Step kedua ff YAOI Cygnus wkwkwk
Hati-hati : It's BL Baby! I have told you! VKOOK ( V and Jungkook)
Why Vkook? Cause They are so fucking cute (I have told you), they are just so matching
Lagi semangat update karena lagi banyak ide, yeah baby wkwk
Don't like don't read.
BTS belongs to God, Their Familys, Their Manajement, and ARMY
.
.
.
.
.
Hold Me Tight
(VKOOK/TAEKOOK/ Pair lain diusahakan)
.
.
.
.
"Jungkook-ah, kau kenapa?" Nyonya Jeon melirik Jungkook yang sekarang tengah duduk sambil memotong timun dan lobak.
"Eh? Memangnya aku kenapa?" Jungkook menyibak poninya yang mulai memanjang.
"Daritadi kau diam saja. Kau sudah lapar? Di kulkas ada kue dari Tuan Muda Jin. Tuan Muda sengaja meninggalkannya untukmu. Ambil saja jika kau mau," kata Nyonya Jeon yang mengira Jungkook diam karena sedang lapar. Wanita itu tahu jika Jungkook seringkali lapar.
"Aku menunggu makan malam selesai saja."
"Ada masalah di sekolah?" Nyonya Jeon tiba-tiba jadi khawatir. Sekolah Jungkook penuh dengan orang dengan golongan menengah ke atas. Keputusan agar Jungkook sekolah di SMA-nya saat ini pun karena paksaan Jin. Jin ingin Jungkook sekolah di tempat yang bagus.
"T-Tidak. Jangan khawatir," Jungkook tersenyum.
"Kim Yugyeom menelepon tadi siang. Dia menanyakanmu, dia bilang akan datang setelah makan malam untuk mengerjakan tugas bersama," Nyonya Jeon mencuci semangkuk kecambah.
"Ehmm, aku akan membersihkan kamarku dulu kalau begitu," jawab Jungkook sekenanya.
Nyonya Jeon menghela nafas. Sejak Jungkook mulai menginjak SMP, namja itu jadi sering moody dan mulai pandai menyembunyikan rahasia. Terakhir kali, ia mengetahui Jungkook kerja paruh waktu tanpa minta izin kepadanya untuk ganti rugi karena sepeda Jungkook tidak sengaja menabrak bemper mobil orang.
Nyonya Jeon menghampiri Jungkook dan menjepit pipi Jungkook. Wanita itu meremasnya lembut, "Jangan menyembunyikan apapun dari Eomma, Jungkook-ah. Kau tahu, Eomma sangat khawatir padamu."
Jungkook melihat struk kecil menyembul dari saku celana ibunya. Ada tulisan nama apartemen berukuran kecil yang di timpa tanda tangan.
"Eomma, apa kita akan pindah?"
"Suatu hari nanti iya."
"Kita tidak akan menetap selamanya disini?"
"Kau tahu itu tidak mungkin, Jungkook-ah. Tuan Muda Jin akan berkeluarga dan memiliki keluarga sendiri lalu kita tidak akan punya tempat lagi di sini. Pada saat itulah kita akan pergi. Matamu bengkak, apa kau habis menangis?"
"Aniya, ini cuma gatal," bantah Jungkook sambil menggeleng. Bibirnya mengerucut lucu.
"Hei, Eomma sekarang tahu kenapa orang-orang bilang kau cantik. Bulu matamu lentik seperti milik Eomma, ini juga mata Eomma," Nyonya Jeon menggoda Jungkook.
Jungkook memutar bola mata. Terkadang ia ingin menanyakan bagian mana dari dirinya yang mirip dengan ayahnya tapi ia tahu hal tersebut akan menyakiti ibunya. Ibunya bilang ayah Jungkook mungkin masih hidup dan sehat. Nyonya Jeon berkata kalau berpisah dengan ayah Jungkook adalah pilihan terbaik. Maka Jungkook pun mencoba memahami keputusan-keputusan yang ibunya ambil. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mengetahui siapa ayahnya selama ia masih punya ibu.
"Aku tampan," Jungkook mengkoreksi kata-kata ibunya.
"Kalau kau tidak cantik, mana mungkin namja-namja itu mengejarmu," Nyonya Jeon menusuk-nusuk pipi Jungkook denga jari telunjuknya.
Jungkook dapat rasai tekstur kasar dari kulit tangan ibunya. Ah, tangan ini. Tangan yang bekerja keras.
"Namja mana? Siapa?"
