Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 14

Last Chance

Sasuke POV

"Kau akan menggunakannya?"

Aku menoleh pada sosok bertubuh tinggi dengan rambut yang-dulunya-melawan grafitasi. Kakashi memotong habis rambut tinggi dengan warna aneh yang telah menjadi ciri khasnya selama ini. Menyisakan potongan pendek rapi yang membuat dagunya terlihat semakin tegas. Jika aku perempuan, mungkin aku akan menjerit-jerit penuh damba sekarang. Tapi tidak. Aku masih lebih mencintai tubuh perempuan, apapun yang terjadi.

Pandanganku kemudian beralih pada kapsul dalam tabung gelas di tanganku. Apa aku akan menggunakannya? Apa aku membutuhkannya?

"Kau tahu risikonya. Kau bisa kehilangan dia selamanya."

"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya. Menyelamatkan kami."

Kakashi mendengus malas. Ia sedang sibuk dengan peta-peta di atas meja, menyusun rencana penyerangan yang akan kami lakukan. Semenjak Sakumo memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan tanggung jawab kepadaku, Kakashi dengan senang hati membantu.

"Aku minta maaf." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Membuat Kakashi mengalihkan perhatian sepenuhnya padaku. Tubuhnya yang menjulang menegak tinggi. Sebelah alisnya naik tanda tak mengerti.

"Untuk?"

"Kesalahanku di masa lalu."

Kakashi sepertinya mengerti apa yang kumaksudkan. Sepasang matanya yang berlainan warnya berubah sayu, ujung tajamnya turun seketika. Aku tahu ia selalu membenci ketika aku membahas ini. Tapi aku harus mengatakannya, selagi masih ada waktu.

"Kita semua berpotensi merasakan kehilangan, Sasuke. Kita tahu itu sejak awal. Kau tidak perlu merasa terlalu terbebani."

"Hari itu seharusnya aku bisa menyelamatkan dia. Tapi aku tidak melakukannya. Aku lebih memilih menyelamatkan Ino."

"Kau memang harus membuat pilihan. Aku mengerti."

Aku tersenyum miris. Kakashi tak bisa melihatnya, karena memang kini posisiku membelakanginya. Sedikit merasa berdosa, karena selama ini aku memang tak pernah merasa bersalah atas meninggalnya rekan satu timku. Biasanya orang terdekat mereka akan berusaha membunuhku, atau membenciku seumur hidup, seperti Hinata. Tapi cara Kakashi melampiaskan dukanya, dengan setia bekerja padaku, tetap menuntunku dalam perjalananku beranjak dewasa, dengan senang hati melatihku memegang senjata, semua itu membuatku merasa bersalah.

"Kau bersikap baik padaku. Padahal aku telah membunuh satu-satunya orang yang mampu kau cintai. Seharusnya kau memukulku keras-keras, atau paling tidak membenciku."

"Itu semua tetap tidak akan membawa Rin kembali. Ia tetap akan pergi, dengan atau tanpa aku melampiaskan dendam. Maka aku memutuskan untuk membantu ayah melatihmu lebih keras, dengan begitu kejadian seperti itu takkan terulang kembali."

Aku terdiam.

"Rin, perempuanku. Aku yakin dia juga telah memaafkanmu. Dia...adalah perempuan seperti itu."

Benar.

Semua orang tersakiti kemudian memaafkan dengan sendirinya. Hari itu, Rin sangat bahagia saat Ino menceritakan kehamilannya. Bahkan sebelum berangkat untuk menjalankan misi, ia berpesan padaku untuk mengawasi Ino dengan sungguh-sungguh. Rin adalah perempuan seperti itu. Yang selalu memikirkan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Yang senantiasa memaafkan tanpa perlu meminta. Rin adalah perempuan seperti itu. Yang akan selalu menempati hati seorang Kakashi selamanya.

Aku ingin mencintai Sakura seperti itu.

Aku ingin menempatkan Sakura sedalam itu.

Perempuanku.

Dulu aku selalu tertawa geli jika Kakashi memanggil kekasihnya dengan panggilan menggelikan itu. Tanpa tahu jika kemudian aku pun akan menyebut kekasihku dengan panggilan itu dalam hati.

Sakura, perempuanku.

Ia sedang sibuk menatap layar komputer di hadapannya. Kakashi sedang mengajarinya menjalankan beberapa program, menggantikan posisi Hinata.

Perempuanku sangat cepat belajar. Aku bahkan tak perlu lagi menggunakan tekanan, seperti alat kejut listrik yang dulu kugunakan untuk melatihnya. Ia sangat mudah diajari. Mungkin juga karena Kakashi lah gurunya. Anggota sebodoh apapun memang selalu mudah belajar jika Kakashi yang melatih.

Remasan tangan di pundakku membuatku sadar. Rupanya Kakashi sudah selesai. Ia sempat tersenyum dari balik maskernya sebelum keluar dari ruangan. Meninggalkanku bersama Sakura yang masih sibuk mengulangi simulasi yang ditunjukkan Kakashi tadi.

Kudekati tempatnya duduk, kemudian mencondongkan tubuh sembari menahan tumpuanku pada meja di hadapannya. Seolah-olah aku tertarik dengan apa yang ia kerjakan.

"Kau menggangguku," katanya kesal sembari menghempaskan tubuh ke sandaran kursinya. Aku menoleh, tersenyum miring mendapati wajah sebalnya.

"Kau sudah melakukannya dengan benar. Saatnya istirahat."

Sakura mengerutkan kedua alisnya. Memandangku aneh.

"Aku sudah tahu ada yang aneh denganmu belakangan."

"Aneh apanya?"

"Kau berubah... sedikit.. lebih lembut?"

