"Did you miss me, Master?"

Taehyung menghela napas saat merasakan dua buah lengan memeluk pinggangnya erat. "Welcome back, bastard."

Jungkook terkekeh. Dia mengusap dada telanjang Taehyung. "Kau pasti benar-benar menikmati seminggu tanpa aku. Astaga, bahkan pantatku sangat sakit, kau itu main kasar atau main setiap hari?"

"Dua-duanya, mumpung kau tidak ada." Taehyung melepas pelukan itu. "Duduk sana, kau mengganggu."

Jungkook mendecih, namun menuruti perintah Taehyung. Dia duduk di sofa, matanya memandang keseluruhan. "Ini bukan di apartemen," jelas, apartemen Taehyung dan Jungkook dipenuhi oleh foto mereka berdua, sedangkan tempat ini terasa hampa dengan dinding abu-abu pucat tanpa hiasan apapun.

Taehyung bergumam. "Ya, kita di Busan. Nanti siang kita pulang."

"Curang," Jungkook menidurkan kepalanya di meja. "kau belum mengajakku jalan-jalan romantis."

"Romantis pantatmu."

"Iya, pantatku romantis saat kau menusukku dengan penismu yang besar i—"

"Shit Jung, ini masih pagi. Jangan menularkan otak bajinganmu itu, sialan." Taehyung meletakkan sebotol yogurt di depan Jungkook. "Sambutan selamat datang, walaupun sebenarnya kau tidak diperlukan disini."

Jungkook mengangkat botol itu. Dia membuka tutupnya dengan mata berbinar, lalu segera menenggaknya. "Hmm," matanya memejam, sama seperti pertama kali dia meminum yogurt. Yogurt itu habis dalam hitungan detik. "ah, aku kenyang. Ini yogurt dari penismu, Tae?"

Taehyung menghela napas. Dia memandang Jungkook datar. "Kau minta kutendang, atau apa?"

Jungkook mengerucutkan bibirnya. "Kau tega padaku. Pantatku masih sakit karena kau menusukku tadi malam, dan kau mau menendangku? Kalau pantatku lecet bagaimana?"

"Aku menusuk Kookie semalam, bukan kau."

"Pantat Kookie pantatku juga, kalau kau lupa."

"Astaga," Taehyung memijat keningnya. "hentikan omong kosong tusuk-menusuk-pantat ini, kau benar-benar membuatku tertular otak mesummu."

"Mulutku gatal karena aku tak bisa mengumpat seminggu penuh, Tae. Setidaknya biarkan aku melakukannya seharian ini. Ah, aku jadi kangen penismu. Boleh aku lihat junior Tae sekarang?"

Taehyung memandang horor Jungkook yang mulai mendekat. Kedua tangannya refleks melindungi selangkangannya. "Bangsat, kau mau apa?"

"Mau memanjakan yang dibawah sana. Boleh ya?"

"Tidak tidak, semalam aku sudah menguras habis semua spermaku,"

"Tenang, aku akan mengumpulkannya lagi sampai sebanyak botol yogurt."

"Kau kira spermaku sebanyak apa?"

"Yang pasti lebih banyak dari punyaku?"

"Karena kau itu bottom. Penisku saja lebih besar darimu."

"Kau menantangku? Ayo ukur, lubang siapa yang lebih lebar."

"Ayo—eh apa?"

Jungkook tertawa. Dia mengusap air mata di sudut matanya. Taehyung itu mudah sekali dijebak, dan Jungkook menemukan hobi baru sekarang. Menggoda Taehyung.

"Ah sial," Taehyung mendecak malas. Dia menatap Jungkook yang masih terpingkal di sofa, bajingan itu kelihatan bahagia sekali. "kau mempermainkanku ya?"

"Ini lucu astaga—Tae, ayo ukur lubang kita," dan setelahnya Jungkook kembali tertawa.

Tanpa sadar Taehyung tersenyum kecil. Melihat Jung yang kini tertawa, sangat berbeda dari setahun lalu dimana Jung hanya memandang Taehyung sinis dan sesekali mengumpat ingin membunuh Taehyung. Anak itu pernah meletakkan jebakan tikus di bawah bantal Taehyung, mengganti bulu di sikat gigi Taehyung dengan kumpulan silet, dan pernah terang-terangan menarik tangan Taehyung untuk menyodorkan silet pada nadi Taehyung.

Hebatnya Taehyung dapat bertahan hingga sekarang bersama bajingan itu.

"Ah ya, Jung, ada yang ingin kubicarakan denganmu," Taehyung melirik Jungkook yang masih berusaha meredam tawanya. "Yoongi Hyung meneleponku seminggu yang lalu—"

"Sugar merindukanku?"

"Hal terkonyol yang pernah kudengar."

Jungkook mengerucutkan bibirnya. Taehyung mengatakannya seakan-akan itu adalah hal termustahil yang dilakukan Yoongi. Kan bisa saja, Yoongi merindukan Jung karena penis Jimin tak bisa memuaskannya lagi, eh?

