Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 9

You're mine

Suhu pagi ini lebih rendah dari biasanya, tak heran puluhan juta penduduk Konoha masih terlihat enggan menyambut pagi. Beberapa memilih menggelung diri sembari menaikkan suhu pemanas ruangan mereka. Tak terkecuali tokoh utama wanita kita tercinta, gadis pink kesayangan seluruh anggota keluarga yang kini tengah terbuai mimpi. Sesekali ia nampak terusik dengan suara gemericik air dari arah kamar mandi, ditambah lagi sekarang seseorang mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Tak tahukah orang itu dirinya kini tengah menikmati tidurnya yang paling nyenyak diantara hari-hari biasa?

"Argh...!" setengah kesal Sakura memutuskan untuk bangkit sembari melangkah sebal menuju pintu. Ia bersumpah akan menghajar siapa saja yang tengah berani merusak paginya.

Dengan enggan Sakura membuka pintunya dan menemukan sesosok pria paruh baya yang kini memandangnya bingung. Sesekali pria itu nampak melongok ke dalam dan kembali memandang Sakura. Sama halnya dengan pria itu, Sakura juga tengah memperhatikan tingkah orang yang telah dianggapnya mengganggu tidurnya ini dengan tatapan bertanya.

"Ayah mencari sesuatu?" tanya Sakura dengan suara sedikit serak sembari menggaruk pipinya yang tak gatal. Penampilannya yang khas orang bangun tidur membuat Sakumo geli sekaligus heran, apa gadis ini bermalam di kamar ini? Kalau ia tidak salah, seharusnya kamar ini adalah kamar...

"Ada apa?" sela suara baritone dari belakang Sakura. "Oh, paman rupanya," sambungnya ketika mendapati tatapan takjub Sakumo.

Sasuke nampak segar dengan rambut yang masih basah dan handuk kecil di tangannya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia hanya mengenakan boxer dan tubuh bidangnya dibalut kimono mandi. Orang normal pasti akan berfikir sama dengan apa yang dipikirkan Sakumo.

Sementara itu, nona kecil kita hanya memandang bingung kedua pria di sekitarnya itu. Setelah kedipan mata yang kesepuluh, Sakura baru sadar apa yang terjadi.

"Ah...ini tidak seperti yang Ayah pikirkan!" sela Sakura panik.

Sakumo sedikit tersenyum maklum melihat ekspresi Sakura. Ia juga pernah muda, mengakui hal seperti ini di hadapan orang dewasa memang tak mudah kan?

"Ah, Ayah kemari hanya ingin melihat keadaan Sasuke. Kakashi bilang kemarin ia terkena luka tembak. Tapi Ayah rasa kondisinya pasti sudah jauh lebih baik sekarang," tutur Sakumo sembari mengerling nakal pada Sakura.

Sasuke nampak menikmati ekspresi Sakura yang kini memerah bak udang rebus. "Lukanya sudah sembuh, lebih cepat dari yang kukira. Benar kan Sakura?" goda Sasuke sembari menarik pinggang Sakura untuk merapat padanya.

"Aa..."

"Baiklah, sepertinya Ayah mengganggu kalian. Kalau begitu sampai bertemu di ruang makan," ucap Sakumo undur diri –memotong apapun yang hendak Sakura katakan barusan.

"Hari ini aku akan mengadakan evaluasi untuk Sakura. Katakan pada Kakashi untuk mengurus ijin kami," ucap Sasuke sebelum Sakumo benar-benar pergi.

"Ah...tentu. Biar Kakashi yang mengurusnya," sahut Sakumo sambil lalu. Membiarkan dua insan itu untuk kembali memadu kasih.

Sepeninggal Sakumo, Sasuke kembali menutup pintu kamarnya dan melangkah menuju lemari pakaiannya, meninggalkan Sakura yang masih melongo memandangi pintu kokoh di hadapannya.

"Kau boleh menggunakan kamar mandiku kalau kau mau," ucap Sasuke memecah keheningan sembari mengganti pakaiannya. "Anggap saja kamarmu sendiri," sambungnya setengah menyindir.

"Kapan kau pulang?" tanya Sakura tanpa menanggapi ucapan Sasuke.

"Semalam."

"Dan kau tidur di ranjang yang sama denganku?" kali ini intonasi Sakura meninggi sembari membalikan badan menatap Sasuke.

"Memangnya kenapa? Bukankah ini memang ranjangku?"

Sakura terdiam sembari duduk di tepian ranjang. "Kau melihatku tidur?"

"Tentu saja. Mataku masih sangat sehat," sahut Sasuke santai sementara Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kau tahu? Aku rasa aku mulai menyukai kebiasaan burukmu. Caramu mendengkur, suaramu saat menggigau, dan aku paling suka saat kau memelukku dengan begitu erat. Aku tak menyangka kau punya insting yang begitu hebat, bahkan saat bermimpi," cerocos Sasuke tanpa henti dengan nada mengejek.

"Menyebalkan!" teriak Sakura sembari melemparkan bantal ke arah Sasuke yang hanya disambut tawa ringan pemuda itu. Dengan kesal, Sakura melangkah keluar menuju kamarnya.

"Jam delapan," ucap Sasuke setengah berteriak sebelum Sakura benar-benar meninggalkan kamarnya.

"Apa?"

"Kutunggu di ruang latihan jam delapan. Evaluasi!" ujar Sasuke mengingatkan.

Sakura memicingkan matanya sebal sebelum akhirnya membanting pintu keras-keras. Meninggalkan Sasuke yang hanya tertawa geli melihat tingkah Sakura. Benar-benar hiburan pagi yang menyenangkan.

