~ Namikaze Naruto ~
.
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Genre : Adventure, Fantasy, Romance(maybe)
Rated : M
Warning : AU, OOC, Miss-typo(s), dont like? dont read then
Pairing : Naruto x …
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~ Chapter 3 –
Naruto dan Yui berjalan tenang di kedalaman hutan, kembali ke Gua yang mempertemukan mereka. Di sepanjang jalan, mereka kembali memasok persediaan bekal. Daging, jamur, dedaunan, buah-buahan yang bisa dimakan mereka ambil, dan disimpan dalam sekatung kain yang dibuat dari serat pohon.
Serat dari pohon itu begitu halus, sangat nyaman di kulit, itu terbuat dari pohon terbaik di hutan ini. Walaupun di tempat lain juga ada yang lebih baik. Itu sudah cukup bagi mereka, yang penting persediaan mereka tidak akan cepat habis.
Dan itu semua dibawa oleh Naruto, anggap saja sebagai latihan. Yui pernah meminta untuk membantunya, namun Naruto menolak, anak kecil seperti dirinya belum boleh terlalu bekerja keras. Itu akan mempengaruhi fisiknya di masa depan nanti.
Namun, Yui tentu tidak menyerah begitu saja, dia memaksa Naruto sambil menangis. Tentu, Naruto tidak tega mendengar dan melihat tangisannya. Dengan terpaksa dia membuat tas kecil untuk membawa Jamur, dan dedaunan yang ringan. Tidak memebani tubuh mungilnya itu.
Yui senang, waktu itu dia bahkan melompat-lompat. Naruto yang melihatnya, entah mengapa hanya bisa tersenyum tulus.
Semenjak dia diejek oleh kebanyakan orang dari Klan Namikaze, dia jarang sekali tersenyum. Bahkan sama kedua orang tuanya saja terpaksa. Namun sekarang berbeda, dia bisa tersenyum tulus tanpa ada paksaan sama sekali.
"Papa, hewan apa ini?" Tanya Yui kepada Naruto, dia terdiam berdiri, menatap pada hewan kecil yang terbang menuju arahnya dan mendarat di hidung mungilnya.
Hewan kecil itu memiliki sayap yang indah, biru mendominasi, ada corak hitam dan putih juga, pola-polanya begitu indah. Hingga nyaman untuk dilihat.
"Oh, itu namany-"
"Hachih~"
Sebelum Naruto menyelesaikan kata-katanya, Yui sudah bersin duluan. Hewan kecil tadi lalu kabur karena kaget, terbang menuju indahnya hutan.
"-Itu tadi namanya kupu-kupu!"
"Kupu-kupu?"
"Iya, cantik bukan?"
"Ummmh, sangat cantik. Yui jadi ingin melihatnya lagi!"
"Yah, itupun kalau keberuntunganmu begitu baik. Sayangnya di hutan ini, kupu-kupu sangat langka. Jadi mungkin saja kamu tidak akan menemuinya lagi."
"Hee~" Yui menundukkan kepalanya kecewa, namun setelah beberapa saat dia mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum gembira.
"Tak apa, suatu saat nanti, Yui pasti bisa bertemu mereka kembali!" Ucapnya dengan bangga.
Naruto yang melihatnya tersenyum kembali, meski anak ini kerap kali murung ketika tidak mendapat yang dia inginkan. Dalam menit selanjutnya pasti kembali gembira, hal ini yang dia sukai dari dia. Karena Naruto tidak perlu menenangkan anak ini.
"Yui, sebaiknya kita segera bergegas. Persediaanya sudah cukup banyak. Hmph, kupikir bisa bertahan sampai seminggu."
"Ummmh, wakata" Yui mengangguk, meraih tangan Naruto. Mereka berdua berjalan kembali.
Kicauan burung menyertai perjalanan mereka. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Mereka lalu berhenti di dekat pohon yang besar nan rindang.
