AWAL BARU DAN KEMBALI LAGI

Flasback

"Hiks hiks hiks…. "

"Tayuya, kau baik – baik saja ?" gadis itu berkata sambil masuk di ruang kamar saudara kembarnya dengan membawa setumpuk buku yang tebal. "a..aku ingin mengembalikan bukumu"

"hiks hiks hiks …"

"apa yang terjadi ceritakan padaku ?" sambil berjalan gadis itu menghampiri saudaranya yang berada di tempat tidur sampil menenggelamkan wajahnya di bantal.

Gadis yang dimaksud itu menoleh dengan wajah yang dipenuhi air mata "diam Sakura, kau tidak tahu apa – apa !"

"justru itu aku ingin tahu, siapa tahu aku bisa membantu"

"membantu ?" jawabnya sambil beranjak duduk. "bantuanmu bisa dihitung dengan jari Sakura, dan aku yakin pasti kau tidak bisa membantu untuk untuk urusan ini" katanya."dan lagi, jangan pernah membuatku susah lagi"

"ya setidaknya aku sudah mencoba membantu, aku hanya ingin membantu"

"aku putus dengan Sasuke"

"apa !" tanya Sakura. "tapi kenapa ?"

"aku tidak tahu, dia memutuskanku sacara sepihak" jawabnya."hiks hiks hiks .. sakit sekali disini" ucapnya sambil menunjukkan tangannya tepat di jantung (lebay :p)

"sudahlah, keluar dari kamarku"usir Tayuya. "Sakura, aku belum bisa melupakan kejadian itu, jadi maaf jika aku masih….."

"tidak apa – apa Tayuya" jawab Sakura. "aku mengerti"

Sakura pun keluar dari kamar saudara kembarnya Tayuya .

'...sedikit membencimu' ucap Tayuya dalam hati.

End Flashback

Haruno Sakura dan Haruno Tayuya . Kami berdua adalah adalah anak kembar. Walaupun kami kembar tapi beda. Teman – teman kami pun juga menganggap kami beda. Tayuya lebih populer dariku. Dia aktif sekali disekolah. Banyak yang membeda – bedakan aku dan Tayuya. Tapi aku juga tak kalah, aku juga cukup pandai di sekolah, sering ikut peringkat sepuluh besar.

Pagi hari ini aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Terbesit tanda tanya besar, kira – kira apa yang diinginkan Sasuke jika aku sekarang menjadi "pembantunya". Dan apa aku juga harus ada dirumahnya. Aku yakin aku tidak akan sanggup bertahan lama. Karena tiap dekat dengannya jantungku pasti berdegup kencang. Jujur saja, aku sebenarnya aku menyukainya. Tapi karena tahu bahwa saudara kembarku juga menyukainya. Apalagi sekarang dia dan Sasuke sekarang kembali menjalin hubungan. Sakit sebenarnya tapi mau bagaimana lagi.

Aku pun berangkat sekolah bersama Tayuya. Kami memang sudah terbiasa berangkat sekolah dengan jalan kaki.

"kau masih sedih dengan yang kemarin ?"

"ya, dan lagi kepalaku sedikit pusing gara – gara menangis" jawab Tayuya dengan sedikit lesu.

"kau pasti kelelahan, apa obatnya tidak kau minum ?"

"tidak"

"kenapa tidak kau minum, itu harus dan wajib kau minum"

"aku bosan Sakura, apa kau tidak bosan hah ?" kata Tayuya dengan nada tinggi. "setiap hari harus minum obat terus"

"sebenarnya aku juga bosan, tapi itu harus kita lakukan kalau kita masih ingin hidup " jawabku sedikit menundukan kepala.

"sudahlah, omonganmu mengerikan!" Tayuya membantah. "mengingat hal itu malah membuat sedih, lebih baik sekarang puaskan hidup dulu sebelum pergi" sambil melangkah cepat ke depan.

"justru omonganmu yang mengerikan" balasku yang tertinggal dibelakang.

Akupun sedikit berlari untuk mengejar Tayuya yang sudah ada didepanku jauh, namun kuurungkan karena …

BRRR BRRM

Suara motor terdengar mendekat dan kemudian menghampiri Tayuya. Itu adalah Sasuke, setelah kulihat dia melepaskan helm yang dia pakai. Aku berhenti berjalan melihat dari jauh, mereka terlihat berbincang – bincang, dan Tayuya terlihat bahagia. Tak berapa lama mereka berboncengan menaiki motor meninggalkanku, yang sebelumnya Sasuke sempat menoleh kearahku, dan itu membuatku sedikit takut dan juga Sakit melihat mereka berdua. Tapi sekarang kupastikan kesepakatan kami berjalan.

