Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 5
May I ?
Cuaca pagi ini benar-benar tak mendukung. Hujan deras menghiasi kota dilengkapi dengan macetnya jalan-jalan utama Konoha. Membuat semua orang mengumpat tanpa arti sembari berkali-kali menekan klakson, seolah dengan begitu kemacetan akan segera berakhir. Padahal yang mereka lakukan hanya akan menambah penat dan emosi, sama sekali tak menyelesaikan masalah.
Hal berbeda justru kita temui dalam salah satu mobil sport hitam yang menjadi salah satu korban kemacetan. Sangat sunyi diantara riuhnya suasana jalanan, yang terdengar hanya lantunan musik klasik yang menenangkan –meski tak berfungsi bagi si gadis yang kini tengah meremas tangannya gelisah. Sesekali muncul gumaman pelan dari bibir manisnya setiap memandang arloji di tangannya.
"Kenapa kau terlihat begitu santai? Kita sudah terlambat Sasuke," ucap Sakura setengah merengek.
Sasuke hanya menanggapinya dengan diam dan justru mengeraskan volume untuk menutupi suara berisik Sakura, membuat gadis itu mendelik sebal namun juga tak bisa berkata apa-apa selain mengelus dada. Merasa diabaikan, Sakura menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sembari menatap keluar kaca mobil. "Harusnya kau bersikap lebih hangat padaku," gumamnya lirih –yang ternyata didengar Sasuke.
Sepintas diliriknya Sakura yang kini memunggunginya, dilihatnya wajah cantik yang kini merengut sebal melalui pantulan bayangan di kaca. Kemudian pandangan Sasuke beralih pada jam digital di mobilnya, sudah lewat satu jam dari jam pelajaran pertama, membuat Sasuke ikut mendengus sebal. Mereka terjebak macet dan sama sekali tak dapat melaju, sudah sekitar sepuluh menit mobilnya benar-benar terhenti di sini.
Akhirnya mereka sama-sama menunggu dalam diam. Satu sama lain sama-sama merasa tak ada yang perlu dibicarakan. Apalagi Sakura, yang kini merasa begitu dingin meski Sasuke sudah menaikan suhunya, hatinya terasa membeku.
#######
"Pemasukan kita menurun drastis," ucap salah satu anggota di ujung meja. "Kita butuh memperbarui senjata dan pelatihan anggota baru yang berkualitas. Klient-klient utama kita tumbang satu per-satu. Padahal mereka penyokong dana terbesar bagi organisasi kita," lanjutnya dengan nada khawatir.
"Hn," sahut sang ketua yang kini menatap kosong dinding di hadapannya dengan posisi berfikir.
"Kita habisi saja mereka," sahut salah satu anggota beriris semerah darah dingin, menyembunyikan segala ekspresi dalam batinnya.
"Tak semudah itu Itachi," sela Kisame yang duduk di sampingnya. "Harus kita akui bahwa mereka sangatlah kuat."
"Mereka tahu betul potensi dalam setiap anggota, bahkan mereka berhasil menutupi identitas para anggotanya dengan sangat rapi," timpal Konan yang merupakan satu-satunya wanita dalam ruangan itu. "Kita bisa hancur kalau terus begini."
"Takkan kubiarkan itu terjadi," sahut sang ketua untuk pertama kalinya. "Itachi benar, selama ini kita sudah terlalu meremehkan pergerakan mereka."
"Jadi apa rencanamu?" tanya Konan tak sabar.
"Hancurkan mereka, dari dalam," jawab sang ketua tegas. Tatapannya masih datar meski sarat akan kebusukan. "Apa keputusanku melukai nuranimu Itachi? Bukankah saudaramu di sana?" sindir Pain dengan senyum mengejek.
Itachi mendengus pelan sebelum menjawab,"Mungkin, jika aku masih memiliki nurani," jeda sejenak. "Saudara? Jika yang kau maksud adalah adikku yang lemah dan tak berguna itu, aku bahkan lupa bahwa dia masih hidup," jawabnya tanpa ekspresi yang berarti.
Bohong! Ia benar-benar berbohong tentang yang terakhir. Meski nuraninya telah lama mati, ia tak pernah berhenti memikirkan adik kandungnya yang selalu menempati urutan pertama dalam hidupnya. Adiknya yang selalu ia banggakan dulu, adiknya yang selalu bersabar meski selalu dibanding-bandingkan dengannya, dan adiknya yang tak pernah sanggup untuk dihabisinya. Meski ia tak lagi memiliki nurani, Sasuke masih menempati sudut hatinya yang terdalam.
#######
Naruto memandang tubuh lebam penuh luka di hadapannya dalam diam. Tatapan dingin menusuk terlihat jelas dari sorot matanya yang biasa ramah. Di sampingnya, Sasori tak jauh berbeda. Ia masih memfokuskan diri pada secarik kertas berisikan catatan jawaban hasil interogasi.
"Kumohon...ampuni aku," ucap pria yang tak berdaya itu memelas dengan suara tercekat –yang hanya ditanggapi decihan meremehkan Naruto.
"Katakan pada kami, siapa yang membantumu memindahkan uang negara ke kantong Akatsuki?" bentak Naruto geram. Berkali-kali pertanyaan itu terlontar, berkali-kali pula gelengan ia dapatkan. Benar-benar keras kepala.
"Kita habisi saja dia. Ini hanya buang-buang waktu dan tenaga," ujar Sasori enteng.
