.


A sequel of 'Love Unconditionally'

by goodgalriri

LOVE FAITHFULLY

Chapter 5: Breakeven


Sehun berdiri disana, menatap Baekhyun dan Chanyeol secara bergantian. Baekhyun yang tersadar posisinya dengan Chanyeol langsung menghempaskan kedua tangan yang masih berada di bahunya.

"Sebaiknya kau pulang. Seohyun pasti sudah menunggumu dirumah," desis Baekhyun sebelum beralih menghampiri Sehun dan menariknya untuk masuk. Menutup pintu tepat di depan wajah Chanyeol yang tak sempat berucap sepatah kata pun.

"Kau juga baru pulang?" tanya Sehun ketika mereka sudah berada di dalam.

"Sejak kapan tadi kau berdiri disana?"

Sehun melangkah mendekat, "Kau pucat sekali. Apa kata dokter tentang keadaanmu?"

"Jawab aku, Sehun"

Sehun tidak menyahut, hanya memandangi Baekhyun lama dengan raut wajah yang sulit diartikan dan jawabannya sudah jelas.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Apapun yang kau dengar jangan dihiraukan. Kami tidak sengaja bertemu dan karena aku terlihat tidak baik maka dia menawarkan untuk mengantarku pulang dan percayalah aku dan dia tidak melakukan apapun lebih dari yang kau lihat barusan,"

Melihat kesungguhan itu Sehun tahu ia tidak perlu meragukan kebenaran yang disampaikan. Baekhyun tidak berbohong dan tidak sedang berusaha menutupi apapun, berbeda dengan dirinya yang belum sempat berterus terang tentang kedekatannya dengan Suzy walaupun tidak melibatkan perasaan apapun.

Kejadian di rumah sakit tadi kembali terbayang, melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan pasangan, bukankah itu namanya berkhianat? Walaupun itu bukan atas kehendaknya. Sehun bisa saja mendorong Suzy menjauh, tapi tidak setega itu untuk melakukannya. Nanti ia harus berbicara serius dengan Baekhyun, menceritakan semuanya sebelum ia pergi ke Jepang.

"Maafkan aku," ucapan Baekhyun menarik Sehun kembali ke dunia nyata.

"Jangan minta maaf," Karena seharusnya aku yang melakukannya.

"Aku percaya, mungkin semestinya aku berterima kasih padanya karena sudah mengantarmu pulang," ujarnya sembari mengelus pipi Baekhyun lalu memeluknya.

Sehun terlalu bepusat pada letak kesalahan yang ada pada dirinya sampai ia tidak bertanya apa-apa lagi mengenai Chanyeol pada Baekhyun. Tidak tahu bahwa wanita dalam dekapannya telah menyadari sesuatu.


~L.F~


Chanyeol baru tiba di rumahnya pada malam hari dan disambut Seohyun yang sudah menunggunya di ruang tamu dengan segelas red wine di tangan, tampak cantik dalam balutan gaun tidur berbahan semi transparan, duduk bersilang kaki hingga memperlihatkan sebagian pahanya.

"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?"

"Ada urusan mendadak, maaf tidak sempat memberitahumu kalau aku pulang terlambat," jawab Chanyeol sambil berlalu.

Seohyun meneguk minuman beralkohol itu sampai habis lalu meletakkan gelasnya sebelum mengikuti sang suami menuju kamar tidur dan begitu mereka berdua sudah didalam, ia menutup pintu.

"Chanyeol, aku ingin bicara,"

"Bicara saja," ujarnya sembari membuka lemari, menyibukkan diri karena ia sedang tidak ada keinginan untuk meladeni sang istri.

Seohyun yang tidak sabar karena tidak kunjung mendapat atensi yang ia inginkan menarik lengan Chanyeol yang sedang lengah lalu mendorongnya hingga jatuh ke tempat tidur.

"Apa yang kau—" Chanyeol hendak protes namun Seohyun keburu menempatkan kedua lututnya di kedua sisi pinggang Chanyeol yang posisinya hampir berbaring dengan kedua siku yang menopang tubuhnya.

"Malam ini aku ingin mencoba sesuatu yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya," Seohyun mulai membuka kancing polo shirt yang Chanyeol kenakan.

"Kau terlalu banyak minum, Seohyun"

"Shh, diam dan biarkan aku yang—"

"Hentikan," Chanyeol berusaha mengambil alih kendali dengan memegang kedua pergelangan tangan Seohyun sebelum wanita itu bertindak lebih jauh.

"Kenapa? Kau masih normal kan, suamiku?"

"Ya aku normal tapi aku sedang tidak ingin melakukannya. Sekarang menyingkirlah," titah Chanyeol yang kini sudah dalam posisi duduk, menjadikan Seohyun berada dipangkuannya.

"Aku adalah istrimu, aku boleh meminta apa yang telah menjadi hakku, bukan? Aku telah terlalu sabar menunggu dan kupikir sekarang adalah saatnya," Seohyun berucap tenang seraya melepas genggaman tangan Chanyeol yang tidak terlalu kuat karena ia tahu suaminya itu bukan tipikal lelaki yang dengan mudah bertindak kasar secara fisik.

Setelah kedua tangannya terbebas, jemari lentiknya beralih membuka ikat pinggang Chanyeol dengan gerakan lamban, "Tidak usah terburu-buru, sebagai permulaan aku akan memuaskanmu lebih dulu. Kau cukup nikmati saja dan selanjutnya kita akan—"

"Kubilang hentikan," Chanyeol menepis tangan nakal itu kemudian memindahkan Seohyun ke samping dengan mengangkat pinggangnya.

Seohyun semakin dibuat kesal, perlakuan Chanyeol terhadapnya sudah melukai harga dirinya. Kenapa Chanyeol sama sekali tidak tergoda dengan sentuhan apapun ia berikan? Kurang apa dia sampai sang suami enggan berhubungan dengannya?

"Sekarang apa alasanmu kali ini?" sinisnya.

"Ini adalah kesalahan," Chanyeol bangkit dari tempat tidur sembari membetulkan celananya, memunggungi Seohyun.

"Apa menurutmu yang salah?"

Chanyeol berbalik, "Kita. Kau dan aku. Pernikahan ini,"

Seohyun beranjak dari tempat tidur lalu berdiri, "Aku sudah berusaha semampuku, kau yang tidak pernah memberiku kesempatan! Setelah kita sudah menjalaninya lebih dari setahun dan segala yang kuberikan, hanya itu yang bisa kau katakan? Hanya itu balasan yang kudapatkan? Kau anggap apa usaha yang aku lakukan selama ini?"

"Maaf aku sudah menyakitimu. Aku sadar tidak pernah membahagiakanmu, jika kau mau kita berpisah—"

"Oh, sekarang kau mau meninggalkanku? Apa ini karena Baekhyun? Aku tidak mengerti apa yang jalang itu lakukan sampai kau bersikap seperti ini padaku. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak akan tinggal diam jika ini sampai menganggu kelangsungan rumah tangga kita," ancamnya sengit.

