AKASUNA SASORI

Dikoridor sekolah tampak gadis yang sudah satu minggu ini murung dan menampakkan wajah cemberutnya sambil berjalan cepat, orang yang ditunggu – tunggu selalu diperpustakaan tidak muncul selama satu minggu tanpa ada kabar. Sakura gadis itu kemudian berhenti didepan pintu, sejenak menghembuskan nafas dan kemudian mengetuk pintu.

"masuk" ucap seseorang yang ada didalam ruangan. Sakura pun membuka pintu dan masuk kedalam.

"maaf mengganggu bapak kepala sekolah" Sakura menundukkan badannya.

"ya, ada perlu kemari, Sakura ?" tanya kepala sekolah.

"ya bapak kepala sekolah" jawab Sakura sedikit takut. "saya ingin tahu tentang Akasuna Sasori"

"kenapa kau ingin tahu tentang dia ?"

"akhir – akhir ini, sudah seminggu ini saya tidak melihatnya. Yang biasanya dia ada di perpustakaan"

"dia memang sudah tidak ada disini"

"kenapa sudah tidak ada disini ?"

"penelitiannya sebenarnya sudah selesai dua minggu yang lalu, tapi dia meminta izin untuk mendapatkan waktu yang lebih lama di sekolah ini" jelas kepala sekolah. "kenapa kau menanyakan hal tentang Sasori, kau memiliki hubungan dengannya ?" pertanyaan kepala sekolah membuat Sakura kaget.

"kami tidak ada hubungan apa – apa, hanya Sasorisering membantuku mengerjakan tugas – tugas yang sulit, semenjak dia tidak terlihat jadi tidak ada yang mengajariku lagi" jelas Sakura.

"memang dulu dia itu anak yang cerdas, namun kelakuanya sangat buruk. Dia sudah berulang kali dipergoki melakukan pencurian disekolah dan melanggar aturan sekolah seenaknya saja"

"kenapa sekolah tidak mengeluarkan Sasori?"

"kami berhutang banyak dengannya, berkatnya yang selalu mengikuti olimpiade dan berhasil merebut setengah lebih dari medali emas olimpiade itu, sekolah ini menjadi terangkat nama baiknya dan mendapatkan kepercayaan oleh orang – orang yang akan menyekolahkan anak – anak mereka" Sakura yang mendengarnya ikut terpukau dengan kehebatan Sasori. "kami malah berusaha untuk menutupi keburukan dari Sasori, dan berusaha untuk mengontrol kelakuan buruknya, kami rela merugi karena banyak barang yang ia curi dari sekolah ini, tapi di tetap berada disekolah ini selama tiga tahun itu"

"kenapa kau tersenyum ?" tanya kepala sekolah yang melihat Sakura yang tersenyum,

"saya ikut bangga, pak. Dia juga teman yang baik" jelas Sakura. "menurut bapak kepala sekolah, kenapa Sasoribertingkah tidak baik seperti itu ?"

"kami tidak mengetahuinya, sudah dari dulu kami mencoba mencari tahu, tapi yang kami tahu hanya dia tinggal dengan ibunya, sedangkan ayahnya, kami tidak tahu". Mendengar penjelasan bapak sekolah, Sakura mendapatkan sebuah ide.

"apakah bapak tahu alamat rumah Sasori?"

"ya, ada didokumen siswa – siswa"

"boleh saya mengetahui alamatnya ?"

"kau harus bantu aku untuk mencarinya " yang kemudian ditanggapi anggukan oleh Sakura.

Setelah setengah jam mencari dokumen milik Sasoriyang ditumpuk bersama beribu lebih dokumen siswa – siswa. Sambil menunggu kepala sekolah mencari alamat Sasori, Sakura melihat – lihat dokumen Sasori, melihatnya membuat tercengang kembali, piagam – piagam olimpiade yang Sasorimiliki lebih dari sepuluh piagam yang hampir semuanya mendapat juara pertama. Sakura pun tersenyum geli melihat foto Sasoridulu SMA yang ternyata masih sama dengan sekarang, wajah babyface yang imut itu.

"ini alamatnya" kepala sekolah menyerahkan selembar kertas kecil kepada Sakura.

"terima kasih, bapak kepala sekolah. Kalau begitu saya pamit dulu" ucap Sakura setelah membereskan dokumen – dokumen tadi.