"Diam dan dengar baik-baik, bangsat. Yoongi Hyung bilang, ibumu datang ke rumah sakit. Dia mencarimu."

"Ha? Ibu? Aku tidak salah dengar?" Jungkook mengernyit. "Sejak kapan aku punya ibu? Wanita sialan mana yang mengaku melahirkanku?"

Taehyung menghela napas. "Kookie juga bilang dia tidak punya ibu. Dia marah saat aku mengajaknya ke rumah sakit untuk menemui wanita itu, makanya sekarang kita di Busan. Dan, nanti siang kita ke rumah sakit. Mungkin kau mengenal wanita itu."

"Tapi Tae, ada satu hal yang menggangguku."

"Apa?"

"Aku belum lihat junior Tae."

"MANDI SANA BANGSAT!"

.

.

.

.

Mata Jungkook berkali-kali melirik Taehyung yang tengah fokus menyetir. "Hyungie,"

"Iya, sebentar lagi sayang." Taehyung menjawab tanpa melepas pandangan dari jalan. Sebelah tangannya mengusap halus punggung tangan Jungkook.

"Bukan begitu," Jungkook menyentuh keningnya. "aku kenapa sih? Kepalaku pusing sekali,"

Taehyung melirik. Dia menggigit bibir bawahnya, "Tadi kau terbentur pintu,"

"Pintu? Kapan?"

"Jung yang terbentur."

"Oh," Jungkook mengangguk pelan. "lalu, kapas ini?"

"Kau mimisan karena benturannya kencang,"

Taehyung meringis ketika kembali mengingat bagaimana terbenturnya Jungkook tadi. Yoongi meneleponnya, berseru marah karena Taehyung yang tak kunjung datang—Taehyung lupa dia telah berjanji untuk menemui Yoongi pagi ini—dan dia segera menyambar kunci mobil juga dompet.

Karena terlalu terburu, dia membuka pintu dengan keras tanpa menyadari kehadiran Jungkook disana. Jungkook langsung pingsan, darah tak berhenti keluar dari hidungnya membuat Taehyung panik setengah mati.

"Sudah sampai. Diam, sayang. Aku akan menuntunmu." Taehyung keluar dari mobil, lalu berlari ke sisi lainnya untuk menopang Jungkook yang masih cemberut—dia benar-benar tak ingin menemui wanita itu. Taehyung membuang kapas dari hidung Jungkook asal, selain karena darahnya telah mengering, Taehyung tak ingin ditanya aneh-aneh oleh Yoongi.

Lorong rumah sakit terlihat lengang. Tentu saja, ini hari kerja, siapa yang mau menjenguk orang gila—terlalu kasar, tapi itu kenyataan—di hari kerja begini. Tidak ada bau obat-obatan yang menggelitik hidung karena orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu membutuhkan rehabilitasi, bukan obat.

"Jungkook?"

Kepala Jungkook berputar untuk menemukan dimana Yoongi berada, dan dia setengah berlari ke arah Yoongi. "Suga Noona!" Jungkook melompat ke dalam pelukan Yoongi ketika pria pucat itu membuka kedua lengannya lebar. "Aku merindukanmu Noona~"

"Aku iri. Yoongi Hyung menendangku saat aku mencolek pinggangnya, dan bocah itu bahkan bisa memeluk Yoongi Hyung. Dia pakai pelet apa? Apa aku harus punya dua kepribadian agar Yoongi Hyung mau mengurusiku?"

Taehyung tertawa seraya merangkul bahu Jimin. "Kau kurang imut, Jim. Idemu tentang dua kepribadian boleh juga, tapi aku tidak bisa membayangkan kau ditusuk Yoongi Hyung."

"Sialan, dua kepribadian belum tentu menjadi top dan bottom seperti pacarmu itu."

"Itu keren, asal kau tau. Dia bisa menunggangi tiga wanita sekaligus, dan tetap mendesah keenakan dibawahku."

"Mendesah? Aku yakin seratus persen kau tak pernah bercinta dengan Jung."

"Tentu saja. Bajingan itu tak pernah mendesah, dan bercinta tanpa desahan itu menggelikan. Hanya ada suara kulit bergesekan, suara napas, suara ranjang, dan itu hampa."

"Kau pernah mencobanya?"

"Bukannya pernah, tapi kebetulan. Aku bercinta dengan Kookie, Kookie pingsan, dan boom! Jung muncul dengan bangsatnya. Padahal aku hampir klimaks saat itu."

"Terus? Terus?"

"Diam, bangsat. Ini rumah sakit." Yoongi mendesis sinis. Tangannya tetap mengusap puncak kepala Jungkook, sedangkan anak itu bersandar pada bahu sempit Yoongi sambil memejamkan mata. Obrolan Taehyung dan Jimin benar-benar tidak bermutu, sungguh. Dasar mesum kuadrat.

"Tapi ini rumah sakit jiwa, Hyung."

"RSJ juga perlu ketenangan. Kau mau dikerubungi orang gila?"

