Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 13

It Could be The Last Time

Malam ketiga puluh semenjak suara lantang si rubah emas lenyap bersama jasadnya di dalam bumi. Kehidupan yang ditinggalkan berjalan normal meski tak akan lagi sama. Sepi... Rasanya seperti kehilangan mata hari dan hangatnya pagi. Ketenangan ini rasanya menusuk, terlalu tenang hingga sesak merajam batin.

Sasuke POV

Kupandangi langit-langit kamarku yang terasa lebih kelam dari malam. Aroma keringat berbaur padu dengan wangi tubuh mungil yang kini bergelung hangat dalam dekapanku. Kami masih sama-sama terjaga. Saling menghirup napas sembari menikmati ketelanjangan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya masih dengan kepala terbaring di dadaku.

"Tidak ada."

"Kau berbohong."

Tuduhannya membuatku menghela napas panjang. Tentu ia tahu aku berbohong. Tapi mustahil bagiku menyampaikan apa yang ada dalam kepalaku. Terlalu runyam, terlalu rumit, terlalu sulit dipahami bahkan olehku sendiri.

"Kau berbeda belakangan ini."

"Benarkah?"

Sakura mengangguk pelan. Gerakan kepalanya pada dadaku yang telanjang memunculkan rasa nyaman yang menenangkan. Tuhan..bolehkah kuhentikan waktu agar bisa lebih lama menikmati ini?

"Ada yang selalu ingin kuketahui."

"Tentang apa?"

"Selama menjadi anggota Exterminator, dan tercatat sebagai anggota terbaik, apakah kau pernah melakukan kesalahan dalam misi?"

Pertanyaan Sakura membuatku tak ayal mendengus geli meski dalam hati tertohok dalam. Apakah aku pernah melakukan kesalahan? Tentu saja. Aku hanya manusia biasa meski dibekali kekuatan yang aku sendiri tak memahaminya.

"Mengapa kau ingin tahu?"

"Hanya penasaran."

Kuhela napasku pelan sebelum mulai bercerita, "Aku pernah membuat kesalahan fatal karena keegoisanku. Saat itu aku masih sangat muda, jam terbang lumayan tinggi, selalu menjadi kapten tim, penuh percaya diri dan sulit menerima masukan."

"Sepertinya sampai sekarang pun kau begitu."

Kusentil jidat lebarnya gemas, membuatnya tak urung mengaduh sembari menggosok keningnya cepat.

"Jangan banyak berkomentar kalau mau mendengar ceritaku sampai selesai."

"Iya-iya," sahut Sakura masam.

"Saat itu aku begitu berambisi menyelesaikan misi sendiri. Aku tak peduli dengan tim. Dan semua itu berujung dengan kegagalan misi. Kami ternyata dijebak Akatsuki. Aku tak menyadarinya padahal Naruto sudah memperingatkan. Lima orang tewas, dan Ino sekarat."

Bisa kurasakan Sakura sedikit berjengit ketika kusebut nama gadis yang pernah mengisi hidupku itu.

"Aku pernah sangat mencintainya. Dia pernah menjadi satu-satunya duniaku, dan aku kehilangan dia begitu saja. Malam itulah aku kehilangan calon buah hati kami."

Bisa kurasakan Sakura tak suka dengan bahasan kami. Ia gelisah meski tak beranjak dari dekapanku.

"Apa kau...masih?"

Aku tak langsung menjawab. Pertanyaan itu memantul ke dasar hatiku sampai kemudian kembali menguap tanpa kutahu jawaban pastinya.

"Aku bukan orang yang tepat untuknya. Kami berpisah bukan karena Sasori. Bukan pula karena penghianatannya padaku. Kami berpisah karena aku. Karena aku takut mencintainya, dan takut dicintai olehnya."

"Aku tak mengerti."

"Kami tumbuh bersama. Aku yang mengajarinya memegang senjata untuk pertama kali. Aku yang mendampinginya dalam misi pertama. Aku yang pertama jatuh cinta padanya. Dan ketika kekuatan cinta kami sedemikian dahsyatnya, aku mulai ketakutan. Malam dimana Ino kehilangan buah hati kami adalah malam dimana aku sadar, ia akan selalu menjadi kelemahanku."

Sakura menggeser kepalanya, meletakkan telapak tangan di dadaku untuk menyangga dagu runcingnya. Wajahnya menghadapku sepenuhnya. Memberiku kesempatan menjelajahi hutan bening di dalam kedua matanya yang entah berapa lama lagi masih bisa kunikmati.

"Kenapa kau menceritakan ini padaku?"

"Kau yang bertanya."

"Aku tak pernah menanyakan masalah perasaanmu pada Ino."

"Jawaban untuk pertanyanmu satu paket dengan penjelasanku tadi."

