.
-The Soul of the Abyss-
An Okikagu Fanfiction
.
Gintama Disclaimer By Sorachi-Sensei
-Story By Yuki Yahiko-
Warnings:
AU, Typo sedikit bertebaran, OOC demi kepentingan cerita, Rated T+, ada Slight OkiSoyo di beberapa chapter awal.
.
.
Sougo terpaku pada tempatnya dengan Manik merahnya yang nampak mengecil dan mulut sedikit terbuka.
apa tadi?
Apa yang gadis itu katakan tadi?
Aniki?
Otak pemuda pasir itu nampak kesulitan merespon fakta yang baru saja dia dengar. Saking syok-nya, dia sampai tidak menyadari kalau gadis Cina itu telah lepas dari dekapannya dan berlari ke arah sosok pemuda di depannya saat ini.
"Kamui-Nii!" seru riang Kagura.
Pemuda berhelaian Vermillion itu sendiri hanya tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya dan ...
Duagh ...
Kamui terdiam dengan senyuman yang masih terkembang dan dahi yang berkedut.
Detik pertama, kepalan gadis itu masih menempel mesra di wajahnya.
Detik kedua, gadis itu mulai mengerjapkan matanya.
Detik ketiga, gadis itu menggumam, "Eh? tidak tembus aru." Seraya memandang tangan kanannya diiringi tawa bahagia dari arah belakang, yang diketahui bersumber dari pemuda sadis bersurai pasir.
Dan memasuki detik keempat, pemuda itu hendak berteriak.
"Apa maksud-."
"kamui-Nii ... Kau benar Kamui-Nii, kan? Aku sedang tidak bermimpi, bukan? Yokatta aru! Aku merindukanmu, Nii-chan!" semburan Kamui terhenti ketika sosok gadis manis itu menerjang tubuhnya.
Kagura memeluk erat sosok kakaknya . Kilau biru cerah itu nampak berbinar cerah dan berkaca-kaca.
"Aku juga merindukanmu ... Kagura." Tubuh tegang Kamui tadi melemah. Tangan kanannya terangkat guna mengelus pelan surai Vermillion Kagura yang cepolnya terlepas akibat menghindari monster hutan tadi.
Senyum Kagura semakin melebar. Gadis itu mengeluskan dahinya ke dada bidang sang kakak, mencoba merasakan sosok nyata dan aroma tubuh khas kakaknya.
"Aku senang kau baik-baik saja, Kagura. Gin-san tidak menyakitimu, kan?" tanya Kamui.
Kagura menggeleng, kemudian melepaskan pelukannya. "Tousan menjagaku dengan baik." Jawabnya.
Manik biru itu sedikit melebar. begitu, kah? Ternyata Gintoki sudah mulai memainkan peran barunya, Kamui tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan pembunuh Sadist itu? Apa dia melakukan hal yang jahat kepadamu?" Kamui menunjuk Sougo dengan tangan kanannya.
Kagura melirik ke arah Sougo yang keberadaannya yang terlupakan tadi. Gadis itu nampak menimang-nimang kata yang pas untuk menjelaskannya.
"Aku dan Sadist tak banyak berinteraksi." jawab Kagura akhirnya.
"Souka." Kamui meletakan salah satu tangannya di dagu dan mengangguk paham.
"Kalau begitu, baguslah." Lanjutnya dengan senyum jenakanya namun memiliki makna mendalam.
"Kamui-."
Ucapan Kagura terhenti saat tangan kakaknya menyentuh dahinya.
"Gomen, Kagura. Tapi ini belum saatnya bagiku untuk kembali bertemu denganmu." Gumamnya.
Sebuah cahaya gelap muncul dari tangan pemuda itu. iris biru Kagura kembali menjadi Violet kosong, wajahnya membeku, dan tanda aneh di tengkuknya turut bersinar gelap.
"Oy, Apa yang kau lakukan, Akuto!" jerit Sougo seraya menarik tubuh gadis itu mundur.
"Tak ada, aku hanya memastikan bahwa dia 'masih' baik-baik saja." Jawab Kamui.
"Apa maksudmu?" Sougo kembali bertanya, matanya nampak menyipit tajam.
"Berhentilah memandangku dengan tatapan membunuhmu, Omawari-san. Aku hanya mengikat kembali segel dirinya yang terlepas." Jelas Kamui seraya memandang wajah Kagura yang tengah tak sadarkan diri.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku!" serunya tajam.