"Kau lebih suka kalau aku kasar?" sahutku bercanda, sadar ada makna ganda dalam kalimat yang kuucapkan. Sepertinya Sakura juga menyadarinya, wajahnya bersemu merona.

"Kadang-kadang," lirihnya malu-malu. Membuatku tergelak. Ia bisa menjadi begitu menggemaskan, dan aku baru bisa menikmatinya sekarang. Aku baru menyadari betapa diriku menyukainya. Tuhan... aku ingin menikmati ini lebih lama.

"Katakan saja apa yang kau mau dariku. Aku akan memberikannya," kataku sembari menghadapkan kursi putarnya padaku. Memandang intens sepasang hutan yang selalu memandangku berani. Sakura memicing, mencoba mencari apa yang kusembunyikan di balik mata. Kuharap ia tak menemukanya. Kuharap ia tak tahu apa yang kusembunyikan.

Tapi Sakura tak mengatakan apa-apa. Ia hanya mendekatkan wajahnya padaku, kemudian mengecup pelan bibirku. Sangat pelan, hingga aku bisa merasakan pergerakan bibirnya, tekstur tipisnya, dan yang baru kusadari, aroma cherry yang entah dari mana datangnya.

Ia memangut bibirku perlahan. Selalu tahu bagaimana cara mengajakku bicara tanpa kata. Dan aku merasakannya. Ketakutannya, keraguannya atas diriku, perasaannya, cinta yang meluap dan tak mampu lagi ia tunjukkan. Aku merasakannya. Perlahan, tubuhku melemas hingga terduduk di bawah kakinya. Masih dengan bibirnya menguasai bibirku. Ia menunduk, membiarkanku terduduk diantara kedua kakinya. Aku takhluk.

"Aku mencintaimu," bisiknya di atas bibirku, masih dengan mata terpejam dan napas terengah. Dan aku hanya bisa memandanginya, tak ingin sedikitpun melewatkan keintiman kami.

Ketika ia membuka jendela dunianya perlahan, aku tenggelam. Bibirku kelu, jantungku berdegub lebih dari seharusnya. Aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku sangat mencintai perempuan ini. Tapi yang bisa keluar dari bibirku hanya...

"Aku tahu."

Sakura tersenyum. Jenis senyuman getir yang membuat jantungku terasa diremas kencang. Kening kami bersentuhan, dan ia kembali memejamkan mata. Kuhirup napasnya dalam-dalam. Napasnya, napasku. Napas yang membuatku masih bernapas.

"Kau siap untuk besok?" tanyanya sembari menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Tak mampu kubantah, ada rasa kehilangan saat panas tubuhnya tak lagi menguasai tubuhku. Tapi aku masih tenduduk di lantai. Menikmati parasnya dari bawah sini terasa lebih menyenangkan.

"Aku tak sabar menanti."

"Setelah semua ini berakhir, apa yang akan kau lakukan?"

Apa yang ingin kulakukan? Aku tak tahu.

"Bagaimana kalau kau yang memulai?" tawarku mengalihkan.

"Menurutmu kita masih bisa melanjutkan sekolah? Aku ingin sekali menjadi dokter. Aku ingin sekolah kedokteran setelah lulus SMA."

Aku tersenyum, "Kakashi bisa mengurus itu."

"Atau sebaiknya kita pindah saja ke luar negeri? Memulai segalanya dari awal lagi?"

Terbesit perasaan aneh ketika Sakura menyisipkan kata 'kita' dalam kalimatnya. Apa ia membayangkan menjalani hidup bersamaku?

"Ide bagus," sahutku akhirnya, demi menyenangkan hatinya.

Sakura berhambur memelukku. Dan aku membalas pelukanya kencang, lebih kencang dari biasanya. Aku berharap ia bisa mendampingiku besok tanpa perlu banyak merasakan beban. Aku harap aku bisa melindunginya, melindungi keluargaku yang tersisa, melindungi apapun yang masih ada.

Orang bilang kita baru mengingat Tuhan ketika berada dalam kemalangan. Jika Tuhan masih mau mendengarku, bolehkah aku meminta-Nya menjaga perempuanku ini? Aku tak mengkhawatirkan kesanggupannya menjaga diri, aku tahu ia cukup kuat dan tangguh. Aku hanya takut, jika ketangguhannya hilang setelah aku pergi dari sisinya.

Setelah rapat persiapan yang terakhir, aku bertemu Sasori di ujung lorong. Ia tengah sibuk dengan cairan kimia yang diletakkan dalam wadah kayu di tangannya. Salah satu senjata yang akan kami gunakan besok, hasil eksperimennya.

"Hai," sapaku.

Sasori sedikit terlonjak. Sepertinya benar-benar tak menyangka aku akan muncul dan menyapanya.

"Oh, hai."

"Aku ingin bicara sebentar denganmu. Ruang rekreasi?"

Mengerjapkan matanya beberapa kali, Sasori akhirnya mengangguk. Ia memintaku menunggu di sana selagi dirinya meletakkan barang eksperimennya ke dalam lab.

Aku menunggu, sambil memandangi hamparan lapangan tempat dulu aku dan Kakashi melatih anggota-angota baru. Tempatku melatih Sakura untuk pertama kalinya, menghukumnya, memaksanya melakukan segala hal di luar batas kemampuannya. Tempat penuh kenangan yang segera kami semua akan tinggalkan.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sasori setelah sebelumnya mengambil tempat untuk duduk di sampingku.

Aku meliriknya sekilas. Sasori memandangku dengan tatapan penasaran. Kami sudah lama tak bicara baik-baik. Sudah lama tak bertegur sapa maupun bertukar pandang. Jadi wajar saja jika sekarang ia memandangku dengan jenis tatapan ingin tahu yang terkesan berlebihan.

