Di seret menuju parkiran sepeda, Hinata di-kabedon di pojokan. Kesannya romantis, namun Hinata merinding. Kadar keromantisan kabedon berkurang seratus persen.

"K-k-kau mau apa?" Hinata kaget maksimal.

"Dari mana kau dengar cerita itu?"

Tatapan Sasuke saat itu sangat tidak bersahabat. Hinata berusaha berpikiran jernih, Sasuke menanyainya demikian, berarti dirinya belum ketahuan dong? Bisa jadi. Hinata belum mau menyerah di sini. Astaga, bohon jadi malah keterusan begini. Berapa dosa yang sudah diperbuat Hinata hanya untuk hari ini? Oh, Tuhan, maafkanlah dirinya. Hinata ingin menepuk jidat. Situasi di-kabedon Sasuke pun tidak seindah kisah romansa di komik shoujo. Nyatanya Hinata jadi tremor dan pucat. Seratus persen panik.

Astaga, ini tidak baik.

Satu kebohongan berbuah menjadi kebohongan lainnya.

...

Unexpected Cinderella Story © Eternal Dream Chowz

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

|I don't own any chara in this fanfict. This is an unprofitable fanwork. |

Pairing: [Sasuke U. X Hinata H.]

Genre: Humor

Rate: T

Warning: Out of Character, Typo(s), Alternate Universe, Rush Plot

.

.

"Heh, malah bengong!" Suara Sasuke meninggi. Hinata bagai kodok kejepit, suaranya tercekat.

"D-dari Itachi-nii?" Hinata bodoh, malah nanya balik.

Sasuke melotot, matanya seperti hampir mencuat keluar. Heh, kalau Hinata jago berkelahi, ia tak akan segan mencolok kedua bola mata itu dengan jemarinya. Sayangnya, ia lebih mirip anak ayam yang dikejar kucing tetangga. Horor.

"Malah nanya. Kau tidak bohong, yakin?" Sasuke memicingkan mata.

Hinata mengangguk cepat. Bodo amat dengan nanti, yang penting sekarang selamat dahulu. Salah benar caranya.

"Kuso aniki."

Sasuke merutuk. Entah apa saja yang dikatakannya, Hinata ingin kabur sesegera mungkin. Terima kasih, sepatu tersayang. Bukannya dapat kisah cinta ala sinetron remaja, Hinata malah dapat siksa neraka. Kualat sih, tapi tolong dikondisikan. Hinata bisa turun kiloan kalau dirundung seperti ini setiap hari. Katakan saja, Hinata bakal membuat buku diet sehat nantinya.

Halah, mimpi.

Sasuke masih enggan beranjak, menyisakan Hinata dengan tungkai kakinya yang mulai lemas karena sang empunya menahan napas sejak Sasuke mulai merutuk tadi.

"Jangan katakan ini pada siapa-siapa." Ancaman Sasuke datar, tapi maknanya hebat. Tungkai kaki Hinata tremor berat.

Tentu saja, Hinata sudah pengalaman. Jangan melanggar kalau mau selamat. Sasuke bukan manusia murah hati, dia titisan iblis. Jahatnya luar biasa. Hinata semasa kecil pernah melanggar janji serupa, Sasuke dengan kejinya mengkambing hitamkan Hinata untuk kesalahannya. Hinata jadi dicap anak nakal, untungnya sih itu tidak berlangsung lama. Tidak sengaja ember padahal, tapi Hinata tetap kena getahnya. Alamat sial kenal sedari kecil dengan iblis satu itu.

Hinata segera menggangguk keras. Kali ini gilirannya menyalahkan Itachi, padahal dirinya serta merta adalah si pelaku utama. Kalau ketahuan bisa habis.

Oh, kelihatannya setelah pulang sekolah nanti Hinata harus menyediakan kembang tujuh rupa dan ritual pembakaran untuk buang sial. Harus bakar barang bukti, eh, tapi kalau nanti ketahuan bagaimana?! Rumah saja tetanggaan, loncat pagar juga sampai. Pasti sadar dong kalau sedang membakar sesuatu. Haruskah Hinata bohong sedang melakukan barbeque? Idiot namanya. Masa barbeque sepatu. Ada-ada saja, kelihatannya Hinata butuh air mineral axua.

...

"Akhirnya, aku bebas."

Hinata duduk lemas di sisi kantin yang sepi. Wajahnya kecut, tubuhnya lemas. Makan pun tak selera, padahal menu hari ini adalah kesukaannya. Sasuke pandai merusak harinya. You made my day, Sasuke. Hinata ingin berkata kasar.

Setelah diinterogasi habis-habisan, Hinata sekarang hanya bisa bengong. Bingung harus bagaimana. Alamat sudah hampir ketahuan, kalau Itachi bocor. Tamatlah sudah. Bukan hanya pencarian pangerannya yang omong kosong, siksa nerakanya juga semakin bertambah dekat.

Ah, Hinata mulai menerawang masa depan. Sedih.

Seorang pemuda bertato segitiga di wajah, Kiba, datang dengan nampan makanan dan duduk di seberang gadis berambut indigo yang tampak tidak bernyawa, "Hinata, kau kenapa?"

"Ah, a-aku baik-baik saja!" Hinata menggebrak meja kantin, spontan berdiri.

Tatapan aneh dilayangkan kepadanya. Hinata malu, lantas duduk sesegera mungkin. Teman-temannya heran. Gadis itu pendiam, tapi kalau sedang ada masalah, kumat anehnya.

"Hei, kau ada masalah?" Gadis bercepol datang, duduk di samping Kiba dengan santai.

"Tenten ..."

"Ya?" balas Tenten sambil menyeruput teh manis dinginnya.

"Aku mencoba sesuatu dari buku tips romansa milikmu, tapi kenapa hasilnya malah begini ..." Hinata menatap awang-awang, air matanya mengalir dramatis.

Teman sebangkunya heran. Tenten mengerutkan kening, "Buku? Yang mana, Hinata?"

"Buku bersampul hijau di atas mejamu kemaren. Katanya seratus persen jitu. Kok malah sial begini ketika aku yang coba." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Sendok jatuh menimbulkan suara denting, seakan menambah dramatisasi. Tiba-tiba saja, Kiba beku. Hinata melirik lemah. Tenten menahan napas.

"Hinata."

"Hm?"

Tenten mengacungkan garpu ke depan, bergaya ala detektif, "Biar kutebak, jangan bilang—kau mempraktikkan sesuatu dari buku itu?"

Hinata terbelalak. "M-memangnya k-kenapa ..."

"Hinata, itu bukunya si bodoh Kiba! Kenapa kau baca?" Gantian Tenten yang menggebrak meja dengan kencang.

Kiba panik. Ia terbatuk keras, Hinata menatap lemah, apa yang membuat temannya terbatuk kencang seolah sudah ditepuk keras di bagian punggung? Tenten menepuk jidat, kepalanya pening akibat eksistensi dua sahabatnya yang idiot garis keras.

Tenten tak habis pikir saja. Hinata yang terlalu percaya pada hal yang baru dilihatnya, dan Kiba yang gemar membaca bacaan fiksi remaja. Lengkap sudah. Sekadar info, Tenten tahu persis kejadian apa yang terjadi tanpa mesti mengira-ngira pokok permasalahannya. Kata kuncinya, buku sampul hijau dan kesialan yang dialami Hinata. Kebetulan Tenten tahu isi bukunya karena tak sengaja membaca sekilas. Hfft. Tenten ingin cuti dari jabatan sebagai teman mereka.

"Oh, Kiba, jelaskanlah padanya, aku pusing."

"Kiba? Memangnya apa salahku membaca buku itu?"

"Err, Hinata. Aku ... a-aku minta maaf."

Heh, apaan sih kenapa jadi begini suasananya. Hinata mendadak kepo. Apa sih si Kiba malah melirik kiri-kanan seperti anjing ketakutan?

"K-kenapa memangnya?" tanya Hinata, menarik-narik kerah baju Kiba tidak sabaran.

"I-itu buku karya kakak perempuanku. K-kalau kau memercayainya, habislah sudah."

Hinata melongo. Buku tips cinta yang ia baca itu apa dong? Mengapa Kiba jadi kelabakan?

"H-hinata, itu hanya novel fiksi berjudul Tips Cinta, t-tentu saja tidak akan manjur kalau dicoba di kehidupan nyata." Kiba berusaha melepas cengkraman tangan Hinata yang makin lama terasa mencekik.

Hinata cengo. Kalau bisa, rahangnya sudah copot karena gaya gravitasi. Kiba sesak napas, tangannya menggelepar bagai ikan kekurangan air. Kasihan.

Oh, shiet. Betapa sial.

"A-apa katamu tadi? F-fiksi? Ahahaha ... ahaha ... haha ..."

Kiba tersenyum kecut, lemas. Wajah Hinata saat itu mengerikan, Kiba nyaris ingin pingsan saja.

"J-jadi selama ini ... aku salah baca ... ahaha ..."

Tenten kasihan. Dua temannya kelihatan ironis. Hinata yang ketawa-ketiwi seperti kuntilanak sambil mengguncang tubuh Kiba yang hampir pucat. Alhasil duanya sama-sama salah. Kiba yang asal letak buku padahal tahu Hinata gampang percaya, dan Hinata yang cuma membaca selembar halaman tentang tips cinta dalam sebuah buku fiksi remaja lantas mempraktikkannya.

"Hinata, astaga ... hentikan. Kau akan membunuh Kiba."

Ah, dasar, Tenten benar-benar harus menghentikan Hinata sebelum gadis itu membuat Kiba hilang kesadaran.

.

.

.

To Be Continued

A/N: Hai~ Apa kabar? Maaf lama update yak, author sibuk ujian dan kuliah. Inipun bisa dikerjakan karena ada liburan untuk ujian SBMPTN tahun ini. Ahaha jadi nostalgia tahun lalu~ Ups, oot. Chapter depan akan ada flashback kenapa Hinata bisa ngelempar sepatu ke kepala orang sesuka dia. Wakakaka ... harap bersabar ya~~ Mata ne~

Salam,

Gina Atreya