Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 8

Started from Now

.

Kesalahan. Mungkin itulah yang kini membayangi batin Naruto. Dalam hati ia menyesali –ralat, sangat menyesal– menerima tugas untuk menggantikan Sasuke melatih Sakura.

Lihatlah, gadis itu kini tengah menyerangnya dengan pedang kayu secara membabi buta –meski harus diakui skillnya juga bertambah.

Naruto nampak kuwalahan ketika dipaksa mengimbangi serangan Sakura yang kian lama semakin mahir saja –hampir sama dengan kemampuan Sasuke, hanya saja lebih terkesan brutal dan agresif. Diam-diam Naruto mengagumi pelatih Sakura yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, cara Sasuke melatih Sakura dengan keras ternyata membuahkan hasil maksimal. Gadis itu sama sekali tak takut menangkis serangan Naruto dan cepat melakukan serangan balik.

Beberapa kali Sakura nampak menggumam tak jelas, membuat Naruto sadar bahwa dirinya adalah pelampiasan emosi gadis cantik sekaligus menakutkan yang kini mulai memojokkannya.

"TEGANYA KAU SAMA SEKALI TAK MENGHUBUNGIKUUU...!" Sakura berteriak sembari melakukan serangan pamungkas yang menyebabkan jatuhnya senjata Naruto.

Nafas keduanya sama-sama tak beraturan, bahkan Naruto berani bertaruh, jika yang dipegang Sakura kini adalah pedang sungguhan, ia pasti sudah mati di tangan gadis itu.

"Kau ini lemah sekali sih. Segitu saja sudah menjatuhkan pedang," cerca Sakura masih dengan nafas tak beraturan.

"Kau yang gila Sakura! Lagipula kemampuanku memegang pedang memang tak semahir Sasuke!" sahut Naruto tak terima.

"Hah..orang payah sepertimu kenapa harus melatihku menggantikan Sasuke?"

"Kau ini marah padaku atau pada Sasuke sih?"

Diam sejenak. Sakura tak tahu kenapa akhir-akhir ini ia menjadi begitu emosional. Bahkan sore tadi ia memarahi koki yang memasak untuk makan siang mereka dengan alasan makanannya terlalu asin sehingga Sakura tak bisa memakannya. Padahal jelas-jelas anggota lain makan dengan lahapnya seperti biasa.

Ia juga lebih sering melamun saat di kelas. Lebih sering marah-marah pada Gaara, memaksa bocah merah itu menemaninya sepanjang hari, membuat Naruto kuwalahan karena harus terus mengawasinya dari jauh. Kesimpulannya, tanpa Sasuke Sakura jadi bertingkah semaunya.

Semua itu dilakukanya untuk pelampiasannya karena selama tiga hari ini Sasuke sama sekali tak memberi kabar. Terakhir pemuda itu hanya mengiriminya pesan 'Bersenang-senanglah, dan jangan menghubungiku sampai misi ini selesai jika kau masih ingin hidup!'

Sakura benar-benar kesal, terlebih Sasukie kini tengah bersama mantan kekasihnya yang telah berhasil membuat hari-hari Sakura tak tenang.

Sakura benar-benar marah, dan rasanya hanya dengan latihan-lah ia bisa melampiaskan kekesalannya. Terlebih Naruto tak pernah berani melawan kata-katanya.

"Ash...kau ini memang menyebalkan!" sahut Sakura sebal sembari melempar pedang kayunya kesal dan berjalan keluar ruang latihan –meningalkan Naruto yang masih menggeram jengkel.

###

"Jadi dia tak menghubungimu sama sekali?" tanya Gaara cemas menatap pujaannya yang terlihat pucat dan lemas.

Akhir-akhir ini Sakura memang memforsir tenaganya dengan latihan tanpa henti sampai sering lupa makan. Ia benar-benar frustasi karena Sasuke sama sekali tak memberikan kabar.

"Aku yakin ia baik-baik saja," sambung Gaara menenangkan.

Sakura menghela nafas lagi, tak berniat menanggapi. Andai saja Sasuke seperti Gaara, yang selalu sabar menghadapinya, memanjakannya dengan penuh kasih, selalu ada di sampingnya dan...argh...terlalu banyak kelebihan Gaara dibanding Sasuke yang hanya bisa membuatnya bimbang.

Sementara Sakura berkutat pada pikirannya, Gaara masih penasaran dengan sosok Sasuke sebenarnya. Kenapa Sakura bisa begitu terjerat pada pemuda itu? Apa kelebihannya? Padahal selama ini menurut Gaara Sasuke sama sekali tak memandang Sakura. Gaara selalu memperhatikan ketika sepasang kekasih itu berjalan berdampingan, Sakura tak pernah berjalan tepat di samping Sasuke, gadis itu akan berjalan beberapa senti di belakang Sasuke dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bagi beberapa orang mungkin itu biasa, tapi tidak bagi Gaara yang mengenal gadis manis itu sejak kecil. Entah mengapa...sikap Sasuke yang terkesan acuh membuat Gaara ikut terluka.

Sekarang contohnya, Gaara bukan tak melihat 'tanda merah' yang disematkan Sasuke kusus untuk 'kekasihnya' itu. Sejak hari pertama absennya Sasuke dari sisi gadis itu, Gaara telah menyadari maksud dari tanda itu. Sasuke mengejeknya, pemuda itu ingin menunjukkan bahwa Sakura miliknya dan tak satupun bisa menyentuhnya meski Sasuke tak di sampingnya.

Namun di samping itu,Sasuke sama sekali tak memberikan kabar tentang kondisinya di sana yang akhirnya berdampak pada kondisi Sakura. Jadi apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Sasuke? Mengapa rivalnya itu sangat sulit ditebak jalan pikirannya?

"Gaara," panggil Sakura memecah keheningan. "Bawa aku pergi," sambungnya kemudian.

Gaara nampak terhenyak sejenak. "Mau kemana?"

"Kemana saja, aku butuh menjernihkan pikiranku," jawab Sakura lirih.

Gaara nampak berfikir sejenak. Tak tega rasanya melihat Sakura yang seperti ini, jadi telah ia putuskam. Meski kemungkinan ia akan menjadi daging giling jika Sasuke mengetahui ini, ia akan membawa Sakura pergi dan sebisa mungkin mengubah hati gadis pujaannya itu mulai detik ini. Ia takkan mundur lagi.

"Baiklah, mari bersenang-senang!" ucap Gaara penuh semangat sembari berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura menyambutnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

Dalam hati Sakura berkata, 'Akan kulakukan seperti yang kau inginkan, Uchiha Sasuke.'

###

"Kita tak bisa menunda Serangan lagi Sasuke...segera selesaikan misi ini," ucap Neji dingin. Ia mulai tak sabar dengan sikap Sasuke yang terus menerus mengundur eksekusi.

"Target kita kali ini dilindungi Akatsuki, kita tak tahu berapa orang yang mereka kerahkan. Berangkat ke medan perang tanpa tahu musuh yang kita hadapi, sama saja dengan lompat ke mulut harimau," sahut Sasuke sinis sembari menatap gedung pencakar langit dari balik jendela.