"Heol, Kim Mingyu, Kim Yugyeom, Kim Taehyung."
Jungkook hampir tertawa, nama ketiga orang tersebut disebutkan ibunya dengan kemantapan yang luar biasa seperti menyebut silsilah keluarga karena semuanya bermarga Kim.
"Mingyu itu temanku, Yugyeom itu temanku sejak SMP, Tae-hyung itu temanku juga lagipula dia sudah punya yeojachingu kok. Lagipula memangnya Eomma mau aku punya namjachingu? Bukannya yeojachingu?"
"Habisnya kau tidak pernah dekat dengan gadis-gadis. Jadi, Eomma pikir kau suka…laki-laki?!" Nyonya Jeon mengecilkan suara di ujung kalimatnya.
"Ya! Eomma meremehkanku!" pekik Jungkook.
Nyonya Jeon tertawa dan mengucapkan maaf sambil menepuk punggung Jungkook. Sementara Jungkook merajuk. Namun ia tidak bisa memungkiri jika sepertinya Eomma-nya bisa membaca isi kepalanya.
Kendati Nyonya Jeon terkadang tidak memperhatikan pertemanan Jungkook namun ia tidak bodoh untuk menangkap gelagat beberapa teman Jungkook seperti Mingyu dan Taehyung. Mereka bukan hanya menawarkan pertemanan. Mereka memandang Jungkook seperti sesuatu yang harus dimiliki.
Nyonya Jeon pernah memergoki Taehyung yang mencium Jungkook setelah mereka pulang main sepakbola. Ia kaget namun wajahnya melembut setelah melihat reaksi Jungkook yang langsung memeluk Taehyung dan membalas ciuman pemuda itu.
Nyonya Jeon tidak marah. Ia hanya khawatir perbuatan mereka berdua diketahui keluarga Taehyung dan status Jungkook yang hanya seorang anak pengasuh serta tak punya ayah akan menganggu keluarga Taehyung.
"Aku mau beres-beres," kata-kata Jungkook menyadarkan Nyonya Jeon dari lamunannya.
"N-Ne. Cepat beres-beres, kalau Yugyeom sudah datang ibu akan sajikan kue beras yang hangat," Nyonya Jeon mendorong punggung Jungkook lalu menyeka keringat di lehernya.
Ia memandangi sosok Jungkook yang sedikit membungkuk. Wanita itu terkadang merasa bersalah melahirkan Jungkook dan mengajaknya hidup seperti ini.
Sementara itu, ketika hendak memasuki paviliun, mata hitam Jungkook menangkap pemandangan yang tidak asing.
Taehyung dengan hoodienya, yang kali ini berwarna coklat tua, memakai kacamata berbingkai kotak, tengah duduk di pojok paviliun. Pemuda 18 tahun itu bahkan hanya memakai sandal meskipun hari lumayan dingin.
"Hyung?" panggil Jungkook ketika ia memergoki Taehyung tengah tertidur di kursi.
Taehyung membuka mata dan lumayan terkejut tatkala mendapati wajah putih Jungkook yang hanya berjarak kurang dari 30 cm darinya.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Jungkook heran.
"Apa itu yang diucapkan seorang tuan rumah ketika ada tamu yang berkunjung? Dimana sopan santunmu, Jeon Jungkook?" Taehyung mengucek matanya.
"Ah, ye. Maafkan aku. Kau mau masuk, Taehyung-ssi? Di luar dingin sekali," jawab Jungkook dengan nada main-main. Jungkook menjauh dari Taehyung dan memutar kunci untuk membuka pintu.
"Terima kasih. Aku hampir membeku karena menunggu kelinciku selama sejam lebih. Ah, tenggorokanku," Taehyung bangkit dan menghangatkan telapak tangannya ke lipatan leher, "Yah, punggungku pegal, kakiku kesemutan," Taehyung mengeluh sambil memasuki paviliun yang ditinggali Jungkook.
Jungkook tahu benar, itu hanya strategi Kim Taehyung agar Jungkook bersimpati kepada namja yang hampir 3 tahun lebih tua dari Jungkook itu. Kim Taehyung bukan orang penyakitan, jadi ketika ia bilang punggungnya pegal berarti yang ia butuhkan adalah perhatian, bukan salep atau pereda rasa sakit.
Taehyung langsung menggelepar di sofa, ia menggumamkan kata-kata tidak jelas sembari memanggil-manggil Jungkook.
"Bagaimana kau bisa masuk, Hyung?"