Ucapan Sasori memberikan Naruto sebuah ide. Diraihnya sebuah map berisikan dokumen pribadi pria di hadapannya yang kini tak lagi berwajah manusia. Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya, kulitnya mengelupas akibat sabetan benang-benang besi, punggungnya juga membiru akibat sengatan listrik yang diterimanya.
"Kau masih mengingat mereka?" tanya Naruto dengan senyum menghina. Pria itu mendongak dan membelalakkan matanya ketika dilihatnya foto anak dan istrinya yang sangat ia cintai.
"Jangan sakiti mereka," teriak pria itu frustasi.
"Katakan pada kami siapa yang memerintahkanmu. Maka keselamatan mereka akan terjaga," tawar Sasori sekali lagi dengan nada membujuk. "Percayalah," lanjutnya meyakinkan.
Pria yang kini duduk terikat di kursi interogasi itu nampak menahan air matanya. Bahunya bergetar, hatinya terasa remuk mengingat anak dan istrinya yang kini mungkin tengah menunggu kepulangannya. Sejujurnya ia sangat mencintai keluarganya, ia tak ingin kehilangan keluarga kecil yang amat dicintainya itu. Apapun akan dia berikan untuk melindungi mereka, termasuk nyawa.
"Tu..tuan Madara," ucap pria itu terbata. "Madara Uchiha," lanjutnya ketika disadari nama yang baru saja disebutkannya membuat kedua pemuda di hadapannya menegang.
Naruto dan Sasori sama-sama tersentak mendengar nama yang baru saja disebutkan pria di hadapannya. Setahu mereka klan Uchiha sudah punah, menyisakan Sasuke dan Itachi sebagai generasi terakhir yang masih hidup.
"Bagaimana mungkin?" gumam Naruto sembari menjambak rambutnya frustasi, beberapa kali ia mengerjapkan matanya tak percaya. Setahunya Madara Uchiha sudah lama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat. Jasadnya memang tak pernah ditemukan, namun pesawat yang ia tumpangi ditemukan hancur tak bersisa sehingga memunculkan spekulasi bahwa pria itu telah lenyap bersama lautan. Ini gila, jadi misi mereka saat itu gagal?
Kepala Naruto tiba-tiba terasa pening, ia tak dapat berpikir dengan jernih. Dua orang Uchiha kini berada di pihak lawan, sedangkan yang kini berada di satu pihak sedang sering-seringnya melakukan pemberontakan kecil dan bukan tak mungkin suatu saat juga akan melepaskan diri. Naruto semakin bingung saat memikirkan apa yang hendak ia jelaskan kepada Sakumo nanti.
"Selesaikan semua ini, aku lelah," bisik Naruto pada Sasori yang hanya mengangguk lemah.
Sasori mengambil sebuah suntikan berisikan cairan bening dan mendekati tubuh pria tak berdaya yang kini menangis memohon ampun.
"Kami akan menjaga anak dan istrimu," ucap Sasori sembari mendekati tubuh pria di hadapannya. "Ini mungkin akan terasa sedikit menyakitkan, tapi aku berjanji takkan lama," lanjutnya sembari mengusapkan kapas yang mengandung alkohol ke lengan pria itu. "Semua sakitmu akan segera berakhir," ucapnya sambil tersenyum dan menyuntikkan cairan ke tubuh pria itu.
Sasori kemudian mendorong Naruto untuk segera meninggalkan ruangan. Ditutupnya pintu ruangan interogasi. Sepintas terdengar jerit kesakitan dan teriakkan putus asa dari dalam ruangan, sementara Naruto terduduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dingin di belakangnya. Selalu begini, ia selalu akan menyesali setiap penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukannya.
Naruto memang bukan Sasuke yang sanggup melupakan rasa bersalah hanya dalam sedetik. Ia juga bukan Sasori yang selalu bisa bersikap tenang saat melakukan eksekusi. Ia selalu menangis putus asa dan menyembunyikan rasa bersalahnya dalam diam. Bahkan Naruto juga menutupinya dari kekasihnya, Hinata.
"Beginilah tugas kita. Kematiannya adalah sebuah kebenaran. Tuhan akan menghargai pengakuannya. Jika bukan di tangan kita, Akatsuki pasti juga takkan tinggal diam," ujar Sasori menenangkan. Ia hafal betul dengan arti ekspresi seseorang. Dan ia tahu betul, meski nampak biasa di luar, Naruto selalu menangis dalam hatinya.
"Kau benar, ini memang sudah menjadi tanggung jawab kita," gumam Naruto dengan tatapan kosong memandang langit-langit lorong.
#######
Jalanan sudah mulai normal setelah sekitar satu jam mereka terjebak. Sepintas Sasuke melirik gadis di sampingnya yang kini terbuai mimpi. Pantas saja tak terdengar suara berisiknya. Sekarang Sasuke justru bingung hendak kemana. Terlalu terlambat untuk pergi ke sekolah, tapi juga masih enggan untuk pulang. Akibatnya ia justru mengarahkan mobilnya keluar kota. Entah apa yang dipikirkan Sasuke, ia hanya ingin pergi jauh dari keramaian kota.
Mereka akhirnya sampai di sebuah bukit yang sangat sejuk. Banyak pepohonan rindang dan bunga-bunga yang tertata rapi di kanan-kiri jalan. Sesekali mereka berpapasan dengan pasangan lansia yang berjalan beriringan, membuat siapa saja iri melihatnya.
Sasuke akhirnya memarkirkan mobilnya di tepi sebuah danau. Segera saja ia turun dan merenggangkan tubuhnya yang lelah setelah menyetir berjam-jam. Ia kemudian memilih duduk di sebuah kursi taman di pinggir danau, berharap dengan begitu segala penat dalam pikirannya dapat terkikis perlahan.
