Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Come Back to Me

.

.

Hujan turun tanpa henti. Seolah menjadi perwakilan bagi hati mereka yang tengah bersedih. Dirundung duka, ditimpa kemalangan, ditenggelamkan dalam petaka. Adakah yang mampu membayangkan rasanya?

Hidup yang singkat ini, dimana setiap detiknya satu nyawa melayang bersama angin dalam satu putaran waktu, mengapa masih saja ada yang memaksakan diri untuk tenggelam dalam dusta perasaan? Mengapa harus lindungi diri dengan kerasnya hati jika dapat hidup tengan bertamengkan kejujuran? Bukankah memendam perasaan hanya akan menambah beban hidup?

Diantara ribuan manusia bodoh di dunia ini, marilah kita menengok tokoh utama kita yang kini tengah dirundung kemalangan akibat siksaan batin yang disebabkan egonya sendiri. Uchiha Sasuke, anggota terbaik Exterminator dengan segudang bakat dan talenta, tiba-tiba saja menjadi setengah gila akibat perasaannya.

Dua hari ini ia tak kembali ke mansion Exterminator, dua hari pula ia tak mendengar kabar apapun dari kekasihnya. Ia kini tinggal di sebuah apartemen milik Hatake Group yang memang diberikan untuknya. Anehya, sang Ayah juga tak memaksa untuk segera kembali seperti biasanya. Kenapa mendadak Sasuke merasa diabaikan?

Kembali ditegaknya minuman kaleng beralkohol ringan di tangannya. Untuk kesekian kalinya Sasuke menggeram frustasi, untuk kesekian kalinya ia merasa dihianati, dan untuk kesekian kalinya pula ia merasa menjadi manusia paling tolol sedunia.

Beberapa saat kemudian, diliriknya ponsel yang mulai kembali bergetar. Entah sudah berapa nomor ditolaknya, namun nampaknya kali ini Sasuke sedikit tertarik. Disentuhnya simbol berwarna hijau pada layar ponselnya sebelum bicara dengan nada rendah, "Apa yang kau inginkan?" Sesaat Sasuke nampak mengerenyit mendengarkan ucapan sosok di seberangnya sebelum akhirnya menyahut singkat, "Aku akan sampai dalam sepuluh menit." Sasuke nampak bersiap untuk pergi ke suatu tempat sebelum akhirnya mengambil kunci mobil dan pergi dengan sedikit tergesa.

###

Sasori nampak menimati suasana malam ini. Ia tengah menyesap kopi susu dalam cangkir kesayangannya sembari memandang hamparan rerumputan yang berujung pada sebuah danau luas di belakang markas mereka. Akhir-akhir ini rumah terasa sepi dan membosankan. Sasori juga tak begitu yakin apa penyebabnya.

Dirasakannya ada sosok lain berdiri di belakang tempatnya duduk, terlihat dari bayangan yang terbentuk di lantai kayu di bawahnya.

"Udara di luar dingin, kau bisa sakit," ucap suara selembut beledu di belakangnya. Sasori bahkan sampai menutup matanya untuk menikmati suara wanita kesayangannya itu.

"Aku baik-baik saja," jawabnya halus sambil tersenyum ramah pada wanita yang kini duduk di sampingnya.

"Rumah sepi akhir-akhir ini," ucap wanita bersurai pirang itu sembari meraih cangkir Sasori dan menggenggamnya. Mencoba menyerap kehangatan dari sana.

"Suasana hati yang lain sedang kurang baik, ditambah Sakura juga sedang menjalankan misi. Biasanya dia yang meramaikan rumah," sahut Sasori tenang. Ini hari kedua Sakura pergi ke luar kota sendirian untuk mengantarkan paket ke Suna. Seharusnya ia telah kembali pagi ini, tapi nampaknya ia sedang ingin menikmati suasana Suna untuk beberapa saat.

"Kedengarannya ia telah berhasil memikat hati semua orang ya? Aku jadi merasa tersingkir," ucap Ino pedih diiringi dengusan kesal, membuat Sasori mengarahkan perhatiannya sepenuhnya.

"Hentikan semua ini. Kau hanya akan melukai perasaanmu sendiri."

"Aku hanya berusaha memperjuangkan perasaanku, apa itu salah? Lagi pula apa lebihnya gadis pilihan Sasuke itu dibanding aku?"

"Sakura memang tidak memiliki kelebihan khusus," aku Sasori. "Ia adalah gadis paling kurang yang sanggup melengkapi Sasuke," sambungnya kemudian sembari menerawang langit.

Ino terdiam. Bahkan Sasori memujinya. Pria yang pernah memujanya itu bahkan mengakui betapa mempesonanya Sakura. Sejenak suasana hening. Keduanya nampak sibuk dalam pikiran masing-masing.

"Kau salah jika mengira aku melupakan segala yang pernah kita lalui," ucap Sasori seolah menjawab pertanyaan dalam pikiran Ino. "Aku hanya menunggumu menemukan tujuan. Jadi jangan membuatku menunggu terlalu lama," sambungnya diiringi senyuman hangat, membuat Ino tak urung terbengong bingung. Sasori mengacak rambut pirang wanitanya sebelum akhirnya bangkit dan meninggalkannya dalam diam. Sementara Ino hanya mampu terdiam sembari memandangi cangkir di tangannya yang masih terisi setengahnya.

"Dasar pria bodoh," gumamnya kemudian diiringi senyuman getir sebelum akhirnya menyesap kopi susu dalam cangkir itu. Manis, minuman hangat ini selalu menjadi minuman kesukaannya dan Sasori, bertolak belakang dengan Sasuke yang lebih memilih kopi Americano yang terkenal kepahitannya.