###

Gaara memandang tak suka dua bangku di sampingnya yang nampak kosong. Seorang gadis dan pasangannya yang seharusnya duduk di sana tak memunculkan dirinya hari ini.

Pikirannya terusik saat Sakura mengabarkan Sasuke baru saja kembali sehingga ia tak dapat masuk sekolah, menyebabkan tugas kelompok mereka tertunda untuk dikerjakan. Tapi bukan itu masalahnya, Gaara merasa terganggu dengan kepulangan Sasuke. Kenapa pemuda itu harus kembali disaat dirinya merasa hampir mendapatkan hati Sakura kembali? Gaara benar-benar kesal sekarang!

"Kau nampak tak senang," sindir Naruto yang duduk di belakang Gaara. "Kau pasti tahu Sasuke telah kembali."

"Itu takkan mempengaruhi apapun," sahut Gaara datar.

Naruto mendengus menahan tawa mendengar ucapan Gaara. Jadi bocah merah ini takan menyerah sampai di sini?

"Kau baru saja menyiramkan bensin ke api kecil Gaara. Jika tidak hati-hati api itu akan menjalar ke arahmu."

Gaara membalikkan tubuhnya untuk memandang Naruto. Tatapannya menunjukkan keteguhan yang tak terelakkan. Gaara akan tetap maju apapun yang terjadi. "Sakura adalah milikku. Dan aku takkan melepaskan apayang telah menjadi milikku," ucapnya penuh penekanan.

Mulai detik ini, Gaara takkan lagi menutupi perasaannya. Genderang perang telah ditabuh, dan Gaara takkan menghentikan ini sebelum berhasil mengambil miliknya kembali.

###

Sasuke memandang takjub papan sasaran di hadapannya. Lima peluru mengenai tepat di tengahnya, sukses membuat Sasuke menunjukkan ekspresi langkanya.

Dengan bangga Sakura meniup ujung pistolnya, seperti yang biasa dilakukan tokoh kesayangannya di drama queen!

Tes memanah juga sukses dilewatinya dengan mudah. Semua sasaran, bahkan sasaran bergerak-pun Sakura sanggup mengatasinya. Ia juga tak takut lagi membunuh benda hidup seperti kelinci yang memang sengaja disiapkan untuk dijadikan sasaran memanah maupun menembak. Lagi-lagi Sasuke harus merelakan tinta penanya menggoreskan angka sempurna untuk Sakura.

Setelah beberapa tes mampu dilewati Sakura dengan mudah, tibalah saatnya menguji skill-nya dalam mengendalikan pedang. Sasuke sudah mendengar kemajuan Sakura dari Naruto, dan ia cukup penasaran sehebat apa kemampuan gadis merpotkan itu sekarang.

"Kau ingin aku mengalah?" ledek Sasuke sembari melemparkan pedang kayu ke tangan Sakura.

"Akan kubuat kau menjatuhkan pedangmu!" tantang Sakura tak mau kalah.

"Kau begitu percaya diri nona!" sahut Sasuke diiringi seringai khasnya.

Sakura hanya mencibir sembari memasang posisi siap. Dari balik cermin satu arah yang mengelilingi ruangan tersebut, Sakumo ditemani Kakashi nampak mempehatikan kedua anak kesayangannya itu.

Awalnya Sakura nampak kuwalahan menghadapi serangan Sasuke, namun itu tak berlangsung lama. Saat ini terlihat Sakura telah mampu mengendalikan situasi dan mengimbangi gerak Sasuke. Keduanya nampak menikmati pertarungan yang lebih terlihat seperti tarian. Terlebih Sasuke terlihat sesekali sengaja menggoda Sakura dengan memajukan tubuhnya terlalu dekat. Keduanya berimbang, hingga sepuluh menit bertarung, tak ada yang mau mengalah maupun dikalahkan. Hingga akhirnya keduanya sama-sama lelah dan saling menyilangkan pedang sembari berusaha mengatur nafas.

Sakumo tersenyum sembari mengangguk puas. "Sebaiknya kita tinggalkan mereka. Nampaknya mereka membutuhkan privasi," ucap Sakumo sembari terkekeh pelan. Kakashi hanya mengikuti sang Ayah sembari tersenyum maklum.

Sementara itu, Sakura dan Sasuke menarik senjata mereka bersamaan. Keduanya saling memberi hormat sebelum akhirnya meletakan pedang masing-masing ke tempatnya.

"Jadi..aku lulus?" tanya Sakura dengan nafas terengah.

"Hn," sahut Sasuke seadanya.

Sakura tersenyum mendengar jawaban Sasuke. "Kalau begitu mana hadiahku?," tanya Sakura sembari bergelayut manja pada lengan Sasuke.

Sasuke melirik sepintas gadis di sampingnya sembari mengangkat sebelah alis. Setelah memasang pose berfikir, Sasuke tersenyum sok baik sebelum akhirnya menyentil jidat lebar Sakura.

"Bersihkan dirimu, sebentar lagi kita akan menemui Sakumo," ujar Sasuke sebelum melepaskan tangan Sakura.

Sakura memandang sebal pemuda yang kini melangkah mendahuluinya. Sesekali tangannya mengusapi jidatnya yang terasa panas. Kenapa orang itu hobi sekali menyentil jidatnya sih?

###

Sosok kepala kepolisian Konoha itu nampak memijit kepalanya frustasi. Untuk kesekian kalinya terjadi kasus pembunuhan yang tak jelas pelakunya. Lagi-lagi peluru yang tak dapat dideteksi, peluru buatan khusus dengan bentuk dan ukiran yang tak umum. Ini aneh, dan mulai terasa memuakkan.

