Jembatan Kanabi
"Jadi, apa yang kau dapat untukku, Ryuuzetsu?"
"Hanya sedikit. Mungkin..." jawab Ryuuzetsu pelan.
Naruto mengangguk "Apa informasinya?" tanya Naruto pelan. Naruto bersandar di tepian Jembatan Kanabi, melipat tangannya di dada.
Ryuuzetsu tersenyum misterius "Dansetsu no Sannin, Sandaime Kazekage dan Yondaime Mizukage.." Ryuuzetsu terdiam sejenak, "...mereka berada disana."
Deg!
"A-apa kau bilang?" tanya Yugao tergagap. Ryuuzetsu diam saja. Begitu juga Naruto, otaknya kini memikirkan beberapa kemungkinan kenapa mereka disana.
"Ya..." respon Ryuuzetsu "...mereka berada di sana." Yugao terdiam mendengar hal itu. Naruto diam saja. Tanpa ada tanggapan apa-apa. Ia hanya diam di tepian Jembatan.
"Sungguh mengejutkan..." Naruto memecah keheningan "...apakah Sandaime Raikage juga ada disana?" tanya Naruto sambil menatap Ryuuzetsu.
Ryuuzetsu menggeleng pelan "Tidak, tapi kau akan terkejut ketika sampai disana." ucap Ryuuzetsu pelan. Naruto lalu berjalan pelan menuju tepian yang lainnya. Matanya menatap aliran sungai di bawah Jembatan Kanabi. Air yang jernih. Ia dapat melihat refleksi dari dirinya.
"Naruto, apa yang harus kita lakukan?" Yugao angkat bicara setelah beberapa menit tidak ada yang berbicara.
Naruto melirik Ryuuzetsu penuh makna. Ryuuzetsu hanya mengangguk pelan, mengerti isyarat yang disampaikan Naruto.
Naruto melirik Yugao dari lubang yang ada di topengnya. "Tentu saja, kita akan tetap menuju ke sana!" tiga orang tersebut langsung melesat menghilang, melanjutkan perjalanan mereka ke Hozuki-jo yang masih cukup jauh.
Yamanaka Naruto
Naruto by Masashi Kishimoto-sensei
Warning(s): Much of typo and Out of Character
Genre: Adventure, Friendship & (maybe) Romance
Rated: M
I hope you'll enjoying this mainstream story!
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2: Blood Prison
Actions!
Naruto dan Ryuuzetsu kini tengah berada di perahu yang akan menuju ke Hozuki-jo. Mereka berdua menyamar sebagai tahanan yang kabur dan Naruto akan masuk ke Hozuki-jo dengan identitas palsu.
"Hei Ryuuzetsu, bagaimana sifat orang yang aku gunakan identitasnya?" tanya Naruto pada Ryuuzetsu. Mereka dalam kondisi tangan terikat.
"Namanya adalah Hiruko." kata Ryuuzetsu pelan. "Dia seorang yang hiperaktif, bertindak ceroboh, dan sangat bodoh." Ryuuzetsu tertawa pelan saat melihat wajah Naruto yang pucat.
"Hahaha..." tawa Ryuuzetsu pecah. "Wajahmu sungguh lucu!" Naruto cemberut mendengarnya. Ryuuzetsu memang tidak mengerti keadaan.
"Uhm... Ninja-san?"
Mereka berdua mengalihkan pandangan mereka kepada satu-satunya anak kecil yang ada di perahu yang mereka tumpangi.
"Nani?" respon Ryuuzetsu.
"Ano... Ummm..." anak kecil tersebut menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya dengan wajah memerah. "A-a-apakah menjadi ninja itu hebat?" tanya anak tersebut dengan malu-malu.
Ryuuzetsu dan Naruto saling bertukar pandangan. Seakan berbicara melalui mata.
Akhirnya Ryuuzetsu mengangguk "Ya, menjadi ninja akan membuatmu hebat." anak kecil tersebut memandang Ryuuzetsu dengan mata yang berbinar cerah. "W-wuoohhh.. Benarkah?" tanya anak kecil tersebut.
