Judul: Blue Heart

Cast: Jimin, Yoongi (Suga) dan lainnya

Genre: Romance, Hurt, Drama

Btw, saya bukan army dan ini pertama kali juga bikin cerita dengan pair JiminSuga, kalau ada kesalahan penulisan nama dan tempat saya mohon maaf. Jika ada kemiripan jalan cerita juga saya mohon maaf karena itu sama sekali ga disengaja.

Enjoy!

Baekhyun meninggalkan kamarnya dengan piyama yang masih membalut tubuhnya, sambil memegangi kepalanya yang sejak semalam terasa pening, pemuda bertubuh langsing itu mendekati wastafel untuk sekedar membasuh muka, ia tidak bisa melakukannya dikamar mandi karena yakin Yoongi pasti tengah berada di dalam. Setelah itu ia mengambil kardus sereal, dua mangkuk dan satu karton susu kemudian duduk di meja makan.

Tak lama kemudian Yoongi muncul saat Baekhyun tengah menuang susunya kedalam mangkuk berisi sereal.

"Baekhyun-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa menyiapkan sarapan sendirian?"

Sang pemilik nama hanya menggeleng pelan dengan wajah lesu "Tidak apa, Yoongi-ya. Aku sudah merasa lebih baik."

"Benarkah? Sudah meminum pil penambah darah?" tanya Yoongi lagi kali ini seraya menarik dagu Baekhyun agar sahabatnya itu sedikit mendongak, kemudian menarik kantung matanya sebelah kanan untuk melihat bagian dalamnya yang tidak sepucat tadi malam.

"Sudah, semalam sebelum tidur." Jawab si penderita anemia dengan posisi kepala yang telah normal.

"Kalau begitu jangan makan sereal. Aku sudah membuatkan bubur daging untukmu."

"Bubur daging?" Baekhyun batal menyendok serealnya yang sudah siap santap, ia mengamati pergerakan Yoongi dengan mata sayu.

Sementara temannya itu tidak menjawab dan hanya sibuk menyiapkan bubur dalam sebuah mangkuk lalu menaburinya dengan cukup banyak daging giling berbumbu juga irisan daun bawang sebagai garnis.

"Terima kasih." Baekhyun tersenyum tipis saat bubur tersebut telah siap dihadapannya, tak lupa Yoongi juga memberikannya sendok bebek* agar lebih mudah menyeruput bubur.

[*Sori, aku ga tau nama sebenernya apa, tapi aku menyebutnya sendok bebek. Sendok yang cekungannya dalem dan biasa buat makan bubur atau kuah-kuahan.]

"Aku bangun lebih awal untuk sarapanmu itu. Aku tidak akan membiarkan Chanyeol-hyung untuk modus merawatmu kalau sakit kepalamu bertambah parah." Yoongi turut duduk dimeja makan, sereal milik Baekhyun menjadi sarapannya kini.

Sementara Baekhyun hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mulai menyantap sarapannya saat Yoongi memutar lagu klasik kesukaannya melalui cd player kuno yang dihidupkan dengan sebuah remote mini. Cd player-nya sendiri terletak diatas rak dekat jendela. Apartemen mereka merupakan apartemen sederhana, ngomong-ngomong. Dengan dua kamar, satu kamar mandi, dapur dan balkon untuk menjemur pakaian. Yoongi dan Baekhyun memutuskan untuk tidak membeli mesin cuci dan memilih mencuci pakaian dengan tangan, kecuali yang berbahan berat seperti jeans atau mantel mereka memilih menggunakan jasa londri dan setiap seminggu sekali akan ada yang menjemput cucian mereka kemari.

"Kau yakin tetap ingin bekerja hari ini? Apa tidak sebaiknya cuti saja sehari?"

Baekhyun menggeleng dan menelan buburnya "Aku hanya akan datang lebih siang, lagipula aku hanya akan kedatangan dua pasien. Setelah itu aku akan langsung pulang."

"Yasudah, tapi berangkatlah dengan taksi."

Baekhyun mengangguk dan percakapan pagi pun berakhir saat Yoongi selesai mencuci mangkuk bekas sarapannya, kemudian kembali ke kamar untuk bertukar pakaian karena ia masih menggunakan kaus putih dan celana pendek biru tua saat sarapan tadi, pakaian rumahan. Meninggalkan Baekhyun yang masih khidmat menikmati sarapannya, Yonggi memberinya cukup banyak bubur sebelumnya.

"Aku berangkat." Seru Yoongi dari depan pintu sembari mengeluarkan sepatunya dari lemari, penampilannya pun telah siap dengan mengenakan celana bahan coklat tua yang sedikit membentuk kaki kurusnya, kemeja putih dan blazer berwarna moka serta tas ransel coklat berbentuk persegi yang sebenarnya juga cukup memuat laptop "Pastikan untuk memesan taksi, jangan berangkat dengan bus. Baekhyun kau dengar aku?!"

"Baiiik!"

Puas mendengar jawaban Baekhyun, pemuda yang lebih sehat segera menutup pintu apartemen dan turun menggunakan lift karena kamar mereka berada di lantai tiga. Setelah meninggalkan gedung, Yoongi berjalan menuju halte terdekat sambil membuka cemilannya yaitu sekotak pepero green tea. Ia mengambil satu batang dan mulai menggigitnya.

Melewati trotoar terdapat jejeran toko yang mulai beroperasi mendekati jam kerja, Yoongi berhenti didepan sebuah toko elektronik karena televisi yang dipajang di etalase memutar acara yang menarik perhatiannya. Ada sekitar sembilan televisi berukuran 30inch yang tertata rapi dibalik kaca, dan semuanya memutar acara yang sama. Sebuah peragaan busana, dari keterangan yang ditampilkan acara tersebut merupakan Paris Fashion Week dengan beberapa model asia yang berlenggak di catwalk.