Bagaimana caranya menangkap pembunuh yang diyakini jumlahnya lebih dari satu ini? Terlebih sasaran mereka adalah orang-orang yang tengah menjadi bidikan polisi dan dalam masa penyidikan. Siapa mereka? Siapa orang-orang yang tengah bergerak perlahan namun pasti di bawah bayang-bayang hukum yang tak jelas?

Adakah unsur kesengajaan dibalik terbentuknya organisasi rahasia yang telah menjadi mesin pembunuh masal itu? Entahlah, namun nampaknya beberapa orang mulai menyadari bahwa organisasi tersebut lebih dari satu, dan dengan tujuan berbeda.

###

"Kita mau kemana Sasuke?" tanya Sakura yang penasaran karena sendari tadi Sasuke hanya melangkah di depannya dalam diam. Mereka telah selesai membersihkan diri, dan Sasuke bilang ada hal penting yang harus dilakukan Sakura.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan pintu kantor Sakumo. Sasuke nampak mengetuk sekilas dan langsung masuk setelah mendengar perintah dari dalam. Tanpa banyak bicara, Sasuke menghampiri meja Sakumo dan meletakkan hasil penilaian tes tahap akhir Sakura.

"Sakura sudah melewati semuanya?"

"Dengan nilai sempurna," Sasuke menimpali, membuat Sakura tersenyum bangga.

"Baiklah, ikut aku," ujar Sakumo sembari tersenyum lembut pada Sakura. "Kau sudah melewati berbagai tahap pelatihan. Bahkan lebih cepat dari dugaanku. Nampaknya kau sangat menikmati pelatihan yang diberikan Sasuke," goda Sakumo selagi membuka pintu kokoh di hadapannya setelah menemukan kunci yang pas. "Masuklah!"

Sakura berdecak kagum memandangi peti kaca berisikan berbagai macam senjata di hadapannya. Ada berbagai macam senjata yang terlihat cantik dengan desain yang tak biasa. Mulai dari samurai, panah, dan berbagai macam senjata lainnya yang terlihat begitu mewah namun tidak meninggalkan unsur kejam.

"Masing-masing anggota Exterminator memiliki senjata utama. Kau boleh memilih salah satu dari puluhan senjata ini untuk menjadi senjata utamamu," terang Sakumo sembari membiarkan Sakura melihat-lihat.

"Aku heran, bagaimana bisa alat pembunuh memiliki desain indah seperti ini," gumam Sakura sembari menyentuh peti kaca tersebut.

Sasuke di belakangnya hanya tersenyum maklum sembari mengekori langkah Sakura dalam memilih senjata pertamanya. Gadis itu nampak bingung harus memilih yang mana, mengingat pilihan yang sangat banyak dan membuatnya bimbang untuk memilih yang sesuai dengannya.

"Menurutmu senjata apa yang cocok untukku?" tanya Sakura seolah sedang meminta Sasuke memilihkan perhiasan untuknya.

"Kau harus menemukannya sendiri," sahut Sasuke datar.

Dari sekian banyak senjata yang dipajang, mata Sakura tertuju pada sebuah pistol yang dipajang terpisah dengan yang lainnya. Warnanya keperakan dengan ukiran khusus yang nampak sederhana namun mewah. Di bagian pegangannya terdapat permata hitam berkilau yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk pola khusus, nampak kontras dengan warna dominannya. Sakura terpana sejak pertama melihatnya.

Pistol itu nampaknya istimewa, mengingat Sakumo meletakkannya dalam kotak kaca di sudut ruangan dan terpisah dari yang lainnya, dan entah mengapa Sakura merasa harus memilikinya.

Di belakangnya, Sakumo tersenyum senang karena Sakura nampak telah menemukan tambatannya. Sebuah pistol istimewa yang tak pernah terpilih. Sebuah pistol yang telah lama menunggu untuk ditemukan tuannya.

"Kau menyukainya?" tanya Sakumo penasaran karena Sakura nampak begitu terpukau.

"Boleh aku memilikinya?"

"Tentu," sahut Sakumo sembari membuka kotak kaca itu perlahan, mengambil pistol perak itu dan memindahkannya ke tangan Sakura.

"Cantik," gumam Sakura tanpa sadar.

"Pistol itu buatan khusus seorang pengrajin senjataku yang paling handal. Ini karya terakhirnya sebelum meninggal. Ada dua sebenarnya, pasangan dari pistol ini dipegang oleh Sasuke," terang Sakumo panjang lebar.

Sakura membelalakkan matanya tak percaya, kemudian pandangannya teralih kepada Sasuke yang nampak memamerkan pistol berwarna hitam legam dengan ukiran khusus yang nampak menyambung dengan miliknya bila disatukan. Di bagian pegangannya juga terdapat permata putih yang juga ditata dengan pola khusus.

"Kalian memang ditakdirkan bersama," ucap Sakumo senang sembari menepuk pundak kedua anaknya yang masih saling melempar pandang.

Sasuke nampak tak menunjukkan ekspresi yang berarti meski hatinya risau. Dulu, ketika Ino memilih senjata pertamanya, Sasuke berharap gadis itu akan memilih pistol yang sekarang berada dalam genggaman Sakura. Namun gadis itu justru memilih pistol keemasan yang sekarang menjadi senjata setianya.

Benarkah ini adalah takdir yang telah diariskan Tuhan? Bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersatu dan saling melengkapi?