"Jin-hyung, aku memaksanya untuk mengizinkanku masuk," jawab Taehyung seperti tanpa minat.
Jungkook hanya bisa menghela nafas. Meski telah kenal lama dengan Taehyung, Jungkook masih sering dibuat heran dengan tingkah Taehyung yang terkadang di luar perkiraan.
"Mau aku buatkan teh?" namja itu menyalakan pemanas ruangan.
"Hmmm….tidak usah. Di rumahku banyak teh," gumam Taehyung, "Aku lelah sekali, Jungkookie."
Jungkook menaikkan alisnya. Kalau lelah kenapa kemari? Begitu pikirnya. Ingatan Jungkook tentang Noona cantik yang menemani Taehyung masih segar. Rasanya Jungkook ingin menyuruh Taehyung untuk kembali ke rumahnya dan menghabiskan waktu bersama gadis itu. Dasar playboy.
"Kalau lelah kenapa kesini, Hyung? Lebih baik kan tidur di rumah. Nyalakan pemanas ruangan di kamarmu, lalu tidur dengan selimut tebal," Jungkook menoleh kepada Taehyung dan menemukan bahwa Taehyung menutup kedua bola matanya lagi.
Taehyung membuka matanya lebar-lebar dengan dramatis, "Akan lebih hangat kalau aku ke sini dan melihat senyumanmu. Pemanas ruangan, kau, selimut tebal, dan kue beras ibumu adalah kombinasi yang bisa membuatku berumur panjang."
Jungkook merona, ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya yang entah kenapa selalu keluar jika Taehyung menyanjungnya.
"Jangan palingkan wajahmu," kata Taehyung. Ia bangkit dan menghampiri Jungkook yang sedang mengatur pemanas ruangan. Pemuda itu menarik lengan Jungkook agar mau menghadap kepadanya, "Ya ampun, lihat pipimu, merah sekali," goda Taehyung.
"I-ini karena pemanasnya," Jungkook membuang muka.
"Uh, rasanya aku sudah tidak lelah lagi," tangan Taehyung membelai pipi Jungkook.
"Hyung, nanti ada yang datang," ucap Jungkook setengah berbisik.
"Lalu?"
"Jika mereka melihat kita, mereka itu bisa salah paham."
"Terus?" Taehyung mulai mengarahkan atensinya ke bibir Jungkook. Ia membelai sudut bibir Jungkook.
"Ya! Mereka akan mengira kita berbuat yang tidak-tidak."
"Apa masalahnya?"
Jungkook menggertakkan giginya, "Masalahnya nanti kau akan malu, Hyung!" Jungkook sedikit berteriak.
"Kalau begitu kita menikah. Jadi kita bisa saling bergandengan, mencium di depan umum. Tidak akan ada yang memarahi," kata Taehyung dengan begitu enteng.
Jungkook melongo, lalu tanpa aba-aba ia mendorong Taehyung hingga namja yang lebih tua darinya itu terhuyung ke belakang.
"Kenapa kau mendorongku?"
"Aku mau beres-beres karena Yugyeom akan datang," Jungkook mengalihkan pembicaraan.
"Nugu? Yu- siapa?" Nada bicara Taehyung langsung berubah ketika mendengar Jungkook menyebut nama namja lain.
"Kim Yugyeom, teman sekelasku. Kami mau mengerjakan tugas rumah bersama," Jungkook merapikan buku-bukunya.
Tubuh Jungkook terpelanting membentur tembok saat Taehyung menghimpitnya. Taehyung kelihatan sangat geram,
"Yugyeom yang mendekatimu sejak SMP itu? Yang rambutnya mirip jamur? Yang tingginya seperti galah?"
"Kau membuatnya kedengaran buruk," suara Jungkook melemah karena Taehyung menekan dadanya.
"Aku tidak menyukainya dan hal yang tidak kusukai sudah pasti jelek," kata Taehyung. Namja itu melepas kacamatanya lalu memandang mata Jungkook secara langsung. Taehyung mengecup pipi Jungkook membuat si empunya menggeliat, "Aku tidak mengizinkanmu untuk mengerjakan tugas bersamanya."
"Dia akan tetap datang. Dia datang bukan untuk menghimpit seseorang di rumahnya sendiri. Yugyeom datang untuk mengerjakan tu-Oh Ya Tuhan," Taehyung mengangkat tubuh Jungkook dan menampar bokong namja itu.
Taehyung menidurkan Jungkook di sofa dan cepat-cepat menindih pemuda bergigi kelinci itu.