Ino tersenyum, ia ingat tatapan Sasori saat pertama kali memandangnya dulu. Betapa pria itu memujanya, bahkan rela menghianati saudaranya sendiri. "Kenapa aku tak bisa mencintaimu dengan hati?" gumam Ino sedih. Kenapa, kenapa ia tak bisa mencintai pria yang jelas-jelas menerimanya apa adanya itu dengan sepenuh hati?

###

Sasuke memandang ke arah lawan bicaranya. Keduanya kini tengah duduk berhadapan di sebuah cafe sederhana dekat stasiun. Belum ada yang membuka mulut, hanya dua pasang mata berlainan warna yang masih saling memandang tak suka.

"Kau nampak kacau," ucap Gaara sebagai pembuka. "Kalian masih bertengkar?" tanyanya kemudian yang sama sekali tak ditanggapi lawan bicaranya. Keheningan sempat kembali terjadi sebelum akhirnya Gaara melanjutkan pertanyaannya,"Aku tak bisa menghubungi Sakura akhir-akhir ini. Apa terjadi sesuatu?"

"Apa itu urusanmu?" sahut Sasuke sarkastik. "Sepertinya kau bukan orang yang bisa dengan mudah merasakan ancaman," sambungnya menusuk.

Gaara hanya mendengus menahan tawa, kemudian diliriknya salah satu jari manis Sasuke yang kini tak lagi polos. Gaara ingat cincin itu, cincin yang sama dengan yang ada pada jemari pujaannya. "Kau mulai ketakutan rupanya," ejeknya sembari memutar cangkir kopinya. "Aku tak tahu kalau perasaanmu sebesar itu padanya."

"Berhenti berputar-putar."

"Kalau begitu lepaskan Sakura. Tak tahukah kau ia sangat menderita bersamamu?"

"Siapa kau berhak menyimpulkan hidupnya?" sahut Sasuke masih berusaha mengatur nada bicaranya agar tak berteriak. "Dia baik-baik saja di sampingku."

"Yang kuharapkan dia lebih dari baik-baik saja."

"Lalu apa yang kau inginkan? Memaksanya bersamamu?" Sasuke menjeda sejenak kalimatnya. "Apapun yang terjadi ia akan tetap di sisiku."

"Kau menggelikan Sasuke. Bicaramu seolah-olah kau sangat mencintainya."

"Jauhi Sakura. Jika kau berharap dapat merebutnya dari genggamanku sebaiknya kau mulai menggali kuburmu sendiri mulai detik ini," ancam Sasuke serius.

Tanpa diduga, Gaara justru tertawa meski terdengar hambar. "Aku tak percaya kau merasa terancam dengan keberadaanku Sasuke," ejeknya penuh kepuasan. "Apa kau benar-benar takut Sakura akan jatuh ke pelukanku? Ah...andai Sakura mendengarnya."

Sasuke mencengkeram pegangan cangkirnya. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak menonjok wajah menyebalkan di hadapannya yang kini nampak tersenyum puas.

"Kita sama-sama tahu bahwa Sakura tidak secerdas itu untuk menangkap perasaanmu Sasuke. Jadi sebaiknya ungkapkanlah sebelum kau menyesal. Karena sejujurnya, aku takkan mundur," tungkas Gaara tanpa keraguan sembari bersiap pergi setelah sebelumnya meninggalkan sejumlah uang di meja. "Sampai jumpa," pamitnya tanpa menunggu jawaban apapun dari mulut manusia es yang kini mulai memanas.

Sementara itu, otak Sasuke seolah merekam semua ucapan rival abadinya yang kini tengah menghilang dibalik kerumunan pengunjung cafe. Bisa dirasakannya cangkir di tangannya mulai berderak akibat terlalu kuat digenggam. Jadi...bocah ingusan itu menolak untuk pergi dari wilayah teritorialnya?

###

Sakura menyusuri jalanan yang lenggang dengan kecepatan sedang. Ia sedang ingin sendiri sekarang. Dengan ijin Sakumo, ia diperbolehkan membawa salah satu mobil yang tersedia dengan surat ijin mengemudi dadakan. Sebenarnya ia belum bisa menyetir dengan sempurna, tapi rasa-rasanya jalan pulang pergi Konoha-Suna tidak terlalu berbahaya sehingga Sakumo mengizinkannya.

Sasuke tak menghubunginya. Ia tak mencarinya. Bahkan menanyakan kemana dirinya saja tidak. Apa pria itu justru senang dirinya pergi? Ah..kesal rasanya bila mengingat pertengkaran yang membuatnya lelah ini. Pria itu dengan mudahnya mengambil kesimpulan, bahkan sebelum Sakura menjelaskan duduk perkara. Sebaiknya lupakan saja Uchiha bodoh itu untuk saat ini, Sakura benar-benar tidak ingin memikirkan hubungan mereka yang baru saja resmi beberapa hari ini.

Baru setengah perjalanan menuju hotel, hujan deras tiba-tiba turun. Membuat jarak pandangnya kabur. Sakura sedikit panik menyadari pandangannya buram dan sulit untuk melihat jalanan. Ia memutuskan untuk menjalankan mobilnya perlahan.

Entah hanya perasaannya saja atau memang begitulah adanya, dari arah berlawanan terlihat cahaya yang nampak seperti lampu mobil yang berjalan ke arahnya. Sakura mencoba memberikan tanda melalui lampunya agar pengemudi itu mengurangi kecepatannya, namun tampaknya itu sama sekali tak berpengaruh. Karena belum pernah menghadapi suasana seperti ini, Sakura semakin panik dan berkali-kali berusaha memberi tanda.

