Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 6
Tell me, Who am I to you?
"Aku pulang...Sasuke-kun."
Tak ada yang berani beranjak maupun mengintrupsi pertemuan itu. Sakura menyadari kejanggalan dari cara ketiga manusia itu saling menatap, namun tak berani menanyakan. Ia memilih bungkam sembari memperhatikan gadis cantik yang kini tersenyum menatap Sasuke. Dan entah mengapa, Sakura merasakan sesak yang teramat sangat saat disadarinya Sasuke seolah menikmati tatapan gadis itu. Sedangkan dirinya hanya mematung tak berdaya, bersama belasan mata yang masih memandang mereka nanar.
"Hn," hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke. Tak lama pemuda itu bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan seolah hendak menghampiri tubuh wanita cantik yang kini menatapnya rindu. Tolong catat, seolah! Ya, karena yang dilakukannya hanya berjalan melewati tubuh wanita itu tanpa berucap sepatah katapun.
"Sakura, kau berminat menemaniku latihan sebentar?" tawarnya pada akhirnya saat berdiri diambang pintu, menyadarkan Sakura yang sendari tadi nampak murung.
Ekspresi kecewa terlihat jelas tergambar dari wajah jelita si gadis pirang yang kini menghela nafas lelah. Beginikah cara pemuda itu menyambut kedatangannya?
Tanpa banyak bicara, Sakura mengangguk dan segera mengikuti langkah Sasuke. Meninggalkan dua sosok lain yang kini saling melempar tatapan sendu.
"Ino?" sapa Sasori dengan tatapan rindu yang tak dibuat-buat, sementara Ino berusaha tersenyum sembari menahan air mata.
"Hai semua...aku pulang!" sapa Ino berusaha membuat nada bicaranya ceria, menyadarkan belasan mata yang memperhatikan adegan drama tadi telah berakhir. Hinata nampak tersenyum canggung sembari menunduk memberi salam. Sementara yang lain berusaha acuh dan melanjutkan aktifitas masing-masing.
'Semua telah berubah,' batin Ino miris.
###
Sakura sedikit kuwalahan meladeni Sasuke yang terus mengajaknya beradu pedang kayu. Terlihat jelas bahwa Sakura telah kalah, ia kini hanya melakukan tangkisan-tangkisan, tak berusaha melakukan perlawanan apapun karena jelas ia kalah tenaga maupun skill dibanding Sasuke.
Peluh nampak membasahi pakaian latihan keduanya, terutama Sasuke yang nampak menjadikan Sakura sebagai pelampiasan emosi.
Sakura terus memasang posisi bertahan sembari mundur beberapa langkah, sejujurnya ia ketakutan menghadapi emosi Sasuke yang membabi buta. Terlebih ia tak mengerti apa yang menjadi masalah pemuda yang dicintainya itu. Sepasang onyx yang beberapa kali berubah menjadi merah dan kembali ke warna aslinya menandakan emosinya sedang labil dan tak dapat dihentikan. Setengah hati Sakura menyesal menyanggupi ajakan pemuda itu untuk menemaninya latihan.
Sasuke baru mengentikan serangannya saat pedang Sakura terjatuh. Ia nampak berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, terlebih Sakura kini masih menatapnya ketakutan. Sepasang emeraldnya menatapnya prihatin. Ikut sakit rasanya memandang ekspresi rapuh dari sepasang onyx yang biasa terlihat dingin dan datar.
Tanpa aba-aba, Sasuke melempar pedang kayunya dan mendorong tubuh Sakura hingga terjatuh bersamanya dengan Sasuke menindih tubuhnya. Kedua tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Sakura dan menguncinya.
"Sasuke mmph..." ucapan Sakura terpotong oleh ciuman brutal Sasuke. Emosi dan amarah benar-benar terasa dari bibir manis yang kini menginfasi dirinya. Sasuke terus memaksa Sakura memberi lidahnya jalan masuk. Tanpa perlawanan, Sakura membiarkan pemuda itu melakukan maunya. Sakura sadar betul, melawan hanya akan membuatnya semakin terjerembab kedalam masalah.
Sasuke terus menekan bibir gadis di bawahnya dengan penuh nafsu, berusaha menyalurkan rasa sakit dalam hatinya kepada gadis pink di bawahnya yang tak mengerti apa-apa. Kenapa, kenapa ia harus bertemu dengan cinta pertamanya yang membuat hatinya remuk tak bersisa disaat ia tengah berusaha bangkit? Apa yang diinginkan gadis pirang yang telah meluluh lantakan hidupnya itu?
Sasuke menggigit bibir bawah Sakura hingga rasa asin keluar dari sana dan kembali menghisapnya. Sementara Sakura mati-matian berusaha mengatur nafasnya yang mulai menipis, belum lagi bibir mungilnya kini terasa membengkak dan mati rasa, sayangnya belum ada tanda-tanda Sasuke akan mengakhiri ciuman ganasnya.
