Chapter 3: Let's Make It Simple
.
.
.
Previous Chapter 2 :
Dengan segera Jimin mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru bus dan tak menemukan tempat duduk kosong untuk Yoongi. Dia bingung harus berbuat apa untuk membuat si Min baikan, lalu tangan Jimin spontan saja ia tempatkan dipinggang Yoongi untuk menopang bobot tubuh si Min agar tak terhuyung atau oleng seperti tadi.
"Maaf, Sunbae a-aku melakukan ini. tapi tak ada lagi pilihan lain bangku yang lain sudah penuh semua dan aku tak ingin kau seperti tadi lagi, jadi aku melakukan i-ini. Kalau kau tidak suka, aku akan melepaskannya ..." Ujar Jimin sedikit terbata karena takut Yoongi menolak niat baiknya. Tak disangka Yoongi tak melarang Jimin melakukannya dan kini Yoongi tengah mengubah arahan berdirinya menghadap Jimin dengan wajah yang masih pucat.
"Terima kasih, Jim. Kau masih mau menolongku lagi." Lalu dengan sengaja Yoongi menyenderkan kepalanya kesisi bahu Jimin dan memejamkan matanya. Tanpa tahu bahwa kini Jimin kini tengah tersenyum tidak jelas dengan debaran jantung yang terpompa begitu cepat. Entah untuk alasan apa Jimin sedikit khawatir jika orang yang berada dihadapannya ini akan mendengar suara bombardir hatinya yang berdentum keras untuk seorang Min Yoongi.
_dyn_
Sudah beberapa hari sejak kejadian Yoongi sakit, Jimin tak melihat lagi batang hidung si ketua kesiswaan itu. Jimin menyangkal setiap kali dia selalu ditanya oleh Taehyung karena akhir-akhir ini si Park selalu datang terlambat kesekolah.
"Apa sebegitu rindunya kau ingin bertemu dengan dia hingga rela namamu tertulis hampir setiap hari di buku keramat itu hah?" Taehyung bertanya seadanya kala Jimin sudah menduduki bangku disebelahnya dengan nafas terengah sehabis dihukum tadi oleh petugas kesiswaan. Taaehyung segera menyodorkan minuman kepada sahabatnya itu dengan disertai kekehan halus terdengar dari sudut bibirnya.
"Astaga, ternyata kau sudah benar-benar jatuh kedalam pesona si ketua osis datar itu ya." Tutur si Kim namun dihadiahi oleh geplakan kencang dari Jimin lalu mengaduh kesakitan." Yaak, kau gila seenaknya saja menggeplak kepalaku. Memang aku salah ucap apa? Sudahlah jangan mengelak lagi Park, aku bukan setahun dua tahun mengenalmu, asal kau tahu."
Jimin terdiam tak menanggapi pernyataan dari Taehyung, sebagian dari cuitan si Kim memang benar tapi si Parknya saja belum mengakuinya. Dia masih bingung apa ini hanya perasaan sesaatnya saja hanya karena dia sering bertemu dengan Yoongi akhir-akhir ini. Atau mungkin ini memang jalan Tuhan yang harus ditempuh oleh Park Jimin agar mencapai tujuannya yaitu untuk mencintai seorang Min Yoongi.
Jimin terperanjat dari acara melamunnya karena si Kim yang berada disampingnya menggebrak meja terlalu keras dengan ekspresi tak percaya yang dibuat-buatnya.
"Heol!, atau mungkin kau ditolak oleh Yoongi Sunbae. Dan sekarang kau ingin balas dendam kepadanya, benar begitu Jim!?" ujar Taehyung kelewat ingin tahu akan kebenaran yang akan diklarifikasi oleh teman sejawatnya ini.
Si Park menggelengkan kepala pelan "Bukan begitu ... kau terlalu banyak mengonsumsi drama sih, jadinya otakmu hanya dikelilingi oleh adegan romantis tapi selalu berakhir dengan sad ending seperti yang kau katakan tadi." Lalu dia merangkul pundak sahabatnya itu dan menghela nafasnya pelan. "Kalau begitu, apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, Jim?" tanya Taehyung kepada Jimin yang melepas rangkulannya pada si Kim lalu berdehem sebentar sebelum berujar. "Itu... aku hanya ingin memastikan apakah hatiku ini masih berdentum jikalau aku melihat Yoongi Sunbae lagi." Kata Jimin sembari menerawang membayangkan jika abang kelasnya tersenyum hanya kepadanya.
