~ Namikaze Naruto ~

.

.

.

.

.

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Genre : Adventure, Fantasy, Romance(maybe)

Rated : M

Warning : AU, OOC, Miss-typo(s), dont like? dont read then

Pairing : Naruto x …

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

~ Chapter 1 – Pergi dan Kekuatan Baru ~

.

.

Masih di malam hari. Naruto berlari ke kedalaman Hutan dengan cepat. Sekali lagi dia tak ingin siapapun menemukan dirinya, baik itu orang tuanya atau warga Konoha yang lain.

Di malam hari ini, Hutan Kematian masih sangat berbahaya. Selain banyaknya binatang yang beraktifitas, kekuatan binatang itu dua kali lipat lebih besar daripada siang hari.

Sehingga Naruto harus hati-hati, dia harus menggunakan seluruh keenam inderanya untuk memeriksa sekitar. Ketika ada bahaya datang, dia berlari berbalik arah sekuat tenaga. Menjauh dari binatang sejauh mungkin.

Ketika dia mendapati adanya serigala di dekatnya, maka dia kabur. Itu karena serigala lebih kuat dan besar di malam hari. Gigi mereka menjadi tajam setajam pedang. Saat serigala menerkam mangsanya, tidak hanya daging yang tertembus, bahkan tulang mangsanya itu akan retak. Bahkan kemungkinan hampir patah.

Itu yang membuat ngeri hingga bulu kuduknya berdiri. Sebenernya dia tidak takut, kalau di siang hari.

Lalu ketika dia mendapati kelelawar dia juga lari, namun sekali-kali dia harus melawan balik. Selain kelelawar cepat, itu juga mengerikan. Bagaimanapun itu bukanlah kelelawar biasa. Kelelawar itu penghisap darah, dan juga taringnya sedikit beracun. Bagian tubuh yang terkena akan mati rasa dan tidak bisa digerakkan untuk sementara waktu.

Dan sekarang adalah situasi hidup dan mati. Naruto harus mempertaruhkan hidupnya, berdiri dengan mengertak giginya dan mengepal tangannya. Dia menatap tajam pada sekumpulan kelelawar yang melingkarinya. Setidaknya ada sekitar sepuluh kelelawar yang harus dia bantai.

Tsk, salah satu kelelawar melesat cepat ke arah Naruto. Naruto cepat memegang busur, menempatkan anak panah, lalu menariknya.

.

* syuut *

.

Suara panah terbang, melesat dan mengenai tepat di dahi kelelawar.

Saat itu juga. Kesempatan, kabur! Dengan langkah cepat dia lari terbirit-birit. Menggunakan persenjataan tersembunyi, dia naik ke dahan pohon. Berlarian di dahan pohon, melompat mendarat di dahan yang lain.

Persenjataan tersembunyi di balik lengan bajunya yang terdiri dari benang panjang yang dikaitkan, juga ada pelontar. Jadi dia bisa dengan mudah berayun seperti tarzan.

'Sial, sial, sialan.' Geram Naruto dalam batinnya.

Larinya yang daritadi cepat kini berubah menjadi ngos-ngosan. Walaupun dia memiliki tubuh yang bagus dan sehat. Namun karena dia tak budidaya gara-gara Cakranya yang cacat sejak lahir. Dia harus bersusah payah berlari dengan keras.

Naruto berlari sekuat tenaga, menjaga tubuhnya agar tidak terpeleset pada permukaan dahan yang licin. Dua kelelawar mendekat, dan semakin mendekat dari samping kanan dan kirinya.

.

*syuut* *jleeeb* *jleeeb*

.

Naruto melesatkan anak panah dari busur. tepat mengenai dua kelelawar, mereka jatuh dan mati.

'Tiga mati, sisa tujuh lagi yaa'. Gumam Naruto .

Naruto terus berlari dan berpindah-pindah pohon. Saat ada kesempatan besar, dia membunuh kelelawar satu per satu, hingga saat ini menyisakan dua kelelawar.

.

*syuutt*

.

Anak panah terbang, namun sayang kelewar itu menghindarinya. Kelelawar itu melesat dengan cepat.

