Mark menahan nafas ketika langkah kaki itu mendekat kearah belakang tembok tempatnya bersembunyi
Namun tak lama langkah kaki itu menjauh, sampai suaranya benar-benar menghilang barulah Mark menghembuskan nafasnya lega.
"akhirnya pergi juga.." lirihnya lega.
"Siapa yang pergi?" sahut sebuah suara di sampingnya tiba-tiba.
.
.
.
An Semi Canon Fanfiction
"My First and Last"
Main Cast : Mark Lee, Jung Jaehyun, Lee Donghyuk, Johnny Suh, and others.
Main Pair : NCT JaeMark (Seme!JaehyunxUke!Mark)
Disclaimer : Jaehyun dan Mark hanya milik Tuhan yang maha kuasa, orangtua, SM, serta NCT.*baper
Rate : T
Length : 5 - 5
Warn : This is NCT JaeMark Fanfiction! bagi yang tidak suka dengan pair ini diperbolehkan untuk pergi dari sini
Hope u like it~
.o.JaeMark.o.
.
.
"Siapa yang pergi?" sahut sebuah suara di sampingnya tiba-tiba.
Mark tak sadar jika ada orang disebelahnya dan menjawab "orang yang dulu kusuka."
"Kenapa kau lari darinya?" tanya suara itu lagi.
"Dia sudah membuatku jatuh cinta, kemudian menghancurkan hatiku!" si Kanadian tetap saja tak menyadari jika orang dibelakang punggungnya saat ini tengah tersenyum gemas dengan tingkahnya.
Orang tadi semakin mendekat dan bertanya lagi, "lalu kenapa kau tidak menghajarnya saja? bukankah kau membencinya? atau kau malah masih mencintainya?" tanya orang itu lagi.
Dilihatnya wajah Mark mengeras dan tatapan matanya berapi-api. Ia masih saja fokus melihat bagian kirinya tanpa menyadari apa yang terjadi sekarang.
"Aku sangat membencinya, sampai-sampai aku tak bisa melupakan namja yang sialnya aku menolong adiknya tadi! Tau begitu lebih baik aku tak berjanji apa-apa dengan Jaemin!" gumam Mark, terlarut dengan dunianya sendiri sekarang.
Orang yang berada dibelakang Mark mengangguk-angguk tanda mengerti, "kalau begitu berarti kau masih mencintainya!" simpulnya singkat.
Mark melebarkan matanya mendengar suara dibelakangnya berkata seperti itu, emosinya kembali naik dan ia berteriak kesal.
"Ya! Memangnya kenapa kalau aku masih men-" ucapan Mark terputus saat menyadari sesuatu. Matanya melebar dan dengan gerakan patah-patah Mark menolehkan kepalanya kebelakang.
"-cintainya" lanjutnya dengan suara lirih.
Mark terdiam, otaknya memproses apa yang sedang terjadi saat ini. Ia menatap orang yang berdiri didepannya dengan pandangan bingung.
Hampir dua menit Mark terdiam sebelum..
"OMYGOSH!" pekiknya panik saat melihat orang yang dihindarinya barusan kini berdiri dihadapannya dengan senyuman manis diwajahnya, menampilkan dua dimple yang bersembunyi diantara dua pipinya.
Itu Jung Jaehyun.
"Jadi begitu ya ceritanya." kata Jaehyun dengan santai.
Mark ternganga, mulutnya membuka dan menutup seperti ikan kekurangan oksigen.
Tubuhnya terhuyung kebelakang dan hampir saja mencium tanah jika Jaehyun yang didepannya tak segera menangkap tubuhnya lalu memeluk tubuh kecil Mark dengan erat.
Mark masih bingung dengan apa yang terjadi. kepalanya menjadi pusing, tubuhnya seperti tak bertenaga lagi.
"Begitu rupanya.." gumam namja yang lebih tinggi disana, tangannya menarik kepala Mark agar menyandar di dada bidangnya.