Ingin rasanya Kim Taehyung menggelengkan kepala sembari memutar bola matanya malas mendengar ucapanya Jimin yang menurut sangat dramatis sekali. Meskipun dia penggemar drama korea sekalipun, Taehyung pikir kalau ucapannya itu dikatakan oleh seorang Park Jimin itu tidak mengena sama sekali karena itu jauh dari kata romantis malah terkesan seperti seorang buruk rupa yang merindukan bulan di malam purnama. Tentu yang menjadi si buruk rupanya adalah Jimin dan menjadi bulannya adalah Yoongi, dan Taehyung hanya menjadi seorang fanboy yang selalu setia didepan televisi menunggu keberlangsungan ceritanya.
"Stop, Jim. Kau membuatku ingin muntah pagi-pagi begini mendegar bualan menjijikanmu itu." Si Kim menatap jijik kearah sampingnya dan hanya ditanggapi santai oleh Jimin dengan mengedikkan bahu sempitnya. "hhh, terserah kau mau mendengarnya atau tidak tapi yang pasti aku rasa ... aku mulai ... menyukainya ..." ujar Jimin tenang setelahnya ia menghela nafas kecil dan Taehyung yang berada disebelahnya mendengarkan hanya dapat mengangguk pelan sembari menepuk pelan sebelah pundak Jimin dan berujar "Fighting!, semoga kau berhasil mendapatkannya. Jim"
.
.
.
_dyn_
Tangan Jimin baru saja akan mengetuk pintu yang berlabelkan 'Ruang Osis' tapi ia urungkan saat indra pendengarannya menangkap suara yang begitu ia kenali sepertinya sedang 'berceramah' yang dilayangkan Si Min dengan nada suara yang tinggi dan otoriter menurut Jimin. Sepertinya mereka sedang ada rapat bersama atau bisa jadi mereka sedang diberondong semburan api oleh si ketua kesiswaan tersebut.
Niat awal Jimin datang ketempat orang-orang membosankan ini karena ingin memberikan kunci rumah titipan Ibunya Jungkook kepada si Jeon sebab Ibunya akan pergi keluar kota dan akan pulang larut malam dan tak ingin anaknya menunggu untuk pulang kerumah. Jimin menyanggupinya dan tak disangkanya juga bahwa ini juga akan mengantarkannya untuk bertemu dengan Yoongi Sunbae. Bersyukurlah kau Jimin kepada Tuhan dan juga Ibunya Jungkook kalau tidak begitu kau takan bisa berjumpa lagi di Min Yoongi sekarang.
Selama 10 menit itu pula Jimin hanya duduk dibangku dekat ruangan osis itu. Menunggu keluarnya Jungkook dan juga tentu saja si manis datar super judes yang disangat ditunggu kehadirannya yang dipelupuk mata Jimin. Telinga si Park masih bisa mendengar suara si ketua kesiswaan itu walau sedikit tidak jelas, tapi percayalah bagi yang berada didalamnya pasti telinga mereka sudah memerah mendengarkan ujarannya yang sangat sarkastik dan penuh arogansi tersebut. Hati kecil Jimin berujar simpatik "Kasihan juga mereka yang ada didalam ya".
"Jimin? sedang apa kau disini?" Park Chanyeol siswa tampan nan gagah
kelas 11-2 yang menanyai Jimin tadi mengernyitkan dahi bingung dengan membawa bola basket yang berada ditangannya bersiap untuk berlatih.
Jimin mendongak kearah Chanyeol berdiri "Oh, Chanyeolli. Aku sedang menunggu Jungkook rapat untuk memberikan barang titipan Ibunya." seru Jimin untuk tanggapannya sambil tersenyum kepada Chanyeol.
"Dan juga menunggu Yoongi Sunbae tentunya." untuk yang satu ini disuarakan oleh Jimin didalam hatinya.
Chanyeol mengangguk pelan "Oh, begitu."
"Kau akan berlatih, Loey?" tanya Jimin
– Loey – nama panggilan si Caplang dikesatuan Tim Basketnya, diambil dari kata Yeol yang dibalikkan menjadi Loey oleh si empunya nama sampai-sampai dia juga membuat tato di sela jari lengannya dengan nama Loey itu.
Si Loey memantulkan bola itu ketanah beberapa kali sebelum menjawabnya "Hum, seperti yang kau lihat, Chim" Jimin mengangguk baru menyadari bahwa Namja jangkung yang ada dihadapannya kini memakai baju kebanggan Tim basketnya untuk berlatih."Benar juga. Kalau begitu semangat, nanti aku menyusul."
"KALIAN MENGERTI ATAU TIDAK APA YANG AKU BICARAKAN HAH!? KENAPA HANYA DIAM SAJA!."
Kedua Park itu terdiam dan saling berpandangan saat gendang telinga mereka mendengar 'raungan' harimau manis terdengar didalam ruangan osis tersebut. Kalau Si Chanyeol sih tidak tahu itu suara siapa, tapi si Jimin sangat kenal dan hapal betul mengenal suara tersebut
"Oke, aku pergi dulu. Berhati-hatilah Chim, kurasa yang didalam itu bukan rapat yang sesungguhnya, tapi itu rapat perkumpulan jiwa-jiwa yang akan dicabut nyawanya oleh sang malaikat maut yang mengerikan." Lalu setelahnya si Loey melengos pergi sambil bergidik ngeri tak berani membayangkan jika dirinya berada didalam ruangan tersebut bersama dengan malaikat maut tersebut.
Sementara Jimin hanya mengedikkan bahunya acuh setelah berlalunya Chanyeol dany kembali melanjutkan kegiatannya menunggu berakhirnya rapat yang dihadiri Jungkook.
"Sampai disini dulu pertemuan kita. Aku harap kalian dapat menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik dan teliti. Dan tidak melakukan hal yang sembrono seperti tadi lagi. Mengerti!" Ujar Yoongi lalu ditanggapi langsung oleh seluruh petugas yang berada disana dengan rasa segan "Ne" setelah itu mereka bubar meninggalkan tempatnya keluar dari ruangan tersebut karena rapat sudah berakhir.
Masih dengan nada tegas dan penuh otoriter Yoongi bersuara dan dapat didengar Jimin yang berada dibalik pintu tak sengaja menguping atau apapun. Dia hanya tak sengaja mendengarnya, karena bosan menunggu lama. Itu sebabnya dia mendegarkannya dengan seksama ketimbang dia hanya mendengar suara angin bulan Agustus yang begitu gemuruh menyapanya.
.
.
Pintu ruangan Osis itu terbuka lebar, menampilkan belasan orang-orang yang menurut Jimin membosankan karena mau saja mereka mempertaruhkan waktu belajarnya hanya untuk mengikuti kumpulan tersebut. Beberapa dari mimik wajah mereka bisa tertebak dengan mudah oleh Jimin sebab tak banyak dari mereka memasang wajah kusut sekaligus lelah, ada juga yang hanya memasang wajah tertekuk mungkin mereka sebal telah dicaci maki habisan dari sang ketua kesiswaan.
"Oh, Jimin Hyung! Sedang apa disini?" Jimin menengok kearah Jungkook yang kini tengah berjalan keluar ruangan menghampiri Jimin dengan membawa tumpukkan kertas yang Jimin tidak tahu itu apa.
Jimin membalas seruan dari Jungkook, dengan senyum kecil miliknya. "Ini dari Ibumu." Si Park menyodorkan benda titipan Bibi Jeon kepada Jungkook. Jungkook menerimanya setelanya berucap terima kasih kepada Jimin karena sudah bersedia mengantarkannya.
"Hyung, aku ada keperluan yang harus diselesaikan. Aku duluan yah." Pamit Jungkook meninggalkan Jimin sendirian masih berada ditempat yang sama yaitu didepan pintu ruangan berlebelkan OSIS.
Entah apa yang ada dipikiran Jimin sekarang. Tapi kaki dan tubuh Jimin masih enggan meninggalkan tempat itu, seolah bumi memaksanya untuk tetap berdiri menunggu seseorang yang akan segera keluar dari ruang osis tersebut.
.
.
Baru saja yoongi selesai mengunci pintu ruangan osisnya dia dikejutkan oleh sosok si Park yang hadir tepat dihadapannya dengan senyum terpatri diwajah tampannya. Kening Min Yoongi berkerut tiga lapis, bingung ada keperluan apa si Park berada tepat di depan pintu ruang Osis. Bukankah seharusnya siswa semacam Park Jimin alergi terhadap sarang orang-orang membosankan ini. Si ketua kesiswaan masih bungkam, enggan menanyakan perihal kedatangan Jimin kesini.
Jimin berdehem sebentar sebelum dia mengutarakan apa kepentingannya datang kesini dan bertemu dengan Min Yoongi. " Sunbae ..." Ujar Jimin kepada abang kelasnya sedikit ragu. Si Min hanya menanggapinya dengan ekspresi santai dan datar andalannya.
"I-itu apa keadaanmu sudah membaik?" percayalah saat si Park mengutarakan kalimat barusan dia sedikit gugup tapi dia sebisa mungkin menutupi kegugupannya didepan Yoongi. Yang ditanya terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh si Park belum sempat si Min menjawabnya malah kini si Park menyela sesaat sebelum Yoongi bersuara. Dan itu membuat dia kembali melengos tak percaya mendengar perkataan Jimin.
"Ahh, kurasa kau sudah baikan, mendengar kau menggemakan suaramu yang "merdu" tadi. Kurasa kau sudah sembuh dengan benar, iya kan Sunbae?"
Yang mengutarakan kalimat tersebut hanya mengedikkan bahunya acuh, melihat perubahan ekspresi dari ketua kesiswaan dihadapannya. Bukan apa-apa Jimin melakukan hal itu, karena dia hanya senang melihat Yoongi-nya bereaksi kesal dan marah daripada si Min hanya menampilkan wajah datar dan mengantuknya.
Dalam hati kecilnya si Park dia tersenyum kecil, saat sedang bermonolog dan menyebut "Yoongi-nya" ada perasaan hangat yang tak bisa dijabarkan melalui kata-kata dan hanya Jimin yang tahu apa yang dirasakannya dan tentunya orang lain tak boleh tahu.
.
.
_dyn_
Jam pelajaran ketiga setelah istirahat pertama, saat itu kelas yang dihuni oleh Jimin, Taehyung dan lainnya sedang membantu Jang Ssaem untuk mengoreksi soal kelas 12. Lebih tepatnya bukan membantu tapi dimintai bantuan oleh Jang Ssaem, karena tahu bahwa kelas Jimin sedang tak ada pelajan alias jam kosong sebab Kim Ssaem sedang ada keperluan mendadak. Awalnya mereka menolak untuk membantu Jang Ssaem, dengan alasan mereka ingin menikmati waktu luang selagi tak ada guru kebanyakan materi itu – Kim Ssaem. Namun salah satu dari penghuni kelas Jimin, yaitu Cha Eunwoo selaku ketua kelas yang super ganteng dengan entengnya mengiyakan. Dan berakhirlah mereka dengan setengah hati membantu mengoreksi lembar jawaban kakak kelasnya.
.
.
Mata Jimin berbinar , saat obsidiannya menangkap lembar jawaban yang bernamakan 'Min Yoongi' diarahkan Taehyung kepadanya untuk dikoreksi. " Aku tahu kau pasti menunggu kebagian untuk mengoreksi punya si ketua Osis kan?". Taehyung paling mengerti keinginan Jimin lalu si Park mengembangkan senyum malaikatnya kepada Si Kim sembari berterima kasih.
Park Jimin menerima lembar jawaban milik Yoongi dengan senang hati. Selama kegiatan mengoreksi tersebut senyum yang terhias di wajah si Park tak memudar sama sekali sampai kegiatan mengoreksi itu selesai.
"Ooy, Jim. Kau sedang menulis apa sih di lembar jawaban si ketua osis judes itu hah?" tanya Taehyung namun malah diabaikan oleh Jimin yang masih menuliskan sebuah kalimat, lebih tepatnya sebuah kalimat ajakan untuk bertemu di suatu tempat.
``Hey Sunbae, ini aku, Jimin. Maaf sebelumnya telah lancang menulis di lembar jawabanmu . Tapi aku hanya ingin mengajakmu untuk bertemu di taman dekat halte bus kemarin setelah pulang sekolah. Apa kau mau? Jika kau mau aku akan menunggumu, sebab ada yang harus aku bicarakan denganmu. Tak apa jika kau sibuk, aku mengerti mungkin lain kali saja jika kau ada waktu untuk bertemu denganku.
Itu saja yang ingin aku sampaikan, maaf sekali lagi Sunbae, aku telah mencoret-coret lembar jawabanmu ini, heuheu. – Jimin.``
.
.
_dyn_
Entah apa yang harus dilakukan Yoongi sekarang setelah membaca pesan yang ditulis Jimin di lembar jawaban essaynya. Apa dia harus menerima ajakan pertemuan Jimin atau hanya mengacuhkannya saja seolah-olah dia tak pernah mendapatkan pesan tersebut.
"Yoongi~ya , nilai fisikamu dapat berapa?" Hoseok menghampiri bangkunya bersama dengan si Min setelah menerima kertas jawaban sudah dikoreksi dan diberi nilai dari Jjang Ssaem. "Oh, aku dapat 89, Hosiki. Bagaimana denganmu?" Yoongi menjawabnya masih terpaku dengan pesan Jimin. " Lumayan, 85 aku ada peningkatan , Yoong.". Min Yoongi hanya menganggukkan kepalanya mendengar penuturan dari Hoseok tanpa melepaskan pandangannya dari pesan si Park.
Menimbulkan tanda tanya di benak seorang Jung Hoseok melihat tingkah sahabatnya yang berbeda akhir-akhir kadar keingintahuan Hoseok yang besar, dia mengintip apa yang ada dilembar jawaban si Min.
"HEOL! Yoongi~ya kau diajak adik kelas tengil untuk ketemuan?"
Si Min terjengit kaget mendengar teriakan si Jung yang terhitung keras itu. Dia membekap mulut sahabatnya dengan sebelah tangannya.
"Sialan, Jung Hoseok Pabbo. Jangan berisik." lalu sebelah tangan yoongi yang membekap si kuda Jung dia lepaskan. "Jangan bilang kesiapa pun tentang hal ini, kau paham, Hosiki. Ini mungkin hanya gurauan si tengil Park saja."
Si Jung mengangguk " Oh, OK.." tapi setelahnya Hoseok berujar lagi. "Tapi, kalo misalkan itu bukan gurauan belaka, kau harus menemuinya. Siapa tahu saja penting. Bilang saja kepadaku jika setelah bertemu dengannya kau kenapa-kenapa, aku akan meminta bantuan kepada semua TENTARA diseluruh dunia untuk menghabisi orang yang bernama Park Jimin itu. OK yoongi~ya"
Ada benarnya juga apa kata Si Jung, setidaknya dia temui saja dulu. Untuk urusan penting atau tidak omongannya yang akan diutarakan oleh si Park itu urusan belakangan. Yang penting dia memenuhi dulu ajakannya. Kalau pun nantinya Jimin hanya akan bergurau, yang harus yoongi laukan ada meninggalkannya itu saja. Lagi pula dia juga akan dibantu Hoseok dan para TENTARA jika dia diapa-apakan oleh si Park bantet Jimin.
.
.
.
To Be Continued ...
09'20'2017
Dyn Note:
Chapter 3 UP!
B: Yawlah ini ff baru update now? Kemana aja coba 2 bulan hah?
A: guweh 2 bulan terakhir ini, abis PKL-an coegg.
Maafkan yeh reader baru bisa up again heuu. Tapi masih mau baca kan Merli Kim|| RenRenay|| || LittleOoh|| Sugaberry.
Makin absurd ya lama-lama.
Sengaja TBC cepet biar greget nnti pas Jimin ngomong ke yoongi nya kek gimna. Heuuu
Gak lupa special thank's buat abang Chanyeol sama Eunwoo ,,huaaha mau aja lu berdua jadi pemeran di ff gak mutu ini hah?
fyi : guweh kemungkinan akan hiatus dulu dari FFN karena guweh skrng udah kelas 12 wehh, sbntar lagi ujian ini ituh, jadi tunggu aja lagi yakk di taun depan. Okeh deh segitu aja dulu ,, BUBAyyyy...
.
.
Last But Not Least ... Review Juseyooo ...
RnR pleaseu untuk keberlangsungan ff dan juga gue /wink/
©dyn_amity
