Desclaimer ~ Rumiko Takahashi
.
Fict ini JAUH dari kata sempurna
.
Saya tidak mendapatkan materil apapun dari pembuatan fict ini
.
.
.
This thing it's killing me presented by Hakuya Cherry
.
.
.
Perasaan yang ditarik ulur. Pacuan kuda pada dada, dan kupu-kupu yang mendesak dalam lambung. Seumur hidup Sesshoumaru belum pernah merasakan hal itu. Baginya, segala hal tentang cinta terasa memuakkan dan menjijikkan. Namun ketika tangan halus itu menggenggamnya erat, hazel nut yang menatap rapat, dan bibir tipis yang terasa lezat. Jangan salahkan nalurinya yang mulai terpikat.
.
.
.
Kagome berani sumpah jika Inu Yasha adalah cinta matinya, yang didapatkan dengan perjuangan jatuh bangun berat. Namun ketika iris dengan warna sama itu menatapnya lekat, memikat dan penuh hasrat, Kagome tak lagi bisa menjamin jika jantungnya tak menabuh genderang dengan hebat. Dalam sekejab pria itu mengjungkir balikkan pertahanan Kagome yang sudah ia bangun kuat
.
.
.
...
"Tidak apa-apa, Jii-san. Dia hanya demam. Aku akan memberikan ramuan untuknya, letakkan pada dahinya lalu kompres menggunakan air hangat. Suhu tubuhnya akan turun perlahan-lahan."
Kagome melempar senyum, tangannya sibuk memilah daun obat pada keranjang anyaman bambu yang ia bawa kemudian memberikan beberapa lembar daun pada sepasang suami istri yang menatapnya penuh harap.
"Terima kasih, Kagome-sama." Si kepala rumah tangga mengusap peluh pada dahinya, tangan kanannya merogoh saku kimono biru tuanya lalu menyodorkan tiga buah koin pada Kagome.
"Tidak perlu, Jii-san," Kagome menolak halus, ia kembali melempar senyum tulus. "Keichi-kun sering membantuku mencari tanaman obat di hutan." Miko cantik itu kemudian berdiri bersiap undur diri dari rumah orang tua Keichi.
"Bila terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Aku akan membantu sebisaku."
"Terima kasih, Kagome-sama. Anda begitu perhatian pada putra kami." Ibu Keichi mengelus lembut kepala Kagome, itu membuatnya teringat pada Mamanya yang sering melakukan hal yang serupa padanya. Ah ... ia jadi merindukan rumahnya.
"Saya pamit."
Kakinya melangkah pelan, menghentak halus pada rumput yang hanya bisa protes tanpa suara. Napas alam membelai helaian hitam yang menjuntai hingga pinggang, berdesir rendah dalam hatinya yang terluka. Wajah ayunya membuat penduduk desa berpaling menyapa. Hanya bibir tipis yang melengkung ke atas sebagai balasan yang ia tunjukkan pada mereka.
Bunga lili putih terikat rapi, ditaruh dalam keranjang yang ia jinjing di tangan kiri. Senja terlukis di atas mega, colombus nimbus seempuk kapas pada kanvas cakrawala berwarna jingga. Sore yang nyaman untuk menjejakkan hati yang sepi penuh lara.
.
.
.
"Inu Yasha, bagaimana kabarmu?" Kagome berucap rendah, suaranya menyatu bersama angin yang membawanya entah kemana, seperti hatinya, yang kosong penuh luka. Ia tersenyum, senyum getir seperti biasa. Ia menangis, untuk kesekian kalinya di lima tahun terakhir, di sore yang sama, di tempat yang sama, dan Kagome tak pernah mau mengingatnya.
Ia terdiam. Merasakan lelehan air mata yang turun melewati pipinya, merutuki waktu yang telah mengubahnya, pribadinya, sifatnya, dan semua hal lain yang masih Kagome ingat. Ini bukan dirinya, yang hanya menangis tanpa bisa melakukan apa-apa. Satu hal yang ia harapkan pada Sang Pencipta yaitu untuk menyembuhkan goresan luka itu tanpa meninggalkan garis supaya ia tak kembali menangis.
Kagome menghirup udara, aroma musim semi sudah semakin kentara. Ia beranjak dari tempatnya, menghapus sisa air mata yang berjejak di wajah kemudian memandang langit yang terlihat menantang. Sedikit garis tipis itu terangkat ke atas, Kagome tersenyum. Ia alihkan pandangannya pada pusara tempat suaminya beristirahat, melebarkan senyumnya Kagome berucap, "aku akan selalu mencoba berbahagia di sini." Ia menyentuh dada kirinya, "karena aku yakin kamu akan selamanya bersamaku." Kalimat itu di akhiri dengan senyum lugas yang tegas.
"Ibu, terima kasih kepadamu. Karena telah melahirkan Inu Yasha untukku. Semoga Anda dan Inu Yasha bahagia selalu." Kagome mengelus pusara Ibu mertuanya yang bersemayam tepat di sebelah pusara Inu Yasha, ia meletakkan lili putih yang dibawanya di atas makam Izayoi, seikat lilin lain ia letakkan pada makam Inu Yasha.
"Besok aku akan datang lagi." Ia menyatukan jari, memejamkan matanya sesaat lalu menghirup udara banyak-banyak —untuk paru-parunya yang terasa kosong dan sesak.
~…~…~
"Kagome nee-sama!" Rin berlari dari kejauhan membawa sekeranjang penuh buah-buahan dan ikan yang digantung pada ilalang.
Kagome tersenyum menyambut kedatangan gadis tujuh belas tahun itu. Lima tahun telah berlalu. Setahun semenjak meninggalnya Inu Yasha dan Kaede baa-chan, Kagome membawa Rin tinggal bersamanya. Gadis cilik itu telah tumbuh menjadi remaja, dengan rambut hitam yang turun hingga pinggang kecilnya, dan binaran polos yang masih sama. Sesshomaru sering memberi kimono baru untuk Rin, sebelum gadis itu memutuskan untuk menjadi seorang miko dan berpakaian sebagaimana mestinya.
"Banyak sekali, Rin."
Miko penjelajah waktu itu mengambil alih keranjang buah yang dibawa Rin setelah meletakkan keranjang obat miliknya pada pinggiran sumur di depan rumah mereka.
"Dapat dari mana?" Kagome melangkah masuk ke dalam rumah diikuti Rin yang membawa ikan. Diletakkannya keranjang buah itu pada meja rendah di dalam rumah, sedangkan Rin mengambil kayu bakar lalu menumpuknya di tengah.
"Orang-orang di desa memberikannya saat aku membantu mereka mengusir mononoke di dalam gudang penyimpanan beras." Rin meletakkan ikannya di dalam bakul beserta pisau, "lalu ikannya kudapat dari, Kohaku-kun." Gadis itu membuat gerakan memutar pada ujung pisau di atas ikan.
"Kohaku-kun?" Kagome menoleh menatap Rin dengan pandangan menggoda, "oh dia sudah pulang." Lalu tersenyum setelah melihat rona merah kedua pipi gadis itu.
"Kagome nee-sama, berhenti menatapku." Rin tersipu, ia menutup matanya lalu menangkup pipinya dengan gemas, "nee-sama membuatku malu." Gadis yang akhirnya memilih tinggal bersamanya itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sedikit bergerak ke kiri dan kanan, lalu kepalanya ia gelengkan pelan.
"Yare, yare~ Rin-chan rupanya sudah besar."
"Nee-chan, hentikan!" Miko muda itu buru-buru berdiri lalu ke luar rumah membawa bakulnya untuk mencuci ikan.
"Kupikir besok aku akan ke rumah Sango-chan untuk membicarakan kalian." Kagome sedikit berteriak lalu cekikikan melihat reaksi Rin yang salah tingkah. Indahnya masa muda, kau akan jatuh cinta entah berapa kali hingga kau menemukan orang yang cocok untuk merangkai masa depan bersama, lalu kau akan memimpikan rumah tangga penuh romansa dengan pertikaian kecil yang berakhir guyonan dan rayuan, dan kau akan membayangkan di mana kaki-kaki kecil menapaki lantai rumah dengan tergesa.
