Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 3
The Day
Sakura memandang gugup pintu kokoh di hadapannya. Jantungnya berdegub lebih kencang dari seharusnya, membuatnya beberapa kali meremasi tangannya yang berkeringat. Di belakangnya pria berotot itu masih menunggunya tak sabar. Sesekali Sakura meliriknya takut, ingin rasanya ia segera menyelesaikan misi ini, namun nampaknya belum ada tanda-tanda Sasuke akan muncul dengan segera.
"Sampai kapan kau akan berdiri di situ nona?" tanya pria di belakangnya tak sabar.
Sakura menghela nafas berat, ditatapnya pria itu dengan tatapan merendahkan hasil belajarnya dari Sasuke.
"Tuanmu saja sabar menunggu, kenapa kau harus terburu-buru hah?" tanya Sakura sinis. Pria itu hanya membungkukkan badan memohon maaf. Sakura segera berbalik kembali, menyembunyikan wajah resahnya. Dimana Sasuke?
Di lain sisi, Sasuke memandang aksi Sakura dengan bosan. Sakura nampak berdiri mematung di depan pintu kamar Yamato.
"Apa yang ditunggu gadis bodoh itu?" gumam Sasuke entah pada siapa. Hinata yang juga sedang menunggu aksi Sakura ikut-ikutan cemas, mengingat ini adalah misi pertama gadis itu.
Beberapa saat kemudian terlihat Sakura mulai menyentuh kenop pintu dan perlahan memasuki kamar Yamato, membuat Sasuke menyeringai puas.
"Hn, saatnya beraksi," ucap Sasuke sembari memakai topengnya dan segera turun, disambut dengan helaan nafas lega Hinata.
"Semoga berhasil Sakura," gumam Hinata tulus.
Sakura's POV
Aku tak tahu harus bagaimana. Pria berotot tak berotak di belakangku nampak mulai mencurigai gerak-gerikku. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk dalam otakku, membuatku ragu untuk melangkah. Sejujurnya aku tak siap untuk misi ini, tapi aku terlalu gengsi untuk tidak menyanggupi. Cercaan Sasuke yang tiada henti melukai harga diriku, membuatku semakin terjebak dalam permainannya. Aku yakin, saat ini dia sedang mengawasiku dengan tatapan meremehkannya dan komentar dinginnya. Takkan kubiarkan dia terus memperlakukanku seperti ini. Aku bersumpah akan membuatnya menyesal.
Perlahan kusentuh gagang pintu raksasa itu, mencoba menghalau keraguan yang sempat terasa.
Dalam hati segala perasaan buruk terus menghantuiku. Aku takut, takut jika nanti Sasuke tak muncul saat waktu eksekusi tiba. Aku ragu, ragu jika nanti aku tak mampu melawan pria hidung belang itu sendiri. Segalanya bisa terjadi, dan ini membuatku merasa terbebani.
Ayah, Ibu..apakah yang kulakukan ini benar?
Kulangkahkan kakiku memasuki kandang buaya laknat itu, memandang ke seluruh penjuru kamar luas dan mewah bergaya klasik dengan dominasi warna coklat yang meneduhkan. Kueratkan mantelku, mencoba mengurangi keraguan yang masih menyelimuti hatiku.
Pria di belakangku tadi sudah tak membuntutiku lagi, tampaknya ia berjaga di depan pintu kamar majikannya. Kudengar suara air dari arah kamar mandi. Nampaknya Yamato baru saja selesai membersihkan diri, aku semakin gugup sekarang.
Dengan ragu kubuka mantel yang semula kugunakan menyembunyikan lekuk tubuhku. Kupandangi tubuh indahku yang nampak semakin kencang akibat latihan rutin yang kulakukan akhir-akhir ini. Yaaa..setidaknya latihan yang diberikan Sasuke cukup bermanfaat juga.
"Kau nampak lebih muda dari yang kubayangkan," suara bariton khas pria dewasa menyeretku ke dunia nyata. "Kau ingin membersihkan diri dulu manis?" tawarnya sok ramah, membuatku muak mendengarnya.
Kugelengkan kepalaku pelan, mencoba memasang wajah se-menggoda mungkin. Sejujurnya ini bukan keahlianku, aku hanya berusaha menirukan tokoh-tokoh dalam film yang sering kutonton. Menggelikan!
"Berapa usiamu sayang?" tanya Yamato sambil menuangkan anggur ke dalam dua gelas kaki yang sepertinya sengaja disiapkan, kemudian memberikan satu gelas untukku. Kumainkan sedikit anggur dalam gelas itu, lagi-lagi meniru apa yang biasa kulihat di televisi.
"Usiaku? Apakah penting? Kupikir kau memesanku untuk kau tiduri, bukan untuk membuat kartu keluarga," jawabku asal, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kudengar Yamato terkekeh pelan, ia mulai menyentuh tubuhku dengan tangan-tangan kotornya. Aku mencoba menghindar, sebisa mungkin mengulur waktu.
"Aku sering melihat skandalmu di TV. Tapi nampaknya kau begitu ahli menyelesaikan masalahmu tuan," tanyaku berusaha memancing. Sesekali kutatap balkon kamar yang nampak sengaja dibuka, belum ada tanda-tanda kemunculan Sasuke rupanya. Aku mulai gelisah, apa pemuda itu sengaja menjebakku dalam permainan ini?