###

Keesokan harinya, mereka kembali ke dunia nyata seperti biasa. Menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih layaknya remaja pada umumnya. Berhubung ini adalah hari Jumat, maka seharian ini diisi dengan segala kegiatan ekstrakulikuler. Karena merasa malas, Sakura memutuskan untuk menemani Sasuke latihan basket. Ternyata ia tak sendiri, ada Ino dan beberapa gadis-gadis lain yang ikut menonton permainan Sasuke dan kawan-kawan.

"Kau dan Sasuke semakin mesra saja," sindir Ino ketika mereka tengah memperhatikan gerak Sasuke yang kini tengah berebut bola dengan Gaara. "Sebaiknya jangan lukai kepercayaannya," sambungnya pedas.

Sakura tak mengerti maksud saingannya ini. Apakah ini tentang apa yang dilakukannya bersama Gaara selama Sasuke tak ada?

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu betul maksudku."

Sakura akhirnya memtuskan diam dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah lapangan, terlalu malas menanggapi ucapan Ino barusan. Ia merasa berhak tetap dekat dengan Gaara, bukankah Sasuke tak pernah menganggapna kekasih? Bukankah pemuda itu tak pernah memiliki rasa untuknya? Entahlah, Sakura merasa enggan memikirkan hubungannya dengan Sasuke, ia terlalu lelah dengan segala ketidakjelasan ini.

Entah hanya perasaannya saja, atau memang benar begitu adanya, pertandingan ini terasa memanas di menit-menit terakhir. Jarak score yang tidak terlalu jauh membuat masing-masing pihak memperjuangkan kemenangannya. Utamanya, Sasuke dan Gaara yang sendari tadi mendominasi permainan, seolah pertandingan ini hanya antara mereka berdua saja. Sampai-sampai Sakura tegang dibuatnya. Sampai akhirnya...

BRUK!

Kedua idola sekolah itu jatuh bersamaan setelah mati-matian berebut bola. Spontan Ino dan Sakura berdiri bersamaan. Beberapa anak yang berada di pinggir lapangan langsung menghampiri tubuh Sasuke yang tengah meringis menahan sakit. Tak terkecuali Ino yang kini berlari ke arah Sasuke.

Sakura terlihat menimbang mana yang lebih membutuhkan pertolongan, melihat semua anak mengerubungi Sasuke, dengan berat hati Sakura akhirnya memutuskan untuk menghampiri Gaara yang tengah berjuang sendiri menahan sakit. Dengan acuh Sakura menghampiri sahabat masa kecilnya itu, tanpa menyadari tatapan membunuh Sasuke.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura sembari membantu Gaara berdiri.

"Aku baik-baik saja, hanya lecet di lutut. Terimakasih Sakura," ucap Gaara tulus.

Sementara itu, Sasuke dengan kesal menampik tangan kawan-kawannya yang berusaha membantunya berdiri. Dengan kesal ia bangkit dan berjalan tertatih, meski ia sadar kaki kanannya terkilir ditambah rasa perih dari luka gores di lututnya, ia tetap melangkah dengan hati dongkol.

Sakura memandang Sasuke bingung, sementara teman-temannya memandang aneh pada Sakura yang bukannya menolong kekasihnya malah menolong Gaara. Hal ini menimbulkan kasak-kusuk diantara para siswa, tak terkecuali Ino yang hanya memandangnya meremehkan.

"Sebaiknya kau susul Sasuke, aku baik-baik saja," bisik Gaara membuyarkan lamunan Sakura.

"Biarkan saja, dia bisa berjalan sendiri," sahut Sakura berusaha terlihat acuh. "Kita ke ruang kesehatan saja," sambung Sakura sembari memapah tubuh Gaara menuju ruang kesehatan.

###

Kesal, kecewa, marah, dan segala perasaan tak menentu lainnya kini tengah menguasai Sasuke. Ia kesal ketika mendapati Sakura yang notabenenya adalah 'kekasihnya' justru memilih bocah merah itu, padahal cidera yang ia alami lebih parah dari bocah itu.

"Argh...!" geram Sasuke sembari menendang meja yang akhirnya berdampak menyakiti dirinya sendiri karena kaki yang ia gunakan adalah kakinya yang terkilir tadi. "Aku merasa seperti pecundang," gumamnya pada diri sendiri. Beberapa saat kemudian, tatapannya teralihkan pada sosok lain yang masuk ke dalam kelas secara beriringan dan entah mengapa membuat darah Sasuke terasa mendidih.

"Sasuke-kun, pulang sekolah nanti aku akan pergi ke rumah Gaara untuk mengerjakan tugas bersama," ucap Sakura yang terdengar seperti menceritakan niat ketimbang meminta ijin.

"Terserah kau saja," sahut Sasuke kesal sembari meraih tas punggungnya dan berjalan keluar kelas. Melupakan rasa sakit pada kakinya yang nampak mulai membengkak. Terserah! Terserah apa yang ingin dilakukan gadis itu. Ia tak lagi peduli. Soal kakinya yang terkilir, sepertinya ia harus merendahkan harga dirinya dan meminta Sasori membuatkannya ramuan khusus untuk kakinya.

'Dia kenapa sih?' lirih Sakura dalam hati. Tingkah Sasuke hari ini membuatnya tak mengerti.

"Kita pergi sekarang?" tanya Gaara menyadarkan Sakura.

"Eh? Ayo!" sahut Sakura riang. Sebelumnya ia sempat membaca pesan singkat dari Sasuke yang berhasil membuatnya mendengus sebal.

'Jangan pulang lewat dari jam 3, atau kubunuh bocah itu!'

"Dasar tukang ancam," gumam Sakura sembari meletakkan ponselnya ke dalam tas tanpa berniat membalas pesan Sasuke.