Kagome terpaku atas pemikirannya, sekejab ia kembali merasa kosong. Sesak di dadanya mendesak paru-parunya menghirup oksigen banyak-banyak. Ia terdiam, merenung, dan kembali menangisi waktu yang semakin terkikis.
"Ah, Kagome nee-chan!"
"Rin!" Kagome beranjak setelah mengusap kasar air matanya, ia mengambil busur dan panah yang diletakkan di sisi pintu rumah.
"Kagome nee-chan, aku tak sengaja menjatuhkan keranjang obatnya ke dalam sumur." Rin menatap Kagome dengan rasa bersalah, sedikit takut jika Kagome akan marah walau rasanya itu tak mungkin.
"Kenapa membawa busur dan panah?" Ia melanjutkan ketika Kagome tak segera memberi jawaban
"Kupikir ada siluman." Miko cantik itu mengendurkan kewaspadaan. "Keranjang obatnya jatuh?" Kagome mendekati sumur, melongokkan sedikit kepalanya, "tak apa, aku bisa mencarinya lagi besok."
"Tapi, Nee-chan. Ada beberapa tumbuhan yang sulit ditemukan."
"Tak apa, Rin." Kagome menatap Rin penuh kayakinan, "sekarang cuci ikannya sampai bersih, supaya kita bisa lekas makan malam," putusnya final kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
.
This thing it's killing me
.
Surya belum menampakkan sinarnya, pagi masih sangat sejuk dengan sepoi angin yang mampu menggigit tubuh. Suara jangkrik masih riuh di antara semak ilalang yang menjulang, bintang masih nampak di langit malam dan setiap orang masih terlalu enggan untuk menyibak selimut mereka. Pagi yang terlalu buta untuk membuka mata.
Kagome sudah siap dengan haori putih dan hakama merahnya, ia duduk bersila di depan cermin, memasang pelindung kepala berbentuk segitiga anak panah yang ujungnya berada di antara alis dan segaris dengan hidung mancungnya. Pelindung tangan yang berbentuk sama dengan ujung yang berada pada jari tengah. Kagome mengoleskan warna merah muda pada kelopak mata, ia menggantungkan lonceng kecil dengan ujung berbentuk mawar dari bahan perak pada tali hakama di pinggangnya.
"Nee-chan, bukankah ini masih terlalu pagi?" Rin mengucek matanya, ia bertutur dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Tidurlah, Rin. Aku segera kembali." Kagome beranjak, Rin menurut dan kembali masuk dalam selimut. Istri almarhum Inu Yasha itu mengambil panah dan busurnya sebelum keluar rumah.
Suara lonceng kecil di pinggang kirinya mengalun seiring langkah yang terayun, membelah kesunyian bersama suara jangkrik di sawah. Pagi kemarin seorang warga desa kehilangan putrinya, Kagome masih sangat ingat ketika wanita paruh baya itu tersedu di depannya, membuat Kagome tak tega. Langkahnya memasuki rimbun hutan, menjejak jalan setapak sunyi sendirian. Sendirian?
"Aku belum meniup serulingku tapi seorang gadis cantik sudah datang."
Langkahnya terhenti, youkai penculik gadis di desa menampakkan wujudnya tanpa perlu dicari lama-lama.
"Rupanya kau yang menculik gadis-gadis di desa."
"Aku tidak menculik mereka. Mereka sendiri yang datang padaku lalu menawarkan diri menjadi istriku."
"Pembual."
Youkai itu tertawa. Tawa meremehkan yang sengaja dibuat-buat, terdengar begitu memuakkan bagi Kagome.
"Tunjukkan wujud aslimu!"
Suara seruling mengalun lembut, memanjakan telinga Kagome untuk sesaat. Miko penjelajah waktu itu mengambil anak panah dan memposisikannya pada tali busur, melesatkan panah itu pada arah suara seruling terdengar.
"Nona, tolong aku!" Di arah berlawanan dari tempat Kagome berdiri terlihat seorang laki-laki tengah berlari, peluh membanjiri dahi dengan napas tak beraturan.
"Akh." Ia tersandung, tersungkur tepat di bawah kaki Kagome. "Aku dikejar Youkai." Napasnya putus-putus, Kagome menatap awas.
"Kau tak akan bisa lari dariku!" Pada arah yang sama terlihat youkai berbentuk katak yang mengenakan kimono hitam berlari ke arah mereka.
"Miko-sama, tolong aku." Pemuda itu berdiri, berlindung di belakang punggung Kagome.
"Serahkan pemuda itu padaku, dia telah lancang masuk istanaku dan berusaha mencuri hartaku."
"Nona, aku hanya pemuda miskin yang kelaparan."
"Tenanglah, Tuan. Serahkan dia padaku." Kagome melempar senyum manis hingga matanya terlihat menyipit.
"Kau sudah kuperingatkan, Miko!" Siluman itu mencabut pedangnya yang tersampir di pinggang.
Kagome melesatkan anak panahnya tepat ke arah siluman itu. Panah menembus tubuh gempalnya membuat siluman itu menjerit kesakitan lalu tubuhnya berubah menjadi debu.
"Terima kasih, Miko-sama." Pemuda itu bersujud dan dibalas senyum Kagome dengan tulus.
Kagome berlutut menyentuh pundak pemuda itu dengan lembut. Si pemuda menyeringai jahat, sebelum pemuda itu beranjak dari posisinya aliran reiki tiba-tiba menyengatnya.
"Enyahlah." Suara rendah Kagome terdengar mengerikan.
"Arrgh!"
Pemuda itu menjerit lalu berlari menjauh, tubuhnya terbakar. Ia berguling-guling pada tanah berharap api itu segera padam.
"Tipuanmu terlalu murahan." Kagome mendengus ia berjalan mendekati mayat pemuda itu yang sudah berwarna hitam.
Tanpa Kagome sadari pemuda itu menyeringai bersamaan dengan sesuatu yang keluar dari tanah lalu menyerangnya tepat di punggung menembus hingga ke dada kanannya.
"Ugh!" Spontan Kagome memegangi lubang pada dadanya yang berdenyut nyeri.
"Kau cukup pintar tapi sayang pertahananmu tak cukup baik." siluman berbentuk belalang sembah itu menjjlati bibirnya.
"Oh kau lama sekali, Kamamaru. Terlambat sedikit saja mungkin aku sudah mati di tangan wanita ini." Pemuda itu bangkit dari posisinya, tubuhnya mulai berubah dimulai dari perutnya yang mengembung besar lalu wajahnya melebar dengan mulut yang nyaris menyentuh mata.
"Maaf, Gamamaru. Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Kau harus mencoba isi tubuh wanita itu, rasanya sangat enak."
Kagome memandang marah pada dua siluman yang telah melukainya. Ia ceroboh karena mengendurkan pertahanan, reinkarnasi Kikyou itu mencoba berdiri dengan kaki yang bergetar. Ia mengambil panahnya lalu membidik ke arah Kamamura dan Gamamura yang masih asyik tertawa. Panah melesat melewati mereka, kedua siluman itu kembali tertawa.
"Ke arah mana kau membidik, Nona?" Gamamura tertawa mengejek, "kudengar bila siluman memakan daging miko yang masih muda maka siluman itu bisa awet muda."
"Benarkah itu, Gamamura? Itu artinya aku sudah bisa awet muda karena aku memakan isi tubuhnya tadi." Kamamura ikut tertawa, ia bersiap pada posisi menyerang.
Kagome kembali mengambil anak panahnya ia sudah siap membidik tepat di kepala Gamamura, "benarkah? Kupikir katak dan belalang seharusnya saling membunuh, tapi yang terjadi pada kalian malah berbeda."
"Sialan kau!" Gamamura menjulurkan lidahnya, Kagome berguling ia berhasil menghindar tapi Gamamura kembali menjulurkan lidahnya hingga mengenai lengan kiri Kagome. Haori miko itu terbakar racun hingga mengenai kulit lengannya, racun menyebar membuat kulit Kagome melepuh. Kekasih Inu Yasha itu melesatkan satu buah anak panah tepat ke arah Gamamura.