Sakura mengerucutkan bibir mungilnya. Suasana hatinya buruk gara-gara ceritaku tadi. Aku pun tersenyum selagi ia tak memandangku. Senyuman yang jarang ditangkap mata cantiknya ini selalu sulit terkembang bila ia menatapku. Aku tak mengerti.

"Ceritakan tentangmu dan Gaara."

"Tidak ada yang spesial."

"Tidak terlihat seperti itu jika kulihat cara Gaara memperlakukanmu."

Sakura membalikkan tubuhnya membelakangiku. Memberikanku suguhan punggung telanjangnya yang bersinar karena bekas percintaan kami.

"Aku selalu menganggapnya seperti kakakku sendiri, meski sadar Gaara menyimpan perasaan lebih. Seperti kau dan Ino, kami tumbuh bersama. Sejak kecil ia selalu menjagaku, mengasihiku seolah aku adalah putri yang rapuh."

"Lalu apa yang membuatmu tak bisa membalas perasaannya?"

Sakura terdiam untuk beberapa saat. Nampak berpikir kata-kata macam apa kiranya yang cocok ia rangkaikan.

"Aku...aku hanya merasa apa yang kami jalani tidak benar. Aku tak bisa membalas perasaannya, mungkin karena sadar memang kami diciptakaan bukan untuk bersama."

"Dan kau justru jatuh cinta padaku. Padahal aku tak memperlakukanmu dengan baik."

"Bukankah cinta begitu aneh? Ia memilih sesukanya, bukan sesukaku. Segalanya akan lebih mudah jika aku menerima dia, tapi terasa tidak benar jika itu bukan dirimu."

Aku terdiam. Kehabisan kata. Malam ini kami berbicara tentang rasa. Walau rasaku terhadapnya belum terungkap. Punggung cantik yang kini membelakangiku lama kelamaan bergerak teratur. Sepertinya ia mulai berkelana ke alam mimpi. Pelan, sangat pelan hingga anginpun kalah dengan gerakku, kudekap tubuh mungil yang amat berharga bagiku ini erat. Teringat ucapan Sai di malam terakhir pertemuan kami, "Suatu saat kau akan menemukan sesuatu yang membuatmu harus berhenti, Sasuke. Kau akan menemukan sesuatu yang menuntutmu untuk menghentikan semua kegilaan ini."

Ya, Sai. Aku sudah menemukannya. Dan aku benar-benar ingin mengakhiri semuanya.

End Sasuke's POV

###

"Hanya tersisa kita bertiga sekarang," ucap Konan di tengah-tengah kegiatannya memandangi rembulan bersama Itachi. "Rasanya seperti pertama kita dibentuk."

"Hn."

"Kau masih berambisi membunuh Sasuke? Adik kecil kesayanganmu itu?" tanya Konan setengah menyindir.

Itachi mendengus tenang. Enggan menanggapi pertanyaan bernada sinis yang dilontarkan satu-satunya perempuan yang pernah menyentuh hatinya itu.

"Semua berjalan terlalu cepat."

"Apa kita akan kalah?"

"Mengingat kita dilindungi kepolisian, kurasa peluang kita menang cukup besar. Yang kita butuhkan hanya membuat mereka semakin yakin bahwa kita sudah semakin lemah."

Konan memandang pria di sampingnya melalui ekor mata. Itachi tak pernah berubah. Tetap menawan dan memujanya seperti pertama mereka disatukan. Seperti yang semua orang tahu, Itachi adalah salah satu anak buah kepercayaan Pain, suaminya. Pria itu selalu memperlakukan Konan penuh hormat dan kasih, bahkan melebihi Pain sendiri.

"Kau selalu berusaha menjadi seorang pengabdi setia. Tapi terkadang aku merasa seolah kau tidak berada di pihak ini."

"Maksudmu?"

"Aku ragu. Aku selalu merasa kau seolah mempersulit misi demi melindungi adikmu. Jangan pikir aku tak memperhatikan."

Itachi hanya mendecih menanggapi kata-kata Konan.

"Buat apa aku melindunginya? Kami dilahirkan untuk menjadi musuh."

"Bukankah memang seperti itu persaudaraan? Terlihat saling membenci, selalu terlibat tikai, tapi sebenarnya begitulah cara kalian menunjukkan sayang. Kau menyayanginya, Itachi. Kau masih berusaha melindunginya. Jangan sangkal itu."

Itachi diam. Ia tak tahu lagi harus menjawab apa. Sepintas memori tentang alasan mengapa ia harus bersusah payah melakukan semua ini muncul. Ia ingat hari dimana perjanjian kematian ini dibuat. Dan waktu untuk mengakhiri semakin dekat. Sepintas ia melirik sosok cantik yang kini tengah sibuk merangkai mawar-mawar di tangannya. Semua keindahan dan kebahagiaan semu ini akan segera ditinggalkannya. Ia akan kembali ke pelukan takdir, tempat dimana ia memang seharusnya berada.