"Jangan pernah sebut dia seperti itu. Jika kau ingin marah, lampiaskan padaku. Jangan salahkan siapapun," Chanyeol mencoba meluruskan.

"Lalu siapa lagi yang patut dipersalahkan kalau memang dialah satu-satunya penyebab kau berubah? Dia membuat usaha yang kulakukan selama ini tampak tidak ada artinya dimatamu. Aku yang selama ini selalu berada di sampingmu dan sekarang kau menyinggung seseorang yang tidak jelas keberadaannya, memikirkannya tiada akhir sampai mengabaikanku!" Seohyun berargumen keras.

"Aku menghargai segala bentuk usaha yang kau lakukan, peranmu sebagai istri serta ibu bagi anak-anak. Namun setelah apa yang kita jalani bersama aku merasakan sesuatu tidak benar, tidak seharusnya menjadi seperti ini. Aku sudah mengingat semuanya dan apapun yang kita lalui sejak kecelakaan itu hingga saat ini aku sadar akan satu hal—"

Chanyeol menggantung kalimatnya, mengetahui kejujuran ini akan menyakiti Seohyun, "—bahwa aku tidak pernah mencintaimu,"

Plak!

Sebuah tamparan. Chanyeol sudah memprediksi reaksi macam apa yang Seohyun berikan. Perih di pipinya tidak sebanding dengan sakit hati yang Seohyun rasakan, Chanyeol tahu itu.

That's why I deserve this.

"Aku pergi,"

Chanyeol keluar dari kamar. Seohyun sedang penuh emosi, sebaiknya ia dibiarkan sendiri dulu untuk menenangkan diri. Dalam hati sedikit bersyukur karena untung anak-anak tidak sedang berada di rumah karena tidak baik jika si kembar mendengar pertengkaran kedua orang tua mereka.

Chanyeol mengambil kunci mobil kemudian meraih ponsel dari dalam saku celananya, mencari nama di daftar kontak lalu mengubunginya. Panggilannya langsung terangkat di dering pertama.

"Halo, sekretaris Kang, bisa tolong siapkan penthouse? Malam ini aku menginap disana,"


~L.F~


"Silahkan, tuan muda," sekretaris Kang membukakan pintu, mempersilahkan Chanyeol masuk lebih dulu.

"Maaf sudah merepotkan malam-malam begini,"

"Tidak masalah. Saya siap membantu tuan muda kapan saja," ujarnya santai, "Tuan muda sudah makan malam? Ingin dipesankan sesuatu?"

"Tolong buatkan teh saja," jawab Chanyeol sembari berbaring di sofa panjang, membuat posisi senyaman mungkin untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku selama mengemudi.

Sesampainya di rumah tadi ia tidak sempat istirahat dan langsung terlibat argumentasi dengan Seohyun, sekarang ia butuh ketenangan dan disinilah satu-satunya tempat yang tepat untuk melupakan permasalahanya sejenak. Chanyeol tidak bermaksud lari dari masalah, hanya saja ia memerlukan pikiran yang tenang dan jernih untuk mencari jalan keluar yang tepat karena satu-satunya solusi yang ada dipikirannya saat ini adalah perceraian.

Chanyeol tahu pasti orang tuanya akan menentang gagasan ini, terutama sang ibu. Tapi untuk apa menjalani hubungan yang tidak didasari perasaan tulus dan malah berpotensi menyakiti salah satu diantaranya? Chanyeol akui dirinya egois, Seohyun telah melakukan segalanya tapi ia sendiri tidak pernah memberikan apa-apa. Karena itu ia membiarkan sang istri menamparnya telak karena Chanyeol merasa ia pantas mendapatkannya.

"Tehnya, tuan muda," terdengar denting bunyi keramik yang beradu dengan kaca, sekretaris Kang meletakkan secangkir teh di atas meja.

"Terima kasih," Chanyeol duduk lalu menyesap minuman hangat masih mengepulkan aroma khas yang sedikit menenangkan itu.

Sekretaris Kang duduk di sofa single untuk menunggu tuan mudanya meminta bantuan lagi. Tanpa perlu diminta akhirnya Chanyeol mengungkapkan alasannya pergi dari rumah.

"Aku dan Seohyun bertengkar,"

Yang diajak bicara menggangguk paham tanpa berani bertanya apa penyebabnya, membiarkan Chanyeol bercerita jika ia ingin dan akan menjadi pendengar yang baik.

"Aku ingin kami berpisah. Ingatanku sudah pulih,"

Raut tenang sekretaris Kang seketika berubah, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya, "T-tuan muda.. sudah mengingat semuanya?"

"Ya. Namun ada satu hal yang mengganjal. Aku masih perlu menyelesaikan urusanku dengan Baekhyun,"

Sekretaris Kang menghela nafas sebelum mengungkapkan, "Jujur saja, saya tidak menyangka mengingat vonis yang dokter berikan bahwa hampir mustahil hal ini terjadi. Nona Byun juga terpukul saat mengetahui kondisi anda waktu itu, kemudian setelahnya ia menghilang tanpa pesan. Namun di sisi lain sangat melegakan mengetahui ingatan anda bisa pulih, terlebih lagi tuan muda memiliki niat demikian pada nona Byun,"

"Satu hal yang menjadi masalah," Chanyeol memijat keningnya, "Setelah beberapa kali bertemu secara tidak sengaja ia tampak tidak ingin lagi berurusan denganku sedangkan aku tidak bisa tenang kalau belum bebicara baik-baik dengannya,"

"Saya rasa tuan muda hanya perlu memberinya waktu untuk dapat menerima kehadiran anda kembali. Mungkin alasan nona Byun bersifat sentimental sehingga ia bersikap demikian terhadap tuan. Saya paham karena tuan baru pulih maka ingin segera menyelesaikannya. Tapi tidak perlu terburu-buru, tenangkan diri anda lalu selesaikan dengan baik-baik ketika sudah siap," sekretaris Kang mencoba memberi saran.

Chanyeol meresapi apa yang didengarnya dan mulai mempertimbangkan masukan yang ia terima. Berapa lama waktu yang Baekhyun butuhkan agar dapat menerimanya lagi? Chanyeol tidak ingin menunggu terlalu lama namun ia juga tidak mau memaksakan kehendak. Sepertinya ia memang harus bersabar.

"Mengenai keinginan anda untuk berpisah dengan nyonya Seohyun.. saya harap tuan muda sudah memikirkannya dengan matang. Semoga keputusan apapun yang anda ambil adalah yang terbaik,"


~L.F~


Chanyeol berjalan menyusuri dataran berumput di area pemakaman dengan seikat bunga lily dalam genggaman pada keesokan paginya. Bunga yang melambangkan kesucian dan ketulusan itu sudah menjadi favorit Hyejin sejak dulu dan sebagai bentuk penghormatan, Chanyeol tidak pernah lupa membawakannya setiap kali berkunjung. Hanya ini satu-satunya cara untuk melepas rindu pada seseorang yang tidak lagi berada di dunia yang sama.