"Kau masih berhubungan dengan Ino?"

Sasori mengangkat sebelah alisnya, matanya memandangku penuh selidik. "Kami memutuskan memulai segalanya dari awal."

"Itu bagus."

"Apa itu yang ingin kau bicarakan? Tentang Ino?"

"Bukan," aku memberikan jeda sejenak. "Sakura bertanya padaku. Apa yang kira-kira ingin kulakukan setelah semua ini berakhir."

"Dan?"

"Dan aku ingin mendengar rencanamu. Mungkin aku bisa menconteknya sedikit."

Sasori terkekeh ringan. Tahu apa yang kukatakan hanya candaan.

"Aku akan menyusul Ino ke Amerika. Mungkin aku akan mengambil pendidikan S2. Aku ingin menjadi pengajar. Ino setuju. Ia juga ingin membuka toko bunga. Seperti kehidupan dalam novel, kan?"

"Terdengar menyenangkan. Aku suka bagian membuka toko bunganya."

Sasori tersenyum, mengikuti pandanganku ke arah bukit di belakang lapangan.

"Bagaimana denganmu?"

Bayangan wajah Sakura siang tadi menghantuiku. Tatapan penuh harapnya, sentuhan halusnya, napas hangatnya, bisikan cintanya, aku tak butuh apa-apa lagi rasanya selama dia ada. Adanya dia telah menjadi masa kini dan masa depan bagiku. Aku akan mengikuti apapun rencana yang ia ingini untuk esok hari. Jika esok datang lagi...

"Mungkin aku akan membuka toko bunga bersama Sakura."

"Hei, itu rencanaku. Bagaimana bisa kau mengambilnya?" sahut Sasori sembari memukul lenganku.

"Bukankah sudah kubilang aku akan mencontek idemu? Seharusnya kau tidak mengatakannya jika tak ingin aku mengambilnya."

"Kau selalu saja seenaknya ya?"

"I can't help it. I'm born to be bad."

"Dasar bajingan! Kupikir kau mengajakku bicara untuk berdamai."

"Kau berharap akan berdamai denganku? Oh, ayolah. Masa lalu kita tidak sesederhana itu, tuan berwajah imut."

"Berani-beraninya kau berkata seperti itu kepada kakakmu. Kemari, biar kuberi kau pelajaran!"

Dan selanjutnya kami mulai saling memukul. Pukulan persahabatan, seperti yang dulu sering kami lakukan. Sebelum ada pertikaian, sebelum ia menghianati kepercayaanku dan aku dibutakan rasa cemburu. Sebelum kami mulai saling membenci karena sama-sama mencintai satu hati. Malam ini aku tidak jadi mengatakan maaf seperti apa yang kurencanakan. Kami tidak membutuhkannya. Beginilah cara kami berbicara. Beginilah cara kami menunjukkan rasa saling memaafkan.

Pagi ini bisa jadi adalah pagi terakhir aku terbangun di atas ranjangku sendiri. Bisa jadi pagi terakhir aku mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, diikuti aroma sabun khas buah cherry. Bisa jadi, jadi aku mencoba mengingatnya lekat-lekat dalam memori.

Semenit.

Dua menit.

Akhirnya kuputuskan untuk bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Langsung saja pemandangan indah memanjakan indera penglihatanku. Ia sedang berdiri membelakangiku, dengan rambut gulalinya yang dicepol tinggi. Menunjukkan tengkuk bersihnya yang selalu menjadi favoritku. Tubuhnya masih seindah dulu, meski lebih sering kujamah belakangan. Tanpa sadar senyuman begitu saja menarik bibirku. Aku ingin menatapnya lebih lama.

"Kau hanya akan berdiri di sana?"

"Kau tahu akan jadi apa acara mandi pagimu jika aku bergabung."

Sakura membalikkan badannya begitu saja. Tangannya terlipat di dada, seolah tak mempermasalahkan ketelanjangannya, memandangku menantang dengan berani. Di mana gadis malu-maluku yang dulu?

"Kau akan menyesalinya, Sayang," kataku sebelum menerjang tubuhnya.

Sakura memekik , namun menyambut tubuhku dengan senang hati. Sembari masih memeluknya, kuputar air untuk mengatur suhu yang pas. Suhu pilihan Sakura selalu terlalu dingin untukku.

Kusandarkan punggungnya pada dinding di belakang tubuhnya. Begitu Sakura mengalungkan kedua tangannya padaku, kuangkat kedua kakinya melingkupi tubuhku sehingga berat tubuhnya sepenuhnya bergantung padaku. Air yang mengalir di atas tubuh kami membasahi pakaianku yang masih lengkap melekat. Juga rambut merah jambunya yang semula dihindarkannya dari air. Sakura tertawa, mengeratkan pegangannya padaku sementara aku mulai mengecap kulit basahnya.

"Kau seharusnya berhenti menggodaku," kataku di sela-sela lehernya.

Kami belum melakukan apa-apa. Aku ingin bersandar padanya seperti ini untuk beberapa saat. Tangannya memijat lembut kepala bagian belakangku. Sentuhannya selalu bisa menenangkanku, bahkan di saat-saat kalut seperti sekarang.

"Aku tak pernah tahu kau begitu mudah digoda."

"Memang tidak. Lain soal jika itu tentangmu."

Lagi-lagi Sakura tergelak dengan cantiknya.

Sakura menangkupkan tangannya padaku. Menyentuhkan keningnya dengan keningku. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Sebisa mungkin aku ingin menyentuhnya sedalam mungkin. Dan selanjutnya, semua berjalan dengan sendirinya. Mengandalkan insting kami sebagai pasangan. Saling menyentuh, saling mengecup, saling memiliki.