###

Sasori memandang heran sosok yang telah dianggapnya adik dan kini tengah duduk di tempat tidur klinik. Kakinya nampak sedikit membengkak meski bukan cidera serius.

"Apa yang membuatmu ceroboh begini?" tanya Sasori heran sembari membalurkan ramuan herbal ke kaki Sasuke sembari memijatnya sedikit.

Sasuke mengingat-ingat apa yang telah dikatakan bocah sialan itu sebelum insiden yang menyebabkan cidera pada pergelangan kakinya ini.

Flashback...

Sasuke tengah berhadapan dengan musuh abadinya yang kini menguasai bola. Tatapannya terfokus pada sepasang jade yang memandangnya meremehkan.

"Kau terlihat senang," ucap Sasuke sembari berusaha merebut kembali bola dari Gaara, namun bocah itu berhasil menghindar.

"Kau seharusnya tak perlu buru-buru kembali Uchiha," sahut Gaara sinis stanpa mengalihkan pandangannya dari Sasuke. "Sedikit lagi, aku pasti bisa merebut hati kekasihmu itu."

"Sakura bukan gadis macam itu."

"Berani bertaruh?" tantang Gaara penuh keyakinan. Di saat itulah, dengan sengaja Gaara mencekal kaki kanan Sasuke saat pemuda itu lengah yang berakibat jatuhnya mereka berdua secara bersamaan karena Sasuke memegang lengan Gaara saat tubuhnya limbung.

Beberapa anak langsung menghampiri mereka dan mengerubungi Sasuke, sementara itu... Sosok yang amat diharapkannya justru melangkah menuju bocah merah sialan yang kini memandangnya penuh kemenangan. Sasuke kesal! Sangat kesal dengan apa yang baru saja dilihatnya. Terlebih Sakura sama sekali tak berniat mengejarnya saat Sasuke melangkah menjauh, sendirian...

Flashback end..

"Auw! Kau ini berniat menyembuhkanku atau membunuhku sih?" ujar Sasuke sinis yang hanya ditanggapi kekehan ringan Sasori. Tanpa Sasuke sadari, ia telah menunjukkan ekspresi kesakitan yang sangat langka bagi Sasori.

"Kujamin Sakura akan terbahak-bahak kalau melihat ekspresi kesakitanmu itu!" ledek Sasori setelah menyelesaikan pengobatannya. Sepeninggal Sasori dari ruangan itu, pikiran Sasuke kembali terarah pada gadis manja yang kini tengah menghabiskan waktu bersama bocah merah sialan itu. Apa yang mereka lakukan?

###

"Mungkin sebaiknya aku segera kembali," ujar Sakura setelah menyelesaikan tugasnya.

"Biar kuantar!"

"Ah, tidak perlu, aku bisa naik bus kota saja," sahut Sakura cepat sembari mengemasi alat tulisnya.

Gaara hanya tersenyum maklum sembari mengantar Sakura ke depan gerbang rumahnya.

"Terimakasih Sakura!"

"Eh?"

"Karena kau memilih menolongku, bukan Sasuke," sahut Gaara menerangkan.

"Oh...aku memilih menolongmu karena kau lebih membutuhkanku dibanding Sasuke. Hitung-hitung balas budi karena kau sudah menemaniku selama si manusia es itu meninggalkanku tanpa kabar," terang Sakura sembari menjulurkan lidahnya di akhir kalimat. "Aku pergi dulu Gaara-kun. Jaa...!" pamit Sakura sembari melangkah menuju halte.

"Kembalilah padaku Sakura," gumam Gaara yang hanya dijawab desau angin. Tak disangka, niatnya memanasi hati Sasuke akan sedemikian lancarnya, bahkan Sakura masuk ke dalam rencananya.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang Uchiha?"

###

Kakashi memandang heran sosok manusia emo yang kini tengah memijat pelipisnya pelan. Sepasang onyx itu nampak mengerjapkan matanya berkali-kali. Berkali-kali pula warnanya berubah semerah darah sebelum akhirnya kembali menjadi onyx. Keringat yang mengucur dari pelipisnya membuatnya terlihat seperti menahan sesuatu.

"Kau baik-baik saja?"

"Hari ini, purnama penuh?" gumam Sasuke parau.

Kakashi paham apa maksud Sasuke. Disaat purnama penuh, Sasuke selalu mengunci diri dalam kamarnya seharian. Dan keesokan harinya, seluruh pelayan akan dikerahkan untuk membersihkan kamar dan mengganti semua perabotan malang yang telah menjadi korban amukan Sasuke.

Kenapa?

Mungkin tak bisa dijelaskan dengan akal sehat maupun ilmu medis pada umumnya, tapi setiap purnama penuh, Sasuke akan kehilangan sisi dirinya yang sesungguhnya. Kekuatan iblis dalam dirinya akan mengambil alih tubuhnya. Emosinya akan berubah menjadi labil dan berusaha menyerang siapa saja.

"Aku pergi dulu," ucap Sasuke parau sembari berjalan menuju kamarnya.

Kakashi hanya mengangguk paham sembari memandangi punggung Sasuke yang kian menjauh. Sedih rasanya mendapati Sasuke tak dapat tumbuh layaknya remaja seusianya akibat kutukan mematikan itu.

"Kapan kutukan itu bisa lepas darimu Sasuke?"

###

Sakura memandangi langit bertahtakan rembulan yang tengah bersinar penuh. Sesekali tatapannya nampak terusik dengan suara geraman penuh amarah dari kamar di seberang kamarnya. Sakura sudah mendengarnya, Kakashi sendiri yang mengatakan tentang kondisi Sasuke saat makan malam tadi. Dan sepertinya hanya dirinyalah yang nampak terkejut.