"Lantas apa rencanamu?" tanya Sasori akhirnya yang sendari tadi hanya terdiam mendengarkan.

Sasuke nampak terdiam, irisnya yang semerah darah menatap lurus pada sosok bermeter-meter di bawah sana. Sosok yang tak lagi asing dalam kehidupannya. Sosok yang amat dihormati sekaligus dikutuknya dalam hati akibat apa yang telah dilakukannya.

Sosok itu kini nampak berdiri tegap di samping sebuah mobil hitam sembari bicara dengan seseorang dengan menggunakan alat komunikasi khusus. Kemudian berjalan beriringan dengan target Exterminator yang baru saja turun dari mobil, tidak salah lagi. Itu pasti dia.

"Sasuke, waktu kita tak banyak," ujar Ino menengahi.

"Kita lakukan eksekusi malam ini," jawab Sasuke mantab. "Mari kita mulai pesta perkenalan ini," gumamnya kemudian, entah pada siapa.

###

Gaara nampak teresenyum puas menatap ekspresi kagum Sakura. Mereka kini tengah menyusuri galeri lukisan di Konoha yang selalu ingin Sakura kunjungi.

"Aku ingat dulu kau selalu menunjukkan katalog galeri ini dan berkali-kali membujukku untuk meminta Ayahmu mengizinkan kita kemari," ucap Gaara dengan nada jenaka.

"Ya...ya..ya... kau selalu tau mauku," sahut Sakura sembari mengangguk-angguk lucu.

"Kau senang?"

"Ya..tentu saja. Tapi akan lebih lengkap jika kita bisa melarikan diri dari si rambut durian itu," bisik Sakura malas. Gaara menoleh ke arah yang ditunjuk Sakura dengan dagunya dan menemukan Naruto yang diam-diam memperhatikan mereka.

"Bagaimana kalau kita jebak dia?" tawar Gaara yang terdengar begitu menggiurkan di telinga Sakura. Tiba-tiba senyum jahil terkembang di bibirnya, seoah menyetujui ucapan Gaara.

"Hitungan ketiga, kita lari ke lantai dua dan turun lewat tangga darurat," bisik Gaara yang ditanggapi Sakura dengan anggukkan cepat.

"Satu, dua,..." belum sampai hitungan ketiga, Gaara menarik cepat tangan Sakura dan membawanya berlari menembus kerumunan anak sekolah. Segera saja ia menyusuri tangga dan naik ke lantai dua diiringi tawa puas Sakura. Entah mengapa hal ini menimbulkan perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya.

Sakura senang, sudah lama ia tak merasakan kesenangan seperti ini. Sejak dulu Gaara selalu berhasil membawanya melarikan diri dari orang tuanya, membantunya membolos sekolah, dan juga sering mengajaknya kabur dari para pengawal yang selalu membuntuti mereka. Segala kenangan menyenangkan selama mereka masih sama-sama hidup normal membuat Sakura begitu bahagia. Dengan lincah ia mengikuti langkah Gaara yang sekalipun tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Ini menyenangkan...

Sementara itu, di belakang mereka Naruto nampak menggeram frustasi sembari berusaha mengikuti Sakura meski tertinggal jauh. Ia semakin kesal ketika menyadari dua orang yang dibuntutinya sengaja menjebaknya dan berniat melarikan diri.

"Shit!" umpatnya sebal ketika tak berhasil menemukan jejak Gaara dan Sakura. Mereka berhasil mengelabui si rambut durian rupanya!

Di lain tempat, Sakura tertawa puas ketika tak menemukan jejak Naruto di belakangnya. Nafasnya nampak tersengal diiringi tawanya yang membuatnya terlihat begitu cerah –menghapus segala kemuraman yang sempat menaungi wajahnya.

Gaara hanya mampu tersenyum memandangi Sakura yang kini berusaha keras mengatur nafasnya seperti ibu-ibu yang hendak melahirkan. Mereka kini tengah bediri di lapangan parkir –bersiap untuk kabur.

"Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Gaara sembari menyudurkan helmnya. Sakura menyambutnya senang sembari naik ke boncengan Gaara. Beberapa detik kemudian, mereka melesat menembus keramaian kota, tanpa Naruto yang kini masih mencari-cari jejak mereka di musium.

###

Sasuke nampak memandangi ponselnya sebal. Baru saja ia menghubungi gadis pinknya, dan hanya dijawab operator sialan yang memintanya meninggalkan pesan. Kemana gadis sialan itu?

"Kau nampak kesal," sindir Neji. "Makanya, cepat selesaikan misi ini. Semakin cepat diselesaikan, semakin cepat kau bertemu dengannya."

"Terkadang ternyata kau bisa menjadi begitu menyebalkan," sahut Sasuke kesal membuat Neji terkekeh senang.

Mereka kini tengah mempersiapkan segala peralatan untuk misi malam ini. Nampak Neji tengah mengisikan peluru ke dalam pistol kesanyangannya, Hinata nampak berdiskusi serius dengan Sasori sembari menunjukkan beberapa gambar ruangan di layarnya, sementara Ino mengawasi kondisi gedung tempat nantinya mereka melancarkan misi melalui teropongnya di samping Sasuke.

"Kau serius dengannya?" tanya Ino tanpa memandang Sasuke.

"Aku tak perlu menjawabnya nona," jawab Sasuke jenaka.

"Kenapa tak kau biarkan dia yang mendampingimu di sini?"

"Karena itu sama saja aku memintanya bunuh diri."

"Kau meragukan kemampuannya?"

"Ia sangat mengagumkan."

"Lalu mengapa kau memintaku berdiri di sini dan membuatku terlihat bodoh?" tanya Ino tak sabar sembari meletakkan teropongnya dan memandang lekat Sasuke.

"Memberimu kesempatan menjalankan misi terakhirmu sebelum Ayah mengirimmu kembali ke Amerika," jawab Sasuke tenang.

"Aku takkan kembali ke sana. Aku akan tetap di sini," Ino mulai bersikeras.

"Ayah dan aku telah sepakat."

"Kalian tak berhak melakukan ini. Aku berhak menentukan hidupku!"

"Tidak selama kau berada di bawah naungan Exterminator," sahut Sasuke masih dengan nada yang sama. "Dewasalah Ino...hidupmu lebih baik di sana. Belajarlah dan jalani kehidupanmu sebagai manusia normal, pergilah dari dunia kriminal ini. Kau punya kesempatan untuk itu."

"Aku ingin di sini, bersama kalian. Menjalankan misi bersama, menjalani kehidupan yang tak normal ini bersama."

"Setidaknya selesaikan pendidikanmu."

Ino terdiam. Bisa dirasakannya nada perintah di sana. Belum lagi tatapan Sasuke yang nampak begitu memohon. Ia tahu alasan Sasuke sebenarnya adalah karena pemuda itu tak ingin ia mengotori tangannya lagi. Sasuke tak pernah setuju jika Ino menjalankan misi dan memegang senjata. Meski kemampuannya tak perlu diragukan lagi.

