Tidak bisa fokus, pandangannya terarah ke sesosok lelaki paruh baya yang sedang menjelaskan materi kuliah sore ini, tetapi pikirannya berjalan kemana-mana. Ia sudah mendingan, berterima kasih pada sahabatnya yang rela mmembatalkan kencannya demi menenangkan dan tak mau melewatkan mata kuliahnya lagi, walaupun penjelasan itu tak bisa diterima oleh pikirannya yang terpenting ia mencatat dan mempelajari ulang materi itu nanti.
Tes~
Air matanya terjatuh lagi, tangan ungil itu langsung menyeka dari pipinya agar tidak ada yang melihatnya meneteskan air mata. Secepat apapun Taeyong menghapusnya, Ten melihatnya karena sedari tadi sahabtnya itu melihatinya merasa khawatir dengannya. Siku Ten menyenggol tangan Taeyong. Sudah mendingan bukan berarti rasa sakit itu sudah hilang, tak tau sampai kapan rasa sakit itu terus tersarang di dalam lubuk hatinya.
"Haruskah kita ke UKS?" Ten berbisik sangat pelan, dilihat dari ekspresinya sangat khawatir dengan Taeyong. Ten sudah melarang Taeyong untuk masuk kuliah, tetapi Taeyong keras kepala mau masuk kuliah, kalau sudah begitu Ten bisa apa.
Taeyong menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan sambil terenyum sedikit pertanda tidak usah pergi ke UKS, melihatnya hati milik Ten terasa teriris. Kenapa tidak? Karena pada awalnya Ten lah yang mengenalkan Jaehyun pada Taeyong di pesta ulang tahun Doyoung dan Ten ingin mendekati kakaknya Doyoung, Gong Myung.
*Flashback on*
"Taeyongie" tak ada sahutan.
"Taeyongie"tak ada sahutan lagi.
Okey, kesabaran Ten sudah habis, mengerucutkan bibirnya.
"Lee Taeyong!" teriaka Ten dan mengambi buku yang sedang Taeyong baca.
Taeyong terkekeh pelan melihat tingkah laku sahabatnya.
"Ada apa Ten? Aku sedang membaca dan kembalikan bukuku" Taeyong hendak meraih buku pelajarannya, tetapi buku itu dibuang kesembarang arah oleh Ten.
"Ya! Kamu tidak boleh membuang sumber ilmu!" Taeyong menjitak pelan kepala Ten.
"Awh sakit! Habisnya kamu mengabaikanku Yongie" Ten mempoutkan bibirnya sebal.
"Ada apa memangnya?" Taeyong beranjak mengambil bukunya dan kembali ketempat semula.
"Besokkan ada pesta dirumahnya Doyoung, kamu bilang tidak mau berangkat."
"Memang aku tidak mau berangkat, terlalu ramai disana."
"Taeyongie ayolah" Muka melas, mengedip-ngedipkan matanya layaknya seorang anjing kecil yang memohon diberi makan. Taeyong memutar bola matanya malas. Dan endingnya Taeyong menuruti permintaan sahabatnya.
Saat di pesta, Taeyong hanya duduk mengamati orang-orang yang sedang berdansa, bersenda gurau. Ten? Sedang berbicara dengan incarannya, Gong Myung
Banyak sekali makanan ringan dan minuman termasuk wine dan soju, Taeyong lebih memilih minum juice karena Taeyong tidak menyukai minuman yang memabukkan. Tiba-tiba saja Ten datang menghampirinya.
"Yongie, Ayo ikut aku saja"
Taeyong hanya pasrah tangannya ditarik Ten menuju ke salah satu meja. Di meja itu sudah ada dua laki-laki satunya berbdan tinggi berkulit putih dan bersurai pirang dan seseorang lagi berbadan tak kalah tinggi bersurai hitam. Mereka tampan, itu yang dipikiran Taeyong.
"Yongie, dari pada kamu sendirian. Kenalkan ini Jaehyun dan Winwin, mereka temanku di les vocal. Jaehyun, Winwin kenalkan ini sahabatku Taeyong"
"Taeyong"
"Jaehyun"
"Winwin"
Mereka berjabat tangan sesekali melempar senyum. Ten yang baru saja mengenalkan mereka langsung pergi begitu saja tidak memikirkan sahabatnya harus berbuat apa dan berbicara kepada dua laki-laki ini. Situasi nya canggung sekali, tak ada yang berbicara.
"Taeyongssi, SMA mana" Jaehyun membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Aku sudah kuliah Jaehyunssi, tingkat satu seperti Ten"
"Waow, aku harus memanggil hyung berarti. Aku kira masih SMA" Kaget, iya kaget. Dikirain masih SMA kelas 1 ternyata sudah kuliah. Mukanya menipu pikir Jaehyun.
Pembicaraan itu berangsung lama, seiring berjalannya waktu situasi yang tadi canggung menjadi hidup karena tiga orang itu terus berinteraksi seperti sudah kenal lama. Taeyong tidak menyadari bahwa sedari tadi Jaehyun memperhatikan dirinya terus-menerus.
