"Baiklah ini dia penggemar terberuntung ke dua kita. Siapa namamu gadis manis?" Ucap si pembawa acara kepada Hinata yang sudah ada di atas panggung, di samping pembawa acara lalu di sebelahnya lagi ada Uzumaki Naruto yang menatapnya sambil tersenyum.
"Eh ? Ah namaku Hinata Hyuga." Jawab Hinata gugup.
"Ahahaha tidak usah gugup seperti itu, aku tahu kau pasti gugup karena bertemu idolamu kan. . "Goda si pembawa acara.
Hinata hanya tersenyum kecil merespon ucapan pembawa acara itu.
"Hinata, terimalah pemberianku ini. Semoga kau menyukainya." Ucap Naruto yang kini entah sejak kapan sudah ada di hadapan Hinata, sambil menyodorkan kepadanya sebuah syal merah yang dibungkus plastik bening rapi dengan pita dibagian atasnya.
"Eh?"
.
.
.
-A Piece of Cake-
Chapter 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Asli dari otak saya sendiri yang datang secara tiba-tiba.
Pairing : NaruHina, slight SasuSaku
Genre : Romance
Rated : T
Warning !
Amatiran, Newbie, Typo sana sini, Abal, Bertele-tele ? Alur kecepetan ? POV yang berubah sendiri ? Ide pasaran? (maybe)
Enjoy~
While listening to : Melting By K Will
"Hinata ! Kau benar-benar beruntung, kau tahu. Coba lihat syalnya."
Hinatapun memberikan syal merah yang dipegangnya kepada Sakura. Terlihat Sakura yang asyik sendiri dengan melihat-lihat syal merah itu. Ya, mungkin Hinata bisa dibilang beruntung. Diantara sekian banyak penggemar yang ada, Hinatalah yang terpilih. Hinata yang datang dengan paksaan dari Sakura agar ikut ke konser ini. Bahkan di saat ini pula pertama kalinya Hinata mendengar lagu dari K-Five dia langsung dapat hadiah, benar-benar beruntung.
Hinata mengalihkan pandangan nya ke arah jendela bus. Saat ini ia dan Sakura sedang dalam perjalanan pulang setelah konser benar saja, mereka berdua melewatkan acara tanda tangan. Meskipun Hinata bersikeras bahwa dia baik-baik saja, namun Sakura tetap yang menang dan akhirnya mereka pulang lebih awal.
.
.
.
.
"Hish ! Bos kejam ! Sialan ! Tak punya hati ! Grzzz !" Dan . . lagi, Hinata terlihat seperti orang ehem sakit jiwa ? sekarang ini. Lihat saja penampilannya yang berantakan itu, ditambah dengan dia yang berbicara sendiri sambil marah-marah tidak jelas di jalanan yang sepi. Sekarang pukul 10 malam dan lagi-lagi Hinata menghabiskan waktunya untuk bekerja. Bosnya yang satu itu memang tak kenal waktu. Apalagi memperkejakan Hinata yang notabenya seorang freelance sampai semalam ini.
Hinata menghela napas pelan, seakan-akan pasrah dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Mungkin suatu hari nanti Hinata akan mendapatkan hasilnya, mendapat bonus gaji . .mungkin ? Hinata tersenyum kecil membayangkan itu.
'Ya, berfikir positif saja Hinata. Lagipula hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.' Pikir Hinata sambil menganggukan kepalanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun tiba-tiba saja langkah Hinata terhenti, dan matanya melotot kaku.
'Gawat!' Pikir Hinata
'Aku lupa kalau besok, tugas dari Kurenai-sensei akan dikumpulkan!' Pikir Hinata masih terdiam di tempat.
"Akhh!" Teriak Hinata parau sambil mengacak-acak rambutnya.
Set, Hinata melihat jam tangannya. Sudah jam segini mana mungkin sempat.
"Kau baik-baik saja, nona ?"