"Hmmm...kupikir kau kupesan untuk kutiduri, bukan untuk wawancara surat kabar," jawabnya telak, membalas ucapanku tadi rupanya.
Aku mulai panik saat kurasakan Yamato tepat berada di belakangku, nafasnya yang panas begitu terasa membelai tengkuk-ku. Kucoba untuk melepaskan diri, tapi pelukannya di pinggangku begitu erat. Dikecupnya tengkukku lembut dan dihirupnya rambutku yang sengaja kugerai, mencuri aroma tubuhku sebanyak yang ia bisa.
"Ini pertama kalinya bagiku tuan. Bisakah kau berikan aku waktu sebentar?" ucapku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. Berhasil! Yamato melepaskan pelukannya dari tubuhku.
"Benarkah? Haha, betapa beruntungnya aku," ucapnya bangga, membuatku benar-benar muak menatap wajah mesumnya. Entah mengapa nafsuku untuk menghabisi pria ini tiba-tiba muncul. Wajah mesumnya benar-benar membuatku jijik, rasanya ingin kuludahi wajah pria yang telah menghancurkan masa depan bocah-bocah tak berdosa itu.
Aku mulai berjaga dengan menggenggam pisau pemberian Sasuke yang kuselipkan dalam gaunku tadi dan menyembunyikannya dibalik punggungku.
"Kau ingin bermain sebentar manis?" ucap Yamato mulai mendekati tubuhku.
Semakin ia mendekat, semakin aku menjauhkan tubuhku darinya –masih dengan tatapan yang sengaja kubuat menggoda. Hingga akhirnya aku benar-benar terpojok, membuat pria mesum itu menyeringai senang.
Rasa jijikku semakin membuncah. Membayangkan bocah-bocah korbannya yang kini tak jelas nasibnya, membayangkan wajah bengisnya saat menikmati tubuh gadis-gadis belia dengan paksa. Aku muak, aku benci, aku benar-benar marah.
Tubuhnya kini berjarak sekitar dua meter dari tubuhku. Entah dari mana asalnya, keberanianku muncul. Kulemparkan satu buah pisau yang telah kusiapkan di balik tubuhku tadi. Ia tak sempat menghindar, pisau itu menancap tepat di lehernya, membuatnya jatuh terduduk sambil memegangi lehernya. Berharap dengan begitu dapat meyelamatkan nyawanya.
Yamato melotot memandangku. Nampak ia hendak mengatakan sesuatu, namun tak bisa karena pisau tertancap sempurna di lehernya. Ia mengeluarkan suara seperti kambing yang sedang disembelih, membuatku entah mengapa merasa terhibur melihatnya. Dicabutnya pisau itu. Fatal! Itu justru membuat darah semakin mengucur deras dari luka yang kubuat tadi.
"Kau menyelesaikannya lebih cepat dari yang kubayangkan," sebuah suara yang tak asing tiba-tiba hadir merusak suasana, membuatku tersadar tentang apa yang baru saja kulakukan. Rupanya sendari tadi pemuda itu memperhatikan aksiku dari balkon kamar. Sasuke melompat masuk, menghampiri tubuh Yamato. Seringai buas terpampang jelas menghiasi wajah manusia setengah iblis itu. Mata semerah darah miliknya memandang tubuh tak berdaya Yamato rendah, seolah pria itu hanya seonggok sampah tak berguna.
Kupandang Yamato yang masih menatapku nanar, samar-samar kudengar ia bicara tak jelas seolah mengutukku dalam ketidak berdayaanya,kemudian pandanganku beralih pada Sasuke yang nampak begitu menikmati aroma darah segar yang mengucur deras dari leher Yamato. Dihirupnya aroma anyir itu dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.
Baru kali ini aku melihat sisi gelap Sasuke yang sebenarnya, sosok iblis seorang Uchiha Sasuke.
Sasuke menghampiriku, membuatku semakin tenggelam dalam kedua iris semerah darah miliknya. Nafasku tercekat menatap wajah rupawan yang kini menatapku dengan senyuman iblisnya yang memukau. Aku tak sanggup mengedipkan mataku, matanya memaksaku untuk terus menatapnya dan melebur bersamanya, diserahkannya sebuah pistol siap tembak ke tanganku, memaksaku menggenggamnya dalam posisi tembak. "Selesaikan ini Sakura," bisiknya di telingaku.
Entah mengapa perintah Sasuke membuatku merasa terhipnotis. Aku merasa tersesat, rasanya seolah hanya dengan menuruti Sasuke-lah aku bisa kembali. Sasuke menatapku dengan senyuman yang sama, membuatku kehilangan nurani yang selama ini menjadi landasan utamaku dalam mengambil keputusan. Keraguan dalam hatiku musnah sudah. Aku akan menyelesaikan misi ini.
Kudekati tubuh Yamato yang tak berdaya, nyawanya berada di tanganku sekarang. Ku arahkan pistol Sasuke ke arah jantungnya. "Kau puas dengan layananku tuan?" ucapku untuk terakhir kali, sebelum akhirnya peluru menancap sempurna dalam jantungnya. Ya...aku mengakhiri hidupnya detik itu juga.