Perpustakaan, tempat favoritku untuk bersantai, aku memang tidak suka tempat yang ramai, tidak seperti kembaranku, mungkin itu salah satu perbedaan kami berdua.

Kutelusuri tiap – tiap rak buku untuk mencari buku yang menarik, aku akui memang aku lebih suka membaca novel, terutama bergenre romance, seperti yang gadis – gadis normal biasa sukai. Namun terkadang aku juga suka buku - buku pengetahuan umum, dan pasti juga buku pelajaran. Kusibukan diriku dengan membaca summary atau ringkasan cerita dibalik novel serta membuka – buka bukunya untuk melihat ketertarikanku.

"kau mulai besok jadi pembantuku, buatkan aku bekal makanan setiap hari"

Aku tersentak kaget. Keseriusanku goyah karena disampingku tiba – tiba berdiri Sasuke. Benar – benar membuatku kaget dan berdegup kencang, karena jujur aku gugup. "Sa.. Sasuke" ucapku kikuk.

"kau dengar tidak tadi hn ?"

"i..iya"

"dan lagi, kau harus datang tepat waktu ketika aku membutuhkanmu" jelasnya. "mana handphonmu ?" sambungnya.

"…" aku pun menyerahkannya. Tanpa sengaja tangan kami bersentuhan. Aku pun tersentak kaget dan sepertinya Sasuke juga. Segera kutarik tanganku dengan cepat.

Sasuke pun masih terpaku dengan handphoneku sibuk mengutak – utik handphone, dan aku hanya berdiri terdiam dengan pipi yang memerah mengingat tadi, dan menormalkan detak jantungku. "Sa.. Tayuya sekarang bagaimana ?" tanyaku untuk memecah keheningan.

"kami sudah kembali berpacaran" jawabnya dengan mata masih terpaku di handphone.

"kenapa dia tidak curiga kau ada disini ?"

"untuk apa curiga, kau pikir hanya gara – gara aku menemuimu dia akan curiga dan cemburu hn ?" jawabnya dengan tajam sambil menatapku.

Aku sempat terhanyut dengan mata hitamnya itu yang seakan menarikku terus kedalam namun kembali teringat dengan ucapanya. "ti..tidak, hanya…. hanya.." kataku sambil menundukan kepalaku untuk menghindari matanya.

"fisik kalian memang hampir sama, tapi kalian juga punya banyak perbedaan"

'a..apa maksudnya ?' batin di pikiranku 'aku memang punya banyak perbedaan dengan Tayuya, Tayuya lebih baik dariku, walaupun aku sering ada diperpustakaan bukan berarti aku anak yang pandai dan menonjol, aku gadis yang biasa – biasa saja, malah Tayuya yang lebih pandai. Rankingnya sering berada di atasku, dan kemudian Tayuya juga banyak menjuarai banyak lomba nonakademik' aku masih terhanyut dipikiranku sendiri. Namun segera sadar ketika mendengar suara Sasuke.

"ini handphonemu. Didalamnya sudah ada nomorku, ketika aku menginginkan kau, kau harus sudah ada dihadapanku secepat mungkin" ucapnya padaku sambil menyerahkanya padaku. "apapun yang sedang kau lakukan" tambahnya. "dan aku tidak mau menerima alasan apapun" tambahnya lagi.

Bersamaan dengan aku menerimanya bel masuk sekolah terdengar, Sasuke pun pergi begitu saja. Beruntung dia tidak melihatku memeteskan air mata. Aku tidak tau kenapa aku bisa menangis, yang kutahu sekarang hanyalah disini, tepat dijantung ini, Sakit sekali.

Sasuke POV

menangis'

'Kenapa Sakura ?' tanyaku dalam hati. 'melihatmu sekilas, kau teteskan air mata. Tapi sepertinya kau tidak tahu.' Batinku. 'apa yang kau sembunyikan ?'. Apa mungkin perkataanku tadi. "untuk apa curiga, kau pikir hanya gara – gara aku menemuimu dia akan curiga hn ?" . Teringat kata – kataku tadi. Tapi itu aku berbohong, tentu saja Tayuya tidak tahu aku menemuinya.

Namun aku tidak ingin memikirkannya lebih keras, kuputuskan untuk kembali kekelas.

Dijalan menuju kelas, aku mengingat kejadian dua hari lalu dimusim gugur itu. Kau memohon – mohon padaku hanya untuk orang lain, walaupun itu saudara kembarmu sendiri. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri kalau kau sebenarnya menyukaiku. Jujur saja, sedikit terselip rasa bangga dalam diriku, walaupun itu sudah biasa dikalangan gadis sempertimu. Aku tahu dari matamu. Sakura.

Tapi apa alasanmu sampai mau mengorbankan perasaanmu sendiri. Dan, sampai kapan kau akan bertahan Sakura. Kau benar – benar membuatku penasaran.