"Bukan hanya hebat." Naruto menimpali, "Kau bahkan bisa menjadi yang terbaik dan mendapat uang dari itu." sang anak kecil terlihat semakin senang, terlihat dari sorot matanya yang bersinar terang seperti ada bintang di kedua matanya.
"Ne, ne, ne... Apakah aku bisa menjadi ninja yang hebat?" ucap anak kecil tersebut sambil menunjuk diri sendiri.
"Ya, tentu kau bisa!"
Naruto tersenyum melihat tingkah bocah tersebut. Sifatnya yang riang mengingatkannya pada adik perempuannya, Ino. Sifat mereka hampir mirip. Hanya saja, Ino lebih cerewet dan galak di bandingkan anak kecil yang ada di hadapannya.
"Siapa namamu, bocah?" tanya Naruto lembut.
"Koharu. Yamada Koharu. Salam kenal, paman!" ujar anak kecil tersebut dengan riang.
Naruto tertawa renyah, sementara Ryuuzetsu menundukkan kepalanya hingga rambut peraknya menutupi kedua matanya. Aura ungu keluar dari atas kepalanya.
'Pa-paman' batin Ryuuzetsu kacau.
Setelah beberapa jam berlalu, kini mereka telah sampai di Hozuki-jo, sebuah penjara di wilayah Kusagakure yang menakutkan. Letaknya sungguh terpencil. Di kelilingi perairan yang mempunyai arus yang deras dan di kelilingi lembah yang curam. Sungguh mustahil dapat keluar dari tempat ini.
"Mui-sama!"
Seorang pria paruh baya dengan rambut hitam sepinggang menolehkan kepalanya saat ia mendengar sebuah suara memanggilnya.
"Ada apa?" tanyanya santai.
"Dua tahanan yang kabur berhasil diseret kembali!" kata seseorang dengan perawakan badan yang gemuk.
"Baiklah. Masukkan kembali mereka dalam sel." ujar Mui tegas.
"Ha'i!" penjaga gemuk tadi memasang pose hormat.
Mui lalu berlalu dari penjaga tersebut dan langsung menuju ruangannya.
.
YN
.
"Berhenti!"
"Apa?!"
"Pemeriksaan biasa. Lepaskan bajumu!"
"A-apa?!"
Naruto kini tengah berada di ruang pemeriksaan. Ruangannya bisa dibilang lumayan luas. Dengan luas 5x10 meter. Penjaga yang menyuruhnya pun menggeram kesal.
"Ku bilang, lepas bajumu!" ujar sang penjaga dengan kesal.
"Kau ingin melecehkanku, hah?!" seru Naruto keras.
"Turuti saja!" penjaga tersebut mengacungkan sebuah pentungan hitam. Naruto pun dengan segera melepas bajunya.
"Berputar." penjaga tersebut memutar-mutarkan tangannya.
Naruto pun langsung berputar. Penjaga gemuk tadi pun tertawa pelan melihat hal itu.
"Sudah?" tanya Naruto agak kesal.
"Yap. Kau boleh masuk ke dalam selmu." penjaga tadi pun memberikan isyarat kepada temannya untuk mengantar Naruto ke selnya.
~YN~
"Akan ku patahkan lenganmu!"
"Kemarilah! Akan ku jadikan kau santap makan malamku!"
Itulah seruan yang di dengar Naruto. Naruto hanya menutup matanya berusaha mengabaikan seruan-seruan tersebut.
"Ini selmu." Naruto merasakan seseorang mendorongnya masuk ke dalam sel dengan luas 5x5 dengan satu tempat tidur lengkap dengan bantal, guling, dan selimut.
"Semoga kau betah." Penjaga tadi pun dengan segera mengunci pintu sel dan segera berlalu dari tempat tersebut.
Naruto memandang selnya. Dengan jeruji kayu, sangat mudah bagi seorang shinobi untuk kabur dari tempat ini. Tetapi, mengapa mereka tidak kabur? Naruto menyentuh jeruji kayu dengan telapak tangannya.
Aneh.
Ia merasa chakranya terserap sedikit demi sedikit setelah ia menyentuh jeruji kayu tersebut.
'Mungkinkah?'
Naruto berjalan mundur beberapa langkah. Ia lalu menggerakkan tangannya, membentuk sebuah persegi dengan tangannya dan ia arahkan ke seberang.
