Melamun. Akhir-akhir ini sepertinya hal itu menjadi kegiatan wajib seorang Uchiha Sasuke yang tengah dirundung galau. Sesekali ia mengecek monitor di hadapannya, menampilkan rekaman CCTV yang menampilkan adegan kecelakaan yang dialami Sakura beberapa hari yang lalu. Ia memutuskan mencari tahu melalui bukti ketimbang menunggu Sakura sadar, toh kemungkinan gadis itu ingat kejadian malam itu sangat kecil.
Ia nampak mengulang-ulang adegan saat sesosok pria muncul sembari menggendong tubuh wanitanya yang tak sadarkan diri. Tak butuh waktu lama, Sasuke langsung bisa mengenalinya. Ia tahu betul pria itu. Tapi apa urusannya dengan Sakura? Apa keterkaitan antara Sakura dengan dengan organisasi yang didirikan pria itu?
"Apa yang sebenarnya mereka semua sembunyikan," gumam Sasuke bingung.
Jujur Sasuke mulai berpikir. Apa yang sebenarnya selama ini mereka lindungi? Kepada siapa mereka sebenarnya berpihak? Pemerintah kah? Rakyat? Atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan Sakumo yang sengaja menggunakan mereka untuk melenyapkan lawan bisnisnya?
Selama ini ia meyakini bahwa mereka membunuh untuk kebaikan. Tapi kebaikan siapa? Sasuke mulai memikirkannya akhir-akhir ini.
Memikirkannya kadang membuat kepala Sasuke tak urung pening juga. Sakura, apa yang mereka incar dari Sakura? Sasuke tahu gadis itu menyimpan misteri, auranya begitu kuat, dan sesungguhnya mudah diatur bila serius. Tapi apa hubungannya dengan pria itu? Apa hubungan Sakura dengan Orochimaru?
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 12
Blindness
.
.
Alunan melodi klasik menambah kesan mewah pesta malam ini. Seluruh bangsawan dan keluarga terhormat berkumpul untuk menikmati pesta amal yang biasa digelar setiap tahunnya. Beberapa dari mereka sibuk berkumpul sembari membicarakan kehidupan masing-masing. Biasa, terlalu banyak hal untuk disimpan sendiri bagi kaum berada seperti mereka. Wajah-wajah angkuh itu sesekali tertawa renyah dengan gaya yang dibuat sesopan mungkin. Kepalsuan-kepalsuan lain mereka tunjukkan demi menjaga wibawa di hadapan yang lainnya.
Pelayan yang wajahnya tak asing lagi bagi kita meletakkan satu persatu hidangan di hadapan tamu. Ya, mereka adalah anggota Exterminator yang kini tengah melakukan penyamaran. Mata mereka menatap awas pada para tamu undangan yang baru saja memasuki ruangan. Hampir seluruh anggota hadir dalam acara ini. Mereka ditugaskan untuk mengawal pimpinan utama sekaligus mengawasi jalannya acara yang diselenggarakan Hatake Group.
Naruto nampak menjamu dengan hormat, mengantarkan satu persatu rombongan tamu yang baru datang ke tempat yang disediakan. Sesekali matanya memutar mencari sosok sahabatnya yang tak kunjung muncul, kemudian mendesah kesal. "Selalu saja seenaknya," gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian sosok yang dibicarakan muncul dari balik pintu masuk dengan penampilan cukup berantakan, membuat Naruto mengangkat sebelah alisnya heran. Bajunya tidak dikancingkan sempurna, bahkan dasinya pun tidak dibenarkan dengan baik. Naruto menebak, pemuda itu pasti juga tidak menyempatkan diri untuk sekedar membasuh diri.
Beberapa hari ini pemuda yang sudah setengah gila itu memang senang sekali mengambil misi ke luar kota. Nampaknya ia enggan terlihat murung di depan kawan-kawannya atas kondisi Sakura saat ini. Naruto paham, saudaranya itu kini tengah dirundung rasa bersalah yang sangat besar. Kalau bukan karena kekuatannya yang aneh, Sasuke mungkin kini sudah tersungkur kelelahan.
Setelah mengantarkan tamu terakhir, Naruto menyusul saudaranya yang baru saja memasuki pintu menuju dapur. Sasuke di sana, menyiapkan minuman-minuman di atas nampan. Ia bersiap keluar sebelum Naruto merebut nampan bundar yang penuh dengan gelas-gelas berisi wine.
"Kau tidak bisa keluar dalam keadaan berantakan seperti ini," ucap Naruto dengan wajah datar. Hampir seminggu tak bertemu, rasanya Naruto ingin sekali menonjok wajah saudaranya ini.
Sasuke mendesah lelah, kemudian berusaha merebut nampannya kembali.
"Rapikan dirimu, baru kembali ke sana," bentak Naruto untuk pertama kalinya. Tahun ini dirinya yang ditunjuk sebagai penanggung jawab acara, dan Naruto tidak mau Sasuke merusak malam ini dengan penampilan urakannya. Apa kata para tamu nanti?