"Ara ... sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat." Ujar sebuah suara yang berasal dari samping mereka.
Sosok yang tengah mengenakan tudung guna menutupi wajahnya itu, kini bergerak membuka tudungnya.
"Kau ...," Sougo berdesis dengan tatapan tak percaya.
"Sudah selesai?" Sosok itu mengabaikan desisan Sougo, tatapannya mengarah lembut ke arah Kamui.
"Baru selesai." Jawab pemuda itu seraya menatap Sougo dengan tatapan berarti.
"Kalau begitu kita kembali. Waktu kita hanya sebentar, Kamui-kun." Sosok itu kembali berucap seraya menyibakan surai hitamnya.
"Kau selalu cerewet, Soyo-chan." Balas Kamui seraya berjalan ke arah Soyo.
"Soyo? Oy, Chotto Matte! Apa maksud semua ini, Akuto!" Sougo menahan lengan Kamui dengan tangan kanannya yang bebas-tangan kiri pemuda itu tengah mendekap tubuh Kagura.
"Haah ... Aku tak tahu jika datang ke dunia manusia bisa membuat otakmu berjalan lambat, Omawari-san." Kamui menyeringai ke arah Sougo, mengejek pemuda itu-seperti yang sering dia lakukan dulu.
"Berhenti bercanda atau aku akan menghancurkan kalian saat ini juga!" Balasnya tajam dengan manik Ruby yang menyala.
"Jangan menampilkan aura mencekam seperti ini, Sou-chan." Kamui meniru gaya bicara Mitsuba sambil menepuk pucuk kepala pemuda yang seusia dengannya itu.
"Damare!" desis Sougo tajam, matanya nampak bersinar dan tanah di sekitar mereka mulai bergetar.
"Eh, Force field? Oy, kau ingin membunuhku kah, Omawari-san? Kalau aku mati, kau akan dapat masalah,loh ..."
Sougo tak menyahuti perkataan Kamui, pemuda itu tetap memandang tajam dengan manik merah bersinar.
Kamui menghela napasnya singkat sebelum akhirnya kembali menatap Sougo. "Bangsa elf memang menyebalkan." Cibirnya. "Baiklah ... baiklah ... aku akan menjelaskannya padamu." Ucapnya pasrah.
"Benarkah?"
Kamui mengangguk, "jam tujuh malam, Mansion tua kemarin." Jawab Kamui seraya kembali memasang tudung kepalanya.
Sougo mengangguk setuju. Sinar dari bola matanya menghilang dan getaran tanah tadi berhenti.
"Pastikan dia tidak ikut." Kamui menunjuk ke arah Kagura, "Aku percayakan padamu, O-ma-wa-ri-san." lanjutnya seraya menghilang bersama sosok Soyo.
.
.
.
Malam tiba, langit berwarna kehitaman dihiasin taburan bintang dan bulan yang bercahaya penuh, turut menemanin Sougo yang saat ini tengah berdiri di depan sebuah Mansion tua. Pemuda itu berdiri dengan raut datar seperti biasanya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam lengan Hakamanya yang panjang, guna menghalau rasa dingin yang terasa menusuk.
Sesekali, manik merahnya melirik kearah belakang, mengamati Mansion tua yang nampak tak asing baginya. Padahal, ini baru kedua kalinya dia datang kemari.
Dan, tepat pukul tujuh, Sougo menangkap suara derit gerbang yang terbuka.
Krieet ... bunyi gerbang tua itu sedikit berderit.
Sougo menatap pintu itu datar, gerakannya seakan menimang, apakah dia harus masuk atau tidak. Ada dua kemungkinan yang dapat dia tarik, ini jebakan dari Si Akuto brengsek itu atau ini adalah jebakan dari Clone yang beberapa waktu ini mengincar nyawa gadis Cina itu.
Pemuda dengan wajah babyface itu hendak menarik Katananya guna berjaga-jaga, ketika gerakannya terhenti, saat sosok gadis kecil berhelaian Vermillion berlari dari arah belakang menembus dirinya.
"China?" gumamnya seraya mengikuti langkah gadis itu dari belakang.