Mobil itu semakin dekat, Sakura mencoba meminggirkan mobilnya dengan sedikit tergesa, sialnya sesuatu nampaknya menusuk ban mobilnya tanpa ampun hingga kemudi semakin tak terkendali. Bukannya mengijak rem, Sakura yang tengah dalam keadaan panik justru menginjak gas semakin kencang yang berakhir dengan acara banting stir, menyebabkan mobilnya menghantam pembatas jalan hingga entah bagaimana caranya berakhir dengan mobil terbanting dalam posisi terbalik.

Sayup-sayup Sakura melihat siluet seseorang yang muncul dari pintu mobil. Selanjutnya ia tak mengingat apapun selain kegelapan yang menyelimuti setelah sebelumnya sempat ia merasakan tubuhnya seolah terangkat, mungkinkah nyawanya melayang? Entahlah, yang jelas gelap telah menjemput sebelum ia menyadari siapa sosok yang mengangkat tubuhnya.

###

Kode merah mengaung dari ruang pengawasan. Mendadak semua panik dan berlalu lalang tanpa arah. Salah satu dari mereka adalah Kakashi yang nampak tengah berbicara dengan seseorang di seberang telefon dengan suara panik yang tak dibuat-buat.

Suasana tak jauh berbeda juga terjadi di ruangan lain. Seluruh anggota berusaha menghubungi siapa saja yang mungkin bisa membantu. Beberapa anggota sudah turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi salah satu anggota mereka yang mendadak sinyalnya hilang entah kemana. Ditambah ada laporan yang mengatakan mobil yang digunkannya ditemukan terbakar di pinggir jalanan kota.

Mendadak terdengar suara pintu dibuka paksa dari luar, menampakkan sosok tampan yang kini nampak gusar. Kepanikan tak dapat disembunyikan dari balik onyx yang nampak tak stabil itu. Ia baru saja menerima panggilan dari Kakashi bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi.

Nafas Sasuke terlihat memburu, seolah paru-parunya memaksa memasok oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkannya. Seluruh anggota memilih menyingkir dari pandangannya, memberinya jalan untuk menuju satu-satunya ruangan yang hendak dituju.

Lagi-lagi tanpa perasaan dan sedikit mendobrak, Sasuke membuka pintu yang menghubungkannya dengan ruangan sang pimpinan. Begitu pintu terbuka, terlihat Sakumo baru saja menutup telefonnya.

"Apa-apaan ini?" tanya Sasuke setengah membentak. "Kau mengirimnya tanpa pengawalan? Bahkan memberikan mobil untuknya? Dia bahkan belum mendapatkan surat ijin mengemudinya!" Sasuke berteriak kesetanan. Emosinya meluap tanpa ampun, membuat Sakumo mencelos mendengarnya. Meskpun tak pernah menganggapnya Ayah, atau bahkan jarang patuh padanya, Sasuke tak pernah sekalipun terlihat semarah ini padanya, apalagi membentak.

"Tenangkan dirimu Sasuke," sela Kakashi dari belakang.

"Tenang kau bilang? Setelah apa yang terjadi pada Sakura kau masih memintaku tenang hah?"

"Kau pikir kami menginginkan ini? Kau pikir kami merencanakan semua ini?" sahut Sakumo yang masih berusaha menjaga nada bicaranya.

"Dengan mengirimnya dalam misi tanpa pengawalan, kalian sama saja mendorongnya ke dalam jurang! Bukankah sejak awal kita sudah sepakat untuk tidak mengirimnya kemapun tanpa aku?" bentak Sasuke kesal. Onyxnya berkali-kali berubah warna sebelum kembali menghitam, menandakan emosinya sedang benar-benar tak terkendali. "Kalian harusnya tahu kenapa selama ini aku meminta pengawalan bertingkat. Sakura dalam bahaya sejak awal ia tergabung dan berperan sebagai kekasihku! Kalian baru saja memberinya tiket menuju kematian!" tungkasnya pedas.

Sakumo hanya mampu terdiam sementara Kakashi menghela nafas berat. Di luar seluruh anggota memperhatikan dengan tampang yang sulit diartikan. Semua terdiam tak mampu menjawab.

"Selama ini aku mati-matian berusaha melindunginya. Aku tak pernah membawanya dalam misi berat karena aku tahu musuh akan selalu mengincarnya untuk menghancurkan konsentrasiku. Sekarang lihat apa yang telah kau lakukan! Kita bahkan tak bisa memastikan apakah ia hidup atau mati bersama api!"

Sasuke nampak begitu putus asa setelah menyelesaikan kalimatnya. Tangannya nampak mengepal sempurna, mebuat uratnya nampak menonjol, bahkan membiru.

"Masih ada kemungkinan Sakura selamat, jadi..."

"Kalaupun dia selamat...kalaupun dia selamat, aku yakin mereka akan menjadikannya alat untuk menyerang kita," potong Sasuke sebelum Sakumo menyelesaikan kalimatnya. Keputus asaan terdengar jelas dari sana. "dan jika kau memilih untuk melepaskannya, siapkan saja upacara kematian untukku," sambungnya sebelum keluar setelah sebelumnya menghantam pintu kokoh setebal sepuluh senti berbahankan jati pilihan hingga retak. Membuat semua saksi mata hanya mampu menahan nafas hingga Sasuke meninggalkan ruangan.

"Siapkan seluruh anggota terbaik. Temukan gadis itu dimanapun ia berada," titah Sakumo sebelum mengistirahatkan tubuhnya pada kursi kerjanya. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya pada diri sendiri.

###

Entah sudah berapa cermin menjadi korbannya. Mungkin juga tak terhitung berapa jendela yang telah berakhir mengenaskan akibat kebuasan amukan Sasuke. Kamar yang baru saja mengalami renovasi itu mendadak berubah serupa dengan tanah jajahan yang berisi sisa peperangan. Tangannya yang mulanya lebam kini berangsur pulih dengan sendirinya berkat kekuatan dalam dirinya.