"Shintenshin no Jutsu!"
Naruto kini berada di seberang dari sel nya. Ia telah menggunakan Shintenshin no Jutsu pada tahanan lain. Ia akan memastikan suatu hal. Tangannya memegang jeruji kayu di depannya.
'Chakraku tidak berkurang?' Naruto sedikit terkejut atas apa yang ia temukan.
"Mungkinkah tahanan disini di kelompokkan ke dalam beberapa kelompok?" gumam Naruto pelan.
Naruto lalu membuat handseal sederhana. "Kai!' Naruto kini telah kembali ke sel nya. Temuan yang tidak di duga olehnya. Hipotesa nya kini ialah; tidak seluruh tahanan di Hozuki-jo adalah seorang shinobi. Ia harus membicarakan hal ini dengan Ryuuzetsu besok.
Keesokan harinya (Ruang makan)
Naruto tengah meyantap makanannya dengan lahap. Semangkok miso ramen dengan kuah yang mendidih. Ia juga tengah menunggu Ryuuzetsu.
"Oi!'
Naruto menoleh sejenak dan mendapati Ryuuzetsu telah duduk di sebelahnya.
"Apa yang kau dapat?" tanya Ryuuzetsu.
Naruto menelan makanannya terlebih dahulu sebelum bicara, "Jeruji kayu di sel ku menyerap chakra. Apakah kau juga?" tanya Naruto tanpa menghentikan acara makannya.
Ryuuzetsu mengambil sebuah sumpit dan langsung melahap ramen pesanannya. "Sepertinya begitu." kata Ryuuzetsu pelan.
Takk! Naruto meletakkan mangkuknya yang sudah kosong. Ia lalu berbisik pelan, "Aku mendapatkan hal menarik." Ryuuzetsu menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
Naruto menghela nafas, "Saat aku berpindah ke sel yang berseberangan, jeruji kayu itu tidak menyerap chakra." ungkap Naruto pelan.
Ryuuzetsu menyeka mie yang menempel di bibirnya. "Jadi?" tanya Ryuuzetsu sambil menatap manik aquamarine milik Naruto.
"Tebakanku, tidak semua tahanan disini adalah shinobi." jelas Naruto pada Ryuuzetsu.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ryuuzetsu yang kini memasang pose serius.
Naruto menengok kanan-kiri, memastikan tak ada yang mendengarnya. "Kita harus bertemu dengan tahanan 'spesial' disini." Naruto berbisik pelan di telinga Ryuuzetsu.
Ryuuzetsu tersenyum tipis "Serahkan saja padaku!" Dengan itu, Ryuuzetsu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan itu diikuti oleh Naruto.
~YN~
"Disana!" kata Ryuuzetsu sambil menunjuk lima sosok yang tengah bercengkrama dengan tahanan lain. Naruto dan Ryuuzetsu pun bergegas menghampiri lima sosok tersebut.
"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan shinobi terkuat di era-nya seperti kalian." ucap Naruto seraya membungkukkan tubuhnya 90 derajat.
Mata Jiraiya menyipit "Kau..." Tsunade menoleh ke arah Jiraiya, "Kau mengenalnya, Jiraiya?" tanya Tsunade. Jiraiya mengangguk perlahan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jiraiya penasaran.
Naruto menaikkan sebelah alisnya, "Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Apa yang kalian lakukan disini? Mengadakan reuni?" ujarnya seraya terkekeh pelan.
Muncul perempatan di dahi Tsunade, "Oi, bocah! Apanya yang lucu hah?!" kata Tsunade geram. Jiraiya mengangkat tangannya di depan Tsunade, menyuruhnya untuk tetap tenang.
"Apa maumu, Naruto?" tanya Jiraiya pelan.
"Aku dikirim kemari untuk menyelidiki pergerakan misterius di penjara ini. Jadi aku-"
"Tunggu dulu..." sela Orochimaru "Apakah Minato yang mengirimmu?" lanjutnya.
Naruto mengangguk pelan "Iya, memang kenapa?" tanya Naruto pada Orochimaru. Tiga Sannin menghela nafas perlahan. Hal itu membuat Naruto mengernyitkan dahi nya.