Sementara itu, Sakura yang sendari terlelap perlahan-lahan membuka matanya. Dilihatnya pemandangan diluar kaca mobil yang sangat memanjakan emeraldnya.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar. Diliriknya kursi di sampingnya yang kini kosong. Matanya mencari-cari sampai akhirnya Sakura memutuskan untuk turun.
Tempat ini sangat indah, udaranya juga segar. Berbagai bunga terlihat tertata rapi, berkelompok dengan warna yang sejenis. Sakura akhirnya menemukan pemuda yang sendari tadi mengacuhkan keberadaannya. Rupanya Sasuke sedang menatap kosong danau yang membentang luas di hadapannya.
Sakura akhirnya menghampiri Sasuke dan duduk di sampingnya, meski lagi-lagi pemuda itu mengabaikannya. Merasa Sasuke tak menyadari kehadirannya, Sakura mengecup pipi pemuda yang masih mematung dengan ekspresi stoicnya, membuat Sasuke membulatkan onyxnya dan menatap Sakura sebal. Yang dilihat justru pura-pura tak tahu dan menatap ke arah lain.
Sasuke akhirnya hanya mendengus pasrah dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman.
"Kau tahu Sasuke? Dulu ayahku selalu mengajakku ke danau saat akhir pekan. Aku sangat senang, karena ayah tak pernah melupakan akhir pekan bersama keluarga. Sesibuk apapun dia, Ayah selalu meluangkan waktunya untuk mengajakku jalan-jalan," celoteh Sakura berusaha menghalau kesunyian diantara mereka.
"Kau merindukan mereka?" tanya Sasuke menanggapi. Ternyata sendari tadi pemuda itu mendengarkan celotehan Sakura yang selalu dianggapnya tak penting.
Sakura mengangguk dalam diam. Rasanya selalu ingin menangis bila membahas tentang almarhum orang tuannya.
"Lupakan mereka," sahut Sasuke dingin. "Mereka hanya akan menjadi penghalang untukmu."
Sakura tersenyum pahit menanggapi ucapan Sasuke. "Kau benar. Mereka hanya akan menjadi penghalang," ucapnya getir.
"Kita doakan mereka untuk terakhir kali," ujar Sasuke sembari berdiri. Tubuhnya yang menjulang menghalangi sinar mentari yang mengarah ke tubuh Sakura, tangannya mengulur pada gadis yang kini memandangnya bimbang. "Setelah ini jangan pikirkan mereka lagi."
Sakura memandang telapak tangan Sasuke yang mengarah padanya. Entah apa yang merasuki pemuda itu, tapi Sakura meraihnya juga. Ia bahkan hanya pasrah saat Sasuke menariknya menuju jalan setapak dan mengikuti langkah pemuda di depannya yang terus mendaki anak tangga di hadapannya.
Pemuda itu tak mengatakan hendak membawanya kemana, namun langkahnya terhenti di depan sebuah kuil tua di atas bukit, beberapa orang datang untuk berdoa dan meninggalkan beberapa permohonan dalam selembar kertas yang kemudian digantungkan di langit-langit kuil.
Sakura hanya memandang heran sembari mengikuti langkah Sasuke memasuki bangunan tua itu. Seorang penjaga kuil menghampiri mereka dan membungkuk memberi salam. Pria yang tak lagi muda itu tersenyum ramah pada Sakura, namun pandangannya berubah saat menatap Sasuke yang kini mencoba tersenyum.
"Kekuatan iblis bertemu dengan kesucian nurani sang dewi. Semoga Tuhan melindungi kesucian sang Dewi dan membersihkan kebusukan sang Iblis," ucap si pria tua yang hanya ditanggapi tatapan bertanya Sakura. Pria itu kemudian menatap Sakura dengan lembut. Setelah memberi salam kakek tua itu berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih saling pandang dengan tatapan bertanya.
Karena sama-sama tak mengerti, Sakura memutuskan untuk segera memulai doanya.
Selagi Sakura berdoa, Sasuke menatap punggung gadis yang sesekali bergetar menahan tangisnya. Ia tahu posisi Sakura, ia tahu betul rasanya hidup sebatang kara apalagi menyaksikan keluarganya dibantai di depan mata. Tapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Melupakan mereka adalah satu-satunya jalan untuk tetap bisa melanjutkan hidup, meski Sasuke tahu, itu tak pernah mudah.
#######
Sekelompok manusia berjubah hitam berdiri di depan sebuah pemukiman yang dipenuhi rumah-rumah tradisional. Ini adalah sebuah desa di sudut Konoha. Sebuah desa yang dihuni puluhan manusia pendekar pedang dan bangsawan Jepang. Entah atas dasar apa, Akatsuki mendapat misi untuk memusnahkan desa ini beserta penduduknya. Yang terpenting bagi Akatsuki kini adalah mengatasi defisit keuangan yang terjadi, entah bagaimana caranya.
Sekelompok manusia berjubah hitam bermotifkan awan merah itu segera menyebar dan mencari posisi tepat. Dua anggota memulai dengan menyiramkan minyak tanah ke sekitar bangunan kemudian segera menyulutnya dengan api. Tak butuh waktu lama, api segera menjalar menuju bangunan-bangunan kayu beratapkan jerami. Beberapa orang berlarian keluar dan langsung mendapat serangan dari anggota Akatsuki. Beberapa mati terpenggal, beberapa mati terembak. Seperti perintah, tak ada satupun yang boleh tetap hidup.