Kamera memasuki mode zoom-in saat seorang model lelaki berparas asia melalui catwalk, keterangan menampilkan nama dan negara asal, tertulis Kim Taehyung ─ South Korea.

Yoongi mematahkan satu pepero dengan giginya.

Wajah Kim Taehyung itu nampak jelas di semua layar. Tampan sudah pasti, kulitnya sedikit kecoklatan meski ia adalah orang Korea, tetapi tidak bisa dibilang coklat juga karena kulitnya nampak berkilau dan cerah. Entah itu lensa atau memang mata aslinya yang berwarna coklat terang namun benar-benar indah dan menghasilkan sorot mata penuh misteri.

Menarik.

Setelah melempar potongan kecil sisa pepero-nya ke dalam mulut, Yoongi menyambung langkah mendekati halte yang berada di depan mata.

Ah, ia ingat. Hari ini anak-anak memintanya menyanyikan lagu Beauty and The Beast sebagai pengantar tidur siang mereka.

.

.

.

"Yak, Kim Shihan. Letakan tablet mu atau lagunya tidak akan kumainkan sama sekali." Titah Yoongi pada seorang pasien anak yang hingga ia siap dengan gitarnya, masih saja bermain games di tablet pemberian orang tuanya.

"B-baik, Dokter Sugar." Shihan menurut dan meletakan tabletnya di sebelah bantal.

"Bagus, sekarang berbaringlah."

Shihan pun berbaring, ia memposisikan tubuhnya menyamping menghadap Yoongi dengan mata yang terpejam siap untuk menjemput mimpi.

Yoongi tersenyum miring melihat semua pasiennya sudah siap untuk tertidur. Ia pun mulai memetik gitarnya dan melantunkan sebuah lagu. Sesungguhnya Yoongi tidak yakin jika suaranya saat bernyanyi akan sebaik suara Baekhyun, namun ia cukup percaya diri jika diharuskan bernyanyi seraya memainkan gitar seperti sekarang ini.

Butuh waktu sekitar lima menit sampai lagu selesai dan petikan terakhir gitarnya berbunyi, Yoongin menghela nafas karena sedikit lelah bernyanyi terlebih dalam bahasa asing. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan memastikan kalau semua pasiennya sudah tidur, ada pula yang masih bergerak mencari posisi nyaman dalam keadaan setengah sadar.

Yoongi terkekeh kecil melihat wajah lucu semua pasien anaknya.

Ia pun meletakan gitarnya di sudut ruangan dan berpamitan pada suster pengawas untuk meninggalkan ruang rawat. Langkahnya terus teruntai disepanjang lorong Departemen Kesehatan Anak sampai getar ponsel di jas putihnya membuatnya terhenti. Ada pesan masuk rupanya.

From: -

Aku menunggumu dibawah.

Yoongi mengerenyit bingung menatap layar ponselnya, seingatnya ia tidak memiliki janji dengan siapa pun karena hari ini bukan jadwalnya praktek. Tapi yasudahlah, tidak ada salahnya untuk bertemu orang itu dan Yoongi memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan orang tersebut.

Ia menoleh kesana kemari guna menemukan sosok yang dimaksud tanpa sadar seseorang mendekatinya dari belakang.

"Yoongi-ya."

Suara berat orang tersebut membuat Yoongi sedikit tersentak dan refleks membalikan badan dan langsung dihadapkan dengan sebuah rangkaian bunga lavender yang sangat harum. Rangkaian tersebut cukup besar dan nampaknya orang yang membawanya sengaja menutupi wajah dengan benda itu hingga Yoongi hanya mampu menatapnya bingung.

"Taehyung-ah...?" ucapnya ragu.

Orang tersebut memperlihatkan wajahnya "Yap. Ini aku!"

Diwajah Taehyung telah terlukis pula sebuah senyum lebar yang memperlihatkan rangkaian gigi putih nan rapihnya. Senyum lebar khas Kim Taehyung yang bagi Yoongi membuat pemuda itu nampak semakin mempesona.

"Aku 'kan tidak suka dihadiahi bunga, Taehyung-ah..." Yoongi berkata sambil menghela nafas.

Taehyung hanya menaikkan kedua bahunya dan menatap Yoongi tanpa dosa "Ini memang bukan untukmu, tapi untuknya."

Yoongi mengikuti kemana arah Taehyung menunjuk dengan gerakan dagunya, ia menoleh kebelakang dan menemukan Baekhyun sahabatnya tengah berjalan mendekati mereka, wajahnya sudah tidak sepucat tadi pagi, ngomong-ngomong.

"Selamat siang Dokter-ku yang cantik." Taehyung mendekati Baekhyun dan menyerahkan buket bunga yang dibawanya.

"Terima kasih pasien-ku yang tampan." Baekhyun menerima pemberian Taehyung dengan senyum manisnya.

Keduanya tertawa bersama dan Yoongi hanya memutar kedua bola matanya malas, apalagi saat Taehyung mengajak Baekhyun berfoto bersama untuk bahan pembaharuannya di inst*gram. Sebagai artis, wajar saja bukan jika Taehyung cukup aktif di media sosial demi untuk menyenangkan penggemar juga tentunya.

"Tutupi wajahku dengan stiker, aku belum siap menjadi terkenal." Yoongi berlagak mual saat mendengar ucapan Baekhyun.

"Haha. Tentu saja, Hyung." Taehyung memperlihatkan ponselnya pada Baekhyun untuk meyakinkan dokternya kalau ia benar-benar menyembunyikan wajah dokter sekaligus penasihat kesehatannya itu.