Panah Kagome mampu ditangkap, "menyerahlah, Miko. Ka—ARRGH!" Gamamura menjerit ketika panah yang dialiri reiki itu menyengatnya, tubuh Gamamura gosong. Kamamura yang melihatnya langsung menyerang Kagome, ia melompat dan menggores kaki Kagome dengan lengannya yang tajam.
"Berani sekali kau menyakiti Gamamura, Wanita Sialan!"
Kagome terjatuh ia menopang tubuhnya menggunakan busur panahnya. Napasnya tersenggal, darah dari dadanya terus mengalir menembus haori putihnya, ditambah luka pada kedua kakinya membuat Kagome sulit bergerak.
"Biarkan aku saja yang membunuhnya, Kamamura. Wanita Sialan itu sudah berani menyengatku dengan reiki dua kali." Gamamura memcoba berdiri, mata merah dengan tubuh berwarna hitam membuat penampilannya terlihat sangar. Katak itu menakutkan dan menggelikan di saat yang bersamaan.
"Kau masih hidup, Gamamura? Syukurlah."
Gamamura menjulurkan lidah beracunnya, kali ini Kagome tak bisa lagi menghindar. Miko itu sudah pasrah atas kematian yang menjemputnya begitu cepat. Belum sempat lidah Gamamura menyentuh Kagome, tubuh siluman itu tiba-tiba terbagi menjadi tiga. Teriakan pilu Gamamura menjadi suara terakhir yang ia dengar sebelum siluman itu berubah menjadi debu.
"Gamamura!" Kamamura menjerit melihat temannya yang mati di depan mata. Siluman belalang itu menghilang di balik tanah, membuat dirinya tak bisa terdeteksi.
Mata Kagome menyipit berusaha menyatukan pixel yang mulai mengabur, tubuhnya melemah ia kehilangan banyak darah. Sepintas yang miko itu lihat hanya helaian silver yang indah berkibar bersama surya yang mengintip di balik mega, semua yang ia lihat memutih lalu menghitam hingga ia tak bisa melihat apa-apa.
"Inu ... Yasha," lafalnya terpatah sebelum ia kehilangan kesadaran.
~…~…~
"Syukurlah aku bisa lepas dari siluman itu." Kamamura mengatur napas, ia sekarang berada di dalam jantung hutan berdekatan dengan markas mereka, "apa siluman itu tidak memgejarku? Mungkin ia kehilangan jejakku karena aku masuk ke dalam tanah."
"Jangan berkata seperti itu."
Kamamura melompat ia memasang kuda-kuda siaga, bersiap menyerang. Mata besarnya melebar ketika mendapati siluman itu berhasil mengejarnya.
"Kau —" kata terakhirnya sebelum kepalanya terpisah dari tubuhnya. Gerakan siluman itu begitu cepat hingga membuat Kamamura tak sempat menghindar bahkan siluman belalang itu tak melihat kapan siluman itu menyerang.
Penghalang pada jantung hutan menghilang, ilusi yang membuat mata orang awam melihatnya sebagai hutan pada umumnya ternyata adalah istana yang megah. Siluman itu bisa melihat beberapa gadis-gadis dari desa melalui ujung mata emasnya sedang berada di dalam istana. Mereka mengenakan kimono mewah dengan campuran bedak yang dipoles tebal pada muka.
"Aku berada di mana?"
"Kenapa aku berpakaian seperti ini?"
"Apa yang sudah terjadi?"
Pertanyaan nyaris serupa diucap dari bibir gadis lain, siluman itu segera beranjak pergi. Ia tak mau jika sampai para manusia itu melihatnya.
.
.
.
"Kagome nee-chan lama sekali. Tadi subuh ia bilang akan segera kembali." Rin terlihat gusar, berkali-kali gadis itu berjalan keluar masuk rumah dengan perasaan khawatir yang terlalu kentara. Sesekali ia menggigiti kuku pada ibu jarinya guna mengusir rasa gundah dalam hatinya.
"Ah, Sesshoumaru-sama!" Rin berteriak gembira, senyum sumringah tercetak pada paras ayunya. "Kagome nee-sama!" seketika senyuman pada wajah Rin pudar, miko muda itu berlari menghampiri sang master dengan perasaan kalut yang luar biasa.
"Apa yang baru saja terjadi? Kenapa Kagome nee-sama terluka? Apa lukanya parah?" Rin mengambil alih panah dan busur Kagome dari Sesshoumaru sambil melemparinya pertanyaan yang terlampau banyak bagi Kakak tiri Inu Yasha itu.
"Rin, diamlah." Satu kata dari Penguasa Wilayah Barat itu mampu menghapus segala pertanyaan lain di dalam otaknya. Sifat Rin yang penurut pada Sesshoumaru masih sama, gadis yang pernah mengikuti perjalanan Sesshoumaru mencari Naraku saat masih kecil tersebut tentu ingat jika Daiyoukai itu tak menyukai kebisingin.
Rin membuka pintu rumahnya, mempersilakan Sesshoumaru masuk. Miko muda itu segera menggelar futon kemudian Sesshoumaru meletakkan tubuh Kagome di atasnya.
"Astaga! Dadanya berlubang." Gadis itu cepat-cepat mengambil baskom dari kayu yang berisi air, ia membuka haori Kagome memperlihatkan lubang menganga di dadanya. Napas miko cantik itu satu, dua, terlihat kesulitan dan Rin paling tak tega melihat miko kesayangannya terluka.
"Aku akan ke luar," Sesshoumaru berucap kemudian, suaranya dalam penuh ketenangan.
Rin terlalu berkonsentrasi pada luka Kagome hingga ia tak tahu jika Penguasa Wilayah Barat itu meninggalkan mereka berdua. Jemari lentiknya menggenggam kapas dengan bergetar, bibirnya menggumam 'kau akan baik-baik saja, Nee-chan' secara berulang-ulang. Miko muda itu mengambil tumbukan akar obat pada lesung kayu lalu membalurkannya pada luka di dada Kagome. Hal yang sama ia lakukan pada kedua kaki Miko penjelajah waktu tersebut.
Tubuh Rin mengejang, ia ketakutan. Tangannya penuh darah dan kekhawatirannya memuncak hingga batas, gadis itu menangis dengan suara pilu yang begitu menyakitkan. Ia membebatkan kain bersih pada dada Kagome lalu beralih pada luka di lengan dan kakinya, gadis itu juga mengompres dahi Kagome dengan air hangat. Ia juga telah mengganti haori dan hakama Kagome dengan yukata bermotif teratai, tak lupa juga untuk melepaskan pelindung kepala dan pergelangan tangan Kagome.
Dahi miko cantik itu mengerut kesakitan, bibirnya bergetar dan suhu tubuhnya naik secara perlahan. Napasnya tertatih, ia terlihat lemah dan cantik di saat yang bersamaan. Rin mencuci tangannya di luar dan ia menemukan Sesshomaru berdiri di depan rumah.
"Sesshoumaru-sama, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Rin berjalan mendekati sang master yang masih berdiri tak tergoyahkan, bagai menantang surya yang tengah bersinar.
"Rin-sama, tolong saya!" Seorang wanita paruh baya berpenampilan kuyu menghampiri mereka, "tolong putri saya."
Rin sedikit ragu ia bingung antara harus menemani Kagome yang sedang terluka atau menolong wanita tua itu. Matanya bergerak gusar memandang ke segala arah asal tak menatap wanita tua itu.
"Etto... ano," Miko muda itu bingung harus menjawab apa.
"Rin," suara Sesshoumaru kembali menggema mengalihkan peraduan gadis itu pada silver yang sempurna, "pergilah." Rin tersenyum lalu mengangguk setelahnya. Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah mengambil busur dan panahnya juga keranjang obat yang isinya seadanya.
"Ayo kita pergi. Sesshoumaru-sama tolong jaga Kagome nee-sama." Kalimat terakhir gadis itu sebelum ia berlalu.
Sesshoumaru mengambil napas dalam, sepasamg madu miliknya menatap mentari yang tingginya hampir mencapai ujung tombak. Panas mulai mendera, beberapa burung terbang keluar sangkar mereka guna mencari makan.
Ia berbalik menatap rumah yang ditinggali istri almarhum adik tirinya bersama Rin selama lima tahun terakhir. Ini bukan kali pertama Sesshoumaru datang ke sini, ia sudah sangat sering, hanya saja biasanya ia berkunjung saat penghuni rumah tidak berada di tempat atau ketika hanya Rin yang berada di sana.