Entah mengapa, miris rasanya mendengar jeritan pilu pujaannya itu. Tapi semua orang melarangnya untuk masuk ke kamar Sasuke, terlalu berbahaya katanya. Apapun bisa terjadi padanya jika ia nekat, namun tak kuat rasanya bila membiarkan Sasuke berjuang sendiri.

Setelah membulatkan tekat, Sakura beranjak dari balkon kamarnya dan berjalan menuju pintu. Perlahan tapi pasti, Sakura membuka pintu kamarnya dan maju menuju pintu kamar Sasuke. Tepat ketika ia berdiri di depan pintu kamar Sasuke, dari alam muncul Naruto yang keluar dengan tergesa. Di belakangnya terdengar suara benda dibanting dan sukses membuat Sakura terlonjak.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura khawatir, dilihat dari ekspresi Naruto, Sasuke tampaknya benar-benar dalam status bahaya.

"Haah...selalu begini tiap purnama penuh. Tapi biasanya tak separah ini Sakura," terang Naruto sembari berusaha mengatur nafasnya. "Ia bahkan melempariku dengan piring makanan yang ku antarkan tadi. Biasanya ia tak begitu padaku."

"Sasuke belum makan?" lirih Sakura prihatin. Seburuk apa keadaan Sasuke?

Naruto memperhatikan ekspresi Sakura, ekspresi putus asa yang selalu ditunjukkan Ino sat posisinya ada pada posisi Sakura sekarang. "Jangan Sakura, jangan coba-coba mendekatinya!" larang Naruto ketika Sakura mendekati pintu kamar Sasuke.

"Aku hanya ingin melihat keadaannya sebentar."

"Sakura, keadaan Sasuke sedang benar-benar tidak baik. Bukan, Sasuke benar-benar berbahaya di saat seperti ini. Jadi jangan lakukan hal bodoh yang bisa menyakitimu!"

"Aku bisa mengatasinya Naruto," sahut Sakura keras kepala.

"Kami yang mengenalnya sejak kecil saja tak pernah bisa mengendalikannya di saat seperti ini. Bagaimana kau..."

"Itu karena aku memahaminya lebih dari kalian!" potong Sakura cepat."Lepaskan aku Naruto. aku bisa mengatasi ini!" sambungnya penuh keyakinan. Naruto menyerah, dilepaskannya pergelangan tangan Sakura yang sempat dicekalnya.

Suara benda yang dibanting keras kembali terdengar dari dalam kamar Sasuke. Perlahan, Sakura membuka pintu kamar Sasuke. "Kau bisa kembali ke kamarmu Naruto," perintah Sakura sebelum benar-benar menghilang di balik pintu. Meninggalkan Naruto yang hanya terpaku memandang pintu putih di hadapannya.

"Semoga berhasil Sakura!" gumamnya psimis.

Sementara itu, Sakura memandangi sosok kekasihnya yang kini tengah menunduk sembari kedua tangannya mencengkeram besi balkon kamarnya. Ia hanya mengenakan celana tidurnya, membiarkan tubuh bagian atasnya telanjang dan kini bermandikan cahaya rembulan.

"Sudah kubilang, tinggalkan aku sendiri Naruto!" bentak Sasuke ketika mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

"Ini aku," sahut sakura lirih.

Sasuke tersentak dengan suara selembut beludru di belakangnya. Aroma tubuh Sakura yang terbawa angin malam menyusup nakal menggoda penciumannya, terasa begitu memabukkan. Apa yang dilakukan gadis ini? Tak sadarkan ia baru saja melompat ke dalam kandang macan?

"Keluar Sakura!" perintah Sasuke dengan nada rendah tanpa memandang gadis kesayangannya itu.

"Kau bisa sakit kalau di luar begitu. Masuklah, kusiapkan air hangat," ucap Sakura tanpa berniat memperhatikan perintah Sasuke.

"Kau tuli hah? Kubilang Keluar dari sini!" kali ini Sasuke tak menyembunyikan rasa kesalnya. Ditatapnya lekat-lekat sepasang emerald yang kini memandangnya sendu.

Sakura memperhatikan sepasang mata iblis yang kini menatapnya lapar. Tatapan Sasuke membuatnya bergetar, namun Sakura bersikeras untuk bertahan. Ia tahu dirinya mampu mengendalikan Sasuke. Jadi Sakura meladeni tatapan keras Sasuke. Dipandangnya sepasang mata sepekat darah itu dengan tatapan teguh andalannya.

"Kau benar-benar keras kepala," ujar Sasuke sembari mencengkeram bahu Sakura dan berusaha mendorongnya untuk pergi.

Tanpa diduga, Sakura menepis kasar tangan Sasuke. Membuat pemuda itu memicingkan matanya tak suka. Keduanya saling melempar pandang tanpa mengucapkan apapun. Pandangan Sakura yang begitu bersi teguh mempertahankan posisinya membuat Sasuke mendengus kesal.

Perlahan, Sakura memberanikan dirinya menyentuh kedua pipi Sasuke. Ditempelkannya dahi pemuda itu dengan miliknya. Sasuke memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut Sakura pada tengkuknya. "Kau bukan iblis Sasuke," bisik Sakura parau. Berusaha menyadarkan Sasuke siapa dirinya.

"Kumohon pergilah Sakura, sebelum aku melakukan hal yang tak pantas kepadamu," sahut Sasuke, masih dengan memejamkan matanya. Suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya, afasnya juga lebih teratur.

"Kau takkan melakukannya Sasuke," ucap Sakura meyakinkan. "Kau bukan pria seperti itu."

