Ting!
Hinata tersentak kaget, reflek ia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut pusing itu. Lalu menyadari bahwa ponselnya bergetar, dan segera mengambilnya dari saku jaket.
From : Naruto Uzumaki
Apa kau ada waktu luang? Ayo bertemu.
.
Hinata menghela napas kesal,
'Apa lagi ini?' Pikirnya heran.
.
To : Naruto Uzumaki
Baiklah, kapan dan dimana?
.
From : Naruto Uzumaki
Hari Sabtu ini, di Cafe Bonjour pukul delapan malam tepat.
-A Piece of Cake-
Chapter 6
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Asli dari otak saya sendiri yang datang secara tiba-tiba.
Pairing : Naruto x Hinata [Main] , Sasuke x Sakura [Slight]
Genre : Romance
Rated : T
Warning !
Amatiran, Newbie, Typo sana sini, Abal, Bertele-tele ? Alur kecepetan ? POV yang berubah sendiri ? Ide pasaran? (maybe)
Enjoy~
While listening to : Bobby Antonio - Cinta Harus Menunggu
Hinata memandang sekeliling, cafe itu memang masih belum berubah. Meski ingatannya sedikit -sebenarnya tidak ada malah- tapi entah bagaimana ia begitu yakin, cafe itu masih sama seperti ketika ia mengunjungi cafe itu sekitar satu tahun yang lalu.
Ia mendesah ragu, meski sudah satu tahun berlalu, ingatannya masih belum benar-benar kembali. Ia memang tidak ingat apapun tentang cafe ini, tapi perasaanya selalu mengatakan sebaliknya, seolah-olah ia sudah akrab dengan cafe ini. Hinata masih ingat betul bagaimana wajah Shizune-san, seorang pegawai di cafe ini yang mengaku sebagai seniornya selama bekerja disini dan satu-satunya orang yang akrab dengannya. Wajah tidak percaya dan kasihan yang mencampur menjadi satu itu menatapnya, saat Hinata mengunjungi cafe ini setelah ia keluar dari rumah sakit, kata dokter untuk mengembalikan ingatannya setidaknya coba kunjungi tempat-tempat yang selalu menjadi aktifitasnya sebelum kecelakaan. Namun hasilnya nihil, bahkan sampai sekarang.
"Hinata!? Kamu Hinata kan?"
Hinata menoleh ke arah seorang yang memang sudah dikenal dan baru saja dipikir kannya itu.
"Ha'i, Shizune-san. Apa kabar?" Sapa Hinata sambil menghampiri tempat Shizune, salah satu karyawan di cafe itu yang sedang menatap Hinata sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangannya itu.
"Ahaha baik, lama tidak melihatmu. Kau sendiri bagaimana?" Shizune memeluk Hinata singkat yang lalu dibalas juga oleh Hinata.
"Aku juga baik, trimakasih." Jawab Hinata sambil tersenyum.
"Ada apa kemari? Apa kau sedang ada janji?" Tanya Shizune sambil tersenyum menggoda.
"Eh, ya begitulah." Hinata tersenyum geli menjawabnya, janji dengan seorang artis yang menyukaiku lebih tepatnya, pikir Hinata lalu mulai sedikit merona merah mengingat itu.
"Hei hei . . kau malu-malu." Ucap Shizune sambil menyenggol bahu Hinata, menggodanya.
Hinata tertawa kecil menanggapinya, dan Shizune pun ikut tertawa.
Namun kemudian tawa Shizune berhenti dan berubah menjadi senyum lebar begitu melihat seseorang yang amat dikenalnya baru masuk ke cafe ini lalu orang itu terlihat berjalan menghampiri tempat Hinata dan Shizune berdiri. Hinata sendiri yang membelakangi pintu masuk cafe tidak menyadari kehadiran orang itu.
"Astaga Hinata, apa kau ada janji dengan Naruto?" Kata Shizune cepat apalagi begitu menyadari tinggal beberapa langkah saja Naruto sudah sampai di belakang Hinata.
Sementara Hinata mengernyit heran, 'Bagaimana Shizune-san bisa tahu?' Batin Hinata.
"Hai Shizune-san." Ucap seseorang dari belakang Hinata.
DEG
Sontak Hinata terkejut menyadari ada seseorang dibelakangnya, dan lebih terkejut karena ia mengenal suara itu. Dengan cepat Hinata membalikkan badannya, dan benar saja Uzumaki Naruto, orang yang ditunggu Hinata sudah datang. Dan saat ini berdiri didepannya dengan menatapnya dan sambil tersenyum.
