.

.

.

.

"Suga Noona~"

Yoongi memejamkan kedua matanya rapat saat lengkingan Jungkook menggema. Di detik selanjutnya, tubuh Jungkook menabrak tubuhnya hingga mereka terjatuh ke sofa. Jungkook membenamkan wajahnya di dada Yoongi, mengusel pelan, membuat Yoongi berdecak.

"Tae bangsat!"

"Hadir!"

"Apa maksudnya ini?!"

Taehyung tersenyum idiot. Menggaruk pipi kirinya pelan. "Kookie bilang, dia rindu Suga Noona."

"Telepon dulu bisa kan?!"

"Katakan pada bocah yang menyeretku ke sini." Dia melempar kunci mobil ke atas meja, lalu ikut membanting tubuhnya di sofa. Tangan kanannya meraih pinggang Jungkook, memangku anak itu. Jungkook mengerang protes, tangannya berusaha menggapai Yoongi yang mulai beranjak ke dapur.

"Hyung lepas, aish..." Jungkook memukul kecil kedua lengan Taehyung yang mengurungnya. Bibirnya mencebik sebal, dia hanya ingin memeluk Suga Noona kesayangannya. Apa salahnya?

Taehyung meletakkan kepalanya di ceruk leher Jungkook. Menghirup aromanya dalam-dalam. "Kelinci nakal. Yoongi Hyung mengataiku bangsat karenamu."

"Aku salah apa? Aku cuma mau peluk Suga Noona,"

"Suga Noona-nya masih menstruasi."

"Brengsek," Yoongi datang dengan nampan berisi semangkok besar popcorn dan tiga soda. "Aku laki-laki."

"Tapi kau cantik, Hyung."

Yoongi tersentak, dua lengan merengkuh tubuhnya. Lehernya pun basah karena dijilat. Dia menaruh nampan ke meja, lalu menendang ke belakang, tepat pada selangkangan Jimin. Membuat Jimin memekik kesakitan.

"Hyung! Ini masa depan kita Hyung! kalau jadi pendek, bukan salahku kau jadi tak puas saat bercinta nanti,"

"Pergilah Park." Yoongi mendudukkan dirinya di sofa. Isyarat tangannya menyuruh Jungkook mendekat, yang langsung membuat Jungkook menepis kasar kukungan Taehyung. Dia beringsut mendekati Yoongi, lalu memeluk Yoongi dari samping. Persis seperti kucing dan tuannya.

Jimin duduk di sebelah Taehyung. Terbahak saat melihat Taehyung menunjukkan wajah memelasnya. "Menjijikan," dan Taehyung langsung menendang kaki Jimin. Membuatnya kembali memekik kesakitan.

"Kookie, kenapa ke sini?" Yoongi mengusap puncak kepala Jungkook. Jungkook dalam mode Kookie adalah kesayangannya. Yang ditanya semakin mempererat pelukannya. Membuat Yoongi terkekeh.

"Suga Noona tidak merindukanku?" Jungkook mendongak, mengerucutkan bibirnya. Dan Yoongi menarik gemas bibir itu.

"Kelinci besar. Sekarang apa? Kau tak mungkin memelukku seharian, kan?"

Jungkook melepas pelukannya, lalu menggeleng. "Mau main time zone. Suga Noona mau kan?" dia mengerjapkan kedua matanya, membujuk Yoongi.

Yoongi berlagak berpikir. "Aku ikut—"

Jungkook tersenyum lebar.

"—kalau kau memanggilku 'Hyung'."

Dan lengkungan senyuman itu ditarik ke bawah.

"Noonaaaaa~" dia merengek. Tangannya mulai menarik-narik lengan baju Yoongi, menatap Yoongi dengan wajah sedihnya. Bibirnya dikerucutkan, kedua alisnya mengerut, dia juga menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri.

Yoongi menghela napas. Kookie adalah kesayangan sekaligus kelemahannya. "Setidaknya panggil aku Suga, dasar." Dia berdiri, diikuti dengan Jungkook yang langsung melompat, memeluk lengan kiri Yoongi.

"Kim, Park,"

Taehyung dan Jimin mendongak. Keduanya mendesah keras, saat melihat seringai tipis Yoongi.

"Kalian yang bayar."

.

.

.

.

Yoongi merebahkan dirinya di tempat pijakan dance-dance revolution.