Hembusan pelan angin mengiringi langkahnya menuju pusara Hyejin yang tinggal beberapa puluh meter lagi ia capai, namun dari kejauhan matanya menangkap sosok perempuan berpakaian putih seperti dirinya sudah lebih dulu berada disana.

Mendengar suara langkah mendekat, sosok itu menoleh, menanggalkan kacamata hitam yang sedari tadi ia pakai kemudian tersenyum menyambut kedatangan seseorang yang ia kenali, "Chanyeol,"

"Hyojin?"

"Kau juga berkunjung ternyata. Merindukan adikku juga, eh?"

Chanyeol tertunduk sebelum menjawab dengan suara pelan, "You have no idea," Lalu ia meletakan bunga yang sudah ia bawa di depan batu nisan di samping karangan bunga lain yang masih segar—sepertinya milik Hyojin.

"It's been 7 years, though" Hyojin bergumam, "Ever get enough of her?"

Kedua mata Chanyeol terarah lurus pada nisan dimana terpatri nama Hyejin disana, menatap kosong seolah kenangan masa lalu terputar kembali di hadapannya.

"Could never do," jawabnya disertai gelengan.

How can a man be this faithful? Hyojin bertanya dalam hati.

"Hyejin was so lucky to have you. Sad thing she had gone too soon,"

"Yeah," Chanyeol mengangguk, "The saddest thing in life is losing some one you dearly love, unpredictably"

Hyojin kehilangan seorang adik yang ia sayangi, sementara Chanyeol kehilangan kekasih yang ia cintai.

Keheningan mulai menelusup diantara mereka, gemerisik dedaunan di pohon yang tertiup angin menjadi satu-satu suara yang terdengar. Hyojin kira Chanyeol membutuhkan privasi, maka ia pamit untuk undur diri, namun Chanyeol malah menahannya, mengajak Hyojin untuk berbincang sebentar setelah sekian lama tidak bertemu walau sekedar bertukar kabar.

"Apa kabarnya paman dan Bibi Kim?" Chanyeol memulai saat ia dan Hyojin sudah duduk bersebelahan di bangku taman dibawah naungan pohon yang terletak di pinggir area pemakaman.

"Baik-baik saja. Ayah masih dengan hobi otomotifnya sementara ibu banyak berdiam diri di rumah, merangkai bunga, merajut, memanggang kue, klasik dan sangat perempuan. Anyway, bagaimana dengan si kembar? Terakhir aku melihat ketika mereka masih bayi sebelum kau membawa mereka pergi ke States lalu menetap disana,"

"Mereka sehat, tumbuh dengan baik dan menjadi anak-anak yang pintar. Hyechan sangat mirip dengan Hyejin,"

"Aku jadi penasaran. Sekali-sekali ajaklah Chanlie dan Hyechan berkunjung ke rumah, biar bagaimanapun anak-anak adalah cucu ayah dan ibu sekaligus keponakanku juga,"

"Baiklah, nanti akan kuluangkan waktu. Maaf belum sempat menemui sejak kembali ke sini,"

Kemudian Hyojin melirik cincin platina polos yang melingkari jari manis tangan kanan Chanyeol, "And I see that you're married,"

Menyadari Hyojin mengetahui hal itu dari cincin yang ia pakai, Chanyeol menyahut dingin, "This is just a ring. Nothing sentimental about it,"

"Are you having a hard time?" Hyojin bertanya dengan hati-hati setelah mendengar jawaban yang mengindikasikan Chanyeol sedang ada masalah rumah tangga.

Chanyeol menghela nafas kemudian menyandarkan punggungnya, "I'm so fucked up, Hyo"

Mungkin Chanyeol memang sedang dalam masalah serius dan menemui jalan buntu hingga saking desperatenya ia melampaui batas dan berkata kasar.

"Anything you can share?"

Seseorang yang sedang dalam masalah terkadang hanya butuh pendengar yang baik untuk berbagi cerita agar dapat sedikit meringankan beban, oleh karena itu Hyojin menawarkan diri untuk menjadi pendengar. Chanyeol menoleh ke Hyojin yang berada disampingnya, menimbang-nimbang apakah ia perlu membeberkan permasalahan yang ia hadapi.

"Secret's secured," Hyojin menambahkan.

Chanyeol menarik nafas sebelum memulai—"It all started when I came back from States 2 years ago.."

—dan kisah hidupnya mengalir begitu saja, meski sudah lama tidak berjumpa namun Chanyeol merasa seperti bercerita pada teman lama. Hyojin memposisikan dirinya dengan baik, mendengarkan penuh perhatian tanpa memotong atau menyela serta menanggapi saat diperlukan. Meski Chanyeol bercerita dengan nada datar dan minim ekspresi namun Hyojin paham bahwa ia sedang kalut.

"Well, you guys already went too far," komentar Hyojin setelah Chanyeol mengakhiri ceritanya.

"I know. Aku bahkan belum sempat meminta maaf tapi dia sudah terlanjur membenciku. Kau ingat ketika kita secara tidak sengaja bertemu di hotel beberapa waktu lalu? Dia bahkan berlari menjauh begitu melihatku. Lalu aku harus bagaimana agar dia mau mendengarkan?" keluh Chanyeol yang tampak putus asa.

"Sebenarnya aku sudah merasakan kejanggalan sejak melihat pertemuan kalian waktu itu. Kalau aku jadi Baekhyun, tentu aku akan kaget mengetahui tiba-tiba kau muncul setelah sekian lama dan mengakui sudah pulih dari amnesiamu. Dia pasti sedang mempertanyakan apa maksudmu mengungkapkannya padahal sekarang kalian sudah menjalani hidup masing-masing. Jadi—mewakili Baekhyun—aku bertanya, apa tujuanmu memberitahunya?"

Chanyeol tidak langsung menjawab, memikirkan apakah ia akan dipandang egois karena jawabannya nanti. Tapi pada akhirnya ia mengaku, "Unfair. Aku tidak ingin dia bahagia dengan yang lain sementara aku terjebak dalam bayangan masa lalu,"

Hyojin mendengus, seolah jawaban yang barusan ia dengar adalah kesalahan, "Maaf, tapi kurasa kau cukup egois disini,"

See?

"Kau tidak tahu bukan apa yang ia lalui dan bagaimana ia bisa survive setelah tragisnya hubungan kalian berakhir? Aku yakin pasti dia cukup menderita sedangkan kau tidak mengingat apa-apa. Sekarang setelah ingatanmu kembali dan dia sudah move on, giliran kau yang merana. Kalian impas sebenarnya,"

Right. She has the point.

"Menurutku Baekhyun tidak benar-benar membencimu. Mungkin ia hanya takut, entah melihatmu mengingatkannya pada kenangan buruk yang terjadi diantara kalian atau.."

"Atau?"