"Yugyeom akan segera datang," bisik Jungkook. Ia berusaha untuk tidak panik karena Taehyung sering memperlakukannya seperti ini. Memperlakukan Jungkook seperti properti Taehyung yang bisa sesuka hati ia gendong atau pindah.
"Aku tidak peduli."
"Hyung~," Jungkook mendorong dada Taehyung.
Jungkook meneguk ludahnya sendiri saat Taehyung menempelkan dahinya dengan dahi Jungkook. Bibir Taehyung menempel seutuhnya dengan milik Jungkook. Detak jantung Jungkook menggila, dadanya serasa akan meledak. Apalagi ketika Taehyung menggerakkan lidahnya, menelusup ke bilah bibir Jungkook, dan menyentuh deretan gigi namja 16 tahun itu.
Ini pertama kalinya Taehyung mencium Jungkook dengan cara yang seperti ini. Jungkook lemas, Namja berambut hitam itu memejamkan mata tatkala ciuman Taehyung menyusur ke dagunya, tapi tiba-tiba pintu paviliun diketuk cukup keras.
"Jungkook, kau ada di dalam? Jeon Jungkook! Ini aku. Yugyeom," teriak seorang namja lain.
Taehyung terlihat gusar, ia membiarkan Jungkook bangkit untuk membuka pintu,
"Aku tidak akan pergi. Aku akan disini menunggui kalian, kalau perlu semalaman penuh."
Jungkook tidak merespon Taehyung, ia sibuk untuk mengusap bibir dan merapikan rambutnya yang lumayan kusut.
"Ya, tunggu sebentar," Jungkook menyahuti Yugyeom.
Sebelum Jungkook melangkah mendekati pintu, ia berbalik untuk mengecek keadaan Taehyung. Tanpa bicara apapun Jungkook membenahi hoodie Taehyung, menyisir rambut Taehyung dengan jari lalu mengusap bibir Taehyung dengan pinggiran kaosnya. Mata Taehyung melebar, setiap perhatian yang diberikan Jeon Jungkook selalu membuatnya terbang ke awang-awang. Hal ini pulalah yang membuat Taehyung optimis jika ia bisa mendapatkan namja yang sudah Taehyung kenal sejak ia berumur tiga tahun itu.
"Rapikan dirimu, nanti Yugyeom bisa salah paham."
"Like I care."
Jungkook langsung berlari ke arah pintu. Taehyung mendengus ketika mendengar suara tawa Jungkook dan suara namja yang sudah tak asing di telinganya. Namja itu sedang melontarkan beberapa lelucon untuk memuji Jungkook. Entah mengapa, lelucon garing milik Kim Seokjin terdengar lebih menarik sekarang daripada lelucon Yugyeom bagi Taehyung.
Mata hazel Taehyung menyipit otomatis ketika seorang pemuda dengan berjaket hitam dengan beanie hat warna senada melangkah ke arahnya. Kim Yugyeom. Wajahnya sedikit berbeda dari yang terakhir Taehyung ingat karena sebuah kacamata bulat bertengger di atas hidung Yugyeom.
"Annyeong, Sunbae," sapa Yugyeom. Ia meletakkan tas ranselnya di atas sofa.
Taehyung membisu. Ia sudah melayangkan pandangan permusuhan.
Samar-samar Jungkook berkata kalau dirinya akan membuatkan teh.
"Kau ingat padaku kan?" Yugyeom mencoba mencairkan suasana.
"Bagaimana aku bisa lupa padamu kalau kau selalu menempeli Jungkook-ku," kata Taehyung agak sedikit sarkas.
"Aku dan Jungkook memang sering bersama. Maafkan aku kalau itu mengganggu Sunbae," Yugyeom tersenyum.
Taehyung ingin meremas Yugyeom menjadi potongan kecil-kecil. Yugyeom itu sama kurang ajarnya dengan Mingyu. Mereka berdua berani menantang Taehyung dan mendekati apa yang jelas-jelas sudah Taehyung klaim sebagai miliknya.
Taehyung sudah ingin mengutuk Yugyeom sebelum Jungkook muncul kembali dari dapur kecil di paviliun sambil membawa dua cangkir teh hangat.
"Silakan diminum. Ini teh oleh-oleh dari Jin-hyung lho! Sebulan yang lalu dia pergi ke Inggris dan membelikanku teh ini, rasanya sangat menyegarkan," kata Jungkook. Pemuda itu sudah seperti seorang istri yang menawari teh kepada suaminya.