Sasuke baru melepaskan ciumannya ketika dirasa dadanya semakin sesak dan membutuhkan pasokan udara. Segera ia melepaskan tubuh Sakura yang kini terbaring lemah sembari berusaha mencuri udara sebanyak-banyaknya. Perih di bibirnya baru terasa sekarang.
Keduanya terdiam. Sasuke nampak sudah lebih tenang sekarang. Ia masih duduk di samping tubuh Sakura yang terbaring di lantai kayu. Beberapa saat kemudian Sakura mengubah posisinya dan duduk di samping Sasuke.
"Maaf," hanya itu yang muncul dari bibir tipis yang jarang sekali mengucapkan kata itu. Sakura tertegun, sejak kapan Sasuke terbiasa mengucapkan maaf? "Kau tak seharusnya menyimpan perasaan yang tak perlu untukku. Aku tak pantas mendapatkannya," lanjutnya dingin.
Sakura terdiam. Hatinya merasa perih mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Jadi benar gadis pirang itu ada hubungannya dengan masa lalu Sasuke?
"Anggaplah aku tak memiliki hati untuk kubagi. Percuma saja mengharapkanku membalas perasaanmu," tungkas Sasuke sembari bangkit untuk meninggalkan ruangan.
"Aku akan menunggu," ucap Sakura menghentikan langkah Sasuke. "Aku akan menunggu sampai kau mau membagi hatimu denganku."
Sasuke mendengus meremehkan. "Terserah kau saja!" sahutnya sebelum akhirnya menutup pintu geser di belakangnya tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan Sakura yang hanya tertunduk sembari tersenyum masam.
"Bagaimana caranya membuatmu memandangku Sasuke?" gumam Sakura lirih.
###
"Alasan apa yang membawamu kembali?" tanya Sasori memecah keheningan. Ia kini tengah duduk di teras belakang rumah mereka bersama sesosok bidadari yang kini tengah menatap taburan cahaya di langit.
"Kau tak suka?" tanya Ino jenaka. "Aku merindukan rumah."
"Puas berkelana?"
"Hey..Ayah yang mengirimku ke Amerika kan?"
"Apa Ayah juga yang memintamu kembali?"
Ino menggeleng. "Aku merindukan kalian berdua," jawabnya sedih. "Tapi nampaknya keadaan tak seperti dulu lagi ya?"
"Hn, maaf. Seharusnya aku tak hadir diantara kalian," sesal Sasori. Jika saja kesalah pahaman itu tak pernah terjadi, sasuke tak mungkin tumbuh menjadi pemuda tempramental dan begitu membencinya sampai sekarang.
Ino menggeleng lemah. "Seharusnya aku lebih sabar menunggu Sasuke. Aku yang tak bisa memahami pikirannya," ucap Ino lembut. Ia sadar bahwa kesalahan bukan hanya pada Sasori. Tak dipungkiri bahwa sikap penuh kasih pemuda merah itu telah meluluhkannya dan membuatnya berpaling dari Sasuke, kekasihnya saat itu. "Gadis pink itu..kekasihnya?"
"Namanya Sakura. Dia anggota keluarga baru. Sasuke yang melatihnya," terang Sasori.
"Begitu ya? apa mereka dekat?"
"Ayah memaksa mereka bersama setiap waktu. Jadi wajar kalau pada akhirnya mereka jadi sedekat itu," jawab Sasori santai. "Kau tak berniat merengkuhnya kembali kan?"
"Bukankah takkan menyenangkan bila sebuah kisah berjalan terlalu mudah?" ujar Ino mengejutkan Sasori. "Aku yakin Sasuke masih memiliki rasa untukku," lanjutnya percaya diri sembari memandang cincin polos yang melingkar di jari manisnya.
###
Sasuke menatap kosong langit melalui balkon kamarnya. Sesekali ia memandangi dua buah cincin berbeda yang berada dalam kotak di tangannya. Yang satu nampak begitu sederhana dan polos, sedangkan yang lainnya nampak manis dengan sepasang permata berlainan warna yang berdampingan.
Tiada satupun yang tersemat di jemari kokohnya. Semua tersimpan bersama berbagai aksesoris tangan yang tak lagi ia minati. Disentuhnya cincin polos yang dulu menghiasi jari manisnya.
Tiba-tiba ia teringat sosok lain yang mengisi harinya akhir-akhir ini. Sosok tangguh yang tak pernah menyerah mencari perhatian darinya. Sosok gadis yang selalu diam-diam menangis untuknya.
"Gadis bodoh," gumamnya yang hanya dijawab desau angin.