"Ada apa? Ada yang salah?"
"Kau." ujar Tsunade sambil menunjuk wajah Naruto. "Aku?" respon pelan Naruto. Jiraiya menepuk pelan pundak Tsunade dan menatapnya penuh makna, mengisyaratkan sesuatu.
Jiraiya kemudian berdehem pelan. "Ehem.. Mungkin kau belum tahu ini, nak." Jiraiya menghela nafas, "Kami, Dansetsu no Sannin, berada disini juga karena kami dikirim oleh Minato." jelas Jiraiya.
"Apa maksud kalian?" tanya Naruto yang tidak mengerti.
"Kami dikirim ke Hozuki-jo oleh Minato, dengan alasan yang sama sepertimu." kini Orochimaru yang angkat bicara. "Kami telah berada disini selama enam bulan, dan kami tidak bisa pergi dari tempat ini." lanjut Orochimaru pelan.
Naruto melirik tiga Sannin sekilas, "Kalian Dansetsu no Sannin. Kemampuan serta pengalaman bertarung kalian sungguh tidak dapat tertandingi. Mengapa kalian tidak bisa pergi?" safir Naruto memandangi ketiga Sannin itu secara intens.
Tsunade menghembuskan nafasnya, "Chakra kami disegel ketika kami keluar dari sel. Juga kami ditempatkan di sel khusus di ruang bawah tanah dengan penjagaan yang ketat." kata Tsunade sambil menunjukkan segel yang mengekang chakranya.
"Sou ka..." Naruto kemudian mengalihkan pandangannya kepada Sandaime Kazekage dan Yondaime Mizukage. "Lantas, apa yang kalian lakukan disini?" kata Naruto sembari menatap Sandaime Kazekage dan Yondaime Mizukage.
Yondaime Mizukage -Yagura- menghela nafas, "Aku telah menjadi kriminal -bukan, Tetua Kiri mengkhianatiku." mata pink Yagura bergetar pelan saat ia mengatakan itu. "Tetua bangsat itu, ia memanipulasi seluruh elemen mulai dari para warga, Anbu, Chuunin, bahkan Jounin, untuk memusuhiku." ungkap Yagura geram.
"Apa yang kau lakukan?" Ryuuzetsu yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Aku melakukan hal benar! Aku hanya ingin membuat Kiri menjadi desa yang ditakuti dengan menciptakan shinobi-shinobi kuat." ujar Yagura keras.
"Hoi, cebol." ucap Naruto tanpa dosa. "Kau pasti mengintip para gadis di pemandian air panas. Dan kau memperkosa lebih dari 100 gadis di Kiri dan-" Bruakkh! Sebuah pukulan melayang dan mengenai tepat di pipi Naruto. Yagura -pelaku- terlihat mengeluarkan asap dari kepalanya dan wajahnya memerah menahan amarah.
"AKU YONDAIME MIZUKAGE! AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL NISTA SEPERTI ITU!" Yagura terlihat marah.
"Baiklah, apa yang kau lakukan sehingga kau dikhianati?" tanya Naruto.
"Hah..." Yagura menghela nafas "Aku membunuh seluruh pengguna Kekkai Genkai di Kirigakure." gumam Yagura pelan.
Hening.
Naruto dan Ryuuzetsu terlihat terkejut. Sementara ketiga Sannin dan Sandaime Kazekage terlihat biasa saja. Yagura kemudian menjelaskan kronologi ia berbuat seperti itu.
"Aku dikendalikan." ucap Yagura lemah. "Genjutsu?" ucap Naruto. Yagura mengangguk, ia kemudian menyebutkan satu nama, "Uchiha Madara."
Deg!
Naruto terkejut setengah mati mendengar nama itu. Uchiha Madara adalah salah satu shinobi yang mampu merivali kekuatan Senju Hashirama, sang Shodaime Hokage. Uchiha Madara dan Senju Hashirama bisa dibilang adalah penemu atau yang mendirikan desa Konohagakure.