Setelah pergi dari ruang kepala sekolah, Sakura pun langsung menuju ke halte bus untuk langsung menuju kealamat yang sudah ada ditanganya, sambil menunggu kedatangan bus, Sakura duduk dibangku halte sambil memandangi kertas yang berisi alamat Sasori, "awas saja nanti, kalau aku bertemu kamu, aku akan marah. Salah sendiri menghilang seminggu ini !" ucap Sakura menggerutu.

Baru beberapa menit duduk terdengar suara motor dan berhenti didepan Sakura, melihat itu Sakura tersentak dan segera beranjak untuk pergi meninggalkan halte. Namun terhenti karena lenganya ditarik oleh seseorang.

"lepaskan !"

"sebentar Sakura, aku hanya ingin melihat keadaanmu setelah kejadian satu minggu lalu"

"lepaskan, Sasuke !"

"tidak, sebelum kau mau bicara denganku. Setelah kejadian minggu lalu kau jadi sulit kutemui, kau menghindar dariku" ucap Sasuke.

"untuk apa menemuiku ?, kita tidak ada hubungan apa – apa lagi" jelas Sakura. "menjauh dariku, dan jangan dekat – dekat padaku !" Sakura menarik lengan yang dicengkram oleh Sasuke, namun Sasuke semakin menguatkan cengkramanya. " Sasuke !" ucap Sakura meringis pelan.

"bagaimana jika aku tidak mau ?!" tanya Sasuke. "Bagaimana jika aku tidak bisa?!"

"tentu kau harus mau !" bentak Sakura kepada Sasuke. Mendengar hal itu Sasuke pun melepaskan cengkramanya.

Setelah terlepas Sakura pun mulai melangkah pergi dari tempat itu, "bagaimana aku bisa menjauh dari orang yang aku cintai" perkataan Sasuke membuat langkah Sakura berhenti.

"itu tidak mungkin" jawab Sakura pelan dan membeku.

"aku mencintaimu, Sakura" ucap Sasuke. Sakura pun kemudian berbalik arah, dan berjalan kearah Sasuke, namun ketika sampai didepan Sasuke, ternyata Sakura hanya melewatinya saja dan mulai beranjak naik kedalam bus yang suah berhenti di halte cukup lama dengan diam. "Sakura, tunggu ! ada yang ingin aku sampaikan lagi !" Sasuke berteriak setelah Sakura sudah memasukki bus, tanpa ada jawaban dari Sakura, Sasuke hanya bisa memandang kepergian bus itu.

Tanpa disadari, sedari tadi ada yang melihat mereka berdua dari dalam bus, semenjak bus berhenti di halte tadi. "akan aku buat kau menderita" ucapnya dengan air mata yang menetes.

Didalam bus, Sakura melamun memikirkan perkataan Sasuke tadi yang jujur, membuatnya terkejut. "kenapa hari ini banyak yang membuatku terkejut" ucap Sakura pelan sambil memandang ke arah kertas yang berisikan alamat Sasori.

Sakura baru saja turun dari bus, kembali ia pandang alamat yang tertera di kertas untuk memastikannya. "apa ini rumahnya ?" Sakura berkata sambil melihat keadaan rumah Sasori, dengan gaya minimalis dan berlantai dua, memiliki taman yang sepertinya jangan diurus. Sakura pun berjalan sampai didepan pintu.

Baru ingin mengetuk pintu rumah Sasori, tiba – tiba muncul wanita yang memakai pakaian minim yang sangat terlihat seksi, menenteng tas dan tidak lupa batang rokok yang mengepul terjepit disela bibirnya. Dan yang membuat parah lagi wanita itu membawa sebotol minuman keras. Melihat hal itu Sakura terkejut dan sambil melotot melihat wanita itu.

"siapa kau hah ?!!" tanya wanita itu sambil sempoyongan.

"sa..ya Haruno Sakura, teman Sasori" ucap Sakura sambil menundukan badan.

"ha? ! Sasori! teman Sasori? sejak kapan dia punya teman"

"maaf, anda siapanya Sasori? dan dimana Sasorisekarang, saya ada perlu" ucap Sakura sopan.

"aku ?! ibunya Sasori! Kenapa hah ?" kemudian dia mulai beranjak pergi.

"tu..tunggu, jadi anda ibunya Sasori? kalau begitu sekarang Sasori dimana ?"