Setelah selesai dengan acara media sosialnya, ketiga pemuda itu berbincang sebentar dan anemia Baekhyun menjadi topik utama. Taehyung berjanji dikunjungan berikutnya akan membawakan vitamin dan suplemen untuk Baekhyun serta Yoongi.

"Aku tahu kalian butuh waktu mengobrol. Taehyung, kutunggu diruang periksa dua puluh menit lagi." Ucap Baekhyun seraya melambaikan tangan dan meninggalkan keduanya.

"Ok!" Taehyung memberikan acungan ibu jarinya.

Keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman rumah sakit. Taehyung menggunakan kacamata hias guna menyamarkan penampilannya, kaus putih longgar dilapisi kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna biru dongker yang melekat ditubuhnya cukup untuk menyembunyikan pesona nya sebagai model, terlebih celana longgar berwarna krem yang ia kenakan membuatnya tampak biasa saja. Benar-benar biasa. Sangat berbeda dengan penampilan Taehyung yang Yoongi lihat di etalase toko meski warna rambutnya masih sama yaitu coklat gelap.

"Kapan kau kembali dari Paris, Taehyung-ah?" tanya Yoongi yang berjalan disebelah Taehyung. Entah disengaja atau tidak, sadar atau tidak, keduanya berjalan sangat pelan seolah tak ingin kebersamaan ini cepat berakhir.

"Kemarin siang."

"Apa kau merasa kurang sehat sampai langsung memeriksakan diri pada Baekhyun? Kau baik-baik saja, bukan?"

Taehyung tertawa kecil "Tentu saja, Yoongi-ya. Aku hanya khawatir karena sebelum pulang, aku sempat menghadiri pesta di Paris dan meminum sedikit lebih banyak sampanye dari biasanya."

"Aish. Kau harusnya menahan diri, Kim Taehyung."

"Aku tahu. Hanya saja aku merasa tidak enak hati pada rekanku yang lain."

Keduanya menemukan bangku taman kosong dan langsung menempatinya. Langit cukup cerah sehingga mereka tidak merasa keberatan jika tidak duduk dibawah pohon.

Berbicara mengenai Taehyung, sebenarnya pemuda itu adalah pasien Baekhyun sejak setahun yang lalu. Ia pun mengenal Yoongi dan Baekhyun saat dilarikan ke rumah sakit karena pingsan akibat mengalami kaget jantung setelah menghabiskan beberapa botol wine. Ketika itu, Taehyung boleh berlega hati karena ia cuma pingsan dan jantungnya baik-baik saja, hanya sedikit kaget akibat konsumsi minuman keras berlebih. Ditelusuri dari riwayat kesehatan sang pasien, Baekhyun menemukan kalau ternyata ayah Taehyung memiliki penyakit jantung sehingga Taehyung pun memiliki resiko mengidap penyakit tersebut. Oleh karenanya, Baekhyun menyarankan untuk pemuda itu memeriksakan diri paling tidak sebulan sekali dan langsung disetujui oleh yang bersangkutan. Sejak saat itu, Baekhyun menjadi dokter tetap sang model sekaligus penasihatnya untuk menjalani pola hidup sehat juga perancang diet berkualitas disaat Taehyung mengalami kenaikan berat badan.

Sekalian menjadi alasan untuk bertemu Yoongi juga.

Ups.

"Cepat berikan padaku." Yoongi menggerakan tangannya.

"Apanya?" tanya balik Taehyung dengan nada polos.

Yoongi menunjuk paper bag kecil yang ia sadari dibawa Taehyung sejak tadi "Aku tahu kau membawanya. Itu untukku, bukan?"

"Dasar." Dengus Taehyung namun tetap menyerahkan paper bag berwarna ungu tersebut kepada dokter muda disebelahnya.

"Tidak setiap hari aku mendapat buah tangan dari Paris 'kan?" senyum jahil terlukis di bibir pemilik panggilan Dokter Sugar.

Yoongi mengeluarkan isi paper bag yang ternyata adalah sebuah kotak hitam seukuran telapak tangannya, terdapat nama merek dibagian atas kotak yang dicetak dengan tinta berwarna emas, menjadikan tampilan kotak tersebut cukup elegan. Ia mengeluarkan isi kotak tersebut yang ternyata adalah hiasan bola air yang sangat cantik.

"Woah, Taehyung-ah...woah!" kagum Yoongi pada benda ditangannya.

Sebuah bola air hias, serpihan berkilau didalamnya akan berhamburan jika benda itu diguncangkan. Terdapat pula miniatur menara Eiffel berwarna keemasan didalamnya, ada beberapa batu kristal yang Yoongi yakini adalah asli berjatuhan disekitar minatur menara.

Pemuda manis itu menatap Taehyung hanya untuk memamerkan kekagumannya pada benda ditangannya.

Sementara dibagian bawah, lebih tepatnya penyangga bola yang terbuat dari kayu, terdapat lapisan plat keemasan dengan ukiran kalimat 'From Paris With Love'.

Apakah ada maksud tertentu dari kalimat tersebut...?

Hanya Taehyung yang mengetahuinya.

"Kau suka?" Taehyung menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas di depan mata.

Yoongi mengangguk cepat "Suka sekali. Benda ini terlihat sangat mahal, kau yakin memberikannya untukku?"

Taehyung terkekeh "Benda itu sudah ada ditanganmu, ingin kuambil kembali?"

"Jangan, ini sudah jadi milikku." Yoongi meletakkannya kembali dalam kotak lalu memasukannya dalam paper bag "Terima kasih, Taehyung-ah."

Senyum terulas begitu saja diwajah Taehyung melihat Yoongi menerima hadiahnya dengan begitu senangnya. Ia senang membuat Yoongi tersenyum, karena ia juga menyukai senyum pemuda manis itu.