"Sungguh hal yang tak terduga..." Sandaime Kazekage menghembuskan nafasnya pelan. "...Uchiha Madara pernah singgah ke Sunagakure sebelum pertarungannya dengan Senju Hashirama di Lembah Akhir. Dan ia berhasil membuat Shodaime Kazekage terdesak." jelas sang Sandaime Kazekage panjang lebar.
"Apa kau yakin bahwa dia adalah Madara, Mizukage?" lanjut sang Kazekage.
Dahi Yagura mengkerut, mencoba menggali kenangan yang telah lama ia coba kubur dalam-dalam.
Kirigakure (7 tahun lalu). Beberapa hari setelah Yagura memerintah
Yagura duduk termenung di ruangannya dengan kertas yang menumpuk bagaikan gunung. Kertas-kertas itu datang seperti kawanan lebah. Tak ada habisnya jika sarangnya diganggu.
Tok tok tok!
"Masuk!"
Krieet!
Dari balik pintu muncullah seorang wanita paruh baya berambut kecoklatan dengan baju berwarna biru muda, lengkap dengan jaring-jaring.
"Permisi, Yagura-sama. Saya membawakan Anda kertas yang membutuhkan persetujuan dari Anda." wanita tersebut meletakkan tumpukan kertas tepat di depan Yagura. Yagura mendesah lelah. Ia perlu istirahat.
"Mei." ujar Yagura pelan.
Wanita tadi yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap teman satu timnya -Yagura-.
"Ada apa, Yagura-sama?" tanya Mei.
Yagura mengusap wajahnya, "Aku butuh istirahat." safir pink nya menatap tajam safir cokelat milik Mei.
Mei yang ditatap seperti itu terlihat gugup. "Ah? Ahm... Kau bisa pergi ke Danau untuk menenangkan diri." ucap Mei pada akhirnya.
"Bukan!" Yagura melambaikan tangannya "Maksudku, hiburan. Aku membutuhkan hiburan agar aku tidak jenuh dengan kertas sialan ini!" Yagura menggebrak meja dengan keras hingga mengagetkan seorang Mei. Ini pertama kalinya ia lihat Yagura tertekan. Biasanya Yagura tidak pernah mengeluh dan melakoni tugasnya sebagai Mizukage dengan senang hati.
Mei menghela nafas "Baiklah. Bagaimana jika kita pergi ke tempat pertama dimana kita bertiga bertemu?" ucap Mei lembut.
Yagura mendesah "Baiklah. Bilang pada Ao jika ia terlambat, maka kupon pemandian air panas miliknya akan ku hancurkan!" ancam Yagura. Mei dengan segera menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Yagura seorang diri.
"Sensei, ternyata menjadi Mizukage tidak semudah apa yang aku bayangkan." gumam Yagura pelan.
Danau Kirigakure, malam hari
Yagura kini tengah berjalan menuju tempat pertama ia dan rekan setimnya, Mei dan Ao, bertemu. Yaitu di Danau Kirigakure yang berada di pinggiran desa Kiri. Dulu, ia dan dua rekannya sering bertemu saat ada waktu luang. Tapi, akhir-akhir ini mereka bertiga jarang bertemu dikarenakan pekerjaan Mizukage yang menyita waktunya.
Kini ia telah sampai di tepian Danau Kirigakure. Ia mencari keberadaan dua temannya.
"Yagura!"
Yagura melihat bahwa Mei dan Ao telah tiba disini sebelum dirinya. Mereka berdiam diri di gubuk yang dulu sering mereka gunakan untuk berkumpul bersama Sensei mereka.
Ao menghampiri Yagura dan menariknya ke bangku yang tersedia di sana. "Kupon mandi gratis milikku tidak kau hancurkan 'kan?" candanya pada Yagura.
Yagura tersenyum tipis "Tentu saja. Aku juga ingin berendam gratis di pemandian air panas." Yagura tertawa kecil sementara Ao terlihat murung dan cemberut.
Mereka kemudian bersenda gurau hingga larut malam. Mereka tertawa bersama terutama Yagura. Wajah Yagura sangat bahagia. Seakan beban yang ia pikul sebelum ini, lenyap entah kemana.
"Sudah larut malam." Mei berucap pelan sambil menatap langit yang tak ada satupun bintang yang terlihat.