Kaki kokohnya melangkah mantab memasuki rumah, bau anyir darah yang menyambutnya pertama, lalu tubuh Kagome yang terkulai dengan napas satu, dua yang terlihat sulit. Wanita itu bahkan membuka mulut untuk meraup udara tambahan.
Peluh melewati pelipisnya dan menetes menimpa helai hitamnya, rambutnya lepek karena keringatnya. Sesshoumaru mendekat mendudukkan dirinya di samping Kagome yang tak sadarkan diri. Ia mengambil kain di atas dahi Kagome lalu mencelupnya pada baskom yang berisi air hangat di samping kepala gadis itu dan meletakkannya kembali pada dahi adik iparnya setelah memerasnya.
"I ... nu—" napas gadis itu tertahan, bibirnya naik turun tak beraturan, "Yasha," lanjutnya di antara geraman kesakitan.
Sesshomaru hanya melihatnya dalam diam. Miko yang sungguh kasian, batinnya mengatakan. Kakak tiri Inu Yasha itu hendak meraih kain pengompres kembali sebelum tangan lain mencengkramnya kuat.
"Jangan pergi," Kagome terisak dan Sesshoumaru memandangnya dalam diam. "Inu Yasha, kumohon." mata hazel-nut Kagome terlihat sayu saat memandang Sesshoumaru, cengkraman pada lengan Penguasa Wilayah Barat itu mengendur bersamaan dengan iris Kagome yang mulai kembali terpejam, "jangan pergi."
Sesshoumaru hendak melepaskan genggaman tangan Kagome pada lengannya ketika dirasa genggaman itu mulai kembali menguat seolah menyuruhnya untuk tetap berada di sana, dengan posisi yang sama.
.
.
.
Rin berjalan di sepanjang aliran sungai di pinggir hutan, keranjang obatnya terisi penuh dengan tanaman herbal. Miko muda itu meletakkan busur dan panahnya di tepi sungai sedangkan ia mencuci semua daun dan akar sebelum ia mencuci wajahnya yang lelah.
"Rin!" Miko muda itu mengedarkan pandangan mencari sumber suara orang yang memanggilnya.
"Ah, Kohaku-kun!" Rin mendongak dan melambaikan tangan ketika melihat Kohaku yang menunggangi Kirara terbang di atasnya.
"Sedang apa?" Adik dari Sango itu menyuruh Kirara turun berpijak di atas tanah.
"Mencari tanaman herbal." Kohaku melirik pada keranjang yang Rin genggam.
"Banyak sekali, Rin? Bukankah nanti akan mengering?"
"Emh," Rin menjawab dengan gelengan, "Kagome nee-sama sedang terluka."
"Benarkah?"
"Iya." Rin mengangguk, ia meletakkan keranjangnya di sebelah Kirara lalu mendudukkan dirinya di sana, Kirara melompat ke dalam pangkuan Miko muda itu yang hanya membalasnya dengan senyum menawan dan elusan di kepala.
"Kau dari mana?" Rin bertanya tanpa mengalihkan pandangan, Kohaku mengambil duduk tepat di selebah Rin yang mengusap Kirara, hewan kuning itu terlihat menikmati hal yang miko itu lakukan.
"Aku membantu Miroku-nii membasmi siluman yang mengganggu penduduk di desa sebrang."
"Aaa," Rin menggumam pelan, gadis itu menyisir lembut bulu halus milik Kirara, "Kohaku-kun, aku harus—eh?" Rin cepat-cepat menoleh ketika pundaknya terasa sedikit berat, mata coklatnya melebar mendapati kepala Kohaku yang menyandar nyaman, dengkuran halus lolos di antara kedua bibir pemuda itu. Kohaku tertidur.
"Are? Bagaimana ini?" Matanya menatap ke sekitar, di pangkuannya Kirara juga telah tertidur tenang. Ia tak tega untuk membangunkan, tapi di sisi lain ada Kagome yang membutuhkan pertolongan juga Sesshomaru yang pasti sudah menunggunya dengan bosan.
"Mungkin sebentar saja tidak apa-apa." Rin mengulas senyum manis, ia memandang Kohaku yang terpejam, raut wajahnya kelelahan, butiran keringat membanjiri dahinya. Miko muda itu kemudian mengusapnya dengan ujung lengan haori-nya, Kohaku sedikit terusik lalu dahinya mengernyit. Surya sudah tepat berada di atas kepala, siang ini terik tapi tak sepanas hati miko muda itu yang terus tersenyum menimang sesuatu.
Kohaku menggumam dan bergerak gusar, Rin menoleh melihat raut mukanya yang sedang merasa tak nyaman. Ia mendongak menatap sinar cerah mentari yang menghujani mereka. Gadis itu merentangkan tangan menghalangi sinar memantul di atas wajah Kohaku, dan pemuda itu kembali terpejam dengan tenang.
.
This thing it's killing me
.
Pias cahaya senja terlukis di langit jingga memantul di atas air bergeming tanpa suara, ilalang terayun searah hempasan angin di tubuh mereka, rumput bergoyang menatap iri bulan congkak yang tercetak di atas mega.
Hari sudah sore ketika Sesshoumaru masih berada di tempat yang sama, keadaan yang sama dan posisi yang sama. Ia ingin melepaskan genggaman tangan Kagome pada lengannya, tapi setiap ia melakukannya Kagome akan merintih kesakitan yang membuat Daiyoukai itu iba.
Tangan Kagome terasa halus di atas permukaan kulit Sesshoumaru, genggaman wanita itu terihat lemah, putus asa sekaligus pasrah. Sesshoumaru tak memungkiri jika tangan Kagome adalah tangan wanita pertama yang mampu menggenggamnya begitu lama, walau kenyataannya Kagome tak sadar tangan yang ia pegang adalah tangan milik kakaknya bukan suaminya.
Sesshoumaru menghela napas dalam untuk yang kesekian kalinya di hari ini, ia mulai bosan menunggu Rin yang tak kunjung datang. Diam-diam ia menyesali keputusannya yang menyuruh gadis itu pergi.
Aroma khas milik Rin membaur bersama udara hingga sampai tercium hidung tajamnya, tak lama setelah itu pintu menjeplak terbuka dan suara Rin masuk ke gendang telinganya. Sesshoumaru diam memerhatikan gerak-gerik miko muda itu yang terlihat gusar, ada raut muka bersalah dan menyesal tercetak jelas di wajah ayunya.
"Sesshoumaru-sama, maaf." Gadis itu menunduk, jemarinya memainkan ujung lengan pada haori putihnya.
"Hn," Sesshoumaru menggumam, ia mengendus aroma lain yang datang bersama Rin.
"Aku akan mengganti perbannya." Rin berjalan mendekat mendapati lengan ber-tatto taring milik Sesshoumaru di genggam Kagome erat. Ia menatap Penguasa Wilayah Barat itu dengan pandangan bertanya yang hanya dibalas lirikan sepasang madu pada Kagome dan lengan pria itu secara bergantian.
Seolah mengerti maksud lirikan Sesshomaru, Rin meraih tangan Kagome, memisahkannya dari lengan kekar Daiyoukai tersebut.
Tangan Kagome kembali bergerak seolah ingin menggapai sesuatu yang terlepas, kelopak matanya terbuka menampakkan iris hazel-nut yang menatap penuh luka. "Kumohon ..." suara Kagome serak tubuhnya kembali bergetar, "tetaplah di sini." ia berbisik pelan menahan rasa sakit di seluruh badan.
"Nee-chan, Rin tak akan ke mana-mana," Rin berbisik tepat di telinga Kagome, ia menampakkan senyum manis.
Bisikkan Rin tak ia hiraukan, Kagome hanya berkonsentrasi pada sosok putih yang berdiri memunggunginya. Ia akan pergi dan Kagome tak mau jika sampai itu terjadi.
"Aku akan kembali."
Kalimat terakhir Sesshoumaru berhasil membuat seulas senyum untuknya, Kagome kembali memejamkan mata.