"kau ingin tahu ha? Hik.. dia………… ahahaha pergi sana !. Jangan berteman lagi dengan anak seperti dia" kata wanita itu yang kemudian melanjutkan jalanya.

"tapi saya ini temanya. Minggu – minggu ini dia tidak bertemu dengannya, apa dia baik – baik saja?" terlihat raut cemas di wajah Sakura.

Wanita tadi yang ternyata ibunya itu, mengentikan jalanya dan berbalik arak berjalan kearah Sakura. "kalau kau temanya. Berarti kau tidak pandai memilih teman, mengerti ?!" ucap wanita itu sambil mengepulakan asam rokok kewajah Sakura. "pergi sana !"

"uhuk.. uhukk.. tapi rumah anda belum dikunci" ucap Sakura yang tidak digubris oleh pemilik rumah, karena wanita itu menghilang.

Tidak tega melihat rumah Sasoriyang dibiarkan begitu saja. Sakura beranjak untuk menutup pintu. Namun ketika melihat kedalam rumah, timbul rasa penasaran. Dan Sakura memutuskan untuk masuk. Sampai didalam ia melihat keadaan rumah yang berantakan tidak terurus. Piring bekas terpakai ditempat pencucian yang ditaruh begitu saja. Sampah dan barang yang juga berantakan.

Rasa penasaran Sakura masih berlanjut ke lantai atas, dia dengan hati – hati berjalan naik kelantai atas. Dia tengak tengok untuk melihat sekeliling, dibagian lantai atas sedikit menampilkan rumah yang lumayan rapi. Melihatnya Sakura pun tersenyum, namun tidak lama senyum itu digantikan dengan wajah yang terkesan bingung, ternyata dia menemukan kertas kecil yang bewarna merah bertuliskan 'Tuhan, ampuni aku'. Sakura pun berusaha mencari darimana kertas itu berasal, beberapa langkah berjalan dia menemukan ruangan yang pintunya sedikit terbuka, karena penasaran dia mencoba masuk kedalam. Sakura membelalak matanya karena melihat keadaan ruangan tersebut yang ternyata itu adalah kamar Sasori. Di kamar itu penuh dengan tempelan kertas kecil yang sama dengan yang Sakura temukan, isi dari tulisan itu juga sama. Sakura berkeliling di kamar yang lumayan sempit itu, melihat setiap sudut diruangan itu dan melihat kertas – kertas berisi data – data yang berada di atas meja. "5 November ?" ucap Sakura. Sesampai di depan balkon kamar itu, dia melihat Sasuke yang sedang berada di depan rumah Sasori. Sasuke pun ternyata melihat Sakura dibalkon dan memutuskan untuk menyusul Sakura.

"kenapa dia tahu aku disini ?"

Pintu kamar yang tadinya tertutup pun terbuka dan manampilkan sosok Sasuke yang seketika berubah raut muka kaget dengan keadaan kamar ini.

"ini kamar siapa ? kenapa kau masuk begitu saja ?" kata Sasuke menghampiri Sakura.

"ini kamar Sasori, tadi rumah ini ditinggalkan begitu saja tanpa dikunci oleh ibunya Sasori"

"sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Sasuke sambil melihat kertas – kertas yang tertempel di dinding – dinging kamar.

"aku juga tidak tahu. Kenapa kau bisa tahu aku ada disini ?"

"saat memegang lenganmu tadi, aku tidak sengaja melihat alamat rumah yang kau pegang ditangan" jelas Sasuke. "sekarang Sasori dimana ?"

"aku belum bertemu Sasori sampai sekarang ini"

"menurutku dia itu misterius"

Merasa kata – katanya tidak digubris, Sasuke pun menoleh kearah Sakura yang ternyata dia sedang terpaku didepan sebuah figura cantik nan unik yang berisikan foto bersama.

"apakah itu Sasori?" ucap Sasuke menunjuk ke salah satu orang yang ada difoto itu. "sepertinya dia bersama teman - temanya dulu di Konoha School "

"menurutmu, kenapa figura itu berbeda dari yang lain ?" tanya Sakura melihat figura – figura lainya yang ada disekeliling figura unik itu.

"mungkin itu spesial"

"spesial ?" setelah berkata seperti itu, Sakurapun membelalakkan mata, dan kemudian keluar dari kamar dengan langkah tergesa – gesa. Saat sampai ditangga, tiba – tiba Sakura terhuyung hampir jatuh karena pusingnya kembali jatuh, namun untungnya ada Sasuke yang menolongnya.