"Hmm..." gumam Yagura pelan sambil menatap langit malam seperti yang Mei lakukan.
"Ne, sebaiknya kita pulang. Ayo Mei, Yagura." Bletakk! Kepala Ao terasa sakit seperti dihantam sesuatu.
"Arrgghhh. Apa-apaan kau Mei!? Kenapa kau memukulku?!" erang Ao kesal.
Mei menggeram "Kau tak mengerti kesalahanmu?! Dasar lelaki tidak peka!" Mei membuang muka dan melipat tangannya. Ao terlihat makin kesal dengan tingkah yang ditunjukkan oleh rekan setimnya itu.
"Lantas, apa kesalahanku, nona berkuncir?!" ucap Ao dengan urat yang menyembul di kepalanya.
"Dasar..." Ao menaikkan sebelah alisnya, "Kau tidak memanggil Yagura-sama dengan akhiran sama, Idiot!" Bletakkk! Mei menjitak kepala Ao dengan keras sekali lagi.
Yagura sweatdrop di tempat. Perkelahian ini dipicu olehku ternyata, batinnya saat itu.
"Mou, mou..." Yagura mencoba melerai peperangan diantara keduanya. "Sudahlah Mei, kalian adalah temanku, jadi kalian boleh memanggilku apa saja." Ao menoleh pada Yagura dan menghela nafas senang. Sementara Mei nampak semakin kesal.
"Yagura-sama..." Yagura merasakan firasat tidak enak, "Jika kau berniat melindungi Ao-bodoh di depanku, maka itu sama sekali tidak berguna." Mei menyingsingkan lengannya dan melayangkan pukulan ke arah Ao (lagi).
Bletak!
"Yagura, tolong aku..." Ao merentangkan tangannya seakan meminta tolong pada Yagura. Mei dengan tak berperike-Ao-an langsung menginjak tangan Ao.
"Akkkkkkh!"
Yagura kini tengah sendirian di Danau Kirigakure. Ao dan Mei telah berhasil ia lerai dengan iming-iming jika ada seseorang yak tidak memanggilnya dengan akhiran 'sama', maka orang tersebut akan berurusan dengan Mei. Hal itu membuat Ao berteriak protes sementara Mei tersenyum puas.
Yagura tersenyum kecil mengingat hal tadi. Beban yang ia pikul telah terangkat walau tidak semuanya. Teman-temannya telah membuat dirinya tersenyum saat ia tertekan dengan pekerjaan sebagai Mizukage.
Prok prok prok prok
Yagura menoleh saat ia mendengar suara tepukan tangan. Di balik kegelapan malam, ia dapat merasakan sebuah aura menakutkan berdiri di balik kegelapan.
"Yondaime Mizukage, sang Jinchuuriki dari bijuu ekor tiga, Sanbi, sebuah kehormatan aku bisa bertemu denganmu." sesosok tersebut keluar dari kegelapan.
Terlihat seorang lelaki dengan rambut spike, mengenakan armor perang berwarna cokelat kehitaman, memakai celana khusus berwarna hitam. Telapak tangannya terbalut dengan sarung tangan berwarna hitam.
Yagura meningkatkan kewaspadaannya "Siapa kau?" tanya Yagura pada sosok di depannya.
"Aku?" mata hitam kelamnya kemudian berputar "Aku adalah Uchiha Madara." matanya berubah menjadi berwarna merah dengan tiga bulatan berada di tiga sisi berbeda di dalamnya. Yagura tanpa sengaja menatap mata itu, dan setelah itu yang ia lihat adalah kegelapan.
Hozuki-jo, sekarang
"Arrrgghhhh!" Yagura mengerang memegangi kepalanya.
"Oi!" panggil Naruto.
"Apa? Apa yang kau ingat?!" seru Ryuuzetsu cepat.
Yagura meringis menahan sakit "Tidak ada. Tidak ada yang ku ingat setelah kejadian itu." ujar Yagura pelan.
Tiga Sannin menghela nafas pelan "Yagura, kau tidak perlu memaksakan diri." ujar Tsunade menasehati Yagura.
"Kazekage-danna..." Sandaime Kazekage mengalihkan pandangannya pada Naruto "Ada apa, anak muda?" tanya sang Kazekage.