Manik Ruby itu mengamati sekelilingnya aneh. Seingatnya perkarangan itu gersang tak terawat, tapi kini, perkarangan itu nampak hijau dengan berbagai macam bunga yang menghiasi tepi jalannya. Lampu Mansion, taman dan Lampion yang menghiasi kolam air mancur di tengah jalanan tersebut turut menyala. Membuat Mansion itu terlihat hidup kembali.
Ah, Sougo lupa, Kalau kamui dapat memanipulasi bayangan, ruang, dan waktu. Nampaknya, Kamui hendak memperlihatkan sesuatu padanya tanpa harus berbicara panjang.
Langkah Sougo terhenti, ketika bayangan anak kecil tadi menembus masuk Mansion tersebut.
Ceklek ... Krieet ...
Pintu besar itu terbuka lebar seakan mempersilahkan Sougo untuk masuk kedalam. Pemuda itu memejamkan matanya diiringi helaan napas. Dia kembali melangkahkan kakinya dengan pelan dan begitu tiba di sana, matanya yang baru saja terbuka nampak membulat dengan manik Ruby-nya yang mengecil.
"Apa ini?" ucapnya kaget dengan suara yang terdengar bergetar.
Sebenarnya, ini bukanlah pertama kalinya Sougo melihat pemandangan serpeti ini. Pemuda pasir itu sering-terlampau sering malah-melihat pemandangan seperti ini.
Bau anyir menusuk masuk ke dalam indera penciumannya, tubuh-tubuh kaku nan dingin dengan bola mata memutih tergeletak tak beraturan, cairan merah pekat bercipratan dimana-mana, bahkan ada yang mengalir dari lantai atas.
Tanpa Sougo sadari, seekor kelinci hitam muncul dihadapannya.
"Saat ini, kau sedang berada di kejadian yang kau anggap lima tahun yang lalu." Suara kelinci itu terdengar, membuat Sougo beralih menatapnya.
"Maksudmu, kejadian saat Klan Naraku menyerang?" tanya Sougo.
"Benar sekali." Jawab riang kelinci itu. "Sasuga nee ... Mitsuba-hime no otouto. Bahkan manipulasi dari kakakmu sendiri bisa kau patahkan." Sambungnya.
"Eh?" Sougo semakin bingung. "Apa yang kau katakan, Akuto?"
"Tehee~ kau akan tau maksudnya nanti, Omawari-san. bagaimana jika kau nikmati kunjunganmu di kerajaan Kouan saat ini? Kau tahu, memanipulasi ruang dan waktu seperti ini membutuhkan banyak energi." Kelinci hitam tadi menatap Sougo kemudian meloncat meninggalkan pemuda Sadis itu dalam kebingungan.
"Oy, Matte!" seru datar Sougo seraya mengikuti langkah kelinci hitam itu.
Ruby-nya menatap datar ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Sougo sedikit ingat sekarang. Dulu, pemuda itu juga telah melihat kejadian ini, namun ingatannya sedikit samar.
Lagi, langkah Sougo kembali terhenti ketika melihat sepasang sosok yang sangat dia kenal, tergeletak di ruang yang dia yakini sebagai ruang Tahta.
Pria berambut hitam dan wanita bersurai Vermillion. Vermillion ... Vermillion ... manik Ruby itu kembali mengecil dengan dahi yang berkerut. Souka, kenapa baru saat ini dia mengingatnya. Surai Vermillion itu, manik Sapphire cerahnya, dan senyuman ceria gadis itu.
Kenapa dia baru mengingatnya?
Sougo menutup sebelah wajahnya dengan poni panjangnya yang tertunduk menutupi mata. Benar, gadis yang selama ini dia cari bukanlah Tokugawa Soyo. Sosok yang dia cari-cari selama ini adalah ...
"KAGURA!" Sougo meneriakan nama gadis itu berulang kali seraya meninggalkan ruangan itu.
Napas pemuda itu memberat, dengan manik yang sedikit melebar dan degup jantung yang berdetak cepat.
Pemuda itu sedikit mengingatnya sekarang.
.
.
.
Sesosok wanita bersurai pasir yang tengah menikmati acara minum tehnya bersama seorang pria bersurai dark green, membulatkan manik Ruby-nya. Tangannya nampak bergetar diiringi ringisan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Oy, ada apa, Mitsuba?" tanya pria tersebut, ketika melihat wanita di sampingnya memegangi tangan kirinya diiringi ringisan samar.