###

Sasuke membaca berkas-berkas yang dikumpulkan Kakashi pagi ini. Pria dengan mata berlainan warna itu memandangnya keras. Seolah apa yang disodorkannya pada Sasuke adalah sesuatu yang benar-benar tak dapat diterimanya. Begitupun Sasuke. Rahangnya mengeras meski telah menduga kenyataan tak masuk akal ini.

"Aku tahu apa yang kini ada dalam kepalamu," ujar Kakashi sembari menunjuk satu lembar berisi gambar dan keterangan di bawahnya. "Aku tak tahu lagi harus bagaimana."

"Berapa kalipun aku membaca berkas-berkas ini, rasanya semua tetap saja sulit diterima."

"Aku tahu. Terlebih dia sudah lama mengabdi dan menjadi bagian dari kita."

"Kurasa bukan Naruto yang sebenarnya menjadi incarannya."

Kakashi terdiam, kemudian memandang Sasuke lekat. Sepasang mata malamnya menerawang jauh seolah bisa meneliti serat-serat kertas pada tangannya.

"Apa maksudmu?"

Sasuke tak menjawab. Tangannya bergetar menahan marah. Semua ini diluar harapannya.

"Biar aku yang selesaikan."

"Akan kau apakan dia? Sasuke...kita harus.."

"Aku tahu apa yang kulakukan, Kakashi. Biar aku yang bicara padanya."

Kakashi tak lagi menyahut. Kemarahan, kekecewaan, rasa sakit, semua bercambur padu dalam sepasang mata yang kini mengkerut sendu. Penghianatan ini pasti menyakitinya dalam. Siapa yang sangka, madu bisa jadi racun yang lebih mematikan dari racun.

.

.

.

.

.

.

Sakura POV

Sasuke terlihat tak fokus memperhatikan sasaran di depannya meski tembakannya selalu tepat sasaran seperti biasa. Setelah bertemu Kakashi siang tadi, ia terlihat semakin pendiam. Bahkan bernapas saja sepertinya enggan. Kusentuh jemarinya yang masih menggenggam laras panjang, membuatnya menoleh padaku. Memandangku dengan sepasang mata kelamnya yang dibingkai kaca mata pelindung. Ia kemudian menurunkan senjatanya dan mengalihkan perhatiannya hanya padaku.

"Apa terjadi sesuatu?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Tapi kemudian mengalihkan pandangannya ketika tahu apa maksud pertanyaanku.

"Aku merencanakan sesuatu. Aku ingin kau juga ikut mempersiapkan diri," ucapnya sembari membuka sarung tangan dan kaca mata pelindungnya.

"Tentang apa?"

"Misi terakhir."

Aku terdiam. Mungkin tanpa sadar memandangnya nanar. Apa aku tak salah dengar? Misi terakhir? Sasuke pasti habis terbentur. Atau mungkin ada serpihan mesiu tak sengaja menyusup ke dalam otaknya?

"Misi terakhir?" tanyaku memastikan.

"Sudah saatnya kita mengakhiri semua ini."

"Sasuke, kau tahu apa yang kita hadapi?"

"Lebih dari siapapun."

"Kau yakin dengan semua ini?"

"Lebih yakin dari sekadar yakin."

Aku tak lagi berusaha bertanya. Mungkin Sasuke tahu tentang keraguan dalam dadaku. Ia kemudian memandangku dengan manik sendunya sembari meletakkan tangannya di pinggangku sebelum mendekatkan tubuh kami. Sikapnya sangat aneh. Belum lagi ketika Sasuke tiba-tiba menyentuhkan keningnya pada keningku.

"Kita bisa melewati ini," bisiknya parau sembari memejamkan matanya erat-erat. Entah mengapa aku merasa seperti akan kehilangan dia. Aku merasa seperti waktu yang kami punya semakiin sempit. Apa yang ia rencanakan?

End Sakura's POV

###

Sasuke memandangi sosok di hadapanya kosong. Gadis ini tak pernah menunjukkan dirinya dan lebih memilih mengurung diri semenjak Naruto meninggal dunia. Dari sudut tempatnya berdiri, Sasuke bisa melihat sepasang lavendernya kini tengah menatap kosong hamparan bunga di taman belakang kamarnya. Taman tempat dirinya dan mendiang kekasihnya biasa menghabiskan waktu bersama.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke meski tahu tak akan mendapat jawaban dari gadis berambut indigo itu. "Tidak segala hal bisa berjalan seperti kehendak kita kan? Hidup terus berjalan, musim terus berganti. Sampai kapan kau akan terus mengurung diri?"

"Aku tak ingin bicara denganmu."

Sasuke menoleh sinis. Akhirnya gadis itu bicara juga meski nada jengah menguar jelas dari kata yang ia lontarkan.

"Sejauh ini baru aku dan Kakashi yang mengetahuinya."

Hinata tak bergeming.

"Malam itu, seharusnya aku yang mati di dalam mobil itu kan?"