Rin memandang tak percaya. Ia takjub, kagum sekaligus heran. Sesshoumaru mau menuruti permintaan Kagome. Apa saja yang baru ia lewatkan? Rin menggeleng. Memutuskan untuk tak memikirkan jawabannya karena sekarang yang terpenting adalah mengobati luka Kagome.
~…~…~
Kohaku menunggu di luar dengan sabar, pasalnya ia tak berani masuk karena Rin bilang Sesshomaru ada di dalam. Cerobohnya dia yang tertidur di waktu yang kurang tepat, Daiyoukai itu pasti akan mencambuknya dengan racun jika tahu alasan Rin pulang terlambat.
Pintu terbuka menampakkan sosok yang baru saja Kohaku pikirkan, wajahnya tenang—seperi Sesshoumaru yang ia kenal. Ia berjalan mendekat dan Kohaku hanya mampu terdiam.
Tubuh Kohaku menegang ketika putra sulung Inu no Taisho melewatinya dan berlalu terbang.
Ah ... ia pikir hari ini ia akan mati.
.
.
.
Sango sedang mengasah Hiraikotsu-nya ketika si kembar Hikari dan Hikaru berlatih bersama Shippou, sedangkan putra bungsunya duduk di sampingnya menyaksikan kedua kakaknya yang berusaha mengalahkan jurus ilusi milik siluman rubah.
"Okaa-san, itu siapa?" telunjuk kecil Akirra teracung, Sango mendongak dan menemukan sosok Sesshoumaru di sana.
"Sango! Ada urusan apa Sesshoumaru datang ke sini?" Shippou berjalan mendekat, meninggalkan si kembar yang memberengut sebal.
Gerakan Sesshoumaru terlihat anggun saat berpijak membuat wajah si kembar berbinar terang. Sango mempersilakan ia masuk dan menaruh Hiraikotsu-nya. Si kembar mengekor di belakang.
Shippou mencuri dengar pembicaraan sahabat wanitanya dengan kakaknya Inu Yasha, lamat-lamat ia menangkap kata pernikahan dan meminta persetujuan.
Tunggu.
Apa tadi?
Pernikahan?
"Ada apa, Shippou?"
"Gyaaaa!" Shippou terlonjak mendengar suara di belakangnya. "Miroku, kau mengagetkanku."
"Kenapa kau menguping, Shippou? Masuk saja." Suami dari Sango itu menggendong anak lelaki tunggalnya, Akirra terlihat bahagia saat merentangkan kedua tangannya, "Akirra, di mana Okaa-san?"
"Miroku, Sango sedang berasama Sesshoumaru!" Kaki kecil Shippo melompat ke pundak Miroku, ia ikut bercokol di samping Akirra.
"Oh dia sudah datang?!" Suara Miroku meninggi, senyum cerah terlihat menghiasi ayah si kembar Hikaru dan Hikari.
"Kenapa kau begitu gembira?"
"Ayo masuk, Shippou. Kau harus mendengar kabar gembira ini secara langsung."
~…~…~
Seminggu kemudian setelah insiden terlukanya Kagome karena serangan Kamamura. Miko cantik itu berhasil melewati masa sekaratnya, cukup sulit memang mengingat luka pada dadanya menembus hingga punggung, beruntungnya serangan Kamamura tidak mengenai bagian vital, ia sangat berterima kasih kepada Rin yang sudah rela bolak-balik menemui Jinenji untuk meminta tanaman herbal.
Kagome tengah berendam, tinggi air sungai hanya sebatas lututnya membuat Miko Penjelajah Waktu itu harus bersimpuh supaya air sungai sampai ke dada. Ia bersandar pada batu besar yang menyembul di tengah sungai, di atas batu itu ia meletakkan haori dan hakama-nya. Tubuh polosnya berselimut air, ia menggunakan akar wangi untuk menggosok badannya.
Kejadian itu sekejab mata, bahkan Kagome ragu jika ia mampu melihatnya dengan jelas. Youkai yang terlempar, sayatan pedang, teriakan memilukan lalu bayangan putih yang terbang. Wanita itu hanya mampu berkedip, otaknya sibuk me-resume ulang detil kejadian barusan.
"Kau mengendurkan pertahananmu lagi, Miko." suara itu terasa familiar bagi Kagome, ia menoleh cepat mengintip di balik batu tempatnya bersandar. Sesshoumaru menatapnya tangannya sibuk menyarungkan pedang pada tempatnya, ia menjinjing bungkusan berbentuk kotak pada tangan kirinya.
"Aaa, terima kasih," Kagome merespon setelah mendapatkan kembali kesadarannya. Ia bergegas meraih pakaian miliknya lalu memakainya.
Sesshoumaru masih menatapnya, tubuh kurus Kagome yang terbungkus pakaian miko dengan pipi yang kini kelewat tirus. Wajahnya masih pucat dengan warna bibir putih seperti mayat.
"Kimono baru untuk, Rin?" Miko cantik itu mendekat lalu mengambil panah dan busurnya yang ia letakkan di tepi sungai.
Sesshoumaru hanya mengangguk sebagai jawaban, Daiyoukai itu berjalan di depan sedangkan Kagome mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan dalam diam, Kakak Inu Yasha itu memang dikenal pendiam berbeda dengan Inu Yasha yang bermulut tajam, Sesshomaru hanya berbicara bila ada sesuatu yang dirasa perlu dan sesuai kebutuhan.
Ya Tuhan. Ia baru ingat jika selama sakit lengan Sesshoumaru selalu ia genggam bahkan Kagome tak mengijinkannya ke mana pun dan menyuruhnya untuk tetap menemaninya. Miko itu bersumpah jika saat itu yang ia lihat adalah sosok Inu Yasha yang ia rindukan bukan Sesshoumaru sang kakak ipar. Waktu itu Kagome melihat Inu Yasha menebas Gamamura, sorot matanya khawatir seperti sebelum-sebelumnya. Ia bahkan merasakan tubuhnya melayang dan dihempaskan di atas kapas, Inu Yasha berada di sampingnya, mengelus lembut kepalanya, melempar senyum hangatnya. Ketika tangan itu mulai menjauh Kagome meraihnya, menggenggamnya kuat memintanya untuk tetep bertahan, ia merasa nyaman hingga ia enggan untuk melepaskan.
"Sesshoumaru, maaf untuk yang kemarin." Kagome mengeratkan genggaman pada busurnya, ia sedikit menggigit bagian dalam bibir bawahnya berusaha menghalau kegugupan, "aku tak bermaksud—"
Gerakan Sesshoumaru yang berbalik cepat mengagetkan wanita itu, ia menatap iris pohon oak milik Kagome. "Hn," hanya gumaman tak jelas yang lolos dari bibirnya, "kau tak akan tahu kapan ia datang dan berlalu. Berhenti menyalahkan waktu. Berhenti bersikap naif."
"Eh?" Kagome terpaku, apa kalimat itu ditujukan padanya?
"Kau bertingkah seperti pengecut."
"Apa maksudmu?!"
"Kukira kau pintar untuk tahu maksud dari kalimat itu, Miko," nadanya menyindir sedikit mengingatkan dan lebih banyak meremehkan.
"Sebenarnya Apa masalahmu?"
Suara daun begesekkan semakin keras terdengar, di ujung batang yang menjulang semut berbaris membawa masuk makanan ke dalam sarang, cicak hutan merayap, bergerilya mencari mangsa. Di sisi lain air sungai mengalir tenang melewati bebatuan, menyembunyikan keganasan ular yang menyantap sarapan.
"Kau bersikap seolah mengerti tentang diriku!" Kagome geram dengan tampang Sesshoumaru yang terlihat tenang, "kau pikir kau itu siapa?"
"Orang bodoh bertambah lagi."
"Jangan memaksaku untuk membakarmu!" Jari telunjuk Kagome menunjuk tepat di hidung mancung Sesshoumaru.
"Seperti kau bisa melakukannya saja." Sesshoumaru mendengus tatapannya mampu menggores harga diri Kagome sebagai orang suci.
Kakak tiri Inu Yasha itu melempar bungkusannya ke arah Kagome yang dengan reflek langsung menangkapnya.
"Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri hingga tak tahu apa saja yang sudah terjadi."