"Sasuke, nampaknya tak ada masalah serius. Hinata bisa melumpuhkan sistem keamanannya dengan mudah," ucap Sasori menengahi. Berusaha mengingatkan bahwa mereka masih dalam misi penting.

"Kita bergerak tiga jam lagi. Jadi siapkan segalanya," sahut Sasuke mengehentikan pembicaraan dan beranjak menuju kamar mandi.

Sementara itu, Ino berusaha keras menahan air matanya ditemani tatapan Sasori yang nampak begitu terluka.

###

Sakura memandangi ponselnya prihatin. Beberapa menit yang lalu ponsel kesayangannya itu terjebur ke air laut saat ia bermain-main di pantai. Kini ponsel pink itu nampak membisu dengan layar hitam yang tak lagi bercahaya.

"Sasuke pasti akan menggilingku," ucap Sakura ngeri sembari menekan-nekan layar ponselnya.

"Bukankah ia sama sekali tak menghubungimu?" tanya Gaara mengingatkan.

Mereka berdua kini tengah menikmati udara pantai ditemani semilir angin yang bergerak lembut. Sesekali Sakura menggerak-gerakkan tangannya di pasir dan membuat gambar-gambar aneh.

Melihat Sakura yang kembali murung, Gaara kembali memutar otak. Seolah mendapat ide dari surga, ia mengambil ranting dan berdiri ke belakang Sakura. Kemudian Gaara bergerak melingkar diiringi tatapan bingung Sakura. Setelah melihat apa yang dilakukan Gaara, Sakura tersenyum kagum. Pemuda itu kini tengah menggambar hati mengelilingi Sakura, menempatkan gadis manis itu dalam bentuk hati buatannya.

Setelah selesai, Gaara berjongkok di hadapan Sakura dan memandang sayang pada gadis pujaannya itu. "Kau tahu kemana seharusnya kau berlari saat membutuhkan sandaran. Karena kau selalu memilikiku di sini," ucap Gaara tulus. "Aku akan selalu mendampingimu. Seperti janji kita dulu," sambungnya kemudian, membuat Sakura tak sanggup menahan senyuman bahagianya. Segera dipeluknya bocah merah yang teramat dibenci Sasuke tanpa ada yang tahu alasan sesungguhnya.

"Terimakasih Gaara, kau memang selalu menyayangiku dengan tulus," ucap Sakura masih dalam pelukan Gaara. 'Dan maaf karena aku tak pernah bisa membalas perasaanmu,' sambungnya dalam hati.

Dari kejauhan Naruto nampak menggeram frustasi menyaksikan adegan di hadapannya. Baru saja ia berhasil melacak keberadaan Sakura melalui alat yang memang terpasang dalam tubuh masing-masing anggota, dan kini ia disodorkan dengan adegan yang sama sekali tak ingin dilihatnya. "Ini diluar kuasaku teme. Cepatlah pulang," gumam Naruto dengan nada putus asa. Sepintas Naruto melirik pesan singkat dari saudara dekatnya itu.

'Apa Sakura baik-baik saja? Aku tak bisa menghubungi ponselnya.'

Naruto belum membalas pesan singkat dari Sasuke itu, ia bingung harus bagaimana. Selama menjalankan misi, Sasuke selalu mengirimkan pesan padanya dan menanyakan perkembangan Sakura. Apakah ia makan sesuai dengan menu dietnya, bagaimana perkembangan latihannya, kemana saja gadis itu pergi, Sasuke selalu rutin menanyakannya pada Naruto. Dan kini Naruto dalam dilema antara harus jujur atau berbohong pada sahabatnya itu. Naruto berani bertaruh, Sasuke akan menerjang bocah merah itu jika tahu kejadian hari ini.

Akhirnya dengan berat hati, Naruto berbohong untuk kali ini saja.

'Dia sedang latihan bersamaku. Ponselnya kehabisan daya, kau tenang saja teme.'

Send.

"Semoga kau mengerti kondisiku teme," gumam Naruto yang hanya dijawab pemberitahuan pesan terkirim.

###

Sasuke terdiam membaca balasan pesan dari Naruto. Aneh, Sasuke baru saja menelfon Kakashi dan mendapat kabar bahwa Naruto dan Sakura belum pulang sampai sekarang. Apa mungkin Naruto membohonginya? Atau mungkin Kakashi yang tak tahu bahwa Naruto dan Sakura sedang melakukan latihan?

Sasuke mencoba berikir positif. Rumah mereka kan memang teramat luas, mungkin saja Kakashi belum bertemu mereka karena terus berada di ruang pantau.

"Hmmm," terdengar gumaman kurang puas dari bibir Hinata. Saat ini semua anggota telah siap untuk menjalankan misi. Semua peralatan sudah tersimpan rapi dalam mobil box hitam yang terparkir di luar penginapan. Namun nampaknya ada yang mengganggu pikiran sang ahli tekhnologi.

"Ada apa?" tanya Ino heran.

"Untuk hotel sekelas itu, aku merasa aneh. Kenapa sistem keamanannya begitu mudah ditembus?"

"Bukankah itu bagus?" sahut Neji tak kalah heran dengan pemikiran adik kesayangannya.

"Aku hanya merasa aneh. Apa mungkin..."

"Apapun yang akan kita hadapi, ini bagian dari misi. Kita akan tetap maju, apapun yang terjadi," potong Sasuke cepat.

"Kau sudah menyadarinya sejak awal?" tanya Sasori datar.

Sasukie hanya menjawabnya dengan diam. Matanya mengarah lurus pada bagunan di depannya.

"Kau tetap akan mengambil resiko? Bagaimana kalau ini jebakan?" Ino mulai panik.

Sasuke menghirup udara dalam-dalam sembari memejamkan matanya. Ketika sepasang mata elang itu terbuka, nampak sang onyx telah berubah semerah darah dengan aksen unik di dalamnya. "Anggap saja ini tantangan," jawabnya dengan seringai iblis andalannya. "Kita buktikan siapa yang lebih tangguh."

###

"Aku rasa mereka akan bergerak setelah ini," ucap Kisame sembari memainkan pisau tajam di tangan kanannya. "Tak sabar rasanya merobek tubuh bocah-bocah tengil itu," sambungnya sadis.

"Hn," hanya itu tanggapan Itachi. Sendari tadi ia merasakan aura kuat yang menguar tak jauh dari mereka. Aura yang sangat dikenalinya. "Mereka ada di sini, sebaiknya kita bersiap," sahutnya kemudian.

Konan nampak memandang Itachi khawatir. Ia tahu pria di sampingnya ini sama sekali tak menginginkan tugas ini. Ia bahkan sempat tersentak saat Itachi mengatakan, "Hanya aku yang boleh menghabisi mereka."

"Baiklah...sebaiknya kita bersiap," ucap Deidara bersemangat. "Ini akan sangat menyenangkan," sambungnya percaya diri.

"Tetap fokus dan lindungi target. Misi utama kita adalah pengawalan client. Semua akan sia-sia jika client kita terbunuh," tutur Konan mengingatkan.