Sasuke memandang kedua safir di hadapannya kesal, kemudian berbalik menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari dapur, Naruto mengikutinya.
"Hentikan tingkah kekanakanmu ini," ucap Naruto sembari mengikuti langkah sahabatnya yang kini menunduk dalam di depan kaca kamar mandi sembari sesekali membasuh wajahnya yang kusam. "Sasuke.."
"Aku akan kembali sepuluh menit lagi," potong Sasuke cepat.
Naruto memilih diam, kemudian meninggalkan Sasuke sendiri. Sebenarnya ia benar-benar kesal sekarang. Namun, mengingat saudaranya itu kini tengah dirundung musibah, ia berusaha memahami.
Sasuke terdiam memandangi dirinya di depan cermin. Guratan lelah akibat misi nonstop yang dilakoninya beberapa hari terakhir terlihat jelas dalam raut rupawannya. Belum lagi tugas sekolah yang melambai-lambai untuk diselesaikan, membuatnya kurang istirahat dan harus bekerja extra. Semua itu dilakukannya demi satu hal, mengalihkan pikirannya dari sang kekasih.
Beberapa hari ini Sasuke memang sengaja memilih menyibukkan diri ketimbang mendampingi Sakura di rumah sakit. Baginya itu adalah cara terbaik untuk menyembunyikan kegelisahannya dari rekan-rekannya. Dasar manusia bergengsi tinggi!
Ngomong-ngomong soal Sakura, bagaimana keadaannya sekarang? Sasuke jadi teringat oleh sosok gadis yang amat dirindukannya itu. Inilah yang membuatnya kembali enggan memikirkan wanita itu. Rasa sesak langsung menyelimuti rongga dadanya setiap mengingat ia adalah penyebab tidak langsung kecelakaan yang dialami Sakura.
Setelah sejenak menenangkan pikirannya yang runyam, Sasuke memutuskan untuk merapikan dirinya sebelum keluar. Meskipun wajahnya masih saja kusam, setidaknya ia terlihat lebih rapi sekarang. Naruto mengulas senyum memberi semangat yang hanya dibalas lirikan malas.
Tak butuh waktu lama bagi Sasuke menyesuaikan. Jiwa profesionalnya langsung muncul setelah berhadapan dengan tamu. Ia sengaja memasang wajah ramah dengan senyuman terkembang, mengantarkan minuman-minuman yang ada dalam nampan bundarnya. Sesekali ia menawarkan beberapa jenis minuman racikan terbaru sembari mengulas senyuman atau sesekali melontarkan gurauan jenaka.
Ya, Sasuke berusaha terlihat senang-senang saja meski hatinya sedang dongkol setengah mati. Setidaknya ia berhasil membuat tamu merasa nyaman. Ia berhasil menyembunyikan perasaannya. Setidaknya sampai...
"Pelayan!" panggil suara merdu yang mendadak menghilangkan senyuman Sasuke.
Perlahan Sasuke memutar tubuhnya demi memandang pemilik suara yang baru saja memanggilnya, seorang gadis yang tak asing. Gadis itu kini tengah duduk tak jauh dari tempatnya berdiri dan memasang wajah sok tidak kenal padanya. Ia menopang dagu sembari menyeringai senang mendapati wajah kaku pria di hadapannya. "Boleh aku meminta minumanku? Aku berusaha memanggil pelayan lain, tapi mereka mengabaikanku," dustanya mulus.
Sasuke mengalihkan tatapannya pada rekan-rekannya yang kini memandangnya geli. Kemudian mereka buru-buru kembali berlagak sibuk mendapati tatapan jengkel Sasuke. Beruntung tamu-tamu lain tidak menyadarinya. Dengan hati super dongkol, Sasuke menghampiri meja gadis itu. Meja gadis bersurai pink yang kini nampak anggun dengan gaun malamnya yang berwarna hitam kelam—sesuai dress code. Rambutnya yang panjang sengaja digelung sedemikian rupa dengan beberapa anak rambut membingkai wajahnya yang seperti biasa dihiasi make up tipis—pas dengan image naturalnya.
"Apa yang Anda ingin nikmati bersama sajian spesial kami malam ini nona?" tanya Sasuke sembari berusaha keras menjaga nada bicaranya.
"Hmmm...biar kupikirkan. Apa kau punya saran?"
"Alkohol non alkohol?"
"Apa saja yang kau punya?"