'Sial', Pemuda kuning itu mengutuk dirinya sendiri. Dirinya saat ini sedang berada di tengah-tengah udara. Mustahil untuk mengelak lagi. Kelelawar itu semakin dekat, Naruto mengertak giginya.

Kelelawar itu sangat cepat, dan sudah tiba di lengannya. Kelelawar itu mengigit, kulitnya sobek, darah megalir keluar, juga racun mulai masuk ke dalam tubuhnya. Busur yang digenggamnya di tangan kiri terlepas.

"Agrhhh…" Naruto menjerit sembari mengeryitkan dahinya. Dan dengan cepat, dia langsung mengambil anak panah lalu menusuk tajam pada kepala kelelawar hingga hancur sebelum terjatuh ke tanah.

Meski sudah lega satu kelelawar berhasil dibunuhnya, masih ada kekhawatiran akan hadirnya kelelawar lain yang saat ini tepat di atasnya.

Kelelawar turun, semakin dekat. 'Ckk', Naruto hanya mendecak kesal. Dia berpikir sejenak, 'ini pertarungan antara hidup dan mati. Jika aku mati di sini maka musnahlah sudah harapanku untuk balas dendam dan menjadi orang terkuat di seluruh Negeri ini'.

"Aku akan menjadi kuat, aku akan membuat seluruh bela diri gemetar dan tunduk di bawahku. Aku akan membunuh siapapun yang menghalangi jalanku." Kata Naruto membulatkan tekadnya

Dia melambaikan tangan kanannya yang bebas, menekan tombol kecil di sela-sela lengan bajunya. Sebuah anak panah kecil melesat tajam ke arah kelelawar, dan mengenai dahinya. Seketika dia terbang oleng dan jatuh.

Meskipun kelelawar itu berbahaya dan menakutkan. Untuk membunuhnya cukup mudah dengan menembak tepat di dahinya.

"Ohh sial. Sepertinya aku akan terjatuh" ujar Naruto .

.

*Blaarrr*

.

Dan benar saja. Pemuda Kuning itu meluncur ke bawah dengan ganas cepatnya. Ketika badanya menyentuh tanah, ledakan yang cukup memekakan telinga terdengar. Sebuah kawah tak beraturan terbentuk akibat tabrakan itu.

Naruto memuntahkan darah, tubuhnya mati rasa, terutama bagian punggungnya. Seakan seperti ada yang patah di sana. Beruntung itu tidak patah beneran. Jika ya, habislah dia.

Tangan kirinya yang berdarah dan terkena racun juga membuatnya tambah kesakitan, dia meringis. Keberuntungannya benar-benar kecil sekali.

"Grrrrr…"

"Suara apa itu?" Tanya Naruto pada diri sendiri sembari mengernyitkan dahinya. Namun ketika dia berpikir keras. Lalu secercah api kecil mendekatinya, api itu semakin membesar seraya terus mendekat.

Wajah Naruto berubah pucat pasi, napasnya terhenti, butiran keringat dingin turun dari dahinya, bulu kuduknya juga berdiri. Itu karena sesosok makhluk di depannya bukan binatang biasa. Itu Magical Beast.

Mahkluk yang memiliki kekuatan dari dalam tubuhnya dan beberapa memiliki kecerdasan. Bahkan sejarah mencacat, mereka lebih pintar daripada manusia.

Mereka harusnya biasa berada di Pegunungan Magical Beast. Namun saat ini salah satu dari mereka berada di sini. Air liurnya menetes dari sudut-sudut mulutnya. Naruto sekali lagi bergetar.

Menggunakan seluruh kekuasaannya yang tersedia, dia mencoba bangkit. Walau dengan susah payah, akhirnya dia berhasil berdiri.

Tanpa menunggu ba bi bu, dia berputar, lalu berlari secepat mungkin. Tapi dibanding tadi, kecepatannya menurun pesat. Racunnya mulai menyebar sampai dadanya, paru-parunya terasa sesak. Sehingga pernapasannya semakin berat.

Racun itu juga mulai mempengaruhi kesadarannya, karena dia lemah. Otomatis dia racun akan semakin cepat bereaksi.