Hinata menolehkan kepalanya cepat, memandang Sasuke tak percaya.

"Malam itu seharusnya aku yang berangkat dalam misi. Tapi Naruto mendadak memaksa untuk menggantikanku. Dia bilang aku harus berusaha memperbaiki hubunganku dan Sakura, sementara dia menggantikan tugasku. Aku awalnya menolak, tapi ia terus memaksa hingga Neji menengahi dan mendukung Naruto. Jadilah aku batal berangkat. Aku yakin kau amat membenciku karena itu."

Hinata menggenggam jemarinya erat. Apa yang dikatakan Sasuke tak pernah ingin ia dengar. Ia benci. Sangat benci dengan takdir yang telah merengut satu-satunya yang berharga dalam hidupnya.

"Kau gagal membunuhku."

Seperti dihantam petir, Hinata terlonjak dari tempatnya duduk. Dibalikkannya badan menghadap pria yang kini memandangnya datar. Bagaimana bisa...Sasuke...

"Semua tercatat di sini," ujar Sasuke sembari melempar map berisi bukti-bukti yang diberikan Kakashi padanya kemarin. "Hyuuga Hinata. Siapa kau sebenarnya?"

Hinata menelan ludahnya susah payah. Kedoknya telah terbongkar. Pernghianatannya telah tercium dan ia tak mungkin lagi mengelak. Bayangan eksekusi nyata menghatui pelupuk matanya.

"Sejak kapan kau menjadi bagian dari mereka?"

"Kau tak tahu apa-apa."

"Oh ya?"

"Kau pikir karena siapa semua ini terjadi? Pernahkah kau pikirkan apa yang selama ini kita lindungi? Pernahkah kau pikirkan alasan mengapa kita berperang? Tidak. Kau hanya mengerjakan tugas sebagaimana Ayah memerintahkan kita."

"Apa maksudmu?"

"Kami semua di sini dilatih untuk melindungimu, Sasuke!" teriak Hinata frustasi. "Hitung berapa nyawa yang telah berkorban untukmu! Aku bergabung dengan Orochimaru karena sudah lelah dengan semua ini!"

"Orochimaru?"

"Ya. Sakumo-sama tak pernah menceritakan riwayatmu secara lengkap kan? Alasan mengapa Itachi membunuh keluargamu, alasan kenapa harus Sakura yang mendampingimu, apa kau pernah berusaha mencari tahu? Sakumo-sama tak jujur padamu tentang satu hal, tentang ambisinya sejak muda."

"Jangan berputar-putar!"

"Tanyakan sendiri padanya! Dan kau akan tahu kebohongan-kebohongan yang ia lakukan untuk menahanmu di sini."

Sasuke memandang tak percaya gadis di hadapannya. Apa yang dikatakan Hinata membuatnya merasa dibodohi selama sekian tahun.

"Kau harus tahu. Diam-diam orang-orang yang selama ini mendukungmu telah berbalik arah. Kami semua sudah jengah dengan nyawa yang terbuang sia-sia karena kontrak mati yang kami tanda tangani demi melindungimu, Sasuke. Hanya kau yang bisa menghentikan semua ini."

Dan pembicaraan itu berhenti sampai di sana. Sasuke yang tak mampu lagi menahan emosinya berbalik badan menuj ruangan Sakumo. Pria tua itu berhutang ribuan penjelasan padanya. Sasuke tak percaya ini. Sekian lama ia mengabdi, akhirnya ia dihadapkan pada kenyataan paling pahit.

.

.

.

Gebrakan pintu jati setebal sepuluh senti milik ruang kerja Sakumo menimbulkan Dejavu tersendiri. Kakashi menoleh cepat mendapati tubuh kokoh yang kini menjulang di hadapannya. Ia tengah membahas masalah perusahaan dengan ayahnya, dan seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, Sasuke tiba-tiba mendobrak masuk dengan wajah penuh amarahnya. Sepasang matanya menyala marah, pertanda tidak baik.

"Keluar, Kakashi! Ada yang harus kubicarakan dengan ayahmu," perintah Sasuke tegas.

Kakashi menelan ludah sebelum menoleh kepada Sakumo untuk meminta pendapat. Sakumo hanya mengangguk, sehingga meski sangat ingin tahu, ia akhirnya memutuskan untuk keluar juga.

"Ada yang ingin kau bicarakan?"

Tanpa ba bi bu, Sasuke menerjang tubuh renta yang tak lagi mampu melawan di hadapannya. Ditariknya kerah kemeja orang yang akrab dipanggil ayah oleh seluruh anggota Exterminator.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Sasuke berbisik tajam.

Awalnya Sakumo terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja diajukan Sasuke padanya. Tapi ia sadar, saat ini akan datang juga. Dan mau tak mau ia harus menghadapinya.

"Lepaskan tanganmu dariku. Kita bicarakan semuanya baik-baik."