Akatsuki mulai bergerak. Kali ini mereka bersumpah akan menghabisi bocah-bocah tengil yang telah menyebabkan kelompok mereka mengalami defisit akhir-akhir ini.

###

Sakura tersentak ketika melihat Naruto turun dari mobil yang manghadang motor Gaara. Pemuda ramah itu nampak kesal melihat kebersamaan Sakura dan Gaara.

"Sebaiknya kau pulang bersamaku Sakura-chan," tawar Naruto, meski lebih terdengar seperti perintah.

Sakura paham dengan maksud Naruto. Dalam hati ia sendiri merasa bersalah karena telah bertingkah seenaknya. Ia kemudian mengangguk dan melangkah menuju mobil Naruto.

"Aku bisa mengantarnya," sahut Gaara sembari menahan langkah Sakura.

"Kau harusnya tak mendekati gadis yang telah terikat dengan seorang pria tuan," sindir Naruto tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya.

"Aku hanya menemaninya."

"Hanya karena kau berasal dari masa lalu Sakura, bukan berarti kau bisa membawanya sesukamu," ucap Nauto memperingatkan. "Hubungannya dengan Sasuke tak sesederhana yang kau pikirkan."

"Sudahlah Naruto!" sela Sakura menengahi. "Kita pulang," sambungnya sembari menarik tangan Naruto dan mengajaknya pergi. "Ehm...terimakasih Gaara-kun. Maaf merepotkanmu," ucapnya sebelum memasuki mobil, meninggalkan Gaara yang masih memandang sebal sebuah mobil sport yang semakin menjauh.

Naruto segera melajukan mobilnya kembali ke kota. Hatinya tak tenang karena telah membohongi sahabatnya, belum lagi kemungkinan mendapat amukan dari Sakumo karena absen dari latihan sore.

"Jangan membuatku berbohong pada teme lagi Sakura-chan," ucap Naruto saat berada dalam mobil.

"Kau tidak harus berbohong padanya Naruto," sahut Sakura enteng.

"Dan membuatmu dalam masalah?"

"Apa pedulinya? Dia bahkan tak memberikan kabar sama sekali," jawab Sakura acuh.

'Andai kau tahu dia menanyakanmu setiap saat,' batin Naruto. Jika saja Sasuke tak melarangnya memberi tahu Sakura, ia pasti sudah berteriak dan memberi tahukan Sakura tentang betapa pedulinya Sasuke pada gadis itu.

###

Sasuke nampak mengawasi keadaan sekitar sebelum memberikan kode pada Neji untuk masuk melalui pintu darurat. Sementara itu, Ino yang melakukan penyamaran kini tengah berbaur bersama beberapa model lainnya di tengah pesta, sedangkan Sasori tengah menyamar sebagai pelayan dan menjamu beberapa tamu yang ada. Di lain tempat, tak jauh dari gedung tersebut, Hinata nampak mengawasi keadaan melalui layar komputernya dengan perasaan cemas.

Beberapa kali Ino nampak mencuri pandang ke sekeliling ruangan. Gawat! Akatsuki benar-benar berada di sana, dan jumlahnya tak sebanding dengan jumlah mereka. Saat mencoba menginformasikannya pada Sasuke, tiba-tiba Ino merasakan sebuah logam tajam menempel di punggungnya. Ino dapat merasakan tubuh seseorang yang mendekapnya dari belakang.

"Santailah sedikit cantik, kenapa harus tegang begitu?" ucap pria dibelakang Ino dengan nada menjijikkan. "Sebaiknya kita bergerak sekarang, kau pasti sudah tak sabar menikmati pesta penyambutan kami," sambungnya masih dengan nada yang sama.

Sepintas Ino menangkap ekspresi panik Sasori. Ia yakin pemuda itu mengerti dari tatapan mata Ino bahwa semua telah dimulai. Dengan sigap Sasori meletakkan nampan yang ada di tangannya dan berusaha menghubungi Sasuke, namun percuma. Sambungan alat komunikasi mereka terputus.

"Lama tak bertemu...kawan lama," sapa Deidara sok ramah. Sasori terdiam di tempatnya, tak percaya dapat bertemu kembali dengan rekan satu timnya dulu. "Masih ceroboh seperti dulu eh?" ledeknya seperti biasa. "Bagaimana kalau kita menikmati jamuan yang telah kami persiapkan khusus untuk kalian? Mungkin kita bisa mengadakan reuni akbar?" tawar Deidara yang lebih terdengar seperti ancaman bagi Sasori. Tak ingin menarik perharian, Sasori akhirnya menuruti ajakan Deidara tanpa banyak bicara.

Di lain tempat, Hinata nampak panik saat layar di hadapanya mendadak buram. Beberapa kali ia mengetik program khusus dan gagal. Apa yang terjadi? Sepertinya ada yang mengacaukan sinyalnya. Belum pulih dari rasa paniknya, tiba-tiba pintu mobil boxnya dibuka paksa.

"Surprise...! Layanan penjemputan!" ucap seorang wanita cantik dengan penuh semangat yang tak lain dan tak bukan adalah Konan. Di belakangnya berdiri seorang pria berwajah aneh menodongkan senjatanya pada Hinata. Sebelum berhasil diseret keluar, Hinata sempat menekan tombol darurat, berharap Sasuke dan Neji mengetahui kondisi ini.

Sementara itu, Neji sedikit terkejut saat mendapati kode merah dari Hinata. Nampaknya segalanya telah dimulai.

"Sasuke," ucap Neji sambil memberi isyarat pada rekannya yang kini nampak menyeringai puas.

Setelah menyusun rencana baru bersama Neji, mereka kembali bergerak cepat. Ya, mereka telah memperkirakan situasi ini. Maka dari itu, berpura-pura panik adalah jalan terbaik.

Di saat Neji dan Sasuke bergerak, Ino, Sasori dan Hinata tengah digiring menuju ruangan yang sama. Tak ada rasa takut dalam hati mereka, justru rasa puas karena apa yang mereka perkirakan benar-benar terjadi. Jadi siapa yang membodohi siapa?

Diluar dugaan, Sasuke yang sudah membaca pergerakan Akatsuki sejak awal telah mengirimkan pemberitahuan pada kantor pusat. Kakashi segera memberangkatkan beberapa anggota lain untuk segera menyelesaikan eksekusi sementara Sasuke dan kawan-kawannya mengalihkan perhatian Akatsuki.

"Dasar bocah nakal," gumam Kakashi memperhatikan aksi Sasuke. Bahkan bocah menyebalkan itu sempat mengacungkan jempolnya ke CCTV sembari menyeringai jahil, seolah mengejek Kakashi yang awalnya tak setuju dengan rencana yang penuh resiko ini.

Tingkah menyebalkan Sasuke tak ayal mengundang tawa ringan Kakashi, ia tahu anggota andalannya itu takkan mengecewakannya. Sasuke selalu punya cara untuk menyelesaikan misi.

###

Sakura mengaduk makanannya bosan. Ruang makan begitu sepi, hanya ada dirinya, Tenten dan Naruto di sana. Yang lain telah berangkat untuk menolong Sasuke dan yang lainnya.