Sasuke sendiri heran, bukankah ia tengah menggunakan kekuatan iblis dalam dirinya? Tapi mengapa rasa sakit dan resah akibat bencana yang baru saja menimpanya tak ikut hilang? Bukankah seharusnya nuraninya mati?

Akatsuki. Sasuke yakin merekalah yang melakukan semua ini. Sakura pasti ada bersama mereka sekarang. Tapi dimana? Markas Akatsuki selalu berpindah setiap kali mereka berhasil melacaknya.

Sasuke menolak bicara pada siapapun, bahkan Naruto. ia tak mau bicara dengan orang-orang yang telah berkonspirasi menjebloskan Sakura dalam masalah ini. Diliriknya pigura di samping tempat tidurnya. Hatinya kembali sesak. Beginikah rasanya tanpa gadis itu dalam hidupnya? Beginikah rasanya kehilangan orang yang paling dicintainya? Beginikah rasanya hidup dalam ketidak jelasan? Inikah yang dirasakan Sakura saat dirinya pergi dalam misi tanpa memberi kabar? Sasuke merasakannya sekarang, bahkan mungkin lebih buruk dari yang dirasakan Sakura dulu.

Setidaknya Sasuke masih merasa lega saat mengetahui tak ada mayat dalam bangkai mobil yang meledak beberapa detik setelah kecelakaan. Itu artinya...

Sasuke mendadak tersentak. Ia semakin yakin bahwa kecelakaan ini direncanakan. Pelaku segera mengambil tubuh Sakura, telat sedikit saja mungkin gadis itu sudah terbakar bersama mobilnya. Dengan sedikit terburu, Sasuke bangkit setelah sebelumnya menghubungi Kakashi untuk menyiapkan ruang rapat.

.

.

.

.

"Kau tidak bisa mengambil tindakan gegabah, bisa saja ini jebakan. Berpikirlah dengan logikamu Sasuke!" ujar Sakumo setengah membentak. Jujur ia kesal dengan emosi Sasuke yang tak terkendali. Ia bisa saja memperburuk keadaan dengan caranya ini. "Alat pelacak Sakura tidak dapat dideteksi. Seluruhnya dibuang pada lokasi yang berbeda-beda. Mereka sengaja melakukan ini untuk membuat kita lengah."

Sasuke memandang sosok setengah baya diujung meja itu dengan tatapan geram. Ini tak benar. Untuk apa Akatsuki bermain-main dengan menculik serta menyembunyikan kekasihnya? Akhirnya Sasuke kembali menunduk frustasi. Ia lelah, segala cara telah dilakukan namun tak kunjung menemukan titik terang.

Dengan gontai ia bangkit dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seluruh anggota yang mengikuti rapat turut pusing akibat kejadian ini. Bahkan Shikamaru yang biasa cuek dan jarang muncul kini ikut dalam rapat. Tentu saja, ia mengenal baik Sakura. Hilangnya gadis itu turut membuatnya resah.

Mereka tak ingin berspekulasi. Jika memang ini perbuatan Akatsuki, kenapa harus Sakura? Bukankah gadis itu hanyalah anggota amatir yang belum mengetahui apapun? Takkan ada gunanya bila harus mengorek informasi dari gadis yang notabenenya masih awam tentang dunia Exterminator.

###

Akhir-akhir ini hujan sepertinya enggan untuk berhenti mengguyur kota. Dua puluh empat jam berlalu semenjak insiden kecelakaan yang berakhir dengan menghilangnya Sakura. Belum ada pesan apapun. Jika memang penculikan seharusnya pelaku mengirim email atau semacamnya untuk menyampaikan maksud.

Kebanyakan dari mereka tak tidur semalaman. Hinata masih berusaha mencari info dengan membobol beberapa program rahasia rumah sakit untuk mencari data pasien yang masuk kemarin. Anggota yang lain mencoba melakukan penyamaran dan menyusuri tempat kejadian, bahkan ada yang sampai menyamar menjadi jurnalis untuk mendapatkan info dari polisi setempat. Hasilnya nihil. Belum ada tanda-tanda keberadaan Sakura.

Sementara itu, Sasuke kini hanya mampu merenung di ruang rekreasi tempatnya dan Sakura biasa bertengkar disaksikan anggota lain. Mereka biasa berdebat mengenai berbagai macam hal. Terkadang hanya karena masalah sepele seperti aturan permainan poker, berita di TV, bahkan permainan monopoli yang akan berakhir dengan mundurnya satu persatu pemain karena malas beradu mulut dengan sepasang anak manusia ini.

Sasuke menghela nafas lelah. Entah mengapa ia merasa tak tenang. Berkali-kali ia meremas dadanya, berharap dapat mengurangi rasa sakit dan rindunya. Rindu? Ah..rasanya ia mulai merasakan betapa pentingnya kehadiran Sakura yang sering disebutnya merepotkan itu.

Perlahan Sasuke menghampiri grand piano kesayangannya. Sakura pernah memohon padanya untuk mengajarinya bermain piano, namun Sasuke menolaknya. Bukan apa-apa, ia hanya tak suka bila kekasihnya memiliki kelebihan yang sama dengannya. Ia enggan disaingi. Bagi Sasuke, untuk apa Sakura belajar piano kalau ia bisa memainkan untuknya setiap waktu?