Dia tidak tahu pasti kapan perasaan ini muncul. Karena saat Taehyung tersadar, ia telah benar-benar tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok bertubuh kecil Min Yoongi.

Dan bukannya Taehyung tidak ingin mengungkapkan perasaannya pada Yoongi, hal itu pernah ia pikirkan beberapa kali, sebetulnya. Hanya saja menghabiskan waktu sebagai teman dengan pemuda manis ini, menatapnya diam-diam, mengamati senyum dan tingkah lakunya yang menggemaskan, memiliki nilai sendiri di hati Taehyung. Ia hanya menikmati waktunya saat ini...sebagai salah satu orang terdekat Min Yoongi.

"Taehyung-ah!" seruan Yoongi membuat sang pemilik nama terkesiap.

"Eh? Ya?"

Yoongi menghela nafas "Kau ini kenapa sering sekali melamun saat bersamaku?"

"Huh? Aku?" Taehyung menunjuk diri sendiri dengan wajah bingung.

Sekali lagi dokter muda itu menghela nafas, pikirnya mungkin Taehyung hanya terlalu lelah dengan bertambah seringnya melakukan pekerjaan di luar negeri.

"Sudahlah." Ia mengusap puncak kepala Taehyung menjadikan surai coklat gelapnya sedikit berantakan "Ayo, kuantar kau menemui Baekhyun."

"...sekarang?"

Yoongi mengangguk, kali ini poni rambutnya nampak sedikit bergoyang ringan. Ah, sungguh manis sekali dokter satu ini.

"Tapi aku..." sebenarnya Taehyung sedikit tidak rela mengakhiri kebersamaannya dengan Yoongi. Rencananya ia ingin sedikit melobi Baekhyun nanti.

"Tidak ada tapi, ayo berdiri..." Yoongi menarik tangan Taehyung dan membuat yang bersangkutan merasakan jantungnya bertalu-talu layaknya perkusi "Kita sudah hampir menghabiskan waktu 20 menit. Aku tidak ingin waktu istirahatmu berkurang, Taehyung-ah."

Pada akhirnya Taehyung luluh dan membiarkan Yoongi menariknya menemui Baekhyun, rasa-rasanya ia ingin sekali mengutuk diri sendiri karena bisa-bisanya melamun saat bersama Yoongi, jadi kebersamaan mereka terasa sebentar sekali.

Taehyung cemberut. Ia ingin merajuk tapi ini masih di tempat umum.

Sepertinya ia harus mendapatkan Yoongi dalam waktu dekat jika tidak mau seperti ini terus.

.

.

.

Jimin berjalan melewati taman sekembalinya ia dari mengambil arsip di kantor administrasi yang letaknya sedikit jauh dibelakang gedung utama. Bukan apa-apa, Jimin hanya ingin lebih aktif diawal masa kerjanya dengan tidak terlalu sering menyuruh asisten dan memilih melakukan sendiri selama ia mampu mengerjakannya.

Ajaran sang kakek sedari kecil ialah 'kerja keras tidak akan mengkhianati hasil'

Jadi Jimin menyimpulkan bahwa memang benar ia terlahir berkecukupan, namanya bahkan sudah tercantum sebagai salah satu ahli waris sebelum dirinya dapat mengenal huruf dan angka, namun bukan berarti ia bisa seenaknya hidup santai dan tinggal menikmati pencapaian sang kakek saja. Jimin juga harus berusaha keras mempertahankan apa yang saat ini dimiliki keluarganya. Dengan terus belajar, belajar dan belajar...berusaha keras untuk lebih mengembangkan diri lagi baik dari segi pengalaman mau pun pengetahuan.

Dengan begitu bukan hanya dapat mempertahankan apa yang kini telah dimiliki, suatu saat ia juga dapat mengembangkan usaha sang kakek dengan tangan sendiri.

Dengan salah satu tangan membawa sebuah map hitam yang berisi laporan keuangan dan daftar karyawan beserta perincian lainnya, Jimin mengambil langkah lebar melewati taman dimana banyak pasien menghabiskan waktu untuk melepas penat selama dirawat di rumah sakit, namun tetap ada beberapa staf yang menunduk ketika ia lewat.

Mendekati pintu masuk gedung, langkah Jimin harus tertahan saat menemukan sosok seorang yang tak asing baginya. Itu Yoongi...iya, Dokter Sugar-nya. Tengah menarik tangan seorang pria tinggi memasuki gedung rumah sakit. Jimin bahkan tidak sadar kalau matanya mengikuti pergerakan mereka berdua sampai benar-benar menghilang dibalik pintu masuk.

Jimin terkesiap saat ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.

Ia menerima panggilan tersebut dan menempelkan ponselnya di telinga "Ya, Hyung?"

"Kau dimana, Jimin-ah? Aku menunggumu diruanganmu."

"Baik, hyung. Aku segera kembali."

Setelahnya, Jimin memasukan kembali ponselnya kedalam saku dan menyambung langkah memasuki gedung menuju kantor dimana Chanyeol telah menunggunya.

"Habis darimana kau?" tanya Chanyeol yang telah duduk di kursi tamu yang berhadapan langsung dengan kursi direktur, hanya terhalang meja.

Jimin meletakan map-nya diatas meja dengan sedikit kasar lalu menduduki kursinya dan langsung berhadapan dengan sang kakak. Chanyeol menatapnya penuh tanya, melihat cara Jimin menghela nafas, kasar, sepertinya sang adik sedang tidak dalam mood yang baik.

"Mengambil berkas dikantor belakang." Jimin menunjuk map-nya diatas meja "Ada apa hyung kemari?"