"Takut akan mengharapkanmu kembali sementara dia sudah bersama dengan yang lain,"

Chanyeol cukup terpana dengan 'hipotesis' yang Hyojin berikan dari sudut pandangnya sebagai wanita dan menempatkan posisinya sebagai Baekhyun. Dirinya saja sampai tidak terpikirkan kesana hingga muncul satu konklusi yang ia lontarkan dalam bentuk kalimat tanya, "Why are women so complicated?"

"Because you men are simply thinking by logic meanwhile us, women are emotionally thinking with our hearts,"

"Makes sense," Chanyeol mengakui.

"Kau sendiri apa masih mengharapkannya?"

"I just.. wanna make it up to her,"

"You sure?" karena Hyojin tahu bukan itu jawaban dari hati yang sebenarnya.

Chanyeol membentuk bibirnya menjadi segaris tipis, berpikir sejenak sebelum akhirnya menyerah, "Okay, mungkin iya,"

"You're so obvious without realizing it," Hyojin memberitahu, Chanyeol menggumamkan 'Am I?' sambil menunjuk dirinya sendiri dan dibalas dengan anggukan.

"Aku memiliki satu informasi untukmu. Baekhyun yang kita bicarakan sejak tadi kebetulan bekerja di perusahaan yang sama denganku. Bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian, tapi jika kau membutuhkan penengah atau apa, aku bersedia membantu,"

Chanyeol cukup tersentak mendengar fakta seolah semesta mendukungnya, "Kau.. serius?"

"Tentu saja. Dan kau punya satu urusan yang tidak kalah serius, pikirkan kembali mengenai rencanamu untuk bercerai.. Semoga kau bisa mengambil keputusan dengan bijak agar tidak ada penyesalan nantinya,"

Chanyeol menyadari apa yang akan ia hadapi dan resiko setelahnya, bagaimanapun akan ada pihak yang tersakiti atau berkorban perasaan atas keputusan yang ia ambil. Belakangan ini ia memang lebih banyak dipengaruhi ego ketimbang akal.

"Hyo.."

"Yes?"

"Thank you, I'm enlightened,"

"Glad to hear that," kemudian Hyojin beranjak, "Let's get something to drink, you've been talking a lot,"

Chanyeol turut bangkit, menyetujui ajakan Hyojin, "Alright. My treat,"


~L.F~


Baekhyun duduk seorang diri di ruang tunggu Departemen Obstetrik dan Ginekologi, Severance Hospital, menanti gilirannya untuk menerima hasil tesnya minggu lalu. Ia lirik jam dinding yang menunjukkan sudah sekitar 15 menit ia menunggu, sedikit resah karena meninggalkan kantor di saat jam kerja walau ia sudah izin pada Hyojin akan datang terlambat.

Tidak lama kemudian seorang perawat muncul memanggil Baekhyun untuk masuk. Setelah bersalaman dan dipersilahkan duduk oleh dokter, Baekhyun ditanyakan mengenai kondisi serta keluhan lain, lalu ia menceritakan kejadian dimana ia jatuh tak sadarkan diri, dokter tampak sudah menduga kemudian memberikan secarik kertas yang berisi keterangan hasil tes pada Baekhyun dan mulai menjelaskan.

Beberapa istilah medis disebutkan dan klimaksnya adalah ketika vonis dinyatakan. Nafasnya tercekat, tangan Baekhyun gemetar memandangi hasil akhir pada tabel bagian paling bawah sebagai kesimpulan yang menunjukkan simbol '+'. Baekhyun mencoba menenangkan diri, sesungguhnya ia trauma jika harus berurusan lagi dengan yang seperti ini. Cukup sekali seumur hidup ia merasakan bagaimana tersiksanya waktu itu. Namun takdir kemb ali tidak berpihak padanya, harus menerima kenyataan pahit bahwa yang terjadi di masa lalu ternyata masih membawa penderitaan lain di masa kini.

"Lalu pengobatan apa yang harus saya jalani agar penyakit ini dapat segera disembuhkan?" Baekhyun bertanya saat sudah mengumpulkan segenap kekuatan untuk berbicara karena berita ini terlalu mengejutkan dan tidak diduga.

"Walaupun belum tergolong ke dalam stadium yang membahayakan, saya sarankan untuk menjalani operasi sebelum penyakit ini berpotensi ganas dan akan mengganggu jaringan organ vital lain di sekitarnya seperti ginjal. Selain itu saya sudah melihat pengaruh dari penyakit ini terhadap kondisi fisik anda, nona Byun. Salah satu gejalanya adalah kehilangan nafsu makan sehingga menyebabkan turunnya berat badan dan menurunnya asupan nutrisi dalam tubuh. Maka ada baiknya langkah medis yang tepat dilakukan sesegera mungkin agar tidak membahayakan kesehatan anda,"

Baekhyun mengangguk pelan dengan tatapan kosong. Satu tindakan berlandaskan hasrat hanya memberikan kenikmatan sesaat, dan kini ia harus menangguk akibat dari kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu.

Apakah ini sebuah hukuman?


~L.F~


Disela-sela kesibukannya memeriksa berkas, ruang kerja Hyojin diketuk dari luar. Tanpa mengalihkan diri dari pekerjaan, Hyojin menyahut mempersilahkan siapapun yang berada diluar sana untuk masuk.

"Oh, kau sudah kembali, Baek. Bagaimana hasil tes kesehatanmu?" tanya Hyojin yang menghentikan pekerjaannya sesaat karena ternyata Baekhyun datang.

"Maaf menginterupsi pekerjaanmu, Hyojin. Ada yang ingin aku bicarakan sekarang karena itu kumohon untuk meluangkan waktumu sebentar saja," Baekhyun berucap dengan wajah seolah ia sudah lelah dengan hidupnya.

Mendengarnya Hyojin langsung menyingkirkan pekerjaan untuk fokus sepenuhnya pada Baekhyun "Okay, duduk dulu dan bicaralah,"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menarik nafas dengan kepala tertunduk untuk mengumpulkan keberanian mengutaraka maksudnya, "Maaf jika keputusanku ini akan mengecewakanmu, tapi setelah tender ini selesai, aku ingin resign,"

"Resign?" Hyojin hampir terlonjak dari kursinya, "Kenapa, Baek? Apa sesuatu terjadi?"

Baekhyun mengeluarkan sebuah amplop lalu menyerahkannya pada Hyejin, "Surat keterangan dari dokter. Aku harus menjalani pengobatan secara intensif, karena itu lebih baik aku berhenti agar tidak menghambat pekerjaan disini,"

Hyojin membuka amplop lalu membaca surat yang tersimpan di dalamnya. Obstetrics and Gynecology Department of Severance Hospital? Setelah menelisik keseluruhan isi surat keterangan itu, Hyojin menghela nafas dengan berat.

"Sekali lagi, maafkan aku Hyojin,"

"Jangan minta maaf Baekhyun, apapun yang kau derita dan entah seberapa parahnya tentu bukan atas kehendak atau keinginanmu. Aku mengerti. Ajukan surat permohonan resignmu ketika sudah siap,"

"Baiklah. Aku akan kembali bekerja, terima kasih atas waktunya," Baekhyun bangkit lalu keluar dari ruangan dengan langkah lambat.