"Aku senang, kau mau datang. Hinata."
Hinata hanya diam sambil membalas tatapan Naruto. Meski ia yakin wajahnya memerah saat ini tapi ia masih tetap menatap wajah itu. Pikirannya melayang ke kejadian sebelum-sebelumnya. Ketika Naruto memberinya syal, ketika Naruto berada di apartemennya, memeluknya lalu mengatakan suka padanya.
Ya Tuhan, kenapa hatiku berdebar-debar?
"Ehem!"
Hinata tersadar lalu berbalik menghadap Shizune yang ternyata masih ada di belakangnya.
"Sebaiknya aku pergi dulu, pekerjaan menumpuk. He . . he . . Kalian silahkan bersenang-senang." Ucap Shizune sambil menunjuk belakang dengan ibu jarinya. Lalu sebelumnya sempat berkedip sekali ke arah Hinata, dan kemudian berbalik pergi.
Hinata yang melihat Shizune ingin pergi, sempat ingin mencegahnya agar menemaninya namun mulutnya hanya terbuka tertahan tanpa mengucapkan kata-kata. Apalagi begitu melihat Shizune yang malah berkedip mengerling geli kepadanya.
.
.
.
Uchiha Sasuke menghela napas lelah, lalu meregangkan kedua tangannya ke belakang mencoba mencoba mencari kenyamanan dari posisi duduknya sejak 30 menit yang lalu. Setelah merasa lebih baik, iapun kembali duduk santai menatap kosong layar laptop yang masih menyala di depannya. Hingga ia menoleh ke samping laptopnya menatap benda -yang bisa dibilang sudah tidak layak dipakai- atau lebih tepatnya sebuah kacamata usang yang sudah retak kacanya.
Tangan Sasuke terulur meraih kacamata itu lalu tersenyum tidak percaya, "Dunia memang sempit." Gumamnya.
Setelah asyik menatap kacamata itu sambil tersenyum sendiri mengingat-ingat masa lalu, Sasuke meletakan kembali kacamata itu ke meja.
"Kalau dipikir-pikir sampai sekarang aku masih belum tahu namanya, yang kuingat hanyalah tatapan matanya. Sama sekali belum berubah." Ucap Sasuke
FLASHBACK ON
5 Tahun lalu
"Bukan aku!"
Langkah kaki Sasuke berhenti, lalu ia menengok ke kiri mendengar teriakan yang terdengar seperti seseorang yang putus asa tersebut.
'Bukankah itu suara perempuan?' Batin Sasuke bingung.
Merasa penasaran Sasuke pun berjalan ke arah suara yang semakin lama semakin terdengar jelas di indra pendengarannya itu.
"Sudah kubilang bukan aku!" Suara perempuan itu terdengar lagi.
"Hei! Jangan bercanda ya, kalau bukan kau siapa lagi!? Hah!?" Kali ini suara perempuan lain juga terdengar.
Langkah Sasuke berhenti tepat di samping taman belakang sekolah yang sempit itu. Kepalanya sedikit mengintip ke arah taman, dan benar saja disana terlihat 3 orang perempuan yang sudah pasti juga murid di sekolah ini. Meski Sasuke tidak mengenal satupun diantara mereka. 2 diantaranya terlihat seperti mengurung satu orang lainnya.
'Pembullyan?' Pikir Sasuke tidak percaya. Jaman sekarang pembullyan masih ada ya?
"Sudahlah, intinya aku tidak mau tahu. Kau harus ganti rugi. Aku tahu kaulah yang melaporkanku." Ucap perempuan berambut kuning sambil menunjuk ke arah perempuan yang sepertinya jadi sasaran bullyan.
"Apa kau punya bukti?" Balas perempuan berambut pink yang ternyata gadis itulah yang teriakannya terdengar oleh Sasuke tadi.
Salah satu gadis lainnya tertawa begitu mendengar ucapan si gadis pink, "Bukti? Kurasa itu tidak perlu." Ucapnya kemudian. Detik berikutnya gadis itu langsung mendorong bahu gadis berambut pink itu hingga mengakibatkan gadis pink itu memekik pelan.
Kemudian gadis berambut kuning langsung mengambil paksa kacamata si gadis berambut pink dan membuangnya ke tanah. Alhasil kacamata itupun retak dibagian kedua sisi kacanya.
Sasuke yang melihat itu merasa tidak nyaman, tangan Sasuke terangkat menyentuh kacamatanya sendiri yang masih bertengger di depan matanya.