"Ah, benar. Aku hampir lupa. Aku ingin menunjukan ini padamu dan meminta pendapatmu sebelum kuperlihatkan pada Yoochun-hyung." Pemuda yang lebih tua mengeluarkan tabletnya lalu memperlihatkannya pada sang adik setelah sebelumnya membuka aplikasi yang diperlukan.

Jimin mengambil alih tablet tersebut dan mengamati apa yang ditampilkan pada layar, sebuah video, lebih tepatnya laporan dalam bentuk audio-visual, mengenai Seoul Sparkland atau taman hiburan yang dibangun oleh Chanyeol. Taman hiburan tersebut ditargetkan akan dibuka untuk umum akhir bulan depan dan pembangunannya sendiri sudah selesai seratus persen berikut dengan perekrutan serta pelatihan pegawai yang akan bekerja di sana.

Dalam video yang diambil dengan bantuan drone tersebut dijabarkan pula konsep, luas area, jumlah wahana dan stand. Memiliki tiga zona berbeda yang mana wahananya menyesuaikan pula dengan zona masing-masing yaitu Sky zone, Earth Zone dan Water Zone.

Hal-hal lain dijelaskan pula dalam laporan.

Dan Jimin enggan mengakui terang-terangan bahwa ia kagum dengan hasil kerja keras kakak sepupunya ini.

"Bagaimana, Jimin-ah?"

Jimin melirik pada Chanyeol yang menatapnya penuh harap, sial, sejak kapan kakaknya yang konyol ini menjadi jenius. Lalu tersenyum dan mengangguk pelan "Satu kata. Excellent."

Helaan nafas lega terdengar dari sang kakak, disertai tawa puas dan kepalan tangannya yang terayun. Pujian sang adik pada hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun semakin menambah rasa percaya dirinya.

"Sekarang kau hanya perlu memikirkan cara mempromosikannya, hyung." Jimin mengembalikan tabletnya pada Chanyeol.

"Ah, tenang saja. Untuk urusan yang satu itu tentu saja aku sudah memikirkannya." Chanyeol kembali membuat jari-nya menari diatas layar sebelum menyerahkannya lagi pada Jimin.

Video yang berputar kali ini merupakan sebuah rangkaian iklan dengan pemain yang sama, seorang laki-laki muda dengan senyum lebar layaknya anak-anak namun memiliki sorot mata tajam dan misterius.

"Aku berencana untuk mengontraknya sebagai bintang iklan utama taman hiburan kita, namanya adalah Kim Taehyung. Dia bukan aktor atau pun idol, dia adalah seorang model."

Jimin mengamati sosok dalam video yang seperti tidak asing baginya. Ia yakin pernah melihat laki-laki ini, terutama senyumnya yang harus Jimin akui memiliki nilai jual tinggi.

"Yang aku sukai dari Kim Taehyung ini adalah dia tidak seperti artis lainnya yang kerap melenceng dari bidang yang digeluti. Terkadang menyanyi, terkadang bermain drama, Kim Taehyung ini tidak seperti artis kebanyakan yang bila telah sukses menjadi idol akan bermain drama dengan memanfaatkan popularitasnya sebagai idol. Dia lebih fokus dalam bidang yang sejak awal menjadi pilihannya memasuki dunia hiburan sebagai model."

Penjelasan Chanyeol masih dapat Jimin dengar dengan baik meski matanya tak berhenti mengamati sosok Kim Taehyung yang sungguh membuatnya penasaran, dimana ia pernah melihat laki-laki ini. Jimin menggali pikirannya, ia tidak yakin tapi percaya kalau dirinya benar-benar pernah melihat Kim Taehyung bukan melalui layar elektronik melainkan melihatnya secara langsung.

Tapi dimana?

"Pernah aku menghadiri peragaan busana di luar negeri dan melihat Kim Taehyung ini berjalan di catwalk. Aku tidak tahu mengatakannya tapi dia benar-benar memiliki aura yang memukau, produk yang diiklankan olehnya pun sebagian besar selalu sukses dipasaran. Dan kebanyakan perusahaan atau brand yang mengontraknya adalah brand ternama dengan harga produk selangit."

"Oh ya? Lalu apa yang membuatmu percaya kalau orang ini akan mengantarkan taman hiburan kita menjadi salah satu objek wisata terbaik di Korea Selatan?"

Kali ini Chanyeol memberikan senyum penuh percaya dirinya dan menempatkan kedua siku-nya diatas meja.

"Kau lihat senyumnya bukan? Aku bilang tadi dia memiliki aura yang memukau tapi senyumnya aku merasa memiliki nilai jual yang baik dan cukup persuasif. Ia mampu meyakini konsumen akan kualitas produk yang diiklan-kan dengan senyumnya yang seolah berkata 'ayo beli produk ini dan jadilah seperti diriku.', aish, aku tidak pandai mendeskripsikan sesuatu. Tapi pokoknya seperti itulah, kau pasti mengerti, Jimin-ah."

Jimin mengangguk-angguk paham, ia mengamati beberapa foto Kim Taehyung dan menyetujui pendapat Chanyeol kalau laki-laki ini memang memiliki nilai jual yang bagus.

"Baiklah kalau begitu, Hyung. Aku tidak menyangkal pendapatmu yang memang sangat meyakinkan." Jimin mendorong tabletnya pada Chanyeol.

"Tentu saja." Ucap Chanyeol bangga "Aku sudah meminta tim-ku untuk menghubungi manajemen Kim Taehyung dan merencanakan pertemuan dengannya."

Sekali lagi Jimin hanya mengangguk, menyetujui cara kerja sang kakak juga pemikirannya yang benar-benar penuh dengan strategi bisnis.

