Title : Mianhe, Sajangnim! (sequel )
Beginning
Author : kiranaaaa
Cast(s) : chanyeol, baekhyun (GS)
Rated : T
Genre : romance? Humor? I don't know either.
-baekhyun pov-
Eungghhh aku membuka mataku merasakan pancaran sinar matahari masuk menembus kaca. Aku meraba tempat tidur di sampingku namun tidak ada siapapun disana. Ah, benar. Dia lagi-lagi meninggalkanku sendiri di apartment sebesar ini. Sedangkan dia, tidak perlu di pertanyakan lagi, sudah pasti pergi menemui kesayangannya. Istri yang sangat dicintainya. Apalah dayaku yang hanya di jadikan yang kedua. eitss.. kalian pasti bingung bagaimana aku bisa mengatakannya dengan santai, itu karna sudah jelas bahwa istrinya yang dicintainya itu tidak jauh-jauh dari pekerjaan.
Huhhh.. ini sudah cukup siang, tapi aku cukup malas untuk beranjak dari kasurku tercinta. Lagi pula, tidak akan ada yang memarahiku jika aku kembali tidur dan bermalas-malasan. Ahh sial! Tidak ada siapapun dirumahh ini, tapi sepertinya dunia tidak mengizinkanku untuk kembali tidur dengan tenang, terbukti dengan sinar matahari yang dengan menyebalkannya masuk dan tepat menyinari wajah cantikku. Sepertinya memang sudah waktunya aku bangun dan mengisi perut yang sudah sedari tadi ini berteriak minta diisi.
-author pov-
baekhyun memasuki dapur kesayangannya, terlihat ia sedang menimbang-nimbang apa yang akan tangan ajaibnya buat untuk mengisi perut hari ini. Ia mengetukkan jarinya diatas meja, dan entah apa yang ada di pikirannya, baekhyun beranjak dari dapur dan melemparkan tubuhnya di atas sofa berwarna pastel, warna kesukaannya. Makanya, keseluruhan apartment ini berwarna pastel.
Awalnya, apartment ini sangat kaku dan tidak ada sentuhan warna apapun selain hitam dan putih. Namun, baekhyun yang memang tidak menyukainya, mulai merubah seluruh dekorasi di apartment ini menjadi warna pastel favoritenya. Dan tanpa persetujuan chanyeol pastinya. Saat itu chanyeol datang memasuki apartment dengan wajah yang tidak bersahabat. Ia langsung berteriak memanggil nama baekhyun.
Namun belum sempat ia melepas sepatunya, hal lain lagi sudah membuatnya kaget dan tidak bisa berkata apapun lagi.
"chanyeol? Kau sudah kembali?" baekhyun datang ke depan pintu dengan tergesa. Karna sangat jarang chanyeol sudah datang ke rumah pada siang hari.
chanyeol tidak menjawab pertanyaan baekhyun, namun ia berjalan masuk ke dalam apartmentnya dan mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan.
baekhyun melihat gelagat chanyeol, yang seperti tidak mengenali apartmentnya sendiri. "oouh… sepertinya dia akan marah" baekhyun membatin sebelum berjalan mendekat ke arah chanyeol. baekhyun dengan lembut menyentuh lengan chanyeol,
"chanyeol, aku bisa jelaskan".
chanyeol menepis tangan baekhyun,
"apa? Ini semua? jadi kau menghabiskan uang di kartu kreditku untuk ini semua? tanpa seijinku pula?" chanyeol menatap baekhyun tajam.
Membuat baekhyun sempat tidak berkutik dan tidakk tau harus mengatakan apa.
baekhyun menunduk tidak berani menatap ke arah chanyeol,
"aku… maafkan aku, aku hanya tidak begitu menyukai desain apartment ini, jadi ku pikir-"
"ku pikir katamu? Ini apartmentku baekhyun dan aku yang berhak menentukan bagaimana seharusnya apartment ini di desain"
bahkan tanpa menunggu baekhyun menyelesaikan perkataannya, chanyeol langsung saja memotong ucapannya yang mana membuat baekhyun menggeram
"apartmentmu kau bilang? Huhh.. benar ini hanya apartmentmu, dan aku hanya menumpang disini. Terimakasih atas tumpangannya tuan park chanyeol terhormat, aku akan segera meninggalkan apartment milikmu ini" baekhyun langsung berlalu dari hadapan chanyeol dan pergi masuk ke dalam kamar.
chanyeol menghela nafasnya lelah, ia menyadari sikapnya yang berlebihan menanggapi perubahan yang terjadi secara mendadak ini. Ia merenggangkan simpul dasi di lehernya dan mulai melangkah mengikuti arah baekhyun berlalu tadi.
chanyeol kembali menghela nafasnya melihat baekhyun yang sedang mengeluarkan pakaiannya dari lemari, ia harus tenang menangani situasi ini jika tidak sudah pasti hal yang tidak diinginkan akan terjadi dan itu pasti akan semakin merepotkannya.