Sasuke menghempaskan cengkramannya. Membuat Sakumo tak urung terhuyung menahan keseimbangannya. Sasuke kemudian mudur beberapa langkah agar bisa memperhatikan wajah pria yang diam-diam dihormatinya lekat-lekat. Mereka saling berpandangan. Membiarkan hening menyelimuti untuk beberapa saat.

"Kau pasti sudah tahu tentang kemunculan Orochimaru belakangan. Terlebih ia seperti sengaja menunjukkan dirinya dalam kecelakaan yang menimpa Sakura."

Sasuke tak menyahut. Ia terlalu marah untuk berkomentar.

"Kami dahulu adalah satu tim. Aku, Orochimaru, dan kakekmu, Madara. Kami bertiga bekerja untuk militer, hingga suatu saat, Madara memiliki sebuah ide gila. Ia berencana menciptakan manusia yang tak terkalahkan. Manusia tanpa hati nurani yang bisa membunuh tanpa harus merasa bersalah. Manusia yang bisa menjadi anggota militer terkuat sepanjang sejarah."

Sakumo menghentikan sejenak ceritanya. Memandang wajah keras pria muda di hadapannya.

"Saat itu ibu dan ayahmu baru saja menikah, dan mengikuti program agar bisa cepat memiliki keturunan. Madara memperkenalkan orang tuamu pada timnya, tanpa pernah mengatakan apa yang akan direncanakannya untuk calon cucunya. Uchiha memang gila, aku tak lagi bisa mengerti bagaimana Madara bisa begitu tega menjadikan cucunya sendiri sebagai bahan percobaan. Dengan rekayasa genetik yang ia rancang, lahirlah Itachi dengan segala kehebatan dan kecerdasannya."

"Itachi?" gumam Sasuke tak percaya.

"Dia adalah produk pertama kami. Setelah Itachi lahir dan genap berusia lima tahun, segala keahliannya mulai terlihat. Madara gila akal. Ia terobsesi untuk membuat Itachi-itachi lain. Kemudian ia melakukan pembohongan masal. Ia membuat program untuk para orang tua yang ingin cepat memiliki keturunan tanpa biaya. Banyak orang tua yang datang. Salah satunya adalah orang tua Sakura."

Sasuke tercengang. Ia sudah tak mampu lagi mencerna tentang masa lalunya. Semua ini diluar akal sehat dan batas kemampuannya untuk mengerti.

"Orang tua Sakura sudah seperti saudara bagiku. Aku ingin memberi tahu mereka tentang rencana Madara sebenarnya, tapi tak pernah bisa. Aku diikat sumpah untuk mengabdi pada negara. Terlebih Madara dan obsesi gilanya tak lagi bisa dihentikan."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Rencana tersembunyi kami tercium badan perdamaian dunia. Mereka tahu tentang praktik rekayasa genetik yang kami lakukan dan menuntut pemusnahan masal. Bayi-bayi dan anak-anak diambil dari orang tua mereka, dibunuh dalam tidur lelapnya, demi menghilangkan bukti bahwa praktik ini pernah dilakukan. Madara sendiri yang melakukannya. Dia yang menciptakan, dia pula yang memusnahkan. Aku dan Orochimaru menentang. Kami bertengkar hebat dalam diskusi malam itu. Apa yang dilakukan Madara tidak bisa dibenarkan, hingga akhirnya tim kami pecah."

Sasuke terduduk di sofa dekat tempatnya berdiri. Kepalanya mendadak pening membayangkan apa yang telah terjadi di masa lalu. Ini gila. Sangat gila. Semua pertaka ini berasal dari keluarganya dan ia baru mengetahuinya hari ini.

"Madara tak ingin disalahkan, ia membunuh satu persatu orang yang pernah terlibat dalam rencananya. Dari situlah ia membentuk Akatsuki. Sementara itu, Orochimaru menghilang. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya sebelum kemarin ia tiba-tiba muncul dalam kecelakaan Sakura."

"Bagaimana aku dan Sakura bisa selamat? Dan mengapa ia tak membunuh Itachi seperti ia membunuh anak-anak lain?"

"Malam itu ayah kandung Sakura datang padaku. Ia tahu cepat atau lambat pasukan Madara akan membunuhnya, jadi ia menyerahkan Sakura padaku untuk dilindungi. Aku kemudian menyerahkan Sakura pada salah satu kolegaku di Tokyo untuk dirawat dan dibesarkan. Karena akan menjadi masalah jika aku merawatnya sejak bayi."

"Masalah?"

"Akan mudah bagi mereka untuk menemukannya," sahut Sakumo sembari menuangkan teh hijau ke dalam cangkir. "Satu hal yang harus kau tahu, Itachi adalah produk andalannya. Madara merasa berhasil mendidik dan membesarkan cucu kesayangannya itu seperti apa yang ia bayangkan. Maka dari itu, ia mempertahankannya. Hingga pada malam itu, ia menghabisi semua anggota keluarga kalian dengan tangannya sendiri, menyisakan dirimu."