Perlahan Sasuke membuka matanya. Benar saja, seperti yang sudah-sudah –Sakura berhasil melakukannya. Sepasang mata iblis itu telah kembali menjadi sepasang onyx sekelam malam.

"Kauakan menyesali ini," bisik Sasuke sebelum melumat bibir Sakura kasar. Gadis itu tak menolaknya, bahkan membalas lumatan Sasuke dengan penuh hasrat. Mencoba menyadarkan pemuda itu bahwa dirinya ada di sini untuknya.

Sasuke semakin kehilangan akal sehatnya. Diangkatnya tubuh Sakura tanpa berniat melepaskan ciumannya, kemudian dibaringkannya tubuh yang jauh lebih kecil darinya itu ke ranjang miliknya. Tubuh Sasuke yang semula terasa dingin perlahan menghangat, bahkan peluh mulai menghiasi tubuhnya, membuat aroma maskulin dalam tubuhnya menguar dan memanjakan indra penciuman Sakura.

Sementara itu, Sakura berusaha menahan pergerakan Sasuke yang mulai terasa agresif. Tangan kokoh Sasuke menyusup masuk ke dalam piama yang menutupi tubuhnya dan memijat pinggangnya. Memanjakannya dengan sentuhan menggairahkan yang tak ayal berhasil membangkitkan hasrat dalam dirinya.

Sakura bahkan hanya bisa mendesah resah saat merasakan kecupan Sasuke beralih ke telinganya kemudian menjalar ke lehernya dan berhenti di sana untuk memberikan beberapa tanda. Ini gila, Sakura benar-benar kehilangan pertahanannya. Tangannya yang semua digunakan menahan dada Sasuke kini justru menyambut tubuh bidang Sasuke.

"Jangan hentikan aku," bisik Sasuke tepat di telinga Sakura, membuat udara panas menjalari telinganya hingga ke wajahnya yang memerah.

Entah bagaimana caranya, keadaan Sakura kini hampir sepenuhnya telanjang, menyisakan pakaian dalam yang sama sekali tak mampu menutupi keindahan tubuhnya. Sasuke berhasil menanggalkan pakaian gadis itu perlahan tanpa membuat Sakura panik.

Sakura baru menyadari kondisinya saat Sasuke berusaha melepaskan penutup terakhir yang membungkus daerah pribadinya. Dengan setengah memaksa, Sakura mendorong dada Sasuke untuk melepaskan ciuman liarnya. Ini terlalu jauh, Sakura merasa belum cukup siap untuk ini.

"Hentikan Sasukeh...!" ucap Sakura parau setelah sekian lama terjebak dalam hasrat liarnya.

Sasuke tak bergeming, ia melanjutkan aksinya membungkam bibir Sakura dan kembali membuainya dengan sentuhan-sentuhan panasnya. Ia sudah memperingatkan gadis itu untuk pergi, dan dia menolaknya. Jadi jangan salahkan Sasuke kalau ia bertindak lebih sekarang.

"Akh..!" Sakura mendesah ketika merasakan sesuatu bergerak di bawah sana, di daerah yang belum pernah tersentuh siapapun.

"Aku sudah memperingatkanmu. Jadi jangan harap kau dapat keluar dari sini sekarang," bisik Sasuke sembari tetap melanjutkan aksinya. Nafasnya semakin memburu, namun tak ingin terburu-buru. Jemarinya masih bermain di sana untuk membantunya mempermudah jalan untuknya masuk nanti.

"Ngh..kumohon hentikan Sasu...akh!" Sakura tak sampai melanjutkan kalimatnya saat merasakan benda asing yang lebih besar mencoba memaksa masuk. Sakura mulai panik, ia berusaha keras menghentikan Sasuke dengan memukul dada pemuda itu meski sia-sia. Sasuke telah dikuasai nafsunya sekarang, dan pukulan Sakura lebih terasa seperti pijatan ringan baginya.

Sakura tak sanggup lagi melawan. Ia tak mampu membohongi dirinya bahwa ia juga menginginkan ini. Ia mencoba untuk tenang dan membiarkan Sasuke menuntaskan semua ini. Setidakinya Sasuke tak melakukannya dengan kasar, pria itu melakukannya dengan penuh perasaan seolah takut Sakura akan remuk bila ia salah bergerak.

Lolongan keras Sakura menandai bersatunya kedua anak manusia itu. Sasuke telah berhasil menembus pertahanan terakhir Sakura dan merebut hal terpenting milik gadis yang telah menjelma menjadi wanita itu malam ini. Di bawah sinar rembulan yang menjadi saksi bisu penyatuan dua manusia itu.

Sasuke mengeram menikmati penyatuan ini. Dibiarkannya Sakura beradaptasi dengan miliknya yang kini tertanam sempurna dam tubuh wanitanya itu. Setelah dirasa cukup, melalui tanda dari Sakura, Sasuke melanjutkan aksinya. Gadis itu tak lagi berusaha menolak tubuhnya dan mulai berusaha menikmati permainan. Entah sudah berapa kali wanitanya ini mencapai puncaknya sendiri, Sasuke tak begitu memperdulikannya. Ia sendiri belum mencapai kepuasannya.

"Aku lelah Sasuke," rengek Sakura susah payah di tengah permainan mereka setelah hampir satu jam berlalu.

Sasuke tak menjawab dan tetap berkonsentrasi pada bagiannya. Ditatapnya sepasang emerald yang kini memandangnya memohon. Wanita ini, masih sanggup menatap matanya di saat seperti ini?

