Epilog

Suara lonceng pintu mengalihkan perhatian gadis berambut gulali yang kini tengah sibuk menata bunga-bunga di dalam vas untuk keperluan display. Usaha yang sudah digelutinya kurang lebih tiga tahun terakhir ini belakangan kurang berjalan baik. Musim yang anomi dan suhu yang ekstrim membuat beberapa bunga kesayangannya lebih mudah layu dan tidak bisa terlihat cantik bahkan sejak pertama datang dari pengiriman.

"Apa kau masih buka?" suara baritone yang entah mengapa terasa familiar itu membuatnya mengalihkan perhatian sepenuhnya pada seseosok pria berkemeja biru laut yang dipadukan dengan celana khaki dan sepatu pantofel coklat. Hujan di luar demikian derasnya, dan lelaki dengan aura mengintimidasi ini sepertinya tak terjamah air sejengkalpun. Bahkan rambut legamnya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda tetesan air.

"Ah, ya, maaf. Ada yang bisa kubantu?"

"Aku akan makan malam dengan seseorang. Aku butuh bantuanmu untuk memilihkan bunga untuknya."

Si gadis berambut gulali tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Seperti apa perempuan beruntung itu?"

"Aku belum begitu mengenalnya, tapi yang kutahu ia cantik. Sangat cantik."

"Aku butuh sesuatu yang lebih spesifik, Tuan."

Lelaki berwajah angkuh itu nampak berpikir. Namun entah mengapa ia terlihat tidak sedang berpikir dengan sungguh-sungguh. Raut wajahnya justru terkesan menggoda dan sengaja mengerjai penjual bunga di hadapannya.

"Begini saja. Rangkaikan aku bunga yang paling kau sukai. Aku akan membelinya."

Si gadis berambut gulali mengerenyitkan matanya, namun enggan mendebat. Ia kemudian memilih beberapa tangkai lily putih dan mawar berwarna pink. Bisa ia rasakan pelanggan pertamanya hari ini tersebut tengah memandanginya dari balik punggung. Belakang tubuhnya sampai-sampai terasa panas, seolah-olah mata setajam elang pria itu mengeluarkan laser yang bisa membakar tubuhnya. Maka ia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar dapat segera menyerahkan bunga itu pada lelaki bermata kelam itu. Setelahnya, ia segera mengurus pembayaran dan memindahtangankan bunga tersebut kepada si pria.

"Aku rasa kau pandai mendeskripsikan dirimu," kata si pria dengan nada jenaka.

"Maaf?"

Si pria menyerahkan buket bunga di tangannya, "Aku membelinya untukmu."

Si gadis berambut gulali semakin bingung. Ia tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan pria tampan yang rasa-rasanya sulit untuk dicap sebagai orang kurang waras itu.

"Aku bahkan tidak mengenalmu, Tuan."

"Kalau begitu kita bisa berkenalan sekarang," pria itu berkata sembari menarik kembali bunga di tangannya, dan memindahkannya ke tangan kiri. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan si gadis gulali. "Sasuke. Uchiha Sasuke."

Meski ragu, si gadis gulali menerima jabatan tangan pria aneh di hadapannya. "Sakura. Haruno Sakura."

Mereka kemudian saling bertukar senyum untuk sejenak.

"Jadi... kau ada waktu?"

"Untuk?"

Sasuke kembali mengangkat rangkaian bunga di tangannya, "Makan malam, denganku."

"Ah... itu."

"Kau sibuk? Banyak pesanan?"

"Tidak.. tidak.. hanya saja kau menakutiku. Kau tidak sedang berusaha menggodaku untuk kau jual, kan?"

Sasuke tertawa renyah. Tuduhan Sakura tak pelak membuatnya terpingkal senang.

"Tentu saja tidak. Hari ini suasana hatiku sedang baik. Aku lewat di depan tokomu untuk kesekian kalinya dan terpikir untuk mengajakmu kencan, mengingat toko bungamu sedang sepi-sepinya," katanya penuh percaya diri. Seolah ia bisa kapan saja mengajak perempuan di hadapannya berkencan dan perempuan itu sudah pasti tak akan menolaknya.

Sakura tersenyum. Jadi pria ini sudah lama memperhatikannya, atau toko bunganya.

"Kalau kau masih tidak percaya, ini, kuberikan tanda pengenalku. Aku tinggal tak jauh dari sini, Nona," katanya meyakinkan sembari mengeluarkan tanda pengenalnya dari saku. Tentu saja Sakura tak membutuhkannya. Ia percaya bahwa lelaki di hadapannya tidak sedang berbohong.