Kutatap Sasuke yang kini tengah menutupi tubuhku dengan mantelku tadi. Ia nampak memandangku puas. Dieratkannya mantelku, membuatku merasa sedikit nyaman. "Kujamin kau akan kecanduan setelah ini," ucapnya dengan seringai iblisnya. Setelah itu kurasakan kegelapan menyelimuti diriku. Aku tak lagi mengingat apa yang terjadi setelahnya.
End Sakura's POV
Sakura kehilangan kesadarannya setelah menyelesaian tugasnya. Ia bisa saja jatuh terjerembab jika Sasuke tak menangkap tubuhnya. Dipandangnya wajah lelah Sakura, membuat Sasuke terkekeh ringan. "Kau masih saja lemah rupanya," gumamnya meski tahu gadis dalam pelukannya itu tak mungkin mendengarnya.
"Sebaiknya kita cepat-cepat pergi teme. Itu juga kalau kau tak ingin mati terpanggang hidup-hidup," ucap Naruto yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, di belakangnya asap mulai mengepul.
Sasuke memutar bola matanya kesal sebelum akhirnya memberikan kode untuk segera keluar dari balkon kamar. Dibopongnya tubuh Sakura –seolah sedang menggendong karung beras– kemudian menghilang dalam kegelapan malam. Meninggalkan rumah megah yang kini terlalap api, menghapus jejak berdarah yang semula mereka tinggalkan.
######################
Sakura terlonjak kaget saat merasakan air dingin mengguyur wajah cantiknya. Ia terduduk sambil megap-megap seakan baru saja tenggelam dalam samudra seperti yang terjadi dalam mimpinya. Ditatapnya sang pelaku yang kini menatapnya datar, seolah tak melakukan kesalahan apapun. Seorang pelayan di belakangnya hanya menunduk takut sebelum akhirnya undur diri.
"Tak bisakah sekali-sekali kau bangunkan aku dengan cara sopan hah?" bentak Sakura kesal. Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya heran. Beraninya gadis itu membentak dirinya yang telah berbaik hati meluangkan waktu untuk sekedar membangunkanya.
"Kau berharap aku membangunkanmu dengan kecupan selamat pagi hah?" tanya Sasuke iseng, membuat wajah Sakura dirambati gurat kemerahan. Hal ini tentu saja membuat Sasuke geli, meski ekspresi itu disembunyikan rapat-rapat.
"Kau benar-benar mengharapkannya?" goda Sasuke sembari mendekati tubuh Sakura yang kini tengah menatapnya ngeri. Sakura memejamkan matanya sembari merapatkan diri ke sandaran tempat tidur dan menaikkan selimutnya hingga sebatas dagu saat merasakan wajah Sasuke semakin mendekat, jantungnya benar-benar berdebar kini. Ia tak berani membuka matanya barang sedetik, takut apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.
Sedang asyik-asyiknya membayangkan tentang apa yang akan dilakukan Sasuke padanya, tiba-tiba dirasakannya sentilan keras menghantam jidat lebar kebanggaannya. "Dalam mimpimu," ucap Sasuke penuh kemenangan karena berhasil membuatnya salah tingkah. Sakura menatapnya nanar, pemuda ini benar-benar menyebalkan.
"Bersihkan dirimu, yang lain sudah menunggu di ruang makan," ucap Sasuke santai sembari berjalan ke arah pintu. "Oh...hampir saja aku lupa. Sebaiknya kau mulai berdiet Sakura, tubuhmu ternyata lebih berat dari kelihatannya," lanjut Sasuke yang dihadiahi lemparan bantal oleh Sakura, namun meleset karena pemuda itu telah keluar sebelum bantal itu mengenai tubuhnya.
##################
Sakura menyantap sarapannya lahap. Seperti seorang pengemis yang tiga hari tak makan apapun. Pipinya menggembung, berisian roti bakar selai coklat kesukaannya dan beberapa makanan manis lain yang dilahap sekaligus. Siapapun yang melihatnya pasti akan terperangah dengan tingginya nafsu makan Sakura, tak terkecuali Sasuke yang duduk di sampingnya.
Menu sarapan Sasuke hanya telur setengah matang, roti panggang dan segelas jus tomat. Tak heran kini Sasuke mengerenyit jijik melihat cara makan Sakura yang benar-benar tak elegan. Nampaknya rasa lapar yang memuncak membuatnya lupa tata cara makan yang sopan dan benar.
Merasa diperhatikan, Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan bertanya, sembari terus mengisi mulutnya yang belum kosong. Tak ayal Sasuke merasa ingin muntah melihatnya, apalagi Sakura nampak kesulitan mengunyah sekarang.
"Kau bisa mati konyol dengan cara makan seperti itu," ucap Sasuke sambil membuang muka.
Sakura menjawab dengan gumaman tak jelas karena mulutnya masih penuh makanan, membuat Sasuke semakin kesal melihatnya. Ia benci bila ada orang yang bicara saat makanan dalam mulutnya belum tertelan. "Habiskan dulu makananmu, baru bicara," bentak Sasuke seolah sedang memarahi anaknya. Membuat anggota lain yang sedang menikmati santap pagi menatapnya heran.
Sakura mengerjapkan matanya sambil mengangguk lugu, kemudian kembali berusaha mengunyah makananya dan menelanya. Setelah merasa kenyang, ia meminum susu coklat hangat favoritnya.