Pria tersebut beralih dari duduknya dan mendekati wanita yang bernama Mitsuba itu.
"Ini gawat, Toshirou-kun," ucapnya pelan.
"Gawat?" Hijikata mentap Mitsuba penuh tanya.
"Nampaknya, Segel yang kubuat untuk Sou-chan terlepas." Sambungnya dengan Ruby yang berkaca-kaca panik.
"Apa katamu?" Manik Navy Hijikata nampak mengecil kaget.
.
.
.
Tap.
Tap.
Bruugh.
Tap.
Sougo berlari mengitari tempat tersebut sambil sesekali menghindari bagian bangunan yang roboh. Bagaimanapun, dia harus menemukannya! sosok itu, pemuda itu yakin kalau 'dia' ada di sana. Dan tanpa terasa, langkah kaki Sougo membawanya ke sebuah bangunan, berbentuk menara tanpa atap, berlantai tiga, dengan aroma familiar bagi ingatannya. Bangunan itu terletak di bagian paling belakang dari tempat tersebut.
Manik Ruby itu nampak mengecil, 'Are ... Aku tahu tempat ini?' batinnya.
Sougo melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut. kondisi bagian dalam ruangan yang dia yakini sebagai perpustakaan itu nampak baik-baik saja, sungguh berbeda dengan keadaan gedung utama. Kaki pemuda itu mengitari setiap sudut ruangan dan terhenti tepat di depan sebuah tangga.
"Hah ... hah ... hah ..."
Tubuh Sougo membalik ke belakang, ketika telingannya menangkap suara orang berlari. Dari arah belakangnya, Sougo dapat melihat sosok gadis berhelaian Vermillion yang rambutnya dikucir setengah ke belakang dengan pita berwarna merah dan dress senada, tengah berlari ke arahnya. Bayangan tersebut menembus tubuh Sougo, dan dengan tergesa-gesa menaiki tangga tersebut.
Tanpa membuang waktu, Pemuda pasir itu turut mengikuti bayangan tadi. Langkah pemuda itu sedikit berlari ketika menaiki tangga melingkar, menuju bagian atas menara tersebut.
"China!"
Syuut.
Trang.
Bruuk.
Eh?
Manik merah Sougo kembali mengecil dengan tatapan kaget. Tubuhnya termundur menabrak dinding dan secara perlahan, jatuh terduduk.
Deg ... deg ...
Jantung pemuda itu berdenyut sakit dengan napas yang tercekat di tenggorokan. Otaknya masih berusaha merespon apa yang terjadi dihadapannya tadi.
Percikan darah di sekitar ruangan.
Sebuah pisau kecil masih menancap.
Manik yang terlihat kosong.
Dan, surai Vermillion yang tercampur merah darah.
"Kenapa tatapanmu terlihat menyedihkan seperti itu?" tanya Kamui yang entah muncul darimana. "Bukankah, ini yang ingin kau ketahui?" tanyanya lagi.
Sougo menatap hampa ke arah Kamui.
"Nee ... Omawari-san, Apa kau tahu tentang penjara yang bernama Abyss?" Kamui kembali bertanya, Walaupun, pertanyaannya sedari tadi tidak dijawab oleh Sougo.
"Kenapa kau hanya diam saja, Omawari-san?" Kamui berjalan mendekati sosok yang tergeletak itu dan mengelus pipi pucat dinginnya lembut.
"Inilah kenyataan yang ingin kau ketahui, Omawari-san." Kamui berucap dengan tatapan sendu. "Gadis ini ... Adikku ... telah terbunuh dalam tragedi ini, seratus tahun yang lalu."
.
.
.
T.B.C
Ehem ... Berhubung ini sudah memasuki bulan Ramadhan.
Yuki ingin mengucapkan, "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Bagi Yang berpuasa.
Semoga Ibadahnya lancar ya ... (^^)"
.
Sampai di chapter ini, ada yang bisa nebak berapa usia mereka sebenarnya?
hehehe ...
Jawabannya, mungkin di chapter depan kalau Yuki nggak lupa #woy #dilemparpetasan
.
Yuki juga ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi atas feedback dari kalian semua.
Review, Fav, dan Follow dari kalian sungguh membuat Semangat Yuki naik (^^)
dan juga, terima kasih buat para reader yang telah membaca karya dari Yuki.
Sampai bertemu lagi ...