"Baiklah.. baiklah.. aku mempercayaimu."

Sasuke tersenyum puas. Ia kemudian kembali menyodorkan rangkaian bunga di tangannya, "Terimalah.. aku bukan lelaki feminin yang cocok menenteng-nenteng bunga terlalu lama," katanya.

Sakura menerimanya dengan senang hati. Ia mengiyakan ajakan Sasuke untuk makan malam bersama. Untuk sejenak, Sakura merasakan suasana familiar. Hal yang jarang ia rasakan selama tiga tahun terakhir hidup di kota yang asing ini. Ia kemudian mengalihkan tatapan sepenuhnya kepada sosok yang mengaku bernama Sasuke di hadapannya. Ada kesiap di mata kelam lelaki itu, meski hanya sejenak. Mereka bertatapan untuk beberapa menit yang hening.

"Apa aku mengenalmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Sasuke nampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis di hadapannya. Pupil matanya sempat membesar untuk beberapa saat. Ia kemudian memunculkan seulas senyum sembari menjawab tenang, "Aku rasa tidak."

Flashback...

Kakashi POV

Aku langsung menangkap tubuh Sakura begitu gadis itu terjatuh, dan menyuntikkan cairan yang telah dipersiapkan Sasuke. Untuk beberapa saat, tubuh Sakura sempat mengejang. Ia menggumamkan kata-kata yang tidak bisa kumengerti, namun kemudian tubuhnya berangsur-angsur tenang. Sasuke bilang cairan ini akan membuat Sakura tertidur untuk beberapa saat, dan kemungkinan akan kehilangan memorinya. Ia kemudian menjelaskan rangkaian skenario yang harus kujalankan setelah Sakura terbangun nanti. Ternyata Sasuke telah mempersiapkannya dengan matang.

"Kenapa kau harus menghapus memorinya?"

Sasuke nampak enggan menjawab, namun sadar aku tak akan mau melakukan semua ini tanpa motif yang jelas.

"Setiap malam ia selalu mengigaukan kejadian di mana ayah dan ibunya meninggal. Ia selalu bermimpi buruk, dan aku tidak kuat melihatnya. Aku akan menghilang dari hidupnya untuk waktu yang lama. Mana bisa kubiarkan ia menderita sendirian."

"Tapi ia akan melupakanmu."

"Itu akan lebih baik," sahutnya singkat, meski kegetiran nampak jelas dari nada bicaranya. "Kakashi.. aku menitipkannya padamu. Jadilah orang yang akan selalu mendengarkannya selagi aku tak ada."

"Kau akan kembali?"

Sasuke hanya tersenyum, kemudian keluar dari ruanganku tanpa berkata.

Ia selalu saja seperti itu.

Sakura tertidur hampir satu bulan lamanya. Sasori bilang itu hal yang wajar. Ia akan kehilangan memori lima tahun terakhir. Dan mungkin akan membutuhkan bantuan untuk terapi motorik. Tentu ini akan semakin membantu memperkuat alibi kecelakaan yang kami ciptakan.

Sakura terbangun pada minggu keempat. Ia menatap langit-langit kamar dengan linglung. Aku masih menunggu sampai ia bereaksi. Setengah hati khawatir juga kalau ternyata cara ini tak berhasil.

"Aku.. di mana?"

"Kau sudah sadar, Sakura?"

"Apa yang terjadi? Di mana orangtuaku?"

"Apa memori terakhir yang kau ingat?" tanyaku sembari mengambil bangku untuk duduk di sampingnya.

Sakura memegang kepalanya, kemudian menyadari ada selang infus tertancap di pergelangan tangannya. Ia nampak benar-benar kebingungan.

"Pantai... aku dan orangtuaku sedang ke pantai. Musim panas..."

"Kau dan keluargamu mengalami kecelakaan, Sakura. Memori yang kau ingat barangkali adalah memori bebeapa tahun yang lalu. Sekarang musim semi. Dan tempat terakhir yang kalian kunjungi jelas bukan pantai."

Sakura nampak berusaha mencerna kata-kataku. Kemudian mulai menangis saat menyadari apa yang kumaksudkan.

"Maksudmu aku sendirian mulai sekarang? Aku tidak punya siapa-siapa?"

"Aku turut berduka, Sakura. Tapi kau tidak perlu khawatir. Segala aset, asuransi, dan masa depanmu sudah dipersiapkan. Orangtuamu mempersiapkan segalanya dengan baik. Mereka menitipkanmu padaku."