"Aku tak boleh mati di sini. Aku masih belum balas dendam. Aku harus tetap bertahan hidup. Harus!" ujar Naruto dengan penuh tekadnya untuk bertahan hidup

Langkahnya terhuyun-huyun, sekali-kali dia tersandung dan jatuh. Tapi dia kemudian bangkit lagi untuk berlari dengan seluruh tenaganya. Dia juga sudah tak mempedulikan rasa sakit akibat kakinya tersandung dan terkena duri dari tanaman merambat.

Melihat itu, Magical Beast mirip serigala dengan bulu merah darah, serta mengeluarkan api di keempat kakinya. Dia berjalan pelan seakan senang melihat mangsanya yang sudah tidak berdaya di pandangannya.

"Meski bukan disebabkan olehku, setidaknya aku tak perlu membuang tenaga untuk melawan manusia tidak berguna itu. Khukhu" Magical Beast itu berbicara dalam batin sambil tersenyum menyeringai

Langkah Naruto semakin lambat, napasnya makin sesak dan berat, matanya mulai buram. Tinggal menunggu waktu dia pingsan dan mati oleh Magical Beast itu.

Namun tekadnya untuk bertahan hidup sangat tinggi. Itu patut untuk dipuji. Dalam pandangannya dia melihat cahaya di depannya, cahaya itu makin terang seakan menyuruhnya untuk cepat-cepat ke sana.

"Sialan, kenapa bocah itu menuju ke sana"? ucap Magical Beast itu, kemudian berlari, api di kakinya mengecil lalu bersatu dengan cakar tajamnya. Dia begitu cepat, dalam detik ke lima sudah berada di belakang Naruto. Mengangkatnya tinggi-tinggi, dia menebas dengan cepat, tujuannya untuk meraih tubuh Naruto.

Namun sayang sekali, cakarnya malah mengenai belakang tubuh Naruto yang menyebabkan luka berat disertai semburan darah. Pakaiannya serta barang bawaannya robek lalu terbakar.

Naruto memuntahkan darah segar, punggungnya sakit sekali. Tubuhnya terlempar dan terjun ke bawah jurang dengan cepat.

'Sial,sial, sialan! Apa aku akan mati seperti ini?' Jerit Naruto dalam hati

Dalam pandangannya dia sudah bisa melihat tanah, dia menutup matanya seakan pasrah apa yang akan terjadi. Walaupun memiliki tekad kuat, bagaimanapun juga dia masih lemah.

.

*Booommm*

.

Tubuh Naruto menabrak tanah dengan keras. Retakan menyebar menjadi sebuah kawah tak beraturan yang sudah cukup untuk menenggelamkan dirinya.

Tulang-tulangnya benar-benar hancur, organ internalnya rusak dan mulai berhenti beroperasi. Detak jantungnya melambat, pandangannya memburam lalu menghitam kedalam kegelapan.

.

.

.

.

.

.

.

~ Keesokan paginya. Di kediaman Keluarga Namikaze Minato ~.

Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina telah kembali dari tugasnya, mereka berdua merupakan orang tua kandung Naruto. Ketika mereka tiba di rumah, mereka terheran-heran, rumah itu sepi seperti tidak ada penghuninya.

Dengan cemas mereka masuk, mereka beberapa kali memanggil Naruto. Namun tidak ada jawaban satupun, mereka menjadi semakin cemas. Mereka mencari di segala tempat di rumah, tapi tetap tidak menemukannya. Hingga Kushina menemukan sebuah surat terbuka diletakkan di meja makan.

Harap-harap cemas Kushina membukannya. Setelah membaca sekilas, mulutnya ditutup dengan tangannya, air mata mengalir deras melalui pipinya. Dia tak bisa menahan isak tangis yang tak sengaja didengar oleh suaminya.

Bergegas suaminya datang dan menemukan istrinya yang sedang menangis memegang kertas. Secepat mungkin dia merebutnya lalu membacanya.

.

.

.

.

.

.

.