Disentuhnya tuts-tuts kesayangannya itu. menciptakan alunan musik yang awalnya tak beraturan. Sasuke sedang memikirkan lagu apa yang hendak dimainkannya hingga tanpa sadar ia memainkan sebuah lagu yang lama tak ia mainkan. Sebuah lagu bertempo variasi. Awalnya terdengar ceria dan tenang hingga akhirnya semakin lama tempo semakin cepat dan melodinya terdengar penuh emosi. Lagu berjudul Secret yang merupakan salah satu original soundtrack dari sebuah drama berjudul sama yang juga menceritakan tentang cinta dan piano itu telah menjadi pilihannya. Sasuke memainkannya penuh emosi, jemarinya dengan lincah merangkai melodi yang entah mengapa seolah mengekspresikan perasaannya. Tepat ketika Sasuke menyelesaikan melodinya, Naruto muncul dari balik pintu dengan tergesa.

"Kami menemukannya," ucap Naruto dengan nafas tersengal. Anehnya, tak ada ekspresi lega disana, melainkan tatapan memohon maaf yang sarat akan sesal yang tak sanggup dijelaskan.

Sasuke memandangnya penuh tanya, namun yang dapat diberikan Naruto hanyalah gelengan lemah. Ini tak baik. Sasuke yakin sesuatu yang buruk telah terjadi. Mungkinkah Sakura dalam keadaan buruk?

###

Sakura's POV

Aku tak yakin dimana diriku berada. Aku tak tahu kemana langkahku membawa. Hampa, hanya hampa yang kurasa meski aku tengah berjalan bersama puluhan manusia yang tak kukenal. Telingaku terasa tuli, pandanganku sediit kabur, namun entah mengapa langkahku terasa ringan dan tak mampu berhenti. Dimana aku? Kenapa aku berada di sini?

Aku tak merasakan pergerakan udara di dadaku, tak juga bisa merasakan detak jantung yang biasa mengiringi hidupku. Entah sudah berapa lama kondisi ini berjalan, aku tak ingat. Sepertinya aku sudah melangkah begitu jauh, namun mengapa tak kutemukan ujung? Ah...itu dia. Di sana sepertinya ujung dari perjalananku. Kupercepat langkahku, aku ingin tahu kemana semua ini hendak membawaku.

Tiba-tiba langkahku terhenti, bukan, bukan aku yang ingin berhenti. Melainkan sebuah tangan yang mendadak menahan langkahku. Kutatap sepasang manik legam yang kini memandangku sayu. Ah..aku mengenalnya. Sosok yang kuhindari beberapa hari terakhir demi menenangkan batinku sendiri. Kenapa ia terlihat sedih?

Ia menggeleng pelan, seolah memohonku untuk berhenti melangkah. Genggaman tanganya terasa begitu erat, aku bisa merasakan kecemasan dari sana. Ia ingin aku berbalik dan menghentikan perjalanan panjang yang tak pernah kutahu kemana akan berujung.

Aku masih bimbang. Kulirik arah kemana orang-orang berjalan. Wajah mereka dipenuhi kelegaan, langkah mereka begitu ringan seolah segala beban terangkat begitu saja. Aku ingin, ingin sekali mengikuti langkah mereka, namun mengapa langkahku terasa begitu berat?

Kutatap sekali lagi sosok yang masuh menggenggam erat tanganku. Tatapannya semakin mengiba, membuatku semakin berat untuk pergi. Kuputuskan untuk mengikuti kemana ia hendak membawaku. Meninggalkan tempat yang mungkin bisa saja berakhir pada kebahagiaan yang abadi. Dan semua terasa semakin berputar. Rasa pening menyerang seiring dengan pandangan yang semakin menghitam dan kemudian berubah gelap.

Sayup-sayup kudengar pembicaraan di sekitarku. Siapa yang bicara? Aku tak mampu membuka mata. Ah...udara. Akhirnya aku merasakan udara dalam organ pernafasanku. Rasanya tak lagi hampa seperti tadi meski aku tetap tak tahu dimana diriku kini berada.

"Seseorang membawanya ke rumah sakit sesaat setelah kecelakaan terjadi," ucap sebuah suara yang tak asing bagiku. Suara hangat ini, sepertinya milik Kakashi. "Anehnya jika dihitung, ia dibawa ke rumah sakit sekitar lima jam setelah kecelakaan."

"Bagaimana mungkin? Jika memang seperti itu kejadiannya, seharusnya ia tak dapat diselamatkan."

Hening. Tak ada sahutan dari siapapun sampai kudengar suara pintu yang dibuka kasar. "Segera lakukan pemeriksaan. Temukan kemungkinan adanya benda asing yang tertanam pada tubuhnya, bisa saja semua ini.." Ah..Sasuke. Kenapa kau terdengar cemas? Apa kau menghawatirkanku? Bagaimana kira-kira wajahmu saat ini hm?

"Tenangkan dirimu Sasuke. Sakura baru saja melewati masa kritisnya. Saat ini kita harus menunggu kondisinya stabil sebelum melanjutkan pemeriksaan," potong Kakashi mencoba menenangkan.

Selanjutnya yang kudengar hanya perdebatan antara Sasuke dan beberapa anggota Exterminator yang mulai berasumsi. Mereka mulai menduga-duga, beberapa diantaranya menelfon beberapa nomor demi membantu penyelidikan tentang kecelakaan yang menimpaku. Entah mengapa rasa hangat menyelimuti dadaku. Dapat kutangkap kegusaran yang melanda masing-masing dari mereka. Jadi mereka mengkhawatirkanku?

Sepintas kudengar sebuah suara merdu yang kini tengah mengabarkan kondisiku melalui telefon. Suara ini pasti milik Hinata. Ia terdengar sedikit lebih tenang dibanding yang lain, sepertinya ia tengah berbicara dengan Sakumo, terlihat dari caranya bicara yang begitu sopan dan penuh rasa hormat.

Meski tak dapat melihat apa yang tengah mereka lakukan, bisa kutangkap betapa mereka peduli. Jadi, selama ini aku yang terlalu berprasangka buruk pada mereka?