Selama ini ia tak pernah bermaksud membenci Sakura. Gadis itu, entah mengapa hanya dengan mengandalkan sepasang emeraldnya yang bening dan suci itu selalu berhasil menguasai dirinya. Hanya Sakura yang bisa mengendalikan emosi dalam diri seorang Sasuke Uchiha. Ia ingat betul sensasi hebat yang ditimbulkan bibir tipis nan manis milik Sakura. Betapa gadis itu selalu berhasil membangkitkan gairah dalam dirinya hanya dengan satu kecupan.
Sayangnya Sasuke terlalu munafik untuk mengakui rasanya terhadap nona muda yang kini semakin mengagumkan. Bukan, ia sejujurnya hanya tak ingin mengulangi kesalahannya dulu. Menyakiti orang yang amat dicintainya dan membuatnya lari ke dalam pelukan pria lain. Ia terlalu egois untuk membagi hatinya lagi, Sasuke...hanya tak ingin kembali terluka maupun melukai.
Flashback...
Kedua remaja tanggung terlihat sama-sama tertunduk lelah. Pertarungan ini jelas tak seimbang. Nampak seorang pemuda dengan rambut sekelam malam tengah berdiri sembari mengatur nafasnya, tangannya mengepal kuat, tatapannya dingin menusuk –memandang lawannya yang kini babak belur, pemuda berambut merah yang kini berada dalam dekapan gadis yang amat dicintainya. Darah nampak mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya yang membengkak. Sementara gadis yang memeluknya kini menangis sembari mendekap erat tubuh pemuda yang usianya terpaut satu tahun dengannya.
"Kumohon hentikan," ucapnya setengah berbisik dengan suara parau. "Hentikan Sasuke-kun."
"Jadi ini yang kau inginkan?" tanya Sasuke ketus. Ia mendengus sebal saat gadis pirang di hadapannya mengangguk lemah. "Baiklah jika itu yang kau inginkan," lanjut Sasuke sembari melangkah pergi.
"Aku mencintainya. Jadi kumohon...biarkan kami bersama," ujar Ino memohon. Isakan tampak jelas terdengar di sela-sela keheningan ruangan, membuat batin Sasuke semakin terluka. Saat ini, ia merasa menjadi seorang pecundang yang tak sanggup mempertahankan gadis yang ia cintai.
"Aku sama sekali tak peduli...bahkan jika kau mati detik ini aku takkan peduli," sahut Sasuke dingin. Mati-matian ia menahan agar nada bicaranya tetap rendah dan terkendali. "Bagiku kau tak lebih dari wanita jalang yang bisa kutemui dimanapun. Lakukan semaumu, aku takkan pernah berusaha menahanmu untuk tetap di sisiku," tungkas Sasuke sebelum benar-benar pergi meninggalkan dua manusia yang telah menghancurkan perasaannya tanpa sisa.
Sejak saat itu, secara membabi buta Sasuke memecahkan rekor dengan menerima misi terbanyak dalam seminggu. Selama dua puluh empat jam ia bekerja tanpa henti, mengabaikan kehidupan manusianya. Seluruh anggota keluarga merasa prihatin bahkan secara sengaja mengucilkan Yamanaka Ino. Secara terang-terangan mereka menghujat hubungan antara Ino dan Sasori yang telah menghancurkan batin Sasuke. Membuat pemuda dingin itu semakin membeku dalam luka dan duka. Untuk itu, Sakumo akhirnya mengirim Ino ke Amerika dengan alasan untuk menempuh pelatihan sembari menormalkan situasi. Sementara Sasori dikirim ke Thailand untuk menjalankan misi rahasia selama setahun. Meskipun begitu, tak ada yang bisa menghapus dendam dalam diri Sasuke yang telah melekat erat.
Flashback end...
###
Sakura berjalan melewati lorong menuju kamarnya dengan enggan. Tubuhnya terasa remuk, beberapa kali ia hampir terjatuh akibat tersandung karpet. Bayangan tentang betapa kasarnya sikap Sasuke tadi, serta cara pemuda itu menolaknya membuat Sakura lemas. Harus berapa lama ia menunggu? Harus berapa panjang kisah ini agar menemukan akhir bahagia?
Sesekali Sakura memukuli bahunya yang pegal, berusaha mengurangi rasa lelah yang mendera. Sepintas ia teringat tentang perlakuan kasar Sasuke dan sepatah dua patah kata menyakitkan yang diucapkan pemuda itu padanya barusan. Mengingat sosok menyebalkan itu entah mengapa membuatnya lapar. Gara-gara Sasuke ia jadi melewatkan waktu makan malam, padahal Sakura yakin ia bisa menikmati santap malam yang mengenyangkan jika ia tak menyanggupi untuk menjadi pelampiasan emosi Sasuke. Hmm...tapi itu kan salahnya sendiri.
Langkahnya terhenti saat mencapai persimpangan lorong. Tinggal beberapa langkah lagi, maka ia akan sampai di depan pintu kamarnya. Sayangnya langkahnya terhenti karena sepasang manusia yang kini tengan bicara serius tepat di depan kamarnya –membuat entah mengapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Terlihat seorang pemuda yang tak lagi asing kini tengah berdiri bersandarpada dinding di belakangnya, sementara gadis di hadapannya menatapnya penuh harap. Sakura cepat-cepat mundur dan menyembunyikan diri dibalik dinding, berusaha mendengarkan pembicaraan dua insan tersebut.