Yui mencari kayu bakar sebentar, lalu kembali dengan setumpuk yang lumayan banyak. Dia tidak mengeluh, tapi malah senang. Naruto dibuat heran olehnya. Namun ia segera menepis pikiran itu.
Mereka berdua lalu membakar daging seperti tadi, memakan dengan lahap sampai kenyang.
Waktu semakin malam, bulan purnama penuh menyinari tempat hutan dimana mereka berada. Naruto dan Yui menuju dahan pohon yang lumayan besar.
Yui mengenakan selimut dari serat akar yang lumayan tebal, itu sudah cukup hangat. Sangat aneh memang, tapi itu memang ada serat yang seperti itu.
Yui lalu tidur dengan menjadikan Naruto sebagai bantalannya. Sedangkan Naruto sendiri dia tidak tidur, melainkan menjaga Yui dan dirinya dari suatu hal yang tidak diinginkan.
Dalam hitamnya langit yang disinari sinar rembulan, Naruto tidak tinggal diam. Dalam duduknya dia berkonsentrasi untuk mulai mengendalikan ketiga elemen lainnya, yakni Air, Angin, dan Bumi. Sedangkan Api sudah bisa dia kendalikan.
Api memiliki sifat Merusak, jika tidak digunakan dengan benar, tumbuhan hidup dan makhluk hidup akan terkena kesengsaraan.
Air memiliki sifat yang menenangkan, walau terkadang bisa juga menimbulkan bencana yang besar.
Angin memiliki sifat kebutuhan, oksigen yang berada di dalamnya, tentu saja itu dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk bernapas.
Bumi memiliki sifat tinggal, keras. Tempat dimana tumbuhan tumbuh, makhluk hidup tinggal di atasnya.
Naruto baru menyadari sifat-sifat itu setelah enam jam menutup matanya dan terjebak dalam konstentrasi yang mendalam. Hal ini diperlukan untuk mengendalikan setiap elemen-elemen yang ada. Apalagi ke empat elemen telah menyatu pada pembuluh darahnya.
Harusnya dia bisa menyadari dengan mudah, namun karena ini pertama kali dia melakukan budidaya. Maka disini dia kesusahan.
Tanpa dia sadari hari sudah pagi, mentari pagi menyambut mereka dengan hangat. Yui bangun tidur mendapati Naruto sedang memejamkan mata.
Yui sedikit heran, mungkinkah papa sedang tidur. Pikir Yui. Sehingga dia menggoyangkan tubuh papanya. Tak lama Naruto membuka matanya, pandangannya dipenuhi dengan Yui sedang heran.
Pasalnya Yui sedang melihat sesuatu di sekitar tubuh Naruto yang mana terdapat empat elemen yang melayang. Api, air, udara, dan bumi melayang dengan tenang.
"Papa, apa yang sedang kau lakukan?"
"Oh, aku sedang melatih kekuatanku!"
"Waww, papa kau mengagumkan." Yui tersenyum senang, begitu pula dengan Naruto.
.
.
.
.
.
.
~ Namikaze Naruto ~
.
.
.
.
.
.
Mereka lalu mengemasi barang mereka, lalu makan pagi sebelum melanjutkan perjalanan kemali ke gua.
Tak lama berselang, mereka sudah sampai di mulut gua. Tanpa ragu mereka masuk ke dalam. Seperti sebelumnya, interior gua ini dipenuhi dengan warna ungu.
Mereka lalu kembali ke tempat dimana mereka berada, disini juga dimana Naruto bertemu naga itu. Namun sudah menghilang. Sedangkan sekarang mereka berjalan lebih jauh lagi ke dalam.
Sampai mereka menemukan jalan buntu, itu membuat Naruto sedikit kecewa. Dan ia sempat berpikir tidak ada sesuatu di dalam gua ini. Namun itu semua belum tentu benar, dia menggunakan kekuatan elemen bumi untuk merasakan akan adanya sesuatu di dalam sana.