Perempuanku mendesah hangat seiring dengan penyatuan kami. Ia membiarkanku memegang kendali, seperti biasa. Mempercayakan tubuhnya sepenuhnya padaku, membiarkanku memberikan kepuasan yang selalu ia nanti. Suara merdunya yang seringkali mendesahkan namaku semakin membakar hasratku. Aku menyukainya, aku menginginkannya, dan seiring dengan penyatuan kami yang semakin menggebu, berdua kami mencapai pelepasan. Yang kedua untuknya, pertama untukku. Sengaja kuhantamkan bibirku keras-keras pada miliknya, membungkam desahannya, membungkam desahanku, membungkam apapun kata yang mendesak dalam dadaku.

Sakura POV

Punggung kokohnya menjulang tinggi di hadapanku. Ia sedang sibuk mengecek senjata yang akan kami gunakan untuk malam nanti. Sepasang malamnya sesekali bergerak gelisah. Beberapa kali ia menatapku, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan. Ia sudah melakukannya berkali-kali sejak kemarin. Apapun yang tertahan di bibirnya, kuharap ia akan mengatakannya sebelum aku tak lagi bisa mendengar, atau yang lebih buruk, ia tak lagi bisa berbicara.

Aku selalu berpikir. Sasuke selalu bisa hidup tanpa siapapun. Ia pasti bisa hidup tanpaku. Tapi aku?

Selama ini, setelah kedua orang tuaku meninggal, hanya Sasuke alasanku bertahan hidup. Aku sudah kehilangan segalanya. Keluarga, mimpi, harapan, dan rencana hidup yang pernah kubangun dahulu. Aku melepaskan segalanya demi Sasuke. Terdengar dangkal, memang. Dalam hubungan kami pun, sepertinya aku yang lebih banyak berkorban. Tapi tidak. Sasuke telah banyak mengubahku. Ia menguatkanku. Merubah nona manja menjadi gadis tangguh yang berani memegang senjata. Maka dari itu, hidup yang kuberikan padanya rasanya masih tak sepadan.

Sasuke mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam kotak beludru. Pistol itu, pistol yang dirancang khusus dan berpasangan dengan milikku. Pistol berwarna hitam legam dengan ukiran khusus, karya terakhir pengrajin senjata kepercayaan Sakumo sama.

Ia terlihat tenang. Meski sadar jumlah kami tak akan sepadan dengan lawan, ia bersikeras menjalankan misi ini. Sasuke bilang, kami mungkin kalah jumlah, tapi kami punya strategi. Strategi yang bahkan aku tak tahu di mana letak unggulnya sehingga ada kemungkinan akan berhasil. Kurasa ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku tak ingin berspekulasi. Aku percaya padanya. Aku percaya ia sanggup memimpin misi terakhir ini.

Exterminator dalam kondisi kritis. Banyak anggota yang berkhianat. Yang tersisa hanya beberapa dari kami yang masih merasa loyal, merasa hutang budi, merasa harus mempertahankan hidup kami. Beberapa orang tidak percaya dengan kepemimpinan Sasuke, ataupun ide gilanya untuk menggempur Akatsuki. Aku tak tahu apa yang diketahuinya tapi tak dibagi dengan kami. Ia tetap penuh misteri. Dan misi ini pun terkesan hanya untuk dirinya sendiri.

Manusia hangat pagi tadi sepenuhnya lenyap. Yang kini berdiri di hadapanku, memimpin kami, adalah Sasuke beberapa bulan yang lalu. Sasuke yang melatihku dengan kejamnya. Rahangnya keras, sepasang alisnya mengkerut tajam. Aku takut. Takut wajah inilah yang akan terakhir kali terekam dalam kepalaku.

"Fokus, Sakura," tegurnya sembari memasang headset yang akan kami gunakan untuk berkomunikasi. "Saatnya mempraktekkan apa yang kuajarkan."

Aku menelan ludah susah payah. Caranya bicara membuatku gugup.

"Sasuke..."

Lagi-lagi ia membungkamku dengan ciumannya. Hanya sebentar, hanya sekilas, hanya untuk membuatku tetap diam.

Sepasang mata elangnya masih mengeras. Aku tahu inilah caranya menyembunyikan kegugupan. Ia tak ingin aku banyak bicara, tak ingin mendengar kata-kata yang mungkin akan mengganggu konsentrasinya. Semua ini membuat dadaku terasa semakin sesak.

Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan mengencangkan rompi anti pelurunya. Tanpa sadar, tanpa bisa kutahan, air mataku lolos begitu saja. Aku tahu ia tak ingin melihatnya, tapi ia merasakannya. Bisa kulihat dari caranya menahan napas beberapa kali. Tapi tetap tak mau menatap mataku.

"Semua akan baik-baik saja," gumamnya. "Aku sudah memasukkan sejumlah dana ke dalam rekeningmu. Jika aku tak selamat..."

"Jangan katakan itu."

"Dengar," katanya sembari menyentuh kedua pundakku. "Segalanya bisa terjadi di sana. Kau harus mempersiapkan kemungkinan terburuk..."

"Sasuke..."

"Dengarkan aku, Sakura." Ia setengah membentakku. "Apapun yang terjadi, dengan atau tanpaku, kau harus tetap menjalani hidupmu. Karena itu juga yang akan kulakukan jika aku menjadi dirimu."

Aku tahu bukan itu yang ingin ia katakan. Aku selalu percaya ia mencintaiku sebesar aku mencintainya meski Sasuke tak pernah mengatakannya. Aku percaya, karena aku merasakannya. Ia ingin aku kuat, dan tumbuh menjadi gadis yang tangguh. Maka dari itu, Sasuke sering mengatakan hal-hal kejam untuk memancingku. Ia tahu cara itu akan berhasil, terbukti kini air mataku mengering begitu saja.