"Aku datang untuk meminta maaf Sasuke," ucap Ino lirih namun masih terdengar –bahkan oleh Sakura.
Sasuke hanya diam tak menanggapi, membiarkan wanita di hadapannya mengutarakan maksud.
"Aku tahu kesalahanku tak termaafkan, aku menyesalinya."
"Lalu kau ingin kembali? Setelah kau membuang segalanya?" sindir Sasuke pedas.
Ino tersenyum pahit, masih tak berani menatap sepasang onyx yang masih menatapnya menghakimi. "Kau harusnya mengerti kondisiku saat itu. Aku baru saja kehilangan calon buah hati kita, tapi kau malah menarik diri dan meningalkanku."
Sasuke terdiam mengingat kejadian itu. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan saat dimana ia kehilangan suatu keajaiban yang hampir terlahir ke dunia akibat kesalahannya sendiri? Sasuke kesal, tangannya mengepal kuat saat dingatkan tentang masa lalunya. Jadi itukah yang dipikirkan wanita yang pernah teramat dicintainya itu? Tidakkah ia tahu bahwa Sasuke sama terpukulnya dengan wanita itu?
"Kau menganggapku lelaki macam apa? Kau pikir aku tak merasa kehilangan?"
"Aku sangat berharap bisa memberikanmu keluarga yang selalu kau inginkan. Namun saat aku sadar aku tak dapat menjaganya, aku sangat terpukul Sasuke-kun. Terlebih kau memilih menghindariku. Kau pergi mengambil misi-misi jauh dan mengabaikan keberadaanku, saat itulah Sasori..."
"Hentikan," sergah Sasuke datar. "Langsung saja katakan apa yang kau inginkan sekarang?"
"Aku ingin kita memulai segalanya dari awal lagi," jawab Ino cepat yang hanya ditanggapi dengusan meremehkan Sasuke. "Setidaknya beri aku kesempatan."
Sasuke nampak berfikir sejenak. Matanya terfokus pada kepala pirang yang kini menunduk tak berani menatapnya. "Baiklah," sahut Sasuke singkat. Mengejutkan siapa saja yang mendengarnya, tak terkecuali Sakura yang sendari tadi mendengarkan percakapan mereka sembari menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ekspresi terpukul dan terluka terlihat jelas dari sepasang emerald yang biasa bersinar itu.
"Kau sunguh-sungguh?"
"Seseorang mengajarkanku untuk memberikan kesempatan..." Sasuke terdiam mengingat sosok Sakura yang mengisi harinya akhir-akhir ini. "Dan tak ada yang salah dengan itu," lanjut Sasuke santai.
Ino tersenyum sumringah. Dipeluknya sosok pemuda es yang hanya terdiam tak menanggapi. "Terimakasih Sasuke-kun."
Sasuke sedikit terkejut ketika Sakura tiba-tiba muncul dari perempatan lorong dan kini memandangnya terluka. Anehnya, entah mengapa Sasuke merasa seolah dirinya adalah seorang kekasih yang kepergok berselingkuh di hadapan kekasihnya. Dengan sedikit kasar, Sasuke melepaskan pelukan Ino dan menatap Sakura aneh.
Ino tak kalah bingungnya, diikutinya arah pandang Sasuke dan tatapannya tertumpu pada sorang gadis pink yang kini menatap mereka sendu.
Perlahan tapi pasti, Sakura melangkah mendekati mereka, dan tanpa banyak bicara ia membuka pintu kamarnya yang berseberangan dengan tempat Sasuke bediri pelan.
Entah mengapa Sasuke merasa ada yang salah. Kenapa hatinya tak tenang melihat ekspresi tak suka Sakura? Kenapa jantungnya serasa mengeras ketika secara tak sengaja dirinya mendapati air mata mengalir pilu ketika gadis itu menutup pintu kamarnya pelan? Kenapa ada rasa bersalah dalam dirinya?
"Kembalilah ke kamarmu. Aku lelah," ujar Sasuke singkat sebelum memasuki kamarnya. Sementara Ino hanya merenung memikirkan kejadian berusan.
###
'Sakura dan Sasuke bertunangan di Amerika. Dengar-dengar mereka dulunya dijodohkan, tapi sekarang saling mencintai.'
'Ah...aku iri dengan Haruno, gadis itu hidupnya sempurna sekali. Pasti selama berada di Amerika ia adalah gadis populer'
'sejak kecil katanya ia sudah tinggal di sana. Pantas saja bahasa asingnya lancar sekali. Dia itu hebat ya?'