Dan ah, ia mengingat dimana pernah melihat Kim Taehyung itu.

Ingatannya kembali ke beberapa puluh menit lalu saat dirinya mendapati Yoongi tengah menarik tangan seorang laki-laki memasuki gedung rumah sakit, dialah lelaki itu...Kim Taehyung.

.

.

.

Yoongi mengguncangkan bola air ditangannya lalu tertawa kecil saat melihat isinya yang berkilauan itu berhamburan dengan indahnya. Ia berencana meletakan benda pemberian Taehyung di meja kantornya saja mengingat biar bagaimana pun ia akan lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit ketimbang dirumah.

Oh, bagaimana benda ini bisa menjadi sangat cantik. Yoongi sungguh menyukainya.

"Bila matamu bisa mengeluarkan laser..." Yoongi menoleh kearah asal suara untuk menemukan Baekhyun telah berdiri, bersandar pada engsel pintu "Benda itu pasti sudah hancur karena kau terus menerus menatapnya."

Sahabatnya itu berdiri disana dengan telah mengenakan pakaian kasual dan tas selempang hitam yang menggantung di bahu kirinya. Sepertinya sesuai rencana kalau Baekhyun hanya menangani dua pasien dan setelah selesai akan pulang untuk beristirahat dirumah.

"Kau sudah akan pulang? Bagaimana dengan Taehyung?" Yoongi meletakan pemberian Taehyung diatas meja kerja lalu berdiri menghampiri Baekhyun.

"Dia sudah selesai kuperiksa. Aku hanya memintanya agar tidak mengkonsumsi alkohol selama tiga hari untuk mencegah kaget jantung seperti dulu, karena bila itu terjadi lagi akan sangat fatal untuk organ dalam-nya."

"Syukurlah kalau begitu. Ayo, kuantar kau sampai bawah." Yoongi menutup pintu kantor lalu memeluk lengan kiri Baekhyun saat mereka mulai melangkah menjauhi kantor.

"Kau sudah memesan taksi-nya?"

Baekhyun menggeleng "Chanyeol akan mengantarku pulang, kebetulan dia datang ke rumah sakit untuk menemui Jimin dan saat tahu aku sedang kurang sehat dia langsung memutuskan untuk mengantarku pulang."

"Ah...begitu, baguslah." Tanggap Yoongi sedikit lesu, mendengar nama Jimin tak ayal membuat suasana hatinya berubah tak menentu.

Sang sahabat yang menyadari perubahan raut wajah Yoongi hanya mengusap punggung tangan dokter anak tersebut yang memeluk tangannya erat.

"Kenapa masih memikirkan Jimin, hm?" tanyanya lembut.

"Tidak kok." Jawab Yoongi dengan suara kecil.

"Astaga, kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapmu baik sekarang atau pun delapan tahun lalu."

Yoongi tak menganggapi ucapan Baekhyun, membuat sang sahabat menoleh dan menemukan kalau teman satu rumahnya itu kini tengah menunduk dengan bibir yang sedikit maju, astaga kenapa imut sekali, berapa usia orang ini sebenarnya, batin Baekhyun.

"Kenapa kau tidak coba pacaran saja 'sih? Bagaimana dengan Taehyung saja, kelihatan dia memiliki perasaan padamu."

"Bicara apa kau, kami hanya berteman." Sanggah Yoongi sambil mengguncang tangan Baekhyun.

Baekhyun hanya tertawa kecil melihat reaksi Yoongi, ia tidak terlalu mengamati sebenarnya tapi jika melihat tatapan Taehyung pada Yoongi, apalagi cukup sering pula menemukan kalau sang model kerap kali memandangi temannya itu diam-diam, Baekhyun yakin jika Taehyung pasti memiliki suatu perasaan khusus terhadap Yoongi.

Yah, biarlah Yoongi yang memutuskan sendiri apa yang ingin ia jalani.

Tanpa terasa keduanya telah tiba dilantai yang dituju, Chanyeol sudah menunggu Baekhyun dipintu keluar.

"Oh ya, aku hampir lupa. Hari ini Chanyeol akan memasak untuk kita jadi kau tidak perlu belanja lebih dulu dan pastikan untuk makan malam dirumah. Mengerti?" Yoongi mengangguk dan Baekhyun menepuk pelan kepalanya "Anak pintar."

Keduanya melangkah menuju pintu keluar sampai akhirnya menemukan sosok dua orang pria tampan dalam balutan pakaian formal berdiri disana, salah satunya bertubuh cukup tinggi yang kini tengah melambaikan tangan dengan pandangan tertuju pada Baekhyun.

"Chanyeol-ah!" pelukan Yoongi terlepas begitu saja saat Baekhyun melangkah lebih cepat untuk menghampiri kekasihnya.

Sementara Yoongi hanya mampu menahan nafasnya saat melihat sosok Jimin yang berada disamping Chanyeol. Langkah kakinya terasa kaku saat ia berjalan pelan mendekati mereka, Baekhyun sendiri kini telah berada dalam rangkulan kekasihnya, beberapa kali ia melihat Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun dengan mesra. Yoongi menyempatkan diri untuk membungkuk hormat saat menyadari kalau Jimin melihatnya.

"Kami pulang duluan, Jimin-ah, Yoongi-ya." Masih sambil merangkul Baekhyun, Chanyeol membawa kekasihnya itu meninggalkan rumah sakit dan hanya dibalas sekedarnya oleh Jimin mau pun Yoongi.

Keduanya kini terpaku ditempat masing-masing, sampai akhirnya Jimin menghampiri Yoongi lebih dulu. Yoongi yang hampir salah tingkah berusaha menghela nafas dan memasukan tangannya ke dalam saku jas dokter guna menghilangkan kegugupannya.

