Taehyung mengernyit. Dia mengangkat sebotol yogurt dari troli. "Kookie? Kau minum ini?"

Jungkook yang tengah memilih snack menoleh. Dia menggeleng, lalu mengangguk. "Jungie mau yogurt." Tangannya menggapai yogurt dalam genggaman Taehyung, lalu menaruhnya di troli lagi. Dan setelahnya dia kembali memilih snack mana yang akan dibeli.

"Yogurt mahal. Susu saja," Taehyung membuka pintu kulkas, lalu menaruh yogurt pada tempatnya. Mengundang decakan dari yang lebih muda.

"Jungie bosan minum susu. Dia mau yogurt. Hyungie, kan, kaya. Beli yogurt tidak membuat Hyungie miskin." Tangan Jungkook hampir meraih gagang pintu kulkas, namun Taehyung dengan sigap bersandar disana. Menghalangi Jungkook agar tak bisa membuka pintu kulkas.

"Memang tidak." Taehyung menjepit dagu Jungkook dengan jari telunjuk dan ibu jari. "Tapi percayalah padaku, Kookie. Rasa yogurt itu tidak enak. Aku pernah beli, dan aku langsung muntah hanya dengan tiga teguk."

"Makanya aku beli yang ada rasanya."

"Tidak ada pengaruhnya, sayang. Rasanya tetap asam."

Jungkook menghentakkan kaki kanannya sebal. Dia mendorong kasar tubuh Taehyung, membuat pria itu terhuyung dan menjatuhkan beberapa snack didekatnya. Jungkook membuka pintu kulkas, mengambil yogurt stroberi yang diletakkan Taehyung tadi, lalu kembali menghentakkan sebelah kakinya.

"Kalau Hyungie tidak mau beli, ya sudah. Aku bayar sendiri." Dia berucap dengan nada datar, membawa yogurt dalam genggamannya ke kasir. Tentu saja Jungkook membawa uang. Tadi, di apartemen, dia sempat mengambil beberapa lembar dari dompet Taehyung. Masalahnya, dia tidak tau uangnya cukup untuk membeli yogurt atau tidak.

Jungkook membanting pelan botol yogurt itu di meja kasir. Bibirnya masih mengerucut. Masa bodoh dengan si penjaga kasir yang mendumel pelan karena ulahnya, Jungkook benar-benar kesal sekarang. Dia yakin, harta Hyung kesayangannya itu takkan habis tujuh-delapan-sembilan turunan. Kenapa Taehyung tidak mau membelikannya yogurt?

"Lihat harganya di monitor."

Mata Jungkook membola. Setidaknya menyebut harga tidak akan menghabiskan energi. Apa dia dendam terhadap Jungkook? Dasar, wanita memang lebay. Semuanya dimasukkan dalam hati.

Jungkook menyerahkan seluruh uang yang ada di kantung celana. Awas saja, kalau ada kembalian, Jungkook akan memberikan kembaliannya pada pegawai kurang ajar itu, agar dia tau kalau Jungkook itu orang kaya. Jadi dia tidak seharusnya bertingkah kurang sopan pada Jungkook.

"Uangnya kurang."

Jungkook refleks membola lagi. Dia mengecek harga di monitor, lalu melirik uang yang dipegang si pegawai.

Oh sial.

"Masih lama?"

Suara rendah itu menginterupsi. Jungkook refleks menggeser tubuhnya, dan mengernyit kala Taehyung mulai menaruh barang belanjaan di atas meja kasir. Dia berdecak kesal mengetahui Taehyung berusaha menahan tawa.

"Kalau mau tertawa, tertawa saja." Gumamnya pelan. "Aku benci Hyungie."

"Benci tapi tetap memanggilku 'Hyungie'?" Taehyung menjawil pipi gembil Jungkook. Dia makin terkekeh saat Jungkook menepis kasar tangannya. Benar-benar menggemaskan.

Jungkook melangkah pergi, meninggalkan Taehyung yang masih terkekeh. Biar saja, mungkin anak itu ingin mengambil snack lain.

Setelah membayar, Taehyung menunggu Jungkook didekat pintu masuk. Dia mengangkat tangan kanannya dan mendesah pelan. Ini sudah lewat sepuluh menit, namun Jungkook masih belum kembali. Anak itu memilih snack dimana, huh?

"Hey, kau baik-baik saja? Tuan? Oh astaga!"

Taehyung yang tengah memainkan ponselnya memutuskan untuk mendekat ke arah suara teriakan tadi. Dengan langkah tergesa, dia berharap orang itu bukan—

"Tuan, bangun—oh kau sudah sadar!"