Entah mengapa cerita dari teman-temannya yang tak sengaja didengar Gaara siang tadi mengusik pikirannya. Sakura pernah tinggal di Amerika? Sejak kapan?
Ia memang beberapa kali pergi berlibur ke sana. Kadang Gaara juga ikut untuk sekedar menemani gadis itu berbelanja. Tapi untuk tinggal? Sekalipun Gaara tak pernah mendengarnya. Sejak kecil Sakura lahir dan dibesarkan di Tokyo. Gaara saksinya. Keanehan mulai terjadi setelah keluarga Haruno mengalami pembantaian dan Sakura hilang entah kemana.
Gaara lebih terkejut saat menemukan Sakura di Konoha, bersama pemuda yang mengaku sebagai 'pemiliknya' dan tak jelas siapa dirinya. Gaara tak pernah mendengar Sakura menyebutkan nama Sasuke, itulah anehnya. Padahal gadis itu selalu menceritakan apapun padanya.
"Uchiha Sasuke" gumam Gaara yang ternyata didengar Ayahnya.
"Kau bilang apa? Uchiha?" tanya sang Ayah memastikan.
"Ayah mengenalnya?"
"Hmmm...setahu ayah klan Uchiha sudah lama punah dalam sebuah kasus pembunuhan. Pelakunya adalah putra sulung dari keluarga itu sendiri. Tak jelas apa motifnya, namun sampai sekarang ia masih buron. Satu-satunya yang tersisa adalah si bungsu. Ayah tak ingat nama kecilnya. Saat itu ia langsung diambil kerabat dekatnya."
"Kerabat dekat?"
"Ya...ia mengaku sebagai wali dari bocah Uchiha itu. Kau mengenalnya?"
"Hn, mungkin hanya kebetulan," jawab Gaara mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya –tak ingin membuat Ayahnya curiga.
'Uchiha Sasuke. Siapa kau sebenarnya?'
###
Sejak kejadian semalam, entah mengapa Sakura menjadi lebih pendiam. Seluruh anggota keluarga—tak terkecuali Sasuke—beberapa kali mencuri pandang pada sosok gadis pink yang kini hanya mengaduk makanannya dalam diam. Di ujung meja, Sakumo memperhatikan gadis pink itu khawatir. Sementara Ino hanya melanjutkan makannya canggung, secara tak langsung ia merasa tak enak hati setelah kejadian semalam.
Selama di dalam mobil juga. Sakura yang biasa cerewet dan mengomentari apapun yang dilihatnya kini hanya terdiam membisu sembari memandangi jalanan. Hari ini suasana hantinya memang kurang baik, beruntung Ino tak berangkat satu mobil dengan mereka. Gadis itu lebih memilih berangkat ke sekolah bersama dengan Neji dan Tenten ketimbang menambah berita tak sedap pagi ini.
Jam pertama olahraga. Hari ini semua siswa latihan bermain bola basket, mengingat pertemuan selanjutnya akan diadakan penilaian tekhnik shooting. Beberapa kali Sakura mencoba, namun hasilnya selalu gagal.
Dari kejauhan Sasuke tersenyum geli melihat usaha keras gadis itu. Diam-diam ia merasa salut atas kegigihan Sakura dalam mencoba hal-hal baru. Bagi sasuke, bermain bola basket sama halnya dengan mematahkan lidi –mengingat dia kapten basket sekolah. Namun bagi Sakura, bermain basket sama halnya denganmemanjat dinding kamar mandi.
"Apa yang membuatmu sangat senang?" tanya sebuah suara selembut beledu. Sasuke melirik sepintas sesosok wanita pirang di sampingnya. "Sakura ya?" tebak Ino saat mendapati arah pandang Sasuke.
"Hn, sedang apa kau di sini?" sahut Sasuke mengalihkan.
"Aku sedang bosan di kelas. Kupikir kau bemain basket, makannya aku kemari," terang Ino yang hanya dijawab 'Oh' oleh Sasuke.
Dari kejauhan Sakura dapat melihat interaksi kedua insan yang sedang mengobrol santai di bangku taman, di nawah pohon rindang. Nampaknya keduanya begitu menikmati waktu.
Tadinya Sakura berharap Sasuke akan membantunya berlatih tekhnik menembakkan bola. Tapi pemuda itu bahkan tak menolehnya sama sekali.
"Butuh bantuan?" tawar Gaara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Hn, percuma saja. Aku selalu gagal dalam permainan ini. Apalagi kalau harus melawanmu," ujar Sakura setengah merengek.
"Haha, aku mau saja menolongmu."
"Benarkah?" sahut Sakura senang. Gaara mengangguk mengiyakan.
Segera saja Gaara memulai dengan menerangkan teorinya terlebih dahulu. Mulai dari posisi kaki, jarak pandang, hingga tekhnik melempar. Sakura mendengarkan dengan serius.