Dan benar saja, di dalamnya masih ada jalan. Sekarang berpikir bagaimana dia bisa menerobos ke sana?
'Apa mungkin aku harus menghancurkan dinding ini.'
Tapi saat itu juga, "Papa, lihat! Ada pola aneh di dinding itu!" Kata Yui melepas genggamannya melihat pola itu dengan seksama.
Mendengar itu, Naruto bergegas ikut melihat juga. Dia benar! Ada pola rumit terukir di dinding. Dan di tengahnya terdapat lubang. Di atasnya ada lambang elemen api.
Berpikir sejenak, Naruto memasukkan tangan kanannya ke lubang itu. Lalu mengalirkan energi api. Dengan cepat api menyebar memenuhi pola-pola yang menyala merah.
Tak lama, dinding bergeser ke kanan dan kiri dari tengah. Naruto dan Yui saling pandang, tersenyum. Mereka kembali melangkah ke dalam. Semoga mereka mendapat sesuatu yang menarik di dalam sana.
Semakin dalam dan dalam, lorong gua ini menjadi gelap. Yui sedikit ketakutan dengan kegelapan. Namun mereka tidak perlu khawatir, Naruto membuat api di telapak tangannya untuk dijadikan sebagai penerang jalan. Sehingga meraka bisa melihat dengan jelas.
Sekitar dinding, mereka menemukan pola-pola rumit yang membingungkan. Naruto mencoba memahaminya, namun sebanyak apapun dia mencoba. Dia hanya mendapat nihil.
Mereka lalu berjalan lebih jauh, hening dan sepi yang mereka rasakan. Yui ketakutan dan ingin pergi dari tempat ini. Namun tak lama mereka menemui lorong cabang.
"Ada dua cabang" Naruto bergumam. Dia berpikir sejenak, lalu mengambil arah kanan. Sama seperti sebelumnya, dinding gua sekitar dipenuhi akan pola-pola rumit sebelum itu menghilang setelah mereka berjalan lebih dalam.
Lalu, yang benar saja. Mereka berdua menemui jalan buntu. Naruto dengan cepat memeriksanya, dan dia merasa kecewa. Pasalnya tidak ada sesuatu di dalamnya. Dengan sedih mereka berdua kembali dan mengambil cabang sebelah kiri.
Setelah lama berjalan, mereka menemui jalan buntu juga. Namun sama seperti dinding sebelumnya, disana ada pola rumit dan lubang. Di atasnya lambang elemen air.
Naruto segera melakukan seperti tadi. Dinding bergeser menjadi dua. Mereka kembali berjalan ke dalam, semakin dalam udaranya semakin dingin. Jika bukan api yang dibuat Naruto. Mereka mungkin sudah mati kedinginan.
Kemudian cabang menghampiri mereka, jumlahnya empat. Sama seperti tadi, mereka harus bolak balik untuk masuk ke dalam jalan yang benar.
Setiap kali mereka menemui percabangan, jumlahnya selalu ditambah dua. Dari 2, 4, 6, 8, … sampai saat ini mereka bertemu dengan percabangan lagi. Kali ini jumlahnya dua puluh.
Naruto dibuat kesal dengan ini, sempat berpikir mereka lebih baik kembali. Namun rasa penasarannya mengalahkan niat itu. Dengan sembrono dia memilih percabangan asal.
Dia tidak tahu apa yang menemui mereka lagi, mungkin akan bertemu dengan dinding kosong lagi. Namun pikiran itu buyar seketika, ketika mereka sampai dimana pintu besar terpampang di depan mereka. Pola-pola rumit terukir di seluruh pintu itu.
Ada sekitar empat lubang, di atasnya keempat elemen terukir. Setelah melewati penderitaan bolak balik selama tiga hari tiga malam akhirnya mereka sampai di tempat misterius ini.
