.

.

.

.

"Namamu?"

Mata itu menatap Taehyung lemah. Binar ketakutan kembali muncul, tangannya pun bergetar. Taehyung mengusap pipi Jungkook perlahan, mendorong tangannya hingga mencapai telinga Jungkook. Matanya kembali mengunci manik bergetar Jungkook. Berusaha membuat Jungkook hanya terfokus padanya.

"Namamu?"

Taehyung bertanya sekali lagi. Tangannya tak henti memberikan usapan penenang. Mata Jungkook mulai terpejam. Menikmati setiap sentuhan itu. Rasanya nyaman. Berbeda dengan perawat yang akan menyuntiknya jika dia terlihat ketakutan.

"Kook..."

Taehyung mengernyit. "Jungkook?"

Kepala itu menggeleng cepat. Matanya terbuka lebar. "Kookie...Kookie..."

"Mulai sekarang, kau tinggal disini, Kookie. Turuti perkataanku, dan aku akan menjagamu. Kau melawan, kau mati ditanganku."

.

.

.

.

Jungkook memejamkan kedua matanya, menikmati setiap sentuhan lidah Taehyung yang tengah menari di perpotongan lehernya. Tubuhnya menggeliat kecil kala Taehyung meninggalkan bekas di leher. Tangannya mengusap lembut tangan Taehyung yang berada di perutnya, mengukungnya. Semua yang dilakukan Taehyung itu seperti narkoba, mematikan namun mengundang candu.

"Hyungie—"

"Sshh..." Taehyung meniup daun telinga Jungkook. "As usual, baby,"

Jungkook mendongak, mengangkat kepalanya masih dengan kedua mata terpejam. "Da-daddy,"

"Good boy." Lidah Taehyung kembali mengecap leher Jungkook. Aroma susu yang menguar dari tubuhnya membuat Taehyung terlena. Taehyung tak berniat menggunakan kedua tangannya, yang menjaga Jungkook agar tak jatuh dari pangkuan. Dia menyukai bagaimana Jungkook mengusap tangannya dengan sangat lembut, yang mana membuat libidonya meningkat.

"Stop, please—stop daddy," Jungkook berusaha melepas kedua tangan Taehyung yang mengukungnya. Taehyung mengernyit, dia melepas pelukannya. Jungkook berdiri, lalu kembali duduk di hadapan Taehyung dengan saling berhadapan.

"Can't hold it, daddy—I want you, I want you..." mata Jungkook berkaca-kaca. Menunjukkan betapa tingginya hasratnya saat ini. Ingin Taehyung menyentuhnya. Ingin Taehyung menciumnya. Ingin Taehyung memanjakannya. Ingin Taehyung meremukkannya. Ingin Taehyung memilikinya.

Taehyung terkekeh. Di usapnya pipi Jungkook dengan lembut, Jungkook terlihat imut dan sexy di saat yang bersamaan. "The code, baby."

Tangan Jungkook meremat kemeja yang dikenakan Taehyung. "Co-come in, daddy, my-my whole body, my ho-hole, need you,"

Shit.

Taehyung merobek kaos yang Jungkook kenakan dengan kasar. Bibirnya dia tubrukkan pada milik Jungkook, sedangkan tangannya membuka kancing kemejanya sendiri dengan tak sabar. Jungkook melingkarkan kakinya pada pinggang Taehyung, mencegah agar dirinya tak terjatuh.

Taehyung yang menyadarinya, langsung membanting Jungkook di sofa. Mengukungnya, masih dengan menyesap bibir pink itu. Menjilat, melumat, menghisap dalam-dalam hingga membengkak. Tangan kanan Jungkook terangkat, menarik pelan rambut Taehyung, sedangkan tangan kirinya menggerayangi dada telanjang Taehyung. Membuatnya menggeram rendah.

Tangan Taehyung mulai bergerak, menjepit nipple Jungkook, membuat Jungkook mengerang. Ciuman Taehyung merambat turun, pipi, dagu, leher, hingga dada. Dia menggeram frustasi saat kaki Jungkook menyentuh kejantanannya yang sesak luar biasa.

Jungkook mengarahkan tangan kirinya untuk memegang kejantanan Taehyung yang sudah menggembung. Dia terkikik kecil.

"Da-daddy, you're hard,"

"And you think you aren't?"

Dengan usil, Taehyung menekan pelan selangkangan Jungkook dengan kaki kanan. Membuat Jungkook mendesah frustasi, lalu kembali terkikik.

"I am, daddy."

"Buka celanamu."

Taehyung menegakkan dirinya. Jungkook merangkak keluar dari kukungan Taehyung, mencoba berdiri dengan kedua kaki lemas. Dia membuka celana pendeknya perlahan, berpura-pura seakan-akan celananya menyangkut, sulit dilepas hingga dia harus mengangkat sebelah kakinya. Matanya melirik Taehyung yang menegak ludah kasar.

Setelah terlepas, dia meraba celana dalamnya. Menekan pelan kejantanannya sendiri, membuat dirinya mendesah. Menurunkan celana dalamnya perlahan, seraya menunjukkan wajah horny. Memekik kaget saat Taehyung menariknya lalu membantingnya kasar ke sofa.

"You, lil' bitch," tangan Taehyung mencengkram dagu Jungkook, sedangkan tangannya yang lain meremas kejantanan Jungkook. "Dari mana kau mempelajari itu, bajingan kecil?"

"By—by my self—eunghh, daddy..."

"Jung?"

"He is—my self too,"

Bastard Jung telah mengotori Innocent Kookie.

.

.

.

.

"Nghh..."