Mark memberontak ingin dilepaskan, tetapi terhenti ketika Jaehyun semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan lari lagi, kumohon." pinta Jaehyun lirih.
Akhirnya Mark pasrah. Ia diam dan menghela nafas lelah.
Mereka berdua terdiam cukup lama. Baik Mark ataupun Jaehyun tak ada yang membuka suara sama sekali.
Jaehyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Mark, lalu menyandarkan punggungnya pada tembok dibelakang tubuhnya.
"Hari itu.." Jaehyun membuka suara perlahan, sekilas ia menatap Mark yang mengerjapkan matanya, mendengarkan Jaehyun.
"Hari itu memang sangat berat untukku. Pelatih dan ketua terus-terusan memarahiku selama latihan karena aku tak bisa bermain seperti biasa."
"Fikiranku sangat tidak fokus. Mungkin karena efek dari marahnya ayahku dimalam sebelumnya karena aku tak kunjung mempunyai kekasih untuk dijadikan calon. Dan aku menolak perjodohan malam sebelumnya lagi."
Jaehyun menjeda ceritanya, tangannya mengelus perlahan kepala Mark.
"Aku tak tau kenapa Ayah seperti itu, tidak biasanya beliau memaksaku untuk mencari kekasih. Dan karena itu aku banyak berfikir sampai keesokan harinya ketika bermain aku melakukan banyak kesalahan. Taeyong hyung dan Yuta hyung bahkan sudah lelah memperingatiku."
"Dan kemudian, aku memaku pandanganku pada seorang namja yang duduk dengan kawannya yang berambut merah. Aku sempat melihat jika namja manis itu melamun bahkan saat kawannya mencoba menyadarkan ia masih saja terpaku, ketika aku sadar jika namja itu tengah memperhatikanku, aku tersenyum tanpa sadar saat melihatnya."
"Namja itu terkejut dan wajahnya memerah membuat hatiku bergetar senang dengan sendirinya. Jantungku berdebar-debar kencang, bahkan seumur hidupku belum pernah kurasakan perutku berputar-putar seperti banyak kupu-kupu didalamnya." Jaehyun tertawa kecil mengingat bagaimana perasaannya saat itu.
Ia kemudian melanjutkan ceritanya.
"Setelah hari itu berlalu, aku mulai merasakan ada yang berubah didalam diriku. Aku yang biasanya akan mengeluh soal kelas akan dengan senang hati jika ada kelas setiap hari, aku yang biasanya sangat malas latihan akan melonjak kegirangan saat kapten atau kawan-kawanku mengajakku bermain dilapangan luar. Aku yang biasanya tak pernah mendekat dengan informan kelas tiba-tiba saja meminta bantuannya bahkan sampai memohon untuk mendapatkan informasi namja manis yang sudah membuatku jatuh hati saat pertama melihatnya."
Mark yang berada di pelukan Jaehyun hanya tersenyum mendengar ucapan Jaehyun.
Jaehyun memberanikan diri mengecup puncak kepala Mark pelan dan sukses membuat Mark melebarkan matanya kaget.
"Cukup lama aku baru mendapatkan semua hal tentang dirinya. Bahkan aku mendapatkan kejutan tak terduga didalam loker yang selalu kuabaikan. Secarik notes dengan warna biru yang cantik berisi bait-bait lagu yang aku yakini ditulisnya sendiri menarik perhatianku untuk menjadi lebih tau."
"Tapi.. aku melakukan kesalahan fatal karena tak kunjung mengajaknya berkenalan."
Mark menengadahkan kepalanya dan langsung menyesal saat tatapannya bertemu dengan Jaehyun yang tengah tersenyum lembut. Mark kembali menundukkan dan menyembunyikan wajahnya didada Jaehyun. Jantungnya berdebar-debar. Jaehyun tertawa kecil melihat sikap malu-malu Mark.