Setelah beberapa kali percobaan, Sakura akhirnya berhasil memasukkan bola dengan benar. Menyadari itu, ia meminta Gaara mengajarinya teknik-teknik lain. Gaara dengan senang hati melayani, tak sadar dari kejauhan Sasuke memperhatikan mereka dengan tatapan membunuh.
"Gadis itu istimewa ya?" tanya Ino membuyarkan lamunan Sasuke yang berniat mencincang tangan bocah merah yang kini tengah mengajari Sakura dengan telaten. "Baru sebentar berada di antara kalian, ia sudah mencuri hati seisi rumah."
"Sakura itu...dia memang berbeda," aku Sasuke. "Dia membuat dunia yang menyesuaikan diri dengannya, bukan dirinya yang menyesuaikan diri dengan dunia," lanjutnya kemudian. Sasuke kini tengah memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.
Entah mengapa ada sedikit rasa kebas saat Ino menangkap nada kekaguman dari cara Sasuke mendeskripsikan Sakura. Sebegitu istimewanya kah?
Sasuke tiba-tiba tersentak saat melihat adegan di hadapannya. Sakura terjatuh tepat ketika hendak melakukan tembakan dengan lompatan –yang Sasuke yakin hasil ajaran bocah merah itu. Nampak Sakura tengah kesakitan memegangi lututnya yang berdarah, sepertinya kakinya juga sedikit terkilir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gaara khawatir sembari mengahampiri tubuh Sakura. Ia mencoba membantu Sakura berdiri, namun kembali terduduk saat Sakura tak mampu menopang tubuhnya.
"Sepertinya kakiku terkilir," sahut Sakura sembari berusaha menahan sakit.
Gaara hendak memeriksa lukanya saat Sasuke tiba-tiba muncul memecah gerombolah siswa yang tengah mengelilingi Sakura. "Jauhkan tanganmu darinya," ucap Sasuke sinis.
"Sakura terluka, aku hanya berusaha membantu."
"Kau pikir karena siapa ia terluka?"
Mulai lagi, Sakura merasa kesal kalau sudah begini. Bukannya cepat-cepat menolongnya, Sasuke justru mengajak untuk memulai pertengkaran.
"Bisakah kalian bertengkar nanti saja?" sindir Sakura yang mulai tak sabar.
"Aku akan membawanya ke ruang kesehatan," pamit Gaara sembari bersiap mengangkat tubuh Sakura.
"Berani menyentuhnya, akan kupastikan kau yang akan menginap di ruang kesehatan," sergah Sasuke menghentikan. Semua terdam tak berani menjawab, tak terkecuali pemuda merah yang kini dengan kesal memandang berhadapan dengan Sasuke.
Sakura mendecih sebal. Rasa sakit di kakinya teralihkan dengan rasa dongkol di hatinya.
Tanpa banyak bicara, Sasuke berjalan melewati tubuh Gaara dan segera menghampiri tubuh ringkih yang terduduk tak berdaya. Segera saja diangkatnya tubuh Sakura yang terasa begitu ringan bagi Sasuke. Yang diangkat tentunya tak berani menolak, statusnya yang masih sebagai tunangan pemuda raven itu membuatnya tak ingin mempermalukan sosok dingin yang kini mendekapnya dalam gendongannya.
"Sebaiknya kau ingat, Sakura masih memilikiku tuan Sabaku no Gaara," ancam Sasuke sinis sembari melewati tubuh tegap yang hanya terdiam kaku.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kesehatan Sakura hanya terdiam sembari tetap berpegangan pada tubuh Sasuke. Sesekali ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan dada bidang Sasuke saat melewati gerombolan siswa yang memandangnya sembari berbisik.
Sementara itu, Sasuke tetap memasang wajah datar meski dalam hati merutuki diri. 'Aku pasti sudah gila' ucapnya dalam hati berulang kali. Sesekali diliriknya paras cantik yang kini menyandar di dadanya. Gadis dalam dekapannya ini nampak sedang memikirkan sesuatu –terlihat dari caranya beberapa kali menghela nafas.
"Kau mau aku melemparmu ke lantai dasar? Katakan sesuatu!" ujar Sasuke sebal ketika mereka mulai menaiki tangga. Maklum, ruang kesehatan berada di lantai dua dan jauh jaraknya dari tangga. Jadi wajar saja kalau Sasuke merasa kesal saat Sakura tak bicara sepatah kata-pun sementara dirinya mati-matian menahan malu saat beberapa siswi memandangnya heran.
"Aku harus mengatakan apa? Aku baru akan mengucapkan terimakasih saat kita sampai nanti," sahut Sakura tak mau kalah. Sejujurnya ia senang saat Sasuke menggendongnya seperti ini, tapi kejadian semalam masih membayang batinnya.
"Kau marah?"
"Untuk apa?" sahut Sakura ketus.
"Aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengannya. Tak lebih," terang Sasuke menjelaskan, seolah memahami apa yang mengganggu pikiran Sakura sejak semalam. Entah mengapa Sasuke merasa perlu mengutarakan ini pada gadis manja dalam dekapannya ini. Ya..meski ia tak yakin itu penting.
Sakura nampak mengerenyit heran. Sejak kapan Sasuke peduli pada apa yang dipikirkannya?
"Aku hanya tak ingin masalah sepele seperti ini membuatmu tak fokus," lanjut Sasuke seolah membaca pikiran Sakura.
"Oh," hanya itu tanggapan Sakura meski separuh hatinya senang juga mengetahui Sasuke peduli padanya –meski disembunyikan.
Tak terasa mereka sampai di ruang kesehatan. Dengan hati-hati Sasuke mendudukkan Sakura pada salah satu tempat tidur yang ada dalam ruangan beraroma obat-obatan tersebut.
"Terimakasih," ucap Sakura singkat. Terlihat semburat merah menghiasi pipi ranumnya.
Sasuke hanya terdiam. Entah mengapa cara Sakura berterimakasih membuat sensasi aneh menari-nari dalam hatinya. "Hn, dimana penjaganya?" tanya Sasuke mencoba menyembunyikan perasaan aneh dalam hatinya.
Setelah tak berhasil menemukan siapapun, sasuke akhirnya memutuskan untuk menangani sakura sendiri. Kalau hanya tentang pengobatab P3K, ia juga bisa melakukannya.
Sasuke nampak mencari baskom dan mengisinya dengan air. Kemudian diambilnya kasa dan handuk steril dalam lemari penyimpanan. "Sebaiknya kita bersihkan dulu lukamu," ucap Sasuke singkat sembari membasahi handuk dan mengusapkannya pada lutut Sakura yang lecet. Nampak Sakura meringis menahan sakit, namun tak berani bersuara. Ia memilih diam, takut sasuke menganggapnya cengeng.
Perih semakin terasa ketika Sasuke membersihkan lukanya menggunakan alkohol, tanpa sadar tangannya menekan terlalu kuat sehingga menyebabkan nyeri pada lutut Sakura semakin terasa.
"Pelan-pelan Sasuke," ucap Sakura spontan –membuat Sasuke menghentikan kegiatannya dan beralih memandang sepasang emerald yang berkaca-kaca.
"Dari mana aku tau aku menyakitimu kalau kau tak mau bicara?" tanya Sasuke dingin sembari melanjutkan aktivitasnya dengan lebih lembut. "Kupikir kau baik-baik saja," lanjutnya santai.
Entah mengapa Sakura merasa ucapan Sasuke seolah menjurus pada hal lain. "Jadi aku boleh mengatakannya bila aku merasa terluka karenamu?" tanya Sakura sekenanya dan anehnya, entah mengapa Sasuke tertawa renyah karenanya. Sakura semakin tak mengerti dan masih memandangnya heran.
"Mana yang kau pilih. Hidup normal dan bahagia, atau menjalani kehidupan yang tak pasti bersamaku?" tanya Sasuke santai sembari membalut luka Sakura dengan kasa.
"Yang mana saja asal bersamamu," jawab Sakura tanpa berfikir.
Pada akhirnya Sakura hanya menutupi mulutnya saat menyadari apa yang baru saja diucapkannya, terlebih kini Sasuke mendongakkan kepalannya kaget. Sepasang onyx itu nampak mengerjap beberapa kali mendapati jawaban tak terduga Sakura. "Aku...tak punya apa-apa selain kau. Jadi apapun itu, selama bersamamu kurasa semuanya akan baik-baik saja," tutur Sakura sembari menggerakkan telunjuknya membentuk lingkaran di dada Sasuke.
Sakura masih dalam posisi duduk di atas tempat tidur dengan kaki menggantung, sementara Sasuke mengunci tubuhnya dalam kurungan tangannya. "Kau ini terlalu jujur nona," sahut Sasuke sembari tersenyum jahil. Entah mengapa sepasang onyx yang biasa terlihat kaku itu kini nampak melembut memandang Sakura. Satu yang Sasuke suka dari gadis di hadapannya adalah, Sakura selalu berani memandang matanya saat berbicara dengan kilatan semangat yang berapi-api.
Sakura tersenyum ketika menyadari dirinya berhasil mencairkan suasana. "Jadi...bolehkah aku tetap di sampingmu?" tanya Sakura ragu sembari memandang memohon pada sepasang onyx yang kini menatapnya intens.
"Hanya jika kau siap terluka," jawab Sasuke masih dengan senyuman –atau yang lebih bisa kita sebut seringaian– di bibirnya.
Dengan beraninya, Sakura mengecup singkat bibir Sasuke yang hanya berjarak beberapa senti dari bibirnya. Hanya kecupan singkat, namun berhasil membuat wajahnya benar-benar memerah. "Aku takkan mundur,"´ucapnya yakin sembari memandang sepasang onyx yang kini berkilat jenaka.