Taehyung bergidik. Seseorang tengah bermain dengan penisnya. Perlahan, dia membuka kedua matanya, dan langsung membola kala melihat Jungkook tengah mengemut kejantanannya.

"Jungkook?"

"Oh, kau bangun?" masih dengan mengemut kejantanan Taehyung, Jungkook bersuara. Dia kembali terfokus pada kegiatannya. Taehyung bangkit, namun tubuhnya kembali terjatuh ke kasur karena kedua tangannya diikat pada ujung ranjang.

"Lepaskan aku, bangsat,"

"Kalau kulepaskan, kau menolakku lagi. Lagipula, milikmu ini sudah tegang. Yakin mau menyelesaikannya sendiri?"

Taehyung menahan nafas, Jungkook melakukan blow job seperti sedang mengemut permen manis. Sialan.

"Lepas—sshh..."

"Diam Tae, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan disini. Omong-omong, milikmu tambah besar sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Apa lubang Kookie berpengaruh pada ukuran penis?"

"Lubang Kookie lubangmu juga, sialan,"

"Kalau begitu, mulutku mulut Kookie juga, sayang."

Taehyung mendesis. "Dia tak bisa disamakan denganmu, jalang."

"Bisa. Tubuh kami sama." Jungkook meremas keras kejantanan Taehyung, membuat Taehyung mendongak. "Taehyung, katakan kalau kau mencintaiku."

"Aku mencintai Kookie," dan Taehyung menggeram rendah setelahnya, karena Jungkook kembali menjilati kejantanannya. "Kode salah, Tae. Katakan kode yang benar, dan kau boleh keluar." Ibu jarinya menutup kepala penis Taehyung, membuat Taehyung frustasi.

"Jung, lepas—ah!" Jungkook kembali meremas kejantanan Taehyung, namun dengan perlahan.

"Kodenya, Tae."

"Jung bangsat, aku mencintaimu!"

Jungkook menyeringai. Dia segera memasukkan kejantanan Taehyung ke mulutnya, lalu menghisapnya keras. Taehyung mengerang, dan langsung mengeluarkan cairannya di dalam mulut Jungkook. Jungkook tersedak, namun berusaha menampung semua cairan Taehyung. Dia merangkak ke atas tubuh Taehyung, menyambar bibir Taehyung, lalu meniupkan sedikit cairan itu ke dalamnya. Membuat Taehyung terbatuk.

"Sialan," Taehyung menjulurkan lidahnya. "menjijikkan."

Jungkook menelan semua cairan itu tanpa menunjukkan ekspresi jijik. "Itu cairanmu, Tae. Kau harus mencobanya sesekali."

"Ya, sekali. Jangan coba-coba melakukannya lagi, bajingan kecil."

Jungkook mengangkat sebelah alisnya. "Kukira itu sebutanmu untuk Kookie."

Taehyung memutar kedua bola mata. "Terserah. Lepaskan aku, bangsat. Tanganku sakit."

Jungkook menurut. Dengan mudah, dia menarik salah satu bagian tali yang langsung membuat ikatan itu terlepas. Setelahnya, tangannya meraba bokongnya.

"Tae, aku lecet. Salepnya dimana?"

"Mobil."

"Ambil."

"Ambil sendiri."

"Bokongku lecet, Tae." Jungkook menunjukkan mimik sedihnya. "Kau tega padaku? Padahal kau yang membuatku lecet,"

"Kalau Kookie yang minta, baru aku ambilkan."

Jungkook mengerucutkan bibirnya. "Jadi aku harus membenturkan kepalaku ke dinding dulu? Oke." Dia beranjak, mendekati dinding. Taehyung terbelalak, dengan segera dia menarik lengan Jungkook dan menyeretnya ke kasur.

"Oke oke! Aku ambil. Puas?!" Taehyung memungut kemeja juga celananya, memakainya, lalu berjalan keluar. Jungkook tertawa.

"Jangan lupa belikan aku makanan, Tae! Aku lapar!"

"Berisik!"

Jungkook terkekeh. Dia membaringkan dirinya di kasur seraya memejamkan kedua mata. Menghela nafas kasar. Seluruh tubuhnya pegal. Pasti semalam Taehyung menghabisi Kookie, meremukkannya. Sejujurnya, Jung sedikit iri pada Kookie, karena perhatian Taehyung yang begitu terfokus padanya.

Apa masih ada silet yang terselip?

Jangan lakukan.

Masih dengan kedua mata terpejam, Jungkook mengernyit. Suara itu muncul lagi.

Dia satu-satunya.

Itu suara Kookie. Jungkook terkekeh.

"Kau tau aku sedang mencarinya, huh?" Jungkook mengepalkan kedua tangannya. "Dia membuang semuanya, sayang. Aku jadi tak bisa melakukan apapun."

Dia menjagaku.

Jungkook menutupi matanya dengan tangan kanan. "Kalau begitu, jelaskan padaku, kenapa dadaku sakit?"

Hening. Jungkook kembali menghembuskan nafas kasar.

"Kookie, apa yang kau temukan?"

Jungie, kumohon. Apapun yang terjadi, jangan membiarkannya pergi.

Jungkook membuka kedua matanya, yang langsung membuat komunikasinya dengan Kookie terputus. Dia menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara.

"Bangsat."

.

.

.

.

TBC

.

Duh.

Maaf banget, chap ini pendeknya luar biasa. Kenapa? Karena kalau dipanjangin lagi, ntar alurnya kecepetan lagi kaya kemarin. Setidaknya chap ini ga terlalu ampas kaya chap kemarin.

1k words. Dan 700 words nya itu adegan nganu. Ok I'm ok.

Kita masukin konfliknya pelan-pelan yha :")

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.