"Kau harus makan sesuatu Sakura-chan," ucap Tenten khawatir.

"Aku bosan," sahut Sakura malas.

"Ayolah...Sasuke akan memenggalku kalau sampai kau sakit," ucap Naruto memelas.

"Kalian semua berucap seolah dia begitu peduli padaku," sahut Sakura sebal sembari meletakkan alat makannya. Baru saja hendak keluar ruang makan, Sakura dikejutkan dengan lolongan ponsel Naruto.

"Teme? Bukankah kau sedang dalam misi?" tanya Naruto cepat ketika mengetahui panggilan itu dari Sasuke. Mendengar nama Sasuke disebut-sebut, Sakura mendadak berhenti dan menoleh kaku. "Kau ingin bicara dengan Sakura-chan?" tanya Naruto heran sembari menatap Sakura sebelum akhirnya menyodorkan ponselnya pada Sakura.

Dengan ragu, Sakura menempelkan ponsel Naruto ke telinganya dan mendengarkan suara pemuda di seberang sana.

"Hei," sapa suara nan jauh di sana. "Kau makan dengan benar kan?" tanya Sasuke dengan nada khasnya. "Aku akan segera menyelesaian misi ini dan pulang, jadi jangan berani bertingkah aneh-aneh selama aku di sini," cerocos Sasuke tanpa berharap Sakura menanggapinya. Ia tahu betul gadis itu pasti akan menghujaninya dengan omelan sepulangnya dari misi nanti. "Persiapkan dirimu, aku akan melakukan evaluasi nanti. Kalau sampai belum becus juga, bukan hanya kau yang akan kuhukum, Dobe juga akan merasakan akibatnya."

Sakura masih diam. Ia begitu marah, namun juga teramat merindukan pemuda menyebalkan di seberang sana.

"Baiklah...kalau begitu.."

"Aku merindukanmu," potong Sakura cepat. Kali ini Sasuke yang terdiam. Di ujung sana, pemuda itu menghela nafas beberapa saat, ucapan sederhana Sakura entah mengapa membuat dada Sasuke terasa menghangat. Ia berjalan sembari memegang senjatanya dengan posisi siaga bersama Neji di sebelahnya –mendengarkan ucapan Sakura melalui headset bluetooth di telinganya.

"Hn," jeda sejenak. "Aku juga," ucapnya kemudian dengan tulus. Sasuke berani bertaruh Sakura kini tengan tersenyum dengan manisnya dengan semburat merah di pipinya, karena memang itulah yang terjadi. "Bersabarlah," sambung Sasuke sebelum mengakhiri pembicaraannya.

"Siap beraksi?" tanya Neji mengingatkan. Sasuke mengangguk sembari menyeringai buas. Bertemu dengan rival besar mereka membuat Sasuke begitu bersamangat.

###

"Dimana kapten kalian? Jangan-jangan dia kabur?" ledek Kisame.

Tak ada yang menjawab, mereka memilih bungkam dan menunduk sembari memasang wajah putus asa.

Itachi nampak memasang wajah datar sembari memandangi kawan-kawan seperjuangan adiknya ini. Tadinya mereka berencana menghabisi mereka secara terpisah, namun rasanya akan sangat menyenangkan bila terjadi perang kecil-kecilan sebelum menghabisi mereka satu persatu,

"Heran, bocah-bocah seperti kalian ini kenapa harus menjadi ancaman besar bagi kami?" Kisame nampak kesal karena ledekannya tak ditanggapi.

Dalam hati, ketiga manusia yang menjadi umpan itu mengumpat sebal. Bisa-bisanya Sasuke tak segera muncul.

Baru saja Kisame hendak mengumpat lagi, mereka kembali dikejutkan dengan suara tembakan dan jeritan beberapa orang di luar ruangan. Belum sempat berfikir, pintu di hadapan mereka tiba-tiba dibuka paksa dan memunculkan sesosok yang kini menodongkan senjatanya santai.

"Tenang..tenang...semua tetap pada posisi," ucap Sasuke santai sembari memasuki ruangan dengan dua tangan direntangkan dan masing-masing menggenggam pistol. Tatapannya kini tertumpu pada sosok yang tak lagi asing dalam kehidupannya. Mereka saling tatap, dengan warna mata yang sama, ekspresi datar yang sama, bedanya Sasuke kini menyeringai meremehkan sembari menatap kakak kandungnya.

"Salam kenal saudara-saudara," sapa Sasuke sok ramah dengan tampang menyebalkan yang tak dibuat-buat.

Beberapa manusia di dalam ruangan itu nampak menahan nafas memperhatikan kemiripan dua orang tersebut. Beberapa saat mereka terpukau dengan pemandangan ini.

"Turunkan senjatamu jika ingin teman-temanmu selamat," ancam Kisame sembari menodongkan pistol tepat ke kepala Ino.

"Kalian harusnya sadar bahwa bukan kalian yang kami incar di sini," sahut Sasuke santai sembari meletakkan kedua pistol di tangannya santai. "Lagipula gadis itu tak begitu berguna, kau bisa memilikinya jika memang mau," sambungnya santai yang dihadiahi tatapan membunuh kawan-kawannya. Mereka tahu Sasuke tak benar-benar berniat mengucapkannya, tapi tetap saja. Menyebalkan!

Tunggu dulu, dimana Neji?

Beberapa saat kemudian terdengar suara dentuman lumayan keras dari lantai bawah, Sasuke hanya mengangguk-anggukkan kepalannya seolah berfikir. Sementara anggota Akatsuki yang berada dalam ruangan itu nampak cemas, kecuali Itachi tentunya.

"Harus kuakui kalian memang hebat dan begitu tanggap. Sayangnya kami terlalu memahami pemikiran kalian. Sekali lagi kami ingatkan, bukan kalian target kami di sini," tutur Sasuke santai.

Tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya, seorang anggota Akatsuki tiba-tiba menerobos masuk dan berucap dengan tersengal, "Client kita terbunuh!"

Sasuke nampak tersenyum puas sembari mengangkat kedua tangannya dengan berekspresi pura-pura kecewa, beberapa saat kemudian ia memberikan kode kepada kawan-kawannya. Dengan cepat mereka bergerak.

Ino segera melumpuhkan Kisame dan dengan cekatan berhasil merebut pistol yang tadinya digunakan menodongnya. Ia kemudian menembakkan peluru panas ke kaki pria yang telah berani menyentuhnya tadi, menyebabkan darah mengalir dari kaki pria yang kini meraung kesakitan.

"Hukuman karena berani menentuhku," ucapnya sebelum akhirnya menanampak peluru panas ke telapak tangan Kisame.

DOR

"Arrrrrggghhhhh...!" Kisame melolong semakin keras, darah mengalir dari telapak tangannya yang kini dihiasi lubang menganga.