Ia terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya berusaha berpikir jernih.

"Apa aku mengenalmu?"

"Aku Kakashi, pengacara keluarga sekaligus wali untukmu. Kau akan menjalani serangkaian terapi untuk memulihkan kondisimu."

Hari-hari selanjutnya diisi dengan kegiatan terapi. Sakura punya tekad yang kuat untuk sembuh. Tak heran terapinya berjalan lancar dan cepat. Setelah satu bulan berselang, dan ia diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, ia muncul di ruang kantorku. Ia terlihat sudah kembali bugar dan sehat. Senyuman juga telah kembali menghiasi wajahnya.

"Jadi kau yang menjalankan perusahaan keluargaku selagi aku koma?" tanyanya. Tentu saja. Aku menjalankan perusahaan keluarganya bahkan sejak ia tergabung dalam Exterminator. Dan siap kapan saja menyerahkannya kembali ke tangan gadis tangguh ini.

"Ya, dan kau bisa mengambilnya kapan saja."

"Aku tidak menginginkannya," sahutnya sembari menatap ke luar jendela gedung. "Aku ingin melakukan hal lain."

"Begitukah? Apa yang ingin kau lakukan, Sakura?"

"Selama koma aku bermimpi hidup di dalam sebuah rumah penuh bunga, di atas sebuah bukit hijau. Aku begitu bahagia di sana. Apakah mungkin aku bisa membangun toko bunga dengan uang yang ditinggalkan orangtuaku?"

Aku menatapnya sejenak. Ia nampak sungguh-sungguh hendak melepaskan perusahaan ini dan memilih mendirikan toko bunga. Untuk sepersekian detik kukira ingatannya telah kembali.

"Tentu. Kau bahkan bisa menciptakan ladang bungamu sendiri kalau kau mau. Aku sungguh-sungguh. Uang orangtuamu lebih dari cukup untuk itu."

Sakura tertawa ringan. Ia kemudian tersenyum memandangku. "Tidak, Kakashi. Aku ingin toko bunga, yang sederhana saja, di sudut kota ini."

Maka begitulah Sakura.

Sesekali ia masih datang ke kantorku untuk mengirimkan bunga dan bercengkrama tentang mimpi-mimpinya. Kukira Sasuke memang benar. Gadis ini tumbuh dengan lebih ceria dan sehat daripada yang kukira. Ternyata kadang tidak ada yang salah dengan melupakan. Tidak ada yang salah dengan memulai segalanya dari awal. Untuk sejenak, aku benar-benar merasa iri pada Sakura.

Hingga setahun berselang, gosip tentang kebangkitan Akatsuki dan Exterminator di Konoha masih sering terdengar. Padahal kedua organisasi itu sudah sama-sama mati. Seluruh anggota kami yang tersisa memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing. Termasuk aku, yang harus menjaga dan memastikan Sakura baik-baik saja di kota yang serba sederhana ini. Ya, sebagaimana pesan Sasuke, kami memutuskan untuk menjauhkan Sakura dari Konoha, Tokyo, dan tempat-tempat yang mungkin masih menyisakan orang-orang dari masa lalunya.

Bicara soal Sasuke, dua tahun setelah ia menghilang, akhirnya manusia tidak tahu diri itu muncul juga. Kalian mungkin bisa menebak bagaimana kemunculannya, namun tak akan pernah menyangka melihat tampilan barunya. Ia terlihat begitu segar dan bahagia, entah apa yang telah ia lakukan selama ini.

"Jadi... kau kembali?" tanyaku ketika menemukannya duduk di balik meja kerjaku seperti bos besar. Bisa dibilang aku senang dengan kemunculannya, namun enggan terlalu menunjukkan. Nanti kepalanya yang besar itu bisa semakin besar.

"Yap."

"Kemana saja kau selama ini?"

Sasuke memainkan bunga di sudut meja, tak menghiraukanku. Bahkan hingga aku duduk di hadapannya.

"Aku memulai usahaku sendiri."

"Apa? Menanam ganja?"

Sasuke terkekeh ringan. Hal yang hampir tak pernah kudapati selama mengenalnya. Tak pelak akupun tersenyum.

"Kau tahu, jika ingin muncul di hadapannya, aku harus menjadi seorang gentleman. Aku harus menjadi seorang pria sukses yang keren," katanya jenaka.

"Jadi kau akan tinggal di sini mulai sekarang?"

"Mungkin."

"Kau akan menemuinya?"

"Bisa jadi."