"Segera bereskan mereka. Bakar bersama bangunan-bangunan yang ada," ucap sang pemimpin yang hanya memandang dari kejauhan.
"Apa yang kita lakukan tak berlebihan?" tanya Konan yang berdiri di sampingnya. Memperhatikan Itachi yang menembaki penduduk tak berdosa itu dengan santai.
"Kita hanya mengerjakan sesuai pesanan," jawab Pain santai.
"Kau mulai menyukai misi-misi bodoh seperti ini hah?"
Pain meraih pinggang Konan yang berdiri di sampingnya dan mengecup tengkuk wanita yang selalu mendampinginya sejak memulai pekerjaan terlarang ini. "Bukankah kau merindukan misi-misi ringan seperti ini?" bisiknya sembari menciumi pipi wanitanya. Konan menatapnya bingung. "Dan aku tak suka kau memandang bahwahanku dengan tatapan yang hanya boleh kau berikan padaku," lanjutnya dengan tatapan mengancam sebelum akhirnya mengecup bibir lawan bicaranya yang hanya ditanggapi diam. Segala sentuhan pria itu telah terasa berbeda sekarang. Dari sudut matanya Konan bisa merasakan tatapan Itachi yang begitu menusuk batinnya sebelum akhirnya melanjutkan aksi membosankannya. Tatapan pria yang telah mengisi hatinya sejak awal pertemuan mereka.
#######
Rasanya hari begitu cepat berlalu akhir-akhir ini. Belum apa-apa, tiba-tiba Sakura sudah duduk untuk sarapan bersama lagi. Di samping Sasuke yang lagi-lagi mengacuhkannya, di depan Naruto dan Hinata yang lagi-lagi membuat iri hatinya dan di hadapan piring berisikan menu diet rendah kalori yang dipilihkan Sasuke. Sakura hanya menyendok makanannya malas. Rasanya ia ingin sekali terjebak macet seperti kemarin dan membiarkan Sasuke membawanya ke tempat indah itu lagi. Sakura benci sekolah!
"Sepertinya Akatsuki benar-benar mulai kurang kerjaan," ucap Sakumo di ujung meja sembari membolak-balik korannya. "Mereka mulai panik karena kekurangan dana."
"Ya..bahkan mereka menurunkan derajatnya sendiri dengan menerima misi-misi tolol," sahut Naruto yang telah menyelesaikan makannya.
Tak ada yang menyadari ekspresi penuh kebencian Sasuke selain Sakura. Sasuke meletakkan alat makannya dengan setengah membanting. Membahas Akatsuki selalu merusak suasana hatinya.
"Aku dan Sasuke berangkat duluan, kami ada piket pagi," ucap Sakura mengintrupsi diskusi. Semua mata memandangnya heran, seolah bertanya 'Sejak kapan Sasuke mau piket pagi?'.
Sakumo hanya tersenyum maklum dan mengangguk mengizinkan. 'Dia memang yang selalu paling peka,' batin Sakumo senang. Ia hanya memandang punggung Sasuke yang mulai mengikuti langkah Sakura dengan senyuman penuh arti.
Kemajuan hebat!
#######
Sasuke dan Sakura adalah pasangan yang paling sering menjadi bahan pembicaraan seantero KHS saat ini. Paling populer dan paling sempurna dimata kawan-kawannya. Banyak yang mendukung, banyak pula yang mencerca. Maklum, Sasuke adalah cowok paling populer dan paling diminati.
Ada pemandangan berbeda saat mereka memasuki ruang kelas. Nampak siswa-siswi memadati salah satu bangku di tengah ruangan. Dari kejauhan sepintas Sakura bisa melihat rambut kemerahan milik pemuda yang sedang dikerumuni, sampai akhirnya pandangan mereka bertemu. Masing-masing tersentak dan saling pandang.
"Gaara?" gumam Sakura pelan sementara pemuda itu berdiri dan menghampiri tubuhnya.
"Sakura, inikah kau?" tanya Gaara seolah tak percaya. Matanya yang biasa tanpa ekspresi kini nampak begitu cerah, seakan menemukan harta karun yang hilang.
Sasuke yang berdiri di antara mereka hanya mengangkat sebelah alisnya heran. Pemandangan seperti ini rasa-rasanya sering muncul di sinetron yang sering ditonton gadis aneh berkepala pink itu. Belum lagi adegan selanjutnya yang membuat matanya membulat sempurna. Pemuda asing berambut merah mirip Sasori itu memeluk Sakura erat, membuat suasana kelas hening seketika dan beralih menatap sang Uchiha. Selama ini tak ada yang berani meneyentuh Sakura karena tahu gadis itu milik Uchiha Sasuke, tapi apa yang dilakukan anak baru ini? Ia justru memeluk Sakura, di hadapan Sasuke yang diketahui sebagai tunangannya. Sasuke semakin geram manakala dilihatnya Sakura bukannya melepaskan tetapi malah membalas pelukan Gaara.
Merasa ada yang menjanggal dalam dadanya Sasuke berdehem ringan, mencoba menyadarkan dua insan yang kini tengah melepas rindu bahwa ia masih berdiri di sana. Menyadari hawa negatif di sampingnya Gaara dan Sakura segera melepaskan diri. Sepintas Sakura menangkap tatapan aneh Sasuke yang kini memandang pemuda tampan beriris zambrut di hadapannya.
"Aa, Sasuke, perkenalkan. Ini Gaara. Dia teman masa kecilku saat masih tinggal di Tokyo," terang Sakura menjelaskan.
"Salam kenal," ucap Gaara sembari mencoba mengulas senyum dan mengulurkan tangannya yang hanya ditanggapi tatapan merendahkan Sasuke –sama sekali tak berniat menjabat tangan yang kini terulur di hadapannya.