Sasuke menggeram kesal. Sepasang onyxnya memandang tajam emerald yang kini menatapnya penuh kemenangan. Sepasang emerald itu seolah berkata , 'Apa? Aku kan tamu juga'
Dengan enggan Sasuke menyebutkan segala macam minuman yang ada di nampannya. Sakura hanya manggut-manggut sok paham seperti biasa. Kurang lebih ada dua belas macam minuman yang Sasuke sebutkan, sekaligus bahan dasarnya. Beberapa rekan yang melihatnya sesekali tertawa geli. Ya, mereka semua tahu sudah sekitar tiga hari ini Sakura sadar. Mereka bukannya sengaja tidak memberi tahu Sasuke, tapi pria itu yang aneh dan tidak mau mendengarkan apapun ucapan rekan-rekannya. Baru saja hendak mengajaknya bicara, Sasuke sudah menolak dengan berlalu secepatnya. Jadi salah siapa semua ini?
"Ah...sepertinya perutku kurang nyaman menerima minuman asam. Mungkin segelas air mineral saja. Kau keberatan?"
Sasuke mati-matian menahan emosinya. Ia memejamkan matanya sembari menghirup napas dalam-dalam sebelum berucap sok ramah, "Baiklah nona, silahkan menunggu," ucapnya kemudian sebelum berlalu.
Sakura tersenyum girang mendapati senyuman kawan-kawannya yang seolah mengisyaratkan 'Selamat, kau berhasil membuatnya kesal'
Sakura sih cuek-cuek saja. Lagi pula semua ini salah Sasuke sendiri kan? Pemuda itu yang berlebihan menghukum diri, jadilah tenaganya habis sia-sia.
Beberapa menit berselang, Sasuke muncul dengan membawa nampan berisi gelas dengan cairan bening—air mineral. Tatapannya hanya tertuju pada sang wanita yang kini melipat tangannya di dada. Mati-matian Sasuke menahan diri. Ia benar-benar kesal sekarang.
Sialnya lagi, beberapa langkah sebelum mencapai meja Sakura seorang wanita gemuk dengan wine di tangannya berjalan sembari bersenda gurau dengan temannya tanpa melihat jalan. Hanya menunggu waktu, wanita yang tak lagi muda itu menabrak Sasuke, menumpahkan winenya pada kemeja putih si pelayan. Ditambah lagi air mineral di tangan Sasuke ikut tumpah—menyiramkan isinya ke wajah Sasuke.
Seketika ruangan hening. Wajah Sasuke benar-benar memerah sekarang. Wanita gemuk itu bahkan melongo memandangnya. Sementara itu, dari kejauhan Naruto terlihat menggigit bibirnya takut, bersiap jika Sasuke meledak.
Beberapa mata tertuju pada insiden yang baru saja terjadi, termasuk Sakura. Semua menunggu reaksi pemuda yang kini tengah menjalani perannya sebagai pelayan. Tak diduga, setelah beberapa saat Sasuke justru mengulas senyuman sembari berucap pada wanita gemuk di sampingnya, "Maafkan kecerobohan saya Nyonya. Anda baik-baik saja?"
Wanita itu mengangguk takzim, "Kau baik-baik saja nak?"
Sasuke hanya tersenyum sebelum memberi hormat, "Izinkan saya membersihkan diri Nyonya, mohon undur diri," ucapnya sopan sebelum berlalu. Sebelumnya ia sempat melempar tatapan sebalnya pada Sakura.
Yang dipandang demikian hanya mengendikan bahu acuh. Toh bukan salahnya kan?
###
Pesta berlangsung lancar. Acara lelang berlangsung meriah dan dengan bangga Sakumo memperkenalkan penanggung jawab acaranya di depan tamu. Naruto tersenyum bangga di samping pria setengah baya yang berkali-kali menepuk bahunya senang. Ia belum pernah merasa sebahagia ini setelah sekian lama hanya menjadi bayangan Sasuke.
Sementara itu, dengan langkah gontai dan pakaian yang terasa lengket akibat keringat bercampur cairan manis yang menumpahinya tadi, Sasuke melangkah menuju kamarnya. Sesekali ia memijat tengkuknya sambil menggumam tidak jelas. Tugasnya selesai, ia ingin segera istirahat sekarang.
Yaaah...tapi sepertinya tidak semudah itu. Begitu memasuki kamarnya, lagi-lagi Sasuke dibuat kesal mendapati ada sosok lain di ranjangnya. Tidak lain adalah wanita yang membuatnya kesal setengah mati hari ini. Wanita itu memandangnya, dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Tak ada lagi gaun malam tadi, digantikan atasan baju tidur Sasuke yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Rambutnya juga dibiarkan terurai, wajahnya pun sudah bersih dari make up.
Wanita bersurai pink itu menyeringai senang, sepertinya puas dengan apa yang menimpa Sasuke hari ini. Mendapati itu, Sasuke kembali mendesah kesal sembari membuka lemari raksasanya.
Didengarnya langkah kaki telanjang di belakangnya. Gadis itu menghampirinya yang kini mati-matian menahan diri agar tidak meluapkan emosinya. Dirasakannya jemari lentik yang bergerak menyusuri punggungnya, kemudian berhenti di permukaan perutnya yang rata—memeluknya dari belakang. Bisa dirasakannya juga Sakura kini tengah menciumi punggungnya, menghirup aroma tubuhnya sebanyak mungkin.