Kalimat terakhir Sesshoumaru sebelum ia berlalu pergi, Kagome memandangnya penuh kebingungan. Miko cantik itu mengurai ikatan lalu membukanya menemukan pakaian shiromuku di sana. Siapa yang akan menikah? Batinnya bertanya.
Langkah Kagome lebar-lebar terlihat tak sabar, ia membuka pintu rumah dengan kasar. "Rin!" Teriakan Kagome menggema di dalam rumah, membuat miko muda yang sedang duduk manis kaget melihatnya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?" Kagome melempar bungkusannya kuat-kuat membuat isinya terberai di atas lantai.
"Nee-chan, apa yang terjadi?" Rin memungut kembali pakainnya.
"Kau tidak bilang padaku jika kau dan Kohaku akan menikah! Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika aku tahu aku akan datang menemui Sango-chan untuk membicarakan pernikahan kalian!"
"Sesshoumaru-sama sudah melakukannya." Kagome bungkam kehilangan kata yang tertahan di tenggorokan, "seharusnya pembicaraan itu terjadi dua minggu lalu, tapi Nee-chan lupa karena seharian berada di makam Inu Yasha-sama. Hari berikutnya Sango-nee datang mencari Nee-chan tapi tidak menemukan Nee-chan di rumah, Ia lalu mencarimu hingga ke makam." Rin menatap Kagome yamg terdiam lalu melanjutkan, "Kagome nee-chan terisak membuat Sango-nee mengurungkan niat. Lalu Miroku-nii bersama Kirara pergi ke wilayah barat menemui Sesshoumaru-sama yang sayangnya saat itu tak berada di istana." Rin mendekat menyentuh Kagome di pundak, "Ia bertemu Jaken-sama dan memintanya untuk menyampaikan perihal pernikahanku dan Kohaku."
"Minggu lalu Sesshoumaru-sama menepati janjinya untuk datang."
"Rin," Kagome bersuara lirih, "maafkan atas semua sikapku yang menyebalkan." Ia terisak menatap sepasang iris gadis itu dengan pandangan menyesal.
"Tak apa, Nee."
"Tidak. Aku sudah keterlaluan, seharusnya aku tak terlaru larut dalam kesedihan dan seharusnya hari ini kau sudah resmi menjadi istri Kohaku-kun." Kagome menjambak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar merasa bersalah, tangisnya pecah dan Rin membawanya ke dalam sebuah pelukan. Ia terlalu lama berada dalam kubangan kesedihan hingga melupakan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya, ia hanya ingin dimengerti tanpa mau mencoba mengerti orang lain. Ia bersalah atas tertundanya pernikah Rin minggu lalu, pantas saja saat itu Kohaku pulang. Seharusnya hari itu menjadi hari penting baginya dan juga Rin, tapi ia dengan mudah menghancurkan kebahagiaan itu.
.
.
.
Kagome mengerjab karena pandangannya gelap, ia berusaha meneliti keadaan sekitar. Tempat yang asing, berbau anyir bercampur aroma khas tanah yang lembab sehabis hujan.
"Akh," pekiknya merasakan sakit pada bagian kakinya, "Och... apa yang baru saja kuinjak? Rasanya sakit sekali." Kagome berjongkok tangannya meraba permukaan tanah dan menemukan sesuatu di sana. Benda itu panjang dan keras lalu ujungnya meruncing.
"Ah, ini mirip seperti tulang," Kagome kembali berucap, jika dugaannya tak salah maka sekarang ia berada di dalam sebuah lubang.
"Apa ada orang di sana?" Miko cantik itu mendongak melihat langit dengan gumpalan awan yang berjalan di atas kepalanya.
"Tolong aku! Siapapun di sana tolong aku!" Kagome berusaha berjalan ke tepi, tangannya menggapai-gapai berusaha meraba dinding sumur yang licin, lubangnya terlalu dalam dan Kagome tak akan bisa memanjat di atas permukaan dinding yang licin.
"Kumohon tolong aku!" Ia kembali berteriak berharap akan ada seseorang yang mendengar.
Sebuah tangan terlihat berusaha menggapainya dari atas. Sebuah tangan dengan kuku panjang yang tajam dan otot kuat yang tegap. Kagome mengangkat tangan berusaha menggapai tangan itu, ia bahkan berjinjit dan sesekali melompat.
"Tidak bisa, jaraknya terlalu jauh. Mungkin harus menggunakan tali."
"Percayalah," si pemilik tangan bersuara. Baritone yang tegas.
Kagome kembali berusaha menggapai tangan itu, ia melompat lebih tinggi mengerahkan semua sisa tenaganya.
"Ini tidak berhasil, Tuan. Tolonglah cari tali saja!" Kagome berteriak putus asa, ia hampir menangis karena merasa ketakutan, ia lelah dan rasanya ingin segera pulang.
"Yang perlu kau lakukan hanya percaya."
Kagome memegang dada, ia berdoa. Menguatkan hatinya dan juga tekatnya, matanya terpejam merasakan dinginnya udara di sana. Sekali lagi ia mencoba menggapai dan melompat berharap tangannya mampu menangkap uluran tangan itu.
Hup
Tubuhnya terangkat, tangan kekar itu memegangnya erat. Kagome terkesiap ia merasa lega dan bahagia. Cahaya matahari menyambutnya dengan sepoi angin sejuk yang melegakan dada.
Sepasang madu yang menatapnya penuh damba, helaian silver halus yang indah terbias cahaya. Jari mereka bertaut, sedang tangan lain lelaki itu berada di pinggangnya, memeganginya dengan penuh kasih, ujung bibir tipis lelaki itu sedikit tertarik ke atas.
"Akh!" Kagome bangun dari tidurnya, tersadar dari alam mimpinya. Tangannya di atas dada merasakan pacuan kuda di sana, gelembung udara meletup di lambung dan setetes air mata sampai di ujung dagunya.
Ia berhasil menggapainya! Hatinya menjerit gembira.
.
Sayup-sayup Rin mendengar suara tawa anak kecil di alam bawah sadarnya, ia mengucek mata lalu menguap, beradaptasi dengan cahaya.
"Kagome, kagome kago no naka no tori wa..." Suaranya makin keras, Rin mulai ragu jika itu adalah suara yang berasal dari alam bawah sadarnya. Miko muda itu beranjak dari futon lalu berjalan keluar rumah.
Beberapa anak desa membentuk lingkaran, mereka saling bergandengan tangan, "itsu itsu deyaru doake no ban ni." Seorang gadis yang Rin kenal berada di tengah, ia berjongkok, kedua tangannya menutup mata. Tak lama setelah lagu selesai dinyanyikan Miko cantik itu bergumam.
"Kentaro!"
"Kagome-sama selalu bisa menebak dengan benar," seluruh anak tertawa. Kagome berdiri kemudian melempar senyuman.
"Kelak saat aku sudah besar aku akan mencari istri seperti Kagome-sama." Semua anak kembali tertawa.
"Mana bisa, kau 'kan masih kecil."
"Tadi aku bilang saat aku sudah besar."
Tawa kecil lolos dari bibir Miko Penjelajah Waktu, tawanya nyaring senyaring lonceng yang berbunyi di kuil, tawanya ringan seringan kapas yang terempas oleh sang angin, huzel-nut yang berbinar, seperti cahaya yang memantul di atas air. Rin terpaku, ia diam memerhatikan dangan liquid yang berkumpul di ujung mata.
"Ka, kagome nee-chan!" gadis itu berteriak membuat semua mata mengalihkan pandangan padanya.
"Rin, ayo ikut main." Kagome mengulurkan tangan, senyum tulus terlukis di wajah ayunya. Senyum tulus yang dulu ikut menghilang bersama kepergian suaminya. Senyum tulus yang sudah lama tak Rin lihat. Senyum tulus yang bahagia.
"Kagome nee-chan." Rin berlari tapi tersandung yukata tidurnya, wajahnya tertelungkup. Kagome dan anak desa yang melihatnya segera mendekat, mengerumuninya dengan pandangan iba.
"Rin, kau tak apa?" Miko cantik itu menyentuh bahu Rin, membantunya berdiri.