Si gadis berambut pink terlihat kaget melihat kacamatanya yang pecah dan seperti sudah tidak bisa digunakan lagi itu, lalu menatap tajam ke arah gadis berambut kuning.
Sementara si gadis berambut kuning hanya tersenyum miring seolah meremehkan.
"Apa gadis jaman sekarang tidak pernah mendengarnya ucapan orang lain ya?"
Sontak ketiga gadis itupun langsung menoleh ke sumber suara, dan dua diantaranya terlihat terkejut sementara yang satunya langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkir di antara kekangan kedua gadis itu.
Sasuke yang melihat si gadis pink akan pergi meninggalkan tempat itupun langsung meraih tangannya untuk menahan gadis itu agar tidak segera pergi. Dan Sasuke cukup terkejut merasakan getaran seperti orang ketakutan di tangan gadis yang di pegangnya itu.
"Cih!" Sementara itu, dua gadis yang lainnya segera pergi meninggalkan tempat itu.
Dan akhirnya hanya menyisakan Sasuke dan si gadis berambut pink yang masih tertahan di sebelah Sasuke dengan tangan yang masih dipegang oleh Sasuke.
"Le-lepas." Ucap gadis itu akhirnya, masih dengan wajah menunduk.
Sasuke mengambil kacamatanya yang tadi masih terpasang di wajahnya itu lalu menjulurkannya kepada gadis di depannya tersebut. Perlahan gadis itupun mengangkat kepalanya menatap ke arah Sasuke.
'Dia menangis?' Pikir Sasuke begitu melihat genangan air mata yang terlihat tertahan di kedua mata gadis itu.
Lama mereka hanya saling menatap, hingga akhirnya Sasuke memasangkan kacamatanya ke wajah gadis itu. Si gadis sempat tersentak kaget lalu kembali menunduk. Sasuke pun melepaskan pegangan tangannya pada gadis itu. Dan akhirnya si gadis berambut pink itupun pergi meninggalkan Sasuke sendirian.
FLASHBACK OFF
.
.
.
.
Hinata menghadap keluar kaca cafe dengan perasaan gelisah. Lalu sesekali melirik Naruto yang duduk di depannya yang terlihat santai sambil meminum coffee nya. Ya ampun, apa laki-laki didepannya tidak melihat situasi atau pura-pura cuek sih? Batin Hinata jengkel. Saat ini mereka memang masih berada di cafe Bonjour, duduk di salah satu kursi dekat jendela luar cafe. Tapi yang sebenarnya membuat Hinata gelisah dari tadi adalah tatapan dari para pengunjung lain nya yang terus menatap ke arah mereka.
Hinata hampir lupa, bahwa Naruto adalah seorang anggota boyband. Semua orang pasti mengenalnya dan sekarang mereka malah membuat janji di sebuah cafe yang sudah pasti akan dilihat oleh orang-orang.
'Kenapa aku asal setuju saja kemarin?' Pikir Hinata kesal.
"Jadi . . Hinata kau mengenal Shizune-san?" Naruto mulai bersuara.
Sontak Hinata langsung menatap Naruto, laki-laki itu juga sedang menatap ke arahnya saat ini. Meski Hinata yakin seratus persen bahwa laki-laki didepannya ini sadar dengan tatapan pengunjung lainnya.
'Astaga, apakah itu penting!? Apa dia tidak menyadari tatapan itu atau mencoba berpura-pura bodoh?' Jerit Hinata dalam hati.
"Ya." Jawab Hinata sedikit sewot.
"Tapi . . kau juga mengenalnya?" Lanjut Hinata begitu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
Naruto tersenyum, "Tentu saja, dia itu pelayan yang cerewet. Berbeda denganmu yang masih mau menghadapiku dengan tenang."
Hinata mengernyit bingung, 'Apa maksudnya itu? Aku menghadapi Naruto?'
"Apa lagi yang kau ingat tentang cafe ini, Hinata?" Naruto bertanya dengan menopang dagu dengan sebelah tangannya dan menatap lurus ke mata Hinata.
Hinata terdiam, lalu menghela napas pelan. "Apa kau sungguh-sungguh?"
Salah satu alis Naruto terangkat, namun orang itu hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Hinata.
"Kau tahu . ." Hinata memajukan wajahnya terlihat ingin membisikkan sesuatu, Naruto ikut memajukan wajahnya. "Pernyataanmu kepadaku kemarin." Ucap Hinata pelan, sangat pelan seperti bisikan.
Naruto terlihat sedikit tersentak mendengarnya, lalu menatap Hinata dengan serius.
"Tentu saja." Jawab Naruto lalu memalingkan wajahnya.