"apa yang kau lakukan baek?" chanyeol menahan tangan baekhyun yang ingin mengeluarkan pakaiannya dari lemari.
baekhyun tidak menghiraukan chanyeol sama sekali, ia sudah sangat kesal dengan perkataan chanyeol tadi dan berniat untuk meninggalkan tempat ini dengan segera.
"baiklah, maafkan aku. Kau boleh melakukan apapun terhadap apartment ini. Terserah padamu sebagai nyonya rumah"
kekanakkan memang, tapi ya, sejak saat itu, baekhyun memiliki kuasa penuh untuk mendekorasi apartment ini, kecuali bagian kamar mereka yang masih memiliki sentuhan maskulin. Karena chanyeol dengan tegas meminta baekhyun untuk tidak mengotak-atiknya.
Kembali pada saat ini, dengan malas baekhyun meraih ponselnya yang berdering. Ia mendengus melihat tulisan "my love husband" di layar ponselnya. Siapa lagi orang yang akan menuliskan hal itu di handphonenya selain suami –tampannya- itu.
"ehm" hanya gumam-an yang diberikan baekhyun kepada orang disebrang sana. Dan tentu saja mendapat dengusan kesal dari chanyeol.
"tidak bisakah kau menjawab lebih manis?" chanyeol meletakkan pulpennya di atas lembaran-lembaran yang akan memberinya pundi-pundi uang dan merebahkan punggungnya di kursi kebesarannya. "sedang apa?" tanyanya lagi.
baekhyun beranjak dari aksi bermalas-malasannya di sofa dan berjalan menuju dapurnya kembali. "aku lapar" ia kembali membuka kulkasnya namun tidak ada satupun bahan yang bisa di olahnya menjadi makanan.
Sedangkan di sebrang sana chanyeol mengangkat alisnya, " kau baru bangun? Dasar pemalas".
chanyeol mengambil foto baekhyun di depannya. Ia membayangkan ekspresi istrinya yang sedang kelaparan itu. baekhyun menghela nafasnya dan tidak terlalu menghiraukan perkataan chanyeol barusan. Ia hanya memikirkan urusan perutnya yang minta diisi.
"baiklah, aku sudah membuat keputusan" ucap baekhyun tiba-tiba semangat.
" chanyeol aku akan menelponmu lagi nanti, aku akan keluar membeli bahan makanan. Sampai jumpa" tanpa menungggu jawaban suaminya dari sebrang telephone baekhyun langsung saja mematikan sambungan dan berjalan dengan terburu ke kamarnya untuk bersiap keluar.
"Yak! Yak! park baekhyun! Aish" chanyeol memandang handphonenya tajam seakan-akan handphone itu adalah baekhyun yang barusan dengan seenaknya mematikan sambungan. Ia kembali menekan tombol panggilan, tapi baekhyun sama sekali tidak mengangkatnya. Menghela nafas lelah yang hanya chanyeol bisa lakukan melihat kelakuan istrinya yang menjengkelkan itu.
.
.
.
.
"ah iya, pasti tadi chanyeol menghubungiku berkali-kali. Pasti dia sangat marah saat sambungannya ku putus begitu saja. Apa ku telfon lagi saja ya sekarang?" baekhyun berbicara pada dirinya sendiri di tengah kunyahan makannya.
Ia pun meraih handphone yang sengaja di tinggalnya di rumah saat berbelanja tadi. Segera saja ia menekan tombol satu sebagai tombol panggilan cepat untuk suaminya itu.
Getaran ponsel mengagetkan chanyeol yang sedang serius membaca file-file yang akan di tanda-tanganinya. " nae sarang anae". Tanpa sadar ia tersenyum melihatnya. Ternyata istri cantiknya itu menepati perkataannya tadi untuk menelphone lagi.
"halo chanyeol!" chanyeol menjauhkan handphonenya dari telinga mendengar teriakan baekhyun disebrang sana
"ehm" seperti ingin membalas dendam, chanyeol menjawabnya dengan singkat , dingin, dan datar seperti yang dilakukan baekhyun sebelumnya. Hal itu tentu membuat baekhyun merasa tidak enak.