Sasuke mencoba mengingat memori tentang pertemuan pertamanya dengan Sakumo dan awal tergabungnya dirinya dengan Exterminator. Tapi semua terasa kabur. Seolah otaknya telah memprogram diri untuk menghapus ingatan menyesakkan itu.

"Aku membentuk organisasi ini untuk melindungimu dan Sakura. Produk kami yang tersisa. Kalian berdua adalah incaran Madara dan Orochimaru. Jika Madara yang mendapatkan kalian, ia akan membunuh Sakura dan menjadikanmu alat untuk melanjutkan obsesinya. Jika Orochimaru yang mendapatkan kalian, sudah pasti ia akan membunuh kalian berdua. Keberadaan kalian akan sangat membahayakan baginya."

"Lalu apa tujuanmu melindungiku dan Sakura?"

"Kalian dilahirkan untuk saling mengendalikan. Tak bisakah kau merasakannya? Kau harus bersamanya karena hanya dia yang bisa mengendalikan emosimu. Hanya dia yang bisa menjinakkan sisi iblismu. Karena ketika kalian berdua disatukan, kalian akan saling melemahkan. Membuat kalian memiliki naluri manusia sebagaimana mestinya."

Sasuke mengerenyit. Kembali teringat betapa sentuhan dan napas Sakura teramat mempengaruhinya. Semenjak bersama Sakura, ia banyak belajar menjadi manusia normal. Hal yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelum gadis itu datang dalam hidupnya.

"Jika Orochimaru memang berniat memusnahkan kami, malam itu, mengapa ia tak membunuh Sakura? Mengapa ia mengembalikan Sakura kepada kita?"

"Dia bukan tak mencoba. Ketika memeriksa darah Sakura malam itu, aku menemukan kandungan zat pelemah yang pernah diciptakan Orochimaru untuk mencari alternatif lain selain memusnahkan produk yang sudah terlanjur dibuat, tapi gagal. Sakura hanya bisa mati jika kau mati, karena kalian sudah terlanjur menyatu. Ada dirimu dalam dirinya, itulah yang membuatnya tak bisa dilemahkan. Kalian sudah terikat. Maka dari itu ia mengubah rencananya dengan berusaha melenyapkanmu."

"Kau tahu tentang ini?"

"Ya. Sebelum Kakashi menyadarinya, aku sudah terlebih dahulu menemukan bukti. Dan aku tahu Hinata terlibat. Aku mungkin akan mengirim Hinata ke Rusia setelah ini."

"Kau masih melindunginya."

"Mau dikata apa? Aku yang membesarkan kalian. Aku bukan dirimu, Sasuke. Aku tak bisa menghilangkan nuraniku sebagai seorang ayah."

Sasuke sudah terlihat lebih tenang. Ia menunduk dalam, mengabaikan secangkir teh hijau yang diletakkan Sakumo di hadapanya.

"Aku akan mengakhiri semua ini, dengan atau tanpa dukunganmu."

"Aku tahu cepat atau lambat kau akan mengambil keputusan itu. Pada dasarnya memang hanya dirimu yang bisa mengakhirinya, Sasuke. Tugasku sudah selesai."

Sakumo meletakkan cangkirnya sebelum pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan Sasuke yang masih berusaha mencerna kata demi kata yang disampaikan Sakumo. Semua ini tak akan berjalan mudah. Bahkan untuk mengakhiri, pengorbanan besar menantinya di depan mata.

###

"Kau akan berangkat besok?" tanya Sasori sembari memperhatikan perempuannya yang kini tengah sibuk memasukkan lembar demi lembar pakaian ke dalam koper.

"Aku sudah menunda keberangkatanku selama sebulan, tak bisa ditunda lagi, Sasori."

Pria dengan wajah kekanakan itu hanya mendengus pelan. Baru saja hubungannya dimulai dan Ino harus kembali ke Amerika.

"Kau akan menghubungiku?"

"Pertanyaan macam apa itu? Jangan berkata seolah-olah komunikasi di era ini sulit, Saso. Kita bisa berkirim email kapan saja."

"Aku akan menyusulmu. Bersabarlah."

Ino tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria yang sedang berusaha ia cintai.

"Tentu. Aku akan menunggumu."

Sasori kemudian merengkuh tubuh mungil yang akan selalu ia rindukan itu. Ia sudah mendengar masalah misi terakhir yang akan mereka jalankan. Bisa jadi ini akan menjadi kali terakhir ia memeluk pujaannya. Bisa saja ia tak akan pernah menginjak tanah Amerika setelah misi berakhir. Bisa saja... Ah, Sasori tak berani berkhayal ia akan keluar dari lingkaran takdir ini dengan selamat. Tapi ia benar-benar ingin bertahan. Untuk masa depan yang selalu ia impikan.