"Tou-san, Kaa-san. Maafkan Narukarena tidak berpamitan dahulu. Aku sebenarnya ingin, tapi sudah tidak ada waktu lagi.. Gomen

Karena aku lemah, orang lain selalu merendahkanku juga Tou-san dan Kaa-san. Untuk itulah, Narupergi untuk berpetualang mencari kekuatan yang layak. Sehingga suatu saat nanti aku akan membuat Tou-san dan Kaa-san bangga, serta orang lain tidak akan lagi merendahkan kita lagi.Naruberjanji akan kembali dalam dua tahun lagi,dimana saat itu juga akan di selenggarakan Turnamen'Kasai no ketsui'. Dan tentu saja Naru bakal mengikutinya, Aku akan menunjukan pada mereka bahwa aku juga bisa.

Tou-san, Kaa-san, sekali lagi Naru minta maaf. Dan ijinkan anakmu ini untuk berpetualang."

~Namikaze Naruto~.

.

.

Membaca itu, Minato tidak bisa menahan amarahnya. Tangannya mengepal dan hendak memukul meja, namun dia tahan. Dia merasa bersalah setelah semua, dia menjadi ayah yang sekan tidak berguna bagi anaknya. Dia gagal untuk mendidik anaknya agar bisa menjadi kuat.

Setelah semua, dia selalu melihat anaknya bekerja keras daripada yang lain. Namun yang didapat selalu tak bisa diharapkan. Anaknya masih lemah dan tetap berada pada Level Genin tingkat C. Seandainya saja ada cara untuk memperbaiki sistem Cakra yang rusak, semua itu tidak akan menimpa anaknya.

Dia sekarang hanya bisa percaya, kalau suatu saat anaknya akan kembali membawa kekuatan yang luar biasa, yang tidak mampu dinalar oleh orang-orang. Entah kenapa, dia mempercayai hal itu.

"Sudahlah Kushina, anak itu pasti akan menjadi orang yang akan bediri di atas orang-orang." Ujar Minato menenangkan istrinya dengan lembut, tangannya yang sedikit kasar menyentuh pundak istrinya.

"Ta-tapi, jika kita tidak cepat maka dia–" Kushina berkata panik, wajah cantiknya masih mengalirkan air mata. Bagaimanapun juga dia itu masih anaknya, kekhawatiran ibu terhadap anaknya terlalu besar,

"Tenanglah, anak itu tidak akan mudah mati. Aku merasa bahwa dia mampu bertahan hidup dan menjadi orang yang luar biasa. Dia akan membalikkan kehidupan kita nantinya." Ucap lirih Minato, menenangkan istrinya.

"Bagaimana aku bisa tenang Minato! Hikss" Teriak Kushina, dia kemudian menangis dipelukan suaminya.

.

.

.

.

.

.

Berita tentang kepergian Namikaze Naruto dengan cepat menyebar luas, banyak orang dari klan Namikaze sangat senang. Orang yang membuat Klan Namikaze kehilangan muka telah pergi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Tapi berbeda dengan si kembar, Namikaze Rei dan Namikaze Menma. Mereka kesal karena tidak bisa lagi menyiksa Naruto. Sebagai gantinya, mereka kemudian membully anak lain.

Mereka berdua sudah diperingatkan agar berhenti. Tapi malah menghiraukannya. Itu dikarenakan posisi kakeknya Menma yang sebagai Tetua membuat mereka menjadi berani.

"HUAHH, si sampah itu sudah pergi dan mungkin saja dia sudah mati. Sialan!" Teriak kesal Menma yang sedang menendang perut anak orang lain, "berdiri bodoh!" Lalu melayangkan pukulan kembali.

Anak itu menjerit kesakitan, air mata meleleh di pipinya. Dia baru saja berumur 14 tahun hari ini, dan sudah diberi hadiah berupa tendangan dan pukulan. Dia penuh mengutuk dalam hatinya.

'Dia harus bertanggung jawab!'

Anak itu bernama Rock Lee, dia baru saja menerobos ke Level Chunin Tingkat F. Jika dibanding dengan anak lainnya, bisa dibilang dia terlambat dan lemah. Jadi dia menjadi sasaran empuk untuk di bully.

.

.

.

.

.