Tiba-tiba kurasakan sentuhan hangat seseorang yang kini menggenggam tanganku. Genggaman yang sama dengan yang kurasakan tadi. Begitu hangat, begitu posesif, begitu penuh harap. Kurasakan seseorang itu kini mengecup punggung tanganku perlahan beberapa kali. Oh Tuhan..aku berharap bisa melihat wajahnya sekarang. Aku ingin menggerakkan tanganku dan membalas genggamannya. Tapi kenapa terasa begitu sulit?

"Apa yang kau lakukan gadis bodoh? Kau ingin membunuhku hm?"

Dengar, bahkan disaat aku dalam keadaan lemah ia tetap saja melontarkan kata-kata kasarnya. Awas saja, akan kutonjok wajah rupawan itu saat aku sadar nanti.

"Aku tak dapat menjanjikan akan bersikap baik padamu setelah ini, tapi jika kau sadar nanti, akan kuceritakan sebuah rahasia yang selalu ingin kau dengar. Bagaimana? Kau tertarik untuk bangun?" tawarnya setengah berbisik.

Sasuke mencoba membujukku? Menggelikan sekali. Untuk beberapa saat aku merasa seolah ia berharap aku segera sadar namun enggan menjanjikan kebahagiaan untukku. Dasar pria labil!

Selanjutnya yang kurasakan adalah sesuatu yang hangat menyentuh pipiku. Oh Tuhan..aku selalu suka caranya mengecup pipiku. Selalu penuh perasaan, selalu sarat akan kasih yang selama ini tak mampu muncul dari mulut tajamnya. Cukup lama, ia mengecup pipiku penuh asa dan harap.

"Sasuke, kita harus segera kembali," tegur suara cempreng milik Naruto. Dasar perusak suasana!

Tunggu, aku tak ingin Sasuke pergi sekarang. Aku ingin dia tetap di sini menemaniku, aku ingin dia tahu kalau aku mendengar segala yang diucapkannya tadi. Dengan kekuatan penuh, kucoba menggenggam tangannya semampuku sebelum ia benar-benar pergi.

Berhasil! Sasuke menghentikan langkahnya dan kembali menggenggam jemariku. Bisa kurasakan hembus nafasnya yang semakin mendekati wajahku, membuat jantungku memburu, bahkan bisa kurasakan wajahku memanas. Perlahan, ia mengecup bibirku dengan lembut. Hanya ciuman singkat karena ia ia sudah melepaskannya sebelum aku sempat menikmatinya.

"Jika kau ingin menahanku, kau harus cepat sadar," bisiknya menggoda. "Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan tugasku, dan aku ingin kau membuka matamu saat itu. Jika tidak, kita lihat saja nanti apa yang akan kulakukan padamu," sambungnya masih dengan nada yang sama sebelum akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkanku yang kesal setengah mati namun tak sanggup melakukan apa-apa selain menyimpan dalam hati.

Dan di sinilah aku sekarang. Bersama sepi dan suara mengganggu alat yang berbunyi seiring detak jantungku. Baiklah, sebaiknya aku tidur sekarang sambil menunggu pangeranku kembali untuk membangunkanku nanti.

End Sakura's POV

###

Sasuke masih terlihat gusar meski kini nampak sedikit lebih tenang setelah Sakura ditemukan. Keningnya masih menunjukkan kerutan yang nampak mengesalkan siapa saja yang melihatnya. Tak terkecuali Naruto yang kini duduk di hadapannya.

"Sakura akan baik-baik saja," ucap Naruto memecah keheningan diantara mereka berdua.

"Hn," sahut Sasuke seadanya. "Aku hanya merasa sedikit aneh dengan kejadian ini," sambungnya bingung. Sakura menghilang, alat pelacaknya tersebar seolah memang sengaja dibuat demikian, kemudian tiba-tiba ia ditemukan di sebuah rumah sakit tak jauh dari lokasi. Bukankah ini aneh?

"Berhentilah berpikir macam-macam untuk saat ini dan singkirkan wajah mengesalkan itu teme!" ucap Naruto setengah membentak karena mulai kesal sendari tadi Sasuke hanya memasang wajah flat tanpa ekspresi seperti patung.

Mereka tengah melakukan penyamaran sekarang dan jika Sasuke terus memasang wajah seperti itu sementara Nruto tengah berusaha keras menarik perhatiannya, mereka akan terlihat seperti pasangan homo yang tengah bertengkar.

"Salahmu sendiri tetap memaksaku bergabung," sahut Sasuke seenaknya.

"Kau pikir aku senang ada dalam satu misi denganmu. Apalagi cuma disuruh mengawasi seperti ini," celoteh Naruto cerewet.

Sasuke hanya menghela nafas enggan. Hari ini mereka memang hanya bertugas untuk mengawal Sakumo dalam sebuah jamuan makan malam. Sejauh ini mereka santai-santai saja mengingat tak ada ancaman yang berarti.

"Soal insiden foto itu...aku berani bersumpah itu tak seperti kelihatannya," ucap Naruto tiba-tiba, membuat Sasuke mengangkat kedua alisnya heran. "Mereka memang pergi berdua, tapi aku berani menjamin tidak terjadi apapun diantara mereka. Jadi...berhentilah menganggap Sakura sama dengan Ino. Ia takkan melakukan hal rendah seperti berselingkuh di belakangmu," sambung Naruto tanpa menyadari ekspresi kaku Sasuke.