Beberapa saat kemudian, Sasuke menempelkan bibirnya kasar untuk menyembunyikan desahan kepuasannya sembari menanamkan miliknya hingga ke dasar, membuat Sakura ikut melenguh nikmat dalam ciuman panas mereka.

Keduanya saling berpelukan sembari berusaha mengatur nafas. Malam itu, Sasuke berhasil melampiaskan emosinya pada hal lain.

Beberapa saat kemudian, Sasuke membaringkan tubuhnya di samping Sakura. Keduanya sama-sama berusaha mengatur nafas masing-masing. Aroma tak biasa memenuhi ruangan. Lama rasanya Sasuke tak menikmati malam panas dengan seorang wanita, ini yang pertama setelah ia berpisah dari Ino dulu.

"Kau benar-benar menyebalkan," gumam Sasuke sembari menyesap wangi rambut Sakura yang kini berada dalam dekapannya. "Harusnya kubunuh kau malam ini juga agar semua ini berakhir," sambungnya parau.

Sakura tahu pemuda itu tak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Oleh karena itu, Sakura tak berniat melepaskan diri dan justru merapatkan tubuhnya pada Sasuke. "Kenapa tak membunuhku?"

"Aku tak bisa."

"Kenapa?"

"Aku lebih tertarik untuk menikmatimu," sahutnya sebari mengelus tubuh Sakura yang kini tertutup selimut tebal.

Mereka terdiam sejenak. Entah mengapa Sakura begitu menyukai saat-saat seperti ini, jarang-jarang Sasuke bersikap penuh kasih begini.

"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Sasuke memecahkan keheningan.

"Hm?"

"Jangan pernah dekati bocah merah itu lagi," ujar Sasuke dengan nada tak suka yang begitu ketara. Sakura mengalihkan pandangannya dan memandang wajah pujaannya itu.

"Kenapa?"

"Aku tak suka."

"Ada alasan khusus?"

"Tidak."

"Assh...aku tidak mau!" sahut Sakura kesal sembari kembali menyandarkan kepalanya ke dada telanjang Sasuke.

"Kau menentangku?"

"Untuk apa menuruti permintaan tak berdasar seperti itu?"

"Jadi kau lebih memilih aku membunuhnya dengan tanganku ketimbang menurut?"

"Kalaupun kau membunuhnya, aku juga takkan rugi apapun."

"Apa kau bilang?"

"Satu-satunya hal yang mampu membunuhku adalah jika kau yang mati!" bentak Sakura putus asa. Mereka baru saja selesai bercinta dan Sasuke berhasil merusak suasana dengan membahas hal yang tak perlu ini.

Sasuke terdiam. Dari posisi sedekat ini, ia bisa merasakan hembusan nafas wanita yang kini memandangnya angkuh. Benar-benar keras kepala. Tapi...bukankah ini menandakan bahwa dirinya jauh lebih berharga bagi Sakura dibanding bocah merah itu?

"Maafkan aku soal kejadian tadi. Aku tahu kau marah, tapi aku juga kesal saat mengingat kau sama sekali tak menghubungiku saat menjalankan misi bersama Ino," ujar Sakura terus terang, sukses membuat Sasuke mendengus menahan tawa.

"Percaya diri sekali kau ini," gurau Sasuke menutupi rasa cemburunya.

"Aku tahu sejak kau tertarik padaku. Kau hanya gengsi mengakuinya," ucap Sakura percaya diri.

"Begitukah?"

"Jika tidak kau takkan mungkin marah pada Gaara."

"Aku tidak marah," sahut Sasuke tenang sembari kembali menyentuh tubuh yang terasa memabukkan itu. "Aku hanya kesal."

"Apa bedanya?"

"Tentu saja berbeda. Kau takkan tahu apa yang bisa kulakukan bila aku marah," terang Sasuke, tangannya kini mengelus surai pink yang basah karena peluh. Entah peluhnya atau peluh wanita itu sendiri.

Sakura hanya mendengus sebal, malas menanggapi ucapan Sasuke. Rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Perlahan, Sasuke merapatkan selimutnya untuk menutupi tubuh Sakura. Tangannya masih sibuk mengelus rambut wanitanya agar cepat terlelap.

"Aku mencintaimu," gumam Sakura sebelum terlelap dalam dekapan Sasuke.

Sasuke terdiam. Cinta? Sudah siapkah ia menerima cinta Sakura yang begitu tulus utuknya? Sesekali dipandangnya sosok polos yang kini terlelap dalam damai. Sakura miliknya, dan itu telah resmi mulai malam ini.

"Tetaplah di sisiku, Sakura," bisik Sasuke sembari mengecup pucuk rambut Sakura.

Apakah aku mencintaimu?
Aku tak tahu..
Apa artimu bagiku?
Aku-pun tak yakin...
Yang kumau kau tetap di sini bersamaku...
Yang kuingin kau tetap di sisiku...
Jadi tetaplah di sini sayang...
Segala milikku adalah milikmu...

TBC...

Author's note :

Ehm... ._.

Aku bingung mau ngomong apa...

Sekali lagi maaf karena updatenya lama...soalnya persiapan UAS... maklum, udah kelas 11 bentar lagi kelas 12, jadi makin sibuk deeh..

Eeeh,,,soal lemonnya... *glek...

Maaf...aku iseng mencoba mengambil langkah berani untuk menyisipkan lemon di chap ini...

Eeee...kok aku jadi grogi gini siih?

Dag,dig,dug nunggu reaksi readers...

Ini pertama kali aku bkin adegan gini..jadi...mohon sarannya readers,,,,

Love u all...

Updatenya ngga bisa kilat niih...maaf yaaa...

Ditunggu tanggapannya...