"hati - hati"

Ucapan Sasuke hanya dibalas anggukan oleh Sakura.

"semoga aman" ucap Sakura setelah mengunci pintu gerbang rumah Sasori. Kemudian dia mulai beranjak dari rumah itu masih dengan tergesa – gesa.

"hei … kau itu kenapa ? mau kemana ?"

"aku mau ke sekolah" ucap Sakura sambil berjalan.

"ke sekolah, untuk apa ?" Sasuke berusaha menyamakan jalan Sakura.

"aku ada urusan"

"kalau begitu, tunggu !" Sasuke berlari dan berbalik arah.

Melihat hal itu, Sakura pun tetap meneruskan jalanya menuju halte. Namun Sasuke kembali lagi bersama motornya. "ayo, naik !"

"tidak"

"naik !"

"tidak"

"ck, kau itu, keras kepala sekali, ayo naik !"

"aku tidak mau ! aku sedang buru – buru Sasuke" ucap Sakura masih tetap bersikukuh.

"kenapa kau menolak niat baik seseorang hah ?!"

Karena tidak mau berdebat terus Sakura pun mengikuti keinginan Sasuke.

"terima kasih" Sakura menundukkan kepala kepada kepala sekolah. "lagi – lagi aku merepotkan kepala sekolah" ucap Sakura.

"sebenarnya kau mau apakan copyan data – data alumni itu ?" tanya Sasuke yang masih setia disamping Sakura.

"ini, adalah data – data para alumni – alumni yang ada difoto bersama Sasoriitu. Aku akan menemui mereka. Siapa tahu mereka tahu dimana Sasori" Sakura melanjutkan jalannya setelah menjelaskan maksudnya.

"apa ? kau akan menemui mereka ?"

"iya, kenapa ?"

"kau kan tahu Sasoriitu seperti apa ? teman – temanya juga pasti seperti itu"

"hah ? aku tidak tahu maksudmu" Sakura tetap terus melenggang pergi.

"aku mengkhawatirkanmu" ucap Sasuke.

Mendengar hal itu Sakura berhenti berjalan. "bisakah kamu tidak lakukan hal – hal kejutan seperti itu ?" Sakura pun melanjutkan jalanya.

"aku serius"

Sudah sekitar satu jam setengah Sasuke menunggu Sakura yang telah menghabiskan waktu lama di telepon umum.

"ini, kau belum makan sedari tadi" Sasuke menyodorkan kue yang berbentuk ikan berisikan pasta kacang merah kepada Sakura yang sedang duduk dibangku pinggir jalan yang jarang terlihat kendaraan, karena bukan merupakan jalan besar.

"terima kasih"

"kau sudah menghubungi mereka"

"sudah, beberapa bisa aku hubungi beberapa tidak bisa aku hubungi" jawab Sakura.

"dan mereka mau datang ?"

"aku tidak tahu, tapi aku suruh mereka untuk datang kemari sekarang"

"bagus, sekarang kita menunggu seseorang yang belum tentu datang dan lagi, tidak kita kenal"

"mereka pasti datang"

Tiga jam mereka munggu, namun belum ada seseorang yang datang. "sepertinya tidak ada yang datang, sebaiknya kita pulang"

"tidak, mereka pasti datang" ucap Sakura tidak menyerah.

"hari sudah malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan" Sakura pun hanya diam, tidak membalas kata – kata Sasuke. "tadi, waktu kita bertemu di halte, aku mau menyampaikan sesuatu. Bibimu menelfonku, dia bilang kau tidak bisa dihubungi"

"baterai handphoneku habis, bibi bilang apa ?"

"bibi menyuruhmu untuk pergi ke rumah sakit"

"rumah sakit ? untuk apa ?"

"aku juga tidak tahu, bibi tidak memberi tahuku"

Kembali tiga jam kemudian, mereka masih saja menunggu, "ini sudah larut malam, aku yakin mereka tidak akan datang" ucap Sasuke. "ayo kita pulang, wajahmu pucat sekali" terlihat wajah cemas diraut Sasuke melihat teman disampingnya itu terlihat kurang sehat.

Sakura hanya diamtidak membalas perkataan Sasuke, terlihat wajah kecewa terpasang di muka Sakura sekarang. Merasa diabaikan lagi Sasuke memutuskan berinisiatif untuk menarik pelan tangan Sakura agar bangun dari duduknya. "ayo pulang".