Terkutuhlah Jung dan seringai mengerikannya saat membuka mata.

.

.

.

.

"Sehari Jung, aku mau kencan dengan Kookie seharian ini. Kau mengacaukan semuanya."

Jungkook menenggak yogurt nya hingga setengah botol. Matanya terpejam, seakan menikmati setiap tegukan. Lalu dia berdecak, "Ini enak."

"Jawab aku, sialan." Taehyung mendengus pelan. Tangannya menoyor pelan kepala Jungkook, yang malah membuat anak itu tertawa. Jungkook melempar botol yogurt itu ke bangku belakang, lalu merenggangkan tubuhnya.

"Tae, aku mau minum. Kita ke Bar sekarang."

"Aku lebih sudi membelikanmu yogurt sebanyak apapun yang kau mau, Jung."

"Kalau, yogurt yang ini?" tangan Jungkook beralih menyentuh selangkangan Taehyung. Dia mengusapnya pelan, "Puppy mau yang ini, Master. Boleh?"

Taehyung mendesis. "Kita sepakat untuk menghentikan panggilan menjijikkan itu, Jung." Dia menepis kasar tangan Jungkook yang masih menggerayangi celananya. Namun, Bukan Jung namanya kalau dia menyerah menggoda Taehyung.

"Aku mau mabuk, Tae! Aku kangen alkohol! Ayolah, aku janji tidak akan muncul seminggu kalau kau membawaku ke Bar sekarang."

Taehyung refleks menginjak rem, membuat keningnya terbentur gagang kemudi. Lantas, dia menatap Jungkook sambil menganga, tak mengindahkan rasa sakit pada keningnya. "Kau serius, Jeon?"

Jungkook mengusap keningnya yang juga terbentur. "Brengsek, jalankan mobilnya! Kau tidak dengar klakson dari belakang?" dia bersungut seraya melirik ke belakang. "Dan, siapa Jeon? Aku tidak mengenalnya."

"Itu namamu, bodoh." Taehyung kembali menjalankan mobilnya dengan pelan. Tangannya meraih kaca spion, meringis pelan kala melihat jejak keunguan pada keningnya. "Tawaranmu tadi masih berlaku?"

Jungkook mengangkat sebelah alis. "Tawaran yang mana?"

Taehyung menggigit bibir bawahnya pelan. Dia melirik Jungkook ragu-ragu. "Kau takkan muncul seminggu kalau kita ke Bar."

"Tentu saja. Kau bisa memegang kata-kataku."

"Deal." Taehyung menyetujuinya bukan tanpa alasan. Ketidak-munculan Jung jelas berpengaruh pada perkembangan Jungkook. Itu akan mempermudah Taehyung memberikan sugesti pada Kookie, meyakinkannya bahwa dirinya adalah pemegang kendali tubuh Jeon Jungkook.

Kepribadian kosong? Yoongi pasti hanya bercanda.

Taehyung turun dari mobil, menyusul Jungkook yang setengah berlari masuk ke dalam Bar. Bau alkohol bercampur asap rokok langsung menyapa inda penciuman, membuat Taehyung sedikit terbatuk. Dia lemah terhadap asap rokok.

Jungkook langsung menghampiri Kent—bartender favoritnya—lalu ber tos ala pria dengannya. Taehyung berdecak, aura Jungkook benar-benar terlihat seperti dominan. Bagaimana caranya menenggak segelas alkohol dalam sekali teguk, menyodorkan gelasnya pada Kent untuk diisi ulang; dan bagaimana caranya mengerling pada setiap wanita yang menatapnya.

Taehyung benci Jungkook yang begini.

Berhubung bocah itu sudah berjanji akan menghilang seminggu, Taehyung memutuskan untuk duduk di sudut ruangan seraya memperhatikan. Dia mengangkat tangan, memesan segelas untuk dirinya juga. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk seringai samar saat Jungkook dengan lancang menyentuh dada seorang wanita disana.

Diam-diam Taehyung merasa bangga. Memiliki kekasih berkepribadian ganda, eh? Terlebih lagi kepribadiannya dominant dan submissive. Dan hebatnya, Taehyung bisa menaklukan keduanya, meskipun butuh setahun untuk membuat Jung tak meluncurkan bogem mentah pada Taehyung.

"Hai, Taehyung."

Taehyung mendongak. Dia tersenyum tipis, lalu menepuk sofa, menyuruh wanita itu duduk di sebelahnya. Wanita itu bergumam kesenangan, segera duduk di sebelah Taehyung dan memeluk lengan kokohnya.