"Kau harusnya meminta izin sebelum menyentuh milik orang lain," ucap Sasuke dengan nada tak suka sembari menarik Sakura melewati tubuh pemuda yang kini menggenggam udara. Gaara bahkan hanya terbengong saat dirasanya Sasuke menabrak bahunya dengan sengaja.
Sasuke sendiri tak paham dengan apa yang dirasakannya. Perasaan seperti dicubit dari dalam tiba-tiba terasa merambati dadanya. Ia bukan tak paham dengan cara Gaara menatap Sakura. Meskipun tak pernah menunjukkan emosi yang berarti, Sasuke paham tatapan memuja itu. Tatapan yang selalu dihadiahkan Sakura ketika mereka bicara. Senyuman yang selalu Sakura tunjukkan padanya setiap kali gadis itu mencoba menggodanya. Sasuke tahu betul ekspresi macam apa itu, dan entah mengapa itu membuatnya merasa muak. Tanpa sadar kehadiran Gaara mengusik batinnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir –memandang ekspresi langka seorang Sasuke Uchiha yang kini nampak mengeras– setelah mereka duduk di bangku masing-masing. Tangan Sakura menyentuh kening Sasuke. Berbeda dari biasanya, kali ini Sasuke tak menepis tangan mungil yang terasa menyalurkan ketenangan dalam dadanya. Dan entah karena kerasukan apa, Sasuke menarik tangan mungil itu, membuat si empunya meringis terkejut. Secara tiba-tiba Sasuke menarik tubuhnya mendekat dan membungkam bibirnya kasar. Sasuke menciumnya brutal, membuat Sakura tersentak karena merasakan emosi di sana.
Dari ekor matanya, Sakura bisa menangkap ekspresi terkejut teman-teman sekelasnya yang kini memandang mereka takjub, seolah dihadapkan pada pertunjukan menarik. Tak tahan dengan pandangan yang tertuju padanya, Sakura memejamkan matanya, berusaha menikmati dan mengimbangi permainan bibir Sasuke yang kini semakin menggila dan semakin mengeratkat tubuh mereka.
Di lain pihak Sasuke mencoba menghentikan aksinya, ia nampak berusaha mengendalikan dirinya dan menghentikan kegiatan gila ini. Namun bukannya melepaskan tubuh gadis di hadapannya, yang terjadi justru ia semakin memperdalam ciuman mereka. Ia hanya ingin melepaskan sesak di dadanya, ia membutuhkan pelampiasan atas broken morning yang menyambut harinya pagi ini. Dan entah atas alasan apa, ia seolah ingin menegaskan bahwa Sakura miliknya.
Sasuke mulai menemukan kesadaran ketika bel tanda masuk dibunyikan. Perlahan ia melepaskan cengkramannya di tengkuk Sakura dan memundurkan wajahnya. "Kau benar-benar menyebalkan," bisiknya tepat di telinga Sakura. Gadis itu nampak memerah, apalagi ketika menyadari Naruto kini terkikik geli menanggapi tingkah 'sepasang kekasih' itu.
#######
Sakura memandang kosong langit di atasnya yang nampak mengejeknya. Sesekali disentuhnya bibir tipisnya yang terasa sedikit linu akibat ciuman kasar pemuda yang amat dicintainya itu.
"Ia nampak begitu posesif padamu," ucap sebuah suara dari belakang mengejutkan Sakura. "Aku tak percaya ia begitu pencemburu," lanjut Gaara sembari mengambil posisi di samping Sakura.
Sakura hanya tersenyum kecut, enggan menanggapi. Ia bahkan tak mengerti apakah itu ekspresi cemburu atau hanya sekedar pelampiasan emosi seorang Uchiha Sasuke.
"Aku merindukanmu Sakura," ujar Gaara mencoba membuka pembicaraan.
"Aku juga. Lama tak bertemu," sahut Sakura sembari tersenyum lembut.
"Kau menghilang setelah...ehm, maaf," Gaara tak menyelesaikan ucapannya setelah menyadari perubahan ekspresi Sakura yang kini terlihat muram.
"Aku tahu. Bukankah aku beruntung telah selamat dari tragedi itu?" sahut Sakura getir.
"Kau tinggal dimana sekarang?" tanya Gaara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku menemukan keluarga baru. Kau tak perlu khawatir," jawab Sakura setelah menyadari bahwa ia harus menyembunyikan identitas keluarganya.
"Kudengar kau dan Sasuke bertunangan. Kenapa kau tak pernah menceritakan apapun tentangnya ketika kita masih di Tokyo?" tanya Gaara penuh selidik. Sejujurnya ia sangat terkejut saat diberi tahu bahwa pemuda bersama Sasuke itu adalah tunangan Sakura, mengingat gadis itu tak pernah membahas pria manapun selama mereka saling mengenal.
Sakura mencoba memutar otak, mencari alasan terbaik untuk mengelabui pemuda di hadapannya.
"Aku dan Sasuke sudah lama saling mengenal, ayah Sasuke adalah rekan kerja ayahku saat berada di Amerika. Tapi kami memang jarang berkomunikasi sebelumnya. Setelah kejadian mengerikan yang menimpa keluargaku, keluarga Sasuke memintaku untuk tinggal bersama mereka di Konoha," terang Sakura panjang lebar yang hanya ditanggapi anggukan Gaara.
"Kau...sangat mencintainya ya?"