"Sasuke.." sahutku yang mulai jengah.

"Apa? Dia terlihat baik-baik saja tanpaku. Jadi kenapa harus terburu-buru?" katanya seraya bangkit dan bergerak menuju pintu. "Kakashi, kurasa kau harus berkencan. Kau tahu, dua tahun terakhir adalah saat-saat paling menyiksa karena aku tak bisa melampiaskan hasratku pada wanita. Aku tak bisa membayangkan penderitaanmu yang sudah.. yaah.. mungkin hampir sepuluh tahun tidak bersentuhan dengan wanita manapun."

"Keluar dari ruanganku, Sasuke."

Ia tertawa sebelum berlalu pergi.

Aku pun tak bisa untuk tidak ikut mendengus geli.

Sasuke... andai saja kau tahu... berkali-kali aku hampir menghianatimu dengan berniat untuk menyimpan Sakura untukku sendiri.

End.

Fin.

Tamat.

Author's last notes:

Maafkan aku yang telah mengabaikan fanfiction untuk beberapa tahun terakhir.

Iya tau harusnya aku apdet Juli tapi ternyata revisi skripsi itu memakan waktu.. ehehe hehe hehe *banyak alasan*

Jujur aku udah nggak minat nulis ffn, karena... naruto... sudah... tamat... yeeeey! *digemplang*

Alhamdulillah aku sudah lulus dari Sastra Indonesia, dan sekarang lagi nyari kerja... minta doanya yaah...

Selama kuliah aku banyak banget belajar... dan tau karya sastrawan-sastrawan kece macem Seno Gumira, Ahmad Tohari, dan pastinya favorit akuh Joko Pinurbo dan Putu Wijaya. Dari situ aku belajar menulis realis, dan pengen banget bikin karya sastra yang berwibawa.

Jeleknya... aku jadi nggak produktif karena lebih nggak percaya diri buat nulis (secara aku selalu membandingkan diri sama sastrawan kece).

Bagusnya... aku belajar berbagai gaya penulisan yang akhirnya menyebabkan aku berfikir, mungkin aku udah nggak cocok nulis di ffn.

Ffn akan selalu aku kenang sebagai tempat pertama aku mempublikasikan karya, ketemu temen-temen baru, kenal penulis-penulis kece, ah... pokonya keren deeh (jaman aku dulu yaa gatau sekarang soalnya udah lama nggak update).

Karena sekarang aku pengangguran, dan masih mempersiapkan diri buat S2 (atau kerja), aku mencoba untuk aktif nulis lagi, termasuk berusaha merealisasikan buat membukukan si Exterminator yang kemungkinan bakal aku jadiin novel sci-fi. This is my dream, jadi aku minta doanya yaah.

Karena aku juga udah nggak begitu sreg dengan ffn, dan merasa udah nggak bisa lagi nulis fanfic, aku memutuskan untuk menulis di wattpad sekarang. Aku pakai id kagumi_words . Buat kalian yang masih pengen baca tulisan aku, bisa mampir ke sana. Tapi sekali lagi maaf, aku udah nggak nulis sasusaku

Maaf dan terima kasih banget buat kalian yang udah setia menunggu, DM ke sana sini, sampai ke aku :,). Maaf kalau ada yang nggak aku bales karena jujur, susah banget buat ngebangun mood nulis lagi. Aku kayak.. hampir nyerah dan pengen jadi karyawan aja udah nggak mau nulis-nulis lagi karena segitu udah nggak pedenya buat nulis. Tapi kalian baik banget karena selalu nyemangatin aku, makanya aku berusaha keras nyelesein fiction yang satu ini.

Maaf yaa kalau hasilnya mengecewakan :')

Tadinya mau aku bikin sad-ending tapi nggak tega sama kalian. Jadilah kubuat begini.

Semoga kalian suka... dan selalu sayang sama Exterminator seperti aku sayang padanya.

Btw Senseless akan aku remake di wattpad dengan judul Gentas. Buat kalian yang masih mau baca (engga juga gapapa sih) sampai bertemu di sana...

Hug and kiss :*

Thanks to:

Semua readers yang sudah setia menunggu ampe bulukan, Bunda Fitri, dan Nicke Si Anak Hilang. Makasih juga buat semua yang udah ngasi info ke aku soal kasus plagiarisme beberapa bulan yang lalu dan bantu aku dengan menjadi jembatan buat meluruskan persoalan. You guys are awesome secara aku yg punya karya aja gatau ._.

Terima kasih semua... kalian udah kayak keluarga bagi aku

Keep writing!