"Kagome nee-chan," ucapnya terisak ia mendongak, wajahnya basah, ingus nyari keluar dari lubang hidungnya, ia memeluk Kagome erat tangannya memegang kuat pada lengan Kagome yang tertutup haori, " Kagome nee-chan sudah kembali."
...
Peri hijau menjulang menantang langit yang membentang, hembusan napas alam terasa tenang, ilalang bergoyang, burung di hutan berdendang. Kagome menatap desa dari atas bukit, di sebelahnya ada batu besar sedangkan di belakangnya pohon mahoni berdiri tegak di antara rumput hijau yang tergelar. Tangan kanannya mengeratkan pegangan pada busur kayu azusa, pandangannya menerawang.
Berapa lama ia tenggelam dalam kesedihan? Berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk duduk diam? Semua warga di desa berjuang demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanannya. Lalu, apa yang sudah ia berikan sebagai balasan? Ia hidup tapi mati, ia bangun tapi tidur, ia melihat tapi buta. Ia menyedihkan persis seperti yang Sesshoumaru katakan.
Pernikahan Rin tujuh hari lagi dari sekarang dan akan diadakan di istana Sesshoumaru, ia tak mau lagi melupakan hari penting ini, oleh karena itu Kagome menyempatkan dirinya untuk membeli kain putih polos dan benang berwarna serupa. Jika Sesshoumaru memberikan shiromuku maka ia harus memberikan tsuni kakushi, ia akan menghiasnya dengan cantik hingga Kohaku akan sangat terpesona pada Rin.
Kagome mengambil duduk tepat di bawah mahoni, busur dan panahnya ia letakkan tepat di sebelah kanan sedangkan keranjangnya ia letakkan di sebelah kiri, miko cantik itu mulai bergumam menyanyikan lagu sembari menyulam.
…
Seluruh isi dunia tahu bila Sesshoumaru paling tidak suka membuang waktunya untuk hal yang tidak penting, tapi seluruh dunia juga tahu bila apa saja yang menyangkut Rin akan menjadi hal yang penting. Bagi Inu Daiyoukai itu diam di istana adalah hal paling membosankan yang pernah ada, ia tak bisa menyaksikan youkai yang bertarung hingga kehilangan nyawa atau ikut pertarungan yang mampu memicu adrenalin—hal yang paling sangat ia rindukan. Biarlah Jaken yang mengurus istana sendiri, lagi pula youkai hijau itu sangat menikmati posisinya saat ini, ia bahkan berkoar dengan mulut lancipnya ke seluruh pelayan istana bahwa ia adalah menteri, penasihat sekaligus abdi yang setia pada Sesshoumaru. Sifat congkak yak tak cocok untuk tubuhnya yang kerdil.
Kemarin ia membawa shiromuku dan hari ini ia mengantarkan tsuni kakushi yang tertinggal, ini semua karena pelayannya yang ceroboh. Sesshoumaru harus rela berbolak-balik dari istana ke rumah miko muda itu. Sebenarnya ia tak mempermasalahkan hal ini, karena ini demi Rin. Terlebih lagi duduk diam di satu tempat bukan ciri khas Sesshoumaru.
Matanya menatap hamparan hijau di bawah kakinya, aroma musim semi sudah tercium sebentar lagi bunga-bunga bermekaran dan baunya akan semakin membuat hidung Sesshoumaru gatal. Lebih baik mencium aroma tumpukan mayat dari pada semerbak wangi yang begitu kuat kala musim semi datang.
"Onii-chan!" Telinga runcing Sesshoumaru bergerak, mata emasnya memicing tajam menatap Kagome yang tengah melambaikan tangan padanya, sudut bibirnya berkedut dan ia mendengus tak suka. Sepertinya miko itu butuh pelajaran untuk memanggilnya dengan benar.
"Onii-chan, apa ka—"
"Miko—"
"Kenapa wajahmu masam sekali?" Gadis itu menatapnya dengan pandangan yang sama seperti lima tahun lalu, Sesshoumaru terdiam, ia berkedip sekali lalu kembali memasang ekspresi datar.
"Apa yang kau bawa?" dibanding menjawab pertanyaan gadis itu, sang Daiyoukai lebih memilih untuk langsung memberikannya pada Kagome dan membiarkan gadis itu melegakan rasa penasarannya.
"Tsuni kakushi?" Kagome menatap heran, "tapi aku baru saja mau membuatnya." gadis itu menunjukkan hasil karyanya.
Untuk sedetik mata Sesshoumaru sedikit melebar, sedikit nampak terkejut lalu kembali ke wajah aslinya sebelum miko cantik itu menyadarinya.
'"Apa menurutmu ini bagus?" Sesshoumaru diam tak menunjukkan raut muka berarti bagi Kagome, Daiyoukai itu melirik ke arah lain lalu menarik dagunya ke bawah sekali saja.
"Woaa! Benarkah?" Adik iparnya itu terlalu banyak bertanya dengan inti yang sama dan Sesshoumaru benci bila harus mengulang.
Mata Kagome berbinar senyum tak lekas menghilang dari wajah ayunya, bila dipandang lebih teliti wanita itu mengalami perubahan fisik yang signifikan dibanding saat pertama kali mereka bertemu. Dadanya sedikit menonjol di balik haori yang ia kenakan, pinggangnya ramping tercetak di perpotongan pakaiannya yang tertutupi hakama, kelopak matanya cantik dengan sedikit warna merah muda di sana, lalu yang paling mencolok adalah tinggi badannya yang Sesshoumaru rasa sudah setinggi hidungnya.
"Apa ini cocok untukku?" Sesshoumaru kembali ke peraduan ketika Kagome entah sejak kapan sudah berdiri dekat dengannya, jarak wajah mereka mungkin tak kurang dari tiga puluh centi sekarang. Gadis itu mengenakan penutup kepala pengantin wanita yang Sesshoumaru bawa, dan tanpa Sesshoumaru sadari ia mengangguk yang membuat wanita di depannya segera melempar senyum hingga ke mata.
Apa ia baru saja terpesona?
…
Kagome hendak berbalik ketika tiba-tiba tangan Sesshoumaru sudah meraih lengannya dan memberinya tatapan yang Kagome sendiri tak paham.
"Ada apa?" Miko cantik itu bertanya pelan, yang mereka lakukan hanya saling menatap dalam diam. Kagome rasa jika jarak di antara mereka mulai menghilang saat tubuhnya mampu merasakan dinginnya pelindung dada Sesshoumaru, kedua manik mereka saling beradu, genggaman tangan Sesshoumaru pada lengannya terasa sedikit aneh, Daiyoukai itu seolah sedang mengelus lembut permukaan kulitnya dengan ibu jarinya yang berkuku tajam. Perutnya terasa dipelintir, ia dengan sendirinya sedikit mengangkat dagu ketika Sesshoumaru menunduk untuk meraihnya. Jarak mereka semakin dekat dan Kagome rasa ia mulai memejamkan mata.
"Keterlaluan!"
Miko cantik itu tersentak, ia segera menoleh dan mendapati sekelompok pendeta tengah memandang mereka dengan nyalang, salah satunya berjalan mendekat.
"Miko-sama kau ada untuk membasmi siluman bukan untuk jatuh cinta padanya!"
Pendeta itu terus menatap Sesshoumaru, pandangannya turun ke arah tangan Inu Daiyoukai yang masih menggenggam lengan Kagome.
"Demi kebaikanmu, Siluman. Lepaskan tanganmu darinya!"
Kagome berusaha menarik tangannya ketika genggamam Sesshoumaru malah semakin mengerat seperti enggan untuk melepaskan. Pandangan putra sulung Inu no Taisho tetap datar tapi kentara sekali ia seolah menantang, Kagome tahu jika Sesshoumaru bukan tipe orang yang mau mengalah apa lagi dikalahkan, pemuda itu terbiasa melakukan apa saja demi mencapai tujuan.
Kagome mengambil langkah, ia berdiri di antara Sang Penguasa Wilayah Barat dan pendeta yang saling melempar tatapan tajam.
"Maaf tapi Anda telah salah paham terhadap kami," ia berucap sambil menunduk berusaha menjelaskan untuk membuat pendeta itu mengerti.
"Kau mengenakan tudung pengantin dan kau mengatakan aku salah paham?" Pendeta paruh baya itu tak mau mengalah, Kagome merasa jika pandangan si pendeta mampu membolongi tubuhnya.