"Ahhh..kenyangnya. Aku kelaparan Sasuke, semalam aku tak makan apapun," tutur Sakura enteng sambil mengelus perutnya –yang hanya ditanggapi lirikan sebal Sasuke. Ia memilih mengotak-atik iPod-nya daripada mendengarkan ocehan tak jelas Sakura.
"Selamat atas keberhasilan misimu Sakura," puji Sakumo setelah acara makan mereka selesai. Seluruh anggota turut bertepuk tangan memberikan selamat untuk Sakura.
"Maafkan kami yang meragukan kemampuanmu Sakura," ucap Naruto tulus, di sampingnya Hinata hanya tersenyum mengamini.
"Kau memang hebat Saku," ucap Sasori bangga, membuat Sakura ikut tersenyum sumringah.
"Hn, misi ringan seperti itu apa susahnya?" sahut Sasuke sinis. Yaa..pemuda itu memang ahlinya merusak suasana.
Sakura memandang Sasuke yang kini tengah menegak jus tomat tanpa gula kesukaannya. Sama sekali tak ada wajah bangga seperti yang biasa ditunjukkan seorang guru bila muridnya meraih keberhasilan.
"Tak bisakah kau hargai usahanya barang sedikit saja?" timpal Sasori tak suka, sukses membuat suasana tegang menyelimti ruang makan. Sakumo di ujung meja hanya menatap anak-anaknya dalam diam sembari menggeleng frustasi. Selalu begini kalau Sasuke dan Sasori beradu argumen.
Sasuke mendengus meremehkan. "Memberi pujian pada itik yang baru belajar terbang hanya akan membuatnya terjatuh karena besar kepala," sahut Sasuke asal. Sakura menggigit bibir bawahnya takut. Ia tak suka suasana semacam ini. Kenapa Sasuke selalu ketus saat bicara dengan siapapun? Tutur kata Sasuke selalu saja menusuk batin siapapun yang bicara dengannya. Membuat semua orang malas mengajaknya bicara jika tidak benar-benar terpaksa. Seperti saat ini, Sasuke merusak suasana kekeluargaan yang baru saja tercipta dengan komentar pedasnya, membuat anggota Exterminator lain menghela nafas lelah.
Setelah menghabiskan jusnya, Sasuke segera bangkit, membungkuk sebentar ke arah Sakumo kemudian melirik Sakura yang nampak belum sadar dari lamunannya. Karena kesal Sasuke menjambak rambut Sakura yang diikat tinggi, memaksanya berdiri dan mengikuti langkahnya. Alhasil Sakura berjalan mundur dengan tergesa, menahan sakit akibat jambakan Sasuke yang lumayan keras. Tangannya menggapai udara, seolah sedang memohon pertolongan yang hanya ditanggapi tatapan prihatin saudara-saudaranya.
Sasuke baru melepaskan jambakannya setelah mereka keluar dari ruang makan. Wajahnya nampak muram seperti biasa. Pemuda itu memang selalu terlihat menyeramkan, namun nampaknya pagi ini suasana hatinya lebih buruk dari biasanya.
Sakura berusaha keras menyamakan langkahnya dengan langkah Sasuke yang extra cepat. Mereka menuju ruang latihan tembak sekarang.
"Kapan aku mulai sekolah?" tanya Sakura di sela-sela perjalanan mereka.
"Besok," jawab Sasuke datar.
"Benarkah?"
"Hn,"
"Ah..aku akan sebangku dengan Hinata," ucap Sakura antusias.
"Kau akan sebangku denganku," sahut Sasuke dingin.
"Apa? Aku tak mau," tolak Sakura kesal.
"Terserah," timpal Sasuke datar.
"Sasuke, apa di sekolah kau punya teman?" Sasuke hanya diam, tak berminat menanggapi pertanyaan Sakura. "Apa ada yang suka padamu? Apa kau punya fans? Kau ikut extra apa?" dan bla...bla...bla... Sakura tak henti menanyakan pertanyaan tak penting meski tahu Sasuke takkan menjawabnya. "Sasuke, apa kau pernah punya kekasih? Aah...pasti kekasihmu mencampakkanmu ya?" pertanyaan Sakura yang terakhir berhasil membuat Sasuke menghentikkan langkahnya. Rahangnya nampak mengeras menahan amarah. Ditatapnya sepasang emerald yang kini terdiam karena menyadari kesalahannya dalam berucap. Didekatinya tubuh Sakura yang jauh lebih pendek darinya dan menguncinya dengan lengan kokohnya ke dinding di belakangnya.
"Dengarkan..." ucap Sasuke sebagai pembuka. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Sakura, membuat Sakura bisa merasakan nafas Sasuke menyentuh wajahnya. Sepasang mata elang itu menjeratnya kuat, membuatnya tak sanggup berkedip barang sedetik. "Jangan pernah campuri urusan pribadiku," ucap Sasuke penuh penekanan. "Hanya karena misi pertamamu berhasil dan semua orang memujimu, bukan berarti aku akan bersikap baik padamu. .Membencimu!" lanjutnya masih dengan tatapan tak suka sebelum akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Sakura dan melangkah mendahului gadis itu. Sakura menarik nafas dalam-dalam karena tanpa sadar sendari tadi ia telah menahan nafasnya. Ditatapnya punggung Sasuke yang melangkah jauh di depannya. Pemuda aneh itu sepertinya memiliki kepribadian ganda.