Diperlakukan demikian, akhirnya Sasuke mengalah juga. Ia mendesah pasrah sebelum akhirnya melepaskan dekapan Sakura dan berbalik untuk memandang wanitanya itu,"Kembalilah ke kamarmu, aku lelah," ucapnya kemudian.
Sakura pura-pura memasang wajah kesal. Bibirnya mengerucut dan sepasang matanya mengkerut sebal, membuat Sasuke tak urung memutar bola matanya bosan.
"Itukah yang kau katakan setelah berhari-hari tidak bertemu kekasihmu?" sahut Sakura sembari melepaskan kancing-kancing kemeja Sasuke yang kotor akibat insiden tadi. "Kau tidak merindukanku?"
Sasuke masih diam. Memperhatikan jemari lentik yang kian mahir saja melepaskan kancingnya. Sebelum mencapai kancing terakhir, Sasuke menahan tangan Sakura. Digenggamnya jemari gadis yang kini mendongak memandangnya dengan senyuman cantik andalannya.
"Haruskah kau menanyakannya?"
Sakura tersenyum semakin lebar. Sasuke masih saja tidak pintar mengungkapkan isi hatinya. Sepasang onyx itu jelas-jelas menatapnya ingin, tapi bibirnya seolah menolak kehadiran Sakura di sini.
Sakura mengalihkan tatapannya pada jemari kokoh yang kini menggenggam tangannya, kemudian dikecupnya pelan. Begitu lembut, bibirnya menyusuri punggung tangan Sasuke yang kini menggenggamnya erat. Ia mencoba menggoda dengan caranya, berharap Sasuke merasakan yang ia rasakan sekarang.
"Berbaringlah, aku akan membersihkan diri dulu," ucap Sasuke akhirnya sebelum melepaskan genggamannya dan melangkah menuju kamar mandi. "Kau tidak berencana tidur cepat kan malam ini?" tanyanya sebelum menghilang di balik pintu, membuat semburat merah tak urung menghiasi wajah Sakura.
.
.
.
Sakura mengelus raven yang kini terbaring di pangkuannya. Pria ini mendadak menjadi kekanakan malam ini dengan memintanya mengelus kepalanya, bersenandung untuknya, bahkan memijat jemarinya yang katanya lelah. Karena merasa kasihan, Sakura melakukan saja apa yang diinginkan pria itu.
Entah mengapa, meski sedang terlelap wajah itu tak terlihat damai. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu yang tidak ringan. "Apa yang mengganggumu?" gumam Sakura yang hanya dibalas nafas teratur Sasuke. Disentuhnya alis yang kini mengkerut lelah, kenapa seharian ini Sasuke menunjukkan ekspresi tidak bersahabat?
Malam itu hanya mereka habiskan dengan saling menggenggam tangan. Sasuke entah mengapa lebih senang memandangi kekasihnya hari ini ketimbang bicara. Sakura tak mengerti apa yang membuat pemuda itu berubah pendiam, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada Sasuke membentak-bentaknya.
###
Pagi menyambut. Sakura melangkahkan kakinya mengarungi lorong sekolah dengan riangnya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Di belakangnya, Sasuke berjalan dengan malas, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Penampilannya cukup berantakan, bahkan sesekali menguap bosan.
Sakura membalikkan tubuhnya—berjalan mundur. Tatapannya menyelidik pada pria yang kini hanya memandang malas padanya. Mereka bicara melalui mata, seolah tatapan Sasuke bertanya, 'Apa lagi?' sementara Sakura mengerenyit tak suka dengan tingkah Sasuke.
"Sakura," panggil suara yang begitu Sasuke benci. Pemuda itu berdiri di belakang Sakura, menangkap punggung gadis yang sendari tadi berjalan mundur itu.
"Hai, apa kabar?" sambut Sakura sembari bergegas melepaskan diri.
"Kemana saja kau seminggu ini?" tanya Gaara tanpa mempedulikan Sasuke yang kini berdiri di belakang gadis yang tengah diajaknya bicara.
Tanpa diduga, Sasuke tak menunjukkan ekspresi kesalnya seperti biasa. Kawan sekelasnya itu hanya melangkah malas menuju kelasnya. Lagi-lagi Sakura hanya sanggup menatapnya bingung. Sasuke memang aneh sekarang.
"Ada urusan yang harus kuselesaikan. Bagaimana tugas kelompok kita?" sahut Sakura akhirnya sembari melangkah bersama menuju kelas.
"Semuanya berhasil kutangani," jawab Gaara tenang. "Apa kau bertengkar dengannya?"
Sakura menatap punggung yang berjarak beberapa meter di depannya. "Entahlah...dia bersikap aneh sejak kemarin."