~ Namikaze Naruto ~

.

.

.

.

.

Sinar mentari telah terbit dari balik pegunungan yang indah. Burung-burung saling berterbangan, bertengger, dan bernyanyi. Hewan-hewan bangun memulai aktivitas pagi harian mereka. Berburu, makan, tidur, dan sebagainya.

Tak terkecuali dari Klan Namikaze. Beberapa tetua sedang mabuk-mabukan untuk merayakan kepergian Namikaze Naruto. Tak hanya tetua saja, kepala keluarga masing-masing juga turut hadir. Kecuali orang tua dari Naruto tidak diundang. Diberitahu adanya perayaan saja tidak.

"Haha, bocah sampah itu akhirnya pergi! Kita sekarang tidak usah malu lagi!" Teriak salah satu tetua, rona pipinya memerah kebanyakan minum.

"Itu benar! Bahkan jika dia pergi, dia tetap saja akan mati di tangan kita!" Teriak yang lain, juga tak kalah mabuknya.

.

.

.

~di lain tempat~

-Naruto Pov On-

Perlahan kelopak mataku terbuka, sinar mentari menyinari diriku. Aku memutar bola mata mengelilingi lingkungan. Masih dalam pikiran yang membingungkan, 'Aku rupanya masih hidup.'

Walau organ dalam banyak yang rusak dan tidak dapat beroperasi, luka-luka dari pertempuranku sebelumnya menambah penderitaan kesakitan. Luka itu bahkan belum sembuh sama sekali.

Mana mungkin, orang biasa seperti diriku bakal sembuh cepat. Orang yang tanpa bisa membudidaya bela diri dengan aliran Chakra yang cacat. Setiap hari selalu diejek, tidak ada satupun orang yang peduli dan mau berteman dengan sampah sepertiku. Kecuali... Tou-chan dan Kaa-chan.

Kukira aku bakal mati. Sepertinya Kami-sama masih peduli kepadaku. Sehingga dia mempertahankan nyawaku berada di tempatnya.

Aku beruntung dan bersyukur. Aku masih punya kesempatan untuk membalas dendam! Namun bagaimana caranya? Dengan kondisi seluruh tubuhku dipenuhi luka, aku tak mungkin bisa bergerak dari sini selama bertahun-tahun. Dan juga bagaimana caraku untuk makan dan minum?

-Naruto Pov End-

Waktu semakin berlalu, matahari naik ke titik puncaknya. Naruto masih di sana tanpa bergerak sedikitpun. Rasa perih menyambar perutnya, minta untuk diisi. Namun apa daya, dia tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya kecuali tangan kanannya. Mulutnya juga susah untuk bergerak.

Naruto menatap ke depan, dia menyipitkan mata kanannya melihat cahaya ungu sekilas. Sedangkan mata kirinya berdarah, mungkin sudah tidak bisa melihat lagi.

Cahaya ungu itu begitu misterius, namun Naruto yang begitu penasaran memutuskan untuk mendekat. Ia menggunakan seluruh sisa kekuatannya untuk menggerakkan badannya.

Perlahan tapi pasti, Naruto ke depan. Tangannya bergerak sekuat tenaga untuk menarik tubuhnya mendekati cahaya ungu misterius tadi.

Tubuhnya yang penuh luka merangkak di atas tanah, bersentuhan langsung dengan batu kecil. Lagi-lagi kulitnya tersayat dan mengeluarkan darah. Dia meringis kesakitan, namun masih bisa dia tahan.

Tulang-tulangnya bunyi gemeretak karena retakan di sana sini.

"Uhh, ini sungguh sangat menyakitkan." Ucap Naruto mengernyit kesakitan Namun masih dia tahan, darah mengalir sedikit demi sedikit

Semakin dia mendekat, cahaya itu semakin membesar dan terus membesar "Sangat silau" ucap kembali Naruto sambil menutupi matanya.

Yang dilihatnya kemudian sungguh mengejutkannya, dia di dalam gua berwarna ungu. tumbuhan, sungai dan lainnya serba warna ungu. Dari seluruh pandangannya, itu terpaku ke satu titik. Dimana sebuah naga besar berwarna ungu tertidur dengan penuh luka di tubuhnya.