Sakura sedikit tertegun mendengar pertanyaan menggelikan itu. "Lebih dari apapun," jawabnya sembari tersenyum kecut. "Bagiku Sasuke adalah tujuan hidup. Jika bukan karena dia, aku takkan bisa setegar ini," lanjutnya tanpa dusta. Meski hubungan mereka palsu, tapi perasaannya pada Sasuke adalah nyata.
"Sayang sekali. Aku takkan mendapat kesempatan rupannya," ujar Gaara dengan nada yang dibuat menyesal yang hanya ditanggapi tawa rendah Sakura.
Sakura bukan tak tahu pemuda di hadapannya sudah lama memendam rasa padanya, berkali-kali Gaara menyatakan perasaannya dan berkali-kali pula Sakura menolaknya. Baginya Gaara adalah kakak yang tak pernah dimiliknya, tidak lebih.
"Sebaiknya kita segera kembali, sebentar lagi bel berbunyi," ucap Gaara sembari membantu Sakura berdiri. Mereka berjalan beriringan menuju kelas, Gaara merasa teriris saat Sakura berlari dan mengapit lengan Sasuke ketika pemuda itu berjalan berjarak sekitar tiga meter di depan mereka. Gadis itu nampak bergelayut manja sembari sesekali berusaha menarik perharian Sasuke dengan ucapannya. Bahkan senyuman tipis nampak terlihat dari bibir Sasuke ketika pemuda itu berusaha berpura-pura tidak memandang Sakura yang terus berusaha mengalihkan perhatiannya untuk memandang gadis itu. Sepintas, mereka nampak berhasil membuat semua orang berfikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih, sampai saat Gaara menyadari, cincin pertunangan hanya melingkar di jari manis Sakura.
#######
Kemampuan menembak Sakura sudah jauh lebih baik sekarang berkat pelatihan keras Sasuke. Gadis itu nampak senang ketika menyadari lima peluru berhasil mengenai balon-balon air yang sengaja dipasang Sasuke sebagai sasaran tembak, apalagi Sasuke kini memandangnya puas.
"Bagus! Pertahankan!" meski hanya ucapan singkat, namun bagi Sakura itu adalah kata-kata terindah yang selalu diharapkannya keluar dari bibir manis Sasuke.
Pemuda itu tak lagi sesering dahulu memarahinya. Sasuke bahkan dengan telaten mengajari Sakura memegang pedang dan beberapa tekhnik bela diri, membuat Sakura semakin bersemangat menjalani latihannya. Sasuke juga menyadari, menggunakan cara keras tak lagi berguna untuk melatih gadis bodoh ini, karena ia memiliki segala hal yang akan membuat Sakura menurut hanya dengan satu sentakan.
Dari kejauhan diam-diam Sakumo memperhatikan interaksi kedua remaja labil yang kini tengah beradu pedang kayu. Terlihat Sakura berkali-kali kehilangan kendali dan mulai memukuli apa saja yang ada di hadapannya dengan membabi buta sehingga tak menyadari bahwa Sasuke menyerangnya dari belakang. Gadis itu nampak meringis saat dirasanya sebuah pedang kayu memukul kepalanya pelan. Melihat ekspresi kesakitan Sakura membuat Sasuke tertawa renyah. Ia nampak sangat puas berhasil mempermainkan gadis manis yang kini menatapnya sebal.
'Kau menikmatinya Sasuke?' batin Sakumo senang sembari tersenyum penuh arti.
#######
Dentuman musik terasa menghipnotis setiap insan. Shikamaru nampak dengan lihai memainkan perannya sebagai DJ handal kebanggaan klub malam ini. Sesekali ia nampak melambaikan tangannya, menyabut Sasuke yang kali ini tak datang sendiri, nampak Sakura mengekor di belakangnya sembari sesekali mengamati orang-orang yang kini menikmati musik di lantai dansa.
Sakura hanya menurut saat Sasuke menyuruhnya untuk duduk di salah satu kursi bar yang kosong di sebelahnya. Tak lama nampak seorang bartender muncul di hadapan mereka.
"Woow...inikah gadis manis yang mengacaukan pikiranmu?" sindir Sai saat menyadari kehadiran seorang gadis manis yang kini dibalut mini dress tanpa lengan berwarna hitam, membuatnya nampak bercahaya dibawah temaramnya suasana klub.
Sakura hanya memandang Sasuke tak mengerti, sementara pemuda itu nampak memberikan tatapan membunuh pada bartender yang nampak telah akrab dengannya, sementara yang ditatap hanya terkekeh ringan.
"Libur dari misi Sasuke?" tanya Sai sembari mengelap gelas-gelas yang baru saja dicucinya.
"Hn," jawab Sasuke seadanya. "Kau tak ingin kembali?" tanya Sasuke yang ditanggapi tawa rendah Sai. Sementara Sakura lebih memilih mendengarkan pembicaraan kedua teman lama itu.
"Aku menikmati hidupku sebagai pekerja lepas. Menjadi pengintai bagiku cukup."
"Tch, itu karena kau selalu mengandalkan nuranimu." Sahut Sasuke sembari menegak minuman non-akohol di hadapannya. "Dengan kemampuan menembakmu dan reflek bagusmu itu kau bisa saja mengalahkanku."
"Bagiku itu tak mudah Sasuke," ujar Sai dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah teduhnya. "Wajah mereka saat memohon pengampunan salalu membayangiku."
"Mereka pantas untuk mati," Sasuke nampak tanpa beban mengucapkannya, membuat Sakura yang sendari tadi hanya berperan sebagai pendengar bergidik ngeri.