Ini pasti tempat yang berisi harta karun. Pikir Naruto. Tapi sebelum mereka melangkah lebih jauh, mereka beristirahat di dekat pintu besar itu. Mengambil selimut yang tebal, mereka tidur karena kelelahan.
.
.
.
.
.
.
~ Namikaze Naruto ~
.
.
.
.
.
.
Waktu yang tidak diketahui. Naruto dan Yui bangun dari tidurnya. Mereka menatap sekitar, masih gelap karena tidak ada cahaya apapun di gua ini.
Naruto bergegas menyalakan kembali apinya di telapak tangannya. Dia melihat sekitar, sama seperti kemarin sebelum mereka tidur. Dingin dan sunyi.
Mereka lalu bangun dan berdiri, menguap, serta meregangkan tubuhnya ke atas. Benar-benar di sini dingin sekali sekaligus mereka masih mengantuk.
Dapat terlihat mereka menguap beberapa kali sebelum mereka akhirnya bisa bangun sepenuhnya.
"Yui, menjauh. Aku akan membuka pintu besar ini!"
"Oke!"
Sesuai perkataan papanya, Yui mundur ke belakang lima langkah. Sedangkan Naruto maju ke depan.
Dia lalu berhenti beberapa langkah dari pintu, dia menyatukan kedua tangannya sambil terpejam penuh konsentrasi.
Empat energi elemen muncul dalam bentuk cahaya, merah, biru, hijau, dan cokelat dia atas kedaua bahunya. Cahaya itu berputar-putar sendiri lalu tak lama menuju masing-masing lubang yang terdapat di pintu sesuai elemennya.
Pola-pola yang terukir mulai bercahaya dan merambat ke segala arah, menyebar dan menimbulkan suasana hangat di sekitar. Setelah itu, ada sesuatu yang menonjol keluar ke depan.
Di tengahnya terdapat pola lingkaran yang sanat rumit sekali, Naruto tidak mengerti sama sekali. Namun dengan reflek dia meletakkan tangannya di atasnya. Kristal ungu kecil yang berada di dadanya bercahaya beserta tapak tangan kanannya.
Pola itu bercahaya ungu lemah, kemudian masuk ke dalam lagi. Seketika pintu besar terbuka menjadi dua.
Layaknya tamu yang ditunggu kebanyakan orang. Dinding lorong sangat halus dan rapi, cahaya biru memancar menyala dari tempat Naruto ke ujung lorong. Tak lupa juga ada pola-pola aneh lagi terukir di dinding.
Naruto menatap tercengang sejenak. Lalu sikapnya berubah biasa, dia menhampiri Yui, menggenggam tangan mungilnya. Mereka lalu melangkah menuju ke dalam.
Setelah melewati pintu, kembali bergeser dan tertutup kembali. Mereka sontak kaget, apakah mereka tidak akan bisa keluar? Namun setelah Naruto meneliti pintu itu kembali, ada pola dan empat lubang. Naruto menghela napas lega.
"Papa, di sini hangat," ucap Yui senang, tak seperti malam tadi yang tubuhnya menggigil sampai-sampai Naruto harus memeluknya.
"Iya, aku heran. Tempat macam apa ini?"
Tak ada yang tahu, mereka hanya bisa terus melangkah berjalan melalui lorong. Di sepanjang jalan, mereka menemui beberapa pintu, namun sayangnya tertutup menggunakan kunci. Jadi mereka tidak bisa masuk ke dalam.
Tiga puluh menit mereka berjalan, mereka menemukan pintu bessar kembali yang hampir mirip saat mereka masuk. Naruto langsung melakukan hal yang sama kembali.
Pemandangan di depan membuat mereka terkejut sekaligus senang. Mereka menemukan sungai biru mengalir dengan tenang, begitu jernih sampai dasarnya bisa dilihat bahkan mengeluarkan cahaya dari dalam.
Naruto mengambil wadah, lalu menuangkan air dari sungai itu ke wadah. Kemudian meminumnya.
