"ugh… , kepalaku pusing sekali" ucapku setelah bangun dari tidur.
Sakit kepala ini mulai muncul, sepertinya tubuhku mulai melemah, namun aku tidak peduli aku akan terus maju dan maju.
Pukul 05.45, "aku telat !" sontak aku segera bergegas untuk memasak bekal untuk Sasuke. Aku memotong – motong sayur, mengocok telur, merebus daging dan lain – lain secara cepat hingga tak sengaja tanganku teriris pisau dan bahkan terkena pinggiran wajan panas karena tergesa – gesa tapi aku hiraukan semua itu, yang lebih penting adalah aku tidak terlambat meletakkan bekanya, namun pusingku tak kunjung sembuh dan itu menghambat kerjaku, setelah semua selesai aku bersiap untuk berangkat sekolah, bahkan aku melupakan makan pagiku. Semenjak perjanjian itu, sudah dua minggu ini aku selalu bangun pagi dan berangkat satu jam lebih awal. Dan jujur itu lumayan membuatku lelah apalagi masih ada tugas – tugas sekolah dan ujian – ujian.
Jam sudah menunjukan pukul 06.00 aku berangkat menuju sekolah, segera aku menuju halte. Akupun masih duduk menunggu bus yang entah kenapa lebih lama datangnya dari biasanya. Raut wajahku wajahku menunjukan kekhawatiran yang serius karena aku baru mendapatkan bus ketika pukul menunjukan tujuh kurang seperempat. Dan pasti murid – murid sudah banyak yang datang.
Sesampai dikoridor segera aku berlari secepat mungkin untuk segera meletakkan bekal ini, aku hiraukan murid – murid yang memandangku heran. Tapi..
Bruk !!!
"ahh ! maaf " segera Sakura melanjutkan lariku, namun berhenti karena tangan ada yang menahanya oleh murid yang aku tabrak tadi. "Sa-Sasuke !" kataku setelah aku menoleh ke belakang.
Tanpa berkata – kata lagi dia menarik tanganku pergi kesuatu tempat, karena terkejut aku hanya bisa menurutinya.
Dia membawaku ke belakang sekolah, tepat setelah sampai ditempat tersebut itu, bel masuk dibunyikan. Aku pun pamit dan memutuskan untuk pergi, tapi sebelumnya aku akan serahkan bekal ini. "Sasuke maaf aku terlambat, ini …." Kata – kataku terpotong karena dia menarik tanganku mendekat kearahnya, lagi – lagi aku terkejut kembali, wajah tampan Sasuke sangat dekat denganku dan juga tatapannya membuatku ingin tetap berada disini dan juga membuat wajahku memanas, namun ketepis semua itu, aku palingkan wajahku dan kutarik tanganku kembali tapi tidak bisa.
"kau tidak akan kemana - kemana" kata Sasuke dengan dingin, dengan posisi kami yang masih seperti tadi. Sasuke pun memperkuat cengkeraman dipergelangan tanganku.
"Sakit" kataku sedikit merintih kesakitan.
Sasuke sedikit melonggarkan pegangannya, kemudian menuntunku untuk duduk dibangku dibawah pohon momiji yang berguguran berada didekat tembok.
Tangan Sasuke yang sebelah mengambil sesuatu dari dalam saku celananya yang ternyata beberapa buah plester. "ceritakan semua tentang malam itu !" perintah Sasuke padaku, tanpa memandangku karena sedang sibuk berkutat dengan tangannya yang merawat tanganku yang terluka saat memasak tadi. Aku hanya bisa diam dan menundukan kepalaku dengan wajah takut bercampur ragu. "aku ingin kau menceritakanya padaku" katannya kembali.
Aku mulai membuka mulutku dan mulai menceritakanya. Entah kenapa aku melihat berulang kali Sasuke menghentikan aktivitasnya, aku tidak mengerti maksudnya. Aku menceritakan seperlunya apa yang perlu dia tahu, cukup singkat aku menceritakanya. Aku tidak akan menceritakan tentang begaimana keadaan fisik kami berdua . Tidak akan pernah aku ceritakan. Menyuruhku menceritakan kejadian dulu membuatku harus kembali mengingat masa lalu yang membuat mataku memanas dan tidak sengaja meneteskan air mata dan jatuh ditanganku. Melihat itu aku segera menarik tanganku agar Sasuke tidak melihatnya, namun tidak bisa, sepertinya dia sudah melihatnya. " sepertinya kita harus kembali" kataku sambil mencoba berdiri dan melepaskan tanganku.
Bruk !