"Aku sudah telpon Eomma, katanya dia akan segera kemari dan membawakan kue beras untuk kita," ucap Jungkook dengan pipi merona.
"Yugyeom-ah, ayo kita kerjakan tugasnya di kamar saja. Nanti kalau disini, Tae-hyung bisa terganggu. Tidak apa-apa kan?"
"T-Tidak masalah. Dimana pun boleh," Yugyeom terdengar sangat antusias.
Mereka berdua beranjak dari ruang tamu kecil itu, namun nyatanya Taehyung ikut bangkit dan mengekori Jungkook. Ia terlihat tenang, bahkan wajahnya sangat datar tapi ia terus mengekor.
"Hyung! Apa- kenapa kau mengikuti kami?" tanya Jungkook.
"Aku? Mengikuti? Ya! Paviliun ini kecil sekali sampai-sampai aku harus berjalan-jalan untuk mencari oksigen. Udara di ruang tamu sudah tidak mencukupi," Taehyung berpura-pura meraup udara. Bernafas berlebihan dengan menggunakan mulut lalu menggapai-gapai udara.
Yugyeom memandang Jungkook mencoba mencari penjelasan mengenai tingkah absurd Taehyung.
"Banyak oksigen di luar rumah," balas Jungkook, "Kau bisa mencari oksigen seeeeepuasmu di luar sana."
Jungkook menggandeng Yugyeom ke dalam kamarnya. Taehyung mengikuti. Pemuda 18 tahun itu duduk mengamati dari meja belajar Jungkook. Beberapa kali ia mengkritik Jungkook yang berbaring di atas kasurnya sendiri. Katanya Jungkook terlalu vulgar.
Taehyung terkadang juga merecoki obrolan Yugyeom dan Jungkook. Ia menyelipkan komentar-komentar tidak penting agar bisa mendapatkan atensi Jungkook. Untungnya, baik Jungkook maupun Yugyeom cukup tahan dengan tingkah Taehyung yang menyebalkan.
Saat Nyonya Jeon datang ke paviliun, wanita itu benar-benar membawa kue beras yang mengebul di udara. Kesannya seperti melihat lintingan-lintingan teripang asap. Nyonya Jeon terkejut melihat Taehyung di dalam kamar Jungkook.
"Wah, Taehyungie juga disini?! Kapan kau datang? Bibi kira hanya Yugyeom, kalau begini kuenya tidak akan cukup," Nyonya Jeon mengeluh kepada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Aku sudah makan di rumah, Eommonim."
Taehyung tersenyum geli ketika melihat Nyonya Jeon merona karena dipanggil ibu oleh Taehyung. Panggilan yang hanya diberikan seorang menantu kepada ibu mertuanya.
"Ada perlu apa kemari? Apa ada masalah?"
"Aku hanya ingin melihat Jungkookie, Eommonim. Uri Jungkookie sekarang jarang mengunjungi hyung-nya, padahal hyung-nya ini sangat mengharapkan kedatangan Jungkook."
Heol
Taehyung memang pandai bicara. Ia bisa membuat seseorang luluh hanya dengan kata-kata dan ia bisa merebut hati wanita paruh baya manapun agar menyerahkan anak mereka kepada Taehyung. Ini juga yang menjadi nilai tambah seorang Kim Taehyung. Ia orang yang suka berterus terang dan berani mengungkapkan apa keinginannya.
Jungkook memutar bola mata. Namja manis itu menggoreskan bolpoinnya lagi untuk melengkapi jawaban yang terpotong karena mendengar percakapan paling gombal dari Kim Taehyung.
"Jungkook-ah!" Panggil Nyonya Jeon.
"Ye?" sahut Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tulis. Ia menyikut Yugyeom agar ikut membantunya menghitung.
"Ajaklah Taehyung bicara. Jangan mengabaikannya. Ne?"
"Aku tidak-"
"Sepertinya Jungkookie memang sedang tidak ingin bicara padaku, Eommonim," Taehyung memasang ekspresi memelas andalannya. Dulu, dengan ekspresi itu ia bisa membujuk gurunya untuk menaikkan nilai bahasa Inggrisnya dari 60 ke 80
"Aku akan mengajaknya ngobrol nanti."
Taehyung tersenyum puas, begitupun dengan Nyonya Jeon. Wanita itu menepuk kepala Jungkook lalu pergi lagi menuju ke rumah utama.
"Kau cocok jadi aktor," celetuk Jungkook.