Naruto benar. Yang dilihat Sasuke saat itu bukan Sakura, melainkan memori penghianatan yang dilakukan Ino padanya. Sasuke mendengus menahan tawanya, setengah hatinya merasa bersalah telah menonjok sahabat terbaik dalam hidupnya ini. Namun bila mengingat Naruto juga bersalah karena menyembunyikan kebenaran darinya, Sasuke merasa tak perlu meminta maaf.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan dobe. Jadi, mari kita bekerja dan lupakan sejenak masalahku dan Sakura," ucap Sasuke tenang sebelum beranjak dan bergabung bersama yang lain.

Naruto tersenyum. Ia memang tak mengharap adanya ucapan maaf dari manusia super menyebalkan yang kini bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Ia selalu memaafkan sahabat sekaligus saudara dekatnya itu, meski kadang Sasuke memang semena-mena padanya.

###

Sepasang mata semerah darah itu memandang kasih seorang wanita sebayanya yang kini tengah berlatih memanah. Wanita yang selalu menjadi alasan baginya untuk terus berjuang hingga titik terakhir. Wanita milik pria lain yang sampai kapanpun takkan pernah menjadi miliknya.

"Sebaiknya kau belajar menjaga matamu jika masih ingin hidup," sindir sebuah suara di belakangnya yang hanya ditanggapi senyuman remeh Itachi. "Bukankah sudah kubilang untuk membuang rasamu pada wanita itu?"

"Mana bisa kau membuang nyawa dalam hidupmu?" sahut Itachi sekenanya.

"Ayolah, sikap melowmu ini membuatku muak," ucap Kakuzu dengan nada tak suka.

Itachi hanya tersenyum tipis meski pandangannya tak pernah beralih dari sosok yang kini nampak membanting busurnya dengan kesal. Nampaknya ia sebal karena sendari tadi anak panahnya meleset dari sasaran.

"Kau tahu, aku mulai merasa cinta itu ibaratnya racun."

"Kumohon hentikan Itachi."

"Tak peduli seberapa banyak antibiotik yang kau gunakan, ia akan tetap menyebar tanpa sanggup kau kendalikan. Rasanya menyakitkan meski syaraf-syaraf dalam tubuhmu mulai mati," sambungnya tak peduli.

Kakuzu menatap jengah sosok angkuh di hadapannya. Apakah barusan Itachi mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan? Apakah dirinya tak salah dengar?

Belum sempat bertanya lebih jauh, Itachi sudah menghilang dari hadapannya. Diperhatikannya sosok yang kini tengah berusaha mengajak wanita yang mulanya nampak putus asa untuk kembali mencoba. Interaksi mereka, Kakuzu dapat melihat betapa Itachi menganggap Konan dunianya. Caranya memandang, caranya menyentuh, bahasa tubuhnya menunjukkan perasaan yang tak biasa.

Kakuzu mengingat satu ucapan Itachi yang selalu terngiang dalam benaknya, "Cinta adalah pengecualian, bahkan bagi mereka yang tak memiliki nurani."

Dan disinilah mereka kini berdiri. Di atas rangkaian cinta yang rapuh dan hampir tak mungkin bertahan.

###

Sasuke memasuki ruang perawatan tepat setelah perawat selesai membersihkan tubuh Sakura. Gadisnya itu masih terbaring tanpa daya dengan alat bantuan pernafasan dan infus di tangannya. Begitu menyadari keberadaan Sasuke, perawat itu langsung bergegas mengemasi peralatannya dan pamit untuk undur diri, meninggalkan sepasang manusia itu dalam hening.

Perlahan, Sasuke menghampiri tubuh yang terlihat lebih ringkih dari biasanya itu. ia kemudian duduk di samping ranjang Sakura, tangannya menggenggam jemari wanitanya sembari sesekali memainkannya. Hal yang biasa dilakukannya disaat mereka bosan dan hanya berdiam diri.

"Hari ini dobe bodoh itu menasihatiku. Dia bilang aku seharusnya mempercayaimu dibanding mengingat bayang-bayang masa lalu. Kau tahu, aku merasakan hal aneh dalam dadaku saat menyadari dia justru lebih memahamiku dibanding diriku sendiri," oceh Sasuke panjang lebar. Berharap kekasihnya mendengarkan walau tak memberikan respon yang berarti. "Kau pasti sangat menderita selama berada di sisiku. Kau pasti merasa sangat jenuh harus mendampingi orang sepertiku sampai-sampai menerima tugas untuk pergi ke Suna sendirian," lirih Sasuke yang mendadak sedih. Ia teringat betapa egoisnya dirinya selama ini.

"Apa kau ingin aku pergi dan meninggalkanmu saja? Apakah itu akan membuatmu lebih baik?" bisik Sasuke hampir tak terdengar. Ia bisa lebih terbuka dengan perasaannya saat ini, mengingat tak ada satu orang-pun di sana selain dirinya dan Sakura yang tak sadarkan diri.

"Seseorang mengatakan padaku bahwa kau ini kurang cerdas. Sebenarnya ia tak perlu mengatakannya, karena aku bisa dengan mudah menangkapnya. Dia sepertinya lebih memahamimu, jadi apa sebaiknya kuserahkan saja dirimu padanya?" lanjut Sasuke diiringi tawa hambar. "Katakan padaku, apakah kau mencintainya? Kau bisa tertawa bersamanya, dan hanya menangis saat bersamaku," sambungnya lagi yang ternyata mendapat respon dari Sakura. Tangan mungil itu bergerak dan berusaha menggenggam meski hanya sanggup meraih satu jari Sasuke. Cairan bening mengalir dari sudut mata yang terpejam, seolah ia ingin mengatakan sesuatu namun tak sanggup. Sasuke melihatnya, kemudian hanya sangup menunduk sembari mengeratkan genggamannya. Ia benci menjadi cengeng, namun rasa takut akan kehilangan sekali lagi membuatnya tak sanggup menahan gemuruh dalam dadanya. Ia bisa kehilangan Sakura kapan saja, dan tentu saja setelahnya ia akan membunuh dirinya sendiri.