"Kau membiarkan bocah manis itu main, Tae?"

Taehyung mengambil segelas alkohol yang baru saja ditaruh pelayan. "Dia harus sadar dirinya laki-laki. Terlalu banyak kutusuk mungkin membuatnya lupa jenis kelamin. Kemarin, dia lupa caranya masturbasi." Taehyung dan wanita itu sama-sama tertawa renyah.

"Karena kau terlalu perkasa, Tae. Bahkan aku yakin, ukurannya pasti sudah bertambah beberapa senti," tangan nakalnya menyentuh kejantanan Taehyung yang terbalut celana. "Mind to take a room?"

Taehyung berlagak berpikir. Dia menatap wanita itu dengan pandangan menilai, yang dibalas rengekan manja. "C'mon, kau jadi alim sejak bersama bocah manis itu." Dia meremat lengan Taehyung pelan.

"Hah, kau pasti bercanda." Taehyung mendekatkan wajahnya pada si wanita. "Aku masih seperti dulu. Take a room? Bullshit. Kita lakukan disini."

Perlahan, Taehyung menidurkan wanita itu. Meskipun gay, Taehyung masih memiliki ketertarikan pada wanita berdada, ekhem, besar. Ekor matanya melirikn Jungkook yang masih asyik bercengkrama dengan dua wanita, tangannya menggerayangi paha keduanya. Dan Taehyung terkekeh dibuatnya.

Bajingan kecil itu benar-benar.

"Kalau kau menginginkannya, tarik saja dia."

Taehyung menatap wanita dibawah kukungannya. "Ah, maafkan aku. Aku hanya, yah, khawatir?" dia mengusap pelan pipi wanita itu. "Dia dibawah pengawasanku. Kalau penisnya patah karena terlalu keras menusuk, bagaimana?"

Kepala Taehyung terdorong ke bawah, membuat bibirnya bertemu dengan milik si wanita. Dia menoleh, lalu mengerjap melihat Jungkook tengah berjalan membelakanginya seraya menggamit lengan dua wanita.

Ah, dia mendengarnya.

"Haha, bocah itu manis sekali," tawa ringan terdengar dari bibir wanita itu. "kau tak mengejarnya? Dia cemburu, Tae."

"Cemburu? Dia marah karena aku bilang penisnya bisa patah," Taehyung ikut tertawa. Dia beranjak duduk, sambil menarik tangan sang wanita. "Mungkin lain kali, dear. Aku takut kau hamil setelah kita bercinta."

Si wanita terkekeh. Dia mengambil gelas kosong Taehyung. "I know, I know. Ku ambilkan alkohol lagi."

"Ya, jangan dicampur perangsang."

Taehyung ditinggal. Dia mengambil ponsel untuk membuka pesan dari Yoongi yang belum dia baca sejak dua jam yang lalu.

Telepon aku.

Taehyung terkekeh. Pasti Hyung-nya itu tak memiliki pulsa. Dia menempelkan ponsel ke telinga setelah menggeser kontak Yoongi.

"Bangsat."

Tangannya tergerak untuk menggaruk pipi kanannya. "Maaf, Hyung. Ponselku mode diam."

"Sudah kuduga."

"Lagipula, kau bisa pinjam ponsel Jimin untuk meneleponku, Hyung. Atau, dia pelit? Oh astaga Hyung, putus saja—"

"Pulsa dia juga habis."

Taehyung hampir tersedak liurnya sendiri karena tertawa. "Hyung, kalian kompak. Serius."

"Lupakan. Yang penting kau meneleponku." Terdengar helaan napas di ujung sana, membuat Taehyung mengernyit. Yoongi hanya menghela napas ketika mendapat masalah besar. "Dengarkan ini baik-baik. Jangan menyelaku."

"Kau membuatku penasaran, Hyung."

"Diam. Oke, kumulai." Helaan napas terdengar lagi. Ada apa sih?

"Tadi siang, seorang wanita datang ke rumah sakit. Dia mencari Jeon Jungkook. Berteriak histeris saat aku bilang Jungkook tidak ada. Dia, mengaku ibu dari Jeon Jungkook."

.

.

.

TBC

.

.

Kependekan ya? Aku baru sadar, 1k words itu pendek /taboked/

Tadinya mau bikin naena sekilas Tetet sama tu cewe, tapi kok hatiku ga rela :"V

Aku diceramahin mamah dedeh a.k.a temen, disuruh berhenti pas puasa. TAPI PENGEN TAMATIN BIOLOGY FICLET, AKU KUDU KUMAHA :(

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.