"Bergegaslah. Katamu kau harus hadir dalam rapat perusahaan," ucap Ino sembari melepaskan pelukannya.

Sasori tersenyum, kemudian berlalu setelah sebelumnya mengecup lembut kening kekasihnya. Baru saja membuka pintu, sepasang hazelnya terbelalak mendapati sosok yang berdiri di depan pintu dan kini menatapnya datar.

"Sasuke?"

"Hn."

Suasana hening untuk beberapa saat. Mereka bertiga saling berpandangan dengan tatapan saling bertanya.

"Ada yang ingin kubicarakan dengan Ino. Keberatan?"

Sasori mengerjap beberapa saat sebelum menjawab dengan tergagap, "Tidak, tentu saja tidak. Aku ada keperluan, maaf tidak bisa menemani kalian." Setelah mengucapkan basa-basi, Sasori melangkah keluar dengan perasaan penuh tanda tanya.

Sepeninggal Sasori, Ino dan Sasuke hanya saling memandang. Bahkan Sasuke masih berdiri di ambang pintu dan kini masih menatap wanita yang pernah dicintainya lekat-lekat.

"Boleh aku masuk?"

"Ah, tentu," sahut Ino setelah sadar sendari tadi mereka hanya mematung.

"Kudengar kau akan berangkat besok. Apa semua keperluanmu sudah siap?"

Ino mengerenyit bingung. Memandangi sosok yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan tatapan penuh tanya. Tumben Sasuke terlihat perhatian padanya.

"Sudah. Semua sudah siap."

Sasuke nampak berpikir sembari memandangi foto-foto dalam bingkai yang terpasang di dinding kamar. Gambar-gambar masa lalu ketika mereka masih baru saling mengenal dan disatukan. Waktu cepat berlalu rupanya, dan satu persatu dari mereka mulai pergi. Ada yang selamanya, ada yang sementara. Ada yang berbatas jarak, ada yang lain dunia. Waktu sepertinya dengan mudah merenggut segalanya.

"Kau kosong malam ini?"

"Ada apa?"

"Punya waktu untukku?"

Ino mengerjapkan matanya beberapa kali, mulutnya beberapa kali terbuka seolah ingin bicara, namun kata tak juga muncul dari sana. Jadilah ia seperti ikan yang tengah berusaha bernapas.

"Mulai besok kau akan pergi dari Konoha. Bisa jadi ini akan jadi pertemuan terakhir kita. Aku, sebagai orang yang pernah kau bahagiakan, aku ingin membayarnya."

"Membayar?"

"Berkencanlah denganku malam ini. Seperti pertama kita berkencan sewaktu duduk di sekolah menengah pertama. Saat dimana yang kita tahu cuma cinta anak-anak."

Ino memandang pedih pria di hadapannya yang kini memandangnya dengan sepasang mata kelam yang nampak kekanakan. Bayangan masa lalu mereka terekam jelas di sana. Saat dimana memegang senjata terasa seperti permainan, saat dimana bahagia adalah hal yang sederhana, saat dimana kasih yang mereka punya murni karena sayang dan tanpa prasangka. Entah mengapa rasa sesak menyelimuti dadanya. Kenapa hidup harus berubah menjadi demikian rumitnya?

"Baiklah," sahut Ino lirih.

Sasuke tersenyum, kemudian membalikkan badan dan keluar dari ruangan. Sementara Ino masih memandangi pintu kamarnya yang kini telah tertutup. Memeluk bayang Sasuke bersamanya.

.

.

.

.

.

Mereka tertawa bersama. Saling melempar candaan berisi nostalgia dengan tatapan bahagia. Sepintas orang akan berpikir bahwa mereka pastilah sepasang kekasih yang sedang dimabuk kasih. Tapi tidak. Keduanya tahu dalamnya hati masing-masing. Keduanya tahu untuk apa malam ini hadir. Bahkan hingga akhirnya keduanya turun ke lantai dansa dan saling memeluk penuh sayang, mereka tahu kegamangan yang mengisi hati masing-masing.

"Kau ingat suasana ini?"

Ino tersenyum, "Bagaimana aku bisa lupa? Tempat ini, lantai ini, lagu ini, semua sama persis seperti waktu itu. Saat dimana kau memintaku menjadi kekasihmu."

Sasuke tersenyum, meski Ino tak dapat melihatnya. Keduanya masih saling berpelukan sembari bergerak pelan mengikuti irama lagu Somewhere Over The Rainbow yang diaransemen menjadi slow. Tak urung situasi ini kembali menghantarkan memori mereka tentang indahnya kasih yang pernah mereka jalin.

"Banyak hal terjadi selama kita tumbuh bersama. Banyak mimpi pernah kita rangkai berdua. Tapi lagi-lagi waktu memenangkan segalanya kan? Selamanya ternyata tak pernah ditakdirkan menjadi milik kita."