Tepat setelah Baekhyun menghilang dibalik pintu, Hyojin mengambil ponsel. Setelah menemukan sebuah nama di daftar kontak, ia menekan 'Call'. Tidak lama kemudian panggilan dijawab.

"Halo,"

"Bisa kita bertemu siang ini? Ada yang ingin kubicarakan,"


~L.F~


Chanyeol melepas jas lalu menyampirkannya di sandaran kursi, mengambil kunci mobil sebelum pergi keluar ruangan hendak meninggalkan kantor. Ia lirik Rolex submarinernya sekilas lalu mempercepat langkah namun tiba-tiba Seohyun menghadang.

"Mau kemana?"

"Menemui klien tender," Chanyeol merespon dengan datar, selain di depan anak-anak dan profesionalitas kerja, mereka sedang saling diam sejak pertengkaran terakhir. Seohyun berpikir ia harus kembali mengorbankan harga dirinya untuk mengajak bicara sang suami lebih dulu.

"Dengar, atas kejadian waktu itu aku... minta maaf,"

"Kita bicarakan nanti dirumah, aku sudah ditunggu,"

Ingin rasanya Seohyun berkonfrontasi karena lagi-lagi Chanyeol berusaha menghindar darinya, namun ia menahan diri agar tidak memperkeruh keadaan, maka Dengan berat hati Seohyun menyingkir, memberi Chanyeol jalan untuk lewat.

Sekitar 15 menit kemudian karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari kantor, si CEO tiba di tempat yang sudah dijanjikan untuk mengadakan pertemuan personal. Chanyeol menghampiri meja yang sudah ditempati di sudut dining area.

"Maaf terlambat," Chanyeol menempati kursi yang berhadapan dengan Hyojin.

"Tidak apa, aku juga baru sampai,"

"So, what is it about?" tanya Chanyeol langsung ke inti.

"Here," Hyojin menyodorkan sebuah amplop di atas meja.

Chanyeol mengernyit, menatap Hyojin dan benda yang baru saja diserahkan secara bergantian. Hyojin menggerakan kepala memberi isyarat agar Chanyeol membukanya.

"Baekhyun memberikannya padaku hari ini," Hyojin menambahkan selagi Chanyeol membaca isi surat keterangan dokter.

"Setelah tender selesai ia berencana resign. Baekhyun akan ikut bersamaku untuk presentasi proposal nanti di kantormu, kupikir itulah saat yang tepat bagi kalian untuk berbicara, menyelesaikan secara baik-baik urusan diantara kalian sebelum dia sulit untuk ditemui,"

"Seberapa serius sakit yang dideritanya sampai harus berhenti dari pekerjaan?" sebuah kerutan tercetak jelas di ruang antara kedua alis tebalnya.

"Baik Baekhyun maupun isi surat keterangan itu tidak menyebutkan secara spesifik apa. Akhir-akhir ini memang aku perhatikan kondisinya agak menurun," Hyojin menambahkan.

Chanyeol hanya menggangguk sambil berpikir. Hyojin benar, ia harus menemui Baekhyun sesegera mungkin sebelum terlambat dan kemungkinan terburuk terjadi sehingga ia kehilangan kesempatan untuk selamanya. Pemikiran yang berlebihan memang, inner feeling tergambar jelas dengan keresahan dan kekhawatiran di wajahnya.

"Hyo, bisa tolong awasi kondisinya untukku? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi sebelum kita bertemu di presentasi proposal nanti," pintanya dengan raut khawatir mengingat Baekhyun pernah jatung pingsan di jalan.

"Aku hanya bisa bertemu dengannya selama jam kerja, tapi akan kulakukan sebisaku. Yeol, kau jangan overthinking sehingga mengganggu kehidupan pribadimu karena ini, oke? Aku tahu kau merasa bersalah pada Baekhyun tapi jangan sampai membuatmu menjadi tidak fokus dengan urusanmu yang lain seperti pekerjaan misalnya, kau telah bermasalah dengan Seohyun maka sebisa mungkin jangan menambah kemelut yang sudah ada,"

Chanyeol menghela nafas, tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa yang menganggu ketenangannya akhir-akhir ini adalah Baekhyun—

Lalu siapa lagi yang patut dipersalahkan kalau memang dialah satu-satunya penyebab kau berubah?

—dan Seohyun memang benar.


~L.F~


Baekhyun menyesap teh madu hangatnya sembari menunggu Sehun pulang, ada yang ingin ia bicarakan terkait hasil tes kesehatannya dan kekasihnya harus tahu akan hal itu. Untunglah tadi Hyojin menyuruhnya pulang lebih awal, jadi Baekhyun memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri dan beristirahat sebentar. Tidak lama kemudian terdengar suara auto lock dari arah pintu, Baekhyun bergegas bangkit untuk menyambut Sehun yang baru datang.

"Kau pulang lebih cepat, tidak banyak pasien yang ditangani hari ini?" tanya Baekhyun sembari membantu melepas jas casual yang dipakai Sehun sehari-hari.

"Begitulah. Kau juga tiba lebih dulu, apa tender di perusahaanmu sudah rampung?"

"Belum, minggu ini kami baru akan presentasi proposal. Mau kubuatkan teh?"

"Tidak usah, terima kasih," yan lelaki duduk disofa dan meminum dari gelas Baekhyun sampai habis, disadari atau tidak, ada yang lain dari aura wajah Sehun.

Baekhyun ke kamar untuk menggantung jas sekalian mengambil surat keterangan dokter yang diterimanya hari ini untuk diperlihatkan pada Sehun. Baekhyun keluar dari kamar, ditangannya sudah ada amplop berlabel Severance.

"Sehun, aku—"

"Aku akan ke Jepang,"

Baekhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya namun Sehun lebih dulu menginterupsi, tidak tahu kalau Baekhyun juga ingin mengutarakan sesuatu padanya, namun Baekhyun memilih untuk mengalah.

"Ke Jepang?"

"Ya. Maaf aku belum memberitahumu. Ini tentang Suzy,"

Tangannya bergerak pelan, menyembunyikan kertas yang ada dalam genggaman ke balik punggungnya, "Ada apa dengan Suzy?"

"Selama ini dia mengidap leukimia dan harus menjalani operasi di Jepang. Aku akan menemani kesana karena Suzy yang meminta atau dia tidak akan mau melakukan pengobatan apapun yang akan memperburuk kondisi serta mengancam jiwanya jika tidak segera ditangani," Sehun menjelaskan.

"Oh..," Baekhyun meremas kertas yang ia pegang.