Sepertinya dia baru saja selesai bertarung. Dia mungkin saja menerima kekalahan besar, sayapnya yang harusnya tumbuh di punggungnya dipotong. Luka bekas sayatan dan tancapan pedang masih ada.

Melihat itu, Naruto sedikit iba. Dia ingin membantu menyembuhkan naga itu, namun kodisinya berkata lain.

Perlahan mata naga itu terbuka, cahaya silau ungu menatap tajam pada Naruto. Pandangan mereka bertemu, Naruto cukup gugup dan ketakutan. Bulu kuduknya berdiri,

'mungkinkah aku akan berakhir di makan naga itu?' Tanyanya dalam hati

"Bocah manusia, apa kau kesini untuk membunuhku!" Naga itu mulai berbicara dengan nada serak, pandangannya terpaku pada sosok di depannya yang terlihat lemah.

"…"

Naruto tidak menjawab, rahangnya telah patah. Mustahil baginya untuk menggerakkannya untuk bicara.

"Bocah, rupanya lukamu lebih parah dariku." Ujar Naga itu serius"Baiklah, aku akan mengobati seluruh lukamu. Dan juga, otomatis Aliran Chakramu yang cacat itu juga akan mendapatkan yang baru."

Kata-kata itu membuat Naruto terkejut bukan main. Selain sembuh, aliran Chakranya akan sembuh. Ini merupakan kabar menggembirakan baginya.

"Tapi tentu saja itu tidak gratis. Aku punya satu syarat untukmu. Jawab dengan kedipan mata satu kali jika ya, jika tidak dua kali. Bagaimana?"

Tanpa pikir panjang, Naruto langsung mengedipkan matanya satu kali.

"Bagus, kebetulan sekali lukaku sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Jadi, aku hanya memintamu untuk menjaga anakku. Dia masih berumur 8 tahun, kau harus membawa pergi dia dan menjaganya selalu. Jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku akan mencincangmu hidup-hidup!"

Naruto mengedipkan matanya satu kali.

"Bagus sekali Bocah, aku suka tekadmu yang besar itu! Lalu ini bocah," Naga itu menyodorkan sebuah kristal Putih, di dalamnya ada empat cahaya yang berbeda-beda. Masing-masing cahaya memiliki kekuatan tersendiri. Cahaya itu berwarna Merah, Biru, Hijau, dan Cokelat. Namun Naruto tetap diam di tempat, "Oh benar, aku lupa kalau kau tidak bisa bergerak. Hahaha"ujar sang Naga kembali sambil tertawa

Naga itu kemudian menelankan kristal itu pada Naruto. Saat ini belum ada reaksi, namun setelah beberapa menit kemudian. Kristal di perutnya perlahan menghilang, lalu pindah tepat pada aliran Chakranya. Aliran Chakranya mulai berubah, kemudian empat cahaya itu berputar ganas

Cahaya Merah mewakili Elemen Katon (Api) menyebar menuju seluruh pembuluh darahnya. Tubuh Naruto perlahan terasa terbakar, "Arrrgghhhh~" teriakan kesakitan keluar. Rasanya seperti dipanggang oleh api yang besar. Api itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya, membakar dirinya sendiri serta pakaian yang ia kenakan. Tubuhnya pun menjadi gosong.

Satu jam kemudian, elemen Katon telah menyatu ke dalam pembuluh darahnya.

Cahaya Hijau mewakili elemen Fuuton (Angin), berputar di Aliran Cakranya, lalu keluar menuju seluruh pembuluh darahnya. Di sana elemen angin berputar seperti badai, hampir merobek-robek pembuluhnya. Sampai-sampai seluruh tubuh Naruto dipenuhi luka, dan darah segar menyembur keluar. Sebelum akhirnya menyatu dengan pembuluh darahnya.

Cahaya Cokelat mewakili elemen Doton (Bumi). Tubuhnya dingin, keras seperti tanah, tak bisa digerakkan, denyut nadinya pendek seperti orang mau mati. Lalu elemen itu juga bergabung dengan pembuluh darahnya.