*flashback off*
.
.
Hari sudah petang, Taeyong tengah duduk manis di halte bus dekat kampus. Sudah berjam-jam ia duduk disitu tak berniat untuk menaiki bus yang berhenti di halte tersebut. Memandang kedepan dengan pandangan ? anak itu sedang berkencan dengan Yuta, Jahat? Tidak, sebenarnya Ten menolak untuk berkencan dengan Yuta, tetapi itu kehendak Taeyong. Taeyong merasa tidak enak karena dirinya kencan Ten gagal. Taeyong menyuruh Ten berkencan beralasan ia ingin sendiri dulu.
Seseorang menepuk bahu nya menyadarkan dari lamunannya.
"Lee Taeyongssi bus yang kamu naiki belum juga datang?" Tanya seseorang yang tadi menepuk bahu Taeyong.
"Ah, i-iya Johnnyssi bagaimana dengamu? Baru saja pulang?" Johnny duduk disamping Taeyong, mengapa mereka sering bertemu? Apakah jodoh? Mungkin saja. Lagi pula, gedung fakultas mereka berdekatan, satu universitas berbeda fakultas.
"Begitulah, kamu mengambil jurusan apa Taeyongssi?"
"Manajemen ehehe, sedangkan kamu Johnnyssi?" Demi apa, pembicaraan ini sangat canggung. Hanya berisi basa-basi yang mungkin tak penting.
"Dekat dengan fakultas ku, Seni Rupa. Tapi aku jarang melihatmu" Yaiyalah Taeyong kan anak 'cupu'
"Ekhem Johnnyssi? Maukah kamu menemaniku? Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Lagian sudah petang—" belum lanjut omangannya sudah dipotong Johnny.
"Memangnya kamu mau kemana Taeyongssi?"
"Minum, heheheh"
Taeyong sudah gila diluar akal sehatnya, dia mengajak orang yang baru ia kenal untuk minum bersama. Sejarah kehidupan Taeyong tak pernah mengajak orang asing terlebih lagi untuk minum alkohol yang ingin ia incipi untuk pertama kalinya. Seseorang tolong tampar Taeyong agar kembali akal sehatnya.
"minum? Minum apa? Juice? Atau minum susu? Ayo kalau begitu" Johnny beranjak dari duduknya begotupun Taeyong.
"Terimakasih Johnnyssi" kemudian mereka berjana menelusuri trotoar yang semakin sepi karena sudah malam.
Johnny seperti buta jalan, karena yang ia lihat hanya Taeyong yang berada disampingnya. Sepanjang jalan tak luput dari wajah Taeyong. Johnny berpikir ternyata ada juga tokoh anime di dunia nyata. Merasa dilihati begitu Taeyong hanya senyum tak merasa terganggu sama sekali.
"Johnnyssi kita sudah sampai" mereka menghentikan langkahnya dan Johnny melihat sekitar, ternyata yang Taeyong maksud bukanlah minum susu atau juice segar melainkan minum minuman beralkohol. Johnny menoleh pada Taeyong
"Taeyongssi mengapa kita kesini?"
"Kita akan minum, kan sudah kubilang tadi"
"Ayo" Ucap Taeyong sambil tersenyum. Tidak sengaja tangan Taeyong menggandeng tangaan Johnny untuk menariknya masuk kedalam kedai soju.
.
.
.
Taeyong tidak berhenti meminum minuman keras yang berada dihadapannya. Johnny sudah melarangnya, tapi apa daya minuman itu bagaikan obat penghilang lara hatinya. Taeyong berpikiran mengapa baru sekarang ia mencicipi minuman yang dulu ia hindari, kalau tau begini mungkin sudah berlangganan sepuluh botol tiap harinya.
Johnny panik karena Taeyong yang sekarang sedang mabuk berat. Mengigau nama seseorang.
"Jaehyun" Taeyong mengigau lagi, sambil meneteskan air mata.
Johnny mengambil ponsel Taeyong dan mencoba menghubungi nama yang disebut Taeyong tadi. Johnny mencoba menghubunginya berkali-kali tetapi tidak diangkat oleh pemilik nama Jaehyun tersebut.
Johnny mau mengantarkan pulang Taeyong tetapi ia tak tau letak rumahnya dimana. Johnny mencoba menghubungi salah satu kontak di ponsel Taeyong, baterai nya habis. Alhasil Johnny membawa Taeyong pulang ke apartemennya.
.
.
.
TBC
Aduhhh maafin banget telat update. Sebenernya ceritanya udah ada tapi semingguan ini lagi diluar kota dan sinyal nya bikin emosi.
Oya aku punya cerita baru, bisa dicek di wattpad xtkentaa
Makasih bagi para readers dan semua yang mereview, memfollow,nge fav cerita ini. Makasi banyak 3
Ceritanya maau aku post di wattpad juga.