"Dan saat aku sudah siap dengan diriku, dia malah menghilang begitu saja."
Jaehyun tak melanjutkan kata-katanya. Matanya menerawang jauh, sementara tangannya tanpa sadar semakin erat memeluk Mark, takut jika Mark yang kini direngkuhnya hanya angan belaka.
Mark merasakan pelukan Jaehyun semakin mengerat dan membuatnya sedikit sesak. Ia memukul pelan dada Jaehyun hingga Jaehyun tersentak dan melepaskan pelukannya. Mark memundurkan tubuhnya beberapa langkah, membuat sedikit jarak dengan Jaehyun, wajahnya tetap menunduk.
"Aku kira.. kau sudah menemukan pengganti 'dia' selama 'dia' menghilang agar kembali bisa melihatmu bermain di lapangan." Mark berujar, perlahan mengangkat wajahnya dan netranya memerangkap wajah Jaehyun yang ekspresinya tak terbaca saat ini.
"Apa yang membuatmu berpikir demikian?" tanya Jaehyun. Nada bicaranya sangat datar dan normal. Mark sedikit terkejut melihatnya namun berusaha bersikap tenang dan menenangkan degupan jantungnya.
Ia baru akan membuka mulutnya, tetapi Jaehyun langsung meneruskan ucapannya.
"Kalau mengenai wanita itu," Jaehyun terdiam sebentar. "itu ulah ayahku."
"Seminggu sebelum kau kembali, dia sudah datang dan mengganggu hidupku. Aku sengaja membiarkannya karena aku pikir gadis itu tidak akan melakukan apapun diluar batas wajar. Tapi apa yang dilakukannya 2 minggu yang lalu benar-benar diluar kendaliku dan aku juga tak tahu mesti bereaksi seperti apa."
Jaehyun tersenyum, "Aku bersyukur saat itu kau langsung pergi, meski aku tau kecil kemungkinan untuk menemukanmu lagi dan kebencianmu padaku akan sangat besar aku terima. Tapi disisi lain, kepergianmu menahan amarahku yang mungkin bisa saja melukai gadis itu baik secara fisik maupun batin, walaupun aku tidak menyukainya tetap saja aku tak boleh melukai wanita, ia bersalah tapi kesalahannya akan menghilang jika aku melukainya sedikit saja dan aku tak akan pernah lagi bisa mencarimu kalau harga diriku sudah dihancurkan terlebih dahulu." jelas Jaehyun panjang lebar.
Jaehyun memajukan tubuhnya, mendekati Mark lalu meraih kedua pergelangan tangan Mark. Kemudian ia berlutut dan itu sukses membuat Mark terkejut bukan main.
Jaehyun memejamkan matanya sebentar, ia harus mengatakan perasaannya sebelum namja manis yang sudah mencuri hatinya ini pergi dan tak akan pernah ia raih lagi.
Mark yang diperlakukan tiba-tiba seperti itu menjadi gelagapan, ia berusaha menarik tangan Jaehyun agar kembali berdiri,namun Jaehyun tetap tak bergeming.
Jaehyun membuka matanya dan kepalanya mendongak, menatap dalam sepasang netra yang berkilau milik Mark yang juga menatapnya balik.
Ya Tuhan, Jaehyun benar-benar ingin meleleh sekarang.
"Aku.."
Astaga, kemana larinya rasa percaya dirinya barusan?
Jaehyun menghela nafasnya sekali lagi, menenangkan debaran jantungnya. Tangannya menggenggam erat tangan kecil milik Mark.
"Mark, mungkin aku sudah menyakitimu bahkan sebelum aku sempat berbicara seperti ini denganmu. Kita juga dipertemukan karena kau menolong adikku, dan aku yakin jika ini adalah takdir. Selama ini aku belum pernah merasakan bagaimana jatuh cinta dan aku rasa begitu halnya denganmu. Maka dari itu.."
"Mark, would u be my first and last?"
.