"Kau pasti menertawakanku sekarang. Kau senang melihatku lemah seperti ini? Kau senang membuatku merasa tak berguna hm?" gurau Sasuke sembari merapikan surai pink yang entah mengapa turut memucat milik gadisnya. Perasaaannya hancur seiring kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Akankah gadisnya kembali? Akankah Sakura sadar besok pagi? Apa yang harus dilakukannya sekarang untuk menunggu saat-saat paling membingungkan dalam hidupnya ini?

Dari luar, Ino hanya mampu memperhatikan dengan kedua tangannya terlipat di dada. Sasuke terlihat begitu rapuh dan menyedihkan saat ini. Begitu pentingnyakah gadis bodoh itu baginya? Kenapa harus Sakura?

Melihat cara Sasuke mencium kekasihnya dan membalai tubuh ringkih itu penuh kasih, secara otomatis menimbulkan perasaan sakit yang tak terelakkan. Dadanya mendadak sesak, ia menyadari bahwa segalanya telah terlambat sekarang. Sepasang aquamarine itu tak mampu menahan lelehan air mata yang akhirnya tumpah. Ia bisa saja terjatuh jika sosok di belakangnya tak menahan tubuhnya. Sosok itu pula yang dengan siaga memeluknya dan memberikan dadanya sebagai sandaran.

Mungkin mereka harus sama-sama belajar, betapa cinta tak bisa dipaksakan. Ia akan datang disaat yang tak terduga, menyerap melalui pembuluh terkecil sebelum kau menyadarinya, berkembang dan memonopoli dirimu tanpa mampu kau cegah, dan tiba-tiba kau hilang kendali karenanya. Kiranya itu yang mungkin harus mereka pahami mulai dari sekarang.

TBC


Special Thanks to :

Lailan cinta ghalma ever n 4ever, Sakusasu 4ever, sitara1083 , Diiaam, Tsurugi De Lelouch

Scy Momo Cherry , Exterminator's Addict , dwinakwon , Hikari-hime Elf, inai chan , Verm ,

YashiUchiHatake , meyrien , Gouto Michiko , Ai Asami , faridaanggra , azharnisadinny, V3Yagami , Si penunggu update , kyuminnie05, chioque, Carina , anggraini ,Yuki Hattori . harry ponten, Ryuji Fukaya , mimi , TFF UchiHaruno , sakuraBELONGtoSASUKE . KIREY REIKHA , Haruno pras , Jemboys chan , Trancy Anafeloz , Sung Rae Ki , Hatake Ayaka, Kuro Nami, Sindi 'Kucing Pink , sasa , Uchiha Hime Is Poetry Celemoet , LANJUD , TFF UchiHaruno ,Wakamiya Hikaru No Login , AnggunLirax , LovyS , Yukina Itou Sephiienna Kitami , beby-chan , princess'nadeshiko , kikihanni , Kim Na Na , yulliquiness, Hiromi Toshiko, ]tomatblossom, Himeka , Shena BlitzRyuseiran , WinterCerry , SSasuke 23 , Yuuya, Camui Hime, Y0uNii D3ViLL , September 9th no , celubba , Mikyo , Konoha Girls, Tsukiyomi Aori Hotori , miyank, me ,yoo-yu, Kikyo Fujikazu , Uchiha May Hn , Garlic , exterminating angel, Andy's Aysakura, Blue Chrysanthemum, Demetria Rhadamanthus , uchihasi , zetta hikaru, asusaku, always sasusaku , Fivani-chan, meyrin kyuchan , inai chan , Winter Cherry to be Haru Chery , Mey Hanazaki , NoonA-key, kyuhyuncho

Semua readers yang telah menanti diupdatenya cerita ini.

Yang sudah baca , review, bahkan fav


Sebenernya aku gamau banyak alasan. Pada dasarnya fic ini emang telaaaaaaaaaat banget. Karena pertanyaan readers sekalian hampir semua sama, makanya saya jawab di sini aja ya. Buat yg bertanya2 siapa yg kemaren disiksa Sasu, itu bukan siapa2 kok...cuma salah satu tawanan aja. Mungkin beberapa diantara kalian kesel nungguin, ngecek tiap hari, percaya deh...saya juga readers, jadi tau banget keselnya kalo fic kesukaan kita ngga update2,,, -_-

Maaf yaa..jangan benci saya. Fic ini emang susah2 gampang. Ide pasang surut, dan sumber dari segala sumber mood menulis saya lagi sering2nya ngambek. Jadinya ngga dapet2 ide deeh... untuk when the love falls n Senseless bakal menyusul. (Doakan yaa)

Berhubung ini bulan puasa, lemonnya stop dulu yaa... (Bilang aja ga mood bikin lemon) hehehe... maaf semua...gabisa bales ripiu kalian yang keren2 itu satu2... kalian tetep sayang saya kan? *emang lu sapa thor?

Hehehe...

Yg kemarin follow twitku yg satunya, maaf, akun itu saya lupa paswordnya. Kalian boleh follow yg ada di bio. Mention yaa...nanti aku follback.. :) *mulai sok artis.
nanti kita ngobrol2 deeh...biar kalo saya gabisa jawab pertanyaan readers di author's note saya bisa jawab d situ. Pasti saya jawab. Oke?

Dan lagi sekarang saya kelas 3 SMA, banyak les n tugas, mungkin update bakal telat2 lagi. Rencananya malah mau vakum. Kalian bersedia menanti kaaan? Jangan tinggalkan author nyebelin ini yaa? -_-

Makasih yang sudah bersedia menunggu updatenya chap ini. Semoga memuaskan. Spesial buat kalian :)

Love,

Na