Gaara mengikuti arah pandang Sakura. Teringat percakapan terakhirnya dengan pria itu seminggu yang lalu—sesaat sebelum ia kehilangan kontak dengan Sakura. Saat itu Sasuke terlihat begitu membencinya, kenapa sekarang malah bersikap acuh begini?
Selama pelajaran Sasuke juga tidak banyak bicara. Ia justru sempat tertidur di samping Sakura. Beberapa kali Sakura berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada Sasuke melalui Naruto, tapi pria kuning itu hanya menggeleng sembari memasang wajah berpikir. Ia juga bingung kenapa Sasuke terlihat tidak antusias melihat Sakura sadar.
###
Sasori baru saja berniat pulang ketika mendapati sosok gadis cantik berambut pirang di hadapannya. Gadis itu tersenyum kaku sembari sesekali merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Tubuh langsingnya dibalut gaun santai warna kuning gading. Terlihat begitu pas dengan warna kulitnya.
"Kau tidak ke sekolah?"
"Aku baru saja mengurus kepindahanku," jawab Ino cepat. "Aku akan berangkat ke Amerika besok."
Sasori mengalihkan tatapannya sepenuhnya pada Ino. Ia berangkat ke Amerika besok? Lantas kenapa sekarang datang ke kantornya?
"Aku kemari hanya ingin mengucapkan maaf. Aku.."
"Setelah urusanku dengan organisasi selesai, aku akan menyusulmu," potong Sasori sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya. "Kebetulan aku juga ingin mengambil pendidikan bisnis di sana," lanjutnya sembari mengulas senyum.
Ino tersenyum canggung, kemudian melangkah mendekati tubuh pria yang sekian lama telah mengejarnya. Jemarinya menyentuh pipi tirus pria berwajah baby face itu. Lama mereka berdua hanya saling menatap. Sasori juga tidak menolak diperlakukan demikian.
"Baiklah. Kali ini biar aku yang menunggumu," lirih Ino parau.
Mendengar satu kalimat itu tak urung membuat hati Sasori mencelos. Apakah ia baru saja mendengar kesempatan terlontar dari bibir manis wanita di hadapannya ini?
"Kau harus bertahan. Kau harus selamat apapun yg terjadi. Sku sksn menunggumu di sana," tutup Ino dengan kecupan singkat.
Sasori tak menolak. Ia terlalu bahagia hingga tak tahu harus menjawab apa. "Jangan berikan hatimu pada siapapun sebelum aku menjemputmu."
Ino mengangguk, kemudian memeluk Sasori hangat. Ia akhirnya menyerah dan memutuskan melabuhkan hatinya kepada pria yang mencintainya setengah mati itu. Ia lelah, ia hanya ingin bersandar. Biarkan waktu mengajarkannya cara mencintai sekali lagi. Ino tak ingin lagi menolak cinta yang hadir padanya.
###
Sakura membidik sasaran di hadapannya. Ia tengah berlatih memanah bersama beberapa anggota Exterminator lain, termasuk Sasuke. Sore ini ia sudah memulai latihannya lagi, malah Sakumo bilang ia sudah bisa mengikuti misi minggu depan. Lagi-lagi, Sasuke tidak menentangnya.
Kemampuan memanahnya membaik. Semakin lincah malah. Ia tak lagi kalah dengan Sasuke yang beberapa kali memenangkan kompetisi antar provinsi.
"Sebenarnya ada masalah apa?" tanya Sakura di sela-sela latihan.
"Apa apanya?' sahut Sasuke malas.
Sakura menyudahi latihannya, kemudian meletakkan busur dan bersiap untuk istirahat. "Kau mengacuhkanku," ucapnya kemudian.
Sasuke tak menjawab, namun ikut mengakhiri latihannya. Wajahnya masih saja datar, enggan memandang Sakura.
"Apa ini tentang kecelakaanku?" tanya Sakura, sukses membuat Sasuke menghentikan kegiatannya membasuh keringat dan mengalihkan pandangannya pada wanita di sampingnya. "Lebih baik kau memarahiku seharian daripada mengacuhkanku begini,"sambungnya kesal.
Sasuke tak menjawab, ia berjalan bersiap meninggalkan Sakura. Sayangnya gadis itu menahan tangannya. "Jangan diamkan aku begini Sasuke."
"Biarkan aku sendiri," sahut Sasuke dengan nada geram di dalamnya sembari menyentakkan tangan Sakura kasar. "Aku sedang ingin sendiri," sambungnya sebelum berlalu.
Sakura diam saja, tak berusaha mengejar seperti biasa. Apa acara penghukuman diri Sasuke belum selesai? Bukankah kini Sakura sudah sadar? Sakura tak mengerti, tapi memilih menurut saja. Toh Sasuke akan kembali padanya nanti.