.o.JaeMark.o.
.
.
"Mark, would u be my first and last?"
Mark membeku ditempatnya, kedua iris beningnya melebar mendengar ucapan sunbae yang sangat dikaguminya--dan dicintainya-- tak menyangka jika Jaehyun akan to the point dan mengatakan langsung dipertemuan pertama mereka yang sangat mendadak--dan tidak elit--ini.
Mark mengedipkan beberapa kali matanya, ia menggelengkan kepalanya kecil berfikir jika dirinya baru saja berhalusinasi sementara saat ia kembali memfokuskan pandangannya Jaehyun masih dihadapannya dengan posisi berlutut seperti tadi.
"ohmygod, it is dream? if yes, please don't wake me up!" batin Mark.
Jaehyun langsung berdiri dan tampak khawatir karena Mark diam saja, keringat dingin mulai mengalir perlahan dipelipisnya memperparah rasa gugupnya. Mark melamun sambil memandangnya.
Dan ia terperangah ketika setetes air mengalir dari sudut mata Mark yang langsung melepaskan tangannya.
"Sunbae.."
don't tell me...
"Mianhae."
Jaehyun merasakan jantungnya seperti jatuh kedasar perut.
Sampai disini kah cinta pertamanya?
"Ahahahaha... "
Kemudian Mark tertawa lebar, dengan air mata yang semakin deras mengalir, ia tertawa. Jaehyun yang melihatnya malah merasakan nyeri di dadanya. Tak lama, Mark berhenti, air matanya masih mengalir, namun senyuman manis terukir di bibirnya.
Ia tersenyum sangat manis, dua manik kelerengnya semakin berkilau dengan air mata, hingga Jaehyun tak yakin bisa berdiri lebih lama dibawah tatapan itu.
"Mark, are u okay?" tanya Jaehyun khawatir. Mark mengangguk pelan. Ia mengusap pipinya dari bekas air mata.
Jaehyun tergagap "T-tapi baru saja.." dan ucapannya tak jadi dilanjutkan karena selanjutnya Mark memeluknya erat.
"Apa aku masih perlu menjawab pertanyaanmu, Jae Hyung?"
Hening.
1 detik..
3 detik..
7 detik..
"Huh?"
Suara itu sangat kecil dan lirih, dan semakin kecil saat sang empu mengucapkannya dengan wajah yang disembunyikan.
"I do."
Jaehyun membeku. Darahnya mengalir dengan cepat memompa jantungnya hingga ia yakin Mark bisa mendengarnya.
Ia tak salah mendengar, kan?
Dan butuh beberapa detik lagi hingga Jaehyun sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi.
"Astaga.."
Sekarang Jaehyunlah yang tertawa keras sampai bahunya bergetar, bahagia menyergap hatinya. Jaehyun melepaskan pelukan mereka, tangannya menangkup kedua pipi tembam milik si Kanadian.
Mark tersenyum hangat saat tatapannya dan Jaehyun bertemu. Wajah Jaehyun semakin tampan saat dilihat dari dekat seperti ini.
"Kau sungguh membuatku ketakutan dan sesaat kemudian kau membuatku terbang tinggi, Mark. Aku semakin mencintaimu." ucap Jaehyun dengan tulusnya.
Jika saja wajahnya bisa lebih memerah daripada buah strawberry yang sudah matang, maka wajah Mark akan begitu warnanya sekarang. Pipinya merona hebat saat ini.
Jaehyun mendekatkan wajahnya pada Mark, matanya menatap lurus dan dalam, dan perlahan terpejam ketika ujung hidung miliknya dan Mark bersentuhan.
Bibirnya mengecup pelan, rasa manis strawberry bercampur coklat dari bibir Mark membuatnya candu dan Mark membalas dengan ragu kecupannya, Jaehyun membuka matanya ketika bibirnya mencumbu lebih dalam, wajah tenang milik Mark dengan mata tertutupnya membuat Jaehyun tersenyum kecil dibalik ciumannya.