Selanjutnya, cahaya Biru mewakili elemen Suiton (Air). Naruto merasa tenang bagaikan aliran air, seluruh luka di tubuhnya perlahan sembuh, kulitnya menjadi putih segar bugar, wajahnya bertambah semakin tampan.

Kepalanya yang tadinya botak, kini perlahan ditumbuhi rambut, bukan warna pirang lagi yang menandakan ciri khas dari klan Namikaze, namun rambut berwarna Orange cerah.

Naruto menatap dengan sangat jelas. Bahkan semut yang merangkak di langit-langit bisa dilihatnya. Namun karena dia kelaparan, perutnya berbunyi dan dia pun jatuh pingsan kembali.

kaki depan Naga itu mengambil kristal di dadanya, lalu dengan keras menancapkan pada dada Naruto.

.

*Sleep*

.

'Bocah, sisanya kuserahkan padamu. Hidupku sudah berakhir di sini, namun kau masih belum, suatu saat nanti akan menuju puncaknya. Yang akan berdiri di atas segalanya'

Kristal Ungu yang awalnya besar, perlahan menjadi kecil, lalu menyatu pada tubuh Naruto. Tubuh naga itu kemudian menghilang menjadi abu.

.

.

.

.

.

~ Namikaze Naruto ~

.

.

.

.

.

Dua belas jam telah berlalu, Naruto membuka mata. Pandangannya masih jelas, dia juga masih merasakan lapar di perutnya. Dia meraba seluruh tubuhnya jika ada yang aneh, dan benar. Dia merasa ada tonjolan di tengah dadanya. Dia melirik, menemukan kristal ungu kecil terselip dan berkedip-kedip. Di sekitarnya, ada urat-urat ungu dari kristal ke tubuhnya. Semacam circuit yang berdetak.

Naruto juga menyadari, Naga yang memberinya kekuatan sudah tidak ada, menghilang tanpa bekas.'Pergi kemana dia?'

"Papa, kau sudah bangun?"

Muncul dari atas seorang gadis cantik, berkulit putih, rambut hitam panjang sampai punggung, dia memakai gaun putih polos yang cocok dengannya. Mata gadis itu, menatap khawatir padanya.

Sesaat dia belum mengerti apa yang baru saja terjadi.

"Huahhhhh," Naruto berteriak kaget, dia bangkit dan mundur ke belakang sampai punggungnya menyentuh dinding gua.

"Papa, kau kenapa?" Gadis itu berkata sembari memiringkan kepalanya.

"Papa? Ak-Aku bukan papamu!" Teriak Naruto sedikit keras, hal itu membuat gadis itu menunduk ketakutan dan air mata mengalir di wajahnya.

Naruto yang melihat itu merasa bersalah, lalu dia ingat dengan janji yang dia ucapkan pada naga itu. Bahwa dia harus merawat anaknya, itu artinya, dia harus membawanya kemanapun dia pergi.

Tidak ada pilihan, dia sudah berjanji.

"Ah, maafkan p-pa…papamu ini. Aku baru saja bangun, jadi aku tidak mengerti situasinya. Sekali lagi, aku minta maaf!"

Gadis itu mengangkat kepalanya, "Benarkah?"

"Hai'" Naruto cepat-cepat mengangguk.

"Ummmh, wakata. Yui mengerti, hehehe" gadis itu, yang menamai dirinya sebagai Yui mengangguk mengerti dan tersenyum senang, "kalau begitu, papa sebaiknya kau memakai pakaianmu dulu." Katanya sembari memberi satu set pakaian.

"Eh?"

Naruto lalu memeriksa tubuhnya, dan benar saja dia tidak memakai pakaian apapaun, alias telanjang!

"Gyaaaa~" Teriaknya menutupi bagian bawah tubuhnya yang merupakan masa depannya, "apa kau tadi melihatnya?"

"Melihat apa?" Ucap Yui memiringkan kepalanya menatap Naruto dengan wajah polosnya.

'Untung saja dia masih polos', Naruto menghela napas lega. Lalu baru meraih pakaian yang disodorkan Yui.