"Suatu saat kau akan menemukan sesuatu yang membuatmu merasa harus berhenti Sasuke. Kau akan menemukan sesuatu yang menuntutmu untuk menghentikan semua kegilaan ini," terang Sai masih dengan senyuman lembutnya sembari menatap Sakura. "Kutitipkan adik manisku ini padamu nona," ujar Sai dengan senyum lembutnya sebelum ekspresinya berubah setelah menatap seseeorang yang berdiri beberapa meter dibelakang tempat mereka ngobrol. Secara tak terduga Sai melompati meja bar dan mendekap tubuh Sasuke dari belakang, menyembunyikan tubuh Sasuke dibalik punggungya.
Kejadiannya begitu cepat, sebelum akhirnya jeritan dan teriakkan panik terdengar membahana dalam ruangan itu, sepintas terdengar suara letupan senjata api. "Kau akan baik-baik saja Sasuke," bisik Sai sebelum akhirnya tersungkur melepaskan tubuh Sasuke. Sakura masih mematung sembari mencari-cari sumber tembakan. Pengawal yang tersebar dalam klub itu bergerak cepat mengejar si penembak. Pengamanan mereka lengah, membuat salah satu agen terbaik mereka hampir saja kehilangan nyawa.
Sasuke masih terdiam memandang Sai yang masih tersenyum dalam detik terakhir hidupnya. Pemuda yang selalu mengandalkan nuraninya dalam melakukan segala hal itu kini menggenggam jemari Sasuke, nafasnya mulai terlihat hampir habis.
"Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri Sasuke. Aku menyayangimu," ucapnya terbata untuk terakhir kali sebelum akhirnya benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
Sasuke terpukul, dadanya terasa sesak menatap pemuda baik hati yang selalu melindunginya, bahkan di akhir hayatnya. Dibalik ekspresi datarnya, Sasuke menangis dalam hatinya, nafasnya memburu, dadanya terasa sesak. Seluruh tubuhnya terasa menegang, kedua onyxnya berubah warna menjadi semerah darah, menandakan emosi dalam dirinya tersulut.
"Harusnya kau biarkan aku mati," gumam Sasuke pada jasad yang kini tak lagi bernyawa.
Sakura mencoba mendekati tubuh Sasuke yang kini berdiri sembari menopangkan tangannya pada meja bar. Dari ekspresinya terlihat betul bahwa ia menyembunyikan ekspresi terpukulnya dalam sepasang mata iblisnya. Beberapa pengawal muncul di belakang mereka, memberi tanda pada Sakura bahwa mereka harus bergegas pergi sebelum polisi datang dan meminta keterangan.
Sakura mencoba memberanikan diri menyentuh bahu Sasuke. Ditariknya lengan kokoh pemuda dihadapannya, memaksa Sasuke memandangnya setelah berkali-kali pemuda itu mengalihkan tatapan matanya ke arah lain. Ia tak ingin Sakura mengangkap ekspresi terpukulnya.
Sakura memaksa, mengurung wajah pemuda itu dalam kedua telapak tangannya dan memaksa sepasang mata elang itu memandang emeraldnya.
Perlahan mata iblis itu kembali menjadi sekelam malam, menandakan sisi manusia Sasuke telah kembali dan emosinya mulai perlahan terkendali. Beberapa saat kemudian Shikamaru muncul dengan nafas terengah. "Kita harus segera pergi. Polisi sedang menuju kemari," ucapnya sembari berusaha mengatur nafas.
Sasuke hanya mengikuti langkah Sakura yang kini merangkulnya dan mencoba mendorongnya untuk berjalan lebih cepat, meski sadar tubuhnya jauh lebih kecil dibanding Sasuke.
#######
Tak ada yang berani membahas maupun menanyakan kejadian malam itu. Sudah lewat dua hari sepeninggal Sai dan Sasuke masih menyibukkan diri dengan latihan-latihan fisik, membuat Sakura seringkali ikut-ikutan terkena amukan Sasuke. Namun gadis itu nampak kebal dengan apapun yang dikatakan pemuda yang selalu sulit ditebak itu. Ia rela menjadi pelampiasan, tak peduli sekasar apapun pemuda itu padanya.
Di mata Sasuke, Sai adalah sosok kakak yang penuh perhatian. Berkali-kali sosok yang selalu mengusik batinnya dengan pemikirannya tentang hidup itu menyelamatkan nyawanya dalam misi. Sebelum mengundurkan diri dan memilih untuk menjadi pengintai, Sai pernah kehilangan salah satu rekan satu timnya akibat kelalaianya. Membuatnya dirundung duka selama berbulan-bulan. Sasuke sempat membujuknya, namun Sai menolak untuk kembali dalam kelompok misi dan memohon pada sang ayah untuk menugaskan dirinya sebagai agen lepas.
"Dasar bodoh," gumam Sasuke entah pada siapa. Ia kini tengah membaringkan dirinya pada sofa empuk di ruang keluarga.
Semua anggota tengah berkumpul dan menikmati waktu dengan berbagai kegiatan, sementara Sakura baru bergabung setelah membersihkan diri. Ia kemudian memilih duduk di sofa yang sama dengan yang ditiduri Sasuke, duduk di sisa tempat yang tidak ditiduri Sasuke.
"Mau kubuatkan sesuatu?" tawar Sakura sembari mengelus pelan raven Sasuke. Pemuda itu masih membaringkan diri sembari menutupi sepasang onyxnya dengan tangan kanannya.