"Aku memang mau jadi aktor sekelas Park Seo Joon dan Gong Yoo," kata Taehyung dengan percaya diri, "Hei bocah kepala jamur, kau belum selesai juga? Aku sudah sangat ngantuk dan ingin tidur bersama Jungkook. Kapan kau pulang? Hah, kau mengerti tidak sih?" Taehyung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, ia mulai memejamkan mata.
Jungkook menggeleng ketika Yugyeom memandangnya seolah meminta penjelasan. Sebenarnya, Yugyeom pun sudah bisa menebak maksud Taehyung yang menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat dengan Jeon Jungkook. Tapi apa pedulinya, Jeon Jungkook belum dimiliki siapapun jadi ia berhak untuk mendekati Jungkook. Ia tidak akan berhenti kecuali Jungkook lah yang memintanya untuk berhenti.
Yugyeom dan Jungkook menghabiskan waktu dua jam untuk mengerjakan tugas. Jungkook bahkan melewatkan makan malam, ia bilang akan makan nanti. Saat Yugyeom hendak pamit, Taehyung terbangun dari tidur ayamnya. Pemuda berambut coklat itu tersenyum lebar sekali, cukup lebar untuk menelan sebuah pintu.
"Wah, Daebak! Aku merasa kadar oksigen dalam paviliun ini tiba-tiba bertambah. Woah, segarnya!"
"Kau juga harus pulang," kata Jungkook sambil membereskan bukunya dan menepuki bantal untuk tidur.
"Aku bilang kan aku mau tidur denganmu. Itu artinya menginap!" Taehyung antusias.
"Mana bisa seperti itu? Eomma tidak akan mengizinkan, aku besok sekolah."
"Pasti diizinkan! Wah, nyamannya!" kata Taehyung. Ia menjatuhkan diri ke kasur, "Ayo kemari, Jungkookie. Jungkookie…hyung ingin pelukan!"
"Jangan bersikap menjijikan seperti itu- Omo!"
Taehyung menarik kaki Jungkook sampai dongsaengnya itu ikut terjatuh ke kasur. Taehyung memeluknya, menempatkan kaki kiri dan tangan kiri di atas tubuh Jungkook seperti guling.
Handphone Taehyung berdering.
Taehyung mendecih lalu meraup handphone yang sebelumnya sudah ia letakkan di samping kasur.
"Yeoboseyo?! Oh kau…Aku sedang sibuk sekarang….bisa kita selesaikan besok saja….Ya! sudah aku katakan aku sibuk sekarang….tentu sangat sibuk….urusan yang tidak bisa ditunda, hidupku bergantung pada urusan ini. Eung….Goodnight, pabo!"
"Kau tidak sibuk," bisik Jungkook. Ia bisa mendengar suara perempuan di seberang telpon. Ia dihinggapi rasa bersalah mengingat ia iri pada pacar Taehyung.
"Tentu aku sibuk, aku berencana memandangimu sepanjang malam."
Jungkook reflek memegangi pipinya.
"Sebenarnya, aku kesini untuk minta maaf."
"Untuk?"
"Yang tadi siang, aku dan Ji soo-"
"Hei, kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang salah disini," Jungkook tersenyum, "Kau menghabiskan waktu dengan yeojachingu-mu. Tidak ada yang salah dengan itu. Tae-hyung pabo, kenapa harus minta maaf. Dasar aneh!"
"Bagaimana bisa aku menghabiskan waktu dengan yeojachingu-ku, kalau yang kupunyai adalah namjachingu. Kecuali, kalau kau mau ganti kelamin, aku bisa berlatih memanggilmu yeojachingu," Taehyung mengelus rambut Jungkook,
"Aku bodoh kalau tidak bisa membaca kegelisahan kelinci kecil Taehyung. Ji soo itu kawanku di kampus. Dia memilihku sebagai wakil ketua di klub fotografi. Dan kami harus menyelesaikan tugas klub, itulah kenapa ia datang ke rumah. Kau tidak perlu khawatir. Dibutuhkan lebih dari sekedar Kim Ji soo untuk bisa mendepak Jeon Jungkook dari otak dan hati Kim Taehyung. Setidaknya Miranda Kerr. Percayalah!"
"Aku tidak marah," Jungkook mengangguk lemah, "Hyung bebas berpacaran dengan siapapun."
"Kalau begitu aku mau Jeon Jungkook. Bisa?"
Jungkook memukul dada Taehyung. Ia menoleh dan mendapati Taehyung tengah memandanginya. Kacamata Taehyung tidak ada, entah raib kemana.