Baru akan mengajaknya berdiri, pergerakan Sasuke terhenti. Karena ternyata kepala Sakura bersandar dipundak Sasuke. "kau baik – baik saja ?" raut Sasuke bertambah khawatir.

"kepalaku pusing sekali" ucap Sakura sedikit serak.

"kalau begitu cepat ayo pulang"

Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

"ada apa ?" Sasuke bertanya kepada Sakura setelah dia diminta berhenti oleh Sakura.

"sampai disini saja kau mengantarku, aku akan jalan saja, hanya beberapa meter dari rumah" Sakura turun dari motor Sasuke.

"apa ? tapi kau…" Sasuke tidak terima perkataan Sakura.

"aku sudah tidak apa – apa, kau pulanglah. Terima kasih sudah membantuku"

"hati - hati" ucap Sasuke. Sakura pun membalas dengan anggukan.

Sekarang Sakura pun berjalan perlahan di trotoar untuk menuju rumahnya, setelah Sasuke pergi. 'kau janji padaku untuk tidak meninggalkanku' batin Sakura. Tak terasa air matanya jatuh menetes.

"kau dimana, Sasori"

CKLEEK

"apa yang kau lakukan ?!" Sakura menampakkan raut wajah terkejut mendapati ada Tayuya dikamarnya sedang berusaha merobek – robek boneka Teddy Bear besar pemberian Sasuke. Sakura segera berlari untuk mencegahnya. "kumohon jangan Tayuya !".

"tak akan!, ini !, bukan milikmu!"Tayuya menjauhkan diri bersama boneka itu saat Sakura menghampirinya. "kau pikir aku tidak tahu ini dari siapa ? kau benar – benar pengganggu hidupku, kau harus mati terlebih dulu dariku ! mengerti ?!"

Brett…! Boneka itu terobek dibagian lengan kanan hingga terbelah menjadi dua. "tidak !" Sakura segera mengambil boneka Teddy Bear yang sudah terbelah menjadi dua.

"mengadulah ke Sasuke, dia pasti akan membelamu. Dengan begitu kita bisa putus dan kau bisa mengambilnya" ucap Tayuya dingin sebelum dia pergi meninggalkan Sakura.

"itu tidak seperti yang kau kira Tayuya" ucap Sakura pelan sehingga tidak didengar oleh Tayuya. Air matanya masih mengalir deras.

Ditempat lain, Tayuya segera memasukki kamarnya dengan sedikit membating pintunya. Ternyata tanpa disadari, sedari tadi Tayuya menangis. Sekarang dia menangis dibalik pintu kamarnya. Mengingat kata – kata yang tidak ia ingin dengar.

"aku mencintaimu Sakura"

"selama ini kau menjadi pacarku, itu hanya sia – sia bagiku" air mata terus menetes dimata Tayuya.

Namun tiba – tiba dia segera mengambil handphone dan menghubungi seseorang.

Di café seperti biasanya, tempat mereka biasa bertemu.

"maaf menunggu lama" ucap Tayuya pada Sasuke.

"tidak apa – apa, ada apa ?"

"aku merindukanmu" Tayuya tersenyum kearah Sasuke.

"hn"

Tayuya langsung memasang wajah tidak suka ketika mendengar kalimat yang diucapkan Sasuke itu. "kau tidak merindukanku ?" tanya Tayuya dengan manja.

"kita sudah sering bertemu, Tayuya"

"ya memang salah jika aku merindukanmu ?"

Kalimat Tayuya tidak dibalas oleh Sasuke, Sasuke hanya melamun seperti memikirkan sesuatu.

"kau memikirkan Sakura ya ?"

"apa maksud perkataanmu ?" Sasuke terkejut mendengar pertanyaan Tayuya.

"aku tanya, kau pasti sedang memikirkan Sakura kan ? "

"tidak"

"jangan bohong, sampai kapan kamu mau berbohong ?"

Sasuke lagi – lagi membisu, dia bingung dengan keadaan sekarang.

"kau tahu bagaimana rasanya jika kebahagian kita diambil oleh seseorang, bahkan itu saudaramu sendiri ? "

Melihat Sasuke yang terus menerus diam, Tayuya menjadi kesal. "sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku ?"

"tidak ada apa - apa"

"apa kau menyukaiku ?"