"Apakah Baekhyun baik-baik saja?" tanya Jimin memecah keheningan.

Yoongi mengangguk "Ia sudah lebih baik dan tidak sepucat tadi malam."

"Baguslah. Ayo jalan." Sang dokter muda mengiyakan ajakan Jimin dan ikut berjalan disebelahnya.

Keduanya melangkah dalam sunyi, Yoongi memilih pura-pura sibuk memerhatikan kesegala arah asalkan dapat mencegahnya menatap Jimin terlalu lama, tanpa menyadari kalau sesungguhnya sosok disebelahnya itu sesekali melirik padanya untuk kemudian tertawa pelan karena menemukan kalau perilaku Yoongi sangatlah menggemaskan baginya.

"Yoongi-ya..."

"Ya!" sang pemilik nama buru-buru menjawab bahkan sampai menoleh dan bertatapan langsung dengan sepasang coklat gelap Jimin yang menatapnya.

"Lain kali, ayo makan siang bersama."

Yoongi tak langsung menjawab melainkan membiarkan rona merah muda mulai menjalar dipipinya, wajahnya sedikit terasa hangat dan ia tak kuasa untuk tidak tersenyum lalu menganggukan kepala. Selebihnya ia tak sanggup melihat senyum Jimin yang mulai mengembang karena itu tidak baik untuk kesehatan hati dan jantungnya.

Sebenarnya setelah itu, Jimin bermaksud menanyakan nomor ponsel Yoongi namun terhalang oleh seruan seorang pria berseragam perawat yang berlari kearah mereka sembari memanggil-manggil nama Yoongi.

"Dokter Min! Dokter Min!"

Keduanya refleks berhenti melangkah "Ya, ada apa perawat Goo?"

Perawat Goo tidak langsung menjawab melainkan menarik nafas terlebih dahulu, karena sungguh, berlari dengan membawa tubuhnya yang tambun itu sangat melelahkan.

"Pasien Dikamar 506 mengalami deman dan kejang setelah diberi suntikan antibiotik satu jam yang lalu.

"Apa?!" Panik Yoongi yang langsung dapat mengingat siapa pasien yang menempati kamar tersebut. Seorang anak berusia tiga tahun dengan penyakit bronkhitis.

Sang dokter lantas berlari menuju eskalator sambil mengenakan stetoskopnya di leher, sementara perawat Goo melenguh berat meratapi nasib yang harus kembali berlari-lari padahal nafasnya masih belum tertatur.

Jimin yang hanya mampu terdiam menatap Yoongi harus menerima kalau dirinya ditinggalkan begitu saja oleh sang dokter. Tapi tidak terlalu diabaikan juga karena Yoongi sendiri sempat melambai singkat padanya saat tengah berlari di eskalator.

Sejenak Jimin merasa takjub, akan sosok Yoongi dan kesigapannya sebagai dokter. Wajah seriusnya yang menawan, juga sosok mungilnya yang tanpa peduli lelah berlari secepatnya.

Nah, Min Yoongi. Bagaimana kau menjelaskan caramu membuat Jimin tak dapat mengalihkan pandangannya darimu?

.

.

.

Rasanya Yoongi benar-benar lapar, mungkin tiga atau empat mangkuk ramyeon akan dengan mudah meluncur diperutnya dan ia benar-benar harus merapatkan blazernya sepanjang jalan agar geraman yang berasal dari perutnya tidak terdengar penumpang lain.

Pukul tujuh tepat saat Yoongi menapakkan kaki di halte bus. Ia segera melangkah menuju apartemennya yang hanya beberapa puluh meter dari situ. Baekhyun bilang pukul enam tepat Chanyeol sudah tiba di apartemen mereka dengan membawa bahan makanan dan langsung mulai memasak, Yoongi harap pria kaya raya itu sudah selesai dengan masakannya saat ia sampai agar dapat langsung mengisi perutnya yang benar-benar perlu dinafkahi.

"Aku pulang."

Begitu sampai, Yoongi langsung masuk dan membuka sepatunya, kemudian meletakannya terlebih dahulu didalam lemari sebelum memasuki rumah. Ia dapat menemukan Chanyeol dan Baekhyun tengah berkutat didapur yang sebenarnya menyatu dengan ruang santai tapi berfungsi juga sebagai ruang tamu.

"Yoongi-ya, cepat, bersihkan tubuhmu sebelum kita makan." Titah Baekhyun tanpa mau repot membalas salam Yoongi. Tangannya sibuk menata piring dan gelas diatas meja makan.

"Baiklah, aku mengerti."

Yoongi pun memasuki kamarnya untuk bebenah diri. Inginnya sih cukup cuci tangan dan langsung makan saja mengingat perutnya yang berkoar-koar, hanya saja Baekhyun memiliki kadar kebersihan satu tingkat diatasnya, temannya itu tidak terlalu suka makan dengan pakaian yang tertempel debu dan polusi.

Dua puluh menit kemudian Yoongi telah selesai dengan acara membersihkan tubuh dan wajahnya, ia langsung menempati kursi kosong dihadapan Chanyeol dan Baekhyun. Yoongi mengenakan pakaian santai berupa kaus lengan panjang putih bergambar totoro dan jeans biru, Baekhyun dengan kaus lengan panjang bergaris kuning-hitam ─seperti lebah─ dan jeans ketat hitam, sementara Chanyeol mengenakan sweater rajut abu-abu turtle neck yang bagian lengannya ia singkap hingga siku dan celana motif army.

"Bolehkan aku langsung makan saja? Aku kelaparan." Rengek Yoongi yang perutnya sudah tidak bisa lagi diajak toleransi.

