Taehyung nyaris terjungkal, saat melihat—
"Selamat datang, Master~"
—Jungkook berdiri di sudut kamar mengenakan kemeja biru muda tanpa celana. Oh, jangan lupakan choker panjang yang menghiasi leher jenjangnya.
Shit.
What fuckin' happened here?
"Kook," Taehyung berjalan terhuyung menghampiri pemuda kelinci—yang sekarang mirip anak anjing—itu lalu mencengkram kedua bahunya. "siapa sekarang?"
"Kitten, Master~"
"Ha?"
"Kalau Kitten, Kookie...kalau Puppy, Jungie~"
"Ha?"
"Ish," Jungkook mengerucutkan bibirnya. Matanya memandang Taehyung tajam, yang malah terlihat semakin imut. "ini Kookie, Hyung."
"Kookie, kenapa?" Taehyung menelan salivanya kasar. Berusaha keras untuk tidak mengintip ke celah kerah kemeja Jungkook.
"Kata Jungie," Jungkook mengangkat tangan kanannya. Memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Taehyung, lalu menjilat telunjuknya sendiri. "Hyung bosan dengan daddy kink, jadi kami sepakat memakai Master-Kitten-Puppy. Hyung suka?"
"Hentikan." Taehyung menarik napas jengah. "Kenapa kau belum tidur? Ini jam berapa?"
Jungkook berjinjit, berusaha menjangkau telinga Taehyung. "Master, Kitten belum mengantuk," tangan kirinya meraba pelan selangkangan Taehyung, yang hanya dibalas helaan napas.
"Maafkan aku, Kookie. Aku mengantuk. Sangat. Kita tidur sekarang," Taehyung menyeret tangan Jungkook, membanting pemuda itu di kasur, lalu memeluknya. Masa bodoh. Tidur adalah prioritasnya sekarang. Soal Jungkook yang merajuk, besok Taehyung akan mengajaknya ke kedai es krim.
Jungkook kembali mengerucutkan bibirnya dalam pelukan Taehyung. Dia memejamkan kedua matanya, menghitung mundur dari angka lima puluh. Membuat sugesti menenangkan, mencoba mencapai alam bawah sadar tanpa tertidur.
Self Hypnosis yang dipelajarinya diam-diam.
Matanya kembali terbuka, diiringi seringai yang melebar. Dia segera mendudukkan dirinya, lalu mengaduh kecil kala rasa pusing menjalari kepalanya. Jungkook menggoyangkan tubuh Taehyung dengan keras.
"Master! Bangun! Master!"
Taehyung mengucek matanya. "Sudah kubilang, tidur, Kookie."
"Iya, Kookie tidur." Jungkook merangkak, duduk di atas perut Taehyung. "Jadi aku muncul."
"Apa—oh astaga," Taehyung menutup wajahnya dengan punggung tangan. "Jung, aku benar-benar mengantuk. Master-Masterannya besok saja."
Jungkook mendecih. Taehyung mengatakannya seakan-akan Jungkook ingin bermain kuda-kudaan bersama. Dia merambat turun dari perut Taehyung, tangannya menyentak kasar celana Taehyung. Bibirnya mencebik kesal kala melihat celana dalam Taehyung, Kookie belum membuat Taehyung terangsang rupanya.
"Apa sih yang dilakukan si bodoh itu?" desis Jungkook. Sekali lagi, dia menyentak kasar celana dalam Taehyung. Membuat Taehyung mengerang sebal.
"Jung, sudah kubilang besok saja. Aku janji takkan meninggalkanmu. Tuhan, ini dingin," dia bangkit, dengan mata yang masih terpejam. Tangannya meraba kasur, mencari celana dalam.
"Hu, tidak asik." Jungkook melempar celana dalam Taehyung tepat di wajah pria itu. Perlahan dia berdiri, berjalan menuju kamar mandi. "Kita lihat, apa kau bisa membiarkanku bermain solo, Tae."
"Terserah. Bermain solo pun kau takkan mendesah." Setelah memakai celana dalamnya, Taehyung kembali merebahkan tubuhnya sambil menarik selimut, terlalu malas mencari celana panjangnya.
