Forgive or Forget
Taeyeong x Jaehyun
slight Taeyong x '?'
Chapter 1 : You Hurt Me Again.
"Jaehyun-ah bangun, sudah pagi. Cepatlah mandi dan sarapan sudah siap di meja makan. Aku berangkat lebih dulu. Jangan sampai telat ya Jaehyun-ah" Taeyong menepuk-nepuk bahu Jaehyun lembut bermaksud untuk membangunkan pria yang ia cintai. Seperti biasa Jaehyun hanya menjawab dengan lenguhan tanpa menatap pria yang sedang melihati dirinya. Taeyong meninggalkan Jaehyun yang masih setiap dengan tempat tidurnya.
Sudah hampir pukul 8 pagi, Taeyong harus bergegas pergi ke kampus karena ia memiliki mata kuliah pagi sekali. Taeyong dan Jaehyun merupakan mahasiswa di Seoul University tingkat 3 sedangkan Jaehyun tingkat 1.
Taeyong berlari tergesa-gesa, sesekali bertubrukan dengan beberapa bahu orang yang sedang jalan biasa. Taeyong tidak ingin ketinggalan bus lagi, minggu lalu Taeyong harus menunggu bus selanjutnya karena Jaehyun, yap Jaehyun sedang tidak ada jadwal kuliah pagi dan menghentikan Taeyong yang akan berangkat ke kampus. Tak lain yang mereka lakukan hanyalah sex. Taeyong tidak berani menolak permintaan kekasinya tersebut, saat ia akan menolak sorot mata Jaehyun semakin dingin kepadanya dan Taeyong tidak mau itu.
Brukk..
Taeyong menabrak seseorang yang lebih tinggi darinya dan kini ia jatuh, sedangkan yang Taeyong tubruk hanya mundur beberapa langkah saja.
"awh, sakit.." Taeyong memegangi pantatnya yang mendarat mulus di trotoar.
"Maafkan aku, aku sedang terburu-buru. Maafkan aku. Kamu baik-baik saja? " ucap Taeyong menunduk.
"Ah, Tidak apa-apa. Lain kali lihatlah jalanan dan berhati-hatilah" kata pemuda itu dan menjulurkan tangan untuk membantu Taeyong berdiri.
Taeyong berdiri menerima uluran tangan dari pemuda yang ia tabrak. Menoleh keatas melihat paras pemuda itu. Tampan, satu kata untuk pemuda itu. Tersadar bahwa yang ia lakukan itu membuang-buang waktu. Taeyong merundukan baadan bermaksud untuk meminta maaf lagi dan lagi.
'Damn God, kenapa lelaki ini begitu menawan?' Batin pemuda tinggi yang terus melihati Taeyong tanpa berkedip.
Taeyong melambai-lambaikan tangannya kedepan wajah pemuda itu, "hello? Kamu tidak apa-apa?"
Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya tersadar bahwa ia kepergok melihati lelaki manis didepannya. "Tidak apa-apa. Kamu boleh pergi" ucap pemuda itu sambil tersenyum.
"Maaf sekali lagi dan selamat tinggal" Taeyong membungkuk sopan dan akhirnya menaiki bus meninggalkan pemuda itu.
'Sial, aku lupa menanyai nama pria manis tadi. Arghh Kapan lagi aku bisa bertemu dengan pria manis seperti malaikat seperti dia?Bodoh.' Pemuda itu menendang kaleng bekas didekatnya. 'Semoga saja lain waktu dapat bertemu lagi dengannya'
.
.
.
Setelah kuliah paginya selesai, Taeyong pergi ke Perpustakaan. Taeyong merupakan orang yang pendiam tidak memiliki banyak teman dan jarang berinteraksi dengan teman satu jurusannya. Bahkan di ponsel nya hanya ada nomor Jaehyunnya, Orang Tuanya, Dosen dan Ten yang merupakan teman satu-satunya.
Taeyong memilih duduk dan membaca buku pelajaran daripada harus mengeluarkan energi ekstra hanya untuk berkumpul dengan yang lainnya walaupun hanya obrolan ringan saja. Sesekali Taeyong melihat ponsel nya berharap ada notifikasi pesan dari kekasihnya, Nihil hasilnya. Taeyong tersenyum kecut mengingat fakta bahwa kekasihnya mengirimi pesan tiga hari yang lalu, isinya tidak spesial hanya satu kata 'pulanglah' Taeyong senang karena Jaehyun mengiriminya pesan berharap bahwa setibanya di apartemen Jaehyun menyambutnya. Taeyong kecewa, pasalnya kekasihnya itu hanya menginginkan tubuhnya.
Taeyong menghembuskan nafas panjang mengingat kejadian itu. Ten sebagai sahabatnya sudah ribuan kali menyarankan untuk mengakhiri hubungannya, bodohnya Taeyong masih mempertahankannya.
Drrtt..
Ponsel Taeyong bergetar, secepat kilat ia meraih ponsel dan melihat notifikasi itu. Rupanya Ten mengirimi pesan yang berisi 'Cepatlah kembali ke kelas yongie, Pak Choi sudah datang dia bilang jam pelajarannya diajukan karena alasan pribadi'
Sial ! Taeyong lalu bergegas membereskan buku-bukunya dan berlari dari lorong ke lorong melewati beberapa kelas. Deg, seolah jantungnya berhenti berdetak dan kaki nya yang sedaritadi melangkah cepat kini tak dapat di gerakkan. Matanya terbelalak melihat suguhan pemandangan yang tak jauh darinya yang memperlihatkan pria dan wanita yang sedang bercumbu penuh nafsu di salah satu ruang kelas yang sedang kosong.