Ino nampak mengganti senjatanya dengan pistol yang lebih kecil. "Aku selalu ingin mencoba senjata terbaru buatan Sasori ini," ucapnya enteng sembari menodongkan pistol cantiknya ke jantung Kisame. Nampak pria itu menatapnya penuh kebencian, yang hanya dibalas senyuman mengejek Ino. Tanpa ingin berbasa-basi lagi, Ino melepaskan sebuah peluru transparan berisikan cairan khusus yang langsung mengenai tepat sasaran. Peluru itu tertanam dan menyebarkan cairan di dalamnya hingga membuat tubuh korbannya seolah terbakar akibat reaksi racun dengan darahnya. Teriakan memilukan Kisame mengakhiri segala penderitaannya. Seluruh lubang di tubuhnya mengeluarkan darah yang mencair seperti air dengan derasnya.

Di sudut lain ruangan, Hinata tengah memiting lengan pria berwajah aneh yang menahan tubuhnya tadi dan menekannya ke dinding, sementara itu kakinya berhasil menghadiahkan sebuah tendangan spesial untuk seseorang yang berusaha meringkusnya dari belakang. Dengan bermodalkan bela diri yang dipelajarinya selama ini, Hinata berhasil melumpuhkan beberapa orang yang berusaha menyerangnya, diakhiri dengan tembakan membabi buta yang menyebabkan orang-orang itu mati dalam damai.

Sementara itu, Sasori berhadapan dengan Deidara yang kini menatapnya muak. "Jadi ini yang kau pelajari selama bersama mereka?" tanya Deidara sinis.

"Bodohnya aku yang tak menyadari selama ini kau hanya memanfaatkanku," geram Sasori.

"Tak ada yang menginginkanmu di sini."

"Sama halnya dengaku yang tak menginginkan kalian," tungkas Sasori sembari melemparkan jarum-jarum racun ke tubuh mantan rekannya itu.

Deidara berhasil menghidar, sayangnya salah satu jarum halus itu tepat mengenai dadarnya dan menembus serta bersarang dalam tubuhnya. Deidara langsung lumpuh seketika, tubuhnya mengejang dan tulang-tulangnya terasa kaku. Matanya melotot menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.

"A-apa yang k-kau lakukan?" tanya Deidara terbata sembari meringkuk menahan sakit dalam tubuhnya.

"Kau harusnya bersyukur karena mendapat kesempatan mencoba temuan terbaruku," jawab Sasori sinis. Ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya. Terlebih racun nampaknya mulai menyebar, terlihat dari darah yang keluar melalui hidung dan telinga lawannya. Tak mau membuang waktu, Sasori membantu rekannya yang lain untuk menghajar para pengawal yang jumlahya lumayan banyak –sembari menikmati lantunan nyanyian kematian dari mulut Deidara.

Sementara itu, Sasuke dan Itachi masih saling memandang dingin. Tanpa diperintah, dengan gerakan tiba-tiba mereka sama-sama mengambil senjata yang ada di sakunya. Sasuke mengarahkan pistolnya ke kepala Itachi, sementara rival abadinya itu menodongkan senjatanya ke jantung Sasuke.

"Gerak reflekmu semakin bagus saja," puji Itachi yang lebih terdengar sebagai ledekan di telinga Sasuke.

Sasuke hanya menyeringai sinis menanggapi ucapan kakak kandung sekaligus musuh terbesar dalam hidupnya itu.

"Tapi kau tetaplah selemah dulu Sasuke," hina Itachi dengan nada dinginnya.

"Benarkah?"

"Kau takkan mampu menarik pelatuk senapanmu. Kau takkan mampu membunuhku."

Cklek

Sasuke mempersiapkan senapannya dalam keadaan siap tembak.

"Sebenarnya..."

DOR.

Sasuke menembakkan pistolnya ke arah pria yang berniat menembaknya dari samping tepat di kepala, bahkan tanpa menoleh.

"Aku.."

DOR

Kali ini giliran seseorang yang berusaha menyerangnya dari arah kanan.

"Sama sekali tak tertarik membunuhmu."

DOR

Dua orang di belakang Itachi menjadi korban tewas selanjutnya, membuat jantung Itachi berhenti sepersekian detik saat merasakan peluru melewati tubuhnya tanpa menyentuhnya sedikitpun.
"Kau tak lebih kuat dariku sekarang,"sambungnya santai sembari kembali menodongkan senjatanya ke kepala Itachi.

Tiba-tiba teringat akan memori masa kecil mereka. Saat Sasuke merengut kesal karena kakaknya lagi-lagi memenangkan game yang biasa mereka jadikan bahan untuk mengukur kemampuan. Saat mereka bersaing dan sama-sama mendapatkan peringkat pertama di kelas masing-masing. Saat mereka berusaha keras berebut perhatian sang Ibu. Hal-hal sepele yang amat dirindukan keduanya.

Tanpa diduga, secara bersamaan keduanya menarik pelatuk. Peluru itu sama-sama meleset dan mengenai bagian yang tak seharusnya. Peluru yang dilepaskan Sasuke menyerempet tangan Itachi, sedangkan peluru yang dilepaskan Itachi tertanam di lengan Sasuke.

"Sasuke..." pekik Ino spontan. Mereka telah berhasil menghabisi beberapa anggota Akatsuki yang sempat menyerang serta beberapa pengawal yang dengan mudah dilumpuhkan, menyisakan Itachi yang kini berhadapan dengan Sasuke.

Aneh, hampir bisa dipastikan kedua orang itu memiliki kemampuan menembak yang takkan mungkin meleset, atau mereka memang sengaja tak ingin saling membunuh satu sama lain?

Luka di tangan kanan Itachi bagaikan goresan tak berarti, sama sekali tak membuatnya bergeming. Sementara peluru yang kini tertanam di lengan kiri Sasuke lebih terasa seperti gigitan nyamuk baginya. Kedua manusia itu masih saling melempar pandangan membunuh sembari menodongkan pistol masing-masing –sama sekali tak berniat mengalah.

Itachi mempertahankann ekspresi datarnya, dipandangnya adik kecil kesayanganya yang kini memandangnya dengan seringai meremehkan. "Kau ingin membunuhku?" tanya Itachi dengan nada dinginnya.

Sasuke terdiam. Ditatapnya sepasang mata sepekat darah yang kini memandangnya lekat.

"Kau bukan lagi ancaman bagiku," geram Sasuke penuh kebencian. "Aku bukan lagi Sasuke yang dulu."

"Kalau begitu lakukanlah," tantang Itachi. "Bunuh aku. Tuntaskan dendammu. Bukankah itu alasanmu berdiri di hadapanku sekarang?"

Sasuke mendecih meremehkan. "Kau memang tak pernah takut mati."

Ucapan Sasuke berhasil mengukir senyuman iblis di bibir Itachi. "Kau takkan mampu membunuhku Sasuke. Kau terlalu lemah untuk itu," ucap Itachi meremehkan. "Sejak dulu...kau selalu menjadi yang terlemah," sambungnya puas sembari kembali menarik pelatuknya.

Peluru melesat menuju sasarannya dengan kecepatan tak terduga. Dengan sigap, Sasuke melepaskan tembakan, membuat peluru yang seharusnya tertanam di jantungnya terhenti karena berhantaman dengan pelurunya, menghasilkan dentingan yang memekakkan telinga –membuat suasana semakin menegangkan. Seluruh anggota tim yang tersisa hanya mampu terdiam tanpa berani membantu Sasuke. Mereka tahu, pertemuan ini adalah saat yang paling dinantikan Sasuke. Jadi biarkan Sasuke menyelesaikannya sendiri.