"Sasuke, semua siap." Kakashi muncul dari balik pintu.

Kupandangi wajah keras di hadapanku lekat-lekat. Kami sama-sama terdiam, sebelum akhirnya ia memandangku tepat di mata lekat-lekat. Aku menanti kira-kira apa kata terakhir yang akan ia ucapkan sebelum ia meninggalkanku. Aku menunggu, berharap...

"Jaga dirimu."

Hanya itu.

Hanya itu yang ia katakan sebelum beranjak pergi. Aku akan tetap tinggal di markas, bersama Kakashi, untuk memantau dari kejauhan. Tentu saja Sasuke takkan membiarkanku terjun ke medan. Ia berangkat bersama Sasori, Neji, Shikamaru, dan beberapa anggota Exterminator lain yang masih setia.

"Saatnya bekerja, Sakura," kata Kakashi sekembalinya ia dari mengantar keberangkatan adik-adiknya.

Tuhan... Lindungi dia. Lama aku tak meminta padaMu. Kali ini saja, kabulkan permohonanku.

Tidak seperti biasanya, hari ini kantor kepolisian lebih sibuk dari biasanya. Gaara memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya dengan tatapan heran. Pemandangan serupa juga terlihat ketika ia memasuki ruang kerja ayahnya. Pria setengah baya itu nampak sibuk dengan berkas dan telepon yang menempel di telinganya.

"Kau membutuhkan sesuatu?" Ayahnya mengalihkan perhatian padanya ketika mendapati Gaara berdiri di ambang pintu.

"Sepertinya ayah sedang sibuk."

"Ada laporan akan dilakukan serangan besar-besaran oleh kelompok kriminal yang telah kami incar selama ini. Kelompok pembunuh bayaran yang telah membunuh pejabat negara kita."

Gaara mengerenyit bingung, kemudian memandang sebuah foto yang terselip di ujung salah satu map.

"Ayah harus pergi. Kita bicara nanti."

Gaara tak memperhatikan kepergian ayahnya. Ia lebih tertarik dengan foto yang ada dalam map tadi. Ditariknya perlahan, seketika matanya terbelalak. Ia kemudian membuka map-map lain. Ia mengenali wajah-wajah ini. Mengetahui data diri mereka tanpa perlu membaca data diri.

Memorinya segera kembali ke masa-masa awal ia sampai di Konoha.

Menghilangnya Sakura setelah kedua orang tuanya meninggal, dan tiba-tiba saja muncul di Konoha.

Sosok misterius Sasuke.

"Hmmm...setahu ayah klan Uchiha sudah lama punah dalam sebuah kasus pembunuhan. Pelakunya adalah putra sulung dari keluarga itu sendiri. Tak jelas apa motifnya, namun sampai sekarang ia masih buron. Satu-satunya yang tersisa adalah si bungsu. Ayah tak ingat nama kecilnya. Saat itu ia langsung diambil kerabat dekatnya."

"Aku dan Sasuke sudah lama saling mengenal, ayah Sasuke adalah rekan kerja ayahku saat berada di Amerika. Tapi kami memang jarang berkomunikasi sebelumnya. Setelah kejadian mengerikan yang menimpa keluargaku, keluarga Sasuke memintaku untuk tinggal bersama mereka di Konoha,"

"Hubungannya dengan Sasuke tak sesederhana yang kau pikirkan."

Kecelakaan Sakura yang ditutup-tutupi.

Kematian Naruto.

Kepergian Hinata.

Menghilangnya Sasuke, Sakura, dan semua teman satu gengnya dari sekolah.

"Exterminator?" gumam Gaara tak percaya. Ada foto Sasuke di sana. File ini adalah file rahasia kepolisian, dan kenapa pula selama ini mereka tidak menyebarkannya? Mengapa mereka diam saja jika memang Sasuke adalah pembunuh bayaran yang berbahaya? Ada yang tidak beres. Dan apapun yang mereka semua rencanakan sekarang, nasib Sasuke dalam bahaya. Bisa jadi begitupun dengan Sakura.

Sakura.

Gadis kecilnya.

Gaara meraih ponselnya. Nada panggilan kedua, Sakura mengankat panggilannya.

"Sakura..."

Sasuke POV

"Jadi begini rencananya."

Aku mulai menjelaskan rute penyergapan kami. Tujuan utamaku adalah untuk menghancurkan markas mereka. Memusnahkan apapun yang direncanakan Madara untuk melanjutkan rencana gilanya. Menurut Sakumo, saat ini Madara sedang merencanakan rekayasa genetik yang lebih masive. Kali ini pemerintah melindungi, memastikan rencana mereka tidak sampai didengar dunia.

Aku tahu, kegilaan Uchiha sudah melegenda. Yang dilakukan Madara bukan untuk memperkuat pertahanan negara. Ia jelas ingin memonopoli militer. Dengan menguasai militer, akan mudah baginya melakukan kudeta dan mengambil alih pemerintahan. Itulah alasan mengapa ia menciptakan Itachi, alasan mengapa ia menciptakanku.

Sejarah hidupku masih menjadi rahasia antara diriku dan Sakumo. Orang-orang ini, yang kini membantuku untuk menyelesaikan semua kekacauan ini, tak pernah tahu untuk apa mereka berperang. Keberadaan mereka memang tak lebih dari pengalih perhatian. Karena seperti apa yang dikatakan Sakumo, harus aku yang mengakhiri segalanya.