#########
Sasaran di depan Sakura tampak begitu kecil dari balik kaca mata pelindungnya, ini untuk kali ketiga ia mencoba menembak sasaran. Ia harus berhasil jika tak ingin mendapat pukulan rotan dari Sasuke lagi. Diliriknya Sasuke yang kini tengah duduk bosan sembari sesekali mengawasinya.
"Sasaranmu di depan, bukan aku. Atau kau memang berniat menembakku?" sindir Sasuke. Sakura menghela nafas, berusaha kembali berkonsentrasi. Ya..ingin rasanya Sakura menembak kepala pemuda sombong dan menyebalkan itu.
Baru saja berniat menembak, ketukkan pintu mengejutkan Sakura, membuat peluru meleset jauh dari sasaran. Diliriknya Sasuke sambil nyengir kuda, tampaknya Sasuke tidak terlalu terkejut. Dalam hati Sakura mengutuk siapapun yang merusak konsentrasinya, meskipun tanpa diganggu-pun tembakannya sudah pasti meleset.
"Kau dan Sakura ditunggu Ayah di ruangannya," ucap Naruto yang melongokkan kepalanya dari celah pintu.
Sasuke menghela nafas bosan, sementara Sakura berlonjak senang karena terbebas dari hukuman Sasuke. Segera saja ia berlari keluar sebelum Sasuke menghukumnya.
##############
Sakura duduk di depan meja Sakumo dengan mata bersinar senang. Ayah angkatnya itu bak pahlawan yang selalu menyelamatkannya dalam berbagai kesempatan. Bertolak belakang dengan Sakura, Sasuke kini sedang memandang Sakumo dengan tatapan bosan. Pria tua di hadapannya ini selalu saja merusak kesenangannya.
"Latihanmu lancar Sakura?" tanya Sakumo ramah membuka pembicaraan.
"Ya...Sasuke selalu mengajariku dengan sabar Ayah," jawab Sakura dengan nada cerianya, meskipun lebih terasa sebagai sindiran bagi siapapun yang mendengarnya. Bahkan Sakura sengaja memandang Sasuke dengan senyuman manisnya yang dibuat-buat, yang hanya ditanggapi dengan lirikan sinis Sasuke.
"Baguslah kalau begitu," ucap Sakumo sembari tersenyum hangat, membuat Sakura tiba-tiba merindukan Ayahnya.
"Langsung saja ke inti," sindir Sasuke yang tak tahan dengan basa-basi, lagi-lagi merusak suasana.
"Kau ini selalu saja begitu," ucap Sakumo pura-pura kesal. Lama-lama pria setengah baya itu tertular sindrom drama Sakura. "Aku cuma ingin memberikan ini," lanjut Sakumo sebelum akhirnya menyodorkan sebuah kotak yang langsung disambar Sakura. Di dalamnya berisi sepasang cincin berbahan emas putih dengan ukiran berbentuk S di tengah beserta sepasang permata mungil berlainan warna –onyx dan emerald di kedua lengkungannya, seperti yin and yan.
Sakura membelalakkan matanya takjub. Segera diambilnya salah satu cincin yang ukurannya lebih kecil dan memasangnya di jari manisnya. Ukurannya pas!
"Aaah...cantiknya! S untuk Sakura," ucap Sakura riang sembari memandang cicinnya yang melingkar manis di jemari lentiknya, membuat Sakumo tersenyum senang.
"Dan S untuk Sasuke," tambah Sakumo, membuat Sakura dan Sasuke menegang. Sakura baru menyadari ada satu cincin lain dengan ukuran lebih besar, yang pastinya milik Sasuke. Diliriknya pemuda yang kini tengah mendengus sebal. "Hanya properti. Kau absen dari sekolah dengan alasan bertunangan dengan kekasihmu di Amerika, bagaimana mungkin kau bertunangan tanpa cincin?" terang Sakumo santai, berpura-pura tak menyadari ekspresi kesal Sasuke.
"Kau benar-benar hobi membuatku repot," sahut Sasuke sebal. "Aku tak sudi memakainya," lanjutnya marah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dengan hati kesal. Sasuke bahkan membanting kasar pintu tak berdosa yang memisahkan ruang kerja Sakumo dan ruang keluarga.
Sakura memandang ekspresi kecewa Sakumo. Hatinya ikut perih menatap ekspresi tak biasa itu.
"Akan kupastikan Sasuke mengenakannya Ayah," ucap Sakura meyakinkan. "Suasana hatinya sedang buruk, jadi wajar kalau dia mudah kesal," lanjutnya sok memahami Sasuke.
"Kau terdengar seolah benar-benar kekasihnya Sakura," ujar Sakumo diikuti dengan tawa khasnya, kemudian terdiam smbari memasang wajah sok sedihnya lagi. "Padahal aku terbang jauh-jauh ke Swiss demi mendapatkan desain yang kupikir akan disukainya," lanjutnya dengan nada yang dibuat seolah kecewa. Sakura tertawa renyah menanggapi ocehan Sakumo, ucapannya terdengar seolah Sasuke adalah seorang tuan putri penggila perhiasan mahal yang telah menolak pemberiannya.