Malam

Pastikan tidak ada yang tahu, kau akan tahu akibatnya jika ketahuan

Itulah penggalan smsku padanya yang kukirimkan malam hari. Aku ingin tahu seberapa mampukah dia menghadapi hal seperti ini dan hal lainya. Kupastikan dia tidak akan bisa tidur nyenyak.

Pagi

"aku tidak melihat kembaranmu itu ?" tanyaku pada pacarku, Tayuya

"dia sudah berangkat pagi – pagi sekali, aku tidak tahu kenapa" jawabnya. " payahnya, dia juga meninggalkan dapur yang berantakan" sambungnya.

Aku menyeringai, sepertinya hari pertamanya kerja padaku sangat melelahkan. Tapi itu akan berlangsung terus sampai perjanjian kami usai.

"ayo berangkat Sasuke" ucapnya sambil naik ke motorku.

Kelas

Bekal. Itu pertama yang kulihat di atas mejaku. Sepertinya dia melakukan pekerjaanya di hari pertamanya.

bagus, tidak ada yang melihatmu kan? . Send

One new message. Sakura.

tidak ada.

Aku tersenyum. "hey, kalian tahu siapa yang meletakan bekal ini ?" tanyaku pada teman sekelasku.

"tidak Sasuke, aku tidak melihatnya" jawabnya. "sudah ada disitu sejak aku datang ke kelas".

Aku tersenyum kembali. Aku berpikir, apa lagi yang akan aku perbuat pada pembantu baruku itu lagi. Entah kenapa aku sedikit bersemangat.

Sasuke POV end

Titt.. tiiit.. tiiit..

Suara alarm jam tanganku berbunyi. Aku tersentak ketika melihatnya, aku lupa meminum obatku saat pagi, karena aku terlalu sibuk memikirkan bekal makanan untuk Sasuke. Segera aku melangkah untuk menuju toilet. Tapi terhenti ketika handphoneku bergetar.

One new message. Sasuke.

bagus, tidak ada yang melihatmu kan?

tidak ada . Send

Segera aku balas sms Sasuke, tidak begitu aku pedulikan karena aku lebih memikirkan kondisi tubuhku.

Segera kubuka wadah obat itu, yang membuatku teringat sesuatu.

Flashback

"mereka mungin hanya akan bertahan 3 – 4 tahun saja, tapi bisa semakin buruk jika tubuh mereka lemah. Leukimia jarang bisa disembuhkan, kecuali ada donor sumsum tulang belakang" jelas seorang dokter kepada dua orang yang berbeda jenis itu. Dan yang satu terlihat menangis.

Diluar, dua gadis kembar berumur 13 tahun yang sepertinya menunggu sepasang orang yang ada didalam itu.

"Tayuya.. aku takut"

"jangan takut, kita baik – baik saja"

"tapi raut wajah mereka itu sedih, Tayuya ?"

"jangan pikirkan hal yang aneh – aneh, ayah dan ibu pasti akan melindungi kita"

Tiba – tiba pintu itu terbuka. Kudua anak tersebut kemudian menghambur kepelukan orang tua mereka.

"katakanlah sekarang Tsunade" ucap laki – laki paruh baya itu pada istrinya. "mereka harus tahu sekarang, jangan ditunda". Sambungnya dan hanya ditanggapi istrinya dengan anggukan.

"Tayuya, Sakura, ibu ingin memberitau kalian sesuatu" jelaskan. "Tayuya, Sakura kalian terserang penyakit leukimia"sambungnya sambil menahan air mata.

"kami tidak apa – apa ibu" kata Sakura. "kami mau menerimanya, asalkan ayah dan ibu tetap disamping kami terus, benarkan Tayuya?"

"iya, ayah, ibu"

"tentu kami akan selalu bersama kalian, sampai kapanpun"jawab Tsunade ibu mereka. "ini, minumlah obat ini, ini akan membantu tubuhmu agar tetap sehat".

"kalian harus berjanji pada ayah dan ibu untuk terus sehat ya?" tanya ayah mereka.

"kami berjanji" jawab kami serempak.

End Flashback

"empat tahun berlalu, berarti tinggal….." ucapku terpotong, sambil melihat obat yang aku genggam, dan kemudian aku meminumnya.

"kapan aku akan lepas dari obat ini" harapku sambil kutundukan kepalaku. "dan kapan aku bisa bebas dari rasa bersalah ini" sesalku juga. "maafkan aku Tayuya". Tak kusangka air mataku menetes jatuh di tanganku. "akan aku lakukan apapun untuk menebus salahku untukmu Tayuya, bahkan nyawaku"

Aku masih menangis di westafel 'ya Tuhan, kuatkan aku' kataku dalam hati. Namun terhenti ketika suara bel masuk berbunyi.