Sehun mendekati kekasihnya lalu berkata, "Maaf aku tidak bisa menolak, aku sendiri memang bersedia memenuhi keinginan Suzy karena itu demi keselamatannya agar dia bisa bertahan dan sembuh tapi disamping itu percayalah, tidak ada perasaan apapun yang terlibat selain rasa simpatiku, ku harap kau mengerti,"

Baekhyun membuang muka lalu mengangguk dengan kepala tertunduk, "Aku mengerti,"

Lalu menengadahkan kepala agar bertatapan langsung dengan Sehun yang kini berdiri dihadapannya sembari memaksakan sebuah senyuman singkat, "Kau memang harus menemaninya kesana,"

Sehun memeluk Baekhyun dengan rasa lega, "Terima kasih atas pengertiannya. Maaf mengecewakanmu, aku berjanji yang seperti in tidak akan terjadi lagi,"

Baekhyun turut melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sehun, surat yang masih berada ditangannya terlupakan begitu saja.


~L.F~


Hyojin mengendarai mobilnya menuju kantor Park Inc., hari itu adalah saatnya melakukan pitching atau presentasi tender dengan Baekhyun yang mendampinginya. Namun ada yang ganjil dari sikapnya saat beberapa kali Hyojin melirik ke Baekhyun yang duduk di kursi penumpag di sebelah.

"Kau terlihat resah, apa terjadi sesuatu?" tanya Hyojin saat mereka berhenti di persimpangan karena lampu merah.

"Ah, tidak. Aku hanya sedikit.. merasa canggung karena ini pertama kalinya aku kembali mengunjungi kantor lama semenjak resign," sahut Baekhyun setelah mencari-cari alasan yang tepat.

Penyebab sebenarnya yang membuat tidak tenang adalah Baekhyun melupakan obat harian yang tertinggal di atas meja makan. Tadi pagi seusai sarapan, Baekhyun meminumnya dan lupa memasukkannya ke dalam tas kerja untuk kembali di konsumsi setelah makan siang nanti. Dari beberapa jenis obat, terdapat analgesik dari resep dokter obgyn yang ditemuinya waktu lalu jika sewaktu-waktu nyeri di bagian perut bawahnya kambuh. Baekhyun menyesali kecerobohannya dalam hati, berharap kondisinya akan baik-baik saja selama beberapa jam kedepan, setidaknya sampai presentasi ini selesai.

Hyojin hanya mengangguk sebagai respon sementara pikirannya berspekulasi. Apa karena nanti akan bertemu dengan Chanyeol? Kemudian ia kesampingkan prasangkanya dan kembali melajukan mobil karena lampu sudah berubah hijau.

Sesampainya di Park Inc., Baekhyun tidak bisa menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul mengingat alasan ia keluar dari sini karena kesan yang kurang baik, ia tidak tahu bagaimana cerita yang beredar tentang kecelakaan yang menimpa Chanyeol namun ia yakin sesuatu yang negatif mengenai dirinya telah tersebar di kalangan karyawan.

"Presentasinya akan diadakan di ruang meeting utama jam 9, tapi tidak dijelaskan dimana. Sebaiknya kita tanyakan ke bagian resepsion—"

"Lantai 7," ucap Baekhyun tiba-tiba, bermaksud menghindari interaksi dengan karyawan internal Park Inc.

Hyojin sedikit terkesiap dengan jawaban Baekhyun hanya mengangguk, "Oh, okay,"

Keduanya langsung menaiki lift menuju lantai 7 dan ketika mencapai lantai 4, lift terhenti lalu terbuka. Menampakkan tiga orang karyawan yang turut masuk mengisi kompartemen yang Baekhyun yakini adalah dari divisi logistik yang akan mengikuti meeting nanti. Sebisa mungkin Baekhyun menyembunyikan wajahnya dan ia semakin panik ketika Hyojin diajak bicara oleh salah satunya.

"Yang nanti akan presentasi tender?"

"Ya, kami dari Curve&Line Co.," sahut Hyojin ramah.

Karena kata ganti jamak yang disebutkan Hyojin maka karyawan itu kemudian melirik wanita di sebelahnya, "Oh, bukankah kau.. Baekhyun? Mantan sekretaris sajangnim?"

Terlanjur ketahuan, Baekhyun menggigit bibir bawahnya sembari menunjukkan wajah dengan enggan. Menyadari Baekhyun yang merasa risih Hyojin langsung menyahut, "Iya, dulunya Baekhyun memang bekerja disini tapi sekarang dia bekerja untuk C&L, tidak masalah, kan?"

Kedua karyawan tadi langsung membuang muka dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan. Baekhyun jadi semakin merasa tidak enak pada Hyojin karena dugannya di awal tadi memang benar. Bagaimana kalau nanti proposal Curve&Line akan ditolak karena Baekhyun yang bekerja didalamnya? Ini adalah tender besar dan kalau sampai C&L gagal memenangkan tender karena keterlibatan dirinya, Baekhyun akan merasa bersalah dan menyesal karena menyanggupi ajakan Hyojin untuk ikut andil.

Bunyi 'ding' kembali terdengar disusul pintu lift yang terbuka secara otomatis ketika sudah sampai di lantai 7. Hyojin meremas tangan Baekhyun sejenak bermaksud menenangkan sebelum mereka dipersilahkan memasuki ruang meeting. Satu per satu tim pesaing berdatangan menempati kursi yang mengelilingi meja besar sembari mempersiapkan bahan presentasi.

Detik-detik menjelang dimulainya rapat seperti menyiksa karena semakin dekat pula waktunya Baekhyun akan bertatap muka kembali dengan seseorang yang paling ia hindari. Setelah semua yang berkepentingan berkumpul, pintu ruangan kembali terbuka dan disanalah sang CEO muncul didampingi sekretaris yang juga merupakan istrinya—Chanyeol dan Seohyun.

Sekelebatan nostalgia muncul, Baekhyun teringat bagaimana dulu dirinya yang berada di posisi Seohyun, mengikuti kemanapun Chanyeol pergi karena dialah mengatur jadwal hariannya di kantor, dari membantu menyiapkan segala sesuatu sampai melakukan apapun sesuai dengan yang diperintahkan. Bohong kalau Baekhyun tidak merindukan masa-masa dimana ia menikmati kesibukannya yang secara profesionalitas melayani pemegang jabatan tertinggi di Park Inc itu.

Niat awal yang ingin menghindari kontak mata tanpa sadar Baekhyun malah mengikuti setiap gerak-gerik Chanyeol. Wajah flat namun intimidatif sebagai facade atas posisinya sebagai pimpinan masih sama, kebiasan lama juga belum hilang seperti bagaimana ia melepas kancing jasnya terlebih dulu sebelum duduk—tipikal pria detail pemerhati etika—dan entah karena menyadari sedang diperhatikan atau apa, seketika pandangan mereka bertemu.

Chanyeol mendapati Baekhyun sedang melihat ke arahnya dan ia membalas tatapan itu—lebih lama dari yang seharusnya. Raut datar itu perlahan memudar, tergantikan menjadi ekspresi khawatir. Baekhyun mengalihkan pandangan dan kini secara tidak sengaja matanya tertangkap oleh Seohyun yang berada tepat di sebelah Chanyeol. Matanya menyipit seolah berusaha mengenali dan begitu sadar kalau yang dilihatnya adalah Baekhyun, wajahnya berubah drastis, awalnya ia tampak kaget kemudian raut sarat akan kebencian itu tampak begitu nyata. Bibirnya menggumamkan sesuatu, mungkin sumpah serapah mendapat kejutan tak terduga karena Baekhyun bisa berada disini. Kalau saja ia tidak harus menjaga imej, mungkin Seohyun akan menggebrak meja lalu mengusir Baekhyun detik itu juga.

Sementara di ujung sana Seohyun dengan geram berusaha mengendalikan emosinya yang hampir meledak, "Apa-apaan ini?! Kenapa perempuan itu bisa berada disini?"

"Proposal yang diajukan perusahaannya lolos seleksi karena memenuhi spesifikasi untuk mengikuti tender, jadi dia dan rekannya berhak memenuhi undangan untuk presentasi disini. Bersikaplah profesional dan jaga emosimu. Jangan membuat kekacauan," dengan intonasi datar dan wajah terarah ke depan Chanyeol memperingatkan, sudah memprediksi reaksi Seohyun akan seperti ini.

Seohyun mendengus, menahan amarahnya yang telah memuncak sampai ubun-ubun. Melihat Chanyeol bisa setenang ini ia menduga bahwa sang suami sudah tahu kalau Baekhyun akan datang. Tidak habis pikir, dari sekian perusahaan furnitur yang melakukan submisi, kenapa yang lolos harus ada Baekhyun?

Selanjutnya moderator berbicara, hendak membuka rapat presentasi sesuai dengan waktu yang ditentukan. Seohyun sebisa mungkin meredam emosi. Kemunculan Baekhyun disini merupakan sebuah ancaman, setelah ini ia tidak akan tinggal diam dan segera mengambil tindakan karena siapapun yang menghalangi jalannya akan ia singkirkan.


~L.F~


Korean Airlines: Flight Details

Wed, 29 Nov 17 / Flight Number KR012 / Class Prestige

GMP 10:25 AM Gimpo, Seoul to NRT 12:50 AM Narita, Tokyo

Sehun memandangi lembar flight itinerary yang diberikan oleh Dokter Bae tadi pagi untuknya. Ia akan pergi ke Jepang dalam hitungan hari, namun belum banyak yang ia persiapkan. Dokter Bae juga yang mengurus perizinan karena Sehun harus meninggalkan pekerjaan selama beberapa waktu, memanfaatkan jabatannya sebagai kepala rumah sakit di Severance.

Sudah terlalu sering menghabiskan waktu dengan pekerjaan serta menemani Suzy di rumah sakit, sekarang ia memikirkan Baekhyun. Meski setiap malam tidur bersama tapi seperti terbentang jarak diantara keduanya, dekat di mata jauh di hati. Mereka hanya memiliki waktu bersama saat akhir pekan, saat yang tepat untuk memiliki quality time berdua namun Baekhyun lebih memilih untuk beristirahat. Setiap hari mereka hanya bertukar obrolan ketika sarapan sebelum berangkat bekerja, kemudian Sehun akan pulang terlambat dan hanya bisa mengecup kening Baekhyun yang sudah terlelap.

Si dokter muda menyadari perubahan kondisi Baekhyun dan ia baru teringat belum sempat menanyakan apakah hasil tes kesehatannya sudah keluar serta bagaimana hasilnya. Sehun juga menyadari bahwa dirinya seolah mengabaikan, lebih mementingkan orang lain dibanding Baekhyun dan faktanya, dialah yang menciptakan jarak itu sendiri.

Tiba-tiba ponselnya bergetar secara kontinu, menandakan ada panggilan yang masuk. Sehun mengambil gadget pipih miliknya, melihat caller ID dan langsung menggeser layar ke tanda berwarna hijau.

"Kau menjawab panggilanku, apa tidak ada pasien disana?"

"Sedang kosong. Sudah minum obatmu siang ini?"

"Sudah, dokter. Ugh, kau lebih cerewet dari ayah. Ngomong-ngomong aku tidak sabar ingin segera pulang ke Tokyo bersamamu, tapi sebelum memulai treatment ku disana kita harus ke festival musim gugur dulu ya. Ada taman yang sangat indah dan kau harus kesana," suara diseberang sana terdengar antusias.

"Jalan-jalan bisa nanti. Kesehatanmu harus diutamakan," Sehun menegaskan.

"Fine. Kalau sampai operasinya gagal lalu aku meninggal kupastikan arwahku akan menghantuimu dan menjadi mimpi burukmu selamanya karena telah melarang untuk menikmati keindahan alam di sisa hidupku," ancamnya terkesan main-main.

"Dengar, operasimu akan berhasil dan setelah itu kita akan ke festival, okay?" entahlah, berurusan dengan Suzy seperti sedang menangani anak kecil yang sedang merajuk.

Sehun mendengar Suzy menghela nafas, "Okay. Aku menunggumu nanti sore,"

"Hm, sudah dulu ya, ada laporan yang harus kuselesaikan," Sehun beralasan.

"Baiklah, selamat bekerja,"

"Terima kasih."

Setelah memastikan Suzy yang mengakhiri panggilan, Sehun langsung menghubungi Baekhyun. Cukup lama Sehun menunggu hingga panggilannya terjawab pada nada sambung terakhir

"Halo, Baek. Kau sedang apa?"

"Halo, Sehun-ssi,"

Sehun mengernyit, ia jauhkan ponsel dari telinga untuk melihat ID yang tertera di layar, memastikan ia menghubungi nomor yang benar karena yang suara wanita yang ia dengar barusan bukanlah milik Baekhyun.

"Siapa disana?" sambungnya menempelkan kembali benda pipih itu ke telinga.

Setelah mendengar penjelasan wanita di seberang sana, Sehun tampak terkejut, langsung bangkit dari kursinya. Tanpa berpikir panjang ia langsung melesat keluar ruangan menuju unit gawat darurat yang berada di lantai bawah.

.

.

An hour earlier..

Baekhyun mulai merasakannya. Sakit itu muncul disaat yang sangat tidak tepat, saat ia berada di depan menemani Hyojin untuk presentasi. Awalnya ia masih bisa menahan, membantu menjawab beberapa pertanyaan dari klien serta meyakinkan mereka bahwa proposal ini adalah rancangan yang apik dan terencana dengan sempurna. Sementara Chanyeol melempar tatapan cemas dari tempatnya duduk, mengetahui Baekhyun mengalami kesulitan disana. Kebetulan Baekhyun dan Hyojin menjadi tim terakhir yang presentasi dan dengan selesainya sesi mereka maka rapat pun diakhiri oleh moderator, disusul dengan pemberitahuan bahwa hasil akan diumumkan beberapa hari kedepan.

"Baek, kau pucat sekali, ada yang sakit?" tanya Hyojin sedikit khawatir.

"Tidak apa-apa, hanya sementara. Nanti juga hilang," kilahnya.

Hyojin sempat melirik ke CEO Park yang ternyata sedang memperhatikan mereka berdua, namun Seohyun mengalihkan perhatiannya dengan mengajak Chanyeol membicarakan sesuatu.

"Setelah ini kuantar ke dokter, kau terlihat tidak sehat,"

"Tidak usah, Hyo. Aku akan baik-baik saja," nyatanya yang ia rasakan adalah sebaliknya karena yang terjadi selanjutnya adalah—

"Tapi—astaga, Baek!" Hyojin memekik ketika Baekhyun terhuyung, menahan lengan Baekhyun sebisanya agar tidak langsung jatuh ke lantai.

Beberapa staff yang masih berada disekitar menoleh, termasuk Chanyeol. Ia tinggalkan Seohyun yang sedang memberikan notulensi dan dengan langkah lebar menuju pusat perhatian.

"Chanyeol.." Hyojin berujar pelan meminta pertolongan dan sedikit lega ketika melihat seseorang yang diharapkan datang menghampiri.

"Dia tidak semakin membaik," gumamnya pelan lalu beralih ke Hyojin "Kunci mobil kutinggal di ruanganku, kau membawa mobil?"

Hyojin mengangguk cepat sebagai jawaban. Chanyeol mengangkat Baekhyun yang masih setengah sadar, "Kita ke rumah sakit sekarang,"

"Chanyeol!" Seohyun berseru, cukup lantang hingga ruangan seketika hening. Bunyi heelsnya yang beradu dengan lantai marmer terdengar nyaring seiring dengan langkahnya yang terburu-buru.

"Tolong tunda semua jadwalku hari ini dan reschedule segala pertemuan dengan klien. Hubungi sekretaris Kang jika membutuhkan asistensi. Aku harus mengantarnya ke rumah sakit," titahnya tanpa mempedulikan Seohyun yang sudah berada diambang batas kesabaran.

"T-tapi—"

Chanyeol tidak lagi mendengarkan, pergi membawa Baekhyun yang sudah sepenuhnya tidak sadar bersama seorang wanita yang tidak Seohyun kenal itu keluar, mengundang tatapan heran dari staf eksternal sekaligus kaget dari karyawan internal yang menyaksikan presdir mereka menolong si mantan sekretaris sampai mengabaikan istrinya sendiri. Bagi Seohyun, ini adalah penghinaan. Lihat sampai isu dikalangan karyawan akan beredar dan bagaimana Seohyun harus menyelamatkan wajahnya dihadapan para bawahan suaminya nanti.

Severance, adalah rumah sakit terdekat yang bisa dicapai dimana Baekhyun dilarikan ke unit gawat darurat dan langsung ditangani disana. Hyojin sedang memeriksa isi tas Baekhyun dibagian administrasi ketika Chanyeol menghampirinya setelah membaringkan Baekhyun di brangkar dan menyerahkan penanganan sepenuhnya pada dokter.

"Ada apa?"

"Aku mencari kartu asuransi kesehatan Baekhyun,"

"Serahkan padaku. Kau duduk dan tunggu saja di depan ruang periksa, nanti aku akan menyusul,"

"Oh, baiklah.." Hyojin menurut dan menunggu selagi Chanyeol mengurus segala sesuatunya.

Sepuluh menit kemudian Chanyeol muncul, meski terlihat tenang namun Hyojin tahu Chanyeol juga mencemaskan keadaan Baekhyun.

"Apa Baekhyun tidak bercerita apapun padamu?" Chanyeol bertanya setelah menduduki tempat di sebelah Hyojin.

"Selain surat keterangan dokter yang diberikan padaku dia tidak pernah menyinggungnya lagi. Aku segan untuk bertanya karena itu hal pribadi. Kalaupun aku mengetahui sesuatu pasti aku langsung mengabarimu,"

Chanyeol menghela nafas, tidak mendapat informasi yang berguna tentang kondisi Baekhyun membuatnya bingung, "Ini sudah kedua kalinya Baekhyun seperti ini. Yang sebelumnya dokter bilang malnutrisi, mungkin kali ini alasan yang sama. Selama meeting tadi aku tidak bisa berhenti mengawasinya dan benar saja, apa yang ku khawatirkan terjadi,"

"Kurasa memang ada hubungannya dengan—"

Nada dering terdengar menginterupsi pembicaraan, sumber getarannya berasal dari tas milik Baekhyun yang berada di pangkuan Hyojin, ia melirik Chanyeol meminta persetujuan sebelum membuka tas lalu mencari ponsel Baekhyun, setelah menemukannya Hyojin mengeluarkan benda pipih tersebut, namun bersamaan dengan itu secara tidak sengaja sebuah amplop mencuat keluar lalu terjatuh. Chanyeol membantu mengambilkan sementara Hyojin melihat identitas si penelpon.

"Dari.. Sehun," Hyojin menoleh ke Chanyeol, secara tersirat meminta pendapat apakah ia harus mengangkat panggilan itu.

"Jawab saja, lebih bagus kalau dia datang kemari karena dengan begitu aku bisa bertanya lebih jauh tentang Baekhyun,"

Setelah mendapat persetujuan Hyojin menggeser layar untuk menjawab panggilan, sementara Chanyeol terfokus pada amplop berlabel Severance ditangannya.

"Halo, Sehun-ssi,"

Setelah beberapa detik baru terdengar sahutan, "Siapa disana?"

"Aku Hyojin, rekan kerja Baekhyun. Maaf saat ini Baekhyun tidak bisa menjawab panggilanmu, ia baru saja dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba jatuh pingsan,"

"Ya Tuhan, lalu bagaimana kondisinya? Di rumah sakit mana Baekhyun sekarang?"

"Saat ini sedang ditangani dokter ER di Severance Hospital,"

"Baiklah aku segera kesana, terima kasih Hyojin-ssi"

Pip. Sehun mengakhiri panggilan dengan terburu-buru, Hyojin bisa membayangkan Sehun yang khawatir bergegas menuju kesini secepat yang ia bisa.

"Sesuai keinginanmu, Sehun akan kesini,"

Hyojin membalikkan badan, yang diajak berbicara tidak menyahut seolah perkataannya barusan tidak menelusup ke indera pendengarannya sama sekali. Chanyeol tidak lagi membutuhkan keterangan dari Sehun, tidak pula harus bertanya secara langsung ke Baekhyun karena lembaran yang baru saja ia baca telah menjawab semuanya. Hyojin mengambil secarik kertas itu penasaran kemudian membaca isinya dengan seksama. Tidak perlu waktu lama untuk mengerti arti dari keterangan yang tertulis di dalamnya karena dalam hitungan detik, reaksi Hyojin tidak jauh berbeda dengan Chanyeol sekarang.

"Ya Tuhan, Baekhyun.." lirih suara Hyojin terdengar dengan satu tangan yang gemetar menutupi mulutnya.

"Don't—" Chanyeol menggeleng tidak percaya dengan tatapan hampa, "Don't tell me that now she's dying.."


To be continued..