"Jungkookie, aku capek. Kita pulang ya?"

Masih dengan mata terfokus pada layar, Jungkook mengabaikan keluhan Yoongi. Suara alas sepatu beradu dengan pijakan permainan itu terdengar sangat jelas di time zone yang sudah sepi. Sesekali bibirnya mengerucut, kala dirinya tak mendapat combo karena melewatkan beberapa bagian.

Merasa tak ada balasan, Yoongi menyamankan posisinya. Memiringkan tubuhnya, kepalanya bertumpu pada kedua tangan yang disatukan. Matanya memejam, membayangkan betapa empuk kasur miliknya, lalu merealisasikan bayangan itu pada pijakan permainan. Meskipun rasa dingin telak menusuk dari balik kemeja tipisnya.

"Noona," Jungkook sengaja menghentakkan kakinya pada pijakan yang berada di dekat kepala Yoongi. Jengah karena bermain sendirian selama setengah jam. Tapi, Yoongi tetaplah Yoongi. Dia bahkan tak beranjak se inci pun. Dia tidur atau mati?

"Noona!"

Jungkook memanggil sekali lagi. Kali ini tanpa hentakan kaki. Namun Yoongi tetap pada posisinya, membuat Jungkook mengerang sebal.

Dia berjalan meninggalkan mesin dance-dance revolution dengan wajah tertekuk. Berani bertaruh, Yoongi tak akan bangun bahkan jika mesin itu dipindahkan. Karena membangunkan beruang kutub seperti Yoongi itu sulit.

Yoongi mengernyit dalam tidurnya, merasakan sesuatu menetes ke pipi, dan merambat ke hidungnya, hingga akhirnya terjatuh. Terus begitu sampai tetesan kelima, dimana Yoongi langsung membuka kedua matanya dengan berharap yang menetes itu bukan yang ada di pikirannya.

Oh, tidak.

"Sugar, I miss you."

Dengan panik, Yoongi segera berdiri seraya merogoh kantong. "Tisu, sapu tangan, apapun! Astaga, Jungkook!" merasa kantongnya kosong, Yoongi mengusap hidung Jungkook dengan lengan kemejanya. Menciptakan garis merah pada kemeja biru muda itu. Dia mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia jatuh ke lubang yang sama.

"Kau yang menyuruhnya, kan?" tuduh Yoongi seraya menyipitkan matanya, memastikan darah yang keluar dari hidung Jungkook berhenti.

"Apanya, sugar?"

"Kau menyuruh Kookie membenturkan kepalanya lagi, kan?"

Jungkook terkekeh. Dia meraih tangan kanan Yoongi, lalu menjilat punggung tangannya yang terkena darah. "You got it wrong, sugar. Itu kemauannya."

Mendecak sebal, Yoongi mengedarkan pandangannya. Mencari dua pemuda yang lari dari tanggung jawab. "Park bantet! Kim byuntae!"

"Sugar?" Yoongi menoleh malas. Jungkook menyeringai, dia meletakkan telunjuknya di dagu Yoongi. Yang langsung ditepis kasar oleh sang empunya. "Kau tak merindukanku? Apa penis Jimin sudah lebih panjang sekarang?"

"Tutup mulutmu, Jung." Yang tertanam di pikiran Yoongi adalah: Jungkook merupakan anak yang polos. Mendengar dirty talk dari bibirnya itu terasa aneh, meskipun kenyataannya yang berbicara adalah sisi dominan Jungkook, Jungie.

Jungkook mengangkat sebelah alis. "Kau dan adikmu sama saja. Sama-sama tak ingin bermain denganku. Kenapa sih? Aku kurang apa?" dia mengusak surai cokelatnya ke belakang. Yoongi melirik, menahan dirinya untuk tidak tenggelam dalam pesona dominan Jeon Jungkook itu. Apa-apaan, bahkan Jungkook membuka dua kancing atas kemejanya. Mau menggoda Yoongi?

"Tergoda, sugar?"

Sial.

"Park bantet! Kim byuntae!" Yoongi memanggil sekali lagi. Menghembuskan napas lega kala melihat dua orang sialan itu lari seraya terbatuk.

"Yah, guardian angel mu datang." Jungkook mengerucutkan bibirnya. Dia baru saja muncul, dan langsung bertemu sosok gula manisnya. Sekarang mereka harus terpisah lagi?