Sebelah tangannya yang menangkup pipi Mark mulai berpindah tempat dibelakang tengkuknya, menariknya agar ciuman mereka semakin dalam, lalu sebelah tangannya lagi turun dan menelusup dipinggang ramping Mark. Jaehyun merasakan sepasang tangan melingkari lehernya dan meremas kecil disana.
Ciuman terlepas saat paru-paru mereka mendamba oksigen. Mark terengah, wajahnya memerah dan Jaehyun hanya memberi jeda sepersekian detik sebelum melumat habis bibir merekah milik Mark lagi.
Tak lama Mark memukul dada Jaehyun pelan, ia benar-benar butuh oksigen, jadi Jaehyun melepaskan ciumannya dengan tak rela. Namun melihat wajah dan bibir Mark yang sudah sangat memerah ia jadi gemas sendiri.
Jaehyun merapikan helaian blonde milik namja manis didepannya, lalu mengecup pelipisnya lembut, Mark tertunduk dengan wajah yang masih memerah hingga ketelinga. Manis sekali, batin Jaehyun.
"Mark,"
"Hm?"
"Tatap aku."
Mark mengangkat wajahnya dengan ragu, jantungnya berdetak tak karuan ketika ia bisa melihat dengan jelas wajah Jaehyun tepat didepan matanya.
Wajah mereka sangat dekat, dan Jaehyun sengaja memperkecil jarak wajahnya dan Mark hingga ia bisa merasakan hembusan nafas terputus dari namja manisnya.
"K-kenapa dekat sekali?" batin Mark grogi, ia bahkan tak menyadari jika Jaehyun berbicara sakingkan gugupnya.
"..you"
"Huh?"
Jaehyun tertawa kecil, Mark pintar sekali membuatnya gemas dengan tingkahnya. Jaehyun membelai pipi Mark, lalu mengulangi kembali ucapannya yang membuat Mark tak bisa lebih bahagia lagi dari pada ini.
"I said, i love you Mark, and i will always love you."
"but.."
"but?"
"I want too hear your answer, once again."
Jaehyun menatap lurus manik kelereng milik namja manisnya, senyuman kecil muncul di bibirnya.
"Mark Lee, I love you. Would you be my first and last?"
Mark hanya berkedip, namun sesaat kemudian ia tersenyum manis. Tangannya yang berada dileher Jaehyun semakin berpegangan erat saat ia memajukan wajahnya dengan wajah Jaehyun. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Jaehyun, namun tak melepaskan pandangan dari mata Jaehyun.
Jaehyun merasakan darahnya berdesir halus ketika Mark memejamkan mata dihadapannya perlahan lalu mengecup sebentar bibirnya lalu melepaskannya.
Kemudian jantungnya mulai berdetak kencang saat kedua manik itu terbuka bersamaan dengan sebuah kalimat terakhir sebelum ia merengkuh kembali namja manis yang kini benar-benar menjadi miliknya kedalam ciuman panjang.
"I do. I love you too, Jung Jaehyun sunbae. and i'm yours."
.
.
.
.
E
N
D
_
Akhirnya selesai*nangisterharu
Untuk readers tercinta yang setia menunggu, aku ucapin terima kasih banyak, tanpa kalian aku rasa cerita ini ga bakal selesai.
Ada alasan kenapa aku lama update, mulai dari hilangnya ide untuk ending cerita ini, jadwalku yang padat setiap hari, sampai aku sempat sakit juga TT_TT tapi akhirnya aku bisa nyiapin cerita kopel paling atas di NCT punyaku ini:'v
Buat Jay sama Mark, kalian warbiyasah! Jangan ragu buat nunjukin kedekatan kalian, mau itu sebagai teman satu grup, kakak adik, partner atau kalau bisa jadi soulmate beneran kkkkk
RnR please!
Salam Cinta author sengklek~
JiJoonie