Baru saja hendak menyatukan bibir mereka lagi, tindakan Sasuke dihentikan oleh suara pintu yang terbuka. Memunculkan sosok penjaga ruang kesehatan bertubuh gendut yang masuk sembari membawa bungkusan makanan.
"Hoh, ada pasien rupanya?'"
Sasuke dan Sakura hanya mendengus bersamaan. Sebenarnya penjaga ruang kesehatan ini dibayar untuk apa sih? Kenapa ia menghilang saat dibutuhkan dan hadir disaat yang tak diinginkan?
###
Malam ini seperti biasa, beberapa anggota Exterminator bertugas menjalankan misi. Karena cidera ringan yang dialami Sakura siang tadi, ia terpaksa absen, sehingga posisinya digantikan Hinata. Beberapa kali Sasuke nampak bergumam tak jelas, entah apa yang mengusik pikiranya, padahal target semakin mendekat.
"Hinata, bagaimana perasaanmu satu misi denganku dan tanpa Naruto?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Hinata sedikit terkejut menanggapi pertanyaan Sasuke yang menurutnya tak wajar terlontar dari mulut sang Uchiha. Apa Sasuke salah makan?
"Aku tak paham maksudmu," jawab Hinata jujur. Beberapa saat kemudian Sasuke tampak kembali berkonsentrasi membidik sasarannya yang bergerak konstan di bawah sana.
"Maksudku, apa kau memikirkannya saat kau tak dapat mendampinginya dalam misi?" Sasuke mencoba memilih kata-kata aman agar Hinata tak curiga tentang maksud dari pertanyaannya.
Hinata kini paham. Ternyata sendari tadi pemuda itu gelisah karena bukan Sakura yang mendampinginya? Jadi Sasuke diam-diam mulai memikirkan gadis pink itu ya? dugaan konyol itu membuat Hinata terkikik geli. "Tentu saja...akan berbeda rasanya bila orang yang biasa berada di samping kita tiba-tiba digantikan," terangnya mencoba memancing.
"Hn," sahut Sasuke singkat sebelum akhirnya menarik pelatuk snippernya. Tentang hasil tembakan Sasuke, perlukah kita membahasnya? Sudah dapat dipastikan tembakannya tepat mengenai sasaran.
"Aku rasa aku harus menemui Ino setelah ini," ucap Sasuke sembatri mengemasi peralatannya.
Mendengar nama yang baru saja diucapkan Sasuke membuat senyuman Hinata menghilang seketika. Jadi yang dimaksud Sasuke bukan Sakura? Melainkan...
"Bukankan jika kau merasa ada yang kurang saat ia tak ada, itu artinya kau mencintainya kan?" tanya Sasuke tak acuh. Hinata hanya terdiam mencoba mencerna kali ini siapa yang menjadi bahasan Sasuke. "Oleh karena itu...sebaiknya aku segera memutuskan sebelum lebih banyak pihak yang tersakiti," terang Sasuke masih dengan ekspresi datarnya.
"Kau...takkan mencampakkan Sakura kan?"
Sasuke tak menjawab dan memilih berlalu sembari menjinjing tasnya. Meninggalkan Hinata yang hanya menatapnya bingung.
"Kenapa pikiranmu selalu sulit ditebak Sasuke?' gumam Hinata sebal sembari mengikuti langkah pemuda itu gontai.
Jika aku menyeretmu kedalam lukaku...
Akankah kau berusaha melepaskan diri?
Jika aku membuangmu dalam lubang dukaku...
Sanggupkah kau melepaskan diri?
jadi sebelum aku melakukan segala kejahatan yang mungkin bisa membunuhmu perlahan...
Ijinkan aku membunuh hatiku dan melenyapkannya tak bersisa...
Takkan kubagi denganmu...maupun dengan dirinya.
.
.
TBC
Author's place ::
Hehe...
Ngga ada berantem2an n darah2an dulu yaa... -.-
Belum adda inspirasi...jadi bikin adegan SasuSasu dulu...
Diusahakan chapterdepan ada pertarungannya...(diusahakan lho yaa)
Mwahaha...
Makasih buat yang udah kasi masukan... : )
Seneng bgt kalo ada yg membenahi ejaan or cara pe nulisanku yg salah...maklum..author masih belajar...
Masih ada yg salah lagi kah? Tolong diberitahu yaa... : )
Pengennya chapter ngga banyak2...(lagi2 diusahakan)
Maaf kalo ceritanya jadi ngga menarik...
Kalo ada yg minta del...langsung katakan,,,, :D
Author hanya ingin memuaskan pembaca dengan imajinasi milikku... : )maaf bagi yg ngga puas sama chap kemarin...
Makasih semuanya... : )
Boleh kasi masukan soal jalan crita juga kok..nanti saya pertimbangkan...cs akhir2 ini sering buntu ide..
ditunggu reviewnya... ;)