Air mata Taeyong jatuh tanpa aba-aba sembari memegangi dadanya yang begitu sesak, sakit. Walaupun bukan pertama kalinya Taeyong mendapati kekasihnya berbuat tak wajar dengan orang asing tetapi tetap saja rasa sakit itu terus datang dan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Takut ketahuan, Taeyong berusaha meninggalkan lorong itu dan memilih bolos mata kuliah. Niatnya ingin mendapat ilmu tapi yang didapati hanyalah pilu.
Taeyong berlari secepat mungkin hingga kini ia sudah berada dijalan raya yang berarti sudah tidak dilingkungan fakultasnya. Terus berlari mengabaikan orang yang sedang berlalulalang. Menabrak orang, Taeyong tak peduli yang ia inginkan sekarang ialah kesepian dan menangis lepas. Lelah, Taeyong merasa lelah dengan semua ini, lelah menangis dalam diam.
Brukk ... kali ini Taeyong ditubruk seseoroang lebih tepatnya di dorong sampai jatuh ke trotoar.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kau gila? Ingin mati?!" teriak pemuda yang telah mendorong Taeyong. Ternyata Taeyong berlari menyebrang jalan dengan asal dan hampir tertabrak mobil.
Taeyong melihati pemuda itu yang sedang berteriak padanya, familiar dengan wajah itu. Taeyong langsung mengusap kasar pipinya.
"T-terima kasih" Ucap Taeyong terbata. Pemuda itu membantu Taeyong berdiri. Pemuda itu juga menyadari dan mesih ingat betul wajah pria yang ia tolong. Dia merupakan pria manis yang menabraknya tadi pagi. Oh God, Do'a nya terkbulkan lebih cepat.
"Kamu yang tadi pagi itu kan?"
Taeyong masih belum menjawabnya, menatap pemuda itu kosong. Tak berniat untuk membalasnya.
"Ah iya benar, au masih ingat wajahmu, kenapa kamu tida berhati-hati? Kamu bisa mati muda kalau tadi tertabrak mobil secepat itu"
Masih belum menjawab, paham dengan sikap lawan bicaranya Pemuda itu membawa Taeyong ketempat yang lumayan sepi. Walaupun Taeyong sudah berhenti menangis, tetapi air matanya tak berhenti menetes. Seketika kejadian sebelum-sebelumnya teringat di kepala Taeyong. Kejadian serupa yang ia lihat tadi di kampusnya. Pernah Taeyong melihat Jaehyun tengah asik mencumbui pria lain, yaitu seniornya di kampus. Dengan omongan busuknya, Jaehyun biang akan mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Taeyong mencoba mengikuti Jaehyun dan firasat nya benar. Sakit yang teramat sangat yang Taeyong rasakan. Apa kekurangan Taeyong? Apa salah Taeyong? Apa Taeyong kurang dalam hal memuaskan Jaehyun?
Hatinya seakan diremas kuat mengingat kejadian-kejadian itu. Taeyong sudah seringkali berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Jaehyun, Tapi apa daya itu semua hanya niat semata saja, saat melihat Jaehyun seolah angan-angan untuk berpisah dengannya buyar sudah.
Pemuda itu hanya bisa mengelus pelan pundaknya. Sekian lama sunyi, terdengar bunyi notifikasi ponsel. Taeyong tersadar akan lamunannya dan mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat isi pesan tersebut. Pesan dari Ten 'Kemana kamu Yongie? Tak biasanya kamu membolos mata kuliah, hubungi aku kalau kamu sudah menerima pesan ini. Aku khawatir' Setelah membacanya, Taeyong memasukkan kembali ponselnya ke saku celana tak berniat membalas pesan tersebut.
Taeyong menoleh dan melihat pemuda yang ia tabrak tadi pagi. Pemuda itu tersenyum kepadanya. Taeyong malu, karena ia baru sadar kalau sudah menangis di depan orang asing yang baru saja melihat tadi pagi.
"Terima kasih tadi sudah menyelamatkanku" Canggung, Taeyong tak tahu akan berucap apa setelah mengucap kata terima kasih.
"Sama-sama, Sudah mendingan? Haus? Sebentar, aku belikan minuman terlebih dahulu." Pemuda itu tak mau bertanya sebab-penyebab Pria manis itu menangis. Lebih baik tidak membahasnya.
"Tidak, Aku tidak haus terima kasih. Tida usah repot-repot" tersenyum canggung, terdengar dingin dan sombong tapi nyatanya Taeyong tak pandai merangkai kata, alhasil kata-kata yang ia ucapkan terkesan tak bersahabat.
"Oh begitu, Aku belum tau namamu, Boleh kita kenalan? Namaku Johnny Seo. Senang berkenalan denganmu" tersenyum sambil mengulurkan tangan berniat untuk berjabat tangan.
Taeyong ragu menjawab dan menjabat tangan orang yang baru ia temui. Bisa saja orang yang mengajaknya kenalan ini ialah penjahat yang mengincar organ tubuhnya, siapa tahu. Tetapi orang itu sudah menyelamatkannya, membuat Taeyong berpikir dua kali.
"Namaku Taeyong, Taeyong Lee" menjabat tangan pemuda bernama Johnny tersebut dengan agak ragu.
.
.
.
TBC
Yay, chap 1 selesai setelah sekian lama ya. Sebenernya mau ngetik dari dulu, tapi terhambat nonton produce101 s2 ahahay.. Hayo siapa bias mu di produce 101, kali aja sama kaya aku :D
makasih yang sudah me-review cerita ini JaeMinhyung, gitakanya, babyxunxun, 6194, armybana,sejung,junglee, para guest,ulil, natns88, Seung yeon Kang,Deen. Muah muah :*
Maafkan aku yang membuat Jaehyun jadi seperti ini/? Jangan benci Jaehyun :D
Saran? Kritik?