"Apa yang membuat Anda berada disini?" tanya Naruto pelan.
"Hahhh..." helaan nafas terdengar dari mulut sang Kazekage tersebut "Aku berada disini juga karena pengkhianatan oleh desaku." Naruto melebarkan matanya sedikit terkejut.
"Apa maksudnya?" kini Ryuuzetsu yang angkat bicara. Mantan Kazekage Suna tersebut terlihat memijat keningnya sejenak, mencoba merilekskan pikirannya.
"Sesaat setelah Perang Dunia Ketiga, Sunagakure dilanda bencana badai pasir dan juga perang saudara." sang Kazekage bercerita, membuka memori lamanya tentang masa hidupnya dulu yang kelam.
"Bukankah Suna memang terkenal dengan wilayah pasirnya?" tanya Ryuuzetsu.
"Ha'i..." Kazekage menghembuskan nafasnya perlahan, "...tapi badai pasir ini berbeda. Badai pasir ini disertai dengan 'banjir' darah." Safir milik Sandaime Kazekage terlihat bergetar.
"Perang saudara? Dengan siapa?" kini Naruto yang mengajukan pertanyaan yang terlintas di benaknya.
Sandaime Kazekage mengingat-ingat lagi kejadian yang ingin ia simpan rapat-rapat. "Mereka menamai diri mereka sebagai Sabaku no Raion atau Singa Padang Pasir. Mereka menuntutku agar mundur dari jabatanku sebagai Sandaime Kazekage. Entah apa salahku, mereka bahkan memanipulasi Tetua Desa dengan Genjutsu." ujar Sandaime Kazekage.
"Lantas, siapa di balik kelompok itu?" tanya Naruto lagi.
Wajah Sandaime Kazekage terlihat mengeras, "Aku tidak ingin menyebut namanya. Terlalu menjijikkan." Sandaime Kazekage lalu menatap Naruto. "Ku harap aku bisa keluar dari sini dan mematahkan lehernya!"
Aura disekitarnya berubah drastis, Naruto dapat merasakan itu. Ia memikirkan rencana selanjutnya untuk mengeluarkan Tiga Sannin dan dua Kage dari Hozuki-jo.
'Kunci dari keberhasilan misi ini adalah kerja sama tim. Aku harap Yugao dapat melakukan bagiannya' batin Naruto serius.
"Baiklah, para Sannin dan Kage, aku akan menyusun rencana secepatnya untuk mengeluarkan kalian dari sini. Kita bertemu lagi besok." Naruto dan Ryuuzetsu pun pergi meninggalkan ketiga Sannin dan kedua Kage.
"Apakah dia dapat dipercaya, Jiraiya?" Tsunade berkata dengan mimik serius yang tak lepas dari wajahnya.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan selain mempercayainya." balas Jiraiya serius.
'Yamanaka Naruto, jangan kecewakan kami. Kami percaya padamu!' Jiraiya menaruh kepercayaan pada Naruto, begitu juga dengan yang lainnya.
'Kalian tenang saja. Aku akan mengeluarkan kalian dari tempat terkutuk ini. Percayakan saja padaku' kata Naruto dalam benaknya.
~TBC~
Author Notes
Saya minta maaf soal keterlambatan update. Karena saya lagi sibuk sama kerjaan saya. Saya tiga minggu belakangan super sibuk. Dan mohon maaf, untuk update chapter selanjutnya, mungkin sehabis Idul Fitri. Soalnya tanggal 1 Juni sampai 24 Juni saya dikirim ke luar kota oleh atasan saya untuk mengurusi cabang.
Saya udah buat konflik di awal. Sengaja sih. Saya masih butuh saran soal kedepannya mau bagaimana, apakah Kazekage-Mizukage kembali ke desa masing-masing atau kemana gitu atau jadi pengembara. Dan saya mau berterima kasih atas apresiasi yang kalian berikan dengan review yang positif (tidak menghujat). Saya tidak menyangka fic ini dapat tanggapan positif. Oke, sekian dulu. Please klik fav & follow jika kalian suka. Dan tentunya review yang banyak.
So,
RnR Please
Hebro, out!