Setelah menjelaskan rencana yang kurancang, kami segera bersiap untuk turun.

"Kau akan menyusup sendirian?" Neji, rekan setiaku setelah Naruto, kekhawatiran jelas terasa dari caranya bertanya.

"Aku butuh banyak pengalih perhatian di luar."

"Kau tahu, kan. Waktu kita tak banyak. Aku yakin polisi akan datang kurang dari satu jam."

"Polisi mungkin sudah ada di sini. Dengar, jika dalam waktu empat puluh lima menit aku belum keluar, kau harus menarik pasukan mundur."

"Bagaimana denganmu?"

"Aku kapten kalian," kataku pongah, membuatnya memutar bola mata bosan. "Tenanglah. Aku bisa mengatasinya. Aku bisa. Aku selalu bisa."

Neji tak lagi menyahut. Ia melepaskanku sebelum akhirnya segera bergabung dengan yang lain.

Aku bisa melakukannya.

Aku bisa mengakhirinya.

Aku selalu bisa.

Sakura POV

Kakashi memandangku bingung setelah aku mematikan panggilan dari Gaara. Tiba-tiba saja Gaara menghubungiku. Ia bilang ia tahu tentang Akatsuki. Ia tahu tentang kami dan rencana yang telah kami susun untuk malam ini.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Gaara. Dia bilang dia tahu siapa kita."

"Gaara?"

"Sabaku Gaara. Dia teman masa kecilku."

"Sabaku?" Kakashi nampak berpikir sejenak. "Dia putra kepala kepolisian Konoha?"

"Dari mana kau tahu?"

"Ibunya dulu adalah anggota Akatsuki. Ia menikah dengan seorang polisi untuk melakukan penyamaran. Ibunya... ibunya meninggal di tangan Sasuke."

"Apa?"

"Aku tak tahu apakah Sasuke mengetahuinya. Yang jelas hubungan kita dengan pihak berwajib semakin buruk setelah kejadian itu. Si Sabaku senior ini telah lama memburu dan mengawasi kita. Ia bahkan bekerja sama dengan Akatsuki."

"Jadi itu alasan kepolisian berpihak pada Akatsuki?"

"Mereka tidak tahu kebenarannya. Ini semua pasti ulah Madara. Mereka tak tahu siapa Akatsuki. Kau tahu, dendam bisa membutakan segalanya. Jika sudah menyangkut masalah pribadi, segalanya bisa terjadi."

Aku terdiam.

Beku.

Bingung.

Pandanganku kemudian teralih pada kawan-kawan, tidak, saudara-saudaraku yang sedang berjuang di sana. Mereka telah terkepung. Dan Sasuke, aku melihatnya dari salah satu kamera pengintai, ia masuk sendiri sementara yang lain mencoba mengalihkan perhatian dengan membuat keributan. Benar saja, seluruh petugas keamanan langsung bergerak menuju sumber ledakan, hasil ulah Sasori barusan.

Kekasihku ada di sana.

Ia sedang dalam bahaya.

Aku tak bisa apa-apa.

Sasuke POV

Suara ledakan pertama mulai terdengar. Aku melangkah memasuki gedung perlahan melalui pintu belakang. Aku sepenuhnya sendirian. lorong ini sepi tanpa pengawasan. Tiga ruangan dari sini, tempatku berdiri. Aku tinggal memasang bom waktu, meledakkannya dan semua akan berakhir. Aku bisa keluar dengan aman, memeluk kekasihku sampai puas. Dan mungkin seperti rencana yang kucuri dari Sasori tempo hari, aku dan Sakura mungkin bisa membuka toko bunga bersama.

Sebenarnya aku juga tak terlalu terkejut ketika langsung ditodong pistol dari belakang setelah berhasil memasuki ruangan lab. Adalah Itachi yang menodongkan senjatanya ke belakang kepalaku. Tubuhku bergetar gugup. Aku sendirian, tanpa kawan, di hadapan lawan-lawanku. Tapi aku tak bisa lagi mundur.

"Bukankah ini terasa seperti reuni keluarga?" ujar Madara sembari melipat kedua tangannya di hadapanku. "Kau selalu bertingkah ceroboh. Masih sulit mendengarkan, eh? Aku yakin kau bukan tak tahu akan berakhir di sini. Menyerahlah, dan kita bisa menyelesaikan segalanya baik-baik. Kau akan menjadi objek yang menyenangkan untuk diteliti."

Aku hanya diam.

"Mana yang kau pilih. Tembakan Itachi, atau suntikan mati?"

Kadang aku merasa penasaran. Mungkinkah Itachi benar-benar tega membunuhku? Sejak kecil ia terbiasa berpura-pura membenciku di depan ayah. Agar ayah menaruh kepercayaan penuh padanya. Bukan untuk kepentingannya, tapi demi kepentinganku.

Mendapat kepercayaan ayah, berarti mendapat kepercayaan untuk mengurusku. Dengan bersikap seolah berada di pihak ayah, ia sering membebaskanku dari hukuman, dari pukulan ayah. Aku baru mengingatnya sekarang, di saat-saat genting seperti sekarang. Aku masih belum bisa memaafkan dirinya yang tega membunuh orang tua kami. Tapi mendengarkan penjelasan Sakumo tempo hari, sepertinya aku mengerti.

Aku bisa memaafkannya.

"Suatu kehormatan jika aku bisa mati di tangan kakak kandungku," sahutku datar.

Setengah hatiku berharap Itachi masih akan melindungiku seperti ketika kami masih kanak-kanak. Tapi aku tak bisa banyak berharap. Jika aku mati sekarang, chip yang kutanam dalam tubuhku akan mengaktifkan bom ini secara otomatis. Aku tak peduli jika harus mati. Yang terpenting tujuan utamaku tercapai.