Hinatapun langsung sadar dari frustasinya dan menatap seorang laki-laki yang terlihat menggunakan jaket biru tua dengan kepalanya yang tertutupi oleh topi yang entah sejak kapan berada di samping Hinata. Wajah lelaki itu tidak terlihat karena jalanan ini yang gelap. Memang ada lampu, tapi hanya terlihat remang-remang saja.
Mengernyit bingung sekaligus kaget dan malu karena kepergok berbicara sendiri dari tadi, Hinatapun tersenyum lembut kepada laki-laki di depannya itu.
"Ah . . aku baik-baik saja. Maaf."
TEP . . Hinata terkejut bukan main, saat laki-laki di sampingnya itu malah memegang tangan kanannya dan menarik nya mendekat.
"Wajahmu pucat. Apa kau yakin?" Ucap lelaki itu.
Langsung saja Hinata menarik kembali tangannya dan berjalan 2 langkah mundur. Dia ketakutan, bagaimanapun ia tidak mengenal laki-laki itu. Sejenak laki-laki itu juga terlihat kaget melihat reaksi Hinata, sadar akan perbuatannya yang dirasa kurang sopan ia langsung meminta maaf kepada Hinata.
"Eh .. ma-maaf. Aku tidak bermaksud" Ucap laki-laki itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
Sejenak Hinata melihat sebuah surai kuning keluar dari topi yang dikenakan lelaki itu. Beberapa detik kemudian, Hinata yang masih diam memproses apa yang terjadi dan laki-laki yang sekarang sudah ada didepannya itu masih membungkukkan badannya. Sadar, Hinatapun bersuara . .
"I-iya" cicit Hinata pelan.
Lelaki itupun kembali menegakkan tubuhnya, meski Hinata tidak melihatnya tapi ia yakin bahwa lelaki di depannya itu sekarang sedang tersenyum kepadanya.
"Syal itu cocok untukmu, kau terlihat lebih manis." Ucapk lelaki itu lalu berjalan pergi meninggalkan Hinata.
Hinata yang masih memproses apa yang baru saja diucapkan lelaki itupun mulai menunduk melihat syal merah yang melingkar di lehernya. Itu adalah syal hadiah pemberian Naruto, Anggota dari K-Five.
Hinatapun menghela napas dan semburat merah keluar dari kedua pipinya. Entahlah, ia tidak tahu. Tapi Ia baru menyadari bahwa sejak tadi hatinya berdebar-debar.
.
.
.
.
"Kemana perginya buku itu? Yang benar saja sebentar lagi Kurenai-sensei akan datang!" Ucap Sakura parau sambil mengobrak-abrik isi tasnya. Sudah 5 menit ia mencari tapi tidak juga menemukan buku yang sebenarnya sangat di butuhkannya saat ini. Mungkin ini karma, saat ia menggunakan buku itu dan mulai mengerjakan tugas dari Kurenai-sensei ia berkali-kali meremas dan melempar buku itu karena saking kesalnya dengan soal-soal sulit yang tertulis didalamnya. Mungkin buku itu marah karena diperlakukan seperti itu, dan sekarang dia malah menghilang entah kemana. Yang benar saja!
"Sakura-chan, bagaimana?"
"Masih belum ketemu Hinata. Aduhh gawat!"
"Terakhir taruh dimana?"
"Sudah aku masukan ke tas kok tadi malam, aku yakin sekali!"
"Kalau begitu coba cari lagi."
Sakura melirik Hinata sekilas lalu kembali mencari-cari di dalam tasnya.
"Ngomong-ngomong Hinata, wajahmu terlihat pucat. Kau kurang tidur?" Ucap Sakura, masih sibuk dengan tasnya.
"Kurasa begitu." Setelah mengucapkan itu, Hinatapun menguap lebar karena sudah tidak tahan. Benar, dia merasa ngantuk sekali saat ini. Sebenarnya Hinata hanya sempat tidur 1 jam saja, karena waktu tidurnya yang telah habis digunakan untuk mengerjakan tugas dari Kurenai-sensei.
"Ini dia!" Teriak Sakura sambil mengangkat tinggi-tinggi buku yang dicari-carinya itu.
Hinata tersenyum, "Tuhkan, Sakura-chan saja yang kurang teliti."
"Aneh sekali, padahal tadi tidah ada. Sekarang tiba-tiba ada. Ah! Bikin sakit jantung saja!" Ucap Sakura lalu mulai merapikan kembali isi tasnya yang berantakan.
Dan 2 menit kemudian Kurenai-senseipun memasuki ruangan dan kuliahpun dimulai.
.
.
.
Hinata sama sekali tidak bisa konsen, bukan hanya karena ngantuk tetapi juga mengingat kejadian semalam.
'Laki-laki itu . . suaranya mirip sekali dengan Naruto' Pikir Hinata.
"Hinata ?"
"Hai Hinata!"
"Eh!? Eh ya ? Ada apa Sakura-chan?" Ucap Hinata linglung.
"Hish kau ini, jam kuliah sudah habis. Kan nggk ada kelas lagi, makan yuk!" Balas Sakura sambil mulai berdiri dan menata bukunya.
"Ah, maaf. Baiklah." Hinatapun mulai ikut merapikan buku-bukunya lalu mulai berjalan di samping Sakura.
.
.
.
.
"Hei! Kau! Hyuga Hinata!"
Hinatapun menoleh ke belakang. Seorang perempuan yang tak dikenalnya terlihat menunjuk-nunjuk kearahnya.
"Ya?"
"Benarkan? Dia gadis yang dapat syal dari Naruto-kun!" Ucap perempuan itu lagi, sambil menatap teman-teman di sebelahnya. Oh ya, saat ini ada 3 orang perempuan yang ada di depannya. Dan kurasa Hinata tahu siapa mereka, penggemar Naruto Uzumaki.
"Ne ne Hinata-san. Apa kau punya nomor telepon Naruto-kun? Bukankah kau mendapatkannya? Sesudah memberikan syal itu kepadamu bukankah Naruto-kun terlihat berbicara kepadamu?" Ucap perempuan itu bertubi-tubi.
"Eh? Tidak, aku tidak punya." Jawabku kewalahan. Memang benar saat itu Naruto sempat mengobrol denganku, tapi itu hanya sebentar dan Naruto hanya bertanya apa pekerjaanku.
"Kau yakin? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatukan?" Ucap perempuan yang lain dengan nada selidik.
"Ti-tidak kok, dia hanya bertanya aku bekerja dimana. Sudah hanya itu saja." Jawabku jujur.
"Kalu begitu, boleh aku melihat handphonemu?" Ucap perempuan yang satunya lagi dengan sedikit paksaan di nada bicaranya.
"Eh, apa?"
Drrrt
Seketika Hinata tersentak kaget, lalu mulai merogoh-rogoh tasnya. Dan begitu melihat handphone nya yang bergetar serta layar yang menyala dan bertuliskan nomor telepon yang tidak diketahui iapun mengernyit bingung. Namun begitu ingat bahwa sepertinya ia sedang berhadapan dengan situasi yang sulit, maka iapun mengambil kesempatan ini.
"Ah . . maaf, ini dari bosku. Aku harus pergi." Ucap Hinata lalu berjalan pergi dengan cepat tanpa menunggu jawaban ketiga perempuan yang merupakan fans Naruto itu.
Setelah dirasa cukup jauh, Hinatapun menekan tombol 'jawab'
"Halo?" Ucap Hinata.
"Kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang?"
Hinata mengernyit bingung, "Aku baik-baik saja, maaf ini siapa?"
"Syukurlah, kau dimana sekarang?"
"Tunggu, ini siapa?" Tanya Hinata khawatir.
Terdengar suara helaan napas dari ujung sana. Selama 3 detik berikutnya masih tidak ada jawaban. Hinata pun masih setia menunggu. Hingga akhirnya ia terbelalak kaget mendengar jawaban dari si penelpon.
"Ini aku, Naruto Uzumaki."
.
.
.
To Be Continued
Review Plis ?
Thanks to :
h3ndy, Miizuki554, NataHiru, cheeseburgerslayers, dan Lavender.
Intan Dewi Cahaya