"Aku pastikan ia akan mengenakannya secepatnya," ujar Sakura sembari mengerling nakal, membuat Sakumo benar-benar tertawa lepas.
"Ya...ya... kau memang ahlinya sayang," timpal Sakumo diiringi tawa mereka berdua.
##############
Sakura mengetuk pintu kamar Sasuke, berharap pemuda itu belum terbuai mimpi saat ini. Begitu pintu dibuka Sakura menyodorkan kotak berisikan cincin yang seharusnya dipakai Sasuke.
"Sudah kukatakan aku takkan memakainya," ucap Sasuke dingin sembari bersiap menutup pintu kamarnya, namun Sakura menahannya.
"Aku tak memintamu memakainya. Setidaknya simpanlah, kau tahu kan aku ceroboh? Nanti hilang kalau aku yang menyimpannya" ujar Sakura berusaha meyakinkan.
Sasuke memandangnya datar, membuat Sakura menampilkan cengiran andalannya. Sasuke memutar bola matanya bosan, kemudian menyaut kasar kotak cincin itu dan segera membanting pintu sebelum Sakura mengoceh lebih lanjut.
"Baiklah, selamat tidur sayaang...mimpi indah," seru Sakura jahil, kemudian segera berlari memasuki kamarnya -yang berada tepat di depan kamar Sasuke- saat pemuda itu kembali membuka pintu, menampilkan tatapan kesalnya dengan posisi siap menjitak jidat Sakura.
"Jangan pernah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu Pinky!" teriak Sasuke kesal sebelum akhirnya membanting pintu kamarnya. Hari ini entah sudah berapa pintu menjadi korban tabiat buruknya.
############
Sasuke tengah menyetir mobil sportnya dengan wajah kusut, sekusut seragamnya yang terpasang asal. Kemejanya nampak tak beraturan dengan lengan yang digulung asal dan tak dimasukkan dengan sempurna, dasinya tersimpan rapi dalam tasnya yang hanya berisi beberapa buku tulis yang tak jelas apa mata pelajarannya. Yaaa...meskipun itu sama sekali tak mengurangi pesonanya.
Suasana hatinya sedang buruk pagi ini. Kalian tahu kenapa? Ya, ini semua gara-gara seorang gadis cantik yang tengah duduk manis di kursi penumpang dengan pose anggunnya, di sampingnya, di dalam mobil kesayangannya yang tak pernah sekalipun ditumpangi orang lain selain dirinya.
Kalau bukan karena perannya yang -mau tak mau- harus menjadi kekasih Sakura, pasti ia sudah menendang gadis itu keluar dari mobilnya yang kini dipenuhi aroma tubuh Sakura. Membuat Sasuke berkali-kali menjambak rambutnya frustasi. Sesekali diliriknya gadis yang baginya menyebalkan dan tak tahu diri itu. Wajahnya seolah-olah lugu tak berdosa. Membuat Sasuke semakin dongkol melihatnya.
Sakura berpenampilan rapi dengan seragam barunya yang nampak pas di tubuhnya. Rambutnya diikat tinggi dengan anak rambut yang sedikit dibuat bergelombang membingkai wajah cantiknya. Kecantikannya semakin terpancar dengan make up natural yang membuatnya tampil semakin memukau. Sudah dipastikan gadis itu akan menjadi pusat perhatian mulai hari ini, menyaingi pesona Hinata –kekasih Naruto.
Sakura melirik jemari Sasuke yang kini tengah menggenggam kemudi. Tak ada cincin melingkar di sana, membuat perasaannya kecewa. Berbagai kekhawatiran menghantui pikrannya. Bagaimana jika nanti Sasuke menyangkal bahwa mereka telah bertunangan? Bagaimana jika ada yang menanyakan tentang asal-usulnya dan Sasuke tak mau membantunya menjawab? Pemuda es itu nampak tak peduli padanya, dan itu membuat harga dirinya terluka.
Sakura memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Meskipun hanya properti, entah mengapa Sakura merasa cincin itu benar-benar mengikatnya pada Sasuke. Membuatnya merasa dimiliki meski hanya sandiwara.
Sepanjang perjalanan Sasuke hanya diam, begitupun Sakura yang enggan memulai pembicaran. Ia memilih bungkam ketimbang beradu mulut dengan Sasuke. Kebisuan terus berlangsung hingga mereka duduk di dalam kelas, padahal mereka sebangku. Sakura tak punya pilihan karena Hinata sebangku dengan Naruto dan tak ada bangku kosong lagi.
Sesekali Sakura memandang iri pada Hinata yang nampak begitu dicintai dan dimanjakan oleh Naruto. Pasangan kekasih itu memang hobi mengumbar kemesraan dengan berciuman saat ada kesempatan, atau hanya sekedar saling pandang dengan tatapan penuh cinta. Saat Hinata sedang bicara, Naruto selalu memandangnya dengan tatapan memuja, begitu pula sebaliknya. Bandingkan dengan dirinya, jangankan tatapan cinta, bicara baik-baik saja nampaknya mustahil.
Lihatlah Sasuke kini, ia tengah duduk santai di bangkunya sambil memejamkan mata dan mendengarkan musik dari iPodnya. Mengabaikan Sakura yang saat ini merasa menjadi manusia malang tak berkawan.