###
Suasana hening menyelimuti bersama desau angin malam yang menggigit kulit. Naruto tengah menyiapkan senjatanya, ia duduk di samping Neji yang masih memantau situasi markas Akatsuki. Beberapa anggota yang tidak mereka kenal berjaga di sekitar pintu utama.
Markas Akatsuki memang tidak semegah milik Exterminator. Namun terlihat lebih mencolok dengan arsitektur unik di bagian luar. Neji beberapa kali menggeram kesal sembari mengirimkan kode kepada Hinata yang memantau jauh dari lokasi pengintaian.
"Aku memikirkan kata-kata Sasuke akhir-akhir ini" gumam Naruto tiba-tiba.
"Ha?"
"Sebenarnya kepada siapa kita bekerja?"
Neji mengalihkan tatapannya pada pria jabrik yang kini menatap bingung senjatanya sendiri.
"Bukankah ini semakin tidak jelas? Untuk apa kita membunuh? Demi siapa kita melakukan semua ini?"
"Naruto.."
"Aku ingin berhenti Neji. Aku takut bila di akhir nanti, nyatanya kita bukan orang baik seperti yang selama ini kita pikirkan," tuturnya sembari memandangi langit. "Aku hanya ingin hidup tenang bersama Hinata. Tumbuh dan beranjak dewasa layaknya manusia normal. Apa itu tidak mungkin?"
Neji menelan ludahnya pahit. Sebelumnya tak pernah terpikir tentang hal ini, tapi apa yang dikatakan Naruto memang ada benarnya juga. Ia tiba-tiba bingung sendiri. Sebenarnya selama ini ia juga kurang memahaminya.
"Apapun itu, bukankah ini sudah menjadi takdir kita?" sahut Neji akhirnya. "Dalam masalah ini kita memang tidak mengetahui siapa yang benar, mungkin juga kita semua sama salahnya. Tapi toh kita tidak memiliki pilihan. Apapun yang terjadi kita telah berhutang nyawa pada Sakumo-sama. Suka atau tidak, kita harus membalas budi padanya."
Naruto kembali diam. Ditatapnya calon kakak ipar yang kini kembali mengawasi markas musuh mereka. 'Suka atau tidak, kita harus membalas budi padanya.' Kalimat itu sepertinya harus dicatat lekat-lekat dalam benak Naruto.
"Kau siapkan mobil, biar aku yang mengemasi peralatan," titah Neji sembari melemparkan kunci mobilnya.
"Kita kembali sekarang?"
"Hari ini tugas kita hanya memeriksa lokasi dan memasang beberapa kamera pengintai. Sakumo-sama meminta kita segera kembali."
Naruto mengangguk saja, kemudian bersiap bangkit. "Aku yang menyetir?" tanyanya sekali lagi.
Neji hanya memandangnya malas sembari memberikan isyarat untuk berjalan mendahuluinya.
"Kau tahu, kadang aku berpikir apa jadinya jika dalam misi tiba-tiba saja aku mati. Siapa yang akan menjaga Hinata nanti? Apa gadis itu bisa hidup tanpaku?" gumam Naruto pada dirinya sendiri sebelum beranjak meninggalkan Neji yang melangkah pelan di belakangnya. Neji mendengarnya, hanya saja enggan menjawab. Karena sesungguhnya itu pula yang kadang dipikirkannya. Sanggupkah Tenten hidup tanpanya kelak?
Naruto melangkah beberapa meter di depannya, bersiap memasuki mobil. Tiba-tiba saja Neji merasakan ponselnya bergetar, sehingga ia menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya sesekali mengawasi jalanan yang nampak ramai seperti biasa sembari bercakap dengan kekasihnya di ujung sana. "...aku sedang dalam perjalanan. Iya, tunggulah sebentar," cakapnya santai.
Dilihatnya Naruto yang kini memandangnya dari dalam mobil dengan tatapan jengah. Ia juga ingin segera pulang, tapi Neji malah betah berlama-lama menelfon dengan tampang yang sengaja mengejeknya.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Tepat ketika Naruto menyalakan mesin mobil, seketika itu juga mobil itu meledak diiringi jeritan orang-orang di sekitarnya. Neji terpaku tak percaya, sepasang lavendernya membulat sempurna, seketika itu juga ponsel di tangannya terjatuh.
Mobil itu meledak, dan Naruto ada di dalamnya. Warga sekitar mencoba menghalau api dengan alat emergency yang ada di toko mereka. Menyemprotkan gas yang menghasilkan buih putih. Tapi api terlalu besar, diiringi ledakan-ledakan kecil sehingga membuat warga terpaksa dilarikan agar tidak terkena api.
Beberapa orang mencoba menghubungi pemadam kebakaran, sementara Neji masih terpaku. "Na...Naruto," ucapnya parau. Jantungnya terasa mati, nafasnya semakin berat. Dengan tangan bergetar, ia kembali meraih ponselnya. Tenten masih diujung sana, menanyainya dengan panik akibat suara ledakan yang baru saja didengarnya.