Aku memejamkan mata, bersiap menjemput ajalku. Dentaman pistol beberapa kali terdengar, tak ada rasa sakit. Aku sedikit terkejut karena sampai dentaman kelima, tubuhku masih kokoh berdiri.

"Kau bisa membuka mata."

Di hadapanku. Madara dan beberapa pengawalnya jatuh bersimbah darah. Apa semuanya sudah berakhir? Semudah ini?

Aku menoleh ke arah Itachi. Pandangannya masih dingin, tapi aku kenal caranya menatapku. Ini adalah caranya menatapku di depan Ayah—berperilaku seolah membenciku. Bagaimana bisa aku tak pernah menyadarinya?

Ia masih Itachi yang sama.

Ia masih Itachi yang dulu.

Ia masih kakakku.

"Kita tak punya banyak waktu."

Ada banyak hal dalam kepalaku yang ingin kutanyakan padanya. Ada banyak hal yang perlu kami bicarakan. Ini adalah pertama kali, setelah belasan tahun kami berpisah. Tapi waktu kami terbatas. Kami tak punya banyak waktu.

Kami segera melangkah ke luar ruangan. Melintasi lorong dengan sedikit terburu, kubiarkan ia memimpin langkah kami. Tunggu dulu. Ada satu hal yang belum kuperhitungkan.

"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari basement setelah kita meletakkan bomnya?"

"Sekitar lima menit."

Aku berhenti melangkah. Itachi mengikuti. Ia memandangku dengan tatapan bertanya.

"Waktunya hanya di set untuk dua menit."

Kami saling memandang untuk beberapa saat. Berarti harus ada yang mengorbankan diri. Itachi memandang tas berisi bom yang tersampir di punggungku. Ia akan menawarkan diri. Aku tahu itu.

"Biar aku yang melakukannya."

Sepasang matanya yang semerah darah memandangku sungguh-sungguh. Kakakku ini, telah menghabiskan seluruh hidupnya berkorban untukku. Seperti semua orang. Seperti yang dilakukan orang-orang di sekitarku. Rin, Sai, Naruto, para pengawal, dan orang-orang yang merasakan kehilangan, tak terhitung jumlahnya. Semua orang mempertaruhkan hidup untuk menjagaku. Apakah aku bisa membiarkan dia, kakakku, mati demi aku? Menambah daftar nama orang-orang yang berkorban demi diriku?

"Tidak. Aku yang akan melakukannya."

"Sasuke..."

Tanpa basa-basi, aku segera menembak kaki kanan Itachi hingga ia terjatuh. Erangan kesakitannya kuabaikan, aku segera menyalakan alat komunikasi, mencoba menghubungi Neji.

"Waktumu kurang dari sepuluh menit untuk membawa Itachi keluar dari gedung ini. Dia tertembak, lima meter dari laboratorium. Tidak, lukanya tidak serius, ia hanya akan sulit berjalan. Segera bawa dia dan seluruh pasukan mundur. Jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja," tungkasku sebelum mematikan sambungan.

"Lukamu tak serius. Akan sembuh dalam waktu kurang dari sebulan."

"Kau tau bukan itu yang menjadi masalah," sahutnya marah.

"Aku... aku tak bisa membirakan semua orang berkorban untuk menjagaku tetap hidup. Mengorbankanmu, satu-satunya keluarga yang kupunya, hanya akan menambah rasa bersalahku."

"Kau tidak bisa melakukan ini, Sasuke."

Aku tak menyahut dan segera melangkah menjauhinya.

Aku tahu ia menyayangiku. Tahu ia akan melakukan segalanya untuk melindungiku. Tapi aku tak lagi membutuhkannya. Aku harus menyelesaikan semua ini sendiri. Menebus rasa bersalahku kepada mereka yang rela berkorban nyawa untukku.

Sakura menundukkan kepalanya putus asa. Sasuke memasuki ruang berisi pipa gas dengan tenang, semua itu terlihat di layar. Beberapa saat, kekasihnya itu seperti mencari-cari sesuatu. Sampai akhirnya pandangan mereka bertemu, Sasuke menemukan kamera CCTVnya.

Sakura bisa melihat senyuman tipis di bibirnya. Sasuke memberinya isyarat untuk menyalakan alat komunikasi mereka. Sejenak Sakura merasakan De javu. Sasuke pernah melakukan hal yang sama saat menjalankan misi bersama Ino dulu.

"Hai," sapa Sasuke datar sembari mengeluarkan bom dari dalam tasnya.

"Aku ingin menamparmu sekarang," ujar Sakura, diiringi air mata yang mengalir di pipinya.

Sasuke terkekeh ringan, masih sibuk mengatur letak bom di salah satu pipa gas berwarna merah yang ada di dekatnya. Laki-laki itu, kenapa terlihat bahagia di saat-saat terakhirnya?

"Aku mencuri ide Sasori tempo hari. Aku mengatakan padanya bahwa setelah misi ini selesai, kita berdua akan membuka toko bunga bersama. Sepertinya kau yang harus membuka toko bunga sendirian."

"Kau ingin aku mengantarkan bunga ke makammu setiap hari?"

Sasuke terdiam sejenak, kemudian tersenyum sembari melanjutkan, "Tidak. Kau boleh memilikinya sendiri. Aku tak ingin kau bertingkah seperti janda kesepian. Kau sudah berjanji akan melanjutkan hidupmu, kan?"

Sakura berusaha keras menahan isakannya. Di sampingnya, Kakashi melepas headphonenya. Memberikan privasi sepenuhnya kepada Sakura dan Sasuke.

"Apa kau menangis?"