Lagi-lagi dia dibuat terkejut, faktanya selain bisa memberi rasa haus, rasa laparnya juga. Sekarang dia sudah tidak lapar dan haus lagi. Rasanya sangat nikmat, dia lalu meminumnya kembali.
Melihat tingkah aneh Naruto, Yui memiringkan kepalanya heran. Dia juga ikut-ikutan meminum air sungai itu dengan kedua tangannya.
Seketika matanya melebar, rasa dari air ini berbeda dari sungai lainnya. Rasa ini manis, tapi tidak terlalu manis, hangat, dan nyaman di mulut dan tenggorokan.
Mereka begitu sampai mereka puas, dan duduk di samping sungai sebentar. Tak lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang mana mereka mengikuti lorong yang lurus.
Cukup lama bagi mereka berjalan, sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang yang lebih besar dua kali lipat daripada yang tadi. Pintu itu juga sama, memiliki pola dan lubang. Bedanya, di samping kanan dan kiri terdapat dua patung naga yang sedang ukurannya.
Layaknya mengetahui ada yang datang ke wilayah mereka. Mata kedua patung tersebut membuka, menatap tajam pada kehadiran Naruto dan Yui.
Sejenak Naruto bergidik ngeri ditatap seperti itu yang mengintinidasi mereka berdua.
"Bocah manusia, beraninya kau datang ke sini. Ke tempat dimana master kami saja yang bisa masuk. Sesuai tugas kami, kami akan menghancurkanmu menjadi debu!"
Kedua naga tadi mulai bergerak, retakan di sekitar tubuh mereka tercipta, namun mereka tidak mempedulikannya. Seolah itu mereka sudah biasa dengan hal tersebut.
"Yui, ini terlalu berbahaya untukmu. Menjauh sejauh mungkin yang kau bisa dan bersembunyi, namun tetap bisa melihatku!"
"Ta-"
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang keselamatanmu yang nomor satu!"
Naruto melepas tangannya dari Yui, lalu bersiap diri. Dia mengambil busur dan memegangnya, tangan yang lain memegang anak panah. Sedangkan Yui dia sudah berlari, bersembunyi dan mengamati papanya.
Pandangan matanya menunjukkan betapa khawatirnya dia. Jangan-jangan papanya akan kenapa-kenapa. Akan terluka parah sehingga tidak bisa melihatnya lagi, sama seperti mamanya.
Mengingat itu, dia hampir menumpahkan air matanya. Tapi sebaik mungkin dia menahannya. Takut papanya melihatnya sehingga konsentrasinya akan terganggu.
Kembali ke tempat Naruto berada, dia menajamkan seluruh inderanya. Dan sekarang dia dikepung dari dua arah. Mengalahkan mereka merupakan hal yang mustahil bagi mereka dengan kondisinya yang saat ini.
Masih berada dalam Level Genin tingkat C. Walau begitu, masih dalam kemajuan bahwa dia naik satu tingkat.
Fakta tetaplah fakta.
Kedua naga membuka mulutnya, cahaya merah terkumpul di depan mulut mereka. Lalu menyemburkan napas api yang panas ke arah Naruto. Naruto menghindar dengan berguling ke samping. Dia berlari memutari salah satu naga, menarik anak panah dan meluncur menuju mata naga itu.
Namun sayangnya panah patah menjadi beberapa serpihan setelah mengenai kulit kerasnya. Wajar saja, kulitnya terbuat dari batu kuno yang sangat langka.
"He he he… dasar manusia bodoh. Kau pikir bisa melukaiku dengan anak panah lemahmu itu. Jangan harap!"
"Itu benar, jadi sebaiknya letakkan busurmu itu. Sujud pada kami sehingga kami bisa membakarmu dalam damai! Ha ha ha~"
Walau Naruto diejek, namun dia tetap terdiam. Dia tahu bahwa tujuan kedua naga itu untuk memprovokasinya sehingga tidak bisa berpikir jernih.