"Kita kehilangan rubah emas," ucap Neji setengah berbisik. Rubah emas adalah kode untuk Naruto. Sudah menjadi tradisi untuk menyebutkan agen yang gugur dengan julukan mereka. "Tenten, aku.."
Panggilan terputus, digantikan sambungan langsung ke markas. Kode merah sudah sampai ke markas. Chip yang ditanam pada tubuh Naruto menyampaikan kode merah tanda bahaya—sama seperti saat Sakura mengalami kecelakaan. Suara berat yang terdengar panik langsung menyambut Neji yang kini terduduk lemas. Kakinya tak sanggup menopang tubuh sementara pemadam kebakaran mulai berdatangan.
"Neji, di mana posisimu? Akan kukirim kendaraan untuk menjemputmu," suara Kakashi terdengar di ujung sana.
"Tiga ratus meter dari markas Akatsuki."
"Keadaan Naruto? Kenapa chipnya mengirimkan kode merah?"
"Rubah emas.."
Kakashi terdiam. Jika Neji sudah menyebutkan anggota dengan nama sandi, sesuatu yang sangat buruk pastilah sedang terjadi.
"Kita kehilangan dia?"
"Aku tidak ingin berkata demikian...tapi kita...kehilangan dia," tungkas Neji sebelum mengakhiri panggilannya.
Seketika Kakashi tercenung. Sepasang mata berlainan warna itu menatap layar tak percaya. Seketika pria itu terduduk di kursinya. Nafasnya sesak dan matanya terasa panas. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dengan berat hati, jemarinya yang bergetar menekan satu tombol di depannya—mengirimkan berita kepada setiap anggota.
Keadaan di markas berubaha kacau. Berita menyebar cepat. Alarm terus mengaum. Seluruh anggota menunduk duka. Hinata bahkan sampai jatuh terduduk sementara Ino yang kebetulan ada di sampingnya segera memeluknya. Sepasang lavender itu berlinang air mata. Hatinya mencelos sementara jantungnya berdetak kencang. Ino malah sudah menangis sembari memeluk gadis bersurai keunguan yang nampak begitu syok.
Sakura yang sendari tadi berada di kamar tak kalah terkejutnya ketika mendapat berita langsung dari Kakashi. Ia hanya bisa membelalakkan matanya tak percaya, kehabisan kata. Segera ia beranjak menuju pintu kamarnya. Satu yang ia pikirkan, Hianata.
Tepat ketika membuka pintu, ia kembali dikejutkan dengan sosok yang kini berdiri menjulang di depan pintunya. Ekspresi wajahnya begitu sulit diartikan. Sepasang onyxnya nampak mendung, bibirnya seperti bergumam namun tak satupun kata terucap.
Sakura tahu apa yang dirasakan lelakinya kini. Ia pastilah amat dirundung duka karena ditinggal sosok yang sudah dianggapnya saudara sendiri itu. Secara naluri, direngkuhnya tubuh kokoh yang tak menunggu waktu untuk membalas pelukannya—terlampau erat. Sakura mengusap punggung kekasihnya, bisa dirasakannya bahunya basah. Sasuke menangis?
Perlahan Sakura menarik pria itu masuk,. Tanpa melepas pelukannya, ditutupnya pintu perlahan. Sasuke belum mau melepasnya, mungkin takut bila air matanya terlihat. Sakura paham, maka ia membiarkan Sasuke menangis dalam pelukannya. Harga diri pria itu memang terlampau tinggi. Air mata adalah penghinaan baginya.
"Sa..suke. Jangan terlalu menekanku, kau membuatku sesak," ucap Sakura susah payah ditengah nafasnya yang tersengal. Ia tahu di saat seperti ini Sasuke akan mengabaikan ucapannya, tapi ia benar-benar merasa sesak sekarang.
"Jangan pernah..tinggalkan aku," bisik Sasuke parau.
Sakura turut merasakan duka yang dirasakan Sasuke. Apapun yang terjadi, Naruto sudah seperti saudaranya juga. Kepergiannya menorehkan duka yang teramat dalam bagi siapapun. Tak ada lagi sosok pemuda dengan cengiran khasnya itu. tak ada lagi tawa garing dan candaan jayus khas Naruto. Tak ada lagi. Rubah emas...kita telah kehilangan sosoknya.
###
Sakura memandangi sosok yang kini tengah mendekapnya erat. Semalam setelah menangis hingga puas, Sasuke kembali melampiaskan sedihnya pada Sakura. Mereka melakukannya untuk kedua kalinya, kali ini segalanya terasa buram. Sasuke tidak lagi bersikap kasar seperti pertama mereka melakukannya, tapi tidak bisa juga disebut lembut.
Sasuke memacunya dengan nafsu semalam. Membawanya menuju puncak kenikmatan berkali-kali. Entah berapa lama mereka melakukannya, Sakura tak yakin karena sisanya ia terlelap sementara Sasuke masih belum juga puas menikmati kehangatan tubuhnya.