"Menurutmu?"

"Jangan membuat wajah jelekmu semakin buruk. Nanti kau akan sulit menemukan penggantiku."

"Bajingan."

Sasuke tertawa. Tawa lemah yang berakhir dengan desahan putus asa. Dipandangnya layar penghitung waktu yang belum berjalan. Ia harus melakukan ini. Ia sangat ingin menangis sekarang. Tapi ia tak mau kesakitannya menjadi memori terakhir yang melekat dalam pikiran perempuannya.

"Kau harus hidup bebas setelah ini, bersenang-senang, dan melakukan segala hal yang belum sempat kulakukan."

Sakura tak menjawab. Jantungnya terasa diremas kuat tanpa ampun. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isakannya mati-matian.

"Mungkin aku akan bertemu putraku di sana. Menurutmu dia mau berbagi tempat denganku di surga? Apakah dia akan membenciku?"

"Kau ayah yang baik, Sasuke. Dia akan memaafkanmu." Sakura berusaha sebisa mungkin terdengar tegar.

"Waktu kita cuma dua menit dari sekarang." Sasuke menyalakan penghitung waktunya. Kemudian memilih bersandar memandang ke arah CCTV.

Sasuke POV

Aku memandangnya dari sini. Meski tak bisa melihat parasnya, aku bisa membayangkannya. Ia pasti sedang menangis, air mata membasahi wajahnya, ah... jelek sekali dia dalam kepalaku. Apakah Kakashi ada di sampingnya? Apakah Kakashi akan menenangkannya? Kami berdua punya perjanjian berkenaan tentang Sakura. Kuharap Kakashi menepatinya.

"Kenapa kau lakukan ini padaku?"

Mengagumkan. Aku tak mendengar keputusasaan di sana. Aku bisa merasakan kemarahan, kekecewaan, tapi ia tak terdengar lemah. Ia telah menjadi Sakura yang berbeda. Aku semakin yakin. Ia akan sembuh dalam waktu singkat. Dukanya tak akan berlalu terlalu lama.

"Ada satu hal yang selalu ingin kuketahui," aku menjeda sejenak kalimatku. "Jika suatu saat kita bertemu kembali di kehidupan yang akan datang, apakah kau masih akan tetap mencintaiku?"

Aku mendengar desah napasnya. Ia menghembuskannya keras-keras sebelum menjawab tegas, "Aku akan tetap mencintaimu. Bahkan meski kau terlahir kembali sebagai anjing sekalipun."

Jawabannya membuatku tersenyum samar. Kulirik waktu yang mulai menipis. Kurang dari semenit. Aku hanya punya waktu kurang dari semenit untuk mengucapkan kata terakhirku padanya.

"Terima kasih. Jawabanmu membuatku lega."

Dua puluh detik tersisa.

"Sakura..."

Sepuluh

Sembilan

Delapan

Tujuh

"Aku mencintaimu."

Sakura's POV

Gelap.

Layar di hadapanku berubah gelap setelah Sasuke mengucapkan kata terakhirnya. Kupikir aku akan menangis kencang, nyatanya aku hanya terpaku diam. Kupikir aku akan berteriak histeris. Nyatanya aku hanya meletakkan headset, mematikan alat komunikasi kami barusan, kemudian tenggelam dalam diam. Aku bahkan hanya pasrah ketika Kakashi membawaku dalam pelukannya.

Sasuke telah mempersiapkanku untuk melewati masa ini. Itulah yang ia lakukan selama ini. Aku tahu ia tak ingin ditangisi. Aku tahu ia tak mau aku kalut terlalu lama.

Aku berduka, tapi yang kurasakan kekosongan.

Apakah aku masih bisa menjalani hidup setelah ini?

Aku tak tahu.

Tapi aku ingin.

Aku akan buktikan padanya, bahwa aku bisa hidup meski tanpanya.

Setidaknya di akhir hidupnya, aku tahu. Aku tahu Sasuke mencintaiku. Ia mencintaiku hingga detik terakhir hidupnya. Dan aku akan mencintainya sepanjang hidupku.

TBC

Special Quotes :

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."

Sapardi Djoko Damono

Chap selanjutnya : Epilog

Chapter ini udah lama banget aku tulis. Tapi gabisa diupload karena entah mengapa aku gabisa masuk ke situs fanfiction. Kemaren iseng buka.. eeh... bisa.. he he he *ditampol readers.

Well... aku kangen banget nulis di sini...

Fanfic ini ada entah sejak naruto sampe di gurun mana... sampai akhirnya tamat... waaah... sepertinya aku lama sekali menelantarkannya... ngahahahahahahahaha...ha...haha..ha *dijambak*siram minyak tanah*bakar bareng2* wkwkwkwk...

Maap yaa... saya kuliah sekarang... biasa... sibuk... nyehehehehe... *alesan lagi*

Udahlah yaa... apapun alasan saya pasti tak termaafkan... jadi... akhir kata... maaf yang sebesar-besarnya sekaligus terima kasih sebanyak-banyaknya bagi yang sudah bersedia menunggu. Akhirnya ffn kesayangan saya ini khatam juga. Masih sisa satu epilog sih... ehehew...

Ada satu readers yg minta banget namanya disebut... si Nicke tuh... cewe sok imut yg sok2 nyapa di fb dan akhirnya sampe sekarang SKSD chat2 di bbm... ciiihhh. Tapi makasih loh selalu ngejar2 mendekati neror sampe akhirnya chap ini kuaplod. Demi kemaslahatan umat... aha ha ha ha *garing lo anjir*

Yaa gitu laah... terima kasih semua... insyaallah epilognya ga lama... *dilempar bakiak*

Sayang kalian laah pokonya :*