"Jika ada orang yang pantas membunuhmu. Kupastikan orang itu adalah aku," ucap Sasuke santai tanpa melepaskan tatapannya pada Itachi.

"Lalu apa yang kau tunggu? Berhentilah bicara dan buktikan padaku," tantang Itachi sekali lagi, berusaha memancing emosi Sasuke.

Tanpa diduga, Sasuke menurunkan senjatanya. Diusapnya ujung pistol kesayangannya yang telah menemaninya sejak pertama kali mendapat misi. Entah sudah berapa nyawa terenggut olehnya.

Ekspresi Itachi berubah bingung. Ia tak mengerti mengapa rival abadinya itu justru menurunkan senjatanya di tengah perang.

"Aku pasti akan membunuhmu," ucap Sasuke dengan senyuman yang tak dapat diartikan.

Itachi terdiam, perlahan ia ikut menurunkan senjatanya namun masih menatap Sasuke yang kini masih memandangi pistol di tangannya. Disaat seperti itulah, secara tak terduga Sasuke kembali mengarahkan tembakannya dan menarik pelatuknya.

Terlalu cepat, Itachi yang memang tengah lengah tak mampu menghindar maupun membalas tembakan Sasuke. Peluru itu melesat cepat, mengenai lengan kanan Itachi. Bahkan Itachi tak menyadari pistol dalam genggamannya telah terjatuh, yang ia lakukan justru memandang Sasuke dengan tatapan takjub yang disembunyikan dengan sempurna dibalik wajah datarnya.

"Sekarang kita impas," lanjut Sasuke dengan ekspresi menyebalkan andalannya. Ia terlihat puas ketika tanpa sengaja menangkap ekspresi terkejut Itachi yang kini nampak disembunyikan meski Sasuke masih bisa melihatnya. "Sampai di sini dulu reuni kecil kita, nii-san," sambungnya dengan seringai meremehkan di akhir kalimatnya.

Suara sirine mulai terdengar, menandakan polisi sudah berdatangan. Jika tak segera kabur, masalah ini bisa berbuntut panjang.

Sasuke memandang sekeliling. Diperhatikannya mayat dua anggota senior Akatsuki dan beberapa pengawal client mereka yang sebagian besar tak lagi berbentuk manusia. Pandangannya kemudian terpaku pada keempat anggota timnya yang kini memandangnya khawatir.

"Giliranmu untuk mati akan segera datang. Jadi bersabarlah," ujar Sasuke datar. Kali ini ekspresinya tak terbaca. Dengan angkuh, Sasuke membalikkan badan sembari melambaikan tangannya tanda perpisahan. Diikuti anggota timnya, mereka melangkah keluar, meninggalkan Itachi yang kini terdiam memandangi punggung Sasuke yang kian menjauh.

Beberapa saat setelah Sasuke dan anggota lain meninggalkan ruangan, Konan masuk dengan tergesa. "Itachi! Kita harus segera pergi," ucap Konan panik.

Itachi menatap sekelilingnya sejenak. Kisame dan Deidara tewas mengenaskan. Dua anggota inti Akatsuki tewas sia-sia di tangan bocah-bocah ingusan. Ruangan mewah itu berubah menjadi genangan darah, bau anyir yang memuakkan melengkapi suasana mengenaskan di ruangan itu. Sepintas Itachi kembali memandangi goresan luka di tangannya serta luka yang diakibatkan peluru Sasuke.

"Kau masih saja lemah..Sasuke," gumam Itachi sebelum melangkah keluar ruangan bersama Konan. "Reuni kecil ya...?" sambungnya lirih dengan seringai di bibirnya.

Hari ini...Akatsuki kembali dipermalukan oleh sekelompok anak-anak yang seharusnya tak sepadan dengan mereka.

###

Sasuke berjalan gontai menyusuri lorong menuju kamarnya setelah menjalani operasi kecil pengeluaran peluru dari lengannya. Tubuhnya terasa remuk, ingin rasanya ia berendam air hangat dan segera merebahkan tubuhnya.

"Tumben kau pulang membawa goresan luka," ledek Naruto yang tanpa sengaja bertemu dengannya di persimpangan lorong.

Sasuke mendecih sebal. Biasanya dialah satu-satunya yang akan pulan tanpa goresan sedikitpun, kali ini dialah satu-satunya yang pulang dengan membawa luka di lengannya. "Aku lelah Dobe, jangan membuatku semakin sebal dengan ocehanmu."

Naruto terkekeh ringan. Jarang-jarang ia bisa menikmati ekspresi suram sahabat sekaligus saudaranya itu. Mereka berjalan berdampingan menuju kamar masing-masing yang kebetulan searah.

"Haaah..untung saja Hinata-ku pulang dengan utuh dan tanpa cidera sedikitpun. Aku jadi bisa melepas rindu setelah ini," ucap Naruto dengan seringai mesumnya.

"Kau ini," sahut Sasuke dengan tawa di sela-sela ucapannya.

Baru saja membuka pintu kamarnya dan membayangkan akan tidur dengan nyaman di ranjang kesayangannya, Sasuke dikejutkan dengan sosok lain yang kini terbaring nyenyak di dalam selimutnya.

"Selama kau tak ada, dia tidur di kamarmu. Kurasa kau tak perlu merasa keberatan, iya kan?" gurau Naruto yang hanya ditanggapi lirikan sebal Sasuke. Naruto langsung nyengir dan pamit menuju kamarnya sendiri dengan tergesa.

Sepeninggal Naruto, dengan menghela nafas berat, Sasuke memasuki kamarnya dan menutup pintunya perlahan. Dibukannya lemari dan mengambil baju yang biasa digunakannya tidur. Betapa terkejutnya Sasuke saat mendapati lemari pakaiannya tertata rapi. Seluruh pakaiannya dipisahkan satu dan yang lainnya sesuai dengan jenisnya. Ia jadi lebih mudah menemukan baju tidurnya.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Sasuke berjalan menuju ranjang dan memperhatikan wajah damai Sakura yang kini terlelap dengan posisi yang sama sekali tidak elit. Tubuh kecilnya menguasai seluruh bagian tempat tidur seolah ranjang itu miliknya seorang. Sasuke hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya ringan.

Ketika menatap meja kecil di samping tempat tidurnya, senyum Sasuke sepenuhnya memudar. Bingkai foto yang menampilkan dirinya dan Ino kini dalam posisi tertutup. Pastilah Sakura yang membalikkannya. Sasuke jadi membayangkan ekspresi gadis itu saat melihat foto mereka, ia sadar tengah menghadiahkan terlalu banyak luka pada gadis yang dianggapnya menyebalkan itu.