Naruto mengernyit dahinya, dia menajamkan matanya dengan penuh intimidasi. Pikirannya berputar dalam konsentrasi.
Kedua tangannya menjadi keras, dia berlari dan melompat. Mencoba memukul badan naga sekeras mungkin. Namun, dia malah yang terpental ke belakang.
'Sialan'. Dia berlari lagi dan lagi. Terus memukul tanpa henti. Kedua naga itu hanya tertawa keras, seakan pukulan itu bukan apa-apa bagi mereka.
Sekarang dia tahu bahwa itu sia-sia saja. Lalu apa yang harus dilakukannya agar bisa menang?
Tanpa menunggu lebih lama, kedua naga mulai menyerang Naruto sengan kedua kaki mereka. Naruto dengan susah payah mengindar, berhasil. Namun berikutnya dia terkena, luka sobek akibat cakaran naga tercetak pada lengan sebelah kirinya. Lengannya mati rasa, dan sulit digerakkan.
Menhindar, menghindar, dan menghindar. Hingga akhirnya salah satu cakar mengenai perutnya, menyebabkannya terkoyak dan terpental jauh ke belakang. Darah segar memancar dan membasahi lantai.
Yui yang menonton dari jauh ketakutan, takut akan papanya yang akan terbunuh. Tanpa dia sadari, dia berlari sekencang mungkin. Jatuh tersandung, lalu bangkit kembali.
"Papa!"
Naruto yang sedang berbaring mendengar itu langsung menoleh mendapati Yui berlari ke arahnya sambil menangis.
"Tidak, jangan kesini!"
Namun Yui tidak mendegar dan terus berlari, Naruto lalu berlari ke arahnya. Dia sempat melirik dua naga itu membentuk bola api yang sangat besar. Gabungan dari mereka berdua.
"Manusia, hari ini kalian akan mati!"
"Tidakkk, Argh~"
Mereka sempat berpelukan, namun api sudah di depan mereka dan
.
.
* Blarrrr *
.
.
ledakan yang memekakkan telinga terjadi, tanah berguncang. Ruangan di sini menjadi bergetar. Dua naga tersebut tersenyum puas, tapi sesuatu yang tak mereka harapkan malah terjadi.
Setelah cukup lama asap menghilang, Naruto masih berdiri di sana sembari menggendong Yui. Mata biru shaffire miliknya menatap dingin dua naga itu. Kristal ungu di dadanya bercahaya, urat-urat terjalin hampir di seluruh tubuhnya. Aura ungu berputar di sekelilingnya, memancarkan aura intimidasi yang kuat.
Dua naga itu jatuh, tertekan oleh gelombang dahsyat yang dikeluarkan Naruto. Aura itu, adalah hal yang akrab bagi mereka berdua. Ya, itu aura milik Master mereka, naga misterius yang memberi Naruto kekuatan.
"Kalian berdua naga bodoh, menyerang tanpa melihat dulu siapa lawannya. Jika putriku, Yui terluka, kalian kupastikan akan kuhancurkan menjadi debu. Oh ya, karena kalian juga menyerang anak ini, maka kalian harus melayaninya seperti kalian melayaniku!" Ucap naga misterius yang mengambil alih tubuh Naruto.
Kedua naga itu kembali tercengang, lalu menunduk meminta maaf, "Baiklah, master!"
"Master, jika boleh tahu. Siapa anak ini bagi anda!"
"Dia adalah anak yang kuberi kekuatan. Suatu saat nanti, dia pasti akan menjadi orang terkuat disaat itulah aku-"
Ucapannya terhenti, rupanya waktu baginya telah habis. Setelah itu, Naruto pingsan, tubuhnya kembali normal. Yui juga ikut pingsan mendekap pada dada Naruto.
Mereka tertidur kembali untuk waktu yang tidak diketahui.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued !
