Satu-satunya hal yang tidak ingin ditemukan Hinata di pagi hari; sepatu usangnya tergeletak cantik di balkon kamarnya. Ups.
...
"O-oh sial." Hinata memegangi jidat, mendadak pening. Kakinya seketika lemas, tangannya menggenggam kenop pintu balkon dengan pose dramatis.
Alur kejadian berdosa kembali terulang di ingatan. Hinata meradang. Seolah disambar petir di pagi hari.
Sepatu usang dengan corak garis hitam masih berada di balkon. Tepat di depan kaki Hinata. Seolah mengingatkan ia pada dosanya semalam. Melempar sepatu ke wajah Sasuke.
Yha.
Melempar sepatu ke sosok maha jahat, Uchiha Sasuke. Dilempar sampai yang kena pingsan. Mujarab kelihaianmu melempar, Nak Hinata. Sungguh besar nyali Hinata berbuat demikian. Meskipun perasaan menyesalnya menggunung sampai ia sulit tidur sampai pagi.
Matanya berkantung, gelap bagai tiruan mata panda. Sebentar lagi ia akan menyaingi Gaara, teman Neji yang sering main ke rumah. Mulutnya membentuk huruf 'o', ia lelah setengah mati. Ingin marah juga dia yang salah duluan.
Ah, kampret.
Hinata bagai kesambar petir. Mendadak sadar kalau sepatunya masih mengkode untuk disembunyikan sesegera mungkin. Hinata panik maksimal, merenggut sepatu lantas berlari panik grabak-grubuk menuju rak, mengambil plastik asoy warna hitam dan memasukkannya.
Ikatan mati disimpulkan. Sementara barang bukti aman.
Tapi Hinata masih tremor. Kalau Sasuke tahu ia yang melakukan ini, bisa mati dirinya diperbudak sampai akhir hayat. Bagaimana tidak, Sasuke itu tiada duanya apabila dibandingkan dengan setan. Jahatnya luar binasa. Hinata menggigit jari.
Masa iya dirinya belum menemukan pujangga hati, eh, malah jatuh ke siksaan neraka. Oh, tidak bisa. Hinata bakal berjuang sampai akhir hayat. Masalahnya sih, Hinata tidak berani menemui Sasuke sekarang.
Lah, jadi runyam.
...
Unexpected Cinderella Story © Eternal Dream Chowz
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
|I don't own any chara in this fanfict. This is an unprofitable fanwork. |
Pairing: [Sasuke U. X Hinata H.]
Genre: Humor
Rate: T
Warning: Out of Character, Typo(s), Alternate Universe, Rush Plot
.
.
Langkah kaki sedikit berjinjit. Hyuuga Hinata tremor berat hanya untuk melangkahkan kaki keluar dari pagar rumah. Memalukan. Takut di kandang sendiri, padahal sudah gembar-gembor mau menaklukkan Sasuke agar tidak macam-macam padanya. Ia bagaikan kura-kura ninja, mengendap dan bersembunyi dengan lihai. Hanya dalam imajinasinya sih.
"Kau sedang apa?"
Eh, mampus. Setannya datang. Buyar sudah imajinasi Hinata, ia kembali ke dunia realita, tengah mengendap di halam rumahnya sendiri dengan gaya yang membuatnya lebih terlihat seperti anak kecil dibandingkan dengan umurnya yang sudah menginjak bangku SMA. Parah.
"S-sasuke?!"
Hinata kaku, bertahan pada pose nyentrik. Kaki kiri terangkat dua puluh senti dari tanah, kaki kanan yang menumpu sedang berjinjit, tangan bagaikan kepala ular siap menyambar mangsa. Eh, posturnya malah mirip petarung kungfu di game action kesukaan Neji dan Hanabi.
"Aku bukan Sasuke, Hinata-chan."
"E-eh, maaf, Itachi-nii ..." ujar gadis itu, malu setengah mati.
Hinata menghela napas, pelan-pelan menurunkan kaki, lantas menoleh. Uchiha Itachi tertawa terbahak melihat kelakuan adik tetangganya. Hinata menggaruk tengkuk. Ia lebih baik ikut audisi pelawak saja lain kali. Ini benar-benar merusak image.
Gadis berambut ungu gelap itu mendongak, celingukan beberapa kali. Itachi sudah berhenti tertawa, menyeletuk cepat.
"Mencari Sasuke?"
"O-oh iya, aku dengar semalam dia ditimpuk sepatu." Hinata mengarang cerita. Gila saja, ia tidak mau mengakui perbuatannya. Lempar batu sembunyi tangan. Mantap jiwa.
Sekali lagi Itachi terbahak, mendekati Hinata dan berbisik.
"Itu sepatumu kan, Hinata-chan? Aku yang mengembalikannya ke balkonmu."
Mati.
Hinata diam seribu bahasa. Keringat dingin menjalar di dahi.
"Er ... itu—"
Itachi hanya tersenyum lebar. "Tenang saja, aku belum lapor Sasuke. Lagipula dia baik-baik saja semalam. Wajahmu benar-benar lucu. Sampai nanti, Hinata, cepat berangkat atau kau akan terlambat."
Oh, ini tidak lucu. Ini malapetaka. Sial saja mengapa semua manusia bermarga Uchiha punya bakat detektif seperti ini. Hinata menelan ludah, wajahnya memucat. Itachi sudah melenggang pergi dari tadi. Hinata lupa besar harus menyogoknya dulu agar tidak ember. Ah, gawat.
EH, HINATA SUDAH TELAT!
.
.
.
Dihukum menyapu halaman belakang di sekolah bersama para langganan telat lainnya sungguh menjatuhkan harga diri Hinata sebagai anak baik-baik. Sungguh si pembawa malapetaka, Uchiha Itachi, menambahkan kesialan padanya dan kabur seenak jidat. Minta dihajar juga. Hinata hanya bisa meratapi nasib dan menyapu dedaunan dengan wajah murung.
Naas nasibnya sekarang.
Kalau berjumpa Sasuke alamat kena sial berlipat ganda hari ini.
"Sasuke, kepalamu baik-baik saja kan?"
Hinata meradang. Oh, betapa tidak, baru dikomat-kamit agar tak berjumpa seharian, sudah datang saja yang disinggung. Dewa sial sedang bersama Hinata sekarang, menertawai tingkah bodohnya yang cari mati.
"Aku baik-baik saja. Jangan sentuh aku."
"Kok bisa kau terluka seperti ini?" tanya Shikamaru sambil mengunyah keripik yang diberikan Chouji.
"Aku terjatuh."
Pembicaraan ditutup.
Kalau dengar suaranya sih, sepertinya setan itu baik-baik saja. Takut-takut, ia melirik. Oh, ya sebuah perban dililit di daerah kepalanya. Hinata bukannya merasa bersalah malah tercekat, menahan tawa habis-habisan. Ia bangga akan kemampuannya melempar sepatu mara hebatnya itu.
Jatuh katanya, padahal kena gebuk sepatu. Eh, pingsan pula.
Bohong karena malu yak. Hahaha, Hinata tertawa keras dalam hati.
Eh, tapi Hinata kembali gusar, ia tentunya tak mau berakhir pada Sasuke. Enak saja dirinya akan disiksa sehidup semati. Oh, tidak bisa. Pura-pura bodoh, Hinata kembali menyapu dedaunan di bawah pohon ginkgo.
"Ah, Hinata, kamu sudah boleh kembali ke kelas."
Alamak, guru datang di saat yang sangat tak tepat. Hinata berdiri gugup dengan sapu di genggamannya, mendongak hanya untuk melihat Sasuke mencibirnya dengan tatapan meremehkan. Oh, curah darah Hinata mengalir ke bagian wajah. Merahnya wajah Hinata membuat Sasuke merasa disiram kemenangan.
"Telat ya, pfft ..."
Hinata menahan napas. Sasuke tidak menyangka, Hinata akan membalas cibirannya.
"Dasar lemah, k-kena lempar sepatu saja pingsan."
Oh, Hinata tidak tahu, ia tidak seharusnya menyinggung hal itu. Shikamaru tersedak keripik. Chouji berhenti makan dan melongo. Sasuke tercekat, panik. Sapu di genggaman Hinata terhempas cepat. Sasuke cepat melesat, membungkam gadis itu dan menyeretnya begitu saja.
"Hmmphhh!" Hinata meronta keras, diseret menjauh oleh Sasuke.
Kedua teman Sasuke melongo. Kaget. Chouji dan Shikamaru saling tatap.
"Pingsan karena dilempar sepatu?"
Hinata menggali kuburnya sendiri. Dan ia meratap dalam geretan Sasuke.
Oh, menyedihkan.
...
To be Continued
...
A/N: Wahaha, blank mau ngelanjutin ini gimana. Rada buyar juga, soalnya lupa sama plot yang udah direncanakan di awal. Wahahaha... bagusnya dilanjutin begimana inih. /dibuang ke Mars/
Thanks for reading. Semoga terhibur. ^^v
With Love,
Gina Atreya