"Baiklah, baiklah. Ingin nasih putih atau nasi merah?" tanya Baekhyun sembari mengambil mangkuk Yoongi.

"Nasi merah saja."

Baekhyun mengangguk dan langsung mengisi mangkuknya dengan nasi merah, kemudian mengisi mangkuk Chanyeol lalu mangkuknya sendiri dengan nasi putih.

Masakan Chanyeol hari ini adalah Beef Doenjang Jigae, kimchi dumpling dan Spicy Fried Chicken. Lalu sebagai makanan pendamping disediakan pula asinan lobak dan tentu saja kimchi. Yoongi tidak heran sebenarnya karena ini bukan kali pertama ia makan malam bersama pasangan Chanyeol-Baekhyun dengan sang dominan sebagai koki.

Pokoknya, kekasih temannya ini sungguh Husbando Material.

Yoongi sedikit mendesah saat kuah jigae menghangatkan tenggorokannya, apalagi saat ia memasukan nasi merah yang dikunyah bersama lembaran daging sapi.

Inginnya 'sih, dia ikut tinggal bersama Chanyeol dan Baekhyun setelah mereka menikah nanti, tapi itu tidak mungkin bukan?

"Makan yang banyak Yoongi, aku tahu kau kelaparan karena kudengar dari Jimin salah satu pasienmu ada yang terpaksa dilarikan ke igd." Chanyeol meletakan sepotong ayam ke mangkuk Yoongi lalu ke mangkuk Baekhyun juga.

"Ah, ya begitulah Hyung. Anak itu mengalami demam sampai kejang hingga aku harus membiarkan dua jariku digigit olehnya." Yoongi memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya yang memerah.

"Wah, apa tanganmu itu baik-baik saja?"

"Tidak masalah. Gigitan anak umur tiga tahun tidak terlalu terasa."

Ketiganya pun melewati waktu makan diselingi pembicaraan kecil dan Yoongi tidak bisa menahan desiran aneh dihatinya saat Chanyeol menyebut nama Jimin.

Tak lama acara makan malam pun selesai, Baekhyun langsung merapikan bekas peralatan makan mereka juga menyajikan potongan semangka dan mangga, sebenarnya ada juga stroberi tapi itu khusus untuknya, lagi pula Yoongi dan Chanyeol tidak akan mau makan itu.

"Yoongi-ya." Bisik Chanyeol yang sepertinya berusaha agar tidak terdengar oleh Baekhyun.

"Hm?" Yoongi menatap Chanyeol dengan mulut yang masih mengecap rasa manis mangga.

Tak langsung bicara, Chanyeol memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah bianglala berlatar malam hari dengan lampu hias berbentuk huruf B raksasa. Melihat hal tersebut Yoongi sendiri langsung menatap lelaki dihadapannya dengan takjub.

"Aku berniat memperlihatkannya saat melamar Baekhyun nanti, bagaimana menurutmu?"

"Itu keren, hyung. Tapi juga nyentrik."

Mendengar jawaban Yoongi, Chanyeol tak bisa menahan tawanya yang langsung mengundang Baekhyun menghampiri meja makan. Untung saja Chanyeol telah menyimpan ponselnya saat sang kekasih bertanya apa yang membuat tertawa keras seperti tadi dan Chanyeol menjawab karena ia melihat foto aneh Jimin saat tertidur...dan lagi-lagi menimbulkan desiran aneh dihati Yoongi.

Sepertinya ia benar-benar telah jatuh dalam pesona Park Jimin karena demi Tuhan mendengar namanya saja sudah membuat deg-degan.

.

.

.

"Yoongi-ya, kau mau pergi kemana?" tanya Chanyeol saat menemukan kalau Yoongi tengah bersiap memakai sepatunya di depan pintu.

"Beli ramyeon, hyung. Aku masih ingin makan tapi persediaan ramyeon-nya habis dan kurasa aku akan lama karena akan makan di minimarket saja."

"Kau yakin? Ini sudah malam." Chanyeol mendekati Yoongi.

"Tidak apa, hyung. Lagipula minimarketnya tepat disebrang jalan gedung apartemen ini."

"Oh begitu. Terserah kau saja."

Yoongi tersenyum dan membuka pintu "Sampai nanti, hyung."

Chanyeol mengangguk lalu melambaikan tangannya, setelah itu ia berbalik bermaksud menemui Baekhyun dikamarnya tetapi kekasih manisnya itu telah lebih dulu mendatanginya mungkin karena mendengar suara pintu tertutup.

"Apa barusan Yoongi pergi?" tanya Baekhyun.

Chanyeol mengangguk "Ya, dia bilang ingin makan ramen diminimarket sebrang jalan."

"Apa? Aish, bocah itu. Ini sudah malam dan bukannya istirahat malah keluyuran. Aku yakin dia tak kan pulang malam ini." Keluh Baekhyun sambil berkacak pinggang.

"Benarkah? Kenapa?"

"Makan di minimarket itu hanya alasan, sayang. Aku yakin alasan sebenarnya adalah dia ingin memberi kesempatan untuk kita berdua karena dia tahu kau semakin sibuk akhir-akhir ini."

Lelaki yang lebih tinggi mengangguk paham, melihat kekasihnya yang sedikit cemas itu, ia memutuskan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

"Tenang saja. Aku akan menghubungi Jimin. Kudengar mereka satu SMA dulu, aku akan meminta Jimin untuk datang dan menemani Yoongi, dia pasti tak kan menolak."

Butuh waktu lima detik bagi Baekhyun untuk memproses ucapan sang kekasih "...bagaimana, sayang? Coba ulangi kata-katamu?"

TBC

Chapter terpanjaaaaanggg

Saya lagi suka TaehyungxYoongi

Boleh minta jejaknya?