Selama ini Sasuke bukan tak sadar perasaan Sakura untuknya. Cara gadis menyebalkan itu yang selalu memaksakan diri untuk berada di sisinya membuat Sasuke diam-diam merasa salut. Sikap manisnya yang terkadang cenderung polos selalu berhasil meluruhkan segala keraguan maupun amarah dalam diri Sasuke. Disadari atau tidak, Sakura mampu menaklukannya dengan segala kesederhanaan dalam dirinya, dan Sasuke tak lagi meragu. Ia akan membagi hatinya perlahan.

Sasuke kembali mendengus menahan tawanya ketika mendengar dengkuran halus dari bibir Sakura. Setelah membenarkan posisi tidur gadis itu, Sasuke membaringkan tubuhnya di sampingnya. Ditopangnya kepalanya dengan sebelah lengan yang tak terluka. Sungguh pemandangan langka melihat Sakura dalam keadaan sangat tidak elegan seperti ini. Yaah...setidaknya ia mendapat sedikit hiburan pengusir lelah.

Entah sadar atau tidak, Sakura bergerak mencari-cari sesuatu untuk dipeluknya, Sasuke tadinya ingin mencarikan sebuah guling untuk Sakura, namun terlambat. Sakura lebih dulu menangkap tubuhnya dan memeluknya erat. Melihat wajah Sakura yang begitu lelah, Sasuke jadi tak tega dan memutuskan untuk membiarkan saja dan justru membalas pelukan Sakura. Entahlah..ia hanya membutuhkan kenyamanan saat ini. Dihirupnya aroma tubuh yang begitu dirindukannya akhir-akhir ini. Haaaah...Sasuke begitu menikmati saat-saat seperti ini.

"Beraninya kau memasuki pikiranku tanpa ijin," bisik Sasuke yang hanya dijawab dengkuran halus Sakura. "Jika bukan karena kata-katamu saat itu, aku pasti telah menghabisi nyawanya malam ini. Terimakasih...karena telah menjadi pengontrol hidupku," gumamnya lirih sembari mengeratkan pelukannya pada Sakura sampai akhirnya mereka sama-sama terlelap dalam mimpi.

###

Flashback...

Sasuke mengawasi Sakura yang sedang berlatih memanah di sampingnya. Beberapa kali ia nampak tersenyum puas karena Sakura berhasil mengenai sasarannya.

Bagaimana tidak? Sasuke mengancam akan memaksa Sakura berlari mengelilingi bukit lagi jika ia gagal, itulah yang membuat Sakura ketakutan sehingga mati-matian berusaha membidik dengan benar. Sejauh ini, tiga dari lima anak panahnya berhasil mengenai sasaran.

"Aku berhasil kan?" tanya Sakura sembari nyengir lebar.

"Hn," sahut Sasuke sembari mencoret-coret agendanya.

Hening sejenak, Sakura diam-diam memandangi Sasuke yang nampak begitu serius dibalik kaca mata persegi panjangnya. Buru-buru ia berpura-pura tak melihat saat Sasuke menyadari kegiatannya –membuat Sasuke mendengus menahan tawa.

"Sasuke-kun," panggil Sakura, menghentikan kegiatan Sasuke.

"Hn?" sahut Sasuke malas sembari menutup agendanya dan beralih menatap Sakura.

"Pria yang membunuh orang tuaku...dia kakakmu kan?"

DEG

Pertanyaan Sakura entah mengapa membuat hatinya terasa diremas kencang. "Jika kau bertemu dengannya, akankah kau membunuhnya?" lanjut Sakura setelah pertanyaan pertamanya tak mendapat jawaban.

Sasuke membuang pandangannya ke arah lain. "Terlalu banyak korban akibat perbuatannya."

"Tapi bukan berarti kau boleh membunuhnya."

Sasuke terdiam.

"Dia satu-satunya yang kau miliki sekarang. Kalau aku jadi kau, sebisa mungkin aku akan menariknya untuk kembali menjadi dirinya yang dulu." Jeda sejenak. "Jika kau menyimpan dendam atau ingin membunuhnya, itu tandanya kau tidak ada bedanya dengan dia," sambungnya kemudian.

Sasuke sekilas melirik Sakura yang memandang lukisan Tuhan di langit. Pikiran gadis itu benar-benar polos. Tak seperti dirinya yang penuh dengan kebencian.

"Jika aku membawanya kembali...apa kau akan senang?" tanya Sasuke tanpa sadar. "Apa itu akan membuatmu puas dan berhenti berpikiran buruk tentangku?"

Sakura tiba-tiba tersenyum dan memandang Sasuke. Ia tak menjawab dan hanya mengecup bibir Sasuke sekilas. "Kau adalah pria paling buruk di dunia," ledek Sakura –membuat Sasuke mengerenyit tak suka. "Tapi aku mencintaimu," sambungnya kemudian diiringi tampang menyebalkan yang nampak puas karena berhasil membuat Sasuke salah tingkah.

Sebelum Sasuke berhasil menghadiahkan jitakkan mautnya, Sakura telah berlari terbirit-birit sembari tertawa senang. Meninggalkan Sasuke yang hanya mendecih sebal sembari memandangi awan.

"Baiklah...lagi-lagi kau berhasil memonopoli pikiranku," gumamnya frustasi.

Cinta...

Sesederhana itukah dia?

Hingga dengan mudah menghancurkan segala yang telah kubagun hanya dengan sekali ucap?

Izinkan aku berkenalan dengan rasa itu...agar dapat kukatakan padamu...

Akupun mencintaimu...

TBC

Author place :

Kuharap selama ini kalian puas dengan sedikit catatan yang kuberikan diakhir cerita...

Ehm...aku akan mencoba merapel pertanyaan readers...

Apakah kisah ini akan Sad or Happy ending?
Hmmm...belum tau yaa... -.- pengennya happy ending... :)

Soal gmana perasaan Sasuke ke Sakura,..

Jadi gini.,..Sasuke tu setia bgt, dan ngga bisa dengan mudah berganti hati seperti cowok2 pada umumnya *jadi curcol tentang mantan...
Makanya, dia agak bimbang sama perasaannya ke Sakura...

Kenapa kesannya Sasuke susah ditebak?

Ya...memang karena begitulah Sasuke di sini... biar reader penasaran dan review terus... :p #digemplang readers..

Kenapa Sakura kesannya lemah?

Sakura ngga lemah kok...cuma belum kelihatan aja... justru aku berusaha menunjukkan bahwa meskipun Sakura itu sweet, tapi dia selalu berhasil mengendalikan Sasuke yang keras.
Aku ngga mau merusak kemurnian hati Sakura dengan membuatnya bersikap jahat... -.-
soalnya aku cinta bgt sama Sakura...

Chap depan aku bakal berusaha konsen ke kisah SasuSakuGaa... :)

Jadi tunggu yaa... :D :D :D

Maaf gabisa update kilat...

Saya sibuuuuuk bgt sekolah soalnya... -.-

Oh iya...coba tebaaak...saya kelas berapa sekarang? :p

Hehe,,,

Sekian..

Makasih buat review, apalagi yang udah fav.. *bungkuk2 sampai sujud2 ke readers...

Kalo berkenan...review lagi doong... :p

*Chanciachan change pen name... :)*