Jungkook mendecak sebal. Setidaknya, dia masih bisa menggeram daripada mendesah.
Dia menutup pintu kamar mandi dengan kasar., lalu mengusak surai hitamnya. Oh ayolah, terakhir kali dia masturbasi itu di hari ketiganya bertemu dengan Taehyung, setahun yang lalu. Taehyung langsung menerkamnya saat menemukannya tengah menggeram di kamar mandi. Dan dia terkekeh geli saat mendapati Taehyung yang menatapnya bingung, karena Jungkook sama sekali tak mengeluarkan desahan.
Dan sekarang, Jungkook lupa cara masturbasi.
Perlahan, dia menurunkan celana panjang juga celana dalamnya. "Dipegang, kan?" tangannya memegang kejantanannya sendiri.
Dengan pelan, dia menimang kejantanannya. "Terus?" matanya mengedar. Bagaimana bisa dia lupa hal ini? Dia mengambil shower kecil, lalu menyiram kejantanannya sendiri.
"Ah! Dingin bangsat!"
Jungkook membanting shower itu. Sial, dia benar-benar lupa cara masturbasi.
"Eung?" Jungkook mengerutkan alis. Dia kembali memegang kejantanannya. "Apa caranya sama seperti seks? Masa iya aku mengulum milikku sendiri?"
Terdiam beberapa saat, dia mendecih. "Gila. Apa yang kukatakan barusan? Menjijikkan." Tanpa sengaja, dia mengepalkan tangannya, membuat miliknya ikut teremas. Refleks, Jungkook menggeram. Dia membolakan kedua matanya, lalu menatap tangannya sendiri.
"Oh?" Jungkook mengerjapkan kedua matanya. "Diremas?" dia meremas kuat miliknya, dan berjengit. "Bangsat! Terlalu kencang?" tangannya kembali meremas miliknya sendiri, dengan pelan. "Tidak terasa," dia kembali meremasnya sedikit kuat.
"Bukan bukan, kurang keras,"
.
.
.
.
Taehyung melenguh. Membuka sedikit matanya, melirik jam dinding. Jam dua pagi, masih sangat larut. Dia kembali menutup matanya, tangannya meraba kasur seolah mencari sesuatu. Mengernyit, Taehyung membuka matanya sekali lagi, dan tak menemukan Jungkook di sebelahnya.
Dia langsung mendudukkan dirinya. Mengedarkan pandangan, lalu terhenti saat melihat lampu kamar mandi masih menyala. Jungkook masih melakukannya? Apa dia gila?
Oke. Taehyung tau, Jungie itu kelebihan hormon. Tapi, apa satu jam masih belum cukup? Ayolah, Taehyung khawatir pada Kookie-nya.
Dengan malas, Taehyung menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Dia membuka pintunya pelan, menyembulkan kepala tanpa berniat masuk. Kembali mengernyit melihat Jungkook tengah mengangkang.
"Jung?"
Jungkook mengintip lewat kedua kakinya. "Tae?"
"Kau sedang apa?"
"Eung...masturbasi?"
"Hah?" Taehyung membuka pintu lebar-lebar. Dia beranjak masuk ke dalam, lalu menampar kasar pipi bokong Jungkook. "Mana ada masturbasi mengangkang begitu. Memangnya kau perempuan?"
"Memangnya perempuan masturbasi?"
Taehyung mendudukkan dirinya di kloset. "Kau tidak tau?"
"Entah," Jungkook berdiri. Mengusap bokongnya yang terasa sakit. "aku lupa."
"Sudah berapa kali kau orgasme, bitch?"
Jungkook menguap lebar. "Apanya orgasme. Terangsang saja tidak. Aku lupa cara masturbasi."
Hening.
Dan tawa Taehyung meledak.
"Kau? Lupa cara masturbasi? Kau laki-laki?" Taehyung menutup matanya dengan punggung tangan. Tertawa seolah ini adalah hal terlucu yang dia lihat. Jungkook mencebik sebal, melempar botol sampo ke kepala Taehyung yang langsung mengenai sasaran.