Sasuke mendorongku kearah tembok hingga pungguku menabrak tembok cukup keras. "ah.. kau kenapa Sasuke ?" tanyaku kepada Sasuke yang sekarang kedua tanganya mengungkung diriku didalamnya. Kemudian tanganya yang sudah melepaskan tanganku menghapuskan air mataku. Aku melihatnya penuh rasa bingung, sebenarnya ada apa dengan dia, kenapa tidak mengeluarkan kalimat apapun. Yang aku ketahui sekarang hanyalah dia sedang menatapku diam kearah mataku seolah mencari jawaban dari mataku ini.
'cukup sudah Sasuke, kau membuat jantungku berdegup kencang' pintaku didalam hati. Aku memalingkan wajahku. Cukup lama kami dalam posisi seperti ini, diam dan tidak melakukan apapun. Beberapa menit kemudian, Sasuke kemudian berbalik arah, berjalan dan mengambil bekal dan berniat meninggalkanku.
Kruyuk .. kyuyuk..
Suara itu, mataku membulat dan wajahku memerah menahan malu sambil tanganku memegangg perutku. 'perut bodoh !' umpatku dalam hati. Sepertinya Sasuke mendengarnya dia kemudian berhenti dan meletakan kembali bekal yang aku buat untuknya.
"kau harus makan" kata Sasuke kepadaku dengan dingin. Dan kemudian meninggalkanku. Aku melihatnya pergi sampa menghilang dari pandanganku. Akupun melirik bekal itu.
"terima kasih" kataku tersenyum."ugh…." Aku merintih pelan karena kepalaku tak kunjung sembuh, tanganku yang terkena pisau itu terasa sedikit perih.
Flasback
"bagaimana keadaanya dokter ?" tanya bibiku sedikit khawatir."sebenarnya saya sangat terkejut kalian berdua sanggup bertahan, tapi saya bersyukur" ucap dokter yang memberikan hasil pemeriksaannya saat memeriksa keadaan Tayuya. "saya mendapatkan beberapa hasil bahwa tubuh kalian semakin hari semakin lemah, aku ingin kalian hati – hati menjaga kesehatan kalian"kata dokter tersebut. "Sakura mungkin akan sering mengalami Sakurat kepala sebagai dampak karena badamu semakin lemah" kata dokter padaku."apakah masih bisa sembuh ?""masih bisa sembuh jika ada pendonor sum-sum tulang belakang, tapi jika tidak, mungkin kalian harus menunggu hari itu datang"Aku, Tayuya maupun bibi pun hanya bisa diam dan termenung. Setelah selesai memeriksa keadaan Tayuya dokter memutuskan untuk pamit pulang, kemudian bibi mengantarkan dokter sampai depan rumah.Ketika bibi sedang mengantarkan dokter, dikamar hanya ada Tayuya dan aku. Semenjak kejadian kami bertengkar, kami jarang bicara, memang biasanya kami juga jarang bicara, tapi sejak itu kami merasa canggung saat berdekatan. Hal itu sangat menggangguku, dan pasti tidak baik terus seperti ini. Kami seharusnya menjadi kembar yang kompak dan saling mendukung. Aku putuskan aku akan mencoba mengawalinya. Aku mendekati Tayuya yang sedang tiduran di tempat tidur, sepertinya sangat Sakurat berada ditempat tidur terus."maafkan aku Tayuya, jika menurutmu aku salah, tapi perlu kau ketahui, hidup dikekang rasa bersalah sangat menyisakku, mungkin kau berpikiran itu adalah karma yang diberikan padaku karena telah menghilangkan nyawa ayah dan ibu, tapi entahlah"kataku dengan mencoba menahan airmata, lagi – lagi harus membahas kembali kenangan itu. "apa kita akan seperti ini seperti ini sampai kita pergi nanti ? apa kau akan tenang disana dengan keadaan kita seperti ini ? Aku hanya ingin merasakan hidup bahagia bersama saudara kembarku sebelum aku meninggal " jelasku."jika kau ingin bahagia hidup dengan kembaranmu, carilah kembaran lain" kata Tayuya dengan dingin."tapi hanya kau saudara yang aku miliki" kataku, kemudian aku memutuskan untuk pergi dari kamar Tayuya. "aku harap kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan bersama" sambungku sebelum aku menutup pintu kamarnya.Flashback end
Aku pandangi daun – daun momiji berbentuk seperti bintang yang berguguran jatuh turun secara perlahan di satu bulan terakhir musim gugur ini. "Apakah aku masih bisa melihat daun terakhirmu itu jatuh ?" kataku. "ya Tuhan, aku cuma ingin bahagia" harapku.
Setelah aku menghabiskan bekalku, aku memutuskan untuk istirahat di UKS, karena teringat perkataan dokter kemarin. Dan akan meminjam buku temanku agar aku tidak tertinggal pelajaran.