"Pulanglah!"
"Dan meninggalkanmu sendirian? Kedinginan? Kau gila. Pemanas ruangan ini tidak cukup hangat, kau membutuhkan pelukan Kim Taehyung. Seriously!" Taehyung mengeratkan pelukannya.
"Nanti Eomma salah paham!"
"Sudah kubilang, kita bisa menikah."
"Kita berdua namja, dan menikah butuh rasa cin-"
"Aku mencintaimu, Jungkook-ah."
Jungkook memilin bajunya, "Aku-"
"No need to answer it. I know you do," putus Taehyung. Ia menyesap aroma rambut Jungkook lalu pergi ke alam mimpi.
Jungkook memekik kesakitan dari dalam kamar mandi. Ia hampir bangun kesiangan karena saking nyamannya tidur dalam pelukan Taehyung dan ketika ia ingin cepat-cepat mandi, rasa sakit menyerang kemaluannya. Ada darah dalam urin Jungkook. Namja itu menggigil ketakutan.
"Eomma!"
"Ada apa Jungkook-ah?" Nyonya Jeon berlari menghampiri Jungkook yang terlihat sedang memandangi bekas urinnya.
"Eomma, ada darah di air kencingku," bisik Jungkook. Ia menerawang keluar kamar mandi untuk memastikan Taehyung sudah benar-benar pergi.
"Jinjja? Anu….apa rasanya sakit?" Nyonya Jeon kebingungan.
Jungkook mengangguk. Ia membuka celananya sedikit dan melihat kalau ada darah lagi di ujung penisnya. Darah itu keluar sedikit-sedikit.
"Bagaimana ini?" desak Jungkook.
"Hari ini tidak usah sekolah dulu. Aku akan minta bantuan Tuan Muda Jin-"
"Tidak, jangan beritahu Jin-hyung. Nanti dia jadi kepikiran," potong Jungkook.
"Ah, ye. Tunggu sebentar kalau begitu, ibu akan bereskan ini," Nyonya Jeon menunjuk tumpukan baju di dekat mesin cuci, "habis itu Eomma akan telpon taksi. Kita ke rumah sakit. Nah, cepat ganti bajumu!"
Jungkook mengangguk cepat. Rasa sakit pada kemaluannya menyebabkan ia kesulitan berjalan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Jungkook sempat mencari-cari penyebab kenapa seseorang bisa kencing darah. Hasilnya, ia menduga dirinya ada masalah dengan saluran kencing atau kandung kemihnya.
Sesampainya di rumah sakit, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan. Jungkook tidak menyangka kalau prosesnya akan memakan waktu yang lumayan lama. Dokter itu terlihat sedikit kebingungan, beberapa kali ia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Pada akhirnya ia menemui Nyonya Jeon dan berkata,
"Anda ibunya?"
"Ya, saya ibunya. Jungkook sakit apa?"
Si dokter tersenyum, "Saya belum bisa memastikan, untuk lebih lanjutnya kita perlu melakukan Scan MRI. Apa setahu anda, Jungkook sering kencing darah?"
"Mungkin dua atau tiga kali. Tapi kali ini darahnya lumayan banyak," Nyonya Jeon panik.
"Baiklah, tidak perlu panik, Nyonya. Kita harus menunggu hasilnya. Pastikan saja Jungkook banyak minum air putih."
Nyonya Jeon mengangguk.
Sepanjang hari Jungkook mengeluh tentang rasa sakit di kemaluannya. Darah masih keluar dari penis Jungkook. Ia juga bilang tubuhnya terasa sakit semua. Pada akhirnya pada hari keempat, darah itu berhenti dan Jungkook pikir semuanya telah kembali seperti mulai karena sekarang ia rajin minum air mineral.
Seminggu setelah pemeriksaan itu, ibu Jungkook pergi ke rumah sakit lagi untuk mengambil hasil scan milik Jungkook. Ketika wanita itu melihat gambar hitam putih pada lingkaran yang hitam putih juga, ia tidak punya pikiran apa-apa. Itu seperti gambar gagal seorang siswa SD.
"Nyonya lihat ini?"
"Ne, tapi itu apa?" Nyonya Jeon menyipitkan matanya.
"Ini rahim, Nyonya."
Ha? Nyonya Jeon tidak salah dengar. Dokter itu bilang rahim.
"Ini tuba falopi dan ini ovarium milik Jungkook. Jungkook bahkan sebenarnya punya serviks."