Sakura tak menolak. Dibiarkannya Sasuke melampiaskan segala emosi dan luka yang disimpannya beberapa hari ini ketika Sakura tak di sampingnya.
Sakura ingat ketika Sasuke meremas setiap jengkal tubuhnya. Bahkan saking kerasnya, Sakura seakan masih bisa merasakannya sekarang. Disentuhnya bibirnya sendiri yang kini terasa perih. Sasuke mengulumnya hingga habis semalam, menyedotnya kuat hingga Sakura bisa merasakan darah berkumpul di setiap ujung bibirnya. Ia ingat betul rasanya.
Sakura sebenarnya ingin membersihkan diri, namun lengan kokoh kekasihnya kini mengurungnya sempurna dalam dekapan. Terlalu erat mungkin, sepertinya takut dirinya akan menghilang ketika si pria bangun nanti. Sakura jadi teringat, semalam selama bercinta Sasuke berulang kali mengucapkan 'Jangan tinggalkan aku' seperti yang ia ucapkan saat mendekap tubuhnya. Sebegitu takutnya kah ia ditinggalkan?
Sesekali Sakura melirik ponsel Sasuke yang entah sudah berapa kali meraung meminta perhatian. Seperti yang sudah-sudah, di saat seperti ini kekasihnya itu takkan sudi menunjukkan diri di hadapan rekan-rekannya. Ia akan menghabiskan waktu dengan menyendiri hingga duka dalam dirinya hilang, sama seperti saat Sakura mengalami koma kemarin. Sakura memahaminya sekarang.
Pada akhirnya Sakura memutuskan untuk kembali ke alam bawah sadarnya. Biarkan Sasuke menyelami dukanya sendiri, sebaiknya jangan diganggu. Sakura tak dapat memastikan berapa lama pria itu akan betah dengan diamnya, tapi ia berjanji akan tetap mendampinginya.
###
Acara pemakaman berlangsung khidmat. Sakura berkali-kali mengusap punggung Hinata yang masih tergugu. Air mata tak kunjung mengering dari sepasang lavender yang kini terlihat kosong. Ia kehilangan cahayanya, kehilangan sosok mentari yang biasa menghiasi pagi dan malamnya. Sungai air mata itu masih mengalir meski tak ada lagi jeritan putus asa dari bibirnya.
Jangan tanyakan di mana Sasuke. Pemuda itu jelas tidak akan menunjukkan diri di sini. Ia pastilah sedang mengawasi dari kejauhan, menikmati dukanya sendiri. Sakura tak berusaha mencari. Sejak semalam ia telah mengerti apa yang dibutuhkan Sasuke di saat seperti ini.
Tak hanya anggota Exterminator. Teman-temannya di sekolah juga datang menghadiri pemakaman. Semua berkabung, mengenang sosok ceria yang biasa tersenyum ramah kepada siapa saja. Kita kehilangan dia. Sosoknya takkan lagi ada dalam catatan masa depan.
Kepergian Naruto membuat organisasi turut mengistirahatkan segala kegiatan. Satu anggota terbaiknya telah berpulang, mengalir bersama air mata yang tak kunjung terhenti dari siapa saja yang mengenalnya. Ia telah menghuni langit, bergabung bersama bintang-bintang di surga. Surga? Pantaskah mereka yang kotor ini menghuni surga? Pertanyaan itu mungkin harus tersimpan hingga nanti hari pembalasan.
Mungkin duka ini takkan berakhir dalam waktu yang singkat, sekaligus awal dari tantangan yang menunggu di depan. Ada amarah dalam diri mereka yang kehilangan. Ada duka yang selalu dapat menjadi alasan mereka memendam dendam. Ini takkan berakhir dengan mudah. Mereka yang telah dipanggil paksa bukan hanya sekedar rekan tim, bukan hanya sekedar anggota, melainkan keluarga yang harus dibela hak-haknya.
"Aku takkan melepaskan kalian."
Begitulah ucapan Sasuke di depan papan nama Naruto yang lampunya kini dipadamkan—tanda gugur. Ia bersumpah akan menyelesaikan semuanya sebelum lebih banyak mengalami sesaknya kehilangan. Ia akan mengakhirinya...secepatnya...
TBC
Author's note :
Mau minta maaf juga percuma, kalian pasti udah terlanjur kesel. Mau memohon pengertian juga ngga etis, kalian sudah terlampau memahami saya. Jadi akhir kata...terima kasih bagi yang sudah bersedia menunggu. Saya sayang kalian. Ciyuuuuus deh... :*
Thanks buat yang udah repiu, fav, polow, atau sekedar read. Saya sudah sangat senang kok.
Maaf yaa gabisa disebutin satu2 seperti biasa.
Cinta kalian deh pokoknya...