Jungkook menjepit dagu Yoongi dengan ibu jari dan jari telunjuk. Mendongakkan kepala Yoongi, menyesap bibirnya dalam-dalam dengan hitungan detik. Dan menyelesaikannya tepat saat Taehyung dan Jimin datang.

"Ah!" Jimin mengerang. Dia menghampiri Yoongi yang masih terpaku, menarik tenguk Yoongi, lalu melumat bibirnya sebentar. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Yoongi yang membengkak, dengan mata yang memandang Jungkook sinis.

"Yo, Jimin. Terima kasih sudah berbagi gula denganku," Jungkook menjilat bibir bawahnya dengan gerakan sensual, yang membuat Taehyung tanpa sadar menelan ludah. "Rasanya masih manis. Seperti dulu."

"Enyah kau keparat," Jimin mendesis. "Mana Jungkook?"

"Buat aku pingsan, dan kau akan melihatnya."

"Jungie," Taehyung menggamit lengan Jungkook. Dia merasa tak enak pada Jimin, karena Jungkook dengan kurang ajarnya mencium kekasih manis kesayangan Jimin itu. "kita pulang. Jim, aku pamit dulu. Kita bicarakan ini lagi nanti. Dan, maafkan kami." Dengan segera, Taehyung menarik lengan Jungkook. Menyeretnya hingga ke mobil, karena mereka berangkat dengan dua mobil tadi.

Taehyung membuka pintu mobil dengan kasar, lalu membanting tubuh Jungkook ke dalamnya dengan kasar juga. Dia masuk ke mobil, menyalakan mesin tanpa berniat menjalankannya. Dia menaruh kepalanya di stir.

"Jung,"

"Yes, daddy?"

Taehyung menarik napas jengah. "Jangan lakukan itu lagi."

"Kau cemburu?" Taehyung melirik. Jungkook menatapnya seraya menyeringai. Tidak...ada suatu binar di bola matanya. Samar sekali, nyaris tak terlihat di antara kelamnya bola mata itu.

"Persetan," Taehyung mencengkram dagu Jungkook. "pokoknya, jangan berlaku seenaknya. Aku sudah mengajarimu sopan santun, Jung. Aku bisa dipecat Yoongi Hyung karena tak becus merawat pasien."

Dan Taehyung tau, binar itu menghilang kembali.

.

.

.

.

Taehyung mengernyit. Jungkook tengah berkutat dengan ujung meja.

"Jungkook?"

Jungkook menoleh. Tatapannya datar, sangat datar. Dia kembali terfokus pada pekerjaannya, membuat Taehyung penasaran.

Taehyung melempar selimutnya asal. Dia berjalan mendekati Jungkook, dan membulatkan bibirnya kala melihat Jungkook tengah menggesekkan tali yang mengikat tangannya, dengan ujung meja.

"Kau yang memintaku mengikatmu, kau juga yang ingin melepasnya?" dengan telaten, Taehyung melepas ikatan itu dalam sekali tarik. Jungkook merenggangkan jari-jarinya, mengibaskan tangannya keras.

Dan Taehyung terlonjak saat Jungkook mulai membuka laci meja dengan tidak sabar. Dari satu laci ke laci yang lain, ditarik dengan kasar. Dia memutuskan untuk memperhatikan, apa yang dilakukan Jungkook. Apa yang dicari Jungkook.

Gerakan Jungkook terhenti. Dia mengangkat tinggi-tinggi silet di tangan kirinya. Bibirnya menyeringai mengerikan. Dengan gerakan perlahan, dia mengarahkan silet itu ke nadi tangan kanannya, dan tangan itu akan memuncratkan darah jika saja Taehyung terlambat mencekal tangan Jungkook.

"Kenapa?" Taehyung menatap Jungkook tajam. Yang ditatap masih mempertahankan seringainya. Pandangan kosongnya itu terlihat mencolok.

"Jungie cuma mau mati."

.

.

.

.

Umm...seminggu? Lebih kali ya?

Ku lagi mikirin cara manjangin chap tanpa bikin alur kecepetan. Ini kependekan...tapi pengen ku up karena merasa ngutang(?)

Karena satu cerita udah di update, aku menghilang lagi sementara :V lagi makan tugas :"V

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.