"Apa artinya ini, dokter?"
"Jeon Jungkook memiliki organ reproduksi internal seorang perempuan. Dan aku memperkirakan darah yang kemarin itu adalah darah menstruasi, Nyonya."
"B-bisa hamil?"
"Hanya dengan bantuan operasi."
"A-apa dia bisa hidup normal? Maksudku sebagai laki-laki," tangan Nyonya Jeon dingin.
"Tentu saja. Kita bisa mengangkat organ reproduksi itu dengan pembedahan. Tapi, setidaknya kita harus menunggu setahun atau dua tahun lagi untuk lebih amannya. Tenang saja, masalah ini tidak akan mengancam nyawa putra anda," dokter tersebut mengetahui jika Nyonya Jeon kebingungan, wajah wanita itu sudah sepucat kertas.
"Bagaimana bisa terjadi? Semua ini…Jungkook itu laki-laki, dia punya kemaluan."
"Sepertinya terjadi sesuatu semasa anda mengandung, misalnya perubahan jenis kelamin karena hormon tertentu. Saya juga belum benar-benar yakin tentang penyebabnya karena kasus seperti Jungkook ini sangat jarang terjadi."
"Apa Jungkook harus tahu?" Nyonya Jeon masih pucat, matanya berair.
"Dia berhak mengetahuinya, Nyonya. Karena hal ini menyangkut hidupnya. Kalau anda kesulitan, saya akan membantu menjelaskan. Kita beri pengertian yang benar pada Jungkook."
Nyonya Jeon pulang sambil membawa hasil pemeriksaan Jungkook. Dia sudah berjanji untuk membeli kue mochi dalam perjalanan pulang tapi kini ia lupa. Jeon Jungkook menyambut Nyonya Jeon di gerbang. Namja cantik itu melambai penuh keriangan.
"Eomma, bagaimana? Dokter bilang apa?"
"Eh? Eomma lupa beli kue," sahut Nyonya Jeon dengan nada aneh.
Jungkook mengernyit. Bukan itu yang ia ingin tahu.
"Sebaiknya kita masuk dulu," Nyonya Jeon meraih tangan Jungkook dan menuntunnya. Wanita itu memandangi Jungkook dari samping wajah. Jungkook-nya yang cantik.
.
.
.
"Jadi?" Jungkook menunggu.
Nyonya Jeon mengeluarkan foto hitam putih lagi dan juga surat dari dokter. Jungkook tersenyum, ia meraih foto itu dan mengamatinya seolah-olah itu benda hebat.
"Ini apa?"
"Jungkook-ah, Eomma mohon jangan marah pada dirimu sendiri."
"Apa maksud Eomma?"
Kemudian Nyonya Jeon mulai menceritakan kembali dongeng mustahil yang ia dapatkan dari seorang dokter di rumah sakit. Dongeng yang mengatakan jika Jungkook-nya punya satu set alat reproduksi minus vagina. Wanita itu menepuk bahu Jungkook.
"Dokter bilang itu karena kelainan hormon waktu di kandungan. Tapi jangan khawatir, mereka akan mengoperasimu secepatnya. Mungkin setahun lagi. Jadi, ini tidak masalah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kau tetap Jeon Jungkook, anak Eomma yang tampan," rona merah mulai menjalari wajah Nyonya Jeon.
"Eomma tidak marah? Maksudku aku aneh-"
"Tidak, Jungkook-ah. Tidak sama sekali. Kau adalah hal terpenting bagi Eomma," paviliun Jungkook mendadak hangat, "Kau mau melakukan pembedahan untuk mengangkat rahimmu?" tanya Nyonya Jeon sambil membawa Jungkook ke pelukannya.
"Aku mau seperti ini saja. Lagipula kita tidak punya uang," Jungkook mendongak menatap langit-langit.
"Eomma bisa usahakan-"
"Tidak-tidak. Aku mau seperti ini saja. Yang lainnya tidak perlu tahu."
"Termasuk aku, Jungkook-ah?"
"H-Hyung?!"
.
.
.
.
To be Continued…..
.
.
.
Wew! Seneng juga ternyata ada yang ngerespon walaupun dikit, gapapa, ILY wkwkwk
Terima kasih.
Ya berhubung masih amatiran jadi aku mau minta maaf lagi dan tolong dimaklumi segala kesalahan cerita wkwk
Entah kenapa ceritanya jadi gini :'((
Yang mau review yang silakan, yang engga juga gapapa. Si yu!