"Enyahlah sebelum kau terluka," nada Sesshoumaru syarat akan ancaman, tangannya yang bebas bahkan sudah bersiap menyerang.
"Aku peringatkan, Miko-sama." Pandangan Pendeta kembali beradu dengan Sesshoumaru, "tak ada siluman yang dapat dipercaya," ucapannya penuh nada yang ditekan kemudian ia melangkah pergi bersama kelompoknya.
Kagome mengembuskan napas lega lalu menyentuh dadanya yang berdetak kencang, dirinya terlalu tegang. Ingatannya terlempar di beberapa tahun silam, bedanya saat itu Inu Yasha tengah dalam wujud manusianya, Pendeta yang menghampiri mereka pun memperingatinya hal yang sama dan sekarang semua itu terasa terulang.
"Sesshoumaru kupikir—"
"Sesshoumaru ini tidak butuh perlindungan darimu." Kagome berbalik melihat tatapan kakak iparnya yang seolah siap membunuhnya. Sesshoumaru yang penuh dengan keseriusan adalah hal yang paling berbahaya.
"Aku tak bermaksud—" tangannya terangkat oleh Sesshoumaru, membuat jarak di antara mereka semakin dekat, kaki Kagome berjinjit karenanya, tangan kiri Kagome berada di atas dada Sesshoumaru berusaha membuat jarak sedikit lebih longgar. Hidung mereka saling bersentuhan, Kagome bisa merasakan napas hangat Sesshoumaru yang menerpa wajahnya.
"Sadari posisimu, Miko." Genggaman di tangannya berubah menjadi cengkraman yang kuat, Kagome terkesiap, "kau telah menghina harga diri Sesshoumaru ini," nadanya rendah penuh amarah.
Miko cantik itu mengalirkan reiki ke seluruh tubuhnya, mengakibatkan angin bertiup kencang, helaian rambut Sesshoumaru berkibar, kimono dan mokomoko kakak Inu Yasha itu terombang-ambing, aliran reiki berwarna kuning mengelilingi tubuh Inu Daiyoukai. Kagome membuat perlawanan.
"Akh!" Sesshoumaru semakin mencengkram lengannya kuat, "Sesshoumaru, ini sakit." Kagome berusaha menarik tangannya, kekuatan spiritual gadis itu semakin menipis. Ia kelelahan. Bukan hanya karena mengeluarkan reiki yang terlalu besar tapi juga karena kondisi tubuhnya yang belum pulih benar.
Geraman dalam dada Sesshoumaru semakin keras terdengar menandakan Inu Daiyoukai sedang murka. Kagome menahan napas ketika dilihatnya tatto taring pada kedua pipi Sesshoumaru berubah bergerigi, gigi taringnya memanjang dan tajam, sklera putih itu berubah menjadi sewarna darah dengan iris biru yang menakutkan—menenggelamkan madu manis dalam kematian, youki dan reiki berbenturan. Nyali Kagome menciut bersamaan dengan tenaganya yang hampir habis, rasanya udara semakin menipis padahal angin mengempas tubuh mereka dengan dahsyat, dadanya sesak, ia harus segera keluar dari situasi ini sekarang.
…
Dada Sesshoumaru menabuh genderang amarah, harga dirinya tercebik akibat kelakuan miko itu yang bersikap lancang dengan menengahi permusuhan antara dirinya dan si pendeta. Sesshoumaru tak butuh perlindungan.
"Sesshoumaru," wanita di depannya meringis, matanya menyipit menahan sakit. Miko itu meraih pipi Sesshoumaru dengan tangan kirinya yang bebas, meletakkan ibu jarinya tepat di atas tatto bergerigi lalu melakukan gerakan naik-turun yang terasa lembut. Tatapan hazel-nut menyayu, bibir wanita itu bergetar ketika kakinya semakin berjinjit meraih bibir Penguasa Wilayah Barat. Kagome menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman.
Sebenarnya itu hanya permukaan bibir yang saling menempel sebelum hasrat Sesshoumaru terdorong ke luar, ia menggigit bibir Kagome dengan taringnya yang tajam, wanita itu sedikit membuka mulut guna merintih dan Sesshoumaru memanfaatkannya untuk meraup bibir itu lebih dalam. Ia menjulurkan lidah membelai rongga mulut Kagome, mengabsen deretan gigi putih rapi milik adik iparnya, mengajak lidah Kagome berdansa. Kelopaknya terpejam menikmati kegiatan yang ia lakukan, genggamannya melonggar dan digantikan dengan rengkuhan.
Ia bisa merasakan tangan Kagome sedikit menekan bahunya yang lebar sedangkan tangan lainnya menjumput helaian silver yang terurai. Bibir mereka bergerak liar, mengecup menghisap lalu menjilat. Lengannya memeluk posesif, mokomoko ikut melilit tubuh Kagome membawanya lebih dekat. Sesshoumaru mengangkat Kagome, membuat tinggi wanita itu sejajar dengannya. Salah satu lengannya berpindah tempat ke atas tengkuk lalu menekannya untuk memperdalam ciuman mereka.
Bunyi kecapan basah menggambarkan nafsu keduanya, tak ada yang mau mengalah, lidah saling beradu, bibir saling menghisap, ciuman mereka kasar namun terasa memabukkan. Sesshoumaru melumat bibir kenyal Kagome, ia bisa merasakan darah wanita itu dari bibirnya yang terluka, tangan Sesshoumaru merayap di punggung kecil Kagome yang seolah menikmati perlakuannya.
Ciuman berakhir ketika Sesshoumaru sedikit menjauhkan bibirnya, mata madu itu menatap wajah wanita yang memerah, hembusan napas yang terengah membelai wajahnya. Lidah pria itu terjulur menjilati permukaan bibir Kagome, bergerak pela dari ujung satu ke ujung bibir lainnya merambat hingga ke pipi, wanita itu sedikit terkekeh geli. Ujung indra peraba Sesshoumaru bergerak menyusuri rahang miko cantik yang menjadi adik iparnya, terus naik hingga ke telinga Kagome lalu melumatnya, menghisap lamat-lamat penuh gairah.
"Ses—" Bibir Sesshoumaru turun ke leher, mengecupnya menggoda, tangan Si Sulung Inu no Taisho menyingkap haori-nya, membuat bahu itu tertimpa cahaya senja, "—shou—" napas pria itu menggelitik di sekitar leher Kagome, hidung Sesshoumaru bergerak seduktif membelai permukaan kulit, "—maru—engh," erangan tertahan lolos dari bibir mungil miko cantik itu ketika Sesshoumaru menggigit pada garis perpotongan lehernya, menghisap kuat membuat tanda lalu menjilatnya.
Sesshoumaru menarik wajah, ia menatap tanda kemerahan itu sebelum membelainya. Inu youkai tersenyum tipis yang lebih pantas disebut menyeringai, iris emasnya menatap Kagome. Wanita itu melempar pandangan sayu, bibirnya sedikit terbuka, raut mukanya pasrah. Pria itu menangkup kedua pipi Kagome, kembali menyatukan bibir mereka, hanya kecupan biasa sebelum Penguasa Wilayah Barat itu berbalik lalu meninggalkannya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Playlist :
- Gerua ~ Arijit Singh & Antara Mitra
Nirmala ~ Siti Nurhaliza
Tooi machi no saki de ~ Ai Takekawa
Area Curhatan Author :
Apa deskripsinya jelas? Atau malah keliatan ribet?
Apa narasinya udah urut? Atau malah berantakan?
Apa Feel-nya kerasa? Atau malah hambar?
Apa kalian bisa mengerti maksud Author di fict ini? Atau malah kalian puyeng pas bacanya?
Sesshoumaru OOC-kah?
Niatnya mau jadiin ini Os eh malah kok pas diketik jadi panjang gini? Author bingung sendiri XD alhasil, dipotong ajalah yah ... Chap 2 nya diketik pelan-pelan karena Author ada project lain juga :3
Ada yang punya Line? Silakan add punya saya 'hanikinayatululya' #promosi XD
Bila berkenan silakan tinggalkan unek-unek kalian di kolom review.
Review, please