"tentu saja"

"apa kau mencintaiku ?"

Tayuya menunggu lama jawaban yang diberikan Sasuke. Namun akhirnya dia menyerah. "kalau begitu kita sampai disini saja" Tayuya meninggalkan café tersebut sambil menteskan air mata.

Sasuke mengejar Tayuya dan menghalanginya. "apa maksudmu ? kenapa kau memutuskan sendiri"

"kenapa ? kau tidak mencintaiku, untuk apa semua ini berlanjut ha?" Tayuya berlari menembus tepi jalan raya yang ramai.

"Tayuya !" Sasuke berteriak memanggil Tayuya. "ck sial" berlari mengejar Tayuya.

Sasuke masih terus berlari mencari Tayuya, ketika sampai disebuah taman bermain anak – anak. Sasuke melihat Tayuya mematung menghadap anak – anak yang sedang asik bermain. Dia mendekati Tayuya dan mengikuti arak mata Tayuya. Terlihat dua anak kembar bermain bersama – sama sedang bermain balon warna warni. Kemudian datang ibu mereka berlanjut ayah mereka yang menyusul mereka bertiga. Melihat hal itu Tayuya kembali meneteskan air mata. "seharusnya dulu aku seperti itu" Tayuya pun berjalan meninggalkan tempat bermain itu.

"kau masih bisa, kau masih punya Sakura"

"kau pergilah !"

"tidak"

Drttt… drtt…

"halo"

"Tayuya, Sakura ada dirumah sakit, bisakah kau datang ?" terdengar suara dari dalam handphone.

"ya" jawab Tayuya dengan datar kemudian menutupnya.

"ada apa ?"

"pergilah !"

"aku bilang aku tidak mau"

"pergilah ke rumah sakit"

"apa, untuk apa kesana ?"

Dengan sedikit ragu, "Sakura masuk rumah sakit"

"apa ?!" mendengar perkataan Tayuya, Sasuke terkejut, dan menampakkan wajah kekhawatiranya."kalau begitu ayo kesana !"

"tidak, kau pergi sendiri saja" tolak Tayuya.

"tapi dia saudaramu, Tayuya"

"terserah apa maumu, aku tidak akan kesana ! ku bilang pergi"

Sasuke pun pergi meninggalkan Tayuya. 'bahkan dia pergi meninggalkanku tanpa ragu' batin Tayuya dengan sedih.

Flashback

"lihat, apa ini cocok untukku ?" Tayuya sedang mencoba baju yang ingin dia beli.

"kau baik – baik saja ?" Tayuya melihat Sasuke melamun.

"Hn, aku baik – baik saja"

"aku akan mencobanya, kau tunggu ya?"Tayuya berlari untuk pergi mencoba pakaianya.

Beberapa menit kemudian Tayuya kembali dengan pakaian yang sedang dia coba. Saat keluar ruang ganti Tayuya melihat Sasuke sedang menerima telephone dari seseorang. Tayuya mencoba mendekatinya, dan dia sedikit mendengar penmbicaraan mereka. Dan, aku kenal suara itu. Sakura.' aku baik – baik saja, kau sedang bersama Tayuya ?'

' ya ' jawab Sasuke.

'Baiklah, selamat bersenang – senang ' ucap Sakura.

'aku senang kau menepati janjimu' ucap Sakura kembali.

itu semua demi kamu' kata – kata Sasuke, yang membuat Tayuya sangat terkejut.

'sudahlah Sasuke, aku ingin istirahat' jawab Sakura sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.Tayuya bisa melihat raut wajah Sasuke yang terkejut melihatnya ada dibelakangnya.

Diam, itu yang bisa mereka lakukan untuk beberapa saat. Melihat hal itu Tayuya mencoba untuk lakukan sesuatu."err.. bagaimana penampilanku ?". memecah keheningan yang begitu canggung ini.

"kau sangat cantik" jawab Sasuke.

"benarkah ?" ucap Tayuya.

"kalau begitu aku akan beli ini" jawbnya sesaat sebelum Tayuya kembali ke kamar ganti.Sesampai di kamar ganti, Tayuya diam sejenak, memikirkan sesuatu. Yang pastinya tentang pembicaraan Sasuke dan Sakura tadi. "sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan dariku ?" ucap Tayuya. "apakah kalian selingkuh dibelakangku ? "

Flashback End

TBC