Tak ada tanggapan, pemuda itu hanya membuka sepasang onyxnya perlahan dan menatap Sakura lekat-lekat, membuat wajah Sakura memerah dan mengalihkan perhatiannya pada sebuah grand piano yang berjarak sekitar dua meter dari sofa yang mereka duduki. Ia kemudian menghampiri piano itu dan duduk di hadapan tuts-tuts yang menggoda untuk disentuh.
Sakura memang tak pandai bermain piano, tapi ia ingat saat ibunya mengajarinya bermain twinkle-twinkle little star. Ia mencoba memainkannya meski tersendat-sendat.
Sedang asyik-asyiknya bermain piano, tiba-tiba ia disambut harmonisasi nada yang berbeda di sampingnya. Rupanya Sasuke ikut bermain dengan versi berbeda. Lagu yang mulanya sederhana jadi terdengar mewah di tangan Sasuke. Ia mengikuti ketukan permainan Sakura, bermaksud membuat permainan ini milik mereka.
Sakura bahkan tertegun saat memperhatikan senyuman tipis Sasuke. Pemuda itu nampak begitu menikmati permainan mereka.
Sasuke bahkan me-medley lagu sederhana itu dengan beberapa lagu klasik yang sangat menyenangkan untuk didengar.
"Lama ia tak menyentuh piano kesayangannya itu," bisik Naruto pada Hinata yang kini ikut menikmati lantunan nada dari jemari licah Sasuke. Tanpa disadari, seluruh anggota menghentikan kegiatan masing-masing dan turut larut dalam indahnya melodi yang diciptakan Sasuke. Tak terkecuali Sakura yang kini duduk di sampingnya dan menatap memuja. Ia baru tahu bahwa Sasuke mahir memainkan piano klasik.
"River flows in you," ucap seseorang dari arah pintu.
Entah mengapa Sasuke tersentak dengan suara selembut beledu yang tiba-tiba menyapa indra pendengarannya. Ekspresinya menegang seolah mendengarkan suara malaikat pencabut nyawa yang akan mengakhiri hidupnya segera. Di sampingnya, Sakura tak kalah bingung. Ditatapnya iris sekelam malam pemuda di hadapannya yang kini nampak semakin menggelap.
Perlahan seluruh pandangan yang awalnya mengarah pada Sasuke kini beralih menuju sumber suara –tak terkecuali Sakura yang kini turut memandang seorang malaikat cantik yang berdiri di ambang pintu.
Gadis bertubuh tinggi dan langsing dengan dress putih membalut tubuhnya. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai bebas dengan pita keemasan menjepit sudut rambutnya. Matanya yang sebening lautan menampakkan kerinduan yang terpendam, membuat entah mengapa ribuan semut seolah menggerogoti hati Sakura. Tatapan gadis itu tak lepas sedetikpun dari pemuda tampan yang masih mematung di hadapan tuts-tust yang membisu.
"Lama tak bertemu...Sasuke?" tanya gadis itu mencoba memecah ketegangan yang tercipta dalam ruangan itu.
Sakura perlahan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang kini turut memandang gadis cantik bak bidadari yang berjarak beberapa meter dari mereka. Tatapan itu...tatapan yang sekalipun tak pernah dilihat Sakura pernah diberikan Sasuke untuknya. Dan entah untuk alasan apa, Sakura merasa batinnya teriris.
Sasuke nampak memandang gadis cantik itu penuh kerinduan meskipun luka terselip jelas dalam tatapannya.
"Kau..." desis Sasuke dengan ekspresi yang tak terbaca, sementara gadis itu masih menatapnya sendu.
"Aku kembali," ucap gadis itu dengan senyum yang sulit diartikan Sakura. Ia kini merasa bagaikan menjadi tirai transparan yang membatasi dua insan yang masih saling menatap itu.
Siapa gadis ini? Dan kenapa semua orang nampak menegang menatap mereka bertiga? Belum lagi Sasori yang baru saja muncul dari pintu kantor Sakumo. Pemuda itu ikut menegang dan mematung di depan pintu yang berjarak sekitar lima meter di belakang piano tempat Sakura dan Sasuke berada. Aura kurang menyenangkan muncul dari dalam diri ketiganya, membuat Sakura sebagai pihak yang tak mengerti apa-apa hanya dapat terdiam dan menunggu penjelasan yang masuk akal.
"Aku pulang...Sasuke-kun."
Tak ada yang berani beranjak maupun mengintrupsi pertemuan itu. Sakura menyadari kejanggalan dari cara ketiga manusia itu saling menatap, namun tak berani menanyakan. Ia memilih bungkam sembari memperhatikan gadis cantik yang kini tersenyum menatap Sasuke. Dan entah mengapa, Sakura merasakan sesak yang teramat sangat saat disadarinya Sasuke seolah menikmati tatapan gadis itu. Sedangkan dirinya hanya mematung tak berdaya, bersama belasan mata yang masih memandang mereka nanar.
Kupastikan akan kubunuh mereka yang merusak duniaku..
Kupastikan akan kumusnahkan mereka yang halangi jalanku...
Tapi mengapa tak sanggup kumusnahkan dirimu?
Yang jelas-jelas menghancurkan duniaku dan membuntu jalan hidupku..
TBC...
Author's place :
Maaf atas keterlambatan saya... -.-"
Sempat mengalami buntu ide dan kegamangan soal jalan cerita..bahkan hampir mau delete ini fic..
Maaf kalo ceritanya malah makin gajelas...huaaaaa... T.T
Makasih buat yang udah fav, n review...
Bersukur bgt kalo masih ada yang mau mengikuti fic ini... =.=
Makasiiiih...
Beri saran yang membangun yaa...
Akhir kata..
^^R.E.V.I.E.W pleace^^
