke arahnya. Di tengah-tengah ketakutannya, tiba-tiba Kagura menegakkan posisinya dan menatap kosong monster yang ada di depannya.

Lagi, tanpa gadis itu sadari, Irish Sapphire-nya kini berubah menjadi Violet tanpa cahaya.

Melihat perubahan aura mangsanya, kedua monster itu terdiam di tempat lalu bergerak semakin cepat dan ...

Duar ...

Boom ...

Arrgghh ...

Suara tembakan dan ledakan yang diiringi dengan suara teriakan kesakitan dua monster tersebut, membuat manik Sapphire Kagura kembali.

Gadis itu melirik ke belakang dengan pandangan kaget, ketika melihat sosok lelaki bersurai pasir, berdiri tepat di belakangnya dengan tangan kiri yang memeluk pinggangnya posesif dan tangan kanan terancung ke depan.

"Haah ... Akhirnya aku menggunakannya juga." Ucap sosok itu seraya menghembuskan napas pelan. Ruby miliknya menatap datar Sapphire di bawahnya.

"Sa-."

"Are ... kau datang juga ternyata, Nee ... Omawari-san." Sapa pemuda bersurai Vermillion yang dikepang satu di belakang.

"Hn." Jawabnya sekenanya.

Tubuh Kagura menegang ketika mendengar suara pemuda yang berhelaian sama dengan dirinya itu.

"Baka Aniki?" guman gadis itu dengan mata yang membulat tak percaya.

Dan kini gantian manik Ruby Sougo yang membulat kaget, ketika mendengar Kagura mengucapkan kata 'Baka Aniki'.

"Hah! Aniki?"

.

.

.

T.B.C

Yosh ... Sampai Sini dulu.

Maafkanlah kalau ceritanya sulit dimengerti ehehehe ...

Dan, Yuki senang ketika ada yang menyadari kalau cerita ini menggunakan alur acak (^^) hehehe ...

Makasih buat yang udah dukung cerita Author melalui kotak review, fav dan follow. (^^)

Semoga chapter ini dapat menghibur ya ...