"chanyeol, apa kau marah? chanyeol maafkan aku , tadi itu aku lapar sekali sehingga-"
Dengan tidak sopan chanyeol memotong perkataan baekhyun, "yak! park baekhyun hentikan! Kau membuat teilingaku sakit dengan cerocosanmu yang tidak berhenti itu"
Hanya ringisan yang baekhyun keluarkan mendengar omelan chanyeol. " baiklah. Jadi apa kau sudah mengisi perutmu nyonya jung? Kau tidak membakar apartment kita karena kecerobohanmu itu kan?"
baekhyun memutar matanya malas mendengar perkataan chanyeol itu. ya memang dia sedikit ceroboh, tapi tidak akan sampai membakar apartment mereka hanya untuk memasak,
" ya begitulah. Apa yang akan kau lakukan hari ini selain menandatangi berkas-berkas membosankan itu?"
"berkas-berkas membosankan katamu?" baekhyun menganggukan kepalanya, dan beruntung chanyeol tidak bisa melihatnya dari sebrang sana, karena jika tidak, entah apa yang akan chanyeol lakukan kepadanya ,
" dengar ya, berkas-berkas membosankan inilah yang membuatku bisa menghidupimu"
Tidak ada suara apapun lagi yang terdengar, baekhyun sibuk dengan makanannya, dan chanyeol sendiri sibuk menandatangani berkasnya. Walaupun begitu, tidak ada satupun dari mereka yang berniat memutuskan sambungan. Seolah-olah hanya dengan mendengar deru nafas satu sama lain sudah membuat mereka senang. baekhyun beranjak dari kursinya berniat untuk membawa piring kotornya ke tempat pencucian piring.
"akh" ia meringis merasakan sakit di lututnya yang terantuk kaki meja. Hal itu tentu membuat chanyeol juga merasa kaget mendengar ringisan kesakitan dari sebrang sana.
"wae? Wae? Kau kenapa" tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya, chanyeol bertanya.
" gwenchana, hanya terantuk kaki meja."
chanyeol menghela nafasnya khawatir, " huh… tipikal baekhyun berubah, tetap saja ceroboh. Sepertinya aku harus cepat-cepat pulang, jika tidak berapa banyak lagi kau akan menyakiti dirimu sendiri"
" ya ya segera pulang, dan temui istri keduamu ini". Kata-kata baekhyun itu membuat chanyeol menyerngit.
"istri kedua apanya? Hanya kau satu-satunya istriku baek"
"ya ya katakan hal itu kepada berkas-berkas sialanmu itu"
LAGI?! Sudah berapa kali baekhyun mengatai berkas-berkas pentingnya ini sialan. Sepertinya ia tau apa yang membuat baekhyun sangat kesal seperti itu.
" ne nado bogoshipo bee"
"mwo? Yak! Siapa juga yang merin-"
"baiklah aku akan pulang minggu ini juga"
"benarkah? Tapi chan, aku tidak serius dengan perkataanku, kau selesaikanlah dahulu pekerjaanmu disana"
TOK TOK
Suara ketukan pintu menghentikan chanyeol untuk menjawab perkataan istrinya. "masuklah" katanya memberi perintah. Sepertinya ia harus kembali bekerja dan mengakhiri sesi pembicaraannya dengan baekhyun. Ia mengisyaratkan kepada asistennya itu untuk menunggu.
"baek, ada beberapa hal yang harus ku urus. Aku tutup telphonenya. Bye bee"
"ehm". baekhyun meletakkan handphone yang sudah di matikannya ke atas meja. Namun sebelum ia beranjak meninggalkan meja, suara dentingan handphonye kembali berbunyi menandakan adanya pesan yang masuk.
From : my love husband
Datanglah ke shishi's caffe pukul 10 minggu ini.
Berkencan setelah menikah, bagaimana menurutmu?"
baekhyun tersenyum membaca pesan yang baru saja di terimanya. ia berlalu dari handphoneya tanpa membalas pesan suaminya itu, dan pastiya membuat chanyeol kembali mendengus kesal di jeju sana.
TBC
Balik lagi denga sequel dari mianhe! Sajangnim. Yeay! Emang sih ini udah lama banget dari terakhir kali update cerita, dan chapter ini masih baru pembuka dari chapter-chapter selanjutnya, so, sabar aja kalo merasa chapter ini kurang seru wkwkw. Ehmmm.. ini sih belum ada gambaran juga mau gimana jalan cerita kedepannya, kalo ada yang mau ngasih ide atau saran bisa tulis di comment. Byeee~~~~