"Aku tak butuh selamanya, Sasuke. Pernah menjadi milikmu rasa-rasanya sudah lebih dari cukup."

Sasuke tersenyum hangat, meletakkan dagunya di atas kepala perempuan yang pernah menjadi ratunya. Perempuan yang pernah menjadi dunianya, perempuan yang pernah menjadi tujuan hidupnya, perempuan yang pernah menjadi segalanya untuknya.

"Aku ingat situasi ini. Di tengah-tengah dansa, kau membisikkan kata-kata yang tak pernah kusangka akan muncul dari bibirmu. Kau bilang aku adalah perempuan tercantik dalam hidupmu, yang paling kau cinta, dan selalu ingin kau miliki. Dan tanpa berpikir, aku mengiyakan saat kau memintaku menjadi kekasihmu. Aku sangat bahagia saat itu."

"Kau banyak terluka karenaku. Hari itu adalah pertama sekaligus terakhir kali kita berkencan dengan wajar," sahut Sasuke diiringi dengusan geli. Membuat gadis dalam pelukannya turut tersenyum simpul.

"Kita pernah membangun bersama sebelum akhirnya saling menghancurkan. Pernah saling memiliki sebelum akhirnya harus melepaskan. Kau dan aku pernah menjadi kita, Sasuke. Dan aku tak pernah menyesalinya."

Kata-kata Ino membuat beban berat dalam dada Sasuke sedikit terangkat. Perlahan mereka saling melepaskan pelukan meski masih saling memandang dalam jarak berdekatan.

"Kau tahu, kita tak pernah mengakhiri hubungan ini dengan benar. Karena di sinilah awal hubungan kita dimulai, di sini pula aku ingin mengakhiri segalanya. Aku...selalu merasa bersalah atas sakit yang harus kau tanggung atas sikapku dahulu, selalu merasa dihantui oleh sosok yang terpaksa harus mati sebelum memandang dunia. Maka dari itu, di sini...mulai detik ini...aku resmi melepaskan kita."

Ino tersenyum dengan mata berkaca. Selama ini mereka memang belum pernah benar-benar mengucap ikhlas. Malam ini, keduanya sepakat saling melepaskan. Memulai kehidupan masing-masing tanpa satu sama lain. Rasa sesak yang selama ini menyelimuti setiap tatapan mereka bertemu pelan-pelan terkikis. Keadaan yang memaksa mereka untuk saling membenci, keadaan pula yang membuat mereka saling memaafkan. Malam ini mereka habiskan dengan pelukan perdamaian. Bersiap menghadapi tantangan esok yang entah apakah bisa mereka lewati.

###

Sasuke memandangi pesawat yang telah mengangkasa dari balkon kamarnya. Semalam, setelah menyelesaikan masa lalunya dengan Ino, ia telah mengucapkan selamat tinggal dan memang telah berniat tidak mengantar ke bandara. Alasannya klise, Sasuke benci perpisahan. Ia tak pernah suka pelukan selamat tinggal. Maka dari itu, sengaja ia menghabiskan waktu bersama perempuan yang tak akan pernah ditemuinya lagi itu semalaman.

Bersamaan dengan dikirimnya Ino, Hinata juga diterbangkan ke Rusia pagi tadi. Keterlibatannya atas kasus terbunuhnya Naruto masih menjadi rahasia antara Sasuke, Kakashi dan Sakumo. Ketiganya sepakat untuk tidak membongkar masalah ini khawatir jika nantinya justru memicu perpecahan. Dan Sasuke mulai merasa tak lagi yakin kepada siapa dirinya harus berpegang. Mengingat siapa kawan siapa lawan kini kabur adanya.

"Di sini kau rupanya."

Suara perempuan yang tak lagi asing baginya kembali mengusik seperti biasa. Sasuke hanya melirik melalui sudut matanya, masih enggan memutar tubuh.

"Anggota yang lain sudah siap memulai rapat. Kapan pimpinan berniat turun?" tanya perempuannya setengah menyindir, membuat Sasuke tak urung menarik sudut bibirnya meski hanya sedikit.

"Sejak kapan mulutmu menjadi begitu tajam?"

"Oh ayolah, tuan. Bagimu mungkin hanya terlambat sebentar, tapi coba bayangkan berapa nyawa bisa melayang dalam waktu sebentar versimu itu?"

Sasuke menoleh sepenuhnya. Teringat akan kata-kata miliknya yang pernah ia lemparkan pada gadis yang kini memutar kalimat itu padanya. Sementara itu, Sakura tersenyum dengan tatapan menggodanya. Segalanya telah dipersiapkan. Misi terakhir siap dijalankan. Sasuke telah bersumpah memberikan kehidupan normal kepada perempuan yang kini menjadi dunianya. Ia akan melepaskan Sakura dari jerat takdir ini. Tentang dirinya, itu bisa diurus nanti.

TBC