Meski hubungan mereka hanya sebatas sandiwara, Sakura tak bisa membohongi hati bahwa dirinya tengah merasa bagaikan kekasih yang tak dianggap.
"Apa kau benar-benar kekasih Sasuke?" tanya seorang teman barunya yang ternyata adalah fans berat Sasuke saat jam istirahat dengan nada tak yang tengah duduk di samping Sakura hanya berdehem ringan.
Merasa tak mendapat tanggapan gadis berwajah aneh itu kembali mengoceh tak jelas. "Dia absen dengan alasan bertunangan dengan kekasihnya di Amerika. Tapi rasanya aneh melihat hanya kau yang memakai cincin pertunangan. Apa kalian saling mencintai? Atau itu semacam pertunangan karna urusan bisnis?" cerocos gadis itu mulai kurang ajar.
Hinata melirik Sakura yang nampak menghela nafas berat. "Kau nampaknya sangat memperhatikan tunanganku nona, itu membuatku kesal," jawab Sakura dengan nada seolah merasa cemburu.
"Ciih...sombong sekali. Kau harus tahu kalau kami tak menyukaimu nona sok cantik. Ingat, kami para Sasu Lovers akan selalu mengawasi gerak-gerikmu," ujar gadis itu sinis sebelum meninggalkan Sakura dan Hinata yang hanya terbengong bingung.
"Aku baru tahu kalau Sasuke memiliki penggemar," bisik Sakura pada Hinata, membuat gadis itu tak sanggup menahan tawanya.
"Kita semua remaja normal Saku. Mungkin hanya di sini kau akan menemukan kehidupan normal sebagai manusia," gurau Hinata. "Mereka hanya belum tahu sosok Sasuke yang sebenarnya," canda Hinata yang disambut tawa Sakura. Ya..Sakura tahu betul maksud Hinata, Sasuke adalah manusia setengah iblis yang menyeramkan. Bicara tentang iblis, Sakura jadi teringat dengan sepasang mata semerah darah milik Sasuke. Ia masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang manusia mengubah warna matanya semudah itu tanpa lensa kontak.
"Hinata, mata Sasuke itu...apakah asli?" tanya Sakura takut-takut, membuat Hinata hampir menyemburkan minuman kaleng yang baru saja ditegaknya. Ditatapnya sepasang emerald yang kini memandangnya ingin tahu. Hinata kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar di belakang tubuh Sakura, memandang ke arah lapangan basket dimana Sasuke, Naruto dan beberapa teman prianya sedang berebut bola, membuat Sakura turut mengikuti pandangan Hinata.
"Mata itu...adalah mata yang telah merenggut hidupnya," ucap Hinata menarik perhatian Sakura. Sakura memandang Hinata sebentar, kemudian menatap Sasuke kembali. "Seluruh anggota keluarganya memilik mata itu. Itu adalah semacam kutukan yang mengikat," lanjutan Hinata tak urung membuat Sakura membelalakkan matanya. Ditatapnya sepasang lavender yang kini menatap langit dengan kosong.
"Apa pengaruh mata itu pada Sasuke?" tanya Sakura penuh rasa ingin tahu.
"Mata itu, membuat pemiliknya kehilangan hati nuraninya. Saat sepasang onyx Sasuke berubah warna menjadi semerah darah, ia akan kehilangan rasa kemanusiaannya. Oleh karena itu ia bisa dengan mudah membunuh tanpa ada rasa bersalah," ucapan Hinata terhenti saat mengingat masa lalu pemuda malang itu. "Keluarga Sasuke, semuanya meninggal dalam peristiwa pembantaian yang dilakukan kakak kandungnya," lanjut Hinata, membuat Sakura kembali terbengong tak percaya. Sasuke punya seorang kakak? Dan memiliki mata yang sama dengannya? Sakura jadi teringat sepasang mata sepekat darah yang lain, sepasang mata yang ditemuinya di malam keluarganya terbunuh.
"Apa yang terjadi pada kakak Sasuke?" Sakura nampak masih penasaran.
"Itachi kehilangan kendali atas kekuatan iblis dalam dirinya. Kutukan itu menguasai dirinya dan membuat nuraninya musnah tak berbekas. Ia membunuh semua orang yang dicintainya, menyisakan Sasuke yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar," terang Hinata.
"Di dunia modern seperti ini, hal seperti itu masih ada?" gumam Sakura heran. Diam-diam ia merasa kasihan pada Sasuke. Betapa malangnya Sasuke kecil saat itu, pantas saja pemuda itu kasar dan pemarah. Ia pasti tak ingin ada orang yang mencintai dan menyayanginya, ia takut suatu saat akan menyakiti orang-orang itu dan menyeret mereka kedalam kemalangan yang dialaminya. "Apa hal seperti itu juga mungkin terjadi pada Sasuke?" tanya Sakura tiba-tiba, membuat Hinata menegang. Tatapan ingin tahu Sakura membuat Hinata merasa terpojok, ia tak suka bahasan ini. Untungnya suara bel diiringi berhamburnya siswa-siswi yang memasuki kelas menyelamatkannya, meski Hinata sadar, Sakura takkan berhenti untuk mencari tahu.