Hinata hanya diam melihat sifat Naruto yang tiba-tiba aneh itu, terlihat salah tingkah eh? Meski hanya sekilas namun ia yakin melihat semburat merah di pipi Naruto tadi sebelum Naruto memalingkan wajahnya tentu saja.
Hinata tertawa kecil, melihat reaksi Naruto sepertinya laki-laki itu serius.
"Tapi . . bagaimana bisa?" Tanya Hinata pelan.
Naruto menoleh kembali menatap Hinata dengan wajah datar.
"Apa kau tidak menyukaiku?" Ucap Naruto masih dengan wajah datar.
Hinata terkejut mendengar ucapan Naruto yang bukannya menjawab pertanyaannya tetapi malah menanyakan perasaannya. Dan apa-apaan dengan ekspresi wajah itu? Kenapa hatinya berdebar-debar?
"Bu-bukan begitu, aku menyukaimu. Ha-hanya saja –"
"Benarkah?" Potong Naruto cepat.
"Eh?"
"Kalau begitu jadi pacarku?"
"Apa!?"
Naruto mendengus geli, "Hei, kenapa kau kaget begitu?"
Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali, "Ti-tidak! Bukan begitu. A-aku-"
"Kau tahu, wajahmu memerah sekarang." Potong Naruto lagi sambil tersenyum geli.
Alis Hinata terangkat sebelah, lalu pipinya mengembung kesal.
"Sudahlah! Aku pergi saja." Ucap Hinata cepat.
"Tunggu!" Kata Naruto cepat setengah berteriak.
Namun Hinata tidak menghiraukannya lalu mulai berdiri hendak pergi meninggalkan Naruto.
"Aku mencintaimu!" Teriak Naruto cepat.
Hinata berhenti seketika, bukan karena pernyataan Naruto tapi karena Naruto yang mengucapkannya dengan keras dan lebih terdengar seperti teriakan. Wajahnya langsung memerah, apalagi menyadari sekelilingnya langsung penuh dengan tatapan kaget dan penasaran.
Sementara Naruto juga tidak kalah kagetnya, ia langsung tersentak lalu menatap sekeliling. Wajahnya sedikit merona merah. 'Sial . .' Pikir Naruto.
Naruto berdehem sekali, lalu berdiri menghampiri Hinata dan menggenggam sebelah tangannya lalu membalikkan badannya hingga akhirnya Hinata kembali berhadapan dengannya.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Jadi jangan pergi." Ucap Naruto mencoba meyakinkan Hinata.
Tanpa menunggu jawaban Hinata, Naruto segera menarik Hinata pergi meninggalkan cafe tersebut. Suasana langsung heboh begitu Hinata dan Naruto sudah keluar dari dalam cafe. Beberapa pelanggan ada yang langsung berucap ramai-ramai atas pernyataan Naruto tadi. Apalagi begitu mengetahui bahwa gadis yang bersama Naruto bukanlah seorang artis.
Para wartawan yang kebetulan juga ada di situ langsung mulai mencatat dan menelpon rekan-rekan kerjanya, mengecek kamera mereka apakah sudah mengabadikan momen tadi. Ini akan menjadi berita hebat besok. Begitulah pikir mereka semua.
.
.
.
"Pertama kali aku mengenalmu, sekitar satu tahun yang lalu. Saat kau masih bekerja di cafe Bonjour."
Dahi Hinata mengernyit bingung, "Kau.. maksudku Naruto-san mengenalku sejak satu tahun yang lalu?"
"Ya."
'Jangan-jangan saat ingatanku belum menghilang?' Batin Hinata
"Mungkin sekarang kau sudah paham maksudku. Tentu saja kau tidak ingat apapun tentangku." Ucap Naruto sambil tersenyum kecil.
Hinata hanya menatap Naruto bingung dan gelisah, gelisah karena dirinya yang ternyata sudah melupakan seseorang akibat kecelakaannya satu tahun yang lalu. Hinata sama sekali tidak tahu bahwa akibat kecelakaan itu, ia melupakan seseorang dalam hidupnya. Setelah berjalan satu tahun setelah kejadian itu, ia mengira semua sudah kembali seperti semula, berjalan normal seperti seharusnya.
"Apa ingatanmu belum sepenuhnya kembali?" Tanya Naruto
Hinata menggeleng pelan sambil menunduk, "Sejujurnya ingatanku sama sekali belum kembali."
"Begitu?"