Taehyung menggeleng sambil bergidik. Orang gila? Yang benar saja. Taehyung tau kalau dirinya tampan, bahkan orang buta pun jatuh cinta pada pesonanya. Tapi membayangkan dirinya dikelilingi orang gila membuatnya mual seketika.

Mereka berhenti di depan ruangan Yoongi. Sayup-sayup terdengar suara tawa dari dalam sana, membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Yoongi membuka pintu pelan, mengintip apakah wanita itu masih berada disana, dan kemudian menghela napas ketika netranya menangkap wanita itu tengah mengaduk secangkir teh dengan menggunakan jari telunjuk.

"Aku membawa pesananmu."

Wanita itu mendongak. Matanya berbinar antusias. "Ju-Jungkookie sayang—anakku,"

Jungkook menyembunyikan tubuhnya dibalik bahu Taehyung. Dia benar-benar tak mengenal wanita itu. Namun entah kenapa wanita itu terlihat menyeramkan, apalagi ketika tangannya berusaha menggapai Jungkook, seperti tangan monster.

Yoongi menghela napas. "Kau lihat? Dia tak mengenalmu. Jadi, pergi dari sini."

"Tapi dia anakku, astaga—bayiku sayang, kemari nak," kantung matanya membuat dia semakin menyeramkan. Tubuhnya pun sudah terlampau tak terurus, wanita itu bisa mati kapan saja. Kalau saja kulitnya pucat, mungkin Jungkook akan mengira dia zombie.

"Dia bukan anakmu, Nyonya. Pergilah." Yoongi mendengus. Entah kenapa dia tak menyukai wanita itu, padahal dia selalu berusaha terlihat tenang dihadapan pasien lainnya. Ada sesuatu yang tersembunyi dibalik wanita itu, Yoongi hanya berpikir wanita itu akan membawa celaka bagi mereka.

"Tunggu,"

Yoongi menatap Taehyung yang tengah menggigit kuku, kebiasaannya saat sedang berpikir. "Jangan usir dia. Mungkin Jung mengenalnya." Sebelah tangannya menggenggam tangan Jungkook erat, berusaha menenangkan anak itu.

"Jung? Kau menyuruh Kookie membenturkan kepalanya ke dinding?"

"Tidak, Kookie bisa self hypnosis. Ya kan, sayang?" Jungkook mengangguk pelan.

Taehyung menidurkan Jungkook di kasur. Setelah memastikan Jungkook tengah menghitung mundur, Taehyung mendekatkan bibirnya pada telinga Yoongi.

"Mungkin wanita itu penyebab kepribadian Jungkook pecah."

"Hmm,"

"Kau kelihatan kurang baik hari ini, Hyung."

"Bukan begitu, aku hanya tidak menyukai wanita itu,"

"Kenapa?"

"Entah, auranya buruk sekali."

"Mungkin Hyung pernah melihatnya?"

"Ey, mesra sekali kalian." Jimin melipat tangannya melihat bagaimana dua orang itu saling berbisik. "Aku jadi iri." Dia mengangguk dan mengusap dagu. Bercanda, tentu saja. Cemburu pada Taehyung adalah hal konyol, karena Jimin tau sebesar apa obsesi Taehyung pada Jungkook yang memiliki dua kepribadian sehingga anak itu tak mungkin berpaling.

"Aku juga iri," dan Jimin hampir terjungkal ketika menemukan Jungkook berada di sebelahnya. Jungkook ikut mengusap dagunya pelan seraya memandang Taehyung menyelidik. "mereka sama sekali tidak cocok. Kulit sugar putih, sedangkan Tae gosong."

Taehyung mengerang protes, sedangkan Yoongi menatap Jungkook datar. "Jung, kau—"

"Oh, hai sugar! Tae bilang kau merindukanku, iya kan? Aku juga merindukanmu," tangan Jungkook merangkul bahu Yoongi, membuat pria pucat itu mendengus pelan. Dia melirik Taehyung dengan tatapan mati-kau, sedangkan yang dilirik menggaruk pipinya pelan.

"Jangan berisik. Kau kenal dia?" Yoongi menunjuk wanita yang sampai sekarang masih menatap Jungkook berbinar. Jungkook memiringkan kepalanya, matanya menyipit berusaha mengingat siapa wanita itu.

"Ohoho, ternyata kau," Jungkook terkikik geli. Dia memandang Taehyung, yang terkejut ketika mendapati pandangan Jungkook menggelap.

"salah satu jalang di rumah ayah."

.

.

.

TBC

.

.

Akutuh bingung nempatin Kookie nya dimana /menangos/

Maaf karena ngelantarin ff ini hampir sebulan, karena astaga, aku lupa kalo ff ini belom aku Up XD sampe ada yang PM suruh lanjut, aku baru nyadar ya lord :") makasih buat yang PM maupun yang review minta lanjut, membuatku tersadar :")

Chap ini dibawa serius dikit, maaf kalo alurnya kecepetan. Chap depan kita bikin naena—coret—santai aja.

Ada saran nama wanita itu?

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.