"Sakit bitch," Taehyung meraih ujung choker Jungkook, menariknya mendekat. "Aku tak percaya kau lupa caranya masturbasi. Mau ku ajari?"
"Tidak. Aku mengantuk. Ayo tidur."
"Ei," Taehyung menyeringai. Dia menggoyangkan choker Jungkook. "Kau anak anjing kan? Anjing menuruti perintah tuannya, dan aku memerintahmu untuk masturbasi sekarang."
"Persetan, Tae."
"Ayolah, anjing."
Jungkook mendesis sinis. "Aku bukan anjing."
"Tapi kau yang meminta dipanggil Puppy, kan?"
"Berisik," Jungkook mendesah malas. Dia menarik tenguk Taehyung, mennyesap bibirnya dalam-dalam, lalu melepasnya di detik selanjutnya. Meninggalkan Taehyung yang masih melongo.
"Dominan jadi-jadian bangsat,"
.
.
.
.
"Jung tak berusaha membunuh dirinya sendiri lagi. Kookie sudah mulai terbuka padaku. Kurasa mereka mulai dapat berkomunikasi. Kookie mulai mengendalikan tubuhnya, jadi Jung tidak seenaknya memegang kendali lagi."
Yoongi menyesap kopinya perlahan. Menaruh cangkir itu di meja, lalu kembali menatap Taehyung. "Kerja bagus, Tae."
"Kemungkinan Jung pergi dari tubuh itu meningkat. Kalau Jungkook mau diterapi, mungkin Jung bisa pergi lebih cepat dari tubuh Kookie."
"Kookie?" Yoongi mengernyit. "Kau tidak berpikir kalau kepribadian asli Jungkook adalah Jung?"
"Aku sudah mempertimbangkannya," Taehyung menjilat bibir bawahnya yang mengering. "aku menganalisa setiap perlakuan juga perkataan mereka. Semua yang dilakukan Jung adalah tindakan untuk mencari perhatian, kepribadian yang lahir karena kurangnya kasih sayang."
"Aku percaya padamu, Tae. Tapi, ada satu yang janggal, yang belum sempat kucari tau."
Taehyung mengernyit. "Apa?"
"Pertama kali melihat Jungkook, aku seperti melihat sebuah wadah kosong. Kau juga begitu, kan?" Taehyung mengangguk. Sebelum melanjutkan bicaranya,Yoongi berdehem. "Dia wadah, yang diisi oleh dua kepribadian, Jungie dan Kookie. Dia wadah yang kosong. Tapi, harus kau ingat, kosong juga merupakan sebuah perasaan."
Taehyung terdiam. Berusaha mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Yoongi. Dia menggigit kuku jarinya, kebiasaan jika sedang berpikir. Selang beberapa menit kemudian, dia mendongak dengan kedua mata sedikit membola.
"Ada...kepribadian yang lain?"
Yoongi mengangguk. "Kepribadian yang itu, kurasa dia tak bersembunyi. Dia membaur. Apa ada kesamaan antara Jung dan Kookie?"
Terdiam beberapa saat, Taehyung kembali bersuara. "Waktu dimana Jung dan Kookie mulai menerimaku dalam kehidupan mereka itu bersamaan. Itu termasuk?"
"Jungkook yang itu mengendalikan perasaan." Yoongi kembali meraih cangkirnya. "Sebuah teori muncul. Dia melihat bagaimana Jung dan Kookie mengendalikan tubuhnya. Keinginan mengendalikan tubuhnya sendiri muncul, dan voila! Kau punya pekerjaan baru,"
"Sialan, Hyung,"
Yoongi terkekeh. "Bercanda. Menurutku, Jungkook yang asli akan membaur dengan kepribadian yang tetap tinggal. Karena, well, dia kosong."
"Kosong, ya..."
.
.
.
TBC
.
.
Lupa ngasih kata TBC di chap kemaren mueheheh.
Yang udah baca chap dua yang kehapus waktu itu, masih inget ga? Ada bagian yang aku munculin lagi :") masih kecepetan ga alurnya? :")
Kii lagi late update karena tugas numpuk. Harap dimaklumi :")
Hope you enjoy this story! Cya!
Kiika246.