Hinata menghela napas pelan lalu kembali menatap Naruto,
"Sampai sekarang ingatanku masih belum kembali, soal kehidupan SMA ku, soal pekerjaanku di cafe Bonjour, soal Shizune-san. Kecuali orang tuaku, aku mengingat mereka tentu saja. Aku hanya tidak mengingat saat-saat SMA hingga kecelakaan itu terjadi."
"Apa? Lalu bagaimana kau bisa mengenal Shizune-san?"
"Setelah keluar dari rumah sakit dokter menyarankanku untuk mengunjungi beberapa tempat sebelum aku mengalami kecelakaan, untuk memulihkan ingatanku. Disitulah aku mengenal Shizune-san." Hinata tersenyum geli mengingat kejadian itu, dia terlihat seperti orang bodoh. "Bahkan aku juga tidak mengingat Sakura-chan." Lanjut Hinata.
Naruto terdiam, perasaannya sangat campur aduk. Disatu sisi ia merasa sedih karena Hinata yang tidak mengingat momen-momen antara dirinya dan Hinata, disatu sisi lainnya ia merasa lega itu berarti Hinata masih belum mengetahui penyebab kecelakaannya.
"Hinata. . apa kau tahu siapa orang yang membuatmu kecelakaan?" Tanya Naruto pelan.
Hinata diam berpikir sejenak lalu mulai menggeleng pelan, "Tidak .. Ah lagipula itu salahku juga. Hasil penyelidikan polisi mengatakan itu karena aku yang terlihat terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan."
Naruto hanya diam mendengar ucapan Hinata. Apa ia harus menjelaskan penyebab kecelakaan Hinata? Atau sebaiknya menunggu agar ingatan Hinata kembali dengan sendirinya? Tapi satu tahun sudah berlalu dan Hinata masih belum mengingatnya. Atau lebih baik memang begini saja.
"Kalau kau memang tertarik dengannya berkenalan seperti biasa saja." Ucapan Sasuke beberapa waktu yang lalu pun kembali terngiang dipikirannya.
'Apa benar, aku memulai semuanya dari awal lagi saja?' Pikir Naruto.
"Tapi . ." Hinata mulai bersuara karena Naruto yang hanya diam, "Kalau kau mengenalku kenapa tidak datang ke rumah sakit? Maksudku seperti menjengukku? Kau bahkan tahu kalau aku mengalami kecela-"
"Hinata penyebab kecelakaanmu adalah aku." Potong Naruto cepat.
.
.
.
.
To Be Continued
Penjelasan :
Para Tokoh Utama [Latar waktu saat ini]
Hinata Hyuga : 20 Tahun – saat ini bekerja sambilan di Lavor Cake (Toko Kue) dan sedang kuliah di salah satu Universitas di Tokyo
Uzumaki Naruto : 23 Tahun – anggota boyband K-Five yang sedang naik daun, sahabat Sasuke sejak kecil karena kedua orang tua mereka yang juga bersahabat baik.
Haruno Sakura : 20 Tahun – sahabat Hinata saat SMA, namun lost contact setelah hari kelulusan dan bertemu lagi 1 tahun kemudian saat mulai kuliah di Tokyo.
Uchiha Sasuke : 22 Tahun – leader di K-Five yang memang paling menonjol diantara member lainnya karena ketampanan dan bakatnya dalam dance dan menyanyi.
Special Thanks :
Amanda651, Hagoromo604, Namikaze632, NataHiru, Rehan773, Sandal784, ShirouAmachi, afika chia, anirahani, cheeseburgerslayers, endahs442, jujumi chan, 17, thessaaths, burger keju, didiksaputra, endahmaulana428, oshrj94, thirty30, tonyfa77, tsukihime4869, UI21 , Ndul-chan Namikaze, yulianawanda110798, iendra33, Ryousuke 0919, Chinatsu-nyan
Lail Hanindya : Itu dia! Meski kejadiannya sudah terbongkar tapi kalau dari sudut pandang Hinata belum kan ya? #Lah
dindra510 : Aduh, iya maaf :'v Karena tiba-tiba otak saya lagi lemot. Dan feelnya sempet ngadat jadi updatenya telat. Siapp
HariawanRudy : Oke! Fighting!
Honeymoon Hamada : Thank you :v/ Siapp
sskiara : Oke, ini udah lanjut.
Ari-Gates : Ahahaha thank you. Maaf updatenya lama karena sempet hilang feel nya jadi nunggu daoet feelnya :'v. Berasa ada gambaran? Hm . . mungkin karena aku bikinnya sambil bayangin kali ya. #AuDah. Baca terus ya . .
Thank you for reading, and following this story.
Hope you like it. ^^
Review Plis?
Intan Dewi Cahaya