"Yui, kamu berbalik dulu. Aku mau memakainya dulu." Seperti perintahnya, Yui berbalik tanpa protes. Naruto langsung memakai set pakaian itu.

.

.

.

"Baik, sudah selesai!" ucap Naruto setelah memakai pakaiannya

Yui lalu berbalik, melihat papanya yang berdiri tegap dengan gagah. Matanya berbinar akan kekaguman, pakaian itu cocok sekali untuknya.

"Papa, kau sangat tampan sekali… Lalu sekarang, kita akan kemana?"

.

*Kruyukk*

.

Suara perut terdengar yang berasal dari Naruto.

"Ah-haha Sebaiknya kita berburu dulu, aku lapar. Apa Yui juga lapar?" jawab Naruto cengengesan, sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan.

"Ummmh, Yui juga lapar. Yeey, ayo kita berburu!" Yui berteriak senang, dia meloncat-loncat layaknya anak kecil.

"Ayo, kita pergi!"

Naruto melangkahkan kakinya keluar dari gua diikuti Yui.

"Papa!"

"Hmph?!"

"Boleh aku memegang tanganmu?"

"… Bo-boleh."

"Yey." Teriak gembira Yui.

Mereka lalu keluar dari gua, menuju hutan yang tidak jauh dari gua. Di jalan Naruto bisa melihat sendiri darahnya yang masih menggenang di kawah itu.

Namun Naruto mengabaikannya, mengambil busur dan anak panah, mereka kembali berjalan menuju hutan. Tak lama kemudian, dia mendengar rerumputan yang besar bergerak-gerak di depan pandangannya.

Dia melepas tangan dari Yui, mengambil busur dan menempatkan anak panah, mempertahankan pose seorang pemanah. Anak panah lepas menembus rumput besar, dan

.

* jleebb *

.

panah itu menancap tepat di titik jantungnya. Seketika Rusa Tanduk runtuh ke tanah.

Naruto segera mengampiri domba itu, dengan pisau dapur yang telah dia ambil. Dia dengan cekatan menguliti domba itu hingga menyisakan daging saja. Alhasil daging itu menjadi beberapa potong, lalu ditusuk pada ranting pohon.

Daging itu lalu dipanggang di atas api yang baru saja dibuatnya. Pertama, dia membayangkan api muncul di telapak tangannya. Walau masih kecil, itu sudah cukup untuk membuat api unggun dari ranting pohon.

Cukup lama hingga daging itu matang, Naruto menatapnya dengan air liurnya yang mengalir. Dia lalu memberi yang lainnya pada Yui. Yui menerimanya dengan senang, apalagi dia juga lapar.

Kalau tidak salah, dia hampir seminggu tidak makan. Pikirnya.

""Itadakimasu!"" Ucap mereka berdua bersamaan. Lalu tanpa sepatah kata lagi, mereka melahap daging itu dengan rakus. Hingga semua daging tanpa sisa. Setidaknya tadi masih ada 6 potongan daging, sekarang sudah habis.

Mereka kenyang, tapi sekarang haus. Jadi mereka berdiri untuk mencari tempat sumber air berupa sungai. Tiga puluh menit berlalu, mereka kemudian menemukan sungai yang mengalir dengan jernih.

Ikan-ikan berenang dengan leluasa, dasar sungai yang indah berupa rumput, karang, bebatuan dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka kemudian rakus meminum air sungai sampai rasa haus mereka sirna.

Tak lupa Naruto memotong ea ra di dekatnya menjadi potongan yang besar. Bambu itu dibersihkan terlebih dahulu dan diisi dengan air, dan ditutup menggunakan daun.

Hal itu dia lakukan agar nanti tidak perlu bolak-balik ke sungai.

"Papa, sekarang kita mau kemana?" Tanya Yui memiringkan kepalanya.

"Hmph," Naruto berpikir menempatkan jarinya di dagu, "kupikir kita kembali ke gua itu, aku merasa ada sesuatu di dalamnya."

Yui mengangguk senang, ia lalu menggenggam tangan papanya. Mereka berdua kembali berjalan ea rah gua. Dan akan menjelajahi di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued !