"Iya, kau gadis berponi dengan rambut indigo. Ayo maju ke sini."
"Hinata, terimalah pemberianku ini. Semoga kau menyukainya."
"eh?"
"Kau baik-baik saja, nona ?"
'Laki-laki itu . . suaranya mirip sekali dengan Naruto'
"Syukurlah, kau dimana sekarang?"
"Ini aku, Naruto Uzumaki."
"Hinata, tenang. Ini aku."
"Naru-to . . -san?"
"Hinata, aku menyukaimu.-"
"dan . . maafkan aku."
"Apa yang sedang dipikirkannya ?"
'Apa-apaan ini?'
.
Hari Sabtu ini, di Cafe Bonjour pukul delapan malam tepat.
-A Piece of Cake-
Chapter 5
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Asli dari otak saya sendiri yang datang secara tiba-tiba.
Pairing : Naruto x Hinata
Genre : Romance
Rated : T
Warning !
Amatiran, Newbie, Typo sana sini, Abal, Bertele-tele ? Alur kecepetan ? POV yang berubah sendiri ? Ide pasaran? (maybe)
Enjoy~
While listening to : Bobby Antonio - Cinta Harus Menunggu
FLASHBACK
14 bulan sebelumnya, Cafe Bonjour
"Hinata bisa tolong kau antarkan pesanan ini ke meja no 6?"
Hyuuga Hinata tersenyum ke arah Shizune seniornya lalu mengambil alih nampan dengan secangkir coffe diatasnya.
"Oke." Jawab Hinata singkat lalu mulai berjalan menuju ke meja no 6. Matanya berkeliling lalu terhenti pada sebuah meja dengan sebuah papan kecil di atasnya dan bertuliskan angka 6. Seorang pemuda dengan rambut kuning jabrik terlihat duduk menempati meja tersebut.
Hinata mengernyit heran melihat laki-laki itu yang sedang . . menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil berkali-kali memukul-mukul kepalanya dengan tangan.
'Ada apa dengannya? Apa dia sedang kesakitan?' Pikir Hinata sambil berjalan pelan menghampiri meja itu. Oh ya, Hinata berjalan pelan sambil mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan si pelanggan no 6 itu.
"Ano . ." Hinata mulai bersuara pelan, mencoba menyadarkan pelanggannya itu.
Mungkin karena mendengar suara Hinata -meskipun Hinata yakin benar bahwa suaranya terdengar pelan tadi- laki laki itu mengangkat kepalanya lalu menengok menatap ke arah Hinata.
'Astaga!' Pekik Hinata dalam hati, benar-benar diluar dugaannya. Laki-laki didepannya itu benar-benar terlihat berantakan! Sangat berantakan! Wajah tan nya terlihat pucat, tatapan mata malas dan kedua lingkaran hitam di kedua matanya yang terlihat cukup jelas.
'Kurasa dia benar-benar sakit.' Batin Hinata.
"Ehem . . ini pesanan anda tuan." Ucap Hinata sambil meletakkan secangkir coffe di atas meja no 6 itu.
Dan secepat kilat laki-laki di depannya itu langsung mengambil coffe itu lalu meminumnya sampai habis. Hinata memekik kaget melihat itu, hei bagaimanapun itu secangkir coffee panas. Bukankah lidah nya bisa terbakar jika meminum langsung seperti itu?
Dan benar saja dugaan Hinata, pemuda di depannya itu langsung menjulurkan lidahnya dan memekik pelan karena merasakan panas di lidahnya.
"Ah . . aduh . .panas. ." Pekik laki-laki itu.
Hinata menghela napas pelan, lalu berbalik pergi.
Tak-
"Makan dan minum ini, Tuan. Aku sudah membuatnya hangat, jadi minum dengan santai saja."
Hinata kembali dengan meletakkan sepotong kue dan secangkir coffee di atas meja no 6.
"Victoria Sponge?" Ucap pemuda di depannya itu sambil menatapnya heran.
Hinata tersenyum, ternyata laki-laki di depannya ini cukup mengenal jenis-jenis kue.
"Ya, cobalah. Aku yakin tuan akan merasa lebih baik." Ucap Hinata sambil tersenyum lebar.
Laki-laki di depannya terlihat mendengus pelan namun seulas senyum geli terlihat di wajah tannya.
"Benarkah?" Tanya laki-laki itu.
Hinata mengangguk mantap, "Ah, dan ini adalah cake kesukaanku."
Detik selanjutnya terlihat laki-laki itu mengangguk mengerti lalu mulai memakan kue itu dengan perlahan, dan senyum mulai mengembang diwajahnya.
Hinata yang melihat itu ikut tersenyum, "Kalau begitu, saya permisi." Hinata membungkuk kecil lalu berbalik berjalan kembali ke arah dapur.
Uzumaki Naruto masih terus melihatnya, hingga pelayan itu benar-benar tidak terlihat lagi di balik pintu bercat coklat bertuliskan Only Employees yang ada di cafe itu.
Lalu kembali mengarahkan tatapannya pada sepotong kue yang sudah dimakannya setengah dan secangkir coffee di depannya.
Tangannya terangkat mengambil cangkir coffee itu lalu mulai meminumnya secara perlahan menikmati setiap rasa yang ada. Dan mendesah lega karena merasakan kenikmatan coffee itu. Ah . . sekarang sepertinya Naruto tahu. Dimana tempat khusus baginya untuk memanjakan diri.
.
.
.
.
"Hei Naruto."
Orang yang dipanggil pun masih terus sibuk memainkan laptopnya tanpa ingin membalas panggilan temannya tersebut.
"Ck, Naruto kau sudah menghapal bagianmu belum!?" Uchiha Sasuke duduk di depannya sambil menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya dengan perasaan dongkol.
"Hm." Naruto hanya berdehem pelan menjawabnya, namun matanya masih sibuk ke arah layar laptop.
"Kau lihat apa sih. Beberapa hari ini kau sibuk dengan laptop mu terus." Sasuke terlihat kesal lalu mengintip ke layar laptop Naruto mencoba melihat apa yang sebenarnya sedang Naruto kerjakan dari tadi.
"Hyuga Hinata? Manis juga." Lanjut Sasuke sambil melihat sebuah foto di layar laptop Naruto.
Naruto mengernyit heran sekaligus jengkel mendengar ucapan Sasuke barusan. "Apa maksudmu? Hei ini kan foto cake dan kopi."
Sasuke menegakkan tubuhnya lalu mulai duduk dihadapan Naruto sambil mendesah pelan. "Tentu saja, cake itukan manis."
Naruto mendengus. Lalu menutup laptopnya dan memasukkannya kedalam tas.
"Hei, kau mau kemana? Dan tunggu, Hyuga Hinata itu siapa?" Ucap Sasuke begitu melihat Naruto yang terlihat akan pergi dan mengingat bahwa ternyata dari tadi Naruto hanya membuka instagram seseorang bernama Hyuga Hinata yang meskipun isi akunnya hanya foto bermacam-macam cake dan minuman.
"Aku mau bersantai." Jawab Naruto singkat lalu pergi meninggalkan ruangan itu, menyisakan Sasuke yang dengan wajah kesalnya masih menatap pintu ruang tersebut yang baru saja ditutup oleh Naruto dari luar.
"Dasar." Gumam Sasuke pelan.
Krek-
Sasuke menoleh ke arah pintu mendengar suara pintu terbuka lalu mengernyit melihat Naruto yang terlihat melengokkan kepalanya dan menatapnya datar.
"Hyuga Hinata bukan siapa-siapa, jadi jangan ganggu dia." Ucap Naruto lalu kembali menutup pintu.
Sasuke menghela napas tidak percaya, "Apa-apaan itu?"
.
.
.
"Naruto? Kau datang lagi?"
Naruto tersenyum mendengar pelayan yang dikenalnya dan yang sudah ditunggu-tunggunya dari tadi datang.
"Hai Hinata, apa maksudmu? Ini tempat favoritku kau tahu."
Hinata Hyuga, pelayan yang baru tiga hari yang lalu dikenalnya itu. Mengingat pelayan itu juga yang memberinya sebuah cake dan secangkir coffee ketika dirinya sedang stress berat, saat itu.
Hinata pun mendudukan dirinya di depan Naruto lalu tertawa kecil.
"Ya . . ya . aku tahu."
Naruto ikut tertawa melihat gadis itu tertawa. Sungguh ia tidak tahu kenapa, hanya saja Naruto sangat suka melihat gadis itu tertawa dan tersenyum seperti saat ini dihadapannya. Membawakan sepotong kue dan secangkir coffee lalu ikut bercengkrama dengannya seperti ini. Benar-benar tempat favorit untuk melepas penat dari kesibukannya.
"Jadi Naruto, kau sudah hapal bagianmu?" Tanya Hinata sambil menopang dagunya menghadap ke arah Naruto.
Sementara Naruto mengernyit heran mendengar pertanyaan Hinata yang terdengar sama seperti pertanyaan Sasuke beberapa waktu yang lalu. Hatinya mencelos tidak suka mendengarnya.
"Oh ayolah, kau menanyakan hal yang sama seperti Sasuke." Jawab Naruto sambil mengerucutkan bibirnya merasa kesal.
"Ahaha . . Naruto. Kau sendiri yang bercerita panjang lebar padaku tentang boyband mu itu. Jadi aku hanya bisa memberimu semangat dengan sepotong kue dan secangkir kopi. Dan apalagi yang bisa kulakukan? Aku hanya seorang pelayan yang baru saja kau kenal." Jelas Hinata panjang lebar sambil tertawa kecil.
"Itu sudah cukup." Kata Naruto cepat.
Dan selanjutnya Hinata sedikit tersentak kaget merasakan tangan Naruto yang terulur menggenggam tangan kanannya yang bebas di atas meja. Perasaan aneh menggelitik dadanya ketika merasakan kehangatan tangan Naruto mulai menjalar ditubuhnya. Matanya menatap Naruto tidak percaya.
"Victoria Sponge and Coffe. Kau sudah cukup memberiku semangat Hinata." Naruto tersenyum lalu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hinata.
"Apalagi dengan ditambah kehadiranmu." Lanjut Naruto kali ini sambil tersenyum.
BLUSH
Wajah Hinata merona merah mendengar itu, hingga detik ke tiga ia masih diam menatap Naruto yang tersenyum lembut dihadapannya. Seorang pelanggan yang tiga hari yang lalu datang dengan wajah berantakan ini sudah berubah dengan wajah yang lebih fresh dan ehem tampan itu. Apalagi ditambah dengan laki-laki itu yang datang kembali ke cafe ini sambil tanpa ragu-ragu mengajaknya berkenalan dan mencurahkan semua masalahnya kepada Hinata. Dan sekarang apa lagi ini? Pemuda ini mencoba menggodanya?
"Ku-kurasa aku harus kembali bekerja." Hinata tergagap lalu melepas genggaman tangan Naruto dari tangannya lalu mulai berdiri, dengan wajah yang masih memerah.
"Oke." Jawab Naruto sambil mengangguk singkat.
Naruto tertawa melihat tingkah Hinata yang terlihat salah tingkah itu, apalagi mengingat wajah gadis itu yang memerah dan tangannya yang terasa kaku saat digenggamnya tadi.
"Selain cake, kurasa Hinata juga manis." Ucap Naruto tatkala senyumnya makin melebar.
.
.
.
.
Satu bulan sudah berlalu, dan Naruto yakin kali ini adalah waktu yang tepat. Dengan jantung yang berdebar-debar dan perasaan membuncah yang ingin segera dicurahkannya kepada gadis yang sudah menyita perhatiannya selama ini.
Lagipula ini memang waktu yang tepat. Mengingat besok adalah waktunya mulai debut dalam boyband yang diikutinya. Kalau sudah mulai debut, mungkin waktunya akan banyak tersita dan sibuk oleh urusan boyband dan ia tak ingin mengulur-ulur lagi untuk mengatakan perasaanya kepada Hyuga Hinata. Gadis yang sudah mencuri hatinya sejak sebulan yang lalu.
Dan disinilah dia, di sebuah taman dekat apartemen Hinata yang memang sudah diketahui olehnya. Tidak romantis memang, ini hanyalah taman biasa yang setiap sorenya diramaikan oleh anak-anak kecil untuk bermain. Tapi Naruto tidak ambil pusing, lagipula taman ini dekat dengan apartemen Hinata. Jadi gadis itu juga pasti mudah untuk sampai kesini.
Naruto mendesah pelan, lalu melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Sudah setengah jam berlalu tapi kenapa Hinata belum datang? Kemana gadis itu?
Tangan Naruto terangkat mengambil ponsel di saku celananya. Lalu mulai mengecek pesan yang dikirimnya kepada Hinata tiga jam yang lalu.
To : Hyuga Hinata-chan
Hinata, temui aku di taman dekat apartemenmu. Jam setengah delapan malam nanti. Penting!
.
From : Hyuga Hinata-chan
Baiklah Naruto-kun.
.
Balasan itu diterimanya tiga jam yang lalu tepat setelah dia mengirim pesan kepada Hinata. Tapi kenapa gadis itu masih belum datang? Perasaan gelisah sekaligus khawatir mulai datang menghampirinya. Tanpa ragu lagi, jarinya pun menekan tombol panggil ke nomor telepon Hinata.
Tut . . tut . .tut . .
Hingga nada panggilan ketiga akhirnya sebuah suarapun keluar dari ujung ponsel Hinata. Namun Naruto mengernyit kaget mendengar suara laki-laki yang menyautnya, bukan suara Hinata seperti yang biasa ia dengar.
"Siapa ini?" Nada suara Naruto mulai meninggi.
"Dengan Uzumaki-san? Ini dengan rumah sakit, pemilik ponsel ini baru saja mengalami kecelakan di area Jalan . ."
Mata Naruto membulat tidak percaya mendengarnya, Hinata kecelakaan! Jalan itu . . itu jalan dekat cafe tempat Hinata bekerja! Cafe Bonjour!
"A-ah iya, maaf tapi ini di rumah sakit mana? Apa Hinata baik-baik saja!?" Naruto terburu-buru lalu mulai berdiri dari duduknya di kursi taman lalu mulai berlari begitu mendengar dimana tempat Hinata dirawat.
.
.
.
Seolah tidak percaya melihat apa yang ada didepannya saat ini, Hinata terbaring dengan mata terpejam. Bagian atas kepalanya ditutupi oleh perban dengan bercak merah sedikit terlihat dibagian dahi yang tertutup perban itu. Lebam terlihat di bagian pipi kirinya dan sebuah goresan terlihat di bagian dagunya.
Dengan hati-hati Naruto menngelus pelan pipi Hinata yang lebam itu.
"Hyuga-san akan segera bangun. Namun kata dokter ada sedikit gangguan pada kepalanya karena saat kecelakaan kepalanya membentur keras di jalan. Jadi kita hanya bisa menunggu hingga Hyuga-san sadar dan melanjutkan pemeriksaan." Ucap seorang perawat di samping Naruto.
"Bagaimana . . bagaimana dia bisa kecelakaan?" Tanya Naruto pelan masih dengan menatap Hinata yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Ah itu, kata salah seorang saksi mata mengatakan bahwa ia terlihat menyebrang tanpa melihat rambu-rambu. Katanya Hyuga-san terlihat terburu-buru menyebrang."
"Menyebrang?"
"Ya, sebelumnya Hyuga-san juga terlihat memberikan box roti kepada seorang anak kecil di seberang cafe Bonjour. Lalu ketika akan menyebrang kembali menuju ke cafe ia tidak memperhatikan jalan, lalu tertabrak sebuah mobil." Jelas perawat dengan sedikit ragu-ragu.
Naruto diam tidak menanggapi ucapan perawat itu, dan matanya masih fokus menatap lemah wajah Hinata yang penuh luka.
"Orang tua dari Hyuga-san akan tiba sebentar lagi." Ucap perawat itu lagi.
"Iya. Trimakasih."Jawab Naruto pelan, meski ia masih belum sepenuhnya paham apa yang dijelaskan perawat itu tadi.
"Kalau begitu, saya permisi." Ucap si perawat lalu pergi meninggalkan kamar rawat itu menyisakan Naruto dan Hinata yang masih terbaring.
Ruangan itu terasa sepi hingga dua menit berlalu. Dan Naruto mulai bersuara,
"Dasar bodoh." Gumam Naruto pelan.
Kali ini tangan nya berpindah menggenggam sebelah tangan Hinata, lalu meremasnya pelan.
"Apa kau terburu-buru karena ada janji denganku?" Ucap Naruto pelan.
Drrttrttt
Naruto tersentak lalu merogoh sakunya dan melihat ada panggilan masuk dari Tsunade manager nya.
"Moshi-moshi? Tsunade-sama?"
Naruto mengangguk kecil mendengar penjelasan managernya dari ujung sana, sambil sesekali melirik Hinata.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Naruto diakhir pembicaraan lalu menutup ponselnya dan kembali menatap Hinata.
Perasaan bersalah hinggap didalam hatinya, jika memang benar Hinata terburu-buru karena dirinya dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia ingin segera mengetahui kebenarannya. Kalau bisa ia akan menunggu sampai Hinata bangun. Namun Tsunade-sama managernya itu memintanya datang karena ada hal penting yang harus dibahas mengenai debut boyband nya besok.
Dengan terpaksa Naruto melepas genggamannya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata, lalu membisikkan sesuatu.
"Aku menyukaimu Hyuga Hinata." Ucap Naruto pelan tepat di telinga Hinata.
Lalu Naruto kembali berdiri tegak menatap lembut sebentar wajah Hinata lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.
Dan itu adalah saat dimana seorang Uzumaki Naruto menyesali keputusannya untuk meminta Hinata bertemu dan meninggalkan gadis itu. Penyesalan yang terus dipendamnya selama satu tahun dengan kenyataan yang mengatakan bahwa Hinata tidak mengingatnya, tidak mengenal Uzumaki Naruto. Hari dimana Hinata mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hilang ingatan. Meski tentu saja Hinata masih mengingat keluarganya sendiri, namun semua hal tentang tempat bekerja, teman-teman, kenangan selama beberapa bulan terakhir hilang begitu saja termasuk semua yang berhubungan dengan Uzumaki Naruto.
FLASHBACK OFF
Uzumaki Naruto membuka matanya perlahan. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Diliriknya jam tangan hitam yang ada di pergelangan tangan kirinya.
"Sudah waktunya." Gumamnya pelan.
Naruto mulai berdiri lalu berjalan mengambil jaketnya yang tersampir di sofa dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
'Entah Hinata Hyuga akan mengingatnya atau tidak, yang pasti perasaanku sama sekali belum berubah.'
.
.
.
.
To Be Continued
Special Thanks to :
Amanda651, Hagoromo604, Namikaze632, NataHiru, Rehan773, Sandal784, ShirouAmachi, afika chia, anirahani, cheeseburgerslayers, endahs442, jujumi chan, 17, thessaaths, burger keju, didiksaputra, endahmaulana428, oshrj94, thirty30, tonyfa77, tsukihime4869, UI21, sskiara, Ndul-chan Namikaze, Lail Hanindya, yulianawanda110798.
Avra Elliosa : Siap, tapi untuk sasusaku mungkin harus bersabar :'v. Karena SasuSaku hanya slight. Tapi tenang saja ending SasuSaku mungkin lebih great daripada main pairingnya :'v. Karena semua sudah di atur *SpoilerModeOn
dindra510 : Siappp. Baca terus yakkk
LintingGanja : Ahahaha, oke. Baca terus ya.
Guest : Aduh maafkan author newbie ini. Trimakasih untuk sarannya.
Second09 : Fighting! Hahaha thank you.
ana : Hm . . semua sudah d atur sih sebenernya. Maaf mungkin chapter ini sedikit mengecewakan (karena tidak sesuai req) tapi author mohon terus baca ya. Trimakasih.
Ari-Gates : Hountou? Ah author nge-fly #plak :'v. Baca terus sampai ending ya...
Thank you for reading, and following this story.
Hope you like it. ^^
Review Plis?
Incasey