##################
Panas begitu menggigit, membuat kulit mulus Sakura terasa terbakar. Sakura benar-benar kesal karena Sasuke melarangnya memakai lotion maupun pelembab wajah, kalau begini terus kecantikkannya bisa memudar. Setidaknya itulah anggapan Sakura.
"Mana ada pembunuh bayaran memakai make up?" begitulah Sasuke selalu menyindirnya. Terakhir kali ia nekat memakai lotion, Sasuke justru menjemurnya di bawah terik matahari selama berjam-jam. "Kita lihat seampuh apa lotionmu itu melindungi kulit," begitulah ejek Sasuke saat itu, membuat Sakura kapok dan berhenti menggunakan lotion karena tentunya akan percuma saja.
Setelah menyelesaikan lari tiga putarannya, Sakura menghampiri Sasuke yang tengah duduk santai berteduh di bawah rindangnya pepohonan dengan kaca mata hitam menutupi sepasang onyxnya.
"Kita akan latihan apa hari ini?" tanya Sakura terengah.
"Masih latihan tembak," jawab Sasuke ringan sembari bangkit dan berjalan mendahului Sakura yang kini mengikutinya dalam diam.
"Kenapa latihan itu lagi? Kau kan tahu aku tak pernah berhasil dengan yang namanya tembakan jarak jauh?" ujar Sakura memelas.
"Justru itu gunanya latihan bodoh!" sahut Sasuke sebal.
"Tapi kau selalu memukulku kalau aku gagal," gumam Sakura yang ternyata didengar Sasuke, membuat pemuda itu menghentikan langkahnya dan memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Karena kau baru akan berusaha keras jika berada di bawah tekanan," ucapnya dengan intonasi dan tatapan yang tak dapat dipahami Sakura. Sebelum berhasil mengartikan tatapan Sasuke, pemuda itu sudah membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah.
Kalau dipikir-pikir ucapan Sasuke ada benarnya juga. Perlakuan kasar Sasuke diam-diam memacu semangatnya. Sekarang ia tak lagi merasa terlalu kelelahan setelah dipaksa Sasuke untuk berlari tiga putaran dengan pemberat di kedua kakinya. Nafasnya menjadi lebih kuat, bahkan ia merasa setelah pemberat itu dilepas langkahnya terasa lebih ringan.
Sakura juga berhasil menguasai program yang diajarkan Hinata padanya. Itu semua juga berkat didikan keras Sasuke yang memaksa otaknya bekerja lebih keras di bawah ancaman alat penyiksa yang terpasang di kepalanya.
Puncaknya adalah malam dimana ia mencabut nyawa dari raga Yamato, entah dari mana asalnya, dirinya yang bahkan tak tega membunuh seekor kelinci dapat memiliki keberanian untuk membunuh manusia. Dan anehnya Sakura menikmati itu. Itu semua juga karena Sasuke yang memaksanya untuk ambil andil dalam misi meskipun memegang senjata saja belum becus.
Sakura menyadari bahwa ia lebih cepat belajar di bawah tekanan yang diberikan Sasuke. Ia juga tak lagi terlalu sering merengek dan bersikap manja. Akibat dari tekanan yang diberikan Sasuke, kini Sakura lebih bisa menahan emosinya dan tak lagi mudah sakit hati bila mendapat cercaan. Hinaan dan cacian yang diberikan Sasuke lebih terasa sebagai lantunan musik penyemangat baginya. Dan diam-diam ia selalu merindukan kata-kata kasar Sasuke bila pemuda itu jauh darinya.
Ya..nampaknya Sakura kita kini telah terjerat dalam pesona Uchiha Sasuke yang notabenenya manusia setengah iblis. Dipandangnya punggung kokoh yang kini berjalan di depannya itu. Ia ingin memahami pikiran pemuda malang yang sama sekali tak pernah dijangkau orang lain itu. Ia ingin mengetahui segala hal tentang iblis rupawan yang menggangu sekaligus mengisi harinya. Dan yang lebih penting, ia ingin Sasuke melihatnya...
Jika membunuh adalah satu-satunya yang menjadi prioritas dalam hidupmu...
Aku rela bila harus menjadi mangsamu...
Bawa aku dalam sisi gelapmu dan miliki aku sesukamu...
Asalkan kau tak pergi jauh...
Segalanya kuberi untukmu...
Di sisi lain, Sakumo memperhatikan kedua anaknya yang kini tengah berjalan beriringan. Senyuman senang terlihat menghiasi wajahnya. Nampaknya rencana yang ia susun berjalan sesuai harapan. "Semoga segalanya berjalan lancar," gumam Sakumo entah pada siapa.
TBC
Author's Place :
Weew... -.-"
Kok malah jadi gini yaa?
Ga tau mau ngomong apa...tolong review yaa... T.T
Makasih buat yang udah meluangkan waktu buat membaca fic yang rada ga jelas ini
Beri saran yang membangun...
Hanya dengan review para readers sekalian saya bisa bertahan hidup... #digampar gara2 lebay...
Masihkan feelnya ada?
Soal pair, sebenernya dari awal emang maunya SasuSaku, cuma pengen denger pendapat readers aja siih..hehe... *dijitak gara2 iseng...
Gomen...gomen...
Ehm, ngomong-ngomong aku habis bikin fic oneshoot loh...
Mohon dibaca dan dinilai...
Akhir kata...
^^R.